Anda di halaman 1dari 9

Yogyakarta, awal 1975

Sekitar 22 orang awak BTR berkemah di kebun Jambu, di perbatasan desa Wonoroto, dekat
pantai Parangtritis. WS Rendra mengatur pembagian kerja; investigasi tentang adat kehidupan
masyarakat desa. Di bawah tekanan berbagai pihak, mereka akhirnya bisa bersahabat dengan
masyarakat.

Selama dua minggu berkemah, mereka turut menanam vanili bersama penduduk setempat.
Melalui pembauran dengan masyarakat desa, mereka menyerap karakter berbagai tokoh.
Walhasil, catatan-catatan mereka cukup kaya. Masalah sosial, politik, dan lingkungan hidup
menginspirasikan banyak hal. Sebuah embrio Kisah Perjuangan Suku Naga mulai tumbuh.

"Kita akan bikin drama tentang dukuh," kata Rendra waktu itu. Dan dimulailah persiapan pentas
Suku Naga. Rendra mendiktekan peran dan ucapan setiap lakon secara bertahap. Untuk berbagai
peran, WS Rendra mendiktekan langsung kepada calon pemainnya. "Bagian tertentu saya
diktekan untuk Adi Kurdi, sebagian lain untuk Sitoresmi..." kata Willy--begitu WS Rendra biasa
dipanggil--mengenang proses penciptaan lakon itu.

Suasana masih tegang. Para pemain berlatih dan menghapal naskah secara diam-diam.
Kekhawatiran terhadap ancaman gagal pentas masih terasa. Mereka ingat bagaimana Rendra saat
berperan sebagai Creon dalam Antigone nyaris dibawa aparat di tengah pertunjukan berlangsung.

Jakarta, Juli 1975

Seperti sudah diduga, pertunjukan Suku Naga di Teater Terbuka TIM berjalan tersendat. Aparat
keamanan menuntut pementasan ditunda. Sementara Dewan Kesenian Jakarta dan BTR bertahan.
Pangkopkamtib Laksamana Soedomo mengizinkan pentas, tapi setelah 17 Agustus. Gubernur
DKI Jakarta kala itu, Ali Sadikin, bertahan untuk tetap mementaskan. Apa boleh buat, Ketua
DKJ Wahyu Sihombing pun jadi "jaminan" dan dibawa ke Komdak selama pementasan dua hari
itu.

Saat itu setahun lebih Malari berlalu. Rumah Sakit Harapan Kita milik Tien Soeharto baru
hendak didirikan. Kabar penggusuran penduduk untuk Proyek Bendungan Asahan di Sumatra
Utara sedang hangat-hangatnya. Kegerahan dan kegeraman terhadap masalah itu berubah
menjadi makian di warteg. Saat itulah Suku Naga mengumbar kritik pedas terhadap segalanya.

Melihat kesuksesan di Jakarta, Suku Naga diusung ke Bandung dan Surabaya pada tahun yang
sama. Sementara pentas di Yogyakarta baru berlangsung tiga tahun berikutnya. GOR Kridosono
membludak selama dua hari pertunjukan. "Karcis yang terjual tidak sebesar jumlah penontonnya,
karena banyak yang merasa dirinya warga Bengkel juga, jadi enggan masuk dengan karcis," tutur
anggota Bengkel Edi Haryono.
Jakarta, September 1998

Saat gladi resik (28/9) Adi Kurdi kehilangan suara. Rendra panik. Tapi the show must go on, dan
untungnya tak ada kesulitan berarti yang menghalangi.

Maka berceritalah Sang Dalang (Dewi Pakis); Kepala Suku Naga Abisavam (Adi Kurdi) dan
rakyatnya menghadapi tekanan Ratu Astinam (Ken Zuraida) dan anak buahnya yang hendak
mengubah kampung Suku Naga menjadi kota pertambangan. Sang juta-juta-jutawan The Big
Bos (Sawung Jabo) lewat duta Mr. Joe (Otig Pakis) hendak mengeruk tembaga dari kampung
Suku Naga. Rakyat Suku Naga dengan dibantu wartawan luar negeri Carlos (Kurt Kaler)
berupaya mempertahankan adat, tanah, dan masa depan dan peradaban Suku Naga.

