Anda di halaman 1dari 14

1

Risalah Elektrokardiografi
Ibnu Kharisman
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UNS

Assalamu’alaikum, sebelum mulai membahas tentang elektrokardiografi, hendaknya kita terlebih
dahulu memahami tentang fisiologi dari jantung. Namun dalam rangkuman ini saya hanya akan mengulas
sedikit tentang fisiologi jantung, yang sekiranya sesuai untuk pemahaman awal mengenai elektrokardigrafi
(EKG). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam silakan baca buku ajar fisiologi saja. Saya
sarankan bacalah buku fisiologi manusia yang disusun Sherwood, karena bahasa yang digunakan mudah
untuk dipahami. Untuk interpretasi dari hasil pemeriksaan EKG juga hanya akan saya bahas yang sekiranya
sesuai dengan kebutuhan OSCE saja, karena interpretasi dari hasil EKG sangatlah luas dan kompleks.
Dalam rangkuman ini saya juga menyertakan beberapa keadaan patologis pada jantung yang dapat
diindentifikasi dengan EKG dan pernah ditanyakan oleh penguji dalam OSCE angkatan 2010 dan bisa jadi
keluar juga di OSCE kalian. Oke, kita mulai... yang tadi lupa berdoa sekarang berdoa dulu ya, biar gampang
belajarnya.
A. Kelistrikan Jantung
Jantung memiliki sistem konduksi yang khusus. Hal ini dikarenakan jantung harus bekerja terus
menerus dan tidak boleh berhenti kecuali kalau emang udah gak pengen hidup lagi hehe. Sistem konduksi
ini berasal dari otot-otot jantung yang punya “keistimewaan” karena dapat berfungsi sebagai pemacu
(pacemaker), yang disebut juga sebagai sel otoritmik. Sistem konduksi berawal dari nodus sinoauricular
(nodus SA) yang berada pada atrium dextrum, kemudian dilanjutkan ke nodus atrioventricular (nodus AV)
yang berada pada septum atrioventricularis dextrum, dari nodus AV ini lalu konduksi dilanjutkan lagi ke
bundel HIS yang berada di septum interventricularis, dan kemudian dilanjutkan lagi ke serabut purkinje
yang tersebar di seluruh bagian jantung. Selain diarahkan ke cabang-cabang utama tadi, konduksi jantung
juga disalurkan ke myocardium yang berada disekitar nodus itu sendiri yang kemudian dari myocardium
tersebut disalurkan ke myocardium yang lain melalui gap junction. Konduksi dari kelistrikan jantung ini
dapat ditangkap gelombangnya oleh alat EKG.

Gambar 1.1. sistem konduksi jantung.
2

Dalam EKG kita mengenal adanya gelombang P, kompleks QRS, gelombang T, dan gelombang U.
Kenapa namanya PQRSTU? Gak ada alasan khusus sih, itu cuma biar mudah diinget aja (kata buku sih
gitu). gelombang-gelombang tersebut terbentuk karena adanya aktivitas listrik jantung yang ditangkap oleh
EKG. Untuk lebih jelasnya silakan simak gambar 1.2. berikut ini:


Gambar 1.2. ilustrasi dari gelombang-gelombang EKG dan standar pengukuran waktu serta voltase dari
kertas EKG.
Keterangan dari gambar di atas:
 Gelombang P : depolarisasi sekuensial dari atrium cordis dextrum et sinistrum
 Kompleks QRS : depolarisasi dari ventriculus cordis dextrum et snistrum
 Segmen ST-gelombang T : repolarisasi ventriculus
 Gelombang U : mekanisme elektrik yang terjadi pada permulaan diastole
 Interval PR : interval waktu mulai dari dimulainya depolarisasi (gelombang P)
sampai depolarisasi ventriculus (kompleks QRS)
 Durasi QRS : durasi dari depolarisasi ventriculus (dapat diukur dari lebarnya
kompleks QRS)
 Interval QT : durasi dari depolarisasi dan repolarisasi ventriculus
 Interval PP : lama dari siklus atrial
 Interal RR : lama dari siklus ventriculus

