Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
Perubahan pola pikir, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi akan
berdampak pada tuntutan dan kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih
berkualitas termasuk pelayanan keperawatan. Teori praktik keperawatan didasarkan pada
pengetahuan keperawatan. Perkembangan pengetahuan memiliki bukti dalam
menghubungkan antara tingkat abstraksi dengan jenis teori keperawatan (Fawcett, 2005).
Teori keperawatan menyediakan sebuah perspektif tentang cara mendefinisikan perawatan,
menggambarkan siapa yang diberikan perawatan, kapan perawatan akan di butuhkan, serta
mengidentifikasi batas dan tujuan kegiatan terapeutik dalam perawatan.Falsafah keperawatan
merupakan keyakinan terhadap nilai nilai keperawatan yang menjadi pedoman dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada indnividu, keluarga, kelompok, masyarakat.
Keyakinan terhadap nilai keperawatan harus menjadi pedoman bagi setiap perawat. Falsafah
keperawatan menjadi pedoman dalam menjalankan profesinya. Falsafah keperawatan
memiliki keyakinan tentang manusia yang holistik. Kebutuhan klien yang holistik dan unik
menuntut kemampuan perawat yang tepat dalam menganalisis kebutuhan klien. Untuk
melakukan hal ini, maka perawat harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang aspek
manusia yang meliputi aspek biologis, sosial, spiritual, psikologis dan kultural secara
keseluruhan . sehingga dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien tidak hanya fokus
pada aspek biologis saja. Perkembangan teori keperawatan di awali pada tahun 1950 an, saat
perawat mulai menyadari bahwa ilmu pengetahuan keperawatan perlu disusun dalam suatu
kerangka kerja yang sistematis, meskipun setiap teori umumnya merujuk pada suatu
fenomena yang spesifik, tetapi dapat digunakan pada lingkup yang lebih luas. Berdasarkan
pada lingkup teori nya, teori keperawatan dibedakan menjadi 4 yaitu philosophical teori,
grand theory, middle range theory dan practice theory. Dalam makalah ini kami akan
menjelaskan dan menganalisa filosofi keperawatan.






BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
2.1.1 Metaparadigma
Metaparadigma merupakan kumpulan abstrak yang masih umum dalam konsep inti
ilmu keperawatan ( manusia, lingkungan, kesehatan, dan keperawatan). Konsep ini
terbagi dalam setiap model konseptual berdasarkan filosofi dari model tersebut.
2.1.2 Filosofi keperawatan
Alligood( 2005) menyatakan bahwa filosofi keperawatan merupakan makna umum
dari keperawatan dan juga menjelaskan fenomena keperawatan melalui penalaran dan
logika.
2.1.3 Model konseptual (disebut juga paradigma atau kerangka kerja)
Adalah framework atau kerangka yang strukturnya dapat dikembangkan menjadi
sebuah teori.
2.1.4 Grand Teori
Adalah abtrak generalisasi yang merepresentasikan eksplorasi sistematik tentang
hubungan suatu fenomena
2.1.5 Teori
Teori adalah sesuatu yang spesifik, mampu mengenalin dan menjelaskan fenomena
tetapi tidak sespesifik middle range teory
2.1.6 Middle range teory
Dapat didefinisikan sebagai serangkaian ide atau gagasan yang saling berhubungan
dan berfokus pada suatu dimensi terbatas yaitu pada realitas keperawatan ( Smith&
Lihar, 2008). Teori ini dapat dikembangkan pada tatanan praktek dan riset untuk


