Anda di halaman 1dari 13

Pembibitan

Pembibitan dapat dilakukan dengan satu tahap atau dua tahap pekerjaan. Pembibitan
satu tahap berarti kecambah kelapa sawit langsung ditanam di polibag besar atau langsung di
pembibitan utama (main nursery). Pebibitan dua tahap artinya penanaman kecambah
dilakukan di pembibitan awal (prenursery) terlebih dahulu menggunakan polibag kecil serta
naungan, kemudian dipindahkan ke main nursery ketika berumur 3-4 bulan menggunakan
polibag yang lebih besar (Dalimunthe, 2009).
Pembibitan dua tahap (double stage) lebih banyak digunakan dan memiliki
keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan pembibitan satu tahap. Jika menggunakan
pembibitan dua tahap, luasan pembibitan menjadi lebih kecil dan memungkinkan untuk
dibuat naungan. Keuntungan lainnya, penyiraman menjadi mudah, jadwal pemupukan
menjadi mudah, dan bibit terhindar dari penyinaran matahari secara langsung sehingga risiko
kematian tanaman menjadi kecil. Jika menggunakan pembibitan satu tahap (langsung
menggunakan polibag besar), luas areal yang dibutuhkan cukup besar dan penggunaan
naungan tidak efektif. Selain itu, proses penyiraman dan pengawasan menjadi lebih sulit
karena tidak semua tanaman dapat dipantau (Dalimunthe, 2009).

2.4.1. Pembibitan Awal (Prenursery)


Pembibitan awal (prenursery) merupakan tempat kecambah kelapa sawit ditanam dan
dipelihara hingga berumur tiga bulan. Selanjutnya, bibit tersebut dilakukan selama 2-3 bulan,
sedangkan pembibitan main nursery selama 10-12 bulan. Bibit akan siap tanam pada umur
12-14 bulan (3 bulan di prenursery dan 9-11 bulan di main nursery) (Sunarko, 2009).
A. Persyaratan Lokasi
Lokasi untuk pembibitan awal sebaiknya datar atau kemiringan tanah 30sehingga
pembuatan bedengan prenursery nantinya akan rata. Bagian atas bedengan sebaiknya
memiliki naungan, berupa atap buatan atau pohon. Pagar prenursery untuk mencegah hewan
pengganggu masuk dan merusak pembibitan. Lokasi sebaiknya dekat dengan sumber air.
Kondisi debit air harus tetap dan tidak mengandung kapur (pH netral). Lokasi harus dekat
sumber media dengan topsoil yang cukup untuk mengisibabybag (polibag kecil), tanah tidak
bercadas atau tidak berkapur, dan akses jalan yang mudah dijangkau (Fauzi, 2007).
B. Pemesanan Kecambah
Seleksi dilakukan dengan memilih penggunaan kecambah yang baik dan dapat
mencukupi kebutuhan. Satu hektar lahan tanaman dengan populasi 143 pohon membutuhkan
kecambah 220 biji dengan asumsi kecambah yang mati dan abnormal sekitar 25% untuk
kebutuhan penyulaman sekitar 10%. Waktu pemesanan kecambah diatur agar kecambah
sudah tertanam di babybag prenursery 13-14 bulan sebelum penanaman di lapangan (Steko,
2010).
Polibag kecil yang digunakan sebaiknya berwarna hitam, jika terpaksa bisa
menggunakan polibag kecil berwarna putih. Polibag berukuran panjang 14 cm, lebar 8 cm,
dan tebal 0,14 cm. Selain itu, bisa juga menggunakan babybag hitam dengan ukuran14 x 22 x
0,07 cm (200 lembar/kg) media tanam yang digunakan berupa campuran topsoil dan kompos
dengan perbandingan 6:1 atau campuran pasir, pupuk kandang, dan topsoil dengan
komposisi 1:1:3. Bedengan pembibitan prenursery dibuat dengan panjang 10 meter dan lebar