Yang dimaksud dengan depolarisasi adalah perubahan potensial membran dari potensial istirahat
yang elektronegatif (sekitar -55 sampai -60 milivolt) menjadi lebih postif yaitu sekitar -40 milivolt
seihngga menyebabkan potensial aksi listrik sehingga menyebabkan myocardium berkontraksi.
3

Sedangkan repolarisasi adalah perubahan potensial membran menjadi potensial istirahat kembali
(elektronegatif kembali) atau dengan kata lain myocardium mengalami relaksasi. Pada EKG, repolarisasi
atrium normalnya tidak muncul karena tertutupi oleh besarnya kompleks QRS (depolarisasi ventriculus).
Depolarisasi dan repolarisasi jantung ini diatur sedemikian rupa interval waktunya agar jantung tetap
dapat memompa darah tanpa mengalami kram. Aktivitas jantung meningkat pada pengaruh persarafan
simpatis dikarenakan adanya pelepasan hormon norephinephrine. Sedangkan persarafan parasimpatis
(melalui Vagus) mengurangi aktivitas jantung karena pengeluaran hormon acetyl choline. Keadaan
patologis seperti irama ektopik, infark myocard, dsb. dapat teridentifikasi dengan pemeriksaan EKG.
Bagaimana? Paham atau masih bingung? Mending baca textbooknya aja deh biar mantap. Kalaupun
sekarang nggak paham, bisa dilanjutin lagi belajarnya pas Blok Kardiologi di semester depan.



B. Lead pada EKG
Setelah membahas secara singkat (banget) tentang teori dasar penggunaan EKG, sekarang mari
kita bahas tentang Lead (Sadapan) yang ditempelkan di tubuh sebagai “penangkap gelombang” yang
dihasilkan oleh jantung. Lead EKG yang ada sekarang merupakan pengembangan lead dari yang
ditemukan oleh Willem Einthoven, pria berkebangsaan Belanda kelahiran Semarang pada jaman
kompeni dulu. Lead standar yang digunakan jumlahnya ada 12, terdiri dari 3 lead ekstremitas
(bipolar), 3 lead augmented (unipolar), dan 6 lead precordial (yang ditempelkan pada thorax). Kenapa
saya sebut lead standar? Karena sekarang sudah dipakai 3 lead tambahan yaitu lead V7, V8, dan V9
yang dipasang di bagian posterior thorax. Gunanya untuk melihat infark myocard pada jantung bagian
posterior yang selama ini gak bisa dilihat dengan menggunakan lead standar, atau istilahnya the dark
side of the moon. Oke, lead tambahannya buat sekedar info tambahan aja soalnya buat OSCE besok kita
cuma pakai 12 lead standar. Untuk lebih mudah memahami letak lead standar, silakan lihat gambar 2.1.
berikut:
Ada cara gampang buat membedakan pengaruh persarafan simpatis sama parasimpatis. Kita
umpamakan kita itu lagi jatuh cinta nih.. nah pas kita jatuh cinta itu kita kan punya simpati sama lawan
jenis. Saat ketemu sama “dia” itu jantung kita jadi berdebar lebih kenceng, pupil jadi dilatasi,
keringet bercucuran, perut jadi gak enak soalnya motilitas usus menurun. Dan pada saat jatuh cinta
itu kita ada dalam kondisi fight to fight, pokoknya kalau ada yang coba deketin “dia” itu tandanya ada
bahaya, kita harus siap fighting buat mempertahankan “dia” hahaha. Nah, kalau efek persarafan
parasimpatis itu kebalikan dari simpatis. Persarafan parasimpatis itu bekerja pada saat kondisi rest
and digest. Jadi, pencernaan itu bisa efektif kalau kita tenang. Makanya orang stress bisa kurus soalnya
pencernaannya bermasalah, kecuali pas stress dia makan terus.
4


