Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

TEKNIK REAKSI KIMIA


KATALIS HOMOGEN
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Teknik Reaksi Kimia

Disusun Oleh :
Kelompok I :
1.
2.
3.
4.

Bella Anggraini
Irda Agustina
Nola Dwiayu Adinda
Raden Ayu Wilda Anggraini

(061330400291)
(061330400301)
(061330400304)
(061330400309)

Kelas 3 KA
Dosen Pembimbing

: Dr. Ir. Rusdianasari, M. Si

Jurusan Teknik Kimia


Politeknik Negeri Sriwijaya
2014
Jalan Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139 Telpon : +620711353414
Fax: +62711355918 Web : http :// www.polsri.ac.id atau
http://www.polisriwijaya.ac.id Email : info@polsri.ac.id

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini
dengan sangat baik. Tak lupa kami selalu hanturkan salam dan shalawat kepada
baginda Rasulullah SAW beserta sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman
yang tak henti-hentinya membawa kebenaran agama Islam ke seluruh penjuru
dunia.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Ir. Hj. Rusdianasari,
M.Si. yang telah mempercayai kami untuk menyusun makalah ini dengan lancar
dan sangat baik . Serta kepada teman- teman sekalian yang berkat partisipasinya
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini kami susun dengan sangat sistematis sesuai sajian dengan
bahasan kami yaitu Katalis Homogen

. Kami mengulas tema makalah ini

dengan wawasan yang kami dapatkan dari berbagai buku dan sumber informasi
lainnya.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini masih banyak
kekurangan baik dari segi penulisan maupun keterbatasan sumber pengetahuan
kami. Kami telah berusaha untuk menyempurnakan penulisan makalah ini namun
sebagai manusia kami menyadari akan keterbatasan maupun kekhilafan dan
kesalahan yang tanpa disadari. Oleh karena itu, saran dan kritik untuk perbaikan
makalah ini akan sangat dinantikan. Akhir dari pengantar ini penulis berharap
semoga dari makalah ini kita dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Akhir kata kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dengan baik untuk
kehidupan kita dan kami ucapkan terimakasih.

Palembang, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................

ii

Daftar Isi.............................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................

.1

1.2 Rumusan Masalah..................................................................................... 1


1.3 Tujuan dan Manfaat....................................................................... .........

1.4 Metode Penulisan..................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Katalis
2.1.1 Pengertian Katalis.....................................................................

2.1.2 Pengaruh Katalis terhadap Energi Aktivasi..............................

2.1.3 Cara Kerja Katalis...................................................................

2.1.4 Parameter dalam Pemilihan Katalis........................................

2.1.5

Komponen Inti Katalis.........................................................

2.2 Jenis-jenis Katalis


2.1.1 Katalis Homogen....................................................................

2.1.2 Katalis Heterogen...................................................................

2.1.3 Biokatalis...............................................................................

2.3 Pengertian Katalis Homogen..........................................................

2.4 Kelebihan dan Kelemahan Katalis Homogen................................

2.5 Kinetika Reaksi Berkatalis Homogen..............................................

11

2.6 Mekanisme Katalis Homogen..........................................................

11

2.7 Katalis Asam Basa...........................................................................

12

2.8 Contoh Reaksi Menggunakan Katalis Homogen................................ 13


2.9 Penerapan Katalis Homogen............................................................... 17
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................

27

3.2 Saran.................................................................................................

27

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

28

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Katalis dapat menurunkan energi pengaktifan dengan menghindari
tahap penentu laju yang lambat dari reaksi yang tidak dapat dikatalisa.
Dengan menurunnya energi aktifasi maka pada temperatur yang sama
didapatkan laju reaksi dengan konstanta laju yang besar yang artinya
reaksi efektifnya dapat terjadi secara cepat. Katalis dapat digunakan dalam
pengaktifan reaksi

yang akan mempercepat

laju reaksi

dengan

menurunkan energi aktifasi. Jika energi pengaktifan reaksi tinggi, maka


untuk temperatur normal, hanya akan terjadi sebagian kecil pertemuan
molekul yang nantinya dapat menghasilkan reaksi yang efektif.
Fungsi utama dari katalis ini adalah menyediakan reaksi alternatif
dalam suatu reaksi kimia. Katalis memegang peranan penting dalam
perkembangan industri kimia. Dewasa ini, hampir semua produk industri
dihasilkan melalui proses yang memanfaatkan jasa katalis, baik satu atau
beberapa proses. Katalis tidak terbatas pada bagian proses konveksi,
bahkan juga untuk bagian proses pemisahan. Penggunaan katalis di
industri sekitar 50% (Levenspiel,1999). Katalis berdasarkan fase reaksinya
dapat digolongkan menjadi katalis homogen dan heterogen. Katalis
homogen adalah katalis yang sama fase dengan fase reaktan dan
produknya.

1.2

Ramusan Masalah
Atas dasar latar belakang tersebut, maka rumusan masalahnya
yaitu:
1.

Apa pengertian dari katalis?

2.

Apa saja jenis-jenis katalis?

1.3

3.

Apa itu katalis homogen dan bagaimanakah prinsip kerjanya?

4.

Bagaimana mekanisme reaksi dari katalis homogen?

5.

Apa contoh dari katalis homogen?

6.

Bagaimana peranan dari katalis homogen?

Tujuan dan Manfaat


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.

Memberikan informasi mengenai peranan katalis kimia.

2.

Memberitahukan kepada pembaca tentang jenis-jenis katalis kimia.

3.

Menginformasikan kepada pembaca tentang hubungan katalis dengan


energi aktivasi.

4.

Memberikan informasi mengenai katalis homogen.

5.

Memberikan informasi tentang mekanisme kerja katalis homogen


secara umum.

6.

Mengetahui contoh katalis homogen.

7.

Mengetahui peranan katalis homogen.