1,2 meter. Tinggi bedengan berkisar 0,1-0,15 meter dengan jarak antar bedengan 0,8 meter.
Satu petak prenursery tanki siram 1.000 liter dapat mencukupi penyiraman 700800 babybag kecambah (Subiantoro, 2003).
C. Penanaman Kecambah
Letakkan kecambah di tempat yang teduh, kemudian segera tanam ke dalambaybag.
Kecambah hanya dapat bertahan 3-5 hari di tempat penghasil kecambah. Dua hari menjelang
penanaman kecambah, media tanam yang berada di dalam babybagharus disiram setiap pagi.
Gemburkan permukaan media dengan jari telunjuk atau dengan ibu jari, kemudian buat
lubang untuk meletakkan kecambah. Masukkan kecambah sedalam 1,5-2 cm di bawah
permukaan tanah, lalu ratakan kembali hingga menutup kecambah tersebut. Bagian bakal
akar (radikula) yang berbentuk agak tumpul dan berwarna lebih kuning harus mengarah ke
bawah dan bakal daun (plumula) yang bentuknya agak tajam dan berwarna kuning muda
mengarah ke atas (Subiantoro, 2003).
D. Naungan
Naungan atau pelindung bisa berupa pohon hidup atau naungan buatan yang terbuat
dari daun kelapa sawit. Ukuran tingggi tiang dua meter (depan belakang sama) dan jarak
antar tiang tiga meter. Naungan dipertahankan hingga kecambah berdaun 2-3 helai. Setelah
itu, naungan berangsur-angsur dikurangi dari arah timur agar sinar matahari pagi bisa lebih
banyak masuk ke bedengan. Pengurangan naungan dilakukan secara bertahap dan jangan
semapai terlambat karena dapat mengahambat pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, jika
pengurangan terlalu cepat maka akan menyebabkan tanaman stress. Pengurangan naungan
dilakukan setelah bibit berumur 6 minggu (Sunarko, 2009).
E. Penyiraman dan penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur, yakni pada pagi hari saat pukul
06.00-10.30 dan sore hari dimulai pukul 15.00. Volume air yang disiramkan sekitar 0,25-0,5
liter per bibit. Penyiangan dilakukan dengan mencabut rumput-rumput yang tumbuh
di babybag menggunakan tangan. Penyiangan sebaiknya dilaksanakan dua minggu sekali.
Rumput dikumpulkan di antara bedengan agar kering terkena sinar matahari (Sunarko, 2009).
F. Pemupukan
Selama tiga bulan di prenursery biasanya bibit tidak dipupuk. Namun, jika tampak
gejala kekurangan hara dengan gejala seperti daun menguning, bibit perlu dipupuk
menggunakan pupk N dalam bentuk cair. Konsentrasi pupuk urea atau pupuk majemuk
sekitar 0,2% atau 2 gram per liter air untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan melalui daun
dengan cara disemprot pada bibit berumur lebih dari satu bulan atau telah memiliki tiga helai
daun. Frekuensi pemupukan dilakukan seminggu sekali (Sunarko, 2009).
G. Proteksi dan Seleksi
Serangan hama dan penyakit selama di prenursery biasanya belum ada. Jika ada,
dapat diberantas dengan diambil menggunakan tangan (hand picking). Serangan penyakit
yang berasal dari sejenis jamur dapat dikendalikan dengan fungisida yang banyak dijual di
pasaran, seperti Dithane, Sevin, dan Anthio dengan dosis sesuai yang dianjurkan (Sunarko,
2009).
Seleksi dilakukan sebelum bibit dipindahkan ke main nursery. Seleksi bibit
diprenursery bertujuan untuk mencari bibit yang menyimpang. Bibit menyimpang dapat
diakibatkan oleh faktor genetis, kerusakan mekanis, serangan hama dan penyakit, serta
kesalahan kultur teknis. Saat berumur tiga bulan, bibit kelapa sawit yang normal biasanya

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.
4.
H.

berdaun 3-4 helai dan telah sempurna bentuknya. Pengurangan bibit sejak kecambah diterima
hingga dipindahkan ke main nursery dapat mencapai 12% atau lebih. Bibit yang mati terlebih
dahulu harus dikeluarkan, kemudian bibit yang tidak normal harus dimusnahkan. Ciri bibit
kelapa sawit tidak normal sebagai berikut.
Anak daun sempit dan memanjang seperti daun lalang (narrow leaves)
Anak daunnya bergulung kearah longitudinal (rolled leaves)
Pertumbuhan bibit memanjang (erreted), terputar (twisted shoot), tumbuh kerdil, lemah, dan
lambat (insufficient growth, dwarfish)
Daunnya kusut (crinkled), anak daun tidak mengembang, membulat, dan menguncup
(collante)
Rusak karena serangan penyakit tajuk (crown disease)
Pertumbuhan bibit yang tidak normal juga terjadi karena kesalahan kultur teknis.
Berikut beberapa kesalahan teknis penanaman yang menyebabkan bibit tumbuh
abnormal (Sunarko, 2009).
Penanaman kecambah terbalik, bakal daun ditanam ke arah bawah.
Kecambah ditanam terlalu dalam sehingga pertumbuhan terlambat atau terlalu dangkal
sehingga akar menggantung.
Tanah mengandung bebatuan (tidak disaring), sehingga menggangu akar
Tanah terlalu basah, karena air tidak terbuang dari kantong plastik atau penyiraman tidak
sempurna (terlalu keras dan banyak atau terlalu sedikit).
Pengangkutan Bibit
Pengangkutan atau pengiriman bibit dari dari prenursery ke main nurserydengan
memasukkan babybag ke dalam peti kayu berukuran 66,5 x 42 x 27,5 cm. Setiap peti kayu
dapat memuat 35 bibit. Pengangkutan harus berhati-hati dan bibit harus segera ditanam
di main nursery (Sunarko, 2009).