"Saya melihat drama ini masih relevan, karena kekuatan dari bentuk drama itu adalah amsal;
amsal dari suku naga, penindasan, mesin industri, hubungan adikuasa dan negara berkembang,
dan amsal dari negara totaliter," ujar Rendra tentang pengulangan pentasnya ini.

Selain relevansinya, juga lantaran dia menghendaki keaslian (otentisitas) naskahnya tetap
terpelihara. Makanya, tak ada perubahan besar dari naskah asli yang dimainkan tahun 1975. Tata
panggungnya tetap sederhana. Hanya kostum pemainnya yang lebih bagus daripada pementasan
tahun 1975 yang seadanya.

Musiknya yang digarap Dedek Wahyudi dan para pemusik jebolan STSI Yogya memberi
sumbangan besar bagi ritme dan nuansa pementasan. Apalagi Dedek yang mengandalkan
instrumen gamelan ini mampu memberi sentuhan pop, blues, keroncong, sampai lagu dolanan
anak. Jangan heran bila terdengar kepingan melodi Roots to Branches milik Jethro Tull atau
Jaranan, satu judul lagu dolanan bocah-bocah di pedesaan Jawa.

Sayang penonton tak sempat menyaksikan permainan Rendra. Malam itu, dia tak bermain. Tapi
penonton cukup antusias menyambut kemunculan Adi Kurdi, Kurt Kaler, dan Ken Zuraida.

Harus diakui, keaktoran Adi masih hebat. Dan ia tak sendiri. Otig yang bergabung BTR sejak
1983 juga bermain bagus. Sementara aktor muda Daryanto Bended (Abivara) mulai unjuk gigi.
Sayang Sawung Jabo dan Dewi Pakis tak terlalu mulus bermain.

Pementasan Perjuangan Suku Naga kali ini bisa jadi sebuah nostalgia. Nostalgia kebesaran
Bengkel Teater dan nostalgia masa lalu suram yang pernah dilalui republik ini. Segala kritik
yang termuat dalam drama ini, bagi Rendra sekarang sebagai penegasan saja. "Memperingatkan
kembali dari apa yang sudah terjadi," katanya.

Dan memang segalanya tetap harus diingatkan, harus dikabarkan. Langit di luar, langit di
badan, bersatu dalam jiwa. Kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan,
sama saja. (kurniawan)
BENGKEL TEATER

Bentuk pementasan Bengkel Teater baru mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah
Barzanzi, Macbeth, Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama
pergelarannya. Dan kekentalan "warna lokal" semakin memancarkan daya tariknya ketika
Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan Burung Kondor, Perjuangan Suku
Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan
Kasidah Barzanzi dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental
dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.

Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat, ketoprak,
dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja Rendra menjadi ikon. Living-legend
dan trendsetter yang berhasil memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah
Rendra, teater menjadi lebih prestisius, "berharga", dan milik masyarakat luas. Teater (dan puisi)
juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa
mempengaruhi timbulnya pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan
yang menarik dan penting.

Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat,
‘ketoprak’, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Pada Macbeth, (juga Hamlet pentas-
ulang), Rendra bahkan ‘berani’ menggunakan sarung sebagai pelengkap busana. Ini luar biasa.
Dan, konon, belum pernah dilakukan seniman teater lain di Indonesia. Hal itu, terutama, karena
William Shakespeare dianggap sebagai pujangga agung yang karyanya tidak boleh diobrak-
abrik. Tapi Rendra berhasil menafsirkan kembali, dengan cemerlang.
Segera saja, Rendra menjadi ikon. Dia seakan living-legend dan trendsetter yang berhasil
memberi daya-hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra, teater menjadi sangat
presitisus dan ‘berharga’. Teater (dan puisi) tak lagi hanya dipergelaran bagi sekelompok kecil
orang saja, melainkan sudah menjadi milik masyarakat yang lebih luas. Teater (dan puisi), juga
mulai diperhatikan oleh kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa
mempengaruhi timbulnya pemikiran-pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini
perkembangan yang menarik dan penting.