menyediakan pedoman dalam praktik dan riset/ penelitian yang berbasis pada disiplin
ilmu keperawatan.
2.2 Hubungan Filosofi dengan paradigma, konsep, model dan teori keperawatan
Paradigma merupakan pola atau skema yang mencoba mengorganisasikan atau
menerangkan suatu proses. Paradigma juga disebut sebagai tahap kedua perkembangan
ilmu pengetahuan (Kuhn, 1962) dimana pada tahap ini pencarian jalan keluar
permasalahan yang rasional dilakukan berdasarkan asumsi metodologis dan metafisik
untuk memahami bagaimana bagian-bagian dari alam semesta melakukan kegiatan dan
bagaimana cara mempelajari hal tersebut. Paradigma memiliki arti pengetahuan umum
dimana didalamnya terdapat proses ilmiah umum yang secara historis mencerminkan
berbagai keberhasilan dalam suatu disiplin. Para ilmuwan ini berpendapat bahwa
paradigma menyajikan kesepakatan bersama antar ilmuwan dalam suatu disiplin tentang
konsep atau beberapa konsep yang akanmendasari perkembangan ilmu pengetahuan
dalam disiplin tersebut. Paradigma ini terdiri dari empat komponen yaitu anusia, sehat
dan kesehatan, masyarakat dan lingkungan, serta komponen keperawatan.
Manusia
Keperawatan meyakini dan menekankan dalam setiap kegiatan pelayanan
keperawatannya bahwa manusia merupakan individu yang layak diperlakukan secara
terhormat, dihargai keunikannya berdasarkan individualitas, dalam berbagai
situasi, kondisi, dan sistem yang dapat mengancam kehormatan dan sifat
kemanusiaannya. Perspektif keperawatan menjelaskan bahwa manusia merupakan
pribadi-pribadi dan bukan obyek. Konseptualitas keperawatan tentang manusia
dapat dibuktikan melalui model-model keperawatan tentang kemanusiaan, penghargaan
terhadap manusia, dan perasaan sebagai manusia, yang telah berlaku sejak lama.
Meskipun demikian, mengkonseptualisasikan manusia sebagai suatu
sumber energi atau beberapa set sistem perilaku, atau memperlakukan pikiran dan
perasaan manusia sebagai lingkungan internal dapat menimbulkan keraguan keperawatan
untuk menerangkan tentang manusia secara jelas.
Sehat dan Kesehatan
Definisi sehat & kesehatan telah berubah dari kondisi seseorang yang bebas penyakit
menjadi kondisi yang mampu mempertahankan individu untuk berfungsi secara
konsisten, stabil dan seimbang dalam menjalani kehidupan sehari-hari


melalui interaksi positif dengan lingkungan. Kesehatan dipandang juga sebagai sebuah
kisaran antara sehat dan sakit dimana individu memiliki suatu nilai yang berharga
tentang kesehatan dan bukan semata-mata suatu fenomena empiris tentang kondisi
seseorang. Komponen paradigma tentang sehat & kesehatan dapat berkembang menjadi
suatu pemahaman tentang terciptanya suatu kondisi fisik dan psikologis seseorang yang
bebas dari tanda dan keluhan akibat terjadinya masalah kesehatan, dimana orang tersebut
dapat tetap memperlihatkan kinerja aktif, dinamis, dan efektif serta
kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap setiap tantangan dan ancaman yang
datang baik dari dalam dirinya sendiri maupun lingkungannya, dan berkemampuan untuk
mempertahankan tingkat kesejahteraan fisik, psikologis, sosial dan spiritualnya secara
seimbang melalui upaya aktualisasi diri yang positif.
Masyarakat dan Lingkungan
Masyarakat dan lingkungan merupakan komponen dalam paradigma keperawatan
dimana setiap individu berinteraksi. Masyarakat dan lingkungan juga dianggap sebagai
sumber terjadinya keadaan sakit (tidak sehat) dan merupakan faktor yang berpengaruh
terhadap kesehatan atau kondisi sakit seseorang. Orem (Marriner-Tomey, 1994)
mengidentifikasi bahwa hubungan antara individu dan lingkungannya serta kemampuan
individu untuk mempertahankan kesehatan dirinya dapat dipenagruhi oleh lingkungan
dimana individu itu berada. Individu selalu berada pada lingkungan fisik, psikologis, dan
sosial. Fokus perhatian terhadap interaksi manusia dan lingkungannya dalam teori
keperawatan dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu teori keperawatan yang
berfokus parsial dan teori keperawatan yang berfokus total. Pada fokus parsial, perawat
berperan sebagai pengganti, dimana peran perawat diperlukan pada saat klien tidak
mampu melakukan kegiatannya. Teori ini beranggapan bahwa perawat bertanggung
jawab terhadap kesehatan dan kebutuhan harian klien sampai mereka dapat pulih
kembali dan mampu bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup selanjutnya
(Marriner-Tomey, 1994).
Aplikasi teori ini dapat dilihat dalam teori Orem, Henderson, dan Orlando, dimana ketiga
ahli teori ini sepakat bahwa peran perawat merupakan peran pengganti ketika klien tidak
mampu, tidak mau atau tidak tahu merawat diri dalam menjalankan fungsi interaksinya
yang seimbang dengan lingkungan, yang dapat disebabkan oleh faktor perkembangan,
faktor ketidak mampuan, faktor keterbatasan lingkungan, faktor respons berlawanan
terhadap interaksi lingkungan dan faktor ketidakmampuan berkomunikasi. Teori yang


