Anda di halaman 1dari 35

MAKALAH KELOMPOK OB-6

MEKANISME PROSES BICARA

DISUSUN OLEH:
Kelompok 12
Ferianto

04121004022

Cindy Hulwani

04121004023

Vanny Putri Natasha

04121004025

Aisyah Humairah

04121004026

Putri Bintang Pamungkas 04121004028

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
TAHUN 2015

1. Mekanisme Proses Bicara
Ucapan manusia dihasilkan oleh suatu sistem produksi ucapan yang
dibentuk oleh alat-alat ucap manusia. 3 komponen utama pembentuk suara adalah
paru-paru, laring dan vocal tract.

Gambar 1. Anatomi yang terlibat pada saat proses bicara

Seperti pola gerakan voluntary lain, berbicara berasal dari cerebral cortex.
Selain itu cerebelum dan batang otak bersama dengan neuron sensori, dapat
memodifikasi dan meregulasi impuls ke neuron motorik yang mengaktivasi
berbagai otot yang terlibat dalam bicara. Bicara juga tergantung pada koordinasi
dari neuron motorik di bagian servikal dan thoraks tulang belakang yang
menginervasi otot yang terlibat dalam pernafasan. Proses bicara terdiri dari dua
tahapan utama, yaitu:1
1. Pertama, formasi di pikiran yang akan diungkapkan begitu juga pilihan
kata yang digunakan (sensorik).
2. Kedua, motor control dari berbagai jalur dan tindakan vokalisasi
(motorik).
Tahap awal dari bicara melibatkan area asosiasi sensori dari otak dan regio
khusus yang disebut wernicke’s area. Area ini berada di bagian posterior dari
gyrus superior temporal. Jika area wernicke pada hemisfer dominan (hemisfer kiri

untuk orang bertangan kanan) rusak, orang tersebut akan mengalami wernicke’s
aphasia, dimana ia dapat mengerti pembicaraan atau tulisan orang, namun tidak
dapat menerjemahkan pikiran yang diungkapkan tulisan tersebut. 1
Regio lain adalah area broca yang juga terlibat dalam bicara. Area ini
berada di prefrontal dan regio fasial premotor dari korteks, sekitar 95% berada di
hemisfer kiri. Pola kecakapan motor untuk mengontrol laring, bibir, mulut, sistem
respirasi dan otot asesori lain yang terlibat dalam bicara semua dimulai disini.
Kerusakan dari broca menyebabkan sesorang mampu untuk memutuskan apa
yang akan ia katakan, namun tidak dapat menghasilkan kata dari sistem vocal,
kecuali suara yang sulit dipahami. Ini disebut motor aphasia. 1
Regio fasial dan langeal dari motor cortex, mengaktifkan motor yang
terlibat dalam artikulasi, dan serebelum, basal ganglia dan sensory cortex,
membantu dalam mengontrol urutan dan intensitas dari kontraksi otot. Kerusakan
dari regio-regio tersebut dapat menyebabkan partial atau total inability untuk
berbicara jelas.1

Gambar 2. Regio otak yang terlibat pada proses bicara
Selain sistem saraf pusat, adapun sistem saraf tepi dan otot-otot yang
terlibat pada saat proses bicara:
Arah
Pergerakan
Adduktor

Saraf yang
mempersarafi
Nervus Laringeus
rekuren

Otot-otot yang berperan
M. Tiroaritenoid
M. Krikoaritenoid
Lateral
M. Interaritenoid

Fungsi Otot-otot
Relaksasi Pita
Suara
Adduksi Pita Suara

Krikotiroid Kontraksi Pita Suara Abduksi Pita Suara Kontraksi Pita Suara Ada beberapa mekanisme yang terjadi dalam tubuh kita selama terjadinya proses berbicara. trakea. epiglotis jatuh.5-2 cm yang berjalan dari paru-paru ke epiglotis. Gas dibawa ke dalam sel tubuh dengan menarik napas mengambil oksigen ke dalam (inspirasi) dan mengeluarkan produk sisa pernapasan berupa karbondioksida dengan menghembuskan napas (ekspirasi). Ketika kita makan. Pertukaran gas terjadi di dalam alveoli. kita memperbesar rongga dada dengan memperluas tulang rusuk sekitar paru-paru dan dengan menurunkan diafragma yang berada di bagian bawah paru-paru dan memisahkan paru-paru dari perut. Trakea.2 Ketika kita menarik napas.Abduktor Cabang Eksterna. Nervus Laringeus Superior Tensor M. turun ke trakea. masuk ke paru-paru. antara lain: 1." yang mengalihkan makanan agar tidak memasuki trakea. Organ pernapasan terdiri dari paru-paru. sehingga udara terburuburu masuk melalui vocal tract. adalah pipa panjang berukuran 12 cm dan diameter 1. Sumber energi dalam sinyal bicara adalah aliran udara . Dalam proses ini organ yang paling berperan adalah paru-paru. yang disebut sebagai "wind pipe".3 Peran respirasi adalah untuk memberikan sumber energi secara tepat dan efisien selama berbicara. dada dan difragma yang berguna dalam aktivitas pernapasan dengan adanya perubahan pada volume paru-paru yang disebabkan oleh pergerakan dada dan difragma. Respirasi Respirasi adalah pertukaran gas dari dalam tubuh manusia dengan lingkungannya. Krikoaritenoid Posterior M. atau "switch. bronki. memungkinkan makanan untuk melewati tabung yang disebut kerongkongan dan masuk ke perut 3. Tindakan ini menurunkan tekanan udara di paru-paru. Epiglotis adalah massa kecil. kantung udara yang terdapat di dalam paru paru.2.

yaitu2: a. sehingga meningkatkan tekanan udara paru-paru. Ketika kita ekshalasi. tapi yang mengubah energi tersebut menjadi suara yang dapat didengar dan yang berperan sebagai motor energi yang menghasilkan suara adalah laring. yaitu sedikit di atas tekanan atmosfer. Kedua: generasi sumber variasi hidung dengan mengontrol aliran udara di atas pita suara. Terdapat 2 cara dalam menghasilkan suara dengan menggunakan organ berbicara. kita mengurangi volume rongga dada dengan mengkontraksikan otot-otot di tulang rusuk.pernapasan yang dikeluarkan oleh paru-paru. Durasi inhalasi dan ekhalasi selama bernapas dan berbicara 2. Pembentukan tersebut disebut vokalisasi. Selama waktu ekshalasi ini. . Fonasi Sumber energi untuk berbicara adalah aliran pernapasan udara dari paru paru. Peningkatan tekanan kemudian menyebabkan udara mengalir melewati trakea ke dalam laring. tekanan udara paru-paru dipertahankan pada tingkat yang konstan. Pertama: generasi quasiperiodic gelombang suara melalui vibrasi pita suara. kita mengambil udara pendek dan menghembuskannya terus menerus dengan mengendalikan otot-otot sekitar tulang rusuk.2. Irama pernapasan di kesampingkan dengan membuat durasi ekshalasi kurang lebih sama dengan panjang sebuah kalimat atau frase.3 Selama berbicara. Skema 1. dengan kontraksi lambat tulang rusuk 2. b.

untuk mengontrol pita suara atau vocal fold. . Ukuran glotis dikendalikan sebagian oleh kartilago arytenoid. otot. memberikan perlindungan yang ketiga. dan otot yang membentang dibagian depan dan belakang laring. yang fungsi utamanya dalam speech production. selain ukuran glotis adalah ketegangan mereka. pita suara palsu. Laring adalah sistem yang rumit terdiri dari tulang rawan. Vocal fold bebas untuk bergerak di bagian belakang dan samping laring. dan pita suara sesungguhnya. Ketegangan dikendalikan terutama oleh otot dalam lipatan. tetapi mereka cenderung terbuka selama speech production. Glotis adalah orifice seperti celah antara dua lipatan.Laring adalah organ fonasi yang mengubah aliran udara pernapasan dari paru-paru menjadi sumber suara1. Mereka dapat ditutup dan dapat bergetar. Vocal fold terikat tetap di depan laring di mana mereka melekat pada kartilago tiroid stasioner. dan sebagian oleh otot-otot dalam lipatan. serta tulang rawan di sekitar lipatan. Vocal fold palsu di atas lipatan vokal. mereka melekat pada dua kartilago arytenoid yang bergerak dalam gerakan geser di belakang laring bersama dengan kartilago krikoid.3 Vocal fold adalah dua masa daging.4 Dapat dilihat bahwa triple barrier disediakan di tenggorokan melalui aksi epiglotis. Mereka juga memanjang dari jakun ke aritenoid. Sifat penting lain dari vocal fold. Laring berperan penting dalam mengatur nada dan kualitas suara. dan ligamen. Pita suara serta epiglotis saling berdekatan selama makan sehingga memberikan mekanisme perlindungan kedua. ligamen. Kartilago tiroid terletak di bagian depan (atau jakun) dari sisi laring. Ketiganya ditutup selama menelan dan terbuka lebar saat bernafas.

8. 7. Selama respirasi tenang (sebelum berbicara) glotis pada keadaan terbuka tetapi. Ketika glotis menutup tekanan subglotal akan meningkat. Akibat kekuatan pita suara dan aliran pernapasan. 3. Saat mengucap.Gambar 3. pita suara berpindah ke garis tengah melalui kontraksi otot. Gelombang suara yang dibentuk terutama selama ratio terbuka. 4. 5. Suara kuat dan rendah memiliki waktu ratio membuka yang kecil sedangkan suara kecil dan nada tinggi adalah sebaliknya 2. Udara akan mengalir ketika glotis terbuka dan tekanan subglotal akan menurun sementara waktu. Dan ketika glotis menutup. 2. . Pita suara akan terdorong oleh paru-paru dan glotis akan terbuka dari atas. Gelombang suara dibentuk oleh glotis mempunyai periode yang sebanding dengan vibrasi pita suara. tekanan subglotal menjadi lebih tinggi dari pada tekanan superglotal. memiliki hubungan dengan intensitas dan nada suara yang dihasilkan. glotis akan menutup. 6. Perubahan pada saat terjadinya vibrasi pita suara Proses vibrasi suara adalah sebagai berikut2: 1. Aliran ini akan ditingkatkan dalam vocal tract sebagai gelombang akustik. Proses 3-8 adalah siklus vibrasi pita suara dan vibrasi akan berlanjut selama adanya tekanan udara dari paru paru yang menjadi sumber energi suara untuk berbicara.

Pada suara tinggi. akan tetapi perbedaanya juga terdapat pada tekanan subglottalnya. dan pita suara laki-laki (17-25 mm) lebih panjang dari pada pita suara perempuan (12. sehingga menimbulkan banyak gelombang suara pada suara tinggi.Skema 2. 2 Selain itu suara setiap orang berbeda dikarenakan . Keadaan glottis dalam berbagai variasi suara Pada suara rendah (Low Voice) dan suara besar (strong voice) pita suara membuka secara membuka secara maksimal.5). Laki-laki memiliki suara yang lebih rendah daripada wanita dikarenaka ukuran laring laki-laki lebih besar daripada wanita. Intensitas suara selama berbicara diatur oleh tekanan paru-paru sedangkan nada yang dihasilkan ditentukan oleh jumlah vibrasi pita suara. akan tetapi perbedaan keduanya yakni terdapat pada tekanan subglottalnya.5 – 17. tekanan subglottalnya lebih besar dibandingkan dengan suara kecil. Pada suara rendah tekanan subglottalnya lebih kecil dibandingkan dengan suara besar. Tekanan pada pita suara meningkatkan frekuensi vibrasi dan peningkatan masa pita suara menentukan tinggi rendahnya nada suara. Pada suara falsetto dan bisikan (whisper) pita suara membuka sebagian tetapi pada falsetto tekanan subglottalnya lebih besar dibandingkan dengan tekanan subglottal suara bisikan. Pada suara tinggi (high voice) dan suara kecil (weak voice) pita suara membuka secara minimal.

otot-otot dan ligamen laring  Pertumbuhan laring ke arah anteriorposterior Laring makin tebal dan panjang Turunnya suara 1 oktaf Perubahan suara pada laki-laki Skema 3. memicu pembesaran ukuran kartilago laring. protrusi ke arah Adam’s apple. hal ini yang menyebabkan perubahan suara pada laki-laki saat pubertas. TR-beta7 . Mekanisme perubahan suara laki-laki saat pubertas . ER.adanya perbedaan ukuran dan bentuk dari organ-organ penghasil suara antara setiap orang.8. Reseptor androgen (AR) akan merespon.9 Reseptor hormon pada laring menyebabkan laring akan sangat responsif pada perubahan hormon. otot-otot dan ligament laring. 5 Laring mempunyai reseptor hormon tiroid dan hormon seks yang terletak pada nukleus dan sitoplasma sel. Hal ini berdampak pada perubahan laring yang mempengaruhi fungsi pita suara. PgR dan AR. Perubahan pada laring akan menyebabkan turunnya suara laki-laki sekitar satu oktaf. terjadi pertumbuhan ke arah posterior-anterior.10 Usia pubertas (9-12 tahun) testosteron dan DHT  Ukuran kartilago laring.6 Reseptor tersebut adalah TR-alpha. Pada laki-laki saat pubertas sekitar usia 9-11 tahun kadar testosteron dan dihydrotestosteron (DHT) akan meningkat. Ukuran laring makin tebal dan panjang.

Ukuran laring tidak terlalu banyak berubah. pertumbuhan ke arah posterior. Progesteron akan memicu pengelupasan epitel laring dan menghambat proliferasi sel. Reseptor estrogen (ER) dan reseptor progesterone (PgR) pada laring akan merespon. Saat awal menstruasi.Pada perempuan usia pubertas umumnya dimulai dari usia 9 tahun. pada wanita hanya turun sekitar 1/3 oktaf. Perubahan ini lah yang bertanggung jawab atas perubahan suara saat siklus menstruasi. Tetapi. terjadi akumulasi cairan di pita suara. Hal ini juga membuat sekresi kelenjar saliva lebih kental yang menyebabkan penurunan getaran pada pita suara dan meningkatnya kerusakan sel. Pada pertengahan siklus menstruasi terjadi fase luteal. kadar progesterone akan meningkat lebih besar dari kadar estrogen. Saat fase ini terjadi edema pada pita suara dan peningkatan aliran darah. pada masa ini suara wanita tidak berubah drastis seperti laki-laki.10 . terjadi fase folikuler yang ditandai dengan peningkatan kadar estrogen dan penurunan kadar progesterone. perubahan terbesar terjadi pada panjang laring. Polisakarida di pita suara akan terurai dan dapat mengikat air lebih mudah. suara wanita berubah saat siklus menstruasi.

Menstruasi Fase folikuler Estrogen  Progesteron  Polisakarida terurai Mengikat air  Akumulasi cairan Pita suara edem dan aliran darah  Fase luteal Progesteron  Estrogen  pengelupasan epitel laring dan menghambat proliferasi sel viskositas sekresi kelenjar saliva  Kerusakan sel  Getaran pita suara  Perubahan suara pada perempuan Skema 4. Mekanisme perubahan suara perempuan saat siklus menstruasi .

saluran suara juga memberikan fonem karakteristik frekuensi resonan 2. Komponen hidung dan mulut dari vocal tract dihubungkan oleh velum.3.1 Organ Artikulasi Bunyi-bunyi dalam bahasa mempeunyai daerah dan organ artikulasinya masing-masing. Selain itu. "ng" seperti memiliki spektrum yang didominasi oleh forman berfrekuensi rendah dari volume besar rongga hidung11. Ketika velum vocal tract diturunkan. semi vokal dan nasal.12 4. Semuanya memiliki perbedaan. 4. misalnya. Daerah artikulasi adalah bagian saluran suara yang tidak bergerak tetapi disentuh oleh organ artikulasi sewaktu berlakunya sesuatu lafaz. terjadi pembukaan ke dalam rongga hidung dan saluran rongga mulut tertutup oleh lidah atau bibir sehingga suara menyebar melalui rongga hidung dan keluar melalui hidung. rongga mulut dan rongga nasal.11 Vocal tract meluas dari laring sampai ke mulut terdiri dari rongga faring. Bentuk saluran suara berbeda-beda dan dapat berubah sesuai dengan bentuk lidah. Artikulasi Artikulasi merupakan pergerakan mulut dan lidah yang membentuk suara menjadi fonem. Proses ini akan menghasilkan suara hidung. Dalam proses resonansi suara akan dimodifikasi dengan cara diperkuat maupun diperkecil oleh ruang resonansi yang berada di lehar dan kepala untuk membentuk voice speech sound dan menghasilkan perbedaan kualitas suara. Saluran suara bekerja sebagai resonator yang menghasilkan vokal. Resonansi Resonansi berbicara adalah modifikasi dari suara vibratori yang diproduksi di laring dengan melewati ruang resonansi yang berada di leher dan kepala. faring. bibir dan rahang. Organ . Organ artikulasi (artikulator) merupakan organ lisan di dalam saluran suara yang terlibat dalam pengeluaran bunyi bahasa. dan seetiap satu menghasilkan perbedaan bunyi-bunyi yang terucapkan. Vocal tract memiliki 2 peran utama yaitu sebagai resonator sumber suara dan sebagai penghasil berbagai sumber suara hidung tanpa disertai vibrasi pita suara dengan mengontrol aliran udara di atas pita suara. palatum lunak.

 Lidah merupakan alat yang paling aktif dalam menghasilkan bunyi bahasa. Artikulator aktif Merupakan organ dalam saluran suara yang bergerak seperti lidah. Lidah terbagi atas ujung lidah. Organ Articulator Sumber : Phonology in English Language Teaching: An International Approach Organ artikulasi terbagi atas artikulator aktif dan artikulator pasif. palatum lunak dan gigi bawah. . bibir.13 Gambar 4. lidah bagian depan dan belakang.artikulasi seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan organ yang digunakan untuk menghasilkan bunyi manakala daerah artikulasi merupakan kawasan menghasilkan bunyi tersebut. - Ujung lidah dapat digerakkan ke depan dan ke belakang untuk menghasilkan bunyi. 12 a.

dihasilkan dengan keadaan rongga mulut atau hidung yang sempit atau bahkan tertutup dengan adanya pergerakan artikulasi. Bunyi konsonan. bunyi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi terjadinya suatu suara. alat yang lain dapat menyentuhnya.13 a.  Palatum keras. 2. tidak dapat digerakkan. Bunyi vokal. atau bibir atas menyentuh gigi bawah dan sebaliknya untuk menghasilkan bunyi. Artikulator pasif Merupakan organ dalam saluran suara yang tidak bergerak seperti gigi atas dan palatum keras. dapat digerakkan ke bawah untuk menyentuh belakang lidah dan ini dapat menghasilkan bunyi sengau. hanya dapat disentuh oleh alat artikulator aktif seperti lidah. b. Bunyi Dari proses terjadinya bicara.  Belakang lidah dapat diangkat menyentuh palatum lunak. sama halnya dengan gigi atas. Bibir.- Depan lidah dapat diangkat ke atas menyentuh palatum keras.14 Pada dasarnya bunyi bahasa terdiri dari. yaitu konsonan dan vokal. kedua-dua bibir dapat digerakkan menyentuh antara satu sama lain. Dengan adanya dihasilkan bunyi seseorang akan mudah melakukan suatu interaksi.  Gigi. Bunyi dihasilkan dengan adanya udara dan dibantu dengan organ artikulasi yang berada pada daerah artikulasi (place of articulaton) serta bagaimana cara artikulasi (manner of articulation) atau sama sekali tidak adanya artikulasi. gigi bawah dapat digerakkan ke bawah untuk menyentuh bibi atas  Palatum lunak.  Gigi atas. Oleh karena itu. b. dihasilkan dengan membentuk rongga mulut sedemikian rupa sehingga mengeluarkan bunyi dengan tidak .

vocal tract berasumsi bentuk [i] .adanya hambatan pada alat bicara atau tidak adanya pergerakan artikulasi. misalnya [i. Ketika vocal tract dianggap sebagai tabung dengan dua segmen (lubang depan dan belakang). yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan pranan lidah bagian tengah. o. 4 Vokal dapat diklasifikasikan berdasarkan tinggi rendahnya lidah. vokal dapat dibedakan atas : 1) Vokal tinggi. misalnya [a]13  Bagian lidah yang bergerak13 Berdasarkan bagian lidah yang bergerak.o] 3) Vokal rendah. yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan peranan turun-naiknya lidah bagian depan misalnya. 2.1 Bunyi Vokal Bunyi vokal sendiri tidak melibatkan beberapa alat artikulasi. bagian lidah yang bergerak striktur (penyempitan). misalnya [ᵊ] 3. vokal dibedakan atas: 1. 13  Tinggi rendahnya lidah Ketika rahang dalam posisi tinggi dan lidah dalah posisi di depan tinggi. Organ artikulasi yang sangat mempengaruhi bentuk vocal tract untuk vokal adalah lidah. u] 2) Vokal madya.a] 2. a] . Vokal depan. Vokal tengah. Vokal belakang. misalnya [e. ᵊ. misalnya[u. yaitu vokal yang dihasilkan oleh gerakan peranan turun naiknya lidah bagian belakang (pangkal lidah). dan bentuk bibir. pergerakan badan lidah antara posisi belakang rendah dan depan tinggi menciptakan bentuk divergen dan konvergen dari vocal tract.[ i.e.Berdasarkan tinggi rendahnya lidah.

titik tertinggi dalam pelafalan [i] adalah depan lidah. striktur untuk vokal ditentukan oleh jarak lidah dengan langit langit. Oleh karena vokal tidak ada artikulasi. yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat setinggi mungkin mendekati langit langit dalam . Hal ini dikarenakan [i] merupakan vokal depan.Jika anda mengatakan [i] dan kemudian [u] setelahnya. vokal dibedakan atas empat macam. Menurut strikturnya. anda merasakan bahwa anda menggerakkan lidah anda kebelakang. 1) Vokal tertutup. atau dengan kata lain. dan [u] vokal belakang. Posisi lidah pada saat pelafalam vokal  Striktur Keadaan hubungan posisional artikulator aktif dengan artikulator pasif. Ilustrasi pelafalan i dan u Gambar 6. (lihat ilustrasi gambar)15 Gambar 5. sedangkan titik tertinggi dari [u] adalah belakang lidah.

Letaknya pada garis yang menghbungkan vokal [ε]. yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah dalam posisi serendah mungkin. vokal dibedakan atas tiga macam. vokal [ᵊ] dan [o] adalah semitertutup.u] 2) Vokal netral. [i] dan [u] menurut strikturnya merupakan vokal tertutup. yaitu vokal yang dibentuk lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga dibawah terttutup. 3) Vokal terbuka. misalnya vokal [o. a.  Bentuk Bibir14 Berdasarkan bentuk bibir pada waktu vokal diucapkan. dan dengan demikian vokal itu termasuk vokal terbuka. ε] . ᵊ. 3) Vokal tak buat. terletak pada garis yang menghubungkan vokal [ᵊ] dan [o]. Jadi. misalnya vokal [a] terbuka bulat. yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir tidak bulat atau terbentang lebar. 2) Vokal semi tertutup. yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir bulat. yaitu vokal yang diucapkan dengan bentuk bibir dalam posisi netral. kira-kira pada garis yang menghubungkan vokal [a]. 4) Vokal semi terbuka. Misalnya vokal [l. Vokal terttutup ini dapat digambarkan terletak pada garis yang menghubungkan antara [i] dan [u]. 1) Vokal bulat. e. yaitu vokal yang dibentuk dengan lidah diangkat dalam ketinggian sepertiga di atas vokal yang paling rendah atau dua pertiga di bawah vokal tertutup.batas vokal. atau dua pertiga di atas vokal yang paling rendah. Jadi. dalam arti tidak bulat tetapi juga tidak terbentuk lebar.

jika pita suara tidak digunakan. dan Cara Berartikulasi (Manner of Articulation). Dalam posisi normal. Voiced dan voiceless sering ditujukan pada bagian glotis dengan dan tanpa getaran (vibrasi) dari pita suara. suara disebut voiceless. lipatan dari pita suara terpisah atau dikatakan glotis terbuka. Konsonan dihasilkan oleh beberapa hal yang mempengaruhinya. Ketika tepi pita suara lipatannya .2.16  Voicing16 Voicing memiliki pengertian bahwa pita suara digunakan. Tempat Artikulasi (Place of Articulation).2 Bunyi Konsonan Konsonan merupakan suara yang dibuat dengan menutuo atau sedikit menutup artikulasi. yaitu Voicing.

/b/(bill) dan /p/ (pill). . dimana [s] adalah voicedless dan [z] adalah voiced. Ada empat fonem bilabial : /m/ (mill). /w/ (will). b) Labio-dental. ada yang melewati glotis biasanya akan menyebabkab getaran. Hal ini akan menghasilkan suara labiodental.  Tempat Artikulasi12 a) Bilabial. anda dapat mendengarkan getaran dari [zzzzz] dengan menempelkan jari anda kedalam telinga anda. Jika anda berkata {sssssszzzzzssssss}. Membuka dan menutup ini diulang secara teratur dan menghasilkan apa yang disebut voicing. pelafalan dengan bibir bawah menyentuh gigi atas. Ketiga huruf pertama merupakan voiced. yaitu /f/ dan /v/. Perbedaan antara kata pertama dari “sue” dan “zoo” sebagai contoh.saling menyentuh. merupakan suara yang melibatkan bibir atas dan bibir bawah yang saling beratikulasi. atau kamu dapat merasakannya dengan menyentuh bagian depan laring anda atau yang disebut dengan jakun (Adam‟s apple). dan /p/ merupakan voiceless.

c) Lingua-dental. e) Lingua-prepalatal. Pada artikulasi ini dapat dilakukan dengan ujung lidah atau daun lidah. Konsonan yang merupakan voiced : /n/ (nip). Dan yang merupakan voiceless adalah /t/ (tip) dan /s/ (sip). /d/ (dip). yaitu daun lidah menyentuh atau dekat menyentuh bagian dimana alveolar berhubungan dengan bagian . pelafalan dengan meletakkan lidah diantara gigi sehingga depan lidah diperluas menuju gigi. Fonem terdiri dari /θ/ (thin) dan /đ/ (then). d) Lingua-alveolar. Dimana /θ/ (thin) merupakan voiceless dan /đ/ (then) merupakan voiced. /z/ (zip) dan /l/ (lip). pelafalan pada ujung lidah dan/atau daun lidah berartikulasi menyentuh alveolar bergelombang) sekaligus mengenai ridge (bagian yang punggung gigi.

Konsonan tersebut ialah /y/ (yellow) dan bersifat voiced. f) Lingua-palatal. g) Lingua-velar. dan /eng/ (heng). pelafalan dibentuk dengan menyempitkan glotis (udara melewati melalui laring).depan palatum. Konsonan yang merupakan voiceless ialah /k/ (kat). [„a]. Dua suara glottal yang biasa. dan voiced ialah /g/ (gut). . yaitu [„a] dan [h]. yaitu pelafalan konsonan diproduksi dengan lidah bagian belakang berkontak velum (palatum lunak). Konsonan voiceless adalah /sh/ (mash) dan /ch/ (match) sedangkan voiced adalah /r/ (red) dan /j/ (judge). suara ini diproduksi dengan adanya aliran udara yang tertutup pada glotis. h) Glottal. pelafalan konsonan Pada bagian depan lidah menyentuh bagian depan palatum (dan/atau tengah palatum).

/n/ (hun) dan /ng/ (hung). Gambar 7. Contoh /m/ (hum). Dan juga dipengaruhi dengan cara dari artikulasi. Posisi lidah dan velum untuk produksi ng/ . penutupan dibuat dua bibir bersamaan. /ng/ dibuat dengan belakang lidah menyentuh velum. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan mendefinisikan perbedaan voiced dan voiceless yang sudah dijelaskan sebelumnya. Alat artikulasi pada mulut. tetapi udara keluar melalui hidung karena velum yang merupakan bagian palatum lunak pada bagian belakang atas mulut diturunkan dan membiarkan udara menuju hidung. Cara Artikulasi 12 Suara pada bahasa dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara. /n/ dibuat dengan ujung atau daun lidah menyentuh alveolar ridge. Untuk /m/. - Nasal (sengauan) Konsonan dihasilkan pada kedua hidung dan mulut.

dihasilkan dengan 3 tahap: 1) Pembicara melakukan 2 artikulator untuk membentuk penutupan sempurna. mengeluarkan udara yang tertahan dibelakangnya dalam sebuah letupan atau ledakan dari suara. /p/ dan /k/. Stop merupakan suara yang dibuat dengan penutupan sempurna atau penghentian dari aliran udara yang datang dari paru-paru. Contoh /b/ dan /p/ merupakan stops sedangkan /v/ dan /f/ merupakan continuants. yang secara sempurna menutup aliran keluar dari mulut. juga berbentuk plosive. Stops. Continuants adalah suara yang mana penghambatan dari aliran uda hanya sebagian. Contohnya coba anda coba pada ketiga pelaflan ini pada tempat artikulasi yang berbeda. Sistem stop merupakan simetris yang mana pada voice dan voiceless diproduksi . melalui mekanisme menaikkan velum hingga membuat posisi menutup pada bagian tinggi di dinding belakang faring. sehingga suara dapat dipanjangkan selama periode waktu. 3) Pembicara sangat cepat membuka bagian penyempitan tersebut. 2) Penyempitan ini ditahan untuk momen yang singkat. Seluruh suara mulut menaikkan velum sehingga udara keluar melalui mulut dibandingkan hidung. selama waktu udara datang dari paru-paru menghasilkan tekanan dibelakang bagian yang menyempit. /t/.- Stop dan Continuants Stop dan continuant merupakan suara mulut yang dihasilkan dengan penutupan velum.

Dua pada linguo-alveolar /s/ dan /z/ dan dua lainnya linnguaprepalatal. Affrikatif merupakan paduan dari stop dengan frikatif atau yang disebut . /p/ dan /b/ dibuat pada tempat yang sama yaitu pada bibir (bilabial) Gambar. Dua konsonan pada linguaprepalatal yaitu /ch/ dan /j/. dibandingkan membuka semua sekaligus menjadi letupan suara seperti berhenti biasa. /f/ dan /v/. - Affrikatif Suara yang mulainya stop tetapi kemudian dibuka dengan sedikit menjadi frikatif. terdapat sebuah perkiraan tertutup. Dua fonem frikatif yang dihasilkan pada labiodental tempat artikulasinya. /sh/ dan /th/. meskipun bukan penutupan sempurna aliran udara.pada tempat yang sama. yang mana menghasilkan pergolakan yaitu friksi (pergeseran atau pergesekan). Posisi lidah dan velum untuk produksi /g/ dan /k/ - Frikatif Dalam menghasilkan frikatif. dan dua lainnya pada linguo-dental /θ/ (thin) dan /đ/ (then).

Dan /l/ dihasilkan secara lateral. sedangkan akhirannya adalah bilabial approximant. yang mana salah satu artikulator menutup artikulator lainnya. . dengan beberapa penutupan satu atau dua sisi dari lidah dan langit mulut (palatum). area yang lebar pada depan lidah membuat membentuk sebuah penyempitan pada depan (dan/atau tengah palatum). Dalam menghasilkan /r/. Untuk /y/.dengan obstruent. /r/ merupakan aproksiman. Untuk /w/. dua bibir datang terhadap satu sama lain-tetapi tanpa bersentuhan-dalam gerak isyarat membulat. tetapi tidak begitu menutup untuk menyentuhnya atau menyebabkan pergesekan. /h/ termasuk glottal approximant. - Approximant Satu artikulator bergerak menutup artikulator lainnya. dalam sistem tersebut tidak memiliki pasangan voiced dan voiceless. ujung lidah lebih jauh ke depan daripada /r/. pembentuk adalah palatal approximant. meskipun tidak begitu menutup untuk mengakibatkan gangguan dari aliran udara. yang dihasilkan dengan udara bergegas melalui glotis yang terbuka. dan belakang lidah dinaikkan. tetapi tidak menyentuh belakang alveolar ridge. Untuk /y/ dan /w/. Ujung lidah atau daun lidah dekat. Untuk /l/. Juga posisi bibir lebih melebar daripada /r/. /r/ umumnya ujung lidah ditekuk ke atas (posisi retrofleks). Sistem aproksiman tidak memiliki simetris yang ada pada sistem konsonan lainnya.

 Sistem Konsonan12 Klasifikasi sistem berdasarkan tempat artikulasi dan cara artikulasi suara. Hubungan pada terjadinya fonem diklasifikasikan sebagai .Frikatif /v/ voiced labiodental fricative (vas over stove) /f/ voiceless labiodental fricative (fat offer stuff) . Sedangan /x/ merupakan konsonan srop /k/ terjadi dalam gabungan dengan frikatif /s/.Approximant /l/ voiced (lingua-alveolar)(lala pala pal) lateral approximant Untuk huruf /x/ dan /q/ merupakan gabungan dari kedua konsonan. .Stops /b/ voiced bilabial stop (bit obi lob) .Nasal (Initial Internal /m/ bilabial nasal (mill Final) dimer dim) . intial. internal. final. Tempat Artikulasi Bilabial Cara Artikulasi Nasal m Lingua-alveolar n Lingua-velar ng Labiodental Frikatif v Voicing Stops voiced b voiceless p voiced d voiceless t voiced g voiceless k Voicing Afrikatif voiced .Afrikatif /j/ voiced lingua-prepalatal affricative (je leje ej) /ch/c/ voiceless lingua-prepalata (cuka lecet etch) affricative . Contoh /q (kw)/ (queasy) dimana konsonan stops yaitu /k/ terjadi dalam gabungan dengan aproksiman /w/.

. “V”diganti dengan “th”. Sistem Terjadinya Konsonan Adapun suara perut (ventriloquisme) merupakan modifikasi dari suara normal. sehingga membuat bibir dan rahang tidak bergerak saat berbicara. Pada suara perut. hanya saja perbedaanya terletak pada bagian artikulasinya. Q diganti dengan “Koo”. “m” diganti dengan “Nah atau neh”. dan W diganti dengan “ooh”.lingua-dental Lingua-alveolar linguaprepalatal f th (thing) th (then) z s voiceless voiced voiceless voiced voiceless voiced j voiceless ch/c Approximant Central Voicing Lateral w voiced voiceless voiced l voiceless sh Bilabial Lingua-alveolar Linguaprepalatal r voiced voiceless Lingua-palatal y voiced voiceless Glottal voiced h voiceless Tabel 2. Huruf-huruf yang seharusnya diucapkan dengan suara labial diganti dengan gabungan huruf serta pola pengucapan yang berbeda sehingga suara yang dihasilkan menyerupai suara labial. “P” diganti dengan “kl”. pola pengucapannya tidak menggunakan suara labial. Contohnya pengucapan huruf “f” diganti dengan “th”.

dll Respirasi Fonasi Resonansi Artikulasi . mulut. lidah. vocal fold. bibir. laring.MEKANISME PROSES BICARA Rangsangan auditori Thalamus Korteks auditori (girus heschls) Dikirim ke lobus temporal (wornicke area) Menuju ke area broca di lobus frontal Korteks motorik (lobus frontal) Otot respirasi.

Lidah tidak cukup menempati jarak rongga mulut sehingga protrusi melewati alveolar ridge. Microglossia kebalikan dari macroglossia.5 1) Maxillary retrusion (midface deficiency) Karakteristik kelainan ini adalah maksila yang relatif kecil daripada mandibula dengan adanya anterior crossbite dan maloklusi klas III. Keadaan ini dapat menyebabkan kesulitan menghasilkan bunyi lingua-alveolar (ch.2. n. Macroglossia adalah keadaan dimana lidah sangat besar. b. n.z) b.4. ujung lidah terletak lebih anterior dari alveolar ridge dan gigi rahang atas sehingga dapat mempengaruhi produksi bunyi anterior seperti bunyi lingua-alveolar (t. bunyi labiodentals (f dan v). akan terjadi kesulitan dalam memproduksi bunyi bilabial (p. yaitu ukuran lidah yang kecil terutama dalam relasi dengan jarak pada rongga mulut. 2) Bibir Panjang bibir atas dalam keadaan normal dengan protrusif premaksila dapat menunjukkan bibir yang lebih pendek dan dapat berpengaruh pada penutupan bilabial. t) dan menyebabkan perubahan suara berdesis frontal atau lateral (s. Dalam proses berbicara normal. sh. bunyi lingua-palatal (j). d. t). Ankyloglossia atau “tongue tie” adalah kondisi dimana frenulum lingualis secara kongenital pendek dan melekat pada ujung lidah bagian anteriornya. b. m). Saat bibir atas pendek. L. L. dan bunyi bilabial (p. Ankyloglossia sedikit berpengaruh pada proses berbicara karena sangat sedikit peran ujung lidah yang diperlukan dalam memproduksi bunyi yang normal. Kelainan Pada Proses Bicara2. tetapi sering tidak ada efek merusak pada proses berbicara c. z. s. Ketika keadaan ini terjadi. ch). n. fungsi lidah paling jauh adalah melawan bagian palatal dari insisivus rahang atas . d. l. d. 3) Lidah a. Makroglosia dapat mempengaruhi produksi dari bunyi linguaalveolar (ch. m).

hal ini membatasi jarak dari rongga mulut yang dapat menyebabkan protrusi pada lidah. Relasi insisivus  Overjet adalah relasi horizontal gigi insisivus rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan oklusi yang diukur dari permukaan labial dari insisivus mandibula ke permukaan labial dari insisivus maksila. terutama pada suara yang dibentuk oleh ujung lidah. datar. Anterior crossbite dapat mengganggu penempatan bunyi labiodental (f. d. Insisivus maksila yang linguoversi dapat mengganggu perpindahan ujung lidah. Artikulasi bilabial akan diganti dengan bunyi labiodental. Labioversi mempengaruhi proses berbicara dengan menghalangi penutupan bibir. Completecross bite menyebabkan kegagalan dalam berbagai suara. Apabila insisivus rahang atas letaknya lebih ke anterior dan overjet lebih dari 2 mm dapat dikatakan gigi tersebut labioversi.t. Posterior crossbite dapat membatasi ukuran dari rongga mulut sehingga menyebabkan distrosi pada proses berbicara karena gigi sering terbuka saat artikulasi untuk mengimbangi keadaan ini. atau sempit. v) karena kesulitan untuk menarik bibir bawah ke bagian lingual pada insisivus maksila. Hal ini mengubah produksi suara bilabial.  Underjet adalah kebalikan dari posisi insisivus yang normal sehingga insisivus rahang atas lebih ke arah lingual dari insisivus rahang bawah. . n. L. z) 5) Keadaan gigi yang mempengaruhi proses berbicara antara lain: a. 4) Palatum Ketika palatal arch dalam keadaan rendah. Lidah yang protrusi dapat mempengaruhi ujung lidah dalam posisi yang abnormal untuk artikulasi ujung lidah (ch.untuk menghasilkan bunyi th dan lidah diangkat ke alveolar ridge untuk menghasilkan bunyi l.s. Dapat dikatakan pula sebagai linguoversi atau anterior cross bite. yang berpengaruh pada produksi bunyi lingual-alveolar dan berdesis. berkaitan dengan jarak yang terbatas dalam pergerakan lidah.

Selain itu. misalnya pada bunyi lingua-alveolar (t. Dengan tidak adanya gigi anterior maksila. Dimensi vertikal terlalu tinggi dapat menyebabkan perubahan suara bilabial (p. Kehilangan gigi anterior maksila Bagian lingual dari gigi anterior maksila dibutuhkan oleh lidah untuk pengucapan yang tepat. Kesalahan penyusunan gigi akan menyebabkan gangguan bunyi labiodental ( f.d. karena terlalu dekatnya gigi depan atas dan bawah sehingga terjadi kontak dini. Rugae palatina tidak dibuat atau dibuat terlalu tebal. Overbite adalah tumpang tindih secara vertikal dari insisivus rahang atas dan rahang bawah. 6) Pemakaiaan gigi tiruan a. kekeliruan dapat menyebabkan penyempitan lengkung gigi sehingga pengucapan huruf s akan jadi berdesis. Biasanya mengganggu pengucapan s. z. maka dapat mengganggu proses pengucapan. pada gigi depan. Pada gigi belakang. akan terjadi sigmatismus interdentalis. Bunyi (r) terbentuk oleh kontak lidah dengan palatum keras dimana rugae palatina berada. yaitu perubahan suara terutama pada pengucapan huruf s jadi berdesis. yang mana akan berpengaruh pada produksi suara linguo-alveolar. Bila dimensi vertikal ditentukan terlalu rendah. th. terjadi clicking teeth. b). bunyi lingua-velar (w) danbunyi linguodental (th). Semakin besar angka overbite dapat dihubungkan dengan deep bite atau deep over bite. b. terutama pada pasien yang sudah kehilangan banyak gigi. Dengan tidak dibuatnya rugae. Basis gigi tiruan yang terlalu tebal dapat mengganggu pergerakan lidah.c. Deepbite terkadang dikaitkan dengan crowding atau pembatasan gerak lidah. d. sehingga suara menjadi tidak jelas. b. v) . .s.z) dan bunyi lingua-palatal (r). Penentuan dimensi vertikal yang tidak tepat. c. berupa gangguan suara pada saat pengucapan huruf s. maka lidah akan .

z alveolar maxilaris d.terpeleset di daerah ini. Dukungan sayap labial.clicking teeth pada pemakaian gigi tiruan s jadi berdesis Dimensi vertikal terlalu rendah pada pemakaian gigi tiruan Kesalahan penyusunan gigi tiruan bagian posterior L Ankyloglosia ch. L Microglossia s. z Macroglossia Maksila yang relatif kecil Lidah Rahang daripada mandibula + anterior crossbite dan maloklusi klas III palatal arch dalam keadaan rendah. z Basis gigi tiruan yang terlalu tebal s tidak jelas Dimensi vertikal terlalu tinggi. b dibutuhkan dukungan otot pipi dan bibir. s. karena itu ketebalan sayap labial harus sesuai dengan derajat resorpsi tulang alveolar. d. e. Untuk pengucapan huruf p. n. Tabel kelainan pengucapan Bunyi Huruf yang Keadaan Organ Kehilangan gigi anterior Gigi dihambat Bunyi lingua- s.t. sehingga akan terjadi gangguan pengucapan huruf r. atau sempit sehingga membatasi jarak dari rongga mulut Lidah protrusi Palatum . datar.t.

m Bibir Bibir atas normal + protrusif premaksila bibir jadi Gigi lebih pendek p. b.Insisivus maksila yang Gigi linguoversi Completecross bite Deep bite atau deep over bite Bunyi bilabial Bibir atas pendek p. v labiodental maksila yang relatif kecil Rahang daripada mandibula + anterior crossbite dan maloklusi klas III Kesalahan penyusunan gigi Gigi tiruan bagian anterior Anterior crossbite Bunyi lingua- th dental Kehilangan gigi anterior maxilaris Kesalahan penyusunan gigi tiruan bagian anterior Bunyi lingua- j palatal Maksila yang relatif kecil Rahang daripada mandibula + anterior crossbite dan maloklusi klas III c Basis gigi tiruan yang terlalu r tebal Gigi .b Dimensi vertikal terlalu tinggi pada pemakaian gigi tiruan Dukungan sayap labial yang terlalu tebal atau tipis p v Overjet lebih dari 2 mm dan insisivus rahang atas letaknya lebih ke anterior Bunyi f.

Rugae palatina tidak dibuat atau dibuat terlalu tebal Bunyi linguavelar w Kesalahan penyusunan gigi tiruan bagian anterior .

H. Li W. Expression of androgen receptor and estrogen receptor in carcinoma of larynx. Wang J. 3. Radosevich JA. 1.A 14. 2005. Huang. B. May/June 2013.113(11):1931-4. Chaer. Pesona Bahasa Langkah awal Memahami Linguistik. Berkovit.A 15. Editorial: Brain Areas Involved in Speech Production. Lauder Multamia RMT. University of Oldenburg. Gray SD. Dronkers and Ogar.G. Laryngoscope. 2003 Nov. 105. Dardjowidjojo Soenjono. 5. Shadle. 16. 201 Hospital of PLA. and P. 444–455. 13. Schepens. 2. Japan: Ohmsha. 7. Kopp PA. Butler J.376– 380 9.DAFTAR PUSTAKA 1. Phonetics and Phonology Reader for First Year English Linguistics. Abdul.The Expression of Estrogen and Progesterone Receptors in the Human Larynx. Garden City. The Speech Chain: The Physics and Biology of Spoken Language. Kenneth W.B. Pennington Martha C.O. 1999. Davies.14(1):7281. Speech. Anchor Press-Doubleday. 1: Measurements and Theory. Department of Otolaryngology. vol. J Voice. C. Hammond EH. “Fluid Flow in a Dynamical Mechanical Model of the Vocal Folds and Tract. Jakarta: Rineka Cipta. Dave Carlson. Haines GK 3rd. The Effect of Hormones on the Voice. Vakkalanka SK. Peutz-Kootstra. Preliminary report on hormone receptors in the human vocal fold. Newman SR. Springer Handbook of Speech Processing. Master Dentisty Vol. 2007.27(3). Kiyohiro Shikano dan Yoichi Tohkura. 2011. Phonology in English Language Teaching: An International Approach. pp. Kross.L.A.F. 8. no. Elsevier. 2004. Jan. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. 11. Yuwono Untung. Aspect of Communication Sciences and Disorder. Acoustical Society of America. 1973.. 2000 Mar. Ji W. USA : Routledge. Sondhi. P. Sataloff. Carine J. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Janneke J. Identification of thyroid hormone receptors in the human larynx.” J. 1995. B.2006 Jul. 10. Khusartanti. China. Pinson. Barney. 2008. Guarantors of Brain.B. K. . 2003. Ltd. Jan W. Sameep Kadakia. Benesty. 6. NY. 12. Journal of Voice. Hearing and Network Models. Vol 127: p 1461-1462. 69(5).N. Chen B1. 1996.3 Oral Biology. Journal of Singing. 2005. Altman KW. 2013 May. Linguistik Umum. Seiichi Nakagawa. and Robert T. Brunings.20(14):649-51. Hamann Cornelia.571– 574. Schmitz Carmen. 4. Keni SP. USA : Springer. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAPI. Liaoyang 111000. Denes and E. A.