Revolusi Dimulai dari Suku Naga

OLEH Nasrul Azwar

Penguasa, politisi, dan pengusaha seperti anjing berebut tulang. “Tulang” itu adalah Bukit Selako
yang sangat kaya dengan emas, intan, dan tembaga lainnya. Bukit Seloka yang jadi incaran
investor itu terletak di perkampungan Suku Naga yang berada dalam kekuasaan pemerintahan
Astinam. Sri Ratu, pimpinan tertinggi negara Astinam, akan menguasai bukit itu dan menjadikan
sebagai daerah tambang dengan dalih pembangunan. Para pembantu Sri Ratu—semenjak
perdana mentri hingga mentri-mentri lainnya, serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) negara
Astinam—berlomba menjadi penjilat yang “santun” dan dengan pelbagai alasan merayu rakyat
Suku Naga untuk menyukseskan program pembukaan pertambangan itu.
Kelompok Suku Naga yang berada di Bukit Seloka itu tak merelakan perkampungan mereka
dijadikan kota tambang. Kelompok Suku Naga—dibawah pimpinan Abisavam sebagai kepala
suku—melakukan perlawanan dan perjuangan. Perjuangan, militansi, dan loyalitas Suku Naga
terhadap leluhur mereka, yang dengan sangat teliti telah memilih tempat itu berabad-abad yang
lalu, membuat Sri Ratu murka. Suku Naga dianggap telah melakukan tindakan subversif dan
pembangkangan. Apalagi, setelah perjuangan Suku Naga melawan keotoriterianisme Sri Ratu
dipublikasikan secara internasional oleh Carlos, seorang jurnalis yang berpihak pada perjuangan
Suku Naga, mendapat respons dari lembaga-lembaga internasional.

Itulah inti cerita dari naskah Perjuangan Suku Naga karya dramawan WS Rendra yang
dipentaskan Old Track Theater Padang di Teater Tertutup Taman Budaya Sumatra Barat pada
10-11 Juni 2004 lalu, yang disutradarai Rizal Tanjung. Cerita yang mengalir seperti menemukan
pembenarannya secara faktual. Peristiwa teater yang berlangsung dua hari adalah Sumatra Barat,
juga Indonesia saat kini: penuh kebusukan, kerakusan, dan kebiadaban para pejabat, politisi, dan
juga pengusaha. Rakyat diperlukan pejabat dan politisi jika itu menyangkut kelanggengan
kekuasaannya. Selain itu, “pergilah ke neraka”.

Bentuk garapan dengan mengolaborasikan tari, musik, seni rupa, dan seni tradisi Minangkabau
ini, sebagai sebuah tontonan cukup menarik, komunikatif, dan relevantif. Akan tetapi, hal-hal
yang berhubungan dengan elemen-elemen teaterikal dan teknis, seperti: gerak, kustum, make-up,
penguasaan dimensi ruang, waktu, dramaturgi, dan kecenderungan garapan, memang masih
memberi kesan belum demikian tertata rapi. Penguasaan dimensi ruang dan waktu, misalnya,
terlihat tumpang tindih di atas panggung. Penggantian adegan dengan interval musik, tidak
memberi efek yang signifikan bahwa peristiwa teater telah beralih ke peristiwa lainnya.
Memang, risiko demikian acap luput dari perhatian sutradara, apalagi garapannya
menggabungkan pelbagai cabang seni lainnya di atas panggung.

Perjuangan Suku Naga bukan kisah yang berlatar Minangkabau, dan juga bukan dikarang oleh
pengarang yang berasal dari latar budaya Minangkabau. Namun, keberanian Rizal Tanjung, yang
hampir 15 tahun tidak menyentuh teater, mengadaptasinya dengan latar budaya Minangkabau,
tentu perlu dihargai. Selain itu, menyertakan koreografer Deslenda dan Ery Mefri dalam
penataan gerak, perupa Nazar Ismail pada artistik, dan Kelompok Pentassakral

Diposkan oleh Nasrul Azwar

Drama Kisah Perjuangan Suku Naga mengangkat tema yang sama sekali berbeda. Drama
ini diangkat dari hasil pergulatan Rendra dengan kehidupan sebuah desa. Ia melakukan observasi
dan wawancara dengan kepala desa, ibu-ibu, para petani, anak-anak muda desa yang merantau ke
kota, juga anak-anak kecil. Dalam Kisah Perjuangan Suku Naga, Rendra mengkritik para
penguasa dalam bentuk sindiran-sindiran lucu yang bisa membuat para penonton tertawa tapi
juga takut, karena semuanya adalah tentang penguasa. Pada saat drama itu dipentaskan, Orde
Baru sedang galak-galaknya sebagai rezim yang baru mereguk kekuasaan selama 10 tahun. Dan
Rendra tak peduli, ia mengkritiknya secara blak-blakan.
Re: Perjuangan Suku Naga (Bang Henry Wijaya)

Waktu Rendra sering mentas di Teater Terbuka TIM, yang sekarang sudah
lenyap, aku hampir selalu nonton. Masih SMP awal SMA aku waktu itu.
Tak selalu aku mengerti, tapi aku suka. Tapi kebiasaan itu membawa
berkah karena guru bahasa Indonesiaku suka menonton juga & tahu bahwa
aku juga suka nonton, jadi saja aku dapat perhatian dan nilaiku ke katrol.