berfokus total dikemukakan melalui dukungan beberapa ahli teori keperawatan yaitu
Nightingale, Levine, Rogers, Roy, Neuman, dan Johnson (Marriner-Tomey, 1994) yang
memandang bahwa lingkungan merupakan kondisi eksternal sebagai sumber ventilasi,
kehangatan, kebisingan, dan pencahayaan dimana perawat dapat mengatur dan
memanipulasinya dalam rangka membantu klien memulihkan diri. Dengan demikian,
kegiatan keperawatan meliputi antara lain menciptakan lingkungan yang memungkinkan
terjadinya penyembuhan dan pemulihan kesehatan seorang klien. Teori ini juga
menekankan bahwa keperawatan seyogyanya berperan aktif dalam memfasilitasi
interaksi antara individu dan lingkungannya melalui upayamenciptakan lingkungan fisik
yang kondusif agar kondisi kesehatan dapat tercapai. Selain itu, berperan aktif melalui
hubungan interaksi klien dan lingkungan yang tidak terpisahkan dan amat ekstensif
(komplementer, helisi, dan resonansi). Juga, melalui upaya mempertahankan dan
meningkatkan kemampuan proses adaptasi klien terhadap berbagai stimulus. Disamping
itu, melalui kemampuan meningkatkan sistem terbuka klien secara intrapersonal,
interpersonal, dan ekstrapersonal, dan memfasilitasi sistem perilaku yang positif rnelalui
peningkatan fungsi fungsi interrelasi dan interdependensi subsistem yang terdapat
dalam setiap individu.
Keperawatan
Menurut Henderson, keperawatan merupakan upaya bantuan yang diberikan kepada
individu baik sehat maupun sakit, yang dibutuhkan sampai pulih kembali atau menjelang
ajal, dimana individu tidak mampu melaksanakan kegiatan kehidupannya akibat ketidak
mampuan, ketidak mauan, dan ketidak-tahuan (Marriner-Tomey, 1994). Asuhan
keperawatan adalah pelayanan yang diberikan kepada klien (individu atau kelompok)
yang sedang mengalami stress kesehatan - stress penyakit dimana situasi kehidupan yang
seimbang menjadi terganggu dan menghasilkan tekanan (biologis, psikologis, dan sosial)
serta ketidak-nyamanan. Keperawatan dapat dipandang sebagi suatu proses kegiatan dan
juga sebagai suatu keluaran kegiatan, tergantung dari cara memandang dan perspektif
pandangan. Sebagai proses serangkaian kegiatan, maka keperawatan perlu
mengorganisasikan, mengatur, mengkoordinasikan serta mengarahkan berbagai sumber
(termasuk klien didalamnya) untuk digunakan seefektif dan efisien mungkin dalam
rangka memenuhi kebutuhan klien. Selain itu, untuk mengatasi masalah-masalah aktual
dan potensial klien melalui suatu bentuk pelayanan keperawatan yang menekankan pada
pengadaan fasilitasi interaksi klien dan lingkungannya. Keperawatan sering diartikan