Gambar 2.1. Lead ekstremitas standar

Lead tersebut dipasang dengan tujuan untuk menangkap gelombang listrik yang dipancarkan oleh
jantung. Letaknya disusun seperti segitiga agar dapat mengidentifikasi resultan dari potensial listrik yang
disadap oleh lead-lead tersebut (perhatikan segitiga yang ada di tengah gambar). Resultan gaya tersebut
menunjukkan axis jantung, yang nantinya penting juga dalam proses interpretasi hasil. Adanya
penyimpangan axis menunjukkan adanya hipertrofi dan atau dilatasi jantung. Pada gambar di atas lead RA
dan LA dipasang pada regio brachii, namun pada prakteknya (termasuk juga dalam cara kerja di Skills Lab
FK UNS) sering dipasang pada pergelangan tangan. Begitu pula dengan lead LL yang pada gambar terlihat
dipasang pada regio cruris, namun pada prakteknya sering juga dipasang di pergelangan kaki. Lead
augmented atau unipolar (aVR, aVL, aVF) dan lead bipolar (I, II, III) pada alat EKG yang ada di Skills Lab
sudah tergabung dalam satu kabel, jadi jangan bingung mencari-cari dimana letak lead augmented.

Selain lead ekstremitas, ada juga lead precordial. Lead precordial inilah yang menggambarkan jantung
secara tiga dimensi, karena letaknya yang mengelilingi jantung. Berikut merupakan gambar dari lead
precordial:
5


Gambar 2.2. Pemasangan lead precordial

Bagian tubuh yang akan ditempeli lead hendaknya tidak berambut, karena dapat mempengaruhi hasil
yang terbaca pada EKG sebab rambut memiliki potensial listrik juga (ingat percobaan penggaris kertas pas
SD dulu). Oleh karena itu idealnya rambut pada tangan, kaki, dan dada yang akan ditempeli lead harus
dicukur. Bagian tubuh yang akan dipasangi lead harus dibersihkan terlebih dahulu dengan kapas alcohol
dengan arah sirkuler. Kemudian bagian tersebut diolesi dengan gel khusus EKG untuk menghindari
kemungkinan adanya sengatan listrik. Bersihkan dan olesi semua tempat dengan gel baru setelah itu lead
dipasang sesuai tempatnya. Setelah semua lead terpasang, barulah dimulai pemasangan kabel. Pemasangan
kabel hendaknya satu arah yang sama agar tidak terjadi kekacauan penangkapan potensial listrik. Perlu
diingat juga warna-warna kabel yang digunakan. Hal itu dapat mempermudah kita saat memasangnya pas
OSCE besok.

C. Interpretasi Hasil Perekaman EKG
Sekarang kita masuk ke bagian terpenting, yaitu interpretasi hasil. Sebelum memulainya, kita lihat lagi
gambar 1.2. Dalam interpretasi hasil EKG, poin-poin utama yang perlu kita perhatikan adalah: irama,
frekuensi, zona transisi, axis, dan dilihat apakah ada keanehan pada hasil EKG. Biasanya di hasil printout
EKG hasil untuk masing-masing lead juga disertakan, jadi ada gambar buat tiap lead. Dari sekian banyak
gambar itu, lead yang biasa digunakan untuk identifikasi adalah lead II, karena lead ini tidak isoelektrik.
Nah contoh dari hasil printout EKG saya yakin kalian udah pernah lihat semua pas bimbingan SL, jadi gak
saya sertain ya di handout ini. Marilah kita bahas satu per satu.
Penempatan Lead Precordial
V1: SIC 4 pada linea sternalis dextra
V2: SIC 4 pada linea sternalis sinistra
V3: diantara V2 dan V4
V4: SIC 5, pada linea midclavicularis
sinistra
V5: sebelah horizontal V4; linea axillaris
Anterior sinistra
V6: sebelah horizontal V4-5; linea
Midaxillaris sinistra
(catatan: pada wanita , lead precordial
ditempatkan pada permukaan payudara
bukan dibawahnya agar lead tidak bergeser)
6