Ketika Perjuangan Suku Naga dipentaskan lagi 1-2 tahun lalu, terasa
kurang menggigit. Situasi negeri kita memang sudah berubah. Di 70-an,
mengkritik terasa sangat gagah, sedang sekarang kritik sudah nyampah,
terlalu mudah.

Tetapi pesan dari kisah itu terasa masih relevan, apalagi dikaitkan
dengan isu global warming yang lagi naik daun. "Keserakahan itu
berkah" kata tokoh inverstor kakap dalam film "Wall Street", tetapi
bumi sudah menunjukan batas2nya, tapi sialnya yang musti membayar,
sepertinya, justru yang "tidak" ikutan menjarah

salam persahabatan
Henry

--- In LeoKristi@yahoogroups.com, henry ismono <hnrnova@...> wrote:


>

PERSPEKTIF EEP SAEFULLOH FATAH


Doktor Rendra

Kampus Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa 4 Maret 2008 pagi. Saya
menyaksikan Rendra dianugerahi doctor honoris causa dalam bidang seni dan budaya. Sosok
"Doktor Rendra" pun berkelebatan dalam pikiran saya.

Tidak diperlukan perdebatan sengit untuk menempatkan Rendra sebagai figur penting dalam
sejarah modern --atau setidaknya sejarah abad ke-20-- Indonesia. Saya pun sudah mengenal
nama Rendra sebagai sosok mitologis yang tak tersentuh, nun jauh di atas sana, sejak pertama
bersentuhan dengan pelajaran sastra di sekolah dasar, pada akhir 1970-an.

Tapi perkenalan saya dengan sosok historisnya, dari jarak dekat, terjadi secara sangat terlambat.
Tapi tepat waktu. Perkenalan itu terjadi sembilan tahun lalu, di awal 1999, ketika Indonesia
mulai diharu-biru reformasi, menjelang pelaksanaan Pemilu 1999. Maka, sekalipun terlambat,
perkenalan itu tepat waktu. Indonesia yang baru saja memulai sebuah hiruk-pikuk dinamika
politik cepat dan dramatis.

Dari dekat, saya menyaksikan Rendra bersusah payah memahami zaman yang tengah berubah,
memaknainya, menempatkan diri di dalamnya, dan memainkan peran-peran tertentu. Yang saya
temukan kemudian adalah pembuktian kredo berkesenian Rendra yang ia tandaskan berkali-kali,
di antaranya dalam "Sajak Sebatang Lisong" ini.

Apakah artinya kesenian,


bila terpisah dari derita lingkungan.
Apa artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

Kredo ini dengan cepat memancing minat saya. Sebagai pelajar politik, sudah lama saya percaya
bahwa kesenian mustahil lahir dan berkembang dalam ruang hampa sosial dan politik. Maka,
saya pun tak hanya bersahabat, melainkan juga mencoba memahami dan belajar dari "politik
Rendra".

Sudah banyak tinjauan dilakukan atas Rendra, tapi umumnya membahas ketokohan dan karya-
karya puisi dan lakonnya. Sementara tinjauan politik atas ketokohan dan karya-karyanya masih
amat langka.

Jika "muatan politik" puisi dan lakon Rendra dimaknai sebagai "kritik sosial" atas keadaan, maka
karya-karya Rendra sejak awal karier kepenyairan dan keteaterannya sesungguhnya sudah
bermuatan politik. Puisi-puisi awalnya, 1951-1957, yang menegaskan posisinya sebagai
"pencerita terang" melalui balada, jelas mengandung banyak kritik sosial (Balada Orang-orang
Tercinta, 1957). Naskah drama yang ditulisnya ketika ia masih duduk di SMA (Orang-orang di
Tikungan Jalan, 1954) adalah kritik sosial yang pekat melalui reposisi sosial, penaikan
kehormatan sosial pelacur.