pula sebagai serangkaian kegiatan atau fungsi untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Akan tetapi, banyak pihak yang merasa belum jelas, apakah fungsi-fungsi,
proses dan tujuan keperawatan ini, apakah keperawatan hanya memberikan perawatan,
ataukah sejenis penyembuhan, apa indikasi keperawatan, apakah keperawatan berfokus
pada orang atau lingkungan atau interaksi antara orang dan lingkungan? Untuk
menjawab hal hal ini telah banyak diperkenalkan model-model keperawatan. Dan
banyak tujuan keperawatan terkait dengan upaya mempertahankan keseimbangan, upaya
adaptasi, merancang pola kehidupan kembali dimana kesemuanya dilakukan dalam
rangka pulihnya situasi sehat dan kesehatan.
2.3 Teori filosofikal menurut beberapa tokoh keperawatan
2.3.1 Florence Nightingale
Teori Nightingale mengutamakan fokus pada lingkungan dalam penerapannya.
Walaupun secara pernyataan tidak pernah menyebutkan lingkungan, ia menggambarkan
lingkungan dengan mendefinisikan tentang ventilasi, kehangatan, cahaya / penerangan,
makanan, kebersihan dan suara. Nightingale tidak secara khusus membedakan
lingkungan pasien dengan aspek fisik, psikologis dan sosial, tetapi dari tulisan-tulisan
yang ada, ia memberi penekanan pada lingkungan fisik. Lingkungan sehat dilihat dalam
situasi rumah sakit, rumah tinggal dan kondisi fisik pemukiman. Lima komponen penting
lingkungan yang sehat menurut Nightingale meliputi udara bersih, air bersih,
pembuangan air yang efisien, kebersihan ruangan dan pencahayaan. Nightingale
menekankan pada pemberian ventilasi yang baik bagi proses penyembuhan pasien.
Perawat diingatkan untuk "mempertahankan pemberian udara pada pasien sebersih udara
eksternal, tanpa membuatnya kedinginan" (Nightingale, 1969 ). Pencahayaan
diidentifikasi sebagai pemberian cahaya matahari secara langsung yang merupakan
kebutuhan penting bagi pasien. Ia mengatakan "cahaya memiliki pengaruh yang cukup
nyata dan dapat dirasakan pada tubuh manusia" (Nightingale, 1969 ). Untuk
memperoleh keuntungan dari sinar matahari, perawat diminta untuk memindahkan dan
memposisikan pasien agar terkena cahaya matahari. Dalam pemberian ventilasi yang
baik, perawat perlu mengkaji suhu tubuh pasien dengan cara mempalpasi ekstremitas,
agar jangan sampai pasien kedinginan atau kepanasan. Perawat disarankan untuk
memanipulasi lingkungan secara berkelanjutan untuk mempertahankan ventilasi dan
kehangatan pada pasien dengan pemberian pemanas, membuka jendela dan pemberian
posisi yang tepat pada pasien. Kebersihan ditujukan kepada pasien, perawat dan


lingkungan fisik. Lingkungan yang kotor (pada lantai, karpet, dinding dan bed linen)
adalah sumber infeksi. Walaupun ruangan memiliki ventilasi yang baik, materi organik
dapat membuat lingkungan menjadi kotor. Oleh karena itu, dibutuhkan pembuang
ekskresi dan kotoran tubuh yang baik untuk mencegah kontaminasi terhadap lingkungan.
Selain itu, pasien perlu dimandikan secara teratur setiap hari. Perawat juga harus mandi
setiap hari, mengenakan pakaian yang bersih dan sering mencuci tangan. Konsep ini
bukan hanya ditujukan pada perawatan individual pasien, tetapi ditujukan juga bagi
perbaikan status kesehatan di pemukiman kumuh yang padat dimana pembuangan
kotoran tidak adekuat dan akses mendapatkan air bersih terbatas (Nightingale, 1969).
Kebutuhan akan lingkungan yang tenang juga perlu dikaji dan diintervesi oleh perawat.
Suara berisik yang dihasilkan oleh aktifitas fisik di ruangan perlu dihindari karena dapat
mengganggu pasien. Selain itu, perawat juga perlu memperhatikan nutrisi / makanan
pasien. Perawat perlu mengkaji pemasukan makanan, jadwal makan dan pengaruhnya
terhadap pasien. Nightingale percaya bahwa pasien dengan penyakit kronis
membutuhkan nutrisi yang lebih banyak dan perawat yang pintar adalah perawat yang
berhasil memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
Selanjutnya, komponen lainnya yang didefinisikan oleh teori Nightingale adalah petty
management (Nightingale, 1969), dimana perawat memiliki kendali terhadap lingkungan
secara fisik dan administratif. Perawat perlu mengontrol lingkungan untuk melindungi
pasien dari ancaman fisik dan psikologis. Nightingale juga yakin bahwa perawat akan
tetap bertanggung jawab terhadap lingkungan walaupun ia tidak ada di ruangan, karena
ia telah menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain yang bekerja disana saat ia tidak
ada di tempat, hal ini menunjukkan sebenarnya proses pendelegasian sudah ada pada
jaman Nightingale.

