Anda di halaman 1dari 23

BAB III

MEKANIKA BATUAN FORMASI

3.1. Pendahuluan
Mekanika Batuan merupakan ilmu pengetahuan yang secara teori maupun
pada prakteknya membahas tentang perilaku mekanis batuan termasuk di
dalamnya membahas tentang berbagai metoda perancangan perilaku batuan yang
sesuai dengan disiplin ilmu teknik yang diperlukan.
Sebagian besar batuan diklasifikasikan sebagai material rapuh (brittle)
yakni material yang dapat hancur bila diberi suatu beban yang melebihi daya
tahan material tersebut. Penghancuran suatu batuan tidak melalui tahap aliran
plastis (plastic flow) seperti halnya pada material ductile. Dengan kata lain,
dengan pemberian suatu gaya, maka batuan akan berubah bentuk secara elastis
dan kemudian akan hancur tanpa melalui perubahan bentuk secara plastis (plastic
flow).
Sifat batuan yang cukup penting adalah hubungan kerapuhan relatif batuan
terhadap tegangan (tension). Dalam kenyataannya, kuat tekan (compressive
strength) batuan dapat menjadi dua kali lipat dari kuat tarik (tensile strength)
batuan tersebut. Sifat batuan seperti ini akan sangat berguna untuk pelaksanaan
perekahan hidrolik. Pada dasarnya perekahan hidrolik meliputi kekeuatan
penghancuran dinding lubang bor yakni kemampuan menghancurkan dinding
batuan reservoir.
3.2. Asumsi
Penyelesaian

terhadap

masalah

mekanika

batuan

di

sini

akan

menggunakan model penyelesaian secara matematis. Seperti halnya semua ilmu


keteknikan, penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ada akan menggunakan
beberapa asumsi. Dalam mekanika batuan, suatu batuan dapat diasumsikan
sebagai suatu material yang bersifat elastis, seragam (homogen), dan isotropis.

3.2.1. Elastisitas
Bila suatu material mengalami perubahan bentuk (deformasi) akibat beban
yang diberikan dari luar dan material tersebut akan berubah kembali ke bentuk
semula setelah beban

tersebut dihilangkan maka material tersebut dikatakan

bersifat elastis.
Sebuah yang material yang kembali sepenuhnya kepada bentuk semula
dinamakan elastis sempurna, sedangkan apabila tidak sepenuhnya kembali kepada
bentuk semula setelah beban dihilangkan disebut elastis parsial. Di dalam hal
benda elastis sempurna, usaha yang dilakukan oleh gaya-gaya luar selama
deformasi sepenuhnya ditransformasikan ke dalam tenaga potensial regangan.
Sedangkan di dalam hal benda elastis parsial, sebagian dari usaha yang dilakukan
oleh gaya-gaya luar selama deformasi diubah dalam bentuk panas yang timbul
dalam benda itu selama berlangsungnya deformasi non-elastis.
Di sini batuan dapat dikategorikan elastis namun tidak semua batuan
bersifat elastis. Biasanya terdapat beberapa jenis batuan akan menampakan sifat
elastisnya untuk harga-harga tertentu tergantung dari besarnya tegangan yang
diberikan. Teori tentang elastisitas telah menghasilkan banyak penyelesaian yang
akurat terhadap masalah-masalah yang timbul dalam ilmu mekanika batuan.
Pada kasus di mana batuan menampakan sifat elastisnya bila diberi beban,
solusi untuk asumsi elastisitas akan benar selama beban yang diberikan tersebut
tidak melebihi batas elastis dari batuan tersebut. Elastisitas merupakan teori yang
sebagian besar dapat diaplikasikan di lapangan namun penyimpanganpenyimpangan yang terjadi mengakibatkan masalah tersebut sangat susah untuk
dipecahkan.
3.2.2. Homogenitas.
Suatu material dikatakan homogen bila elemen-elemen terkecil dari
material tersebut memiliki sifat fisik yang sama. Dapat dikatakan bahwa batuan
bukan merupakan material yang homogen karena batuan mengandung mineral dan
kristal dengan jenis yang beraneka ragam, rekahan besar dan kecil, serta
keanekaragaman lainnya. Namun asumsi homogenitas adalah cukup beralasan

untuk dipakai bila dianggap batuan yang direkahkan merupakan suatu bagian
yang amat kecil apabila dibandingkan dengan keseluruhan luas batuan formasi.
3.2.3. Isotropis
Asumsi isotropis diperlukan untuk penyederhanaan masalah-masalah
perekahan secara matematis. Perlu diketahui bahwa perubahan bentuk (deformasi)
dapat terjadi sebagai akibat dari gaya yang diberikan seperti juga pada
pelaksanaan perekahan hidrolik di mana lebar rekahan adalah akibat dari
perubahan bentuk (deformasi) yang diakibatkan oleh kompresi fluida yang
diinjeksikan. Di sini asumsi isotropis menghasilkan hubungan secara matematis
yang lebih sederhana antara gaya-gaya yang diberikan dengan bagaimana
perubahan bentuk (deformasi) itu terjadi.
Sebagai contoh, karakteristik dari gaya-deformasi seperti isotropis,
homogen, dan elastis dapat dicirikan oleh dua konstanta yang dikenal sebagai
Modulus Young dan Perbandingan Poisson. Bila salah satu konstanta tersebut
dalam pemakaiannya tidak menggunakan asumsi isotropis terhadap suatu
material, maka untuk mengidentifikasi material tersebut akan membutuhkan 21
koefisien yang berdiri sendiri dan ini tentunya akan menyulitkan.
Solusi matematis untuk sebagian besar masalah mekanika batuan nantinya
akan menggunakan persamaan-persamaan tegangan (stress) dan regangan (strain).
Definisi teoritis untuk persamaan tersebut akan dibahas pada bagian-bagian
selanjutnya dari bab ini.
3.3. Manfaat
Teori-teori dalam mekanika batuan telah digunakan untuk mengevaluasi
berbagai proses kerja pada pelaksanaan perekahan hidrolik. Manfaat dari
memahami tentang ilmu mekanika batuan pada perekahan hidrolik antara lain :

Untuk penentuan distribusi tegangan di tempat (in-situ stress) di sekitar


lubang bor.

Untuk memperkirakan tekanan awal rekahan dan orientasi rekahan.

Untuk menentukan geometri rekahan termasuk hubungan antara tekanan


dalam rekahan, in-situ stress, keadaan batuan, dan dimensi rekahan.

Untuk mengevaluasi ketahanan rekahan melalui studi tentang tegangan


pada lapisan-lapisan yang berbatasan, variasi batuan, dan kondisi permukaan.

3.4. Besaran-besaran Mekanika Batuan


3.4.1. Stress dan Strain
Setiap material apabila dikenai beban maka akan mengalami perubahan
bentuk (deformasi). Gaya atau tekanan per satuan luas disebut stress, (). Selain
stress, perubahan bentuk dalam hal ini perubahan dalam panjang, () dibanding
dengan panjang semula, (l) disebut strain, (). Untuk tingkat tegangan yang lemah
plot antara stress vs strain akan membentuk suatu garis lurus seperti yang terjadi
pada material logam yang merupakan jenis material linear elastis. Gambar 3.1.
menunjukkan keadaan tersebut.

Gambar 3.1.
Hubungan Stress-Strain untuk Material Elastis4)

Tentu saja ada stress maksimum yang dapat diterima oleh suatu bahan
sebelum patah. Material untuk pemipaan seperti baja, peralon, mempunyai sifat
seperti ini, ketika stress dinaikkan sampai tingkat paling tinggi maka patahan akan
terjadi. Pada material rapuh seperti batuan, patahan bisa terjadi tiba-tiba dengan
sedikit tambahan strain. Stress yang dibutuhkan untuk menyebabkan patahan
disebut dengan uniaxial compressive strength, (Co).
Closure pressure (stress) adalah harga rata-rata minimum dimana rekahan
dapat terjadi. Harga ini dapat meningkat jika tekanan pori-pori naik (poro-elasticeffect). Dibawah ini akan dibicarakan mengenai mekanika batuan untuk
meramalkan dimensi rekahan.

In-situ Stress
Pada proyek perakahan, perlu diketahui besaran-besaran yang berlaku
dibatuan yang bisa didapat dari ilmu mekanika batuan yang berhubungan dengan
sifat batuan yang akan direkahkan.
F
A 0 A

Stress lim

................................................ (3-1)

Gambar 3.2. menunjukkan skematik dari arah stress dan shear pada batuan.

F1
= N o rm a l s tre s s e s
= S h e a r s tre s s e s

F2

F3

Gambar 3.2.
Skematik Shear dan Normal Stress4)

Rekahan horizontal terjadi bila pbf v , atau bilamana 2v /(1 v) v To v .


Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan To = 1000 psi, maka kedalaman
maksimum akan 3000 ft.
Strain dapat ditulis sebagai :

L Lf
.............................................................
L
L0

Strain lim

(3-2)

3.3.2. Perbandingan Poisson


Pemberian kuat tekan (compressive strength) pada suatu bidang material di
sepanjang bidang aksis akan mengakibatkan material tersebut menjadi semakin
pendek dan mengembang ke arah yang tegak lurus dengan bidang aksis seperti
yang terlihat pada Gambar 3.3. Perbandingan harga strain yang berada tegak
lurus terhadap beban stress pada bidang lateral dengan harga strain yang tegak
lurus terhadap beban stress pada bidang aksis disebut sebagai Perbandingan
Poisson ().

Lateral Strain

= Axial Strain

in / in

= in / in ...............................................

(3-3)

Material yang terkena stress dan berubah bentuk ke arah lateral


mempunyai harga sebesar 0,5 dan bila material tersebut tidak berubah bentuk
secara lateral bila dikenai beban aksial, maka harga = 0,0. Besi lunak
mempunyai harga sekitar 0,3. Secara umum, limestone, batupasir, shale, dan
garam mempunyai harga masing-masing sebesar 0.15,0.25, 0.40, dan 0.50.

L a te ra l s t ra in

P o is s o n s ra tio =

L o n g itu d in a l s t ra in
P1

Y
X

L
Y
2

U n d e f o rm e d

X =

D e fo rm e d

Y =

Gambar 3.3.
Perhitungan Poisson Ratio4)

3.3.3. Modulus Shear


Tegangan geser (shear stress) pada permukaan suatu bidang material akan
mengakibatkan bidang permukaan tersebut berpindah atau bergeser membentuk
suatu bidang baru yang letaknya paralel dengan bidang semula seperti yang
ditunjukkan oleh Gambar 3.4. Perbandingan antara besar harga shear stress yang
diberikan terhadap sudut yang dibentuk akibat deformasi yang terjadi (kekakuan
suatu material) dikenal sebagai Modulus Shear (G). Secara matematis dapat
dituliskan :

G=

F/A

Shear Stress

= Besar Sudut Deformasi =

lb / in 2

radian

.... (3-4)

Untuk fluida, besar harga G sama dengan nol sedangkan untuk padatan, G
merupakan suatu bilangan terbatas.

Gambar 3.4.
Definisi Shear Modulus4)
3.3.4. Modulus Bulk
Beban compressive yang diberikan terhadap semua bagian suatu balok
material pada kondisi hidrostatis, akan mengakibatkan pengurangan volume bulk
total. Perbandingan antara tegangan yang diberikan (gaya per unit luas permukaan
suatu bidang) terhadap perubahan volume untuk setiap satu unit volume awal
suatu material dinamakan Modulus Bulk (K). Secara matematis :
F/A

Gaya / Luas Permukaan

K = / v = Perubahan Volume / Volume Awal


lb / in 2

in 3 / in 3

.............................................................(3-5)

Modulus Bulk berbanding terbalik terhadap harga kompresibilitas

3.3.5. Modulus Young


Jumlah strain yang disebabkan oleh stress adalah fungsi dari kekakuan
material. Kekakuan atau kekenyalan dapat ditunjukkan dengan lekukan atau
kemiringan pada plot antara axial stress dan strain pada daerah linier seperti pada
Gambar 3.5., dan inilah yang dinamakan modulus Young (E). Modulus Young

(E) sama dengan tegangan tarik (unit stress) dibagi dengan regangan tarik (unit
strain). Secara sistematis :

E=

lb / in 2

Stress
=
= in / in = lb / in2 ...........................(3-6)
Strain

Gambar 3.5.
Grafik untuk Menunjukkan Modulus Young4)

Untuk besi lunak, Modulus Young-nya berharga 30 x 106 psi sedangkan


untuk batuan harga E berkisar dari 0,5 sampai 12 x 106 psi dimana soft rock = 1
dan hard rock = 10. Istilah yang hampir sama dan sering dipakai dalam perekahan
hidraulik adalah plane-strain Modulus (E), ditulis sebagai :
E'

E
.................................................................. (3-7)
(1 v 2 )

yang mana untuk sandstone, v = 0,25, E = 1,07 E. Variabel lain seperti fracture
thoughness (kekenyalan rekahan) yaitu Klc yaitu pengukuran terhadap kemampuan
material untuk menahan berkembangnya suatu rekahan.
Gambar 3.6.

menunjukkan

tiga

cara

untuk

pembebanan

yang

memecahkan, pertama dengan opening mode (membuka), kedua dengan sliding

mode (menggeser), dan ketiga dengan tearing mode (merobek). Untuk perekahan
hidraulik hanya opening mode yang berlaku, kecuali ada perekahan alamiah.

Gambar 3.6.
Cara-cara Perekahan4)
3.3.6. Tekanan Overburden
Tekanan overburden tidak tergantung pada tektonik, dan harganya sama
dengan berat batuan formasi di atasnya. Dengan integrasi pada density log, bisa
diperkirakan harganya :
H

v g ( z ) dz

........................................................... (3-8)

Dimana rata-rata gradient akan disekitar 0,95 1,1 psi/ft. Harga 1,1 psi/ft didapat
kalau semua formasi rata memiliki densitas sekitar 165 lb/ft3 maka gradien stress
= 165/144 = 1,1 psi/ft.
Karena formasi ada yang tidak rapat atau berpori, maka harganya bisa saja
sampai 0,95. Kalau overburden adalah harga absolut, yang dialami oleh batuan
dan fluida di pori-pori adalah effective stress ( v' ), yang didefinisikan sebagai :
'v v p

dimana

............................................................... (3-9)

adalah Konstanta Poroclastic Biot (1956), yang kebanyakan reservoir

bernilai 0,7.
Stress vertikal memberi efektif akan diterjemahkan ke arah horizontal
dengan perbandingan poisson , dimana :

'H

v
v ................................................................. (3-10)
1 v

dimana H' adalah stress horizontal efektif dan v = poisson ratio. Variabel ini
adalah sifat batuan. Untuk sandstone sekitar 0,25, yang mana menunjukkan bahwa
stress horizontal efektif adalah sekitar 1/3 dari vertikal stress efektifnya. Absolute
horizontal stress H akan sama dengan efektif stress plus p seperti pada
Persamaan (3-9).
Harga stress minimum efektif adalah :
H min ' 'H ................................................................... (3-11)

Dan harga stress minimum absolut adalah


H min 'H min p ......................................................

(3-12)

Stress horizontal absolut berkurang dengan produksi fluida sumurnya. Harga


stress di Persamaan (3-6) tidak akan sama keseluruh arah horizontal. Stress
tersebut adalah harga stress horizontal minimum absolut, karena harga stress
horizontal maksimum absolut adalah :
H max H min tect ..........................................................(3-13)

Dimana tect adalah suatu kontribusi dari gaya tektonik bumi. Gambar 3.7.
menunjukkan suatu plot terhadap harga-harga stress diatas.
Dari persamaan-persamaan diatas, maka ketiga stress utama adalah :
v , H min , dan H max . Arah rekahan akan tegak lurus dengan harga stress

terkecil dari ketiganya. Gambar 3.8. menunjukkan suatu skematik dari arah
rekahan terhadap ketiga stress diatas.

Gambar 3.7.
Skematik dari Harga-Harga Stress terhadap Kedalaman4)

Gambar 3.8.
Besar Ketiga Stress Utama dan Arah Rekahan4)
Gambar 3.9. menunjukkan bahwa bila misalnya suatu permukaan
mengalami erosi, sehingga kedalamannya hilang, maka tekanan overburden akan
mengecil, tetapi stress horizontal minimum absolut dan maksimum absolut akan
tetap, sehingga mungkin saja dapat mengakibatkan rekahan yang seharusnya
vertikal menjadi horizontal.

Gambar 3.9.
Perubahan Permukaan Akibat Erosi4)

Pada kedalaman yang dangkal, sering terjadi perekahan horizontal. Untuk


itu Craft, Holden, dan Graves menunjukkan bahwa stress tangensial
(circumferencial) sepanjang tepian sumur adalah dua kali stress horizontal
compressive didekatnya. Untuk membuat rekahan, stress ini dan tensile stress
batuan harus dilawan, sehingga tekanan perekahan adalah :
p bf 2 h To 2 v /(1 v) v To ............................... (3-14)

Rekahan horizontal terjadi bila pbf v , atau bilamana 2v /(1 v) v To v .


Dengan anggapan gradien 1 psi/ft, v = 0,25, dan To = 1000 psi, maka kedalaman
maksimum akan 3000 ft.
3.5. Konsep Penghancuran Batuan
Jumlah stress yang menyebabkan penghancuran di setiap titik dalam suatu
sumur akan dapat dihitung dengan asumsi bahwa suatu sumur digambarkan
sebagai bentuk dari sebuah silinder berdinding tebal dengan lubang di tengah

(thick-walled hollow cylinder) di mana ketebalan pada dinding silinder tersebut


adalah tidak terbatas (infinite) seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.10.

Gambar 3.10.
Tangensial Stress12)
Di sini akan dicari harga-harga stress untuk setiap titik dalam suatu
material dalam hubungannya dengan radius permukaan bagian dalam maupun
bagian

luar.

Harga

stress

tersebut

bergantung

pada

bagaimana

kita

mengasumsikan keadaan material yang dimaksud, apakah berada dalam keadaan


elastis ataukah berada dalam keadaan plastis.
Pada saat suatu material diasumsikan sebagai material yang bersifat
elastis, besarnya harga stress pada silinder dapat ditentukan dengan menggunakan
Persamaan Lame12), dimana diasumsikan bahwa pada keadaan awal besarnya
harga axial stress sama dengan nol. Asumsi ini diambil dari hasil percobaan
bahwa tidak terdapat penambahan panjang ke arah axial pada saat silinder tersebut
pecah.
3.2.1. Teori Lame
Teori Lame dirumuskan dalam bentuk matematika oleh Scottt sebagai berikut :

r 2r 2
p i ri2 p e re2 r e (p i p e )
re2

.................................... (3-15)

ri2

r 2 re2
p e re2 p i ri2 i
( p i p e)
..................................... (3-16)
rr2
re2 ri2

Di mana seperti ditunjukkan dalam Gambar 3.10., t adalah stres


tangensial (nilai positif adalah tensile stress), dan r adalah radial stres (nilai
positif adalah compressive stress).
Dengan membuat rr dalam Persamaan (3-15) dan (3-16) sama dengan ri,
stress maksimum berada didalam permukaan akan menjadi :

( t ) max

p i ( ri2 re2 ) 2p e re2


re2 ri2

........................................... (3-17)

( r ) max p i ................................................................... (3-18)

Andaikan tekanan bagian dalam adalah pi dan tekanan bagian luar adalah
pe sama dengan nol,
t pi

ri2

r2
( e 1) ........................................................(3-19)
re2 ri2 rr2

ri2
r2
rt p i
( i 1) ...................................................... (3-20)
re2 ri2 rr2

Persamaan ini menunjukkan bahwa harga maksimum t dan r terjadi


pada permukaan bagian dalam ketika rr sama dengan ri. Persamaan juga
menunjukkan bahwa harga t selalu lebih besar daripada harga r dan selalu
merupakan tensile stress.

S t re s s

D u c tile S t e e l

E la s tic L im it s

R u p tu re P o in t s
S a n d s to n e

S tra in

Gambar 3.11.
Stress vs Strain untuk Baja dan Sandstone12)

Untuk menentukan kapan penghancuran terjadi dalam silinder berdinding


tebal, banyak kriteria yang diajukan memenuhi teori Lame akan stress dan
tekanan. Dalam diskusi mengenai hal ini kata penegangan dan pematahan
digunakan secara sinonim, karena ketika contoh batuan formasi pada temperatur
atmosfir dijadikan sasaran pembebanan, penegangan dan pematahan terjadi secara
simultan. Penelitian ini bisa dikuatkan dengan memplotkan hubungan antara stress
dan strain batuan yang dijadikan contoh sebagai subjek pembebanan. Peningkatan
stress diantara batas elastis dan titik patahan akan kecil. Sebuah perbandingan
hubungan antara stress dengan strain untuk sandstone dan baja keras dapat dilihat
pada Gambar 3.11.
3.5.2. Persamaan Kirsch.
Dari hasil penelitian didapat bahwa besar ketiga stress utama pada batuan
adalah tidak sama karena mungkin adanya pengaruh gaya tektonik di sekitar
lubang bor. Untuk menyelesaikan masalah seperti ini maka dapat digunakan
prinsip dari sebuah plat tipis yang dilubangi dibagian tengahnya untuk keperluan
percobaan seperti yang terlihat pada Gambar 3.12.

S
a2
S
3a 2 4a 2
r 1 2 1 2 2 cos 2 .. (3-21)
2
r
2
r
r

S
a2 S
3a 4
1 2 1 4
2
r
2
r

r max

cos 2

S
3a 4 2a 2
1 4 2 sin 2
2
r
r

...(3-22)

...(3-23)

Gambar 3.12.
Stress pada Plat Berlubang12)
Dari gambar di atas, dianggap bahwa dinding lubang bebas dari pengaruh
gaya luar. Selanjutnya Kirsch menurunkan persamaan-persamaan sehubungan
dengan plat tipis berlubang tersebut. Persamaan-persamaan tersebut untuk
menggambarkan besarnya penyebaran stress di sekitar lubang pada plat tipis
terbatas yang dikenai beban yang seragam pada arah x.
Bila pada plat tersebut juga dikenai beban R untuk arah y seperti yang
terlihat pada Gambar 3.13. maka persamaan menjadi :

S R
a2 S R
3a 4 4a 2
1 2
1 4 2 cos 2 ..(3-24)
2
r
2
r
r

S R
a2 S R
3a 4
1 2
1 4
2
r
2
r

max r

S R
3a 4 2a 2
1 4 2
2
r
r

..(3-25)

sin 2

..(3-26)

Gambar 3.13
Distribusi Stress pada Plat Tipis Terbatas
dengan Lubang di Tengah12)
Solusi ini diperoleh dengan cara menggabungkan dua stress R dan S.
Dalam proses pembuata suatu rekahan, fluida akan diinjeksikan dengan
tekanan P1, mengakibatkan adanya stress di sekitar lubang. Selain itu ada juga
stress tektonik yang melekat dalam batuan. Kedua stress tersebut harus
dipertimbangkan dan solusinya didapat dengan menggabungkan persamaan
tentang stress dalam silinder dan stress pada plat sehingga memungkinkan dapat
ditentukan stress secara keseluruhan yang harus diberikan pada awal mula
pelaksanaan perekahan hidrolik.

Jika persamaan untuk silinder dan plat digabung, maka akan diperoleh :

a2 S R
a2 S R
3a 4 4a 2

r P1 2
1

cos
2

...(3-27)
r 2
r 2
2
r4
r 2

a2 S R
a2 S R
3a 4
1 2
1 4 cos 2 ...(3-28)
P1 2
r
2
r
r 2

S R
3a 4 2a 2
1 4 2 sin 2
2
r
r

....(3-29)

Bila r = a pada lingkaran, maka :

r P1

(tekanan)

....

(3-30)
S R
S R
P1 2
4
cos 2
2
2

r 0

....(3-31)
.(3-32)

Bila kita mengasumsikan penghancuran batuan dalam tegangan, maka yang perlu
diperhatikan adalah cukup pada tangensial stress ( ) saja.
3.2.2. Teori Mohr
Mohr mengasumsikan bahwa bila terjadi penghancuran pada suatu bidang
maka terdapat suatu hubungan fingsional antara stress normal dan stress shear
yang dituliskan :
f () ......................................................................................

(3-33)

yang merupakan sifat dari material. Plot dari hubungan ini dapat dibuat pada
bidang ( , ). Perubahan tanda akan merubah arah penghancuran tapi tidak

akan merubah kondisi batasnya. Kurva yang terjadi akan simetris disekitar sumbu

.
Teori Mohr merupakan suatu metode grafik dalam menentukan batas
kekuatan suatu untuk dihancurkan. Bila stress-stress utama pada sebuah titik
diketahui, maka shear stress dan normal stress pada titik ini dapat ditentukan
dengan menggunakan lingkaran Mohr. Aplikasikan stress-stress utama ( 1 , 2 )
ditunjukan pada Gambar 3.14. Sebuah lingkaran Mohr dibentuk seperti Gambar
3.15. O merupakan titik awal; tensile stress berharga positif dan diplot ke arah
kanan sedangkan compressive stress berharga negatif dan diplot ke arah kiri.

x
2

y
1

y
y = N o rm a l S tre s s

= S h e a r S t re s s
= A n g le o f Th e P la n e o n W h ic h
P rin c ip a l S t re s s
1 A c ts

Gambar 3.14.
Diagram Stress12)
2
AB AC sin 2 1
sin 2 ...........................................
2

(3-34)

2 1 2
y OB OC CB 1

cos 2 .............................
2
2

(3-35)

1+
2

2
2

0
2

G
1

-2

Gambar 3.15.
Lingkaran Mohr12)
Teori ini dapat diaplikasikan untuk situasi yang berlawanan dengan
keadaan di atas di mana normal stress dan shear stress diketahui sedangkan stress
utamalah yang akan dicari. Bila kita mempunyai data yang cukup maka akan bisa
dibuat tiga atau lebih lingkaran Mohr, yang selanjutnya akan bisa digambar suatu
kurva atau selubung (envelope) yang akan bersinggungan dengan lingkaran Mohr
dan simetris dengan -axis (lihat Gambar 2.16. dan Gambar 2.17.).
Stress yang berada di dalam kurva MNN1M1 adalah stress-stress yang
berada di bawah titik penghancuran (point of failure) dan di sini dapat dikatakan
bahwa material tersebut masih dalam keadaan utuh atau belum pecah. Namun
untuk stress-stress yang berada di luar kurva, hal ini menunjukkan bahwa stressstress tersebut berada di atas point of failure sehingga mengakibatkan material
tersebut pecah atau hancur.
Pada lingkaran dengan pusat di C (Gambar 2.6.) yang menyentuh kurva,
menjelaskan beberapa hal. Penghancuran pada kasus ini akan terjadi dengan
syarat bahwa retakan yang terjadi akan menyentuh titik P dan P secara bersamaan
yang mana merupakan sudut antara bidang normal dengan arah stress utama yang
paling besar.

M
P

N1

P = P o in t o f F a ilu re
= A n g le B e tw e e n N o rm a l to
P la n e o f F a ilu re a n d Th e
D ire c tio n o f G re a te s t
P rin c ip a l S tre s s

Gambar 3.16.
Amplop Mohr12)

+
M

,
C

N1

M 1

Gambar 3.17.
Amplop Mohr12)

Kurva MN akan menjadi selubung dari semua lingkaran untuk segala kondisi
pada saat perekahan berlangsung dan dinamakan sebagai selubung Mohr (Mohrs
envelope). Tiga lingkaran yang menyentuh kurva dapat dicari lewat suatu
pengujian yang sederhana. Perhatikan lingkaran-lingkaran dengan pusat C1,O,C2
pada Gambar 3.17. yang diberikan tension, shear, dan compression secara

bersamaan. Bila sulit menentukan performa dari ujui shear dan tensile pada
batuan, maka dapat digunakan uji triaxial (triaxial test). Dengan memberi variasi
pada tekanan hidrostatis maka semua lingkaran menuju ke arah kiri dari -axis
dapat dicari. Bila ketahanan rekahan meningkat sesuai tekanan hidrostatis, maka
selubung Mohr biasanya akan terus membuka ke arah kiri.
Satu

kekurangan

dari

teori

Mohr

adalah

bahwa

Mohr

tidak

memprediksikan besarnya tegangan untuk perekahan pada material brittle (rapuh).


Selain itu teori ini hanya membahas tentang stress utama maksimum dan
minimum tanpa menjelaskan pengaruh-pengaruhnya, sehingga hasil yang didapat
tidak selamanya konsisten dengan hasil di lapangan.