Namun, jika kita memaksudkan "politik" sebagai sebuah agenda sadar, ekspresi pernyataan dan
desakan, maka Rendra mulai berpolitik melalui sajak-sajak pamfletnya, mulai periode 1970-an,
sebagai reaksinya atas Orde Baru dengan sejumlah karakternya yang ia tentang. Adapun dalam
hal teater, ia mulai memasukkan komitmen politik dalam lakonnya sejak pertengahan 1970-an.

Mengutip pernyataan Rendra sendiri, "Baru tahun 1975 saya mementaskan drama politik dengan
Kisah Perjuangan Suku Naga. Ya, sebelumnya ada juga Dunia Azwar sekitar tahun 1971,
menjelang Perkemahan Kaum Urakan. Tapi itu tidak politik benar, tidak jelas komitmen
politiknya, lebih merupakan komitmen moral. Baru dengan Kisah Perjuangan Suku Naga
komitmen politiknya jelas."
DRAMATURGI RENDRA
Dalam krisis mungkin kita membutuhkan drama. Atau meniru Martin Luther king JR yang
berteriak: “ Dalam suatu krisis kita harus punya satu rasa drama” dan ia menggerakkan anak-
anak kulit hitam di jalan-jalan Birmingham pada suatu hari minggu yang damai, kota yang
pernah membunuh anak-anak hitam yang tak bersalah. Martin Luther King JR tampil laksana
seorang aktor besar di pentas dengan gerak tangan yang anggun. Semuanya berkahir memang
sebagai sebuah ikhtiar politik; atau memang sebuah kisah panggung. Tapi Rendra bukan
bergerak di jalan-jalan tapi benar-benar di atas pentas. Untuk itu dia membutuhkan komunikasi.
Banyak orang mengatakan [ periksa antara lain buku Eric Bentley A Century of Hero-worship
atau dalam dunia fotografi kita temukan prinsip dari Henri Cartier Bersson yang disebut “the
decisive moment”-ketepatan dalam menentukan moment dalam hidup manusia], bahwa Rendra
muncul di era yang tepat dan kemudian mampu menjadi juru bicara zamannya. Seniman
memerlukan ketegangan tertentu dalam berhubungan dengan masyarakatnya karena ia ingin
memperluas cakrawala pengalaman, menciptakan suatu paham utuh dari berbagai gaya dan ide,
untuk mencari sesuatu yang baru atau untuk memapankan suatu perbedaan. Tidak heran bila
Rendra dan kelompoknya menamakan dirinya sebagai “orang urakan”, yaitu orang-orang yang
menolak untuk mengikuti aturan-aturan yang didiktekan oleh lingkungan. Sejak 1970 an dapat
dikatakan Rendra menjadi ujung tombak dari suara kritis hati nurani rakyat Indonesia.
Katakanlah dramanya yang terkenal Mastodon dan Burung Kondor yang menyindir kediktatoran
militer. Lysistrata yang mengritik mental militer. Panembahan Reso yang merupakan esei-esei
kekuasaan yang mencekam. Atau Kisah Perjuangan Suku Naga yang merupakan cerita satir
terhadap kediktatoran Soeharto dan terhadap sebuah fenomena yang zaman sekarang akan
disebut “globalisasi”. Keindahan dan kekuatannya yang anggun, kekenesannya dan
kepiawaiannya- yang dijuluk Si Burung Merak itu- memang menusuk ke benak sekaligus emosi
[ perhatikan pemilihan naskah-naskah yang seperti ditulis dalam bentuk blank verses karena
memahami benar kekuatan dari kalimat-kalimat yang puitik.
Menurut Max Lane ada 4 kondisi atau faktor yang memelejitkan Rendra sejak 1978.1.Mahasiswa
terbungkamkan; 2.Ali Sadikin yang independent itu tidak jadi Gubernur lagi; 3.kapitalisme “Big
Boss” dan “Mr Joe” dan para kroni berhasil berakar di Indonesia tapi dalam wajah yang
negative; rakus dan keserakahan; 4.sektor pikiran sosialis humanis kritis meraih ruang kembali.
Di sanalah kita melihat strategi dramaturgi Rendra.Ia mencoba atau memang menyajikan unsur-
unsur responsi politis-filosofi, suatu kritik budaya. Juga mencoba menemukan substansi estetik
teater dan merumuskan fungsi terapautik teater bagi masyarakat saat itu. Disana memang kita
akan melihat refleksi kompleksitas persaingan nilai-nilai estetik dengan nilai-nilai hegemonic
dalam struktur dan kehidupan institusional masyarakat. Kalau kita mengikuti Pierre Bourdieau
dalam bukunya The Field of Cultural Production [ Columbia University press 1993] maka dapat
disebut bahwa dramaturgi [teater Rendra] merupakan fiksasi dari model perjuangan dengan
memakai instrument artistik teater sebagai media pencapaiannya.
Dan strategi dramaturgi seperti itu bukannya tidak menimbulkan kritik menurut sementara orang
naskah-naskah drama dan terutama naskah-naskah asing yang diadaptasi terlalu dan selalu
diletakkan di bawah kemauan dan keinginan Rendra dan terlalu menggurui yang menyebabkan
Pamusuk Eneste tidak suka nonton Teater Rendra [halaman 1037]/ untuk tidak mengatakan ia
“memanipulasi” naskah-naskah itu.
Kritik-kritik bersliweran dalam buku yang tebal ini. Secara acak ambil tulisan Goenawan
Mohammad di Tempo 25 Desember 1976 yang melontarkan sinyalemen-sinyalemen bahwa
Bengkel Teater Rendra kekurangan aktor dan dalam tiga kali pementasan Hamlet praktis Rendra
bermain sendiri dan menggelembungkan dirinya [halaman 630] , sampai ke tulisan Putu Fajar
Arcana di Kompas 26 Juni 2005 , kritikan terhadap pementasan Sobrat [halaman 1635] yang
mensinyalir gagalnya proses regenerasi dalam Bengkel Teater Rendra, yang mengorbankan
penonton. Padahal Bengkel Teater Rendra sedang berhadapan dengan publik dalam arti luas,
yang terdiri atas komunitas teater, publik awam, pers, cendekiawan dan sponsor. Tapi Rendra
menjawab enteng: “ Tak masalah bagi saya pertunjukkan ini dibilang baik atau jelek” di sana
terkandung nada suara kecewa, kesal dan lelah. Usia Rendra sudah 70 tahun; apakah ia akan
bilang seperti ditulis Stanislavsky dalam bukunya My Life in Art [halaman 458] ketika ia juga
berusia 70 tahun: I am not young and my life in art is approaching it’s last. The time is come to
sum up the result and to draw up a plan of my last endeavour in art”, yaitu menulis sendiri buku
tentang dirinya tentang konsep-konsep artistiknya dalam teater seperti ditulis Stanislavsky dalam
My life in Art itu yang akan disambung dengan 8 jilid lagi. Itu yang sebenar-benarnya yang kita
tunggu.
Tribute to WS Rendra.