Gambar 1.2. ilustrasi dari gelombang-gelombang EKG dan standar pengukuran waktu serta voltase dari
kertas EKG.
a. Irama
Irama jantung yang normal adalah irama sinus, yang dimaksud dengan irama sinus adalah
terbentuknya gelombang P diikuti dengan kompleks QRS lalu gelombang T dan gelombang U
secara normal. Contoh irama sinus dapat dilihat pada gambar 2.1. di atas. Contoh irama yang
abnormal adalah saat adanya fibrilasi atrium, fibrilasi ventriculus, irama ektopik, dsb. Lead yang
digunakan untuk identifikasi irama sinus adalah lead II.
b. Ukuran Normal
Lead yang digunakan untuk identifikasi ukuran normal adalah Lead II. Pertama kali yang perlu
diperhatikan adalah frekuensi, frekuensi jantung yang normal adalah 60-100 kali per menit.
Frekuensi kurang dari 60 kali per menit disebut bradikardia sedang irama lebih dari 100 kali per
menit disebut takikardia. Cara mengukurnya yaitu dengan membagi 1500 yaitu jumlah kotak kecil
dalam 60 detik (0,04 detik X 60 detik) dengan jarak antara puncak R ke puncak R (diukur dalam
satuan jumlah kotak kecil juga). Sebagai contoh misalkan jarak R-R adalah 15 kotak kecil, berarti
frekuensi jantung adalah 1500/15 = 100 kali per menit.
Selain frekuensi, kriteria ukuran EKG yang normal lainnya adalah:
- Interval PR = 3-5 kotak kecil
- Durasi QRS = 1-2 kotak kecil
- Interval QT >10 < 11 kotak kecil
- Gelombang P durasinya < 3 kotak kecil, amplitudonya <2,5 kotak kecil
Gimana sih caranya menentukan tinggi R, S, lebar QRS dll? Lihat gambar di bawah ini.
7


Oke, udah lihat semua kan? Atau ada yang fotokopiannya agak blur? Kasian…
c. Zona Transisi
Lead yang digunakan untuk mengidentifikasi zona transisi adalah lead precordial. Zona transisi
terjadi disaat puncak R hampir sama panjang dengan puncak S (R/S=1), normalnya zona transisi
terbentuk pada V3 dan V4 (intermediate). Jika Zona transisi yang terbentuk pada V1 atau V2 maka
keadaan ini disebut counter clockwise rotation (berlawanan arah jarum jam). Jika Zona transisi yang
tebentuk pada V5 atau V6 maka keadaan ini disebut clockwise rotation (searah jarum jam). Baik
clockwise rotation maupun counter clockwise rotation adalah keadaan yang abnormal dimana terjadi
penyimpangan axis longitudinal.
d. Axis Jantung
Sesuai dengan system konduksi elektiknya, jantung itu punya axis. Axis jantung itu gampangnya
adalah arah dari konduksi elektrik jantung, yang kita cari adalah resultan dari gaya listrik. Kenepa
harus dicari? Soalnya gini, misalnya ada hipertrofi jantung nih, letak dari nodus SA, nodus AV,
bundle HIS, sama serabut Purkinjenya berubah. Kalau letaknya berubah arah resultan gayanya juga
berubah kan.. nah axis itu dicari buat melihat apakah ada pergeseran letak jantung apa nggak. Bisa
geser karena jantungnya tambah besar, atau bisa juga geser karena ada tumor di mediastinum. Axis
jantung yang normal adalah -30
o
s/d 110
0
. Cara identifikasi axis ada beberapa macam, dalam skills
lab yang diajarkan pada angkatan 2010 kemarin, identifikasi axis hanya dengan cara membentuk
gambaran resultan gaya antara Lead I dengan aVF.
Misalkan lead aVF defleksi positif (ke atas) sebanyak 5 kotak kecil dan defleksi negatif
(ke bawah) 10 kotak kecil. Jadi di lead aVF dominasinya defleksi negatif ---> (-10 kotak )- (+5
kotak) = -5 kotak. Sedangkan di lead I misalkan defleksi positif 11 kotak kecil dan defleksi negatif 2
kotak kecil. Jadi di lead I dominasinya defleksi positif ---> (+11 kotak) - (-2 kotak) =
+ 9mm. Abis itu, kalian tinggal bikin garis di kertas berkotak-kotak (namanya gak tau) yang
8

