Anda di halaman 1dari 17

TUGAS

AMINOFILIN

Oleh:
VICTOR JULIUS
0910015045

Pembimbing:
dr. Sjarif Ismail, M.Kes
Dra. Khemasili Kosala, Apt, Sp.FRS
dr. Lukas Daniel Leatemia, M.Kes, M.Pd.Ked
dr. Ika Fikriah, M.Kes

Lab/SMF Ilmu Farmasi/Farmakoterapi


Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman
Samarinda
2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................................................
1
DAFTAR ISI...............................................................................................................................
2
PENDAHULUAN......................................................................................................................
3
Penggolongan Obat dan Nama lainnya........................................................................................
5
Indikasi.........................................................................................................................................
6
Farmakodinamik..........................................................................................................................
6
Farmakokinetik............................................................................................................................
7
Frekuensi Pemberian....................................................................................................................
9
Dosis............................................................................................................................................
9
Interaksi Obat...............................................................................................................................
11
Kontraindikasi..............................................................................................................................
12

Toksisitas......................................................................................................................................
13
KESIMPULAN..........................................................................................................................
16
Daftar Pustaka...........................................................................................................................
17

BAB I
PENDAHULUAN

Aminofilin merupakan preparat teofilin yang paling banyak digunakan untuk


menangani kasus asma serangan akut maupun untuk pengobatan pasien PPOK.
Aminofilin merupakan suatu kompleks antara teofilin dan etilendiamin. Dimana
dengan adanya penambahan etilendiamin, menyebabkan aminofilin lebih larut dalam
air dibandingkan teofilin. Aminofilin dan teofilin masuk kedalam obat asma golongan
methilxanthin. Asma bronkial atau yang lebih dikenal dengan nama asma adalah
suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan tanggapan reaksi baik oleh otot
polos trakea maupun bronkus terhadap berbagai macam rangsangan dengan
manifestasi berupa kesukaran bernafas yang disebabkan oleh penyempitan yang
bersifat menyeluruh dari saluran nafas. Dimana kontraksi dari otot polos saluran
napas memegang peranan kunci dari timbulnya keluhan asma (Katzung, 1998;
Danusantoso, 2000).

Asma akan selalu identik dengan peningkatan respon trakea dan bronki
terhadap berbagai rangsangan dan dengan terjadinya penyempitan jalan napas yang
beratnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun dengan terapi. Asma memiliki
beberapa gejala klinis yang khas seperti berulang-ulangnya serangan episode batuk,
dada rasa terikat, napas yang memendek dan mengalami mengi. Sumber lain
mengatakan bahwa adanya kombinasi sesak napas diikuti rasa dada yang terhimpit,
suara napas yang ngik-ngik dan batuk, disertai sifatnya yang hilang timbul sudah
cukup untuk mendiagnosa seseorang terkena asma (Crockett, 1997; Danusantoso,
2000; Mukty & Alsagaff, 2010).
Teofilin bekerja dengan cara menghambat enzim fosfodiesterase. Dimana
enzim fosfodiesterase berfungsi untuk mendegradasi cAMP. Jika cAMP tidak
didegradasikan maka akan menghambat terjadinya degranulasi sel mast dan kontraksi
otot polos. Karena kadar tinggi cAMP akan membuat dinding sel histamine stabil,
dan mencegah kontraksi dari otot polos bronkus. Menyebabkan bronkodilatasi,
diuresis, stimulasi CNS dan jantung, stimulasi pengeluaran asam lambung dengan

menghambat fosfodiesterase yang akan meningkatkan cAMP jaringan yang akan


menyebabkan

peningkatan

katekolamin

yang

akan

menstimulasi

lipolysis,

glikogenolisis, dan gluconeogenesis dan menginduksi pelepasan epinefrin dari sel


medulla adrenal (Katzung, 1998; Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas
Kedokteran, 2007).
Gugus Kimia Aminofilin