Max Arifin (alm), pengamat teater. Tinggal di Jl.Bola Volley Blok E 33,Perum Japan Raya,
sooko, Kabupaten Mojokerto 61361 Jawa Timur.
Telp 0321- 326915

NB:
artikel ini telah dimuat di harian JAWA POS,Minggu, 9 April 2006. Ini adalah versi lengkap.

A TRIBUTE TO WS RENDRA

Hadiah yang pantas pada ulang tahun Rendra yang ke 70 beberapa bulan yang lalu adalah
dengan terbitnya buku ini.Sebuah buku besar dengan ketebalan lebih dari seribu lima ratus
halaman dan berisi berita berita ulasan-ulasan dan artikel-artikel yang cukup bermutu dan kritis
terentang dari wartawan, penyair, sutradara, novelis, teolog, pelukis, penari,editor buku, peneliti,
dosen-dosen, seorang editor dari Malaysia, berita-berita di koran Jepang dan Korea
Selatan.Semua relung –relung kehidupan dan denyut jantung Bengkel Teater Rendra [BTR]
tampak dengan transparan, seakan-akan tak ada yang tersembunyi.Tampak bayangan Rendra
berdiri seutuhnya disana dan tampaknya cuma pribadi seperti itu yang mampu membangun
sebuah sanggar teater sehebat Bengkel Teaternya.
Dapat kita katakan buku ini berisi banyak tanggapan para penulis terkemuka Indonesia yang
telah menjadi saksi keteateran dan sikap berkesenian seorang Rendra. Dan kita juga bisa
bilang,bahwa tanggapan,respons Rendra terhadap kehidupan sekitarnya. Seperti dikatakan oleh
Nietzsche dalam buku The Rebel karya Albert Camus, “tak ada seniman yang dapat menerima
kenyataan”, tapi dengan cepat dijawab olehnya,”tak ada seniman yang bisa terus melangkah di
luar kenyataan.Pemberontakan dapat dijumpai pada seni dalam keadaannya yang murni dan
kompleksitas purbanya”.Sebenarnya dari sinilah dasar pemahaman kita terhadap seni Rendra.