8.

Mengetahui keuntungan katalis homogen.

Selain dari tujuan di atas, terdapat pula manfaat dari penyusunan makalah,
yaitu sebagai berikut.

1.4

1.

Sebagai media pembelajaran dan latihan dalam penyusunan makalah.

2.

Sebagai bahan bacaan tambahan mengenai katalis homogen.

Metode Penulisan
Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini
yaitu metode studi pustaka, yang merupakan metode mengumpulkan,
menyaring, dan menyimpulkan suatu bahan bacaan dari berbagai buku dan
studi internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Katalis
2.1.1 Pengertian Katalis
Katalis merupakan suatu senyawa yang dapat meningkatkan laju
reaksi kimia tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri dengan cara memberikan jalur pilihan lain yang membutuhkan
energi aktivasi lebih rendah bila dibanding dengan energi aktivasi untuk
reaksi tanpa katalis (Whyman, 1994). Katalis ikut berperan dalam reaksi
tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk. Adanya katalis dapat
mempengaruhi faktor-faktor kinetik suatu reaksi seperti laju reaksi, energi
aktivasi, sifat dasar keadaan transisi dan lain-lain (Augustine, 1996).
Penambahan katalis akan mempengaruhi laju reaksi. Pada teori
tumbukan dan distribusi energi molekular Maxwell Boltzman pada gas,
tumbukan-tumbukan

menghasilkan

reaksi

jika

partikel-partikel

bertumbukan dengan energi yang cukup untuk memulai suatu reaksi.


Energi minimum yang diperlukan untuk memulai suatu reaksi tersebut
dinamakan energi aktifitas reaksi.

2.1.2 Pengaruh Katalis Terhadap Energi Aktivasi


Katalis mempercepat laju reaksi dengan menurunkan energi
aktivasi (Ea) yakni dengan membentu kompleks teraktifkan baru dengan
energi yang lebih rendah, sehingga mempercepat laju reaksi dengan tanpa
menimbulkan efek termodinamika reaksi keseluruhan.

Grafik Pengaruh Katalis Terhadap Energi Aktivasi


Energi aktivasi adalah energi kinetik minimum yang diperlukan
oleh partikel-partikel peraksi untuk membentuk kompleks teraktivasi.
Kaitan antara energi aktivasi dengan berlangsungnya suatu reaksi
dapat dianalogikan dengan proses mendorong mobil dari suatu tempat (A)
ke tempat lain (B) melalui jalan mendaki dan menurun. Perhatikan gambar
di bawah ini:

Proses mendorong mobil dari A ke B analog dengan terjadinya


proses tumbukan. Ketika mobil didorong sampai tanda X, kemudian si
pendorong tidak mampu lagi melakukan usahanya, maka mobil tersebut
turun lagi, tidak berhasil melewati puncak dan tidak sampai ke B. Hal ini
analog dengan peristiwa tumbukan yang memiliki energi kinetik kurang
dari Ea (tidak sampai puncak) sehingga tidak terbentuk kompleks
teraktivasi dan reaksipun tidak terjadi.

Agar mobil dapat sampai di B, mobil tersebut hatus didorong


minimum sampai di puncak sehingga untuk sampai di B tidak perlu
didorong lagi.

Dalam reaksi, agar dihasilkan produk maka pereaksi harus


memiliki energi minimum untuk membentuk kompleks teraktivasi terlebih
dahulu sebelum membentuk hasil reaksi. Energi tersebut yang dinamakan
dengan energi aktivasi.

2.1.3

Cara Kerja Katalis


Syarat berlangsungnya reaksi:

(1) Terjadi kontak (tumbukan) dengan orientasi yang tepat, dan


(2) disertai dengan energi yang cukup (melebihi energi aktivasi reaksi).
Dengan adanya katalis, kedua syarat di atas dapat terkomodasi dengan
baik. Katalis dapat mengantarkan reaktan melalui jalan baru yang lebih
mudah untuk berubah menjadi produk. Jalan baru yang dimaksud yaitu
jalan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Keberadaan katalis juga
dapat meningkatkan jumlah tumbukan dengan orientasi yang tepat. Hal itu
disebabkan molekul-molekul reaktan akan teradsorp pada permukaan aktif
katalis sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan antar molekul-molekul
reaktan akan semakin besar. Selain itu, ketepatan orientasi tumbukan pun
akan semakin meningkat.

2.1.4

Parameter dalam Pemilihan Katalis


Katalis dapat dinilai baik-buruknya berdasarkan pada beberapa

parameter sebagai berikut:


Aktivitas, yaitu kemampuan katalis untuk mengkonversi reaktan
menjadi produk yang diinginkan.
Selektivitas, yaitu kemampuan katalis mempercepat suatu reaksi
diantara beberapa reaksi yang terjadi sehingga produk yang diinginkan
dapat diperoleh dengan produk sampingan seminimal mungkin.
Kestabilan, yaitu lamanya katalis memiliki aktivitas dan selektivitas
seperti pada keadaan semula.
Hasil (yield), yaitu jumlah produk tertentu yang terbentuk untuk
setiap satuan reaktan yang terkonsumsi.
Kemudahan diregenerasi, yaitu proses mengembalikan aktivitas dan
selektivitas katalis seperti semula.

2.1.5

Komponen inti katalis


Berdasarkan tingkat kepentinganya, komponen inti katalis dapat

dibedakan menjadi tiga bagian diataranya:


1.

Selektifitas adalah kemampuan katalis untuk memberikan produk

reaksi yang diinginkan (dalam jumlah tinggi) dari sejumlah produk yang
mungkin dihasilkan.
2.

Aktifitas adalah kemampuan katalis untuk mengubah bahan baku

menjadi produk yang diinginkan.


3.

Stabilitas adalah sebuah katalis untuk menjaga aktifitas,

produktifitas dan selektifitas dalam jangka waktu tertentu.