AMINOFILIN

1. Penggolongan Obat & Nama Lainnya


Aminofilin adalah obat golongan metilxantin, dan merupakan preparat teofilin
yang paling banyak digunakan untuk kepentingan pengobatan asma. Aminofilin
merupakan suatu kompleks teofilin-etilendiamin. Merupakan analog sintetik teofilin
yang masa kerjanya lebih singkat dibandingkan teofilin namun memiliki kelarutan
yang lebih baik di air dikarenakan memiliki gugus etilenediamine. Jadi aminofilin
secara struktur kimiawi sama dengan teofilin hanya saja lebih larut dalam air.
Aminofilin biasa diberikan kepada pasien yang sedang mengalami status asmatikus
dan diberikan secara intravena. Teofilin bekerja dengan cara menghambat enzim
fosfodiesterase. Dimana enzim fosfodiesterase berfungsi untuk mendegradasi cAMP.
(Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas Kedokteran, 2007)

Jika cAMP tidak didegradasikan maka akan menghambat terjadinya


degranulasi sel mast dan kontraksi otot polos. Karena kadar tinggi cAMP akan
membuat dinding sel histamine stabil, dan mencegah kontraksi dari otot polos
bronkus. Menyebabkan bronkodilatasi, diuresis, stimulasi CNS dan jantung, stimulasi
pengeluaran asam lambung dengan menghambat fosfodiesterase yang akan
meningkatkan cAMP jaringan yang akan menyebabkan peningkatan katekolamin
yang akan menstimulasi lipolysis, glikogenolisis, dan gluconeogenesis dan
menginduksi pelepasan epinefrin dari sel medulla adrenal (Rau, 2002; Katzung,
1998)
Nama lain dari aminofilin adalah decafil, aminofusin TPN, Konisma,
phaminov, phyllocontin, truphylline, amicain, aminophyllinum, phyllocontin. Setelah
aminofilin per oral di absorbsi di GIT, aminofilin akan didisosiasi menjadi theofilin
dan etilendiamine di darah. Dari segi farmakodinamik dan farmakokinetik hanya
teofilin yang penting. Diciptakannya aminofilin hanya karena lebih larut dalam air
baik pada sediaan oral, ampul, atau cairan (Pramudianto, 2013; Katzung, 1998).
2. Indikasi
Aminofilin sangat cocok diberikan untuk menghilangkan gejala atau
pencegahan asma bronkial dan bronkospasme reversible yang berkaitan dengan
bronchitis kronik dan emfisema. Merupakan obat lini kedua pada serangan akut
terutama pada anak-anak yang tidak memberikan reaksi pada pemberian nebulaizer
beta agonis dan ipratropium bromide dan steroid oral, dan bagi yang ada dalam
keadaan mengancam nyawa (British Thoracic Society, 2009; Anderson, 2007).
Aminofilin yang diberikan secara intravena merupakan indikasi bagi pasien
yang tidak memberikan respon pada pemberian obat inhalasi beta dua selektif agonis
yang juga diberikan kortikosteroid pada serangan asma akut atau penyakit yang
berhubungan dengan penyempitan saluran napas yang masih bersifat reversible dan
penyakit paru yang sifatnya kronik yang berhubungan dengan penyempitan jalan
napas. Belakangan aminofilin juga diindikasikan untuk menstimulasi apnue yang