2.4.2. Main Nursery


A. Penentuan Lokasi
Lokasi sebaiknya dekat atau berada di pinggir jalan besar, agar pengangkutan bibit
dan pengawasannya lebih mudah. Lokasi harus bebas genangan atau banjir dan dekat dengan
sumber air untuk penyiraman. Debit dan mutu air yang tersedia harus baik. Areal pembibitan
sebisa mungkin rata atau memiliki kemiringan maksimum 5%, tempat terbuka atau tanah
lapang dan lapisan tahah topsoil cukup tebal. Letak lokasimain nursery dekat dengan area
yang ditanam dan harus jauh dari sumber hama dan penyakit (Sunarko, 2009).
B. Luas, Lay Out, dan Pancang
Satu hektar pembibitan main nursery dapat menyediakan bibit untuk sekitar 50-60
hektar lahan penanaman. Setelah area diratakan menggunakan alat berat, sekaligus untuk
mengambil topsoil, tentukan dan buat jaringan jalan, parit, dan saluran pembuangan air
(drainase). Buat lay out petak atau bedengan memanjang dengan arah timur ke barat. Ukuran
panjang dam lebarnya disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jaringan
irigasinya (Sunarko, 2009).
C. Jaringan Irigasi
Jaringan irigasi diperlukan sebagai sarana pengairan untuk menyiram bibit dimain
nursery. Alat dan bahan untuk sistem penyiraman harus sudah terpasang dan siap pakai
sebelum penanaman. Instalasi penyiraman di main nursery sebagai berikut:

1. Secara manual, air dihisap dari sungai menggunakan pompa air dan dialirkan ke lokasi
pembibitan melalui pipa dan selang.
2. Sprinkler menggunakan pipa induk, pipa utama, dan pipa distribusi.
3. Setiap sambungan dilengkapi stand pipes yang terpasng berdiri dan ujungnya dilengkapi
dengan nozzle yang memancarkan air secara berputar.
4. Setiap pipa distribusi memiliki 8-9 sprinkler yang berjarak 9-18 meter.
5. Kebutuhan air sekitar 75 m3 /ha/hari, efisiensi 30-40% dengan pompa air berdaya pancar 45
psi. kekuatan pompa 18-20 horse power untuk 8 hektar pembibitan (Sunarko, 2009).
D. Penyiapan Polibag
Polibag yang digunakan sebaiknya berwarna hitam (100% carbon black) dengan
panjang 42 cm, lebar 33 cm atau berdiameter 23 cm, dan tebal 0,15 cm. polibag diberi lubang
berdiameter 0,5 cm sebanyak dua baris. Jarak antarlubang 7,5 x 7,5 cm. Media tanam bibit
menggunakan topsoil yang memiliki struktur remah atau gembur. Jika terpaksa,
gunakan topsoil yang berupa tanah liat. Namun, media tersebut perlu dicampur dengan pasir
kasar dengan perbandingan 3:2. Polibag diisi media tanam hingga penuh (sekitar 16 kg), lalu
hentakkan tiga kali agar media tanam memadat. Pengisian polibag harus selesai dikerjakan
dalam waktu dua minggu sebelum pemindahan dari prenursery(Sunarko, 2009).
E. Penanaman
Sehari sebelum penanaman, media tanam dalam polibag harus disiram. Bibit
dipindahkan dari prenursery setelah berdaun 2-3 helai dan berumur maksimum tiga bulan.
Penanaman dilakukan dengan cara membuat lubang di polibag seukuran dengan
diameter babybag. Sayat babybag menggunakan pisau secara hati-hati dari bawah ke atas
agar mudah dilepas dan media tidak sampai terikut. Masukkan bibit beserta tanahnya ke
dalam lubang, lalu atur agar posisinya tegak seperti semula. Tekan tanah disekeliling lubang
agar lebih padat merata. Jika dirasa kurang, tambahkan tanah hingga sedikit melewati leher
akar. Bagian atas polibag yang tidak diisi tanah setinggi 2-3 cm. Bagian ini memungkinkan
sebagai tempat meletakkan pupuk, air, atau mulsa. Naungan sudah tidak diperlukan lagi
di main nursery (Sunarko, 2009).
F. Penyiraman dan Penyiangan
Penyiraman dilakukan setiap hari secara teratur dengan jumlah yang cukup. Jika
musim kemarau, siram bibit dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Kebutuhan air
penyiramann sebanyak 2 liter air/bibit/hari. Permukaan tanah harus ditutup dengan serasa
organik (mulsa) untuk menghindari pemadatan permukaan tanah, mencegah penguapan air,
dan mengatur kelembapan tanah pada musim kemarau. Penyiangan dilakukan dengan
mencabut gulma yang tumbuh dalam polibag, sekaligus menggemburkan tanah dengan cara
menusukkan sepotong kayu. Penyiangan lahan pembibitan(diluar polibag) dilaksanakan
secara clean weeding, yakni menggunakan garuk. Rotasi penyiangan 20-30 hari, tergantung
dari pertumbuhan gulma (Sunarko, 2009).
G. Pemupukan
Dosis dan jadwal pemupukan sangat tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit.
Di main nursery, lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk mejemuk N-P-K-Mg dengan
komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2, serta ditambah Kieserite (pupuk yang mengandung
unsur Ca dan Mg). Penggunaan pupuk majemuk N-P-K-Mg dan Kieserite dapat dilihat pada
tabel berikut ini :
Tabel 1. Rekomendasi pemupukan bibit kelapa sawit di main nursery (gram/bibit)