2.2

Jenis - jenis Katalis


Secara umum katalis dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu katalis
homogen, heterogen dan biokatalisis (katalis enzim).

2.2.1 Katalis Homogen


Katalis homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa sama
dengan reaktan dan produk. Penggunaan katalis homogen ini mempunyai
kelemahan yaitu: mencemari lingkungan dan tidak dapat digunakan
kembali. Selain itu katalis homogen juga umumnya hanya digunakan pada
skala laboratorium ataupun industri bahan kimia tertentu, sulit dilakukan
secara komersil, operasi pada fase cair dibatasi pada kondisi suhu dan
tekanan, sehingga peralatan lebih kompleks dan diperlukan pemisahan
antara produk dan katalis.Contoh dari katalis homogen yang biasanya
banyak digunakan dalam produksi biodiesel, seperti basa (NaOH, KOH),
asam (HCl, H2SO4)
2.2.2 Katalis Heterogen
Katalis heterogen merupakan katalis yang fasanya tidak sama
dengan reaktan dan produk. Katalis heterogen secara umum berbentuk
padat dan banyak digunakan pada reaktan berwujud cair atau gas. Contohcontoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO, MgO, dan resin penukar
ion. Mekanisme katalis heterogen melalui lima langkah, yaitu: Transport
reaktan ke katalis, interaksi reaktan-raktan dengan katalis (adsorpsi), reaksi
dari spesi-spesi yang teradsorpsi menghasilkan prodduk-produk reaksi,
deadsorpsi produk dari katalis, transport produk menjauhi katalis.
Keuntungan dari katalis heterogen adalah ramah lingkungan, tidak bersifat
korosif, mudah dipisahkan dari produk dengan cara filtrasi, serta dapat
digunakan berulangkali dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, katalis
heterogen meningkatkan kemurnian hasil karena reaksi samping dapat
dieliminasi. Contoh-contoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO,
MgO, dan resin penukar ion.

Katalis Homogen

Katalis Heterogen

Fasa cair atau gas

Fasa padat

Setiap molekul katalis aktif

Memiliki pusat aktif yang

sebagai katalis

tidak seragam

Tidak mudah teracuni oleh

Mudah teracuni oleh

adanya sedikit kotoran

adanya sedikit kotoran

Mudah terurai pada

Stabil pada

temperatur tinggi

temperatur tinggi

Sukar dipisahkan dari

Mudah dipisahkan dari

campuran reaksi

campuran reaksi

Tabel 1. Perbedaan Katalis Homogen dan Katalis Heterogen.


2.2.3 Biokatalis
Biokatalis adalah katalis yang memiliki keunggulan sifat (aktivitas
tinggi, selektivitas dan spesifitas) sehingga dapat dapat membantu proses
proses kimia kompleks pada kondisi lunak dan ramah lingkungan.
Kelemahannya antara lain sangat mahal, sering tidak stabil, mudah
terhambat, tidak dapat diperoleh kembali setelah dipakai. Salah satu
Biokatalis yang telah dilaporkan penggunaanya adalah Enzim lipase
(Triacylglycerol Acllydrolases). Enzim lipase atau enzim pemecah lemak
dipakai dalam reaksi pembuatan biodiesel. Enzim itu dapat mengatalisis,
menghidrolisis, serta mensintesis bentuk ester dari gliserol dan asam
lemak rantai panjang seperti halnya minyak goreng dan jelantah.
Pemilihan katalis atau pengembangan katalis perlu dipertimbangkan untuk

mendapatkan efektivitas dalam pemakaian. Dalam pengembanganya


katalis cair dapat digantikan dengan katalis padat seperti asam padat
seperti zeolit, clay, dan lain-lain. Keuntungannya adalah dapat di recovery,
recycle, dan digantikan kembali. Selain itu, Zeolit juga dapat digunakan
sebagai katalis heterogen untuk pembuatan biodiesel.

2.3

Pengertian Katalis Homogen


Katalis homogen adalah senyawa yang memiliki fase sama dengan
reaktan ketika reaksi kimia berlangsung. Sebenarnya banyak sekali
penggunaan

katalis

homogen

dalam

industri,

mulai

dari

yang

konvensional, murah meriah semacam katalis asam atau basa hingga


senyawa-senyawa organometalik yang mahal. Selektifitas hasil reaksi dan
kondisi reaksi yang lembut adalah pertimbangan utama pemilihan katalis
homogen.
Contoh katalis homogen:
Reaksi berkatalis homogen, fase gas
CO (g) + O2 (g) CO2 (g) katalis: NO (g)
CH3CHO (g) CH4 (g) + CO (g) katalis: uap I2
Reaksi berkatalis homogen, fase cair
C12H22O11 + H2O C6H12O6 + C6H12O6 katalis: asam
CH3COOC2H5 + H2O CH3COOH + C2H5OH katalis: asam
Proses katalitik pada reaksi berkatalis homogen berlangsung melalui
pembentukan senyawa kompleks dan penyusunan ulang antara molekulmolekul reaktan dengan ligan katalis.

2.4

Kelebihan dan Kelemahan Katalis Homogen


Kelebihan dari katalis homogen yaitu mudah dikarakterisasi,
misalnya secara spektroskopi, mekanisme reaksi dapat dibuat untuk
memprediksi reaksi. Selain itu, katalis mudah terdispersi secara efektif
sehingga semua molekul katalis dapat berinteraksi dengan reaktan.

Penggunaan

katalis

homogen

ini

mempunyai

kelemahan

yaitu:mencemari lingkungan, dan tidak dapat digunakan kembali. Selain


itu katalis homogen juga umumnya hanya digunakan pada skala
laboratorium ataupun industri bahan kimia tertentu, sulit dilakukan secara
komersil, oprasi pada fase cair dibatasi pada kondisi suhu dan tekanan,
sehingga peralatan lebih kompleks dan diperlukan pemisahan antara
produk dan katalis. Contoh dari katalis homogen yang biasanya banyak
digunakan dalam produksi biodiesel, seperti basa (NaOH, KOH), asam
(HCl, H2SO4).
Di industri kimia, masalah terutama berkaitan dengan pemisahan
(separation), daur ulang (recycle), usia (life time), dan deaktifasi katalis
merupakan isu-isu penting.
Problem pemisahan katalis dari zat pereaksi maupun produk lebih
sering ditemui pada sistem katalis homogen. Karena katalis homogen larut
dalam campuran, pemisahan tidak cukup dilakukan dengan penyaringan
atau dekantasi. Teknik yang umum digunakan adalah destilasi atau
ekstraksi produk dari campuran, misalnya katalis asam-basa pada reaksi
esterifikasi biodiesel dipisahkan dengan ekstraksi untuk kemudian
campuran sisa reaktan-katalis yang tertinggal dialirkan lagi menuju bejana
reaksi. Namun demikian, ada beberapa katalis istimewa dari senyawa
komplek logam yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa terpisah atau
mengendap setelah reaksi tuntas. Kasus pemisahan untuk katalis heterogen
lebih mudah ditanggulangi karena sudah terpisah dengan sendirinya tanpa
membutuhkan usaha lain.
Daur ulang dan usia katalis memiliki kaitan. Selama bisa
dipisahkan, katalis homogen boleh dikatakan tetap aktif dan memiliki usia
yang sangat panjang bahkan nyaris tak terhingga dan bisa digunakan
berulang-ulang. Nyawa katalis homogen mungkin tamat jika mengalami
deaktifasi akibat teracuni atau perubahan struktur akibat proses ektrim.

2.5

Kinetika Reaksi Berkatalis Homogen


Proses katalitik pada reaksi berkatalis homogen berlangsung
melalui tahap-tahap:
1. Tahap pembentukan senyawa kompleks / intermediates (tahap
koordinasi)
2. Tahap penyusunan ulang antara molekul-molekul reaktan dengan ligan
katalis (tahapinteraksi ligan), dan
3. Tahap eliminasi produk reaksi
Penentuan

persamaan

kinetika

reaksi

berkatalis

homogen,

berdasarkan mekanismenya, dilakukan dengan cara yang sama (analog)


dengan kinetika reaksi homogen (yang sudah dipelajari dalam materi
perkuliahan sebelumnya), dengan berbantuankan hubungan pendekatan
neraca massa katalis.

2.6

Mekanisme Katalis Homogen


Katalis ini mempunyai kesamaan phase dengan reaktan dan
persentuhannnya tak mempengaruhi laju reaksi, keaddaan yang demikian
disebut katalis homogen. Sebagai contoh :
Reaksi phase gas
CO + O2 CO2
Dengan adanya katalis NO2 maka prosesnya menjadi
CO + NO2
NO + O2

CO2 + NO
NO2

----------------------------------------------CO2 + O2

CO2

Iodin uap juga dikenal sebagai katalis sejumlah reaksi pirolisis zat
organik, dekomposisi asetaldehid sebagai reaksi berantai dengan proses
sebagai berikut :
k1
I2 == 2 Ik2
k3
I- + CH3CHO CH3CO - + HI
k4
CH3CO- CH3 +

CO

k5
I2 + CH3 CH3I + Ik6
HI + CH3 CH4 - + Ik7
HI + CH3I CH4 - + I2
Sehingga diperoleh laju reaksi dengan pendekatan steady state dari
intermediet adalah
- d(CH3CHO)/dt = k [I2]1/2[CH3CHO]

2.7

Katalis Asam dan Basa


Katalisis asam-basa, percepatan reaksi kimia dengan penambahan
asam atau basa, asam atau basa itu sendiri tidak dikonsumsi dalam reaksi.
Reaksi katalitik mungkin asam-spesifik (katalis asam), seperti dalam kasus
penguraian sukrosa gula menjadi glukosa dan fruktosa dalam asam sulfat;
atau basa-spesifik (base katalisis), seperti dalam penambahan hidrogen
sianida untuk aldehid dan keton dengan adanya natrium hidroksida.
Banyak reaksi yang dikatalisasi oleh asam dan basa.

Mekanisme reaksi asam dan basa-katalis dijelaskan dalam hal


konsep Brnsted-Lowry asam dan basa sebagai salah satu di mana ada
transfer awal proton dari katalis asam untuk reaktan atau dari reaktan ke
katalis dasar . Dalam hal teori Lewis asam dan basa, reaksi saling berbagi
pasangan elektron yang disumbangkan oleh katalis basa atau diterima oleh
suatu katalis asam.
Katalisis asam digunakan dalam sejumlah besar reaksi industri, di
antaranya konversi hidrokarbon minyak bumi untuk bensin dan produkproduk terkait. Reaksi tersebut meliputi dekomposisi hidrokarbon dengan
berat molekul tinggi (cracking) menggunakan katalis alumina-silika (asam
Brnsted-Lowry), polimerisasi hidrokarbon tak jenuh menggunakan asam
sulfat atau hidrogen fluorida (asam Brnsted-Lowry), dan isomerisasi
hidrokarbon alifatik menggunakan aluminium klorida (asam Lewis).
Di antara aplikasi industri reaksi basa-dikatalisis adalah reaksi
diisosianat dengan alkohol polifungsional dengan adanya amina, yang
digunakan dalam pembuatan busa poliuretan.

2.8

Contoh Reaksi Menggunakan Katalis Homogen


1.

Penguraian H2O2 oleh kalium natrium tartrat, dengan katalis

larutan CoCl2
Pada reaksi H2O2 dengan kalium natrium tartrat, mula-mula
gelembung gas O2 tidak kelihatan, tetapi setelah ditetesi larutan kobalt(II)
klorida yang berwarna merah muda, gelembung gas O2 timbul dengan
jumlah yang banyak Pada reaksi tersebut, larutan kobalt(II) klorida
bertindak sebagai katalis. Kobalt(II) klorida turut bereaksi, tetapi pada
akhir reaksi zat itu terbentuk kembali. Hal ini dapat terlihat pada
perubahan warna larutan kobalt(II) klorida dari merah muda menjadi
kuning, kemudian hijau, dan akhirnya kembali merah muda. Berdasarkan
percobaan ini maka dapat disimpulkan katalis adalah zat yang dapat
mempercepat suatu reaksi tanpa ikut bereaksi.

2.

Reaksi antara ion persulfat dan ion iodida


Ion besi sebagai katalis pada reaksi antara ion persulfat dan ion

iodide. Reaksi antara ion persulfat (ion peroxodisulfat), S2O82-, dan ion
iodida dalam larutan dapat dikatalisis dengan ion besi(II) maupun ion
besi(III).
Ion persulfat (peroxodisulfate ion), S2O82-, merupakan agen
pengoksidasi yang sangat kuat. Ion iodida sangat mudah dioksidasi
menjadi iodin. Namun reaksi antara keduanya dalam larutan air sangat
lambat.
Jika melihat persamaan, mudah untuk melihat mengapa perlu ditambah
katalis :

Reaksi berupa tabrakan antara dua ion negatif. Tolakan antara dua
ion negatif membuat reaksi berlangsung lambat. Reaksi dikatalisis untuk
menghindari masalah tersebut. Katalis dapat berupa besi (II) atau besi (III)
ion yang ditambahkan ke dalam larutan yang sama. Ini adalah contoh yang
baik dari penggunaan senyawa logam transisi sebagai katalis karena
kemampuan mereka untuk mengubah tingkat oksidasi.
Ion-ion persulfat mengoksidasi besi (II) ion besi (III) ion. Dalam
proses ini ion persulfat direduksi menjadi ion sulfat.

Besi (III) ion adalah agen cukup pengoksidasi kuat untuk mengoksidasi
ion iodida menjadi iodin. Dalam prosesnya, akan kembali menjadi besi (II)
ion lagi.

Kedua tahap individu dalam keseluruhan reaksi melibatkan tumbukan


antara ion positif dan negatif. Ini akan jauh lebih mungkin untuk menjadi
sukses daripada tabrakan antara dua ion negatif dalam reaksi esterifikasi
tanpa katalis.

Apa yang terjadi jika Anda menggunakan besi ion (III) sebagai katalis
bukan besi (II) ion? Reaksi hanya terjadi dalam urutan yang berbeda.
Untuk penjelasannya, kita akan mengunakan katalis besi(II). Reaksi terjadi
dalam dua tahap.
Jika kamu menggunakan ion besi(III), reaksi kedua yang terjadi
diatas akan menjadi reaksi yang pertama.
Besi merupakan sebuah contoh yang baik dalam hal penggunaan
senyawa logam transisi sebagai katalis karena kemampuan senyawa logam
transisi tersebut untuk mengubah tingkat oksidasi.

3.

Reaksi Esterifikasi
Esterifikasi adalah reaksi pengubahan dari suatu asam karboksilat

dan alkohol menjadi suatu ester dengan menggunakan katalis asam. Reaksi
ini juga sering disebut esterifikasi Fischer. Ester adalah suatu senyawa
yang mengandung gugus -COOR dengan R dapat berbentuk alkil maupun
aril. Suatu ester dapat dibentuk dengan reaksi esterifikasi berkatalis asam.
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi dapat balik (reversible).
Mekanisme reaksi esterifikasi merupakan reaksi substitusi asil
nukleofil dengan katalisator asam. Gugus karbonil dari asam kaboksilat
tidak cukup kuat sebagai elektrofil untuk diserang olah alkohol.
Katalisator asam akan memprotonasi gugus karbonil dan mengaktivasinya
ke arah penyerangan nukleofil. Pelepasan proton akan menghasilkan hidrat
dari ester, kemudian terjadi transfer proton.
Reaksi

transesterifikasi

pada

dasarnya

merupakan

reaksi

esterifikasi dengan mengganti alkohol R'-OH dengan jenis alkohol lain R"OH. Reaksi dapat berlangsung dengan adanya asam mineral seperti
H2SO4atau HCl. Reaksi Transesterifikasi merupakan reaksi dapat balik
hingga

alkohol

R"-OH

harus

dalam

keadaan

memaksimalkan prouk R-COOR".


Mekanisme esterifikasi dengan katalis asam

berlebihan

untuk

Tahap pertama adalah katalis asam. Pada tahap pertama, gugus karbonil
pada asam diprotonasi. Sebagaimana halnya dengan aldehida dan keton,
protonasi menikan muatan positif pada atom karbonil dan menjadikannya
sasaran baik bagi serangan nukleofil. Tahap kedua sangat menentukan,
tahap ini melibatkan adisi nukleofil yaitu alkohol pada asam yang telah
diprotonas. Pada tahap ini ikatan C-O yang baru (ikatan ester) terbentuk.
Tahap 3 dn 4 adalah tahap kesetimbangan dimana oksigen-oksigen
melepaskan atau mendapatkan proton. Kesetimbangan ini sifatnya bolakbalik, sangat cepat, dan terus berlangsung dalam suasana asam. Pada tahap
4 salah satu gugus hidroksil harus diprotonasi, karena kedua gugus
hidroksilnya identik. Tahap 5 melibatkan pemutusan ikatan C-O dan
lepasnya air. Tahap ini adalah kebalikan tahap 2. agar peristiwa ini dapat
terjadi, ggus hidroksil harus diprotonasi agar kemampuannya sebagai
gugus bebas/lepas lebih baik. Akhirnya pada tahap 6, ester yang berproton
melepaskan protonnya. Tahap ini adalah kebalikan tahap 1.
Pada reaksi esterifikasi ini, biasanya digunakan katalis H2SO4.
Katalis H2SO4 dalam reaksi esterifikasi adalah katalisator positif karena
berfungsi untuk mempercepat reaksi esterifikasi yang berjalan lambat.
H2SO4 juga merupakan katalisator homogen karena membentuk satu fase
dengan pereaksi (fase cair).
Pemilihan penggunaan asam sulfat (H2SO4) sebagai katalisator
dalam reaksi esterifikasi dikarenakan beberapa faktor, diantaranya :
Menurut Anonim (2007)
1. Asam sulfat selain bersifat asam juga merupakan agen pengoksidasi
yang kuat
2. Asam sulfat dapat larut dalam air pada semua kepekatan
3. Reaksi antara asam sulfat dengan air adalah reaksi eksoterm yang kuat
4. Jika air ditambahkan asam sulfat pekat maka ia mampu mendidih
5. Karena

afinitasnya

terhadap

air,

maka

asam

sulfat

dapat

menghilangkan bagian terbesar uap air dan gas yang basah, seperti
udara lembab

Menurut Sukardjo, drs (1984)


6. Konsentrasi ion H+ berpengaruh terhadap kecepatan reaksi
7. Asam sulfat pekat mampu mengikat air (higroskopis), jadi untuk reaksi
setimbang yang menghasilkan air dapat menggeser arah reaksi ke
kanan (ke arah produk)
Dari faktor-faktor di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa
penambahan asam sulfat sebagai katalis untuk mempercepat kecepatan
reaksi karena reaksi antara asam sulfat dengan air (proses esterifikasi
menghasilkan etil asetat dan air) adalah reaksi eksoterm yang kuat. Air
yang ditambahkan asam sulfat pekat akan mampu mendidih, sehingga
suhu reaksinya akan tinggi. Makin tinggi suhu reaksi, makin banyak
molekul yang memiliki tenaga lebih besar atau sama dengan tenaga
aktivasi, hingga makin cepat reaksinya. Katalis akan menyediakan rute
agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi yang lebih rendah sehingga
nilai konstanta kecepatan reaksi (k) akan semakin besar, sehingga
kecepatan reaksinya juga semakin besar. Selain itu, karena asam sulfat
pekat mampu mengikat air (higroskopis), maka untuk reaksi esterifikasi
setimbang yang menghasilkan air, asam sulfat pekat dapat menggeser arah
reaksi ke kanan (ke arah produk), sehingga produk yang dihasilkan
menjadi lebih banyak.

2.9

Penerapan Katalis Homogen


1.

Biodiesel
Biodiesel saat ini diproduksi melalui transesterifikasi trigliserida

dengan alkohol seperti metanol. Transesterifikasi trigliserida terdiri dari


tiga berurutan, reaksi reversibel dimana trigliserida bereaksi membentuk
digliserida, monogliserida dan gliserol. Di samping catatan, penting bagi
seseorang untuk mengetahui kandungan trigliserida dari minyak saat
membeli.
Pengolahan biodiesel tradisional terdiri dari dua kategori besar:
esterifikasi (atau variasi dari itu seperti glycerolysis, enzimatik atau

katalisis padat sementara) dan transesterifikasi. Proses esterifikasi


tradisional menggunakan metanol dengan katalis asam homogen seperti
asam sulfat untuk mengubah asam lemak bebas (FFA) menjadi ester.
Transesterifikasi tradisional menggunakan basis katalis homogen seperti
natrium atau kalium metilat methylate bersama dengan metanol untuk
mengkonversi ke trigliserida menjadi biodiesel dan gliserin.
Titik diskusi untuk artikel ini adalah tradisional katalis homogen
seperti asam sulfat, dan natrium atau kalium metilat, dan kelemahan
mereka sebagai berlaku untuk bahan FFA variabel dalam lingkungan
multifeedstock.
Dalam FFA sangat rendah (kurang dari 1 persen) lingkungan bahan
baku, katalis seperti natrium atau kalium metilat masuk akal yang baik,
tetapi dalam lingkungan FFA tinggi, seseorang mulai mengalami berbagai
masalah dengan katalis ini.
Katalis
Katalis adalah zat kimia yang membantu mempercepat proses
kimia tanpa benar-benar berpartisipasi di dalamnya. Bagaimana katalis
homogen seperti asam sulfat atau natrium methylate berbeda dalam hal ini
juga merupakan bagian penting dari diskusi.
Ada dua jenis katalis yang khas untuk setiap proses biodiesel:
homogen dan heterogen. Katalis homogen berfungsi dalam fase yang sama
(cair, gas, dll) sebagai reaktan. Biasanya, katalis homogen dilarutkan
dalam pelarut dengan substrat. Katalisis heterogen adalah kebalikan dari
katalisis homogen, yang berarti terjadi dalam fase berbeda dari reaktan.
Kebanyakan katalis heterogen adalah padatan yang bekerja pada substrat
dalam campuran reaksi cair atau gas. Mekanisme yang beragam untuk
reaksi pada permukaan diketahui, tergantung pada bagaimana adsorpsi
berlangsung. Total luas permukaan padat memiliki penting mempengaruhi
laju reaksi; semakin kecil ukuran partikel katalis, semakin besar luas
permukaan untuk suatu massa partikel.

Katalis homogen untuk produksi biodiesel telah ada selama


beberapa waktu, tetapi katalis heterogen merupakan perkembangan yang
cukup baru di ranah produksi biodiesel.
Biasanya asam sulfat digunakan sebagai katalis asam homogen
untuk esterifikasi FFA. Kadang-kadang meskipun, asam klorida juga
digunakan.

Reaksi
Ester dapat bereaksi dengan alkohol lain. Dalam hal ini, alkohol
baru berasal dari ester asli terbentuk, dan ester baru berasal dari alkohol
asli. Dengan demikian, etil ester dapat bereaksi dengan metanol untuk
membentuk ester metil dan etanol. Proses ini disebut transesterifikasi.
Transesterifikasi sangat penting untuk biodiesel. Biodiesel seperti
yang didefinisikan saat ini diperoleh dengan mentransesterifikasi
trigliserida dengan metanol. Methanol adalah alkohol pilihan untuk
mendapatkan biodiesel karena itu adalah yang termurah, dan paling
tersedia, alkohol. Untuk reaksi terjadi dalam waktu yang wajar, namun,
katalis harus ditambahkan ke dalam campuran minyak dan metanol. Sering
hadir dalam jumlah kecil, katalis mempercepat kecepatan reaksi dan,
dalam banyak kasus, hampir tidak ada reaksi akan terjadi tanpa satu.
Katalis yang digunakan untuk melaksanakan transesterifikasi
biasanya natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH) atau
natrium methylate (SMO). Senyawa ini termasuk ke dalam kelas bahan
yang dikenal sebagai basis dan juga merupakan senyawa anorganik, sering
digunakan dalam kimia organik untuk melaksanakan atau katalisator
reaksi. Basa lainnya juga cocok untuk reaksi transesterifikasi. Rekan-rekan
dari basis yang dikenal sebagai asam. Banyak asam juga dapat digunakan
sebagai katalis untuk transesterifikasi. Namun, reaksi dasar-katalis
memiliki kelebihan seperti laju reaksi yang lebih tinggi.

Sebuah asam lemak dan basa bereaksi membentuk senyawa baru,


yang disebut sabun dan air. Senyawa seperti sabun, di mana hidrogen
(proton) dari asam telah diganti dengan ion logam, sering disebut garam.
Alasan bahwa senyawa tersebut ada adalah bahwa bahan-bahan
seperti NaOH atau KOH dapat membagi terpisah, atau memisahkan,
dengan cara yang memberikan Na + dan OH- (atau K + dan OH-) di mana
proton dan elektron yang tidak merata, menyebabkan partikel bermuatan.
Dengan demikian, memiliki muatan yang sama, Na + atau K + dapat
menggantikan H + di sini.
Proses
Katalis homogen yang paling umum digunakan dalam produksi
biodiesel adalah asam sulfat selama esterifikasi dan sodium metilat selama
transesterifikasi. Pengolahan biodiesel khas yang melibatkan minyak FFA
tinggi terdiri dari dua langkah, esterifikasi dan transesterifikasi. Selama
esterifikasi, jumlah yang telah ditentukan asam sulfat berdasarkan isi FFA
minyak yang sedang diproses, ditambahkan ke minyak dengan FFA tinggi
dan metanol. Ada berbagai cara pengolahan esterifikasi, pada tekanan
atmosfer dan 65 derajat Celcius sampai 70, atau di bawah tekanan tinggi
dan suhu tinggi, dll .. sampingan penting dari proses esterifikasi adalah air,
yang mencairkan katalis sehingga menghambat dalam proses esterifikasi.
Salah satu poin yang perlu diperhatikan di sini adalah
transesterifikasi juga terjadi dengan adanya asam sulfat terpisah dari
esterifikasi. Percobaan diulangi oleh berbagai peneliti menunjukkan
mayoritas transesterifikasi akan terjadi pada saat esterifikasi telah
mencapai keseimbangannya.
Setelah mengurangi FFA dari minyak melalui proses esterifikasi
menjadi kurang dari 1 persen, minyak masuk ke tahap transesterifikasi.
Hal lain yang menarik di sini adalah bahwa beberapa teknologi sarankan
pergi langsung ke transesterifikasi jika konten bahan baku FFA kurang
dari 4 persen. Kelemahan ini, bagaimanapun, adalah bahwa akan ada
penggunaan lebih banyak katalis. Hal ini juga mengakibatkan hilangnya

produk besar karena pembentukan sabun. Biaya proses yang lebih tinggi
juga mungkin, karena masalah jumlah asam yang perlu diperbaiki
sehingga bahan bakar dapat memenuhi spesifikasi ASTM D6751.
Selama transesterifikasi, setelah dihitung jumlah katalis (SMO) dan
jumlah yang diperlukan metanol tertutup ke dalam reaktor, proses tidak
akan mengubah apakah menggunakan batch atau kontinyu, suhu
dipertahankan sekitar 65 derajat Celcius. Tendangan reaksi dimulai.
Pada saat yang sama ketika trigliserida dikonversi ke digliserida
dan monogliserida, para FFA akan dikonversi ke sabun. Semakin tinggi
kandungan FFA adalah ketika memulai, produksi lebih besar dari sabun
akan ada. Hampir 90 persen dari sabun masuk ke fase gliserin dalam
proses penyelesaian atau pemusingan. Bertentangan dengan beberapa
klaim di luar sana, untuk sepenuhnya menghilangkan sabun sebelum
mencuci air atau kering mencuci langkah hampir mustahil.
Ada juga beberapa katalis homogen sisa yang tersisa dari proses
biodiesel, yang harus dihapus dalam tahap cuci juga.

4.

Kerusakan Lapisan Ozon Akibat Katalis Radikal Bebas Cl


CFC merupakan zat kimia yang mengandung unsur klor, fluor dan

carbon yang biasa digunakan sebagai refrigant dan propelant. CFC


memiliki nama dagang freon. Senyawa CFC, terutama Freon 11 (CFCl3)
dan Freon 12 (CF2Cl2) banyak digunakan sebagai pelarut dalam bidang
industri, pembersih dalam alat elektronik, refrigerant pada kulkas dan AC,
serta zat propelant pada kosmetika dan alat semprot aerosol. Senyawa CFC
pada mulanya dianggap zat kimia yang ideal, karena tidak mudah bereaksi
dan tidak beracun. Ironisnya, justru karena sifatnya itu CFC mampu
terbang ke lapisan stratosfer dan merusak ozon. Pada tahun 1974 untuk
pertama kalinya Rowland dan Molina menemukan teori bahwa senyawa
klor dapat merusak ozon (O3).
Pada tahun 1985, untuk pertama kalinya ditemukan penipisan
lapisan ozon di antartika. Bila lapisan ozon rusak, maka sinar UV lebih

banyak sampai ke bumi yang dapat mengakibatkan dampak yang


merugikan bagi makhluk hidup.
CFC yang digunakan pada refrigerant pada AC, kulkas dan alatalat pendingin lainnya yang digunakan adalah CFC-12/CFC-502/CFC-11.
Aktivitas yang dapat menimbulkan emisi CFC ke udara adalah pada saat
dilakukannya perbaikan dan pemeliharaan alat-alat pendingin. Karena
biasanya pada saat perbaikan, terjadi pengisian CFC. Pada saat pengisian
ini biasanya ada sebagian CFC teremisi ke udara. CFC juga dapat teremisi
pada saat terjadi kebocoran pada alat pendingin tersebut. Aerosol adalah
campuran zat-zat yang berada dalam fasa cair dan gas. Produ-produknya
banyak ditemukan pada produk kosmetik (parfum, bodyspray, deodorant,
hairspray, dll). Fungsi CFC dalam produk aerosol adalah sebagai bahan
pendorong (propelant). Penggunaan CFC pada produk aerosol disukai
karena

tidak

beracun,tidak

korosif

dan

tidak

mudah

terbakar.

CFC merupakn senyawa yang stabil, sukar bereaksi, namun karena sifat itu
CFC yang teremisi ke udara dapat naik dengan bebas ke stratosfer dan
merusak lapisan ozon. Ozon bereaksi dengan senyawa klor seperti CFCl3
(pada aerosol), CF2Cl2 (pada pendingin), dll. Bereaksinya gas ozon
dengan senyawa klor hasil aktivitas manusia ini dapat menipiskan, bahkan
menghabiskan ozon dalam lapisan stratosfer. Sinar matahari menguraikan
senyawa-senywa klor menjadi atom klor yang akan bertindak sebagai
katalis atau mempercepat reaksi dalam reaksi penguraian ozon.
Cl- dapat menjadi katals dan siap bereaksi dengan O3 yang lain. Satu atom
klor dapat bereaksi dengan 10.000 sampai 100.000 molekul ozon. Katalis
mempercepat reaksi, reaksi kimia dengan batntuan katalisator berakibat
bahwa perusakan ozon (O3) berjalan lebih cepat dibandingkan dengan
pembentukannya. Karena proses pembentukannya dan perusakan molekulmolekul ozon di stratosfer tidak lagi seimbang maka lebih banyak
molekul-molekul ozon yang rusak daripada molekul-molekul ozon yang
terbentuk dalam waktu tertentu. Hal ini berakibat bahwa konsentrasi ozon
di stratosfer menjadi berkurang sehingga lapisan ozon menipis dan

terbentuk lubang-lubang ozon. Kerusakan ozon ini snagat berbahaya bagi


makhluk hidup diantaranya menyebabkan penurunan kekebalan tubuh,
kanker kulit dan katarak, karena ozon dapat menyerap sinar UV. UV
dalam jumlah kecil dibutuhkan dalam tubuh untuk pembentukan vitamin
D. Tetapi akibat makin banyaknya UV yang masuk dapat mengakibatkan
kanker kulit, katarak, dan menurunkan kekebalan tubuh. Pemanasan global
disebabkan karena fitoplankton mengambil CO2 yang banyak dari udara
untuk fotosintesis, tapi karena UV meningkat, menyebabkan CO2 banyak
yang tidak terserap sehingga menimbulkan pemanasan global.

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
1. Katalis homogen adalah senyawa yang memiliki fase sama dengan
reaktan ketika reaksi kimia berlangsung
2. Contoh Katalis Homogen :
a. Penguraian H2O2 oleh kalium natrium tartrat, dengan katalis
larutan CoCl2
b. Reaksi antara ion persulfat dan ion iodida
c. Reaksi esterifikasi
3. Penerapan Katalis Homogen
a. Biodiesel
b. Kerusakan Lapisan Ozon

3.2

Saran
1. Penulis berharap para pembaca makalah ini dapat mempelajari lebih
lanjut mengenai katalis homogen pada sumber-sumber lain
2. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan
penulisan makalah dikemudian hari

DAFTAR PUSTAKA

Rusdianasari,

dan

Indah

Purnamasari.2014.Teknik

Reaksi

Kimia.Palembang:Politeknik Negeri Sriwijaya


http://thofanaradikaonline1.blogspot.com/ (online, diakses tanggal 26
Oktober 2014)
http://serbamurni.blogspot.com/2012/05/jenis-katalis.html (online, dikases
tanggal 25 Oktober 2014)
http://matainginbicara.wordpress.com/2009/06/29/ringkasan-katalis-dankatalisis/ (online, diakses tanggal 26 Oktober 2014)
www.chemguide.co.uk/physical/catalysis/introduction.html

(online,

diakses tanggal 24 Oktober 2014 )


https://dyahernawati.wordpress.com/2013/12/27/katalis-homogen-dankatalis-asam-basa/ (online, diakses tanggal 26 Oktober 2014)
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/3715/acid-base-catalysis
(online, diakses tanggal 26 Oktober 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Esterifikasi

(online,

diakses

tanggal

Oktober 2014)
http://letshare17.blogspot.com/2010/10/penggunaan-katalis-h2so4pada.html (online, diakses tanggal 26 Oktober 2014)

26