terjadi pada bayi baru lahir. Dan golongan metilxantin menjadi lini pertama
pengobatan (British Thoracic Society, 2009; Anderson, 2007; Rau, 2002).
3. Farmakodinamik
Ada 2 hipotesa utama yang menerangkan cara kerja dari teofilin yaitu pada
siklik adenosine 5 monofosfat (cAMP) & katekolamin. cAMP diduga mempengeruhi
fungsi sentral maupun fungsi seluler. Sebagian besar system enzim menggunakan
cAMP sebagai perantara atau lebih dikenal dengan nama second messenger yang
akan mempengaruhi fungsi seluler sebagai akibat dari pengaruh hormonal dan obatobatan atau zat lain. Didalam system cAMP hormone atau obat-obatan akan berperan
sebagai first messenger yang akan membawa pesan pertama ke eskstra seluler.
Kemudian hormone atau obat-obatan tadi akan masuk ke dalam reseptor serta akan
mengaktifkan adenilsiklase yang terdapat di membrane sel (Departemen Kesehatan
RI, 2007; Dipiro, Talbert, & Yee, 2001; Hardman, Limbird, & Gilman, 2001).
Dengan adanya ion magnesium, adenilsiklase akan menghambat perubahan
dari cAMP menjadi AMP. Pemecahan cAMP diatur oleh enzim fosfodiesterase.
Inhibisi terhadap enzim fosfodiesterase oleh teofilin akan mengakibatkan peningkatan
kadar cAMP dan mengakibatkan terjadinya respon fisiologis yaitu bronkodilatasi.
Peningkatan katekolamin seperti epinefrin tidak merangsang fungsi seluler secara
langsung, tapi melalui aktivasi adenililsiklase yang akan mengakibatkan terjadinya
penumpukan cAMP. Apabila peningkatan katekolamin bersamaan dengan pemberian
aminofilin akan menyebabkan peningkatan aktifitas efektor yang sinergis dengan
cAMP. Hal ini dapat dibuktikan bahwa pemberian aminofilin secara intravena akan
menyebabkan peningkatan ekskresi epinefrin dan norepinefrin melalui urine.
Peningkatan tersebut berhubungan dengan rangsangan terhadap medulla adrenal.
(Departemen Kesehatan RI, 2007; Dipiro, Talbert, & Yee, 2001; Hardman, Limbird,
& Gilman, 2001).
Teofilin juga bekerja dengan cara menghambat aktivitas adenosine. Dimana
adenosine memiliki dua reseptor. Reseptor A1 yang menstimulasi inhibisi cAMP dan

reseptor A2 meningkatkan jumlah cAMP. Dengan menghirup adenosine akan


menyebabkan timbulnya bronkokonstriksi pada pasien asma. Teofilin adalah inhibitor
poten baik untuk reseptor A1 dan A2. Dan bisa menghambat kontraksi otot polos
yang dimediasi oleh reseptor A1 (Rau, 2002; Departemen Farmakologi Dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran, 2007).
Farmakokinetik (Absorbsi, Distribusi, Half Life, Metabolisme, Ekskresi)
Absorbsi : pada pemberian oral obat ini cepat diabsorbsi dengan konsentrasi serum
maksimal dicapai setelah dua jam. Hal ini setelah meminum 390 mg aminofilin.
Sedangkan setelah pemberian infus aminofilin dengan dosis 5,9 mg/kgBB, kadar
puncak dicapai kurang dari 1 jam. Setelah melewati lambung, aminofilin akan
didisosiasi menjadi teofilin dan etilenediamine. Absorbsi dari teofilin sangat cepat,
namun bisa dipengaruhi oleh adanya makanan.
Distribusi : Teofilin terikat 49-73% dengan protein plasma dalam darah. Teofilin
yang diberikan secara intravena akan berikatan dengan protein plasma sekitar 49-62%
pada 20 menit pertama, dan akan meningkat hingga 53-73% setelah 3 jam (Pharma
Ingredients & Service, 2010) (Agarwal & Nanavati, 1997).
Metabolism : Aminofilin akan dimetabolisme menjadi teofilin. Dengan metabolit
utamanya adalah asam 1-methylurik dan asma 3-methyluric. Metabolisme terutama
terjadi di hati sitokrom P-450 menggunakan microsomal enzim oksidase terutama
CYP1A2 dan CYP3A3 isoenzim. Dimana kerja dari enzim ini sangat dipengaruhi
oleh berbagai hal termasuk obat lain yang dikonsumsi bersamaan dengan aminofilin.
Eksresi : Waktu paruh setelah disuntikan intravena berkisar antara 2,8-6,4 jam
tergantung berat badan pasien. Sedangkan waktu paruhnya jika diberikan secara oral
adalah 3,9-13 jam. Ekskresi teofilin sangat dipengaruhi oleh berat badan pasien, diet,
medikasi lain yang diminum, kegiatan merokok dan adanya penyakit awal seperti
penyakit ginjal. teofilin akan lebih lambat dieksresikan pada pasien dengan gagal
jantung, edema paru, kor pulmonal, dan penyakit hati. Sebanyak 10% akan dieksresi

melalui urine, dan sisanya akan mengalami biotransformasi di hati. Eliminasi teofilin
setelah melewati hati akan keluar melalui feses, dan sisanya melalui ginjal bersama
urine tanpa dirubah. Karena sangat bergantung dengan keadaan pasien maka
eliminasi dari teofilin sangat bervariasi rentang waktunya. Sekitar 7-9 jam untuk
pasien asma tanpa adanya gangguan atau penyakit lain, untuk orang yang merokok
sekitar 4-5 jam, dan untuk anak kecil sekitar 3-5 jam. pasien dengan adanya gangguan
pada hati atau parunya atau terdapat gangguan dijantungnya akan mengeliminasi
teofilin dalam waktu 24 jam.

4. Frekuensi Pemberian
Pada saat terjadinya serangan akut, aminofilin IV diberikan selama 24 jam, diawali
dengan loading dose 6 mg/kgBB selama 20-30 menit jika tidak diberikan teofilin.
Kemudian dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai dengan umur dan status
kesehatan pasien selama 12 jam. Dosis dewasa yang diberikan secara intravena untuk
pasien asma untuk dosis maintenance 380-760 mg/hari dibagi tiap 6-8 jam, dimulai
dengan 380 mg/hari sebanyak 3 kali per hari, dilanjutkan 507 mg/hari tiga kali per
hari, dilanjutkan 760 mg/hari jika masih bisa ditoleransi dengan dosis maksimal 1015
mg/hari (Epocrates, 2013).
5. Dosis Dewasa-Anak & Dosis Maksimal Dewasa-Anak
Frekuensi pemberian dan dosis ditulis berdasarkan monograph aminophylline generic
(Epocrates, 2013)
Dosis dewasa yang diberikan secara intravena untuk pasien asma untuk dosis
maintenance 380-760 mg/hari dibagi tiap 6-8 jam, dimulai dengan 380 mg/hari
sebanyak 3 kali per hari, dilanjutkan 507 mg/hari tiga kali per hari, dilanjutkan 760
mg/hari jika masih bisa ditoleransi. Harus selalu dipantau kadarnya dalam serum

darah dan akan terjadi perlambatan clearance pada pasien tua, gangguan fungsi hati,
gagal jantung, demam, sepsis dengan berbagai macam gagal organ, syok, dan
hipotiroid.
Pada bronkospasme akut akan di loading dose 6 mg/kgBB selama 20-30
menit. Dengan pasien yang sehat tidak merokok diberikan dosis 0,5 mg/kgBB/jam
secara intravena selama 24 jam kemudian dilanjutkan 0,7 mg/kgBB/jam untuk 12 jam
berikutnya. Untuk perokok diberikan 0,8 mg/kgBB/jam lewat intravena secara
intravena selama 24 jam kemudian dilanjutkan 1 mg/kgBB/jam untuk 12 jam
berikutnya. Pada pasien geriatric diberikan dosis 0,3 mg/kgBB/jam secara intravena
selama 24 jam kemudian dilanjutkan 0,6 mg/kgBB/jam untuk 12 jam berikutnya.
Untuk pasien yang akan mengalami keterlambatan ekskresi teofilin diberikan dosis
0,25 mg/kgBB/jam secara intravena selama 24 jam kemudian dilanjutkan 0,5
mg/kgBB/jam untuk 12 jam berikutnya.
Dosis anak untuk dosis pemeliharaan dibagi dua berdasarkan berat badan
anak. Jika beratnya diatas 45 kg maka pemberian dosis disamakan dengan orang
dewasa, namun jika beratnya kurang dari 45 kg maka diawali dengan pemberian
15,2-17,7 mg/kgBB/hari ditingkatkan hingga 380 mg secara intravena yang
pemberiannya dibagi 4-6 jam 3 kali per hari, lalu dilanjutkan 20,3 mg/kgBB/hari
sampai 507 mg tiga kali sehari, dan 25,3 mg/kgBB/hari sampai 760 mg jika masih
bisa ditoleransi, dengan dosis maksimal anak 1015 mg/hari, dan 507 mg/hari pada
keadaan dimana terjadi gangguan clearance obat pada pasien anak dengan gangguan
fungsi hati, gagal jantung, demam, sepsis yang sudah mengalami gagal organ, syok,
dan hypotiroid.
Dosis untuk serangan bronkospasme akut diberikan berdasarkan usia anak.
Untuk anak usia < 6 minggu diberikan dosis 0,25 mg/kgBB/jam secara intravena.
Anak 6 minggu sampai 6 bulan diberikan dosis 0,6 mg/kgBB/jam secara intravena.
Usia 6 bulan sampai 1 tahun diberikan dosis 0,75mg/kgBB/jam secara intravena
selama 24 jam kemudian dilanjutkan 0,8 mg/kgBB/jam untuk 12 jam berikutnya.

10

Anak 1 tahun sampai 9 tahun diberikan dosis 1 mg/kgBB/jam secara intravena selama
24 jam kemudian dilanjutkan 1,2 mg/kgBB/jam untuk 12 jam berikutnya. Pada anak
usia 9 tahun sampai 12 tahun atau perokok muda diberikan dosis 0,9 mg/kgBB/jam
secara intravena. Bisa diberi 4 mg/kgBB IV untuk 10-15 menit pertama, drip 1
mg/kgBB/jam untuk monitoring.
Dosis aminofilin oral untuk dewasa untuk loading dose diberikan 6,3
mg/kgBB sekali kemudian jika pasien tidak merokok dan sehat diberikan aminofilin
oral 12,5 mg/kgBB/hari sedang jika merokok 19 mg/kgBB/hari. Dibagi dalam 6 jam
dan kadarnya tidak boleh melebihi 1125 mg/hari. Untuk anak dengan usia 1-9 tahun
diberikan 24 mg/kg/hari tiap 6-12 jam. Anak 9-12 tahun diberi 20 mg/kg/hari tiap 612 jam. anak usia 12-16 tahun diberi 18 mg/kg/hari tiap 6-12 jam. Anak lebih dari
usia 16 tahun diberikan 13 mg/kg/hari tiap 6-12 jam (Chan, 2004).
Dosis maksimal untuk anak adalah jika < 9 tahun yaitu 30,4 mg/kgBB/hari, 9
sampai 12 tahun yaitu 25,3 mg/kgBB/hari. 12 sampai 16 tahun adalah 22,8
mg/kgBB/hari. Anak atau dewasa diatas 16 tahun dosis maksimal 16,5 mg/kgBB/hari
atau tidak boleh lebih dari 1.100 mg/hari.
6. Interaksi Obat
Teofilin berinteraksi dengan berbagai macam jenis obat. Interaksinya bisa
berupa interaksi farmakodinamik yang akan menyebabkan perubahan pada respon
terapi terhadap teofilin, atau respon terhadap obat lain, atau munculnya efek
merugikan tanpa adanya peningkatan kadar teofilin dalam serum darah. Namun yang
paling sering terjadi adalah interaksi yang menyebabkan perubahan pada
farmakokinetik dari teofilin.
Contohnya adalah kemampuan eliminasi teofilin akan terganggu dikarenakan
adanya konsumsi obat lain yang akan menyebabkan peningkatan atau penurunan
kadar teofilin serum. Namun teofilin sendiri jarang menyebabkan gangguan
farmakokinetik obat lain. Obat yang dapat menurunkan kadar teofilin termasuk
didalamnya adalah aminoglutetimida, barbiturate, hidantoin, ketokonazol, rifampin,