Umur (Minggu
Ke14
15
16
17
18
20
22
24
26
28
30
32
34
36
38
40
42
44
46
48
50
52

Pupuk N-P-K-Mg
(15-14-6-4)
2,5
2,5
5,0
5,0
7,5
7,5
10,0
10,0

Pupuk N-P-K-Mg
(12-12-17-2)

10,0
10,0
10,0
10,0
15,0
15,0
15,0
15,0
20,0
20,0
20,0
20,0
25,0
25,0

Kieserite

5,0
5,0
7,5
7,5
10,0
10,0
10,0

Sumber : Publikasi PPKS

Berikut ini kebutuhan pupuk untuk satu hektar main nursery dengan jumlah sekitar
11.000 bibit.
1. Pupuk mejemuk (15-15-6-4) : 50 gram x 11.000 = 550 kg/hektar
2. Pupuk mejemuk (12-12-17-2)
: 230 gram x 11.000 =2.530 kg/hektar
3. Pupuk kieserite
: 55 gram x 11.000 = 605 kg/hektar

H. Hama dan penyakit


Pengendalian hama dapat dilakukan secara manual, yaitu dengan mengambil satu per
satu serangga, lalu membunuhnya. Pengendalian lain dapat dilakukan secara kimiawi, yaitu
dengan menyemprotkan insektisida Sevin 85 ES dan Tendion yang telah dilarutkan dalam air
sesuai dosis yang direkomendasikan di kemasan. Hama lain yang dapat merusak bibit
di main nursery adalah babi hutan dan landak. Hama ini aktif menyerang pada malam hari
(nocturnal) secara berkelompok dengan memakan umbut atau titik tumbuh bibit.
Pencegahannya dengan mengecat pangkal batang bibit menggunakan bahan residu, misalnya
oli bekas atau limbah pabrik yang dicampur Zn posfit. Selain itu, bisa menggunakan umpan
beracun, seperti pisang, telur, ikan busuk, dan daging babi yang telah tertangkap (Sunarko,
2009).
Penyakit terkadang muncul diantaranya crown disease dan blast disease.Penyakit
yang serius jarang ditemukan saat masa pembibitan. Crown disease adalah penyakit busuk

I.
1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.
5.
J.

1.
2.
3.

tajuk. Gejalanya ditandai dengan daun muda yang baru muncul mengalami pembusukan.
Penyakit ini belum dapat diatasi secara kimiawi. Usaha untuk mengurangi gejalanya dengan
mengurangi pemberian pupuk yang mengandung nitrogen, karena tanaman yang kelebihan
nitrogen akan rentan terhadap serangan virus.Blast disease merupakan penyakit busuk akar
yang disebabkan oleh serangan jamurPhytium sp. Pemberantasannya sangat sulit. Tindakan
yang dapat dilakukan hanya dengan mencabut dan membakar tanaman yang diserang,
sehingga tidak menular ke tanaman yang sehat (Sunarko, 2009).
Seleksi
Seleksi di main nursery dilakukan dalam empat tahap sebagai berikut :
Setelah bibit dipindahkan dari prenursery.
Setelah bibit berumur 4 bulan.
Setelah bibit berumur 8 bulan.
Saat bibit dipindahkan ke lapangan.
Ciri bibit tidak normal dan harus dibuang sebagai berikut :
Bibit yang memanjang kaku (errectic), tinggi melebihi rata-rata, dan daunnya kaku.
Bibit yang permukaannya rata (flat) dan daun muda lebih pendek.
Bibit yang merunduk (limp).
Bibit yang daunnya tidak membelah (fused leaflet).
Anak daun pendek (short leaflet), sempit, dan selalu menggulung (Sunarko, 2009).
Pengangkutan Bibit
Pengangkutan bibit harus dapat menjamin bibit tidak rusak dan tidak layu karena
terkena panas atau angin kencang. Proses pengangkutan bibit dari lokasi pembibitanmain
nursery ke lokasi penanaman dapat berjalan efisien melalui pembagian tugas. Pekerjaan
berikut ini seharusnya dibebankan kepada tenaga kerja yang terpisah(Sunarko, 2009).
Memuat bibit ke dalam truk
Membongkar dan menurunkan bibit dari truk ke tempat yang telah ditentukan di lapangan
Mengangkut bibit ke ajir tanaman,

III. BAHAN DAN METODE


3.1. Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktek lapang ini akan dilaksanakan pada akhir bulan Januari
hinga Februari bertempat di Dinas Perkebunan Kelapa Sawit Kec. Kubang