2.3.2 Jean Watson
Watson (1979) melakukan pendekatan yang unik dalam filosofi keperawatan untuk
pertama kalinya, yaitu dalam karyanya Nursing: The Philosophy and Science of
Caring. Dalam karyanya, yang dikenal sebagai ilmu manusia, ia telah menyatakan
untuk kembali ke nilai keperawatan sebelumnya, yang menekankan pada aspek
kepedulian (Watson, 1988). Dalam filsafat keilmuan menurut Watson, dia menetapkan
posisi keilmuan bagi manusia dalam hubungan antar manusia dari sudut pandang
keperawatan dan menentukan sepuluh faktor kreatif untuk memandu penerapannya


dalam praktek keperawatan. Caring antar personal adalah pendekatan yang diusulkan
untuk mencapai keterhubungan di mana perawat dan pasien berubah secara bersama-
sama. Penekanan pada harmoni dari kesatuan dalam tubuh, pikiran dan jiwa, serta
penyakit dipandang sebagai ketidakharmonisan, sehingga perawat dan pasien harus
berpartisipasi secara bersama-sama sampai tercapai keharmonisan antara tubuh, pikiran
dan jiwa. Teori Watson telah digunakan untuk mendukung konseptualisasi praktek
umum (Chambers, 1998) dan praktik keperawatan jiwa (Tilley, 1995) dan yang terkini
adalah untuk memenuhi kebutuhan pasien dengan rheumatoid arthritis (Nyman &
Lutzen, 1999).

2.3.3 Banner
Benner (1984) memberikan pandangan filosofis mengenai praktek keperawatan yang
berfokus pada bagaimana pengetahuan praktek diperoleh dan bagaimana
perkembangannya dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, karya Benner dapat dipandang
sebagai personal knowing (pembelajaran pribadi) menggunakan pola Carper (1978).
Penelitian interpretatif beliau mengarah pada gambaran kemajuan perawat dari orang
baru menjadi ahli keperawatan dan kesadaran pentingnya caring dalam keperawatan.
Karya Benner telah digunakan untuk menuntun pengujian inovasi dan perubahan praktek
keperawatan. Sebagai contoh, filosofi Benner dipakai untuk menguji ancaman terhadap
kelangsungan keperawatan pada individual yang kritis (Walsh, 1997). Sementara itu
Alcock (1996) menggunakan karya Benner untuk mempelajari praktek keperawatan
tingkat lanjut dari sudut pandang administratif. Hal serupa dilakukan oleh Dunn (1997)
yang menggunakan karya Benner untuk menguji praktek keperawatan lanjut di literatur
keperawatan. Baru-baru ini, Benner, Hooper-Kyriakidis, dan Stannard (1999)
mempublikasikan buku dengan judul Clinical Wisdom and Intervention in Critical Care
: A Thinking in Action Approach.
2.3.4 Katie Erikson
Konsep dasar teori :
1. Caritas
Mengandung makna cinta dan kemurahan hati,merupakan motif dasar dari ilmu
caring, artinya bahwa keyakinan, harapan dan cinta dicapai dengan perantaraan caring
melalui tindakan pemeliharaan, pelaksanaan dan pembelajaran


2. Caring Communion
Mengandung konteks pengertian dari caring dan menjadi struktur yang menentukan
realitas caring, yang terdiri dari intensitas dan vitalitas yaitu kehangatan, keakraban,
ketenangan, ketanggapan, kejujuran dan toleransi. Caring communion adalah apa
yang menyatukan dan mengikat individu/manusia tersebut sehingga membuat caring
itu berarti.
3. Tindakan caring
Merupakan suatu seni/cara menjadikan sesuatu yang kurang special menjadi sangat
special
4. Etika Caritative Caring
Etika caring menitik beratkan pada hubungan dasar antara pasien dan perawat dimana
saat perawat menemui pasien memenuhi batasan-batasan etika yang jelas. Sikap yang
ditampakkan dilakukan melalui pendekatan pendekatan yaitu tanpa ada prasangka dan
tetap melihat manusia sebagai makhluk yang bermartabat.
5. Martabat
Dalam berinteraksi dengan pasien perlu diperhatikan martabatpasien.Ada dua jenis
martabat, yaitu martabat yang mutlak dan martabat yang relatif. Martabat yang
relative dipengaruhi/ dapat diperoleh dari budaya.
6. Menerima panggilan/undangan/invitasi
Perawat dating mengunjungi pasien dan memberikan tindakan perawatan atas
permintaan atau undangan dari pasien/keluarga sendiri.
7. Penderitaan
Penderitaan ada yang dihubungkan dengan kondisi sakit, perawatan, dan
kehidupan.
Penderitaan yang dihubungkan dengan kondisi sakit dimana pasien mengalami
penderitaan karena kondisi sakitnya tersebut.
Penderitaan yang dihubungkan dengan perawatan, dimana kadang pasien
mengalami penderitaan akibat pada saat diberi tindakan perawatan, kurang
dipertimbangkan masalah martabat pasien, kurangnya keramahan petugas,
adanya kesalahan tindakan, dan terapi latihan yang menyiksa.
8. Penderitaan manusia
Keadaan yang digambarkan oleh pasien saat dia mengalami sakit dimana pada saat itu
ia memikul penderitaan