11

perokok, sulfinperazon, simpatomimetik, tioamin, karbamazepin, isoniazid, dan


diuretic kuat. Sedangkan yang dapat meningkatkan diantaranya ada allopurinol, beta
bloker non selektif, penghambat saluran kalsium, simetidin, kontrasepsi oral,
kortikosteroid, disulfiram, efedrin, vaksin virus influenza, interferon, makrolida,
meksiletin, kuinolon, tiabendazol, hormone tiroid.
Teofilin juga bisa mempengaruhi kerja beberapa obat berikut yaitu
benzodiazepine, beta agonis, halotan, ketamine, lithium, relaksan otot, propofol,
ranitidine, dan tetrasiklin. Teofilin juga bisa dipengaruhi waktu paruhnya oleh
makanan. Eliminasi teofilin akan meningkat jika pasien diet rendah karbohidrat
dan tinggi protein. Kebalikannya eliminasi akan menurun jika pasien memakan diet
protein rendah dan karbohidrat tinggi. Makanan akan mempengeruhi bioavailabilitas
dan absorpsi sediaan. Kafein dan alcohol akan meningkatkan efek samping yang
ditimbulkan oleh teofilin.
Sedangkan merokok marijuana akan menurunkan level obat ini didalam
darah. Hal ini dikarenakan merokok akan menyebabkan hati terinduksi untuk
memetabolisme teofilin. Oleh karenanya perkok membutuhkan 50-100% peningkatan
dosis. Teofilin akan meningkatkan sensitivitas organ terhadap digitalis, dan akan
meningkatkan level toksisitas digitalis. Teofilin akan meningkatkan kerja dari
antikoagulan oral, dan pemberian reserpine bersamaan dengan teofilin akan
menyebabkan takikardia.
7. Kontraindikasi
Dikontraindikasikan untuk pasien yang memiliki reaksi hipersensitivitas
terhadap semua xantin, peptic ulser, mengalami gangguan seizure. Pasien yang alergi
terhadap etilendiamine. Tidak boleh diberikan kepada pasien yang mengalami alergi
terhadap kafein atau theobromine. Teofilin juga tidak boleh diberikan bersamaan
dengan obat golongan xanthine lainnya. Karena jika aminofilin dan teofilin diberikan
secara bersamaan walaupun melalui jalur yang berbeda, kemungkinan untuk

12

terjadinya toksisitas dikarenakan kadarnya yang berlebih didalam plasma akan sangat
besar.
Aminofilin juga bukan obat pilihan utama untuk anak dibawah enam tahun.
Pemberian aminofilin secara injeksi merupakan kontra indikasi bagi pasien yang
memiliki penyakit arteri coroner. Selain itu aminofilin injeksi juga dikontra
indikasikan bagi pasien yang memiliki penyakit bronkiolitis atau bronkopneumonia.

8. Toksisitas (Toksisitas pada manusia dan hewan, teratogenik dan


mutagenik, dan adverse reaction).
Pada manusia, reaksi toksisitas berat tidak harus selalu didahului dengan
reaksi toksisitas biasa. Terkadang pasien langsung menunjukkan reaksi toksisitas
berat. Toksisitas yang mengancam jiwa timbul saat konsentrasi teofilin dalam serum
darah sudah mencapai lebih dari 40 mikrogram/ml atau sekitar 220 mikromol/L pada
overdosis kronik. Sedangkan pada overdosis akut, reaksi toksisitas muncul pada
konsentrasi serum teofilin 90 mikrogram/ml atau 495 mikromol/L dan biasanya
dikaitkan dengan toksisitas berat. Aminofilin akan menyebabkan kematian seketika
jika diberikan 500 mg secara intravena yang dikarenakan aritmia jantung.
Uji toksisitas yang dilakukan pada beberapa hewan menghasilkan data sebagai
berikut, tergantung cara pemberiannya kepada hewan coba tersebut. Hewan cobanya
ada mencit, tikus, anjing dan marmot. Ada yang diberikan peroral, intraperitoneal,
intravena, dan intramuskulus (American Regent, 2005).
LD50: 407 mg/Kg oral-rat;
LD50: 246 mg/Kg intraperitoneal-rat;
LD50: 184 mg/Kg intravenous-rat;
LD50: 167 mg/Kg intramuscular-rat;
LD50: 150 mg/Kg oral-mouse;
LD50: 217 mg/Kg intraperitoneal-mouse;
LD50: 186 mg/Kg subcutaneous-mouse;
13