biasanya udah disediain pas OSCE, 5 kotak kearah negatif lead aVF, dan 9 mm kearah positif lead I.
Setelah itu tentukan titik pertemuan kedua lead tersebut, kemudian hubungkan titik pertemuan itu
dengan titik pusat. Terus cari deh sudutnya pake busur derajat yang biasanya udah disiapin di SL
juga. Nah segitulah aksisnya.... bingung? Besok deh saya jelasin pas asistensian.
Lanjut bos, cara identifikasi axis lainnya (yang sebenarnya sederhana juga) adalah sebgai berikut:
1. Pertama carilah dulu lead yang isoelektrik (R/S = 1).
2. Jika tidak ada lead yang isoelektrik, maka carilah yang paling mendekati.
3. Kemudian carilah lead yang tegak lurus dengan lead tersebut.
4. Karena kemungkinan ada dua lead yang tegak lurus dengan lead isoelektrik, maka harus dipilih
yang paling sesuai dengan arah gaya kompleks QRS.
Jika masih tidak paham juga, silakan lihat contoh di bawah ini, semoga bisa paham.
Axis Normal

Gambar 3.1. Axis normal
Left Axis Deviation (LAD)

Gambar 3.2. gambaran LAD



Analisis:
- Lead aVF (90
o
) adalah lead isoelektrik
- Yang tegak lurus dengan lead aVF adalah 0
dan 180
o

- Pada lead I semuanya positif. Ingat,
potensial listrik bergerak dari positif ke
negatif
- Maka dari dua pilihan axis (0
o
dan 180
o
),
hasil pengukuran axis pada EKG ini adalah
0
o

Analisis:
- Lead aVR (-150
o
) adalah lead yang paling
mendekati kriteria isoelektrik
- Yang tegak lurus dengan lead aVR adalah
-60
O
dan 120
o

- Pada lead II, III kebanyakan negatif. Ingat,
maka axis menjauh dari lead yang positif.
- Maka dari dua pilihan axis (-60
o
dan 120
o
),
hasil pengukuran axis pada EKG ini
adalah -60
o
(LAD)
9

Right Axis Deviation (RAD)

Gambar 3.3. gambaran RAD

e. Keanehan Hasil
Keanehan pada hasil EKG biasnya dapat terlihat dengan sangat mencolok mripat.
- Gelombang P : terlalu lebar, tinggi, terlihat aneh (missal pada ektopik)
- Kompleks QRS : cari gelombang Q patologis, voltase abnormal, dsb
- Segmen ST : cari adanya ST depresi atau ST elevasi
- Gelombang T : cari apakah ada gelombang T terbalik atau T yang terlalu tinggi
- Gelombang U : cari adanya gelombang U terbalik yang prominen.

D. Gambaran Patologis pada EKG
1. Hipertrofi Ventrikular
a. Left Ventricular Hipertrophy (LVH)

Gambar 4.1. hasil EKG dari pasien dengan Left Ventricular Hipertrophy
Analisis:
- Lead aVR (-150
o
) adalah lead yang
paling mendekati kriteria isoelektrik
(namun cenderung lebih negatif)
- Yang tegak lurus dengan lead aVR
adalah -60
O
dan 120
o

- Lihat lead I lebih negatif, lead III lebih
positif.
- Maka dari dua pilihan axis (-60
o
dan
120
o
), hasil pengukuran axis pada EKG
ini adalah 120
o
(RAD) karena aVR lebih
positif.
10

Penegakan diagnosis LVH selain menggunakan EKG juga dapat dengan pencitraan
radiologi. Berikut ini merupakan beberapa criteria untuk penegakan diagnosis dari LVH
 Kriteria lead precordial
S pada V1 + R pada V6 ≥ 36 kotak kecil
S pada V2 + R pada V6 ≥ 35 kotak kecil
R pada V5 + R pada V6 ≥ 27 kotak kecil
 Kriteria lead ekstremitas
R di aVL ≥ 11 kotak kecil, atau jika ada LAD, R di aVL ≥ 18 kotak kecil
R di lead I + S di lead III > 25 kotak kecil
R di aVF > 20 kotak kecil
S di aVR > 14 kotak kecil
 Kriteria CORNELL
S di V3 + R di aVL > 28 kotak kecil (pada laki-laki)
S di V3 + R di aVL > 20 kotak kecil (pada perempuan)
 Adanya left atrial enlargement (LAD)

b. Right Ventricular Hipertrophy (RVH)

Gambar 4.2. hasil pemeriksaan EKG pada pasien dengan right ventricular Hipertrophy (RVH)
dan left atrial enlargement (LAE)




11

Berikut ini merupakan beberapa kriteria untuk penegakan diagnosis RVH:
 Kriteria lead
R di V1 + S di V5 (atau V6) 10 kotak kecil
Rasio R/S di V1 > 1 kotak kecil atau rasio R/S di V6 > 1 kotak kecil
R di V5 atau V6 < 5 kotak kecil
S di V5 atau V6 > 7 kotak kecil
 Kriteria khusus pada lead V1
Rasio R/S > 1 dan ada gelombang T negative
R > 7 kotak kecil, atau S < 2 kotak kecil,
 Adanya right axis deviation (RAD)
 Adanya ST depresi dan inverse dari gelombang T pada V1


2. Pembesaran Atrium
a. Right Atrial Enlargement (RAE)
gambar 4.3. hasil EKG pada pasien dengan right atrial enlargement
Kriteria untuk penegakan diagnosis:
 Adanya P pulmonale (lancip), bias terlihat di lead II pada gambar dia atas
 Amplitudo gelombang P > 2,5 kotak kecil di Lead II dan atau > 1,5 kotak kecil di V1
 Adanya RAD
 Adanya morfologi QR, Qr, qR, atau qRS pada lead V1 (tanpa adanya penyakit jantung
koroner)
 Voltase QRS di V1 < 5 kotak kecil dan rasio voltase V2/V1 > 6





12

b. Left Atrial Enlargement (LAE)

Gambar 4.4. left atrial enlargement

3. Infark Myocard
Iskemia myocard adalah keadaan dimana myocardium mengalami kekurangan pasokan darah
sehingga menyebabkan myocardium mengalami kerusakan bahkan kematian (infark). Diagram di
bawah ini menujukkan empat kemungkinan hasil pemeriksaan EKG dari iskemia myocardium
dalam skenario sindrom koroner akut.

Pada bagian kiri dari diagram belum terjadi nekrosis myocardium tapi sudah ada iskemia
subendokardial yang manifestasinya berupa depresi ST reversibel atau transmural iskemia yang
manifestasinya berupa elevasi ST. Pada bagian kanan dari diagram ada dua tipe infark myocardium, salah
satu bermanifestasi ST elevation Myocardial Infaction (STEMI) dan satunya non ST elevation Myocardial
Infarction (Non-STEMI). Keduanya dapat berevolusi menjadi Infark Myocardium gelombang Q patologis
atau non gelombang Q patologis. Karena gelombang Q patologis pada awalnya mungkin tidak muncul
dalam EKG, maka keputusan terapi didasarkan pada munculnya elevasi ST. Tujuan terapi adalah untuk
merevaskularisasi myocardium, jika revaskularisasi berhasil maka Q patologis tidak akan muncul. Baiklah,
Tanpa MI
subendokardial iskemia
transient ST
onset awal dari angina
Non-Q MI
Non-ST elevasi MI
ST derpresi
Perubahan gelombang T
kadang dapat pula ditemui gambaran
EKG normal
Tanpa MI
iskemia transmural
transient ST
varians angina
MI dengan gelombang Q
ST elevasi MI (STEMI)
Evolusi ST-T yang tipikal
iskemia
myocardium
Kriteria penegakkan diagnosis:
 Durasi gelombang P ≥ 4 kotak kecil
pada lead II
 Terdapat gelombang p mitrale
(ganda seperti huruf M)
 Terdapat gelombang P notch (seperti
anak panah)
 Gelombang P negatif (P terminal) di
lead V1
13

mungkin materi infak myocardium ini akan kalian pelajari pada Blok Kardiologi semester depan, gapapa
belajar sekarang lah itung-itung nyolong start.
Dalam OSCE angkatan 2010 kemarin, ditanyakan adalah bagaimana evolusi dari infark myocardium

Gambar 4.5. evolusi dari infark myocard akut
Gambaran tersebut mungkin muncul pada lead II dalam keadaan infark myocardium akut. Berikut
merupakan kronologi dari evolusi tersebut:
A. Gambaran awal EKG normal, terjadi onset dari rupturnya plaque.
B. Perubahan hiperakut gelombang T – naiknya amplitude gelombang T; pemanjangan QT;
mungkin juga ditemui elevasi ST.
C. Terjadi elevasi ST dengan perubahan hiperakut gelombang T (pola “tombstone”)
D. Munculnya gelombang Q patologis (ada nekrosis), penurunan ST elevasi, gelombang T mulai
terbalik (fase ini disebut juga fase “evolusi sempurna”)
E. Gelombang Q patologis, inverse gelombang T (menandakan adanya nekrosis dan fibrosis)
F. Gelombang Q patologis, gelombang T tegak kembali (menandakan fibrosis)
(G). Gelombang Q mengecil atau bahkan menghilang (innalillahiwainnailaihiroji’un).

Saya rasa cukup itu saja rangkuman singkat mengenai EKG ini. Semoga tidak sesat dan dapat
bermanfaat. Jangan lupa (kalau sempat) pelajari kejadian-kejadian patologis pada jantung yang dapat
terekam pada EKG seperti fibrilasi, flutter, blokade jantung, dsb. Semoga sukses OSCE EKG di
semester ini dan ujian Blok Kardiologi di semester depan. Sekian, kalau ada salah saya minta maaf,
kalau ada yang kurang silakan ditambahin sendiri ya… Wassalamu’alaikum





14

DAFTAR PUSTAKA
Guyton AC, Hall JE (2007). Buku ajar fisiologi kedokteran, edisi 11. Jakarta: EGC.
Moukabary T (2007). Willem Einthoven (1860-1927): father of electrocardigraphy. Cardology Journal.
14(3). Halaman: 316-317.
Sherwood L (2001). Fisiologi manusia: dari sel ke sistem, 2/E. Jakarta: EGC.
Suryawan A, Kiyatno, Balqis, Jusup SA, Suselo YH (2012). Elektrokardiografi (EKG). Dalam: Tim Skills
Lab FK UNS. Buku pedoman keterampilan klinis untuk semester 4. Surakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret.
Van Gorselen EOF, Verheugt FWA, Meursing BTJ, Ophuis AJMO (2007). Posterior myocardial infarction:
the dark side of the moon. Netherland Heart Journal 15(1). Halaman: 16-21
www.ecglibrary.com
Yanowitz FG (2012). Introduction to ECG interpretation. Salt Lake City: Intermountain Healthcare.