3.2. Materi Jenis Data Praktek Lapang


Data praktek lapang yang dilakukan pada praktek lapang ini terdiri atas dua jenis,
yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan (observasi)
langsung di lapangan dan melalui wawancara langsung dengan pimpinan atau dengan
karyawan yang bekerja pada Dinas Perkebunan Kelapa Sawit Kec. Kubang. Data sekunder
diperoleh melalui laporan-laporan instansi terkait dengan sistem pembibitan kelapa sawit di
Dinas Perkebunan Kelapa Sawit Kec. Kubang.
3.3. Metode Praktek Lapang
Metode praktek lapang yang digunakan dalam kegiatan praktek lapang ini adalah
metode deskriftif dan kualitatif yaitu mengikuti proses kegiatan sistem pembibitan kelapa
sawit di Dinas Perkebunan Kelapa Sawit Kec. Kubang. Kemudian, mendeskripsikan secara
kualitatif dalam laporan praktek lapang.
3.4. Jadwal Kegiatan
Praktek lapang akan dilaksanakan selama 144 jam kerja dengan rincian sebagai
berikut :
Tabel 2. Jadwal kegiatan praktek lapang
N
o

Kegiatan

Minggu
5

Pengurusa
n Izin
1

2
3

Pelaksanaa
n Prakek
Lapang
Penulisan
Laporan

Semua kegiatan praktek lapang yang dilakukan mulai minggu ke-I dan ke-II dalam
pengurusan izin, minggu ke-III sampai ke-IV memulai pengisian polibag, pananaman,
penyeleksian, perawatan, pemupukan, penyiangan, penyiraman, penyulaman, dan
pemindahan dari prenursery ke main nursery serta pengendalian hama penyakit yang
menyerang tanaman kelapa sawit. Pada minggu ke-VII dilakukan penyeleksian bibit
dari main nursery ke lapangan. Jika dalam pelaksanaan di lapangan terjadi perubahan jadwal
dalam pelaksanaan praktek lapang, maka kegiatan PKL disesuaikan dengan kondisi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA
Dalimunthe, Masra. 2009. Meraup Untung dari Bisnis Waralaba Bibit Kelapa Sawit.Jakarta.
Agromedia Pustaka
Fauzi, 2007. Kelapa Sawit. Jakarta. Penebar Swadaya
Hartono, 2002. Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Limbah Analisa Usaha dan
Pemasaran. http://ditjenbun. Deptan.Go.id, diakseskan tanggal 14 maret 2010
Hartono, 2008. Kondisi Non Migas Unggulan. Jakarta. Agromedia Pustaka
Lubis, Adlin U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guinnensis jacq) di Indonesia. Bandar Kuala . Pusat
Penelitian Marihat
Pahan, Iyung. 2008. Manajemen Agribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta. Penebar Swadaya
Sastrosayono, 2007. Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta. Agromedia Pustaka
Setyamidjaja, 2007. Kelapa Sawit. Yogyakarta. Kanisius
Subiantoro, 2009. http://andreysubiantoro.viviti.com/entries/sda/petunjuk-praktis-kelapa sawit-2.31
maret 2010. jam 01.45
Sunarko, 2007. Petunjuk Praktis Pengolahan dan Budidaya Kelapa Sawit. Jakarta. Agromedia
Pustaka
Sunarko, 2009. Budidaya dan Pengolahan Kebun Kelapa Sawit Dengan Sistem Kemitraan. Jakarta.
Agromedia Pustaka

CARA PEMBIBITAN KELAPA SAWIT YANG BAIK


Untuk memperoleh tanaman kelapa sawit yang berkualitas, salah satunya adalah dengan
melaukan pembibitan yang benar. Karena proses pembibitan ini aka sangat berpengaruh
terhadap kualitas dan rpoduksi dari tanaman kelapa sawit dikemudian harinya. Oleh
karena itu berikut adalah cara pembibitan kelapa sawit yang baik.
I. Persyaratan Benih
Benih yang baik untuk bibit kelapa sawit harus berasal dari indukan yang jelas dan
berkualitas baik. Saat ini di Indonesia terdapat 6 (enam) produsen benih resmi dalam
negeri yang menyediakan benih untuk bibit kelapa sawit yaitu Pusat Penelitian Kelapa