LD50: 194 mg/Kg intravenous-mouse;


LD50: 200 mg/Kg oral-dog;
LD50: 150 mg/Kg intravenous-dog;
LD50: 200 mg/Kg rectal-dog;
LD50: 150 mg/Kg intravenous-rabbit;
LD50: 184 mg/Kg oral-guinea pig;
LD50: 252 mg/Kg intraperitoneal-guinea pig;
LD50: 143 mg/Kg intravenous-guinea pig

Keamanan penggunaan aminofilin untuk kehamilan masih belum ditentukan.


Menurut MIMS aminofilin masuk kedalam obat golongan C. Karena golongan
xanthin mungkin melalui sawar plasenta, maka ditakutkan akan menyebabkan
peningkatan kadar teofilin pada neonatus, sehingga pemakaiannya harus dipikirkan.
Farmakokinetik teofilin akan terpengaruh saat kehamilan sehingga kadar teofilin
harus selalu diperiksa terutama terhadap pasien hamil yang mendapatkan pengobatan
asma aminofilin (Pramudianto, 2013).
Sedangkan untuk masa menyusui, penggunaan aminofilin tidak dianjurkan
dikarenakan teofilin yang merupakan bahan metabolisme dari aminofilin dieksresikan
melalui air susu, sehingga bayi yang meminum susu yang mengandung 10-20 mcg/ml
akan sama dengan meminum teofilin dengan besar 10-20 mg/hari. Penelitian dengan
hewan coba sendiri sudah dilakukan sehingga pada tikus, terjadi penurunan jumlah
anakan tikus yang dilahirkan hidup. Belum dipastikan efek karsinogenik dan tidak
terdapat efek mutagenic melalui penelitian dengan hamster dan Ames Salmonella.
Walaupun selama ini penggunaan aminofilin pada wanita hamil tanpa ada efek
teratogenik atau efek merugikan lain bagi fetus. Namun karena kegawatan yang bisa
muncul saat terjadinya asma, keamanannya saat kehamilan disaat yang sangat
dibutuhkan tidak dipertanyakan (Agarwal & Nanavati, 1997).
Reaksi yang merugikan atau adverse reaction jarang muncul pada
penggunaan teofilin yang masih berada dibawah level 20 microgram/ml. Namun pada
beberapa pasien, bisa saja efek merugikan ini muncul dibawah kadar tersebut. Saat
kadar teofilin dalam darah sekitar 20-25 mikrogram/ml, efek merugikan yang
dirasakan biasanya seperti mual, muntah, diare, sakit kepala, dan insomnia. Saat

