Anda di halaman 1dari 14

Adsorpsi

Pertanyaan
Bagian C
1.

Dalam adsorpsi isotherm, terdapat 5 tipe yang biasanya digambarkan dalan grafik, yang
memperlihatkan apakah adsorpsi yang terjadi pada suhu konstan tersebut monolayer atau
multilayer. Jelaskan pengertian dari adsorpsi isotherm dan jelaskan 5 tipe yang dimaksud.
Dalam model adsorpsi isotherm kita diperkenalkan dengan model adsorpsi isotherm
Langmuir, Freundlich, dan BET. Jelaskan perbedaan antara ketiga model tersebut. Berikan
masing-masing satu contoh penggunaan persamaannya. Dapatkah kita menentukan
efisiensi kapasitas adsorpsi dari model yang diberikan? Jelaskan!
Ada 3 model adsorpsi isoterm:
a. Adsorpsi isotherm Langmuir
Isotherm ini berdasarkan asumsi bahwa:
Adsorben mempunyai permukaan yang homogen dan hanya dapat mengadsorpsi satu
molekul adsorbat untuk setiap molekul adsorbennya. Tidak ada interaksi antara
molekul-molekul yang terserap.
Semua proses adsorpsi dilakukan dengan mekanisme yang sama.
Hanya terbentuk satu lapisan tunggal saat adsorpsi maksimum.

Isoterm jenis ini biasanya berlaku pada adsorpsi kimia, tekanan rendah, dan temperatur
tinggi.
Hubungan matematis Langmuir:
=

KP
1+ KP

Di mana = fraksi permukaan yang tertutupi molekul gas


K = konstatnta kesetimbangan untuk distribusi adsorbat antara permukaan dan fasa gas
P = tekanan
Pada tekanan rendah, nilai KP sangat kecil, sehingga (1+KP) mendekati 1, maka:
=KP
Pada tekanan tinggi, nilai KP sangat besar, sehingga nilai (1+KP) mendekati KP, maka:
=

KP
=1
KP

Contoh:
Data berikut adalah adsorpsi dari CO dalam arang pada suhu 273 K. pastikan bahwa data
berikut mengikuti persamaan isoterm Langmuir, dan carilah nilai konstanta K dan volume
pada saat seluruh permukaan tertutupi. Pada setiap kasus V, tekanannya 1,00 atm (101,325
kPa).
p/kPa
V/cm3

13,3
10,2

26,7
18,6

40,0
25,5

53,3
31,5

66,7
36,9

88,0
41,6

93,3
46,1

Persamaan Langmuir:
KP
1 KP
KP KP
dengan V
V

adalah volume pada saat seluruh permukaan tertutupi.

Persamaan di atas dapat ditulis menjadi:


p
p
1

V V KV

Lalu, plot hubungan di atas yang menyatakan hubungan p/V terhadap p, dengan gradien 1/

p/kPa
(p/kPa)/(V/cm3)

13,3
1,30

26,7
1,44

40,0
1,57

53,3
1,69

Melalui metode Least Square, diperoleh grafik sebagai berikut:

66,7
1,81

80,0
1,92

93,3
2,02

Dari grafik, kita memperoleh nilai graden sebesar 0,00900, maka nilai

=111 cm3.

Perpotongan dengan sumbu y pada p=0 adalah 1,20. Maka, nilai K dapat diperoleh sebesar
K=

1
=7,51 103 kPa1
3
( 111 cm ) (1,20 kPa. cm )
3

b. Adsorpsi isotherm Ferundlich


Isoterm ini berdasarkan asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang heterogen
dan tiap molekul mempunyai potensi penyerapan yang berbeda-beda.
1
x
=k P n
m
Untuk mendapatkan nilai k dan n, kedua ruas di-log menjadi,
log

( mx )=log k + 1n log P

dimana,
x = banyaknya zat terlarut yang teradsorpsi (mg)
m = massa dari adsorben (mg)
C = konsentrasi dari adsorbat yang tersisa dalam kesetimbangan
k,n,= konstanta adsorben

c. Adsopsi isotherm BET


Isoterm ini berdasar asumsi bahwa adsorben mempunyai permukaan yang homogen.
Perbedaan isoterm ini dengan Langmuir adalah BET berasumsi bahwa molekul-molekul
adsorbat bisa membentuk lebih dari satu lapisan adsorbat di permukaannya. Pada isoterm
ini, mekanisme adsoprsi untuk setiap proses adsorpsi berbeda-beda dan lebih baik jika
diterapkan pada adsorpsi fisik, tekanan tinggi, dan temperatur rendah.

V mono C
V total=

( PP )
0

P
P P
1+ C
P0
P 0 P0
P
1
C1 P
=
+
V
C
V
V total ( PP 0 )
mono
mono C P 0
K
dengan C= 1
KL

)(

( )

Di mana Vmono= volum gas teradsorpsi pada tekanan tinggi


K1= konstanta kesetimbangan ketika satu molekul terserap per permukaan kosong
KL= konstanta kesetimbangan ketika mencapai kesetimbangan uap jenuh
Contoh:
Data berikut adalah adsorpsi dari N2 dalam rutile (TiO2) pada suhu 75 K. pastikan bahwa
data berikut mengikuti persamaan isoterm BET pada tekanan yang tertera, dan carilah nilai
Vmono dan c. Pada 75 K, p*=76,0 kPa. Volumenya diubah disesuaikan pada 1,00 atm dan
273 K dan mengacu pad 1,00 g substrat.
p/kPa
V/mm3

0,160
1,87
6,11
11,67
17,02
21,92
27,29
601
720
822
935
1046
1146
1254
( c 1 ) z
z
1
=
+
( 1z ) V c V mono c V mono
Dari persamaan di atas, diplot grafik z/(1-z)V terhadap z,dengan (c-1)/cV mono sebagai
gradiennya.

p/kPa

0,160

1,87

6,11

11,67 17,02

21,92

27,2

103z
104z/(1-z)(V/mm3)

2,11
0,035

24,6
0,35

80,4
1,06

154
1,95

288
3,53

9
359
4,47

0
Dari data di atas, diperoleh grafik sebagai berikut:

224
2,76

Dari grafik diperoleh nilai perpotongan dengan sumbu y pada saat z=0 adalah 0,0398,
maka
1
6
3
=3,98 10 mm
c V mono
Gradie dari garis tersebut adalah 1,23 x 10-2, maka
c1
=( 1,23 102 ) 103 104 mm3=1,23 103 mm3
c V mono
Maka solusinya adalah c= 310 dan Vmono= 811 mm3. Pada 1,00 atm dan 273 K, 811 mm 3
yang berkorespondensi dengan 3,6x10-5 mol atau 2,2x1019 atom. Karena tiap atom
menutupi daerah sekita 0,16 nm2, maka luar permukaan sampel sekitar 3,5 m2.
2.

Teknologi adsorpsi dikenal paling ekonomis. Bagaimana menurut Anda? Berikan contoh
kasus untuk proses adsorpsi terutama kasus untuk penghilangan merkuri dalam
hidrokarbon cair! Tuliskan referensi yang anda gunakan!
Ya, saya setuju. Teknik adsorpsi ekonomis karena adsorben yang telah mengandung adsorbat
dapat diolah lagi. Pengolahannya dapat memisahkan adsorben dengan zat yang diadsorpsi.
Sehingga, adsorbennya dapat digunakan kembali dan adsorbatnya dapat diolah menjadi
bahan lain.
Salah satu industry yang banyak menggunakan adsorben adalah industry gas alam. Pada
industry ini gas alam perlu dibersihkan dari kandungan merkuri. Hal ini dilakukan karena
merkuri dapat merusak alat produksi dan berbahaya bagi pekerja. Awalnya industry
menggunakan adsorben Sulphur Impregnated Activated Carbon (karbon aktif yang
mengandung sulfur 12%). Namun dari satu literatur, ditemukan metode lain yang lebih
efektif dalam menghilangkan merkuri dari hidrokarbon cair, yaitu dengan menggunakan
silver-promoted molecular sieve adsorbents dan juga metal (copper) oxides and sulphides.

Metode ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan karbon aktif, seperti
membutuhkan alat yang lebih kecil, menghasilkan perbedaan tekanan yang kecil, hasil yang
lebih stabil, serta hasilnya dapat didaur ulang menjadi senyawa yang berguna.

(Sumber: UOP Advanced Mercury Removal Technologies. [ONLINE] Available at:


http://www.uop.com/wp-content/uploads/2011/01/UOP-Advanced-Mercury-RemovalTechnologies-tech-paper.pdf )
3.

Karbon aktif, zeolit, clay, kitosan dan sebagainya telah dimanfaatkan sebagai adsorben
untuk mengadsorp logam berat seperti merkuri. Dapatkah

Anda menjelaskan konsep

adsorpsi dengan berbagai jenis adsorben tersebut? Apa yang membedakan, sehingga

efisiensi kapasitas adsorpsi itu berbeda? Faktor apa sajakah yang dapat berpengaruh
dalam proses adsorpsi logam berat, jelaskan secara umum!
Ada beberapa macam adsorben yang dapat digunakan, beberapa di antaranya adalah:
Karbon aktif
Karbon aktif adalah senyawa karbon yang memiliki daya adsorpsi tinggi karena
mengalami proses aktivasi kimia atau aktivasi uap di mana saat proses aktivasi tersebut
gas hydrogen, gas-gas lain, dan kandungan uap airnya terlepas dari permukaan material
karbon aktif. Setelah gas dan uap air hilang, karbon aktif memiliki daya adsorpsi (daya
serap) yang sangat tinggi. Rata-rata karbn aktif memiliki luas permukaan 500-2000
m2/g. kita juga mengetahui bahwa semakin luas permukaannya, maka semakin banyak
partikel yang bisa diserap oleh karbon aktif.
Cara kerja karbon aktif adalah dengan menarik molekul-molekul zat yang berada di fase
gas/cair kemudian mengikatnya ke permukaan pori karbon aktif.

Zeolit
Zeolit adalah mineral yang memiliki sifat adsorpsi yang baik. Zeolit memiliki sifat
dehidrasi yaitu kemampuan untuk melepaskan molekul H2O bila dipanaskan. Pada
umumnya struktur kerangka zeolit akan menyusut. Tetapi kerangka dasarnya tidak
mengalami perubahan secara nyata. Molekul H2O dapat dikeluarkan secara reversibel.
Pada pori-porinya terdapat kation-kation dan atau molekul air. Bila kation-kation dan
atau molekul air tersebut dikeluarkan dari pori dengan perlakuan tertentu maka zeolit
akan meninggalkan pori yang kosong.
Secara alami pori-pori Zeolite yang belum diolah akan mengandung sejumlah molekul
air dan alkali atau alkali tanah hidrat. Proses pemanasan pada temperature 300 400
celcius dapat menghilangkan kandungan air dan hidrat pada alkali atau alkali tanah
hidrat. Zeolit yang sudah mengalami pemanasan ini disebut Zeolite Teraktivasi Fisika
artinya Zeolite terdehidrasi atau Zeolityang kehilangan air.

Pemanasan Zeolit Terhidrasi Untuk Menjadikan Zeolit Terdehidrasi


Zeolit mempunyai kapasitas yang tinggi sebagai penjