Anda di halaman 1dari 20

ABSTRAK

Kelompok 2, Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Ruang Radiologi, dibawah bimbingan


Andi Sambiono,M.kes , 2014 20 halaman
Berdasarkan judul di atas, Makalah ini bertujuan untuk memenuhi nilai mata kuliah
K3 Elektromedik di semester lima.
Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan penulisan, maka dalam hal ini
kami menggunakan 2 metode, yaitu browsing buku dan internet. Penyusunan karya tulis ini
sesuai dengan yang dibahas.
Melalui browsing dapat diketahui bahwa K3 pada ruang radiologi sangatlah penting
dan sangat membutuhkan perhatian khusus.

BAB 1
PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional , oleh karena


itu kesehatan merupakan adalah kebutuhan pokok manusia dan juga sebagai salah satu fakor
yang mempengaruhi kualitas dan produktifitas sumber daya manusia dalam rangka
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sehingga terwujudnya tujuan
pembangunan nasional. Untuk menunjang faktor tersebut maka diperlukan juga keselamatan
dan kesehatan kerja , baik itu untuk operator, pasien maupun lingkungan.
Pemeriksaan diagnostik radiologi telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari kehidupan kita sehari-hari, terutama didalam penatalaksanaan klinis pasien di dalam
pelayanan kesehatan. Sejak ditemukannya sinar X oleh Roentgen pada tahun 1895 dan
kemudian diproduksinya peralatan radiografi pertama untuk penggunaan diagnostik klinis,
prinsip dasar dari radiografi tidak mengalami perubahan sama sekali, yaitu memproduksi
suatu gambar pada film reseptor dengan sumber radiasi dari suatu berkas sinar-X yang
mengalami absorbsi dan attenuasi ketika melalui berbagai organ atau bagian pada tubuh.
Perkembangan teknologi radiologi telah memberikan banyak sumbangan tidak hanya dalam
perluasan wawasan ilmu dan kemampuan diagnostik radiologi, akan tetapi juga dalam
proteksi radiasi pada pasien-pasien yang mengharuskan pemberian radiasi kepada pasen
serendah mungkin sesuai dengan kebutuhan klinis merupakan aspek penting dalam pelayanan
diagnostik radiologi yang perlu mendapat perhatian secara kontinu. Karena selama radiasi
sinar-x menembus bahan/materi terjadi tumbukan foton dengan atom-atom bahan yang akan
menimbulkan ionisasi didalam bahan tersebut, oleh karena sinar-x merupakan radiasi
pengion, kejadian inilah yang memungkinkan timbulnya efek radiasi terhadap tubuh, baik
yang bersifat non stokastik , stokastik maupun efek genetik. Dengan demikian diperlukan
upaya yang terus menerus untuk melakukan kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
medan radiasi pengion melalui tindakan proteksi radiasi, baik berupa kegiatan survey radiasi,
personal monitoring, Jaminan Kualitas radiodiagnostik. Ketaatan terhadap Prosedur kerja
dengan radiasi, Standar pelayanan radiografi, Standar Prosedur pemeriksaan radiografi semua

perangkat tersebut untuk meminimalkan tingkat paparan radiasi yang diterima oleh pekerja
radiasi, pasien maupun lingkungan dimana pesawat radiasi pengion dioperasikan.
Aplikasi teknologi nuklir telah banyak dimanfaatkan dalam kehidupan, salah satunya
dalam bidang kesehatan atau medik di bagian radiologi. Unit Pelayanan Radiologi merupakan
salah satu instalasi penunjang medik menggunakan sumber radiasi pengion untuk
mendiagnosis adanya suatu penyakit dalam bentuk gambaran anatomi tubuh yang
ditampilkan dalam film radiografi. Pelayanan Radiologi harus memperhatikan aspek
keselamatan kerja radiasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.1.1

Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja dewasa ini merupakan istilah yang sangat

populer. Bahkan di dalam dunia industri istilah tersebut lebih dikenal dengan
singkatan K3 yang artinya keselamatan, dan kesehatan kerja. Menurut Milyandra
(2009)Istilah keselamatan dan kesehatan kerja, dapat dipandang mempunyai dua sisi
pengertian. Pengertian yang pertama mengandung arti sebagai suatu pendekatan
ilmiah (scientific approach) dan disisi lain mempunyai pengertian sebagai suatu
terapan atau suatu program yang mempunyai tujuan tertentu. Karena itu keselamatan
dan kesehatan kerja dapat digolongkan sebagai suatu ilmu terapan(applied science)
Keselamatan dan Kesehatan Kerja sebagai suatu program didasari pendekatan
ilmiah dalam upaya mencegah atau memperkecil terjadinya bahaya (hazard) dan
risiko (risk) terjadinya penyakit dan kecelakaan, maupun kerugian-kerugian lainya
yang mungkin terjadi. Jadi dapat dikatakan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
adalah suatu pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi bahaya dan
risiko kesehatan dan keselamatan yang mungkin terjadi.( Rijanto, 2010 )
2.1.2

Ruang Lingkup Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan

pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode
kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :
1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di
semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan
sosialnya.
2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya dari
kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan
kesehatan.
4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai
dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.
4

2.1.3 Dasar Hukum


Pemberlakuan K3 untuk seluruh Perusahaan di Indonesia wajib mematuhi
Undang-undang

dan

Peraturan-peraturan

yang

telah

ditetapkan/dikeluarkan/

diberlakukan mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang terangkum sebagai


berikut :
1. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 27 ayat (2) menyatakan bahwa Setiap Warga
Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Atas dasar pasal tersebut maka telah disusun :
a. UU No.1 th.1951 tentang Pernyataan berlakunya UU Kerja th. 1948 No.12
b. UU No.3 th.1969 tentang Persetujuan Konvensi ILO no.120 mengenai Higiene
dalam Perniagaan dan Kantor-kantor
c. UU No.14 th.1969 tentang Pokok-Pokok mengenai Tenaga Kerja sebagai
pelaksanaan dari Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 tersebut di Pasal 9 UU No.14
th.1969 yang menyatakan Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas
keselamatan, kesehatan, pemeliharaan moril kerja serta perlakukan sesuai dengan
harkat dan martabat manusia dan moral agama dan di pasal 10 menyatakan
Pemerintah membina perlindungan kerja yang mencakup :
1. Norma keselamatan kerja
2. Norma kesehatan kerja
3. Norma kerja
4. Pemberian ganti kerugian, perawatan, dan rehabilitasi dalam hal kecelakaan kerja
2. Undang-undang no.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, cakupan materinya
termasuk masalah kesehatan kerja.
3. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
4. Permenkes No. 453/Menkes/Per/XI/1992 tentang Persyaratan Keselamatan
Lingkungan Rumah Sakit.
5. Permenaker No. 5/Menaker/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja
2.2

Pengertian Radiasi
Radiasi adalah gelombang atau partikel berenergi tinggi yang berasal dari

sumber alami atau sumber yang sengaja dibuat oleh manusia. Salah satu potensi
bahaya yang dapat ditimbulkan oleh pemanfaatan radiasi pengion adalah timbulnya
5

efek radiasi baik yang bersifat non stokastik, stokastik dan efek genetic. Efek tersebut
dapat berupa Radiation Sickness, penyakit keganasan sampai penyakit yang timbul
pada keturunannya
Radiasi pengion yang penting dalam kedokteran nuklir meliputi sinar-X dan
electron yang dihasilkan oleh alat elektrik dan sinar alfa, beta dan gama yang
dipancarkan oleh zat radioaktif.
2.3
2.3.1

Radiologi
Pengertian Radiologi
Radiologi adalah cabang atau spesialisasi kedokteran yang berhubungan

dengan study dan penerapan berbagai teknologi pencitraan untuk diagnosis dan
mengobati pasien. Pencitraan dapat menggunakan sinar x, USG, CT Scan,
Tomography Emisi Positron (PET), dan MRI. Pencitraan tersebut menciptakan
gambar dari konfigurasi dalam dari sebuah objek padat, seperti bagian tubuh manusia,
dengan menggunakan energy radiasi.
2.3.2

Desain Ruangan Radiologi


Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam instalasi ruangan radiologi

sebelum bangunan didirikan diantaranya.

Lokasi bangunan
Lokasi ruangan radiologi sedapat mungkin jangan terganggu oleh kegiatan
sekitarnya

Letak ruangan
Upayakan pemasangan pesawat dekat dengan ruang emergency dan jauhkan
dari aktivitas ramai

Desain ruangan
Panjang 4 meter, lebar 3 meter, tinggi 2.8 meter. Ukuran tersebut tidak
termasuk ruang operator dan kamar ganti pasien
Tebal dinding
Tebal dinding suatu ruangan radiologi sedemikian rupa sehingga penyerapan
radiasinya setara dengan penyerapan radiasi dari timbal setebal 2 mm.
Tebal dinding yang terbuat dari beton dengan rapat jenis 2,35 gr/cc adalah 15

cm. Tebal dinding yang terbuat dari bata dengan plester adalah 25 cm
Pintu dan Jendela

Pintu serta lobang-lobang yang ada di dinding ( missal lobang stop kontak dll )
harus di beri penahan-penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal. Di
depan pintu ruangan radiasi harus ada lampu merah menyala ketika meja
control pesawat dihidupkan.

2.4

Manajement Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Bagian Radiologi

2.4.1

Kesehatan dan keselamatan Kerja di bagian radiologi


Keselamatan kerja radiasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan

kondisi agar dosis radiasi pengion yang mengenai manusia dan lingkungan hidup
tidak melampaui nilai batas yang ditentukan.

Radiasi adalah risiko berbahaya yang dikenal baik dilingkungan rumah sakit
dan usaha penanggulangannya sudah dilakukan. Rumah sakit sebaiknya mempunyain
petugas yang bertanggung jawab (safety officer) atas keamanan daerah sekitar radiasi
dan perlindungan bagi petugasnya.
2.4.2

Ketentuan Umum Pencegahan

1) Tempatkan pasien pada tempat yang terpisah atau bersama pasien lain dengan
infeksi aktif organisme yang sama dan tanpa infeksi lain.
2) Melaksanakan kewaspadaan universal.
3) Perawatan lingkungan yaitu dengan membersihkan setiap hari peralatan dan
permukaan lain yang sering tersentuh oleh pasien.
4) Peralatan perawatan pasien gunakan terpisah satu sama lain, jika terpaksa harus
digunakan satu sama lain secara bersama maka peralatan tersebut harus selalu
dibersihkan dan didesinfeksi sebelum digunakan pada yang lain.
Tindakan yang harus dilakukan :
1) Tempatkan pasien pada ruang tersendiri atau bersama pasien lain dengan ruang
kerja lainnya.
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah bekerja pada air yang mengalir atau alcuta.
3) Menggunakan alat pelindung kerja seperti masker, gaun pelindung dan sarung
tangan.
4) Melakukan tindakan desinfeksi, dekontaminasi dan sterilisasi, terhadap berbagai
peralatan yang digunakan, meja kerja, lantai dan lain-lain terutama yang sering
tersentuh oleh pasien.
5) Melaksanakan penanganan dan pengolahan limbah dengan cara yang benar,
khususnya limbah infeksi.
6) Memberikan pengobatan yang adekuat pada penderita.

2.4.3

Tindakan Proteksi Radiasi


Tindakan proteksi radiasi yang dilakukan tentunya merupakan tindakan

proteksi radiasi terhadap paparan radiasi sinar X, jadi merupakan tindakan proteksi
radiasi eksterna, karena sumber radiasi berada di luar tubuh manusia. Sebelum
menerangkan apa yang dimaksud dengan tindakan proteksi radiasi eksterna terlebih
8

dahulu perlu diterangkan mengenai pengertian, filosopi / falasah dan tujuan proteksi
radiasi. Proteksi radiasi atau fisika kesehatan dan keselamatan radiasi adalah suatu
cabang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan teknik kesehatan yang perlu
diberikan kepada seseorang atau kelompok orang terhadap kemungkinan diperolehnya
akibat negatif dari radiasi pengion. Adapun filosofi / falsafah proteksi radiasi adalah
analisa atau perhitungan untung rugi yang harus mencakup keuntungan yang harus
diperoleh oleh masyarakat bukan hanya oleh sesorang atau kelompok . Dengan
demikian perlu diperhitungkan anatara resiko dan manfaat dari kegiatan yang
menggunakan peralatan dan atau sumber radiasi pengion. Untuk proteksi radiasi
ditentukan bahwa manfaat haruslah jauh lebih besar daripada resiko yang mungkin
diperoleh oleh pekerja radiasi dan masyarakat. Untuk maksud tersebut filosofi /
falsafah proteksi radiasi menyatakan bahwa setiap pemanfaatan zat radioaktif dan
atau sumber radiasi pengion lainnya :Hanya didasarkan pada azas manfaat dan
justifikasi. yang berarti harus ada izin pemanfaatan dari BAPETEN ( Badan Pengawas
Tenaga Atom ).Semua penyinaran harus diusahakan serendah-rendahnaya ( As Low
As Reasonable Achievable ALARA ) dengan mempertimbangkan faktor ekonomi
dan sosial dan dosis equivalent yang diterima seseorang tidak boleh melampaui Nilai
Batas Dosis ( NBD ) yang telah ditetapkan. Adapun tindakan proteksi radiasi
eksterna adalah tindakan untuk mengupayakan agar tingkat paparan radiasi yang
diterima pekerja radiasi menjadi serendah mungkin. Untuk maksud tersebut perlu
diperhatikan faktor-faktor utama proteksi radiasi yaitu : factor waktu, factor jarak dan
factor penahan radiasi (perisai).

2.5

Langkah Langkah Kesehatan dan Keselamatan Kerja

2.5.1 Upaya untuk melindungi pekerja radiasi serta masyarakat umum dari ancaman
bahaya radiasi
1. Mendesain ruangan radiasi sedemikian rupa sehingga paparan radiasi
tidak melebihi batas-batas yang dianggap aman.
9

2. Melengkapi setiap ruangan radiasi dengan perlengkapan proteksi


radiasi yang tepat dalam jumlah yang cukup.
3. Melengkapi setiap pekerja radiasi dan pekerja lainnya yang karena
bidang pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi dengan alat
monitor radiasi.
4. Memakai pesawat radiasi yang memenuhi persyaratan keamanan
radiasi.
5. Membuat dan melaksanakan prosedur bekerja dengan radiasi yang baik
dan aman.
2.5.2

Paparan Radiasi
Besarnya paparan radiasi yang masih dianggap aman di ruangan radiasi dan

daerah sekitarnya tergantung kepada pengguna ruangan tersebut. Untuk ruangan yang
digunakan oleh pekerja radiasi besarnya paparan 100 mR/minggu. Untuk ruangan
yang digunakan oleh selain pekerja radiasi besarnya paparan 10 mR/minggu.
2.5.3

Perlengkapan Proteksi Radiasi


Pakaian proteksi radiasi

(APRON) harus disediakan di setiap ruangan

radiologi dalam jumlah yang cukup dan ketebalan yang setara dengan 0,35 mm
timbal. Begitu juga dengan sarung tangan timbal yang harus disediakan di setiap
ruangan fluoroskopi konvensional.
2.5.4

Alat Monitor Radiasi


Film Badge
Setiap pekerja radiasi dan/ atau pekerja lainnya yang karena bidang
pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi diharuskan memakai filkm
badge setiap memulai pekerjaannya setiap hari.
Film badge dipakai pada pakaian kerja pada daerah yang diperkirakan paling
banyak menerima radiasi atau pada daerah yang dianggap mewakili
penerimaan radiasi atau pada daerah yang dianggap mewakili penerimaan
dosis seluruh tubuh seperti dada bagian depan atau panggul bagian depan.

Survey Monitor
Di unit radiologi harus disediakan alat survey meter yang dapat digunakan
untuk mengukur paparan radiasi di ruangan serta mengukur kebocoran alat
radiasi.
10

2.5.5 Pesawat Radiasi


a. Kebocoran tabung
Tabung pesawat rontgen (tube) harus mampu menahan radiasi sehingga radiasi
yang menembusnya tidak melebihi 100 mR per jam pada jarak 1 meter dari
focus pada tegangan maksimum
b. Filter
Filter radiasi harus terpasang pada setiap tabung pesawat
c. Diafragma Berkas Radiasi
Diafragma berkas radiasi pada suatu pesawat harus berfungsi dengan baik.
Ketebalan diafragma minimal setara dengan 2 mm timbal. Posisi berkas sinar
diafragma berhimpit dengan berkas radiasi.
d. Peralatan Fluoroskopi
Tabir fluoroskopi harus mengandung gelas timbal dengan ketebalan yang
setara dengan 2 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum
100 KV atau 2,5 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum
150 KV. Karet timbal yang digantungkan pada sisi tabir fluoroskopi harus
mempunyai ketebalan setara dengan 0,5 timbal dengan ukuran 45x45 cm.
Tabung pesawat rontgen dengan tabir fluoroskopi harus dihubungkan secara
permanen dengan sebuah stop kontak otomatis harus dipasang untuk
mencegah beroperasinya pesawat apabila pusat berkas radiasi tidak jatuh tepat
di tengah-tengah tabir fluoroskopi. Semua peralatan fluoroskopi harus
dilengkapi dengan tombol sesudah waktu penyinaran terlampaui. Penyinaran
akan berakhir jika pengatur waktu tidak di reset dalam jangka waktu satu
menit.
2.5.6 Kalibrasi Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen harus di kalibrasi secara berkala terutama untuk memastikan
Penunjukan angka- angkanya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
2.5.7

Dosis Radiasi yang diterima oleh pekerja


Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seseorang pekerja radiasi

didasarkan atas rumus dosis akumulasi:


D = 5 ( N-18) rem
D: dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi selama
masa kerjanya
N: Usia pekerja radiasi yang bersangkutan dinyatakan dalam tahun
18: Usia minimum seseorang yang diizinkan bekerja dalam medan radiasi dinyatakan
dalam tahun.
Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam
jangka waktu 1 tahun adalah 5 rem. Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata
seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu 13 minggu ialah 1,25 rem. Sedangkan
11

untuk wanita hamil 1 rem. Jumlah dosis tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang
pekerja radiasi dalam jangka waktu satu minggu adalah 0,1 rem.
2.5.8 Prosedur Kerja di Ruangan Radiasi
1. Menghidupkan lampu merah yang berada di atas pintu masuk ruang
pemeriksaan.
2. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang
sedang diperiksa.
3. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua yang tidak berkepentingan berada
di luar ruangan pemeriksaan, sedangkan petugas berada di ruang oprator.
Kecuali sedang menggunakan fluoroskopi maka petugas memakai pakaian
4.
5.
6.
7.
8.

proteksi radiasi.
Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
Tidak menyalakan fluoroskopi apabila sedang ada pergantian kaset.
Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
Apabila perlu ada pasien dipasang gonad shield.
Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak

menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.


9. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat
mungkin gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan
seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama penyinaran
maka ia harus memakai pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal
serta menghindari berkas sinar langsung dengan cara berdiri di samping berkas
utama.
10. Pemriksaan radiologi tidak boleh dilakukan tanpa permintaan dari dokter.
2.6

Pengawasan Kesehatan
Pengawasan kesehatan ini dimaksudkan untuk menentukan apakah keadaan

kesehatan pekerja radiasi sesuai dengan tugas yang akan dilakukan dan untuk
mengetahui apakah ada pengaruh radiasi pada kesehatan pekerja radiasi tersebut
selama bekerja dengan radiasi. Keharusan pemeriksan kesehatan ini tidak hanya bagi
mereka yang bekerja di Batan atau industri lain yang menggunakan sumber radiasi
pengion akan tetapi juga bagi pekerja radiasi dalam bidang medik dan telah diatur
dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 172/Men Kes/PER/III/91. Selain
untuk memantau keadaan kesehatan pekerja radiasi, pemeriksaan kesehatan juga
penting bagi penguasa Instalasi Atom, jika dikemudian hari ada pekerja radiasi yang
menggugat bahwa sakit yang dideritanya adalah diakibatkan oleh radiasi yang

12

diterimanya (Medico-legal), walaupun resiko sakit akibat radiasi ini sangat kecil.
Peraturan mengenai pengawasan kesehatan antara lain :
1.

Penguasa Instalasi Atom wajib melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap calon


pekerja radiasi, sekali setahun bagi pekerja radiasi dan pekerja radiasi yang akan
memutuskan hubungan kerja dengan Instalasi Atom.

2.

Pemeriksaan kesehatan khusus harus dilaksanakan apabila dosis radiasi yang


diterima pekerja radiasi melampaui nilai seperti yang tercantum dalam peraturan
mengenai pembatasan dosis dan diterima dalam jangka waktu yang singkat.

3.

seluruh hasil pemeriksaan kesehatan harus dicatat dalam kartu kesehatan dan kartu
ini harus disimpan untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 30 tahun sejak
bekerja dengan radiasi. Di dalam kartu kesehatan harus ada keterangan tentang
sifat pekerjaan dan alasan pemberian pemeriksaan kesehatan khusus.

4.

Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan radiasi harus tersedia di


daerah kerja yang isinya tergantung pada jenis kecelakaan yang mungkin terjadi,
jenis radiasi, jenis kontaminasi pada tubuh manusia.

BAB 3
MASALAH

2.1 Masalah pada K3 Radiologi


2.2 Pemecahan Masalah
Bekerja pada bagian radiologi haruslah memperhatikan hal-hal yang dapat
mempengaruhi aspek keselamatan dan kesehatan kerja. hal ini disebabkan
spesifikasinya yang memungkinkan terjadinya kecelakaan apabila peraturan dan
ketelitian tidak menjadi etos kerja. Terdapat beberapa hal penting yang harus
diperhatikan, yaitu:
a. Keselamatan terhadap arus listrik
1. Arde listrik peralatan sinar-x
Arde dilakukan dengan menghubungkan permukaan metal/logam pada
pesawat sinar-x ke tanah melalui konduktor tembaga. Konduktor ini bisa
berupa:

13

Satu lempeng tembaga yang ditempelkan ke permukaan metal/logam


dari meja pemeriksaan, tuas penyangga tabung, tranformator dan
control consoul dan menghu-bungkannya ke tanah. Perhatikan betul
bahwa lempeng logamnya benar-benar menempel.

Satu konduktor bumi yang terdapat pada kabel utama dari pesawat
sinar-x bergerak (mobile unit) yang terhubung pada bagian akhir dari
rangkaian pesawat yangmembutuhkan arde dan ujung yang lain pada
konduktor bumi di dalam colokan listrik(pulg socket).

Ingat, penggunaan kabel pe-nyambung (extention cable) atau adaptor


akan meng-hambat kelancaran kerja dari konduktor bumi dan jangan
digunakan, kecuali jika tidak terdapat alternatif lain. Tetapi, jika harus
menggunakan kabel penyambung harap diingat ukuran dan besar kabel
harus sama dengan kabel utamanya dan kedua ujungardenya harus
benar-benar tersambung dengan baik.

Periksalah secara teratur kabel dan sambungan pada kedua ujung


dengan kondisi seperti di bawah ini:

a. Karet pembungkus kabel. Jika terdapat potongan atau kerusakan


hendaknya segera diperbaiki atau diganti.
b. Sambungan antara ujung kabel dan colokan listrik. Karet pembungkus
kabel hendaknya terlindung di dalam kotak colokan listrik.
c.

Kotak colokan listrik. Jika kotak ini retak atau pecah hendaknya segera
diganti.

d. Ujung arde yang terdapat di dalam colokan listrik hendaknya terkait


dengan baik. Setiap 6 bulan teknisi listrik atau petugas yang cakap
harus mengecek keadaan ini. jika colokannya putus, maka jangan
dimasukkan ke dalam soket listrik sampai ia benar-benar telah
diperbaiki dan aman.

Catatan: Kerusakan dapat dicegah dengan penanganan yang cermat


dan hati-hati terhadap peralatan sinar-x dan kabelnya. Jangan sampai
kabel dalam keadaan tegang, kusut, menempel pada permukaan yang
tajam saat digerakkan.

2. Sekering/Fuse

14

Peralatan listrik diperlengkapi dengan sekering sebagai alat pengaman untuk


mencegah arus yang tidak sesuai pada saat melewati rangkaian. Oleh sebab itu, sangat
penting untukmemasang sekering yang benar nilainya. Jika sekeringnya tidak
berfungsi maka sebaiknya ditukar dengan yang lain pada nilai yang sama. Jika gagal
lagi maka terdapat kerusakan pada rangkaian dan harus dicari sebabnya serta
diperbaiki.
Jangan Pernah menaikkan nilai sekering, karena hal ini sangat bahaya
dilakukan. Beberapa model pesawat sinar-x mempunyai colokan listrik khusus,
biasanya berwarna merah dan ditandai dengan hanya sinar-x. Hal ini jangan
digunakan untuk pemakaian yang lain, karena ia colokan khusus tanpa sekering. Alat
itu didisain khusus untuk menerima tegangan listrik pada saat eksposi yang amat
sangat rendah, akan tetapi sangat berbahaya bila digunakan dengan tegangan listrik
biasa yang tidak mempunyai peralatan pengaman khusus di dalam pesawat sinar-x
nya.

3. Colokan dan soket listrik


Jika memungkinkan hendaknya semua soket listrik harus punya penghubung
(switch) sehingga aliran listrik dapat diputus sebelum colokan dilepaskan.
Ingat, jangan pernah mencabut colokan dengan menarik kabelnya. Dengan cara
mematikan penghu-bungnya adalah lebih baik, hal itu akan menghindari terjadinya
bunga api pada colokan dan soket tetap baik. Soket harus terhindar dari air atau cairan
dan jangan ditempatkan pada tempat yang memungkinkan terjadinya percikan air atau
air yang mengalir . Jika peralatan kamar gelap seperti tabung iluminator- membutuhkan penghubung listrik, maka kabelnya harus ditempatkan pada posisi yang aman
dan jangan sampai tersentuh petugas yang sedang bekerja. Jika colokan atau soket
sudah berumur tua atau jika sekering penghubung tidak mengait dengan baik, maka
ujung logam co-lokannya atau soketnya akan menjadi panas.
Kalau hal ini terjadi, hendaknya colokan atau soketnya harus diganti walaupun
sebe-narnya disebabkan oleh ukuran kabel yang tidak sesuai dengan besar arus listrik
yang mengalir. Atau panggillah tenaga yang berkompeten tentang listrik untuk
memperbaikinya.
15

4. Pelindung/pembungkus peralatan
Peralatan yang berisi komponen listrik harus mempunyai pelindung. Pelindung
ini untuk meyakinkan bahwa tidak ada komponen yang terkelupas dan bisa tersentuh.
Bagian ini dirancang terpisah dengan bagian lain dan mempunyai pembungkus.
Sehingga pembungkusnya harus selalu terlindung dengan baik dan jika rusak harus
dipindahkan setelah semua peralatan listrik diputus , dan periksalah semua ujung
peralatan, tidak ada yang menempel pada bagian lain.
Jika terdapat kerusakan pada bagian dalam dari peralatan hendaknya yang
mengambil adalah teknisi listrik. Dan semua ujung peralatan harus dalam keadaan
tidak ada arus listrik. Ingat, periksa sekering apakah masih melekat ketika pelindung
logam sedang diperbaiki.
5. Pembersihan peralatan
Jangan pernah menggunakan air atau lap basah untuk membersihkan peralatan
listrik. Gunakanlah krim pembersih yang tidak mudah terbakar (non-flammable)
seperti krim pembersih bodi mobil yang dengan mudah dapat dibeli di pasar.
6. Perbaikan peralatan
Perbaikan peralatan harus dilakukan oleh orang terlatih dan mem-punyai
kecakapan untuk jenis pekerjaan tersebut.
7. Konsleting (electrical fire)
Peralatan listrik karena kesalahan- bisa terjadi konsleting atau kelebihan arus
listrik sehingga menjadi panas yang bisa mengakibatkan kebakaran. Jika asap atau
rasa panas terasa, peralatan yang ada harus diputus dari sambungan listriknya dengan
segera. Api yang timbul pada peralatan listrik biasanya tidak cepat merambat bila
penghubung listriknya dimatikan, karena bahannya dibuat dari yang tidak mudah
terbakar. Tetapi jika api telah menjalar hendaknya dipadamkan dengan tabung
pemadam api yang berisi gas CO2 atau bubuk pemadam api.
Jangan pernah menggunakan air bila terjadi konsleting. Pasir yang kering bisa
digunakan bila tidak terdapat peralatan yang lain. INGAT bila terjadi kebakaran,
panggil teman untuk memindahkan setiap orang/pasien ke tempat yang aman dan
dekat dengan pintu. Karena untuk mencegah bahaya kebakaran, maka segala serpihan
16

yang mudah terbakar jangan berada dekat atau di dalam bagian yang mengandung
listrik.Udara harus dapat dengan mudah bertukar pada bagian peralatan tersebut
sehingga tidak terjadi peningkatan panas pada bagian itu.
b. Keselamatan peralatan mekanik
Buatkanlah ruangan untuk pesawat sinar-x dan kamar gelap yang cukup besar
agar tidak terjadi kecelakaan pada radiografer dan pekerja lainnya. Periksalah
apakah:Barang-barang perabot terletak secara aman di dinding, lantai atau atap, Kunci
dan gembok berfungsi dengan baik.
Tombol dan pembungkus peralatan terletak dengan aman pada posisinya
sehingga tidak ada jari-jari pasien atau radiografer yang tersentuh atau luka akibat
keadaan tersebut. Sekrup atau mur yang lepas harus diganti dengan ukuran yang
sama.
Periksalah konus dan pembatas sinar-x, apakah tersambung dengan baik ke
tabung sinar-x dan tabung sinar-x tersambung dengan baik dengan penyangganya.
c.