14

berada pada level 30 mikrogram/ml, efek merugikan yang dirasakan dapat berupa
keluhan-keluhan yang sama seperti yang muncul pada pasien yang mengalami
overdosis teofilin. Pada dosis yang lebih tinggi lagi dari 30 mikrogram/ml dapat
terjadi kelakuan maniak, delirium, dan kejang (Khaltaev, 2004).
Efek samping yang bisa dirasakan ketika menggunakan teofilin diantaranya
adalah pada system GIT adalah keluhannya seperti mual, muntah, diare,
hematemesis, rasa terbakar diulu hati, nyeri epigastrium, keram, anoreksia,
gastroesofagus reflux, perdarahan gastrointestinal. Pada sistem kardiovaskular bisa
terjadi takikardi, palpitasi, ekstrasistol, peningkatan denyut nadi, hipotensi, atrial dan
ventricular aritmia, vasokonstriksi pembuluh darah perifer, kegagalan sirkulasi
sistemik
Pada system imun bisa terjadi reaksi hipersensitivitas. Pada CNS bisa terjadi
hiperventilasi, vertigo, kecemasan, tremor, kepala terasa ringan, reflex meningkat,
kedutan otot, sakit kepala, insomnia kejang tonik klonik. Penglihatan akan mengalami
gangguan. Sistem Urogenital akan terjadi polyuria & albuminuria. Pada pasien yang
alergi terhadap ethilendiamine akan menyebabkan terjadinya dermatitis pada kulit.
Kulit pasien akan terlihat kemerahan, gatal, makulo-papular skin rash, urtikaria,
dermatitis eksfoliasi. Terkadang pasien juga bisa mengalami demam.
Jika aminofilin diberikan secara intravena, efek merugikan yang dirasakan
pasien dapat berupa nyeri dada, penurunan tekanan darah, pusing, nafas cepat, nyeri
kepala, takikardia dan palpitasi, menggigil, demam, nyeri, dan kemerahan kulit.
Namun efek merugikan ini bisa saja tidak timbul dalam kurun waktu 12 sampai 24
jam.

15

BAB III
KESIMPULAN
Adapun simpulan yang diperoleh dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Aminofilin merupakan obat golongan metilxantin dan memiliki komposisi teofilin
dan tambahan etilendiamin untuk meningkatkan kelarutannya di air.
2. Aminofilin efektif untuk mengatasi serangan asma akut yang tidak mempan obat
lain.
3. Pemberian aminofilin diawali dengan loading dose dan dosis rumatan disesuaikan
status kesehatan dan umur penderita.
4. Aminofilin masuk kedalam kategori golongan obat C bagi ibu hamil.
5. Penggunaan aminofilin dosis besar dapat menimbulkan keracunan yang mampu
berakibat kematian.

16

DAFTAR PUSTAKA

Agarwal, H. S., & Nanavati, R. N. (1997). Indian Pediatric. Transplacental Aminophylline Toxicity.
American Regent. (2005). LUITPOLD PHARMACEUTICALS, INC. Aminophylline Injection.
Anderson, M. (2007). Clinical. The Properties Of Aminophylline.
British Thoracic Society. (2009). Scottish Intercollegiate Guidelines Network. British Guideline on the
Management of Asthma.
Chan, P. D. (2004). Pediatric Drug Reference. California: Current Clinical Strategies Publishing.
Crockett, A. (1997). Penanganan Asma Dalam Perawatan Primer. Jakarta: Hipokrates.
Danusantoso, H. (2000). Buku Saku Ilmu Penyakit Paru. Jakarta: Hipokrates.
Departemen Farmakologi Dan Terapeutik Fakultas Kedokteran. (2007). Farmakologi Dan Terapi.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Departemen Kesehatan RI. (2007). Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Ditjen Bina
Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Asma.
Dipiro, J. T., Talbert, R. L., & Yee, G. C. (2001). Pharmacotherapy A Pathophsyologic Approach. New
York: Mc Graw-Hill.
Epocrates. (2013). An athenahealth. Aminophylline Entire Monograph.
Hardman, Limbird, & Gilman. (2001). The Pharmalogical Basis of Therapeutics. New York: Mc
Graw-Hill.
Karmini. (1998). Karya Akhir. Respon Faal Paru Setelah Pemberian Aminophylline.
Katzung, B. G. (1998). Farmakologi dasar Dan Klinik. Jakarta: ECG.
Khaltaev, N. (2004). World Health Organization. Application for the Inclusion of Aminophylline in the
WHO Model List of Essential Medicines.
Mukty, A., & Alsagaff, H. (2010). Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Airlangga University
Press.
Pharma Ingredients & Service. (2010). Aminophylline Hydrous. BASF The Chemical Company.
Pramudianto, A. (2013). MIMS Indonesia. Jakarta: Buana Ilmu Populer.
Rau, J. L. (2002). Respiratory Care Pharmacology. USA: Mosby.

17