Arti penting kedua terbitnya buku ini adalah seperti ditulis oleh Max Lane pada kata
pengantarnya.”Kerja ini sepantasnya mendapat penghargaan tersendiri dari masyarakat, karena
usaha ini bisa berarti telah dimulainya suatu perjuangan yang harus diteruskan untuk
memperbaiki kerusakan-kerusakan seni budaya Indonesia yang terjadi karena kriminalitas Orde
Baru di bidang budaya”. Lebih lanjut dosen University of Sydney Australia itu menulis:”
perjuangan kemerdekaan lewat perjuangan aksi massa dulu harus dibarengi dengan perjuangan
di bidang budaya dari sastra Tirtoardisoeryo, Mas Marco terus ke Chairil Anwar;sastra menjadi
sebuah bagian yang sangat dibutuhkan bagi perjuangan menciptakan sebuah kepribadian dan
sebuah khazanah karya yang membantu manusia Indonesai melihat dunia”. Karya-karya Rendra ,
Pramoedya Ananta Toer, Wiji Thukul dan lain-lain sudah seharusnya menjadi bacaan wajib di
sekolah-sekolah.

Pertama kali Rendra tampil tahun 1968 sepulang dari AS dengan pementasan Mini Kata nya,Bip-
Bop, sejak itu tampil sebagai salah satu jenis seni modern yang mau ditumbuhkan di Indonesia
oleh Rendra. Di sana sudah muncul pro dan kontra: yang memuji dan yang mencelanya. Sri
Laksono SE menulis surat pembaca di Kompas yang menduga Rendra dilahirkan terlampau dini
di Indonesia atau sepantasnya Rendra menjadi penghuni pasien poliklinik psikiatri. Suara yang
sama datang dari dr Waluyo Suryodibroto [ dari bagian gizi FKUI Jakarta].Lain halnya
tanggapan DR Fuad Hasan di Kompas Juni 1968.Menurut Fuad Hassan, Rendra ingin
mendramatisasikan penghayatan konflik pada manusia di abad modern ini tanpa elaborasi
intelektual yang sadar; ia telah berhasil mengonstantir konflik yang khas dalam abad modern ini
yaitu individuasi versus massifikasi atau lebih mendesak lagi humanisasi versus dehumanisasi.
Kerja kesenimanan Rendra merupakan suatu “the human syndrome”-penurunan derajat atau
reduksi manusia oleh modernitasnya sendiri, perusakan kemanusiaan kita oleh teknologi,
kekerasan dan kebudayaan nihilisme. Akibat reduksi tersebut realitas hidup manusia menjadi
miskin dan tanpa makna. Pengalaman pribadi manusia gampang dinafikan, dinisbikan,
disepelekan dan dimanipulasi. Drama Mini Kata masih fasih berbicara untuk zaman kita
sekarang setelah dipentaskan 37 tahun yang lalu. Malah terlalu fasih.
Dan sejak itu membentang waktu selama 37 tahun – sampai Juni 2005- dengan mementaskan 23
buah naskah: asing/ adaptasi 14 naskah, naskah sendiri 7 buah dan naskah orang lain 1 buah
[ Sobrat karya Arthur S Nalan].
Ia telah berpentas di Sabang, Langsa [Aceh], di hampir semua kota besar di jawa, di Pontianak,
Samarinda, di Jepang, Malaysia, Korea Selatan dan di AS [ 1998] dengan membawa drama
Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Koran New York times memuat komentar D.J.Bruckner pada
24 Juni 1988. namun sayang Rendra tak pernah menginjakkan kaki di kota-kota Indonesia bagian
timur: Bali, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku dan Papua. Terdapat 172 orang yang menulis tentang
Rendra dan pementasan-pementasannya yang terkumpul dalam buku ini.

Informasi mengenai Perjuangan Suku ditelusuri dari berbagai web-site(red. Heliana Sinaga)