Keselamatan radiasi

Periksalah karet Pb. yang digunakan untuk meyakinkan tidak adanya sinar-x
yang tembus ketika melakukan pemeriksaan (terutama pada eksposi yang dekat
organ/daerah sensitif). Jika karet timbal yang digunakan tidak cukup tebal, maka
gunakan karet timbal yang lebih tebal sehingga tidak timbul kabut pada film hasil.
Apron/Pelindung Pb. Periksalah apron untuk meyakinkan bahwa tidak ada
bagian yang rusak, ingat bahwa bila apron yang digunakan terdapat celah atau
renggang yang kecil sekalipun maka tetap harus dilakukan perbaikan atau
pemindahan letak bagian yang rusak tersebut. Lipatan dapat ditekan dan ditempel
dengan lem perekat untuk menghindari terjadinya berbagai pecahan pada karet Pb.
Jika bagian yang rusak ini telah diperbaiki, hendaknya diperiksa dengan
menggunakan sinar-x apakah masih terdapat kebocoran radiasi.
d. Pengamanan cairan kimia
Cairan kimia untuk pemrosesan film adalah bahan yang berbahaya karena ia
dapatmerusak/iritasi kulit dan menyebabkan uap yang berbahaya ketika terhirup. Oleh
sebab ituventilasi yang baik pada kamar gelap adalah kebutuhan yang mendasar dan
jika ingin membuat larutan kimia hendaknya dilakukan di luar ruangan kamar
gelap/udara terbuka. Perlu dingatkan juga pada petugas yang mengaduk cairan/bubuk
pemroses film agar berhati-hati ketika menuangkan cairan/bubuk tersebut ke dalam

17

air karena bisa terpercik, terhirup atau menempel pada dinding ruangan dan berakibat
larutan menjadi terkontaminasi.
Pakaian pelindung: sarung tangan karet, masker, apron dan kaca mata pelindung
harus digunakan ketika mengaduk cairan kimia. Tangan harus selalu dicuci segera
setelah bekerja dengan larutan. Jika larutan terpercik ke wajah atau mata maka harus
dicuci dengan air bersih.
Penggunaan larutan penetap (fixer) harus selalu hati-hati karena terdapat
kandungan perak (Ag.) yang bisa menyebabkan polusi.

BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan baik dari kajian teori maupun situasi dan kondisi instalasi
radiologi saat ini dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
Kualitas penyelenggara pelayanan radiologi harus memenuhi standar

pelayanan radilologi yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan


Kualitas hasil pelayanan radiografi yang berbentukfoto-foto radiografi belum
mencapai taraf kualitas yang memuaskan, hal ini dikarenakan semua peralatan
radiologi khususnya pesawat rontgen, alat processing film otomatis belum

dikalibrasi secara berkala.


System kegiatan Pemeliharaan harus mengikuti standar pemeliharaan yang
dikeluarkan oleh Badan Pemeliharaan Fasilitas Kesehatan (BPFK)
Departemen Kesehatan.

18

Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Instalasi Radiologi sangat membutuhkan


perhatian khusus.

Keselamatan kerja radiasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan


kondisi agar dosis radiasi pengion yang mengenai manusia dan lingkungan
hidup tidak melampaui nilai batas yang ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

www.scribd.com/doc/144109154/Tugas-K3
http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-NonDegree-22832-BAB%20II_fero.pdf
http://www.academia.edu/7312415/KESEHATAN_DAN_KESELAMATAN_KERJA
_DI_RS
Dr.Ir. Hj. Rusmini B., AIM,MM, 2012. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
Instalasi Radiodiagnostik.
Badan Tenaga Atom Nasional Jakarta, 1985. Pedoman Proteksi Radiasi di Rumah
Sakit dan Tempat Praktek Umum Lainnya

19

20