Sawit (PPKS) Medan, PT London Sumatera (Lonsum), PT Socfin, PT Tunggal Yunus Estate,
PT Dami Mas Sejahtera dan PT Bina Sawit Makmur.
Benih-benih yang dihasilkan oleh produsen resmi ini telah mengalami proses introduksi
yang sedemikian rupa dan berulang-ulang sehingga menghasilkan kualitas sangat baik,
berasal dari indukan yang jelas asal usulnya sepertiDelidura dan bapak Pisifera.
II. Pengecambahan Benih
1. Cara yang biasa dilakukan oleh PPKS Medan
a. Melepaskan tangkai buah dari spikeletnya.
b. Waktu pemeraman tandan buah dilakukan selama tiga hari dan sekali-sekali disiram
air. Kemudian pisahkan buah dari tandannya dan diperam lagi selama tiga hari.
c. Proses yang dilakukan untuk memisahkan daging buah dari bijinya, buah dimasukkan
kedalam mesin pengaduk. Kemudian cuci biji yang dihasilkan dengan menggunakan air,
setelah itu masukkan kedalam larutan Dithane M-45 0,2% selama kira-kira tiga menit.
Keringkan dan seleksi untuk memperoleh biji yang berukuran seragam.
d. Proses selanjutnya semua benih yang telah ditreatment disimpan di dalam suatu
ruangan tertentu yang telah diatur bersuhu berkisar 27C dan kelembaban berkisar 6070% sebelum dikecambahkan.
2. Cara lainnya
a. Melakukan perendaman biji dalam air selama 6 7 hari, penggantian air dilakukan
secara rutin setiap hari, lalu rendam dalam larutan Dithane M - 45 0,2% selama lebih
kurang dua menit, selanjutnya biji dikeringanginkan.
b. Biji yang telah selesai ditreatment dimasukkan kedalam kaleng pengecambahan dan
ditempatkan dalam ruangan dengan temperatur berkisar 39C dan kelembaban berkisar
60 70% selama enampuluh hari. Selanjutnta setiap tujuh hari benih dikeringanginkan
selama tiga menit.
c. Setelah enampuluh hari rendam benih dalam air sampai kadar air 20 30% dan
dikeringanginkan lagi. Masukkan biji ke dalam larutan Dithane M 45 0,2% selama lebih
kurang dua menit.
d. Selanjutnya benih disimpan diruangan dengan suhu yang sudah diatur berkisar 27C.
Setelah sepuluh hari benih berkecambah, pada hari ke 30 tidak digunakan lagi.
III. Teknik Pembibitan Benih Berkecambah
Secara umum terdapat dua teknik pembibitan yaitu cara dua tahap melalui dederan
(prenursery) dan cara langsung tanpa dederan. Lahan pembibitan dibersihkan, diatur
perataannya dan dilengkapi dengan instalasi penyiraman. Ada beberapa model jarak
tanam biji dipembibitan yaitu 50 x 50 cm, 60 x 60 cm, 65 x 65 cm, 70 x 70 cm, 80 x 80
cm, 85 x 85 cm, 90 x 90 cm atau 100 x 100 cm dalam bentuk segitiga sama sisi.
Kebutuhan bibit per hektar dapat diketahui berkisar antara 12.500 sampai 25.000 butir
tergantung jarak tanam yang akan digunakan. Sebelumnya agar disiapkan dan
disesuaikan segala persyaratan yang diperlukan seperti yang sudah disampaikan dalam
gambaran umum persyaratan tumbuh dalam tulisan sebelumnya.
1. Cara tak langsung
a. Dederan
Kecambah dimasukkan ke dalam polybag 12 x 23 cm atau 15 x 23 cm berisi 1,5 2,0 kg
tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah di tanam dan dibenamkan sedalam dua
cm. Tanah di polybag harus selalu terjaga kelembabannya. Simpan polybag dibedengan
dengan diameter berkisar 120 cm. Setelah berumur 3 4 bulan dan berdaun emapat

sampai lima helai bibit dipindahkan kemudian ditanam ke pembibitan.


b. Pembibitan
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polybag 40 x 50 cm atau 45 x 60 cm setebal 0,1
mm yang berisi 15 30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram
tanah di dalam polybag sampai lembab. Polybagdisusun diatas lahan yang telah
diratakan dan diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak seperti disebutkan
diatas.
2. Cara langsung
Cara ini pada prinsipnya untuk melakukan penghematan terutama dalam hal
penggunaan tenaga dan biaya. Kkecambah langsung ditanam di dalam polybag ukuran
besar seperti pada cara pembibitan.
IV. Pemeliharaan pembibitan/penyemaian
1. Tindakan pemeliharaan dilakukan pada bibit di dederan dan di pembibitan.
a. Penyiraman dilakukan dua kali sehari kecuali jika ada hujan lebih dari 7 8 mm.
Kebutuhan air sekitar 2 liter untuk setiap polybag.
b. Gulma yang tumbuh dicabut atau disemprot dengan herbisida setiap tiga bulan.
Penyiangan dilakukan 2 3 kali dalam sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan
gulma. Pemulsaan adalah cara lain untuk mencegah gulma dengan cara menaburkan
serasah di polybag sekaligus upaya mempertahankan kelembaban.
c. Proses penyeleksian bibit yang tumbuh abnormal, berpenyakit dan mempunyai
kelainan genetis harus dibuang. Proses seleksi dilakukan pada saat berumur 4 dan 9
bulan.
d. Pemupukan dilakukan berapa kali selama masa pembibitan, diberikan urea atau pupuk
majemuk.
2. Pemberian pupuk di pembibitan
a. Umur bibit 4 5 minggu larutan urea 0,2%, 3 4 liter larutan/100 bibit dalam satu
minggu rotasi.
b. Umur bibit 6 7 larutan urea 0,2%, dosis 4 5 liter larutan/100 bibit dalam satu
minggu rotasi.
c. Umur bibit 8 16 minggu ; rustica 15.15.6.4 dosis 1 gram/bibit dalam 2 minggu rotasi.
d. Umur bibit 17 20 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 5 gram/bibit dalam 2 minggu
rotasi.
e. Umur bibit 21 28 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 8 gram/bibit dalam 2 minggu
rotasi.
f. Umur bibit 29 40 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 15 gram/bibit dalam 2 minggu
rotasi.
g. Umur bibit 41 48 minggu, rustica 12.12.17.2 dosis 17 gram/bibit dalam 2 minggu
rotasi.
V. Pembiakan dengan Kultur Jaringan
Bahan pembiakan berupa sel akar biasa disebut sebagai metode Inggris dan sel daun
biasa disebut sebagai metode Perancis. Metode ini mampu memperbanyak bibit
tanaman dengan tingkat produksi tinggi dengan skala yang besar dan pertumbuhan
tanaman seragam.
VI. Seleksi Bibit
Proses penyeleksian bibit dilakukan sebanyak dua kali yaitu penyeleksian di pembibitan