9. Rekonsiliasi
Merupakan suatu bentuk drama dari penderitaan dimana seseorang yang menderita
ingin memastikan penderitaan yang dialaminya dan diberi kesempatan untuk
mencapai rekonsoliasi/kedamaian
10. Budaya caring
Merupakan konsep dimana Erikson menggunakan lingkungan berdasar pada elemen
budaya sebagai tradisi, ritual dan nilai-nilai dasar. Budaya yang berbeda memiliki
dasar perubahan nilai etos. Bila suatu communion muncul berdasarkan etos, budaya
menjadi lebih menarik. Budaya caring menunjukkan sikap tanggap terhadap manusia,
martabat dan kesuciannya dalam membentuk tujuan communion.

























BAB 3
ANALISIS

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata,
philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti
cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah.
Ontologi berdasarkan kajian ontologi dalam keperawatan membahas tentang apa itu
filosofi keperawatan, apa itu model konseptual keperawatan, apa itu grand teori, teori,
dan apa itu middle range theory.
Epistemologi berdasarkan epistemologi dikembangkan bagaimana pengetahuan
keperawatan itu diperoleh dari pengalaman yang ditangkap oleh pancaindra
Aksiologi berdasarkan kajian aksiologi nilai nilai keperawatan dikembangkan dalam
praktik asuhan keperawatan, bagaimana penerapan pengetahuan keperawatan didalam
memberikan asuhan keperawatan pada klien.
Berdasarkan tinjauan teori, teori yang dikemukakan oleh Florence, Jean Watson, Banner,
Erickson. Theori Florence Nightingale termasuk Filosofikal theory karena menurut
Florence lingkungan memegang peranan penting dalam menjaga status kesehatan
individu dan Florence tidak secara khusus membedakan lingkungan klien dengan aspek
fisik, psikologis dan sosial, tetapi lebih menekankan pada lingkungan fisik.
Teori Jean Watson . Teori Watson termasuk dalam Philosophical Theory karena lebih
menekankan pada aspek kepedulian (caring), sedangkan asuhan keperawatan pada klien
juga harus memperhatikan aspek biologis dan fisik, sehingga diperlukan penelitian lebih
lanjut untuk mengaplikasikan teori Watson dalam praktik keperawatan.
Teori Banner
Teori yang dikemukakan Banner memberikan pandangan yang berfokus pada
pengetahuan praktek dan telah digunakan untuk menuntun pengujian inovasi dan
perubahan praktek keperawatan. Teori Banner dapat termasuk teori filosofis karena
menekankan level praktek keperawatan yang dimulai dari pemula, pemula lanjutan,


kompeten, asisten ahli dan benar-benar ahli. Pengelompokan menurut Banner inilah yang
kemudian menjadi acuan untuk pengembangan teori selanjutnya. Selain itu, teori Banner
juga hanya membahas pada aspek perawat saja, belum membahas ke aspek yang lebih
luas seperti lingkungan dan pasien.
Teori Erikson
Teori Erikson lebih menekankan pada caritative caring dimana perawat dituntut mampu
membina hubungan yang saling percaya dengan pasien sehingga tindakan yang
dilakukan oleh perawat mudah diterima oleh pasien. Berdasarkan keterangan diatas teori
dari Erikson ini masih tergolong ke dalam phylosophical teory karena masih bersifat
umum, artinya hanya menggambarkan hubungan antara perawat dengan pasien. Berbeda
dengan Grand Theory yang menuju ke arah lebih spesifik seperti pada Teori Orem yang
mengarah pada kemandirian pasien.















BAB 4
KESIMPULAN
Filosofi keperawatan merupakan makna umum dari keperawatan dan juga menjelaskan
fenomena keperawatan melalui penalaran dan logika.
Teori yang termasuk dalam teori filosofi adalah teori dari florence nigtingale, jean
watson, patricia banner, dan katie eriksen.
Teori yang mereka kemukakan termasuk filosofi teori karenamasih bersifat umum dan
perlu pengembangan lebih lanjut untuk diterapkan pada praktek keperawatan.