pendahuluan/dederan dan pembibitan utama. Tanaman-tanaman yang tidak memenuhi


standar kebutuhan seperti bentuknya yang abnormal dibuang, ciri-ciri :
a. Postur bibit terkulai
b. Postur bibit kerdil, tidak tumbuh sempurna
c. Postur bibit meninggi dan kaku
d. Terkena serangan penyakit
e. Bentuk anak daun tidak tumbuh sempurna
f. Anak daun tidak membelah dengan sempurna

Dalam rangka meningkatkan laju pengembangkan Perkebunan di Propinsi Sumatera Utara untuk meningkatkan
pendapatan petani, salah satu langkah yang harus ditempuh adalah upaya pengembangan seluruh potensi yang
daya tersedia antara lain pemanfaatan bibit berkualitas, peningkatan sumber daya petani perkebunan,
melakukan pembinaan tentang kemurnian dan mutu benih, penyediaan sarana dan penggunaan teknologi tepat
guna serta pemanfaatan lahan yang tersedia untuk pengembangan perkebunan sehingga terbentuk masyarakat
Agribisnis Tanaman Perkebunan. Adanya metoda pelaksanaan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Melakukan pengumpulan data dari lapangan yang bersumber dari instansi pembibitan, data penangkar benih
dan wawancara langsung dengan petani untuk mencapai keberhasilan produktifitas pada tanaman kelapa sawit
ada beberapa hal cara penanggulangan di lapangan yang perlu diperhatikan antara lain :
A. KELAPA SAWIT
1.
PRE NURSERY (PEMBIBITAN AWAL)

POLIBEG
Persiapan pembibitan dengan menggunakan Polibeg standar PN berwarna hitam untuk menghindari tranparansi
dengan ukuran tinggi 22 cm, lebar 15 cm, tebal sekitar 0,5 mm dan memiliki lubang perforasi sebanyak 10
berdiameter 3 mm sebanyak tiga baris berjarak 3 x 4 cm pada bagian setengah bawah polibag.

MEDIA PEMBIBITAN
Tanah Top Soil yang agak gembur dan tidak kedap air dimana tanah tersebut sebelumnya sudah dicampur
dengan pupuk Dolomite 50 kg untuk 1.500 polibeg yang telah diayak dengan kawat berdiameter 1,5 - 2,0 cm.

PENYEMAIAN
Penyemaian tidak boleh dengan cara menekan untuk menghindari patah radikula, cangkang tertanam 1 cm
dari permukaan tanah.

NAUNGAN
Setinggi 2m dari permukaan tanah terbuat dari daun pelepah palma, kelapa sawit, kelapa sebanyak 4 - 5
lembar / meter bibit. Naungan berguna sebagai pelindung bibit dari intensitas langsung sinar matahari dan
terbongkarnya akar atau benih sewaktu hujan deras. Pengurangan pelepah dilakukan 1 lembar / 2 minggu
setelah bibit berusia 4 minggu.

PENYIRAMAN
Bibit disiram setiap hari pada waktu pagi dan sore (tergantung curah hujan) dengan menggunakan gembor untuk
mengindari erosi tanah di polibeg.

PEMUPUKAN
Bibit PN biasanya tidak dipupuk sampai umur bulan, tetapi jika ditemukan bibit kerdil karena kondisi media tanah
yang kurang baik, maka diberikan pupuk Urea dengan konsentrasi 2gr/liter air untuk 100 bibit.
2.
MAIN NURSERY (PEMBIBITAN UTAMA)

POLIBEG
Ukuran polibeg standar dengan ukuran tinggi 210 m, lebar 7,5 cm dan memiliki lobang peporasi sebanyak 24
berdiameter 0,5 cm dengan jarak 2 x 4 cm.

MEDIA PEMBIBITAN
Tanahnya sama dengan sewaktu di PN, saat pengisian tanah ke polibeg diusahan sambil diguncang untuk
menghilangkan rongga-rongga udara hingga tanah mencapai 5cm dari bibir polibeg.

PEMUPUKAN
Penaburan pupuk majemuk NPK secara merata dengan jarak 5 cm dari bonggol untuk menghindari Plasmolisis
(terbakar/mati jaringan) dengan interval 2 minggu sampai bibit berumur 8 bulan.

PENANAMAN
Pemindahan dari PN ke MN setelah umur bibit mencapai 3 s/d 3,5 bulan, biasanya daunnya berjumlah 4 helai
untuk memperkecil terjadinya stagnasi pada bibit. Untuk mempercepat penanaman cetakan lubang dibuat dari
pipa PVC sepanjang 15 cm.

PENGENDALIAN GULMA
Gulma diluar polibeg disemprot dengan herbisida jenis Roundup, sedangkan yang berada di dalam polibeg harus
dilakukan secara manual yaitu dengan cara mencabuti rumput.

PENANGGULANGAN PENYAKIT DAN HAMA


Untuk penyakit yang sering dijumpai pada bibit seperti Curvularia, Helmithosporium, atau Antracnose dilakukan
dengan penyemprotan Dethane, Sekor, atau Delsene dengan takaran 30gr/liter air.
Sedangkan hama yang sering menyerang bibit yaitu uret, Apogonia sp, ulat kantong, ulat api dan belalang dapat
dilakukan dengan penyemprotan Biosis atau Decis.
3.
SELEKSI BIBIT
Hal ini sebaiknya dilakukan sejak di Pre Nursery untuk memperoleh bibit yang baik, seragam dalam
pertumbuhannya serta mempertahankan potensi produksi kelak setelah tanaman berusia produktif. Penyebab
dari abnormalitas bibit dapat berupa salah perlakuan penanaman, penyiraman, pemupukan, dan herbisida
maupun genetik dari tanaman tersebut.
Adapun kriteria bibit abnormal yang harus diafkir sebagai berikut :
1)
Bibit tumbuh berputar atau daunnya menguncup dan kaku,
2)
Bibit dengan anak daun tidak merata,
3)
Bibit yang terserang penyakit tajuk,
4)
Bibit kerdil dibandingkan bibit lain dari persilangan dan umur yang sama,
5)
Bibit yang anak daunnya pendek dan lebar,
6)
Bibit yang helaian anak daunnya tumbuh rapat atau sangat jarang.

Kelapa sawit adalah tanaman komoditas utama perkebunan Indonesia, di-karenakan nilai
ekonomi yang tinggi dan kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati
terbanyak diantara tanaman penghasil minyak nabati yang lainnya (kedelai, zaitun, kelapa,
dan bunga matahari). Kelapa sawit dapat menghasilkan minyak nabati sebanyak 6 ton/ha,
sedangkan tanaman yang lainnya hanya menghasilkan minyak nabati sebanyak 4-4,5 ton/ha
(Sunarko, 2007).
Para ahli telah membuat satu bagan yang menggambarkan multi guna kelapa
sawit dengam membuat pohon industri kelapa sawit, berdasarkan bagan industri dari
produk hulu kelapa sawit dapat menghasilkan jenis-jenis produk sebagai berikut ; 1) Minyak
sawit (CPO) yang menghasilkan carotene, tocopherol, olein, stearin, soap stok, dan free fatty
acid, ; 2) Inti sawit menghasilkan minyak pati dan bungkil, ; 3) Tempurung menghasilkan
arang dan bahan baku, ; 4) Serat menghasilkan bahan bakar dan sumber selulosa, ; 5) Tandan
kosong digunakan sebagai sumber selulosa dan pupuk kompos, ; 6) Sludge digunakan
sebagai
komponen
makanan
ternak
(Setyamidjaja,
2006).
Menurut Steqo (2010), benih unggul yang dihasilkan dari tahapan pemuliaan
memiliki beberapa kelas yaitu: Benih Penjenis (breeder seed), adalah

material pembiak vegetatif yang dihasilkan langsung oleh peneliti. Benih ini digunakan
sebagai benih dasar, Benih Dasar (foundation seed), adalah hasil turunan pertama dari benih
penjenis. Identitas genetik maupun kemurniannya dijaga baik. Benih ini merupakan sumber
dari semua benih sebar, dan yang teakhir adalah Benih Sebar, yaitu benih turunan dari benih
dasar dan benih pokok yang langsung digunakan petani untuk dibudidayakan, untuk
menghasilkan benih yang bersertifikat atau benih sebar yang terjamin mutunya, baik genetik
maupun kemurniannya, pemerintah telah menentukan ketentuan pokok Benih sebar varietas
tertentu selanjutnya akan digunakan sebagai bibit.
Prenursery merupakan tahapan pertama sebelum main nursery. Pada tahap ini
dilakukan dua tahap yaitu seleksi pertama dan seleksi kedua. Seleksi pertama dilakukan saat
tanaman kelapa sawit berumur 2-4 minggu setelah tanam. Tanam seleksi yang kedua
dilakukan saat tanaman kelapa sawit sesaat sebelum dipindahkan ke largebag (Tahap Main
Nursery) yaitu pada umur 3-3,5 bulan. Pada tahap ini tanaman kelapa sawit yang abnormal,
mati/rusak saat perngangkutan dan kelainan genetik harus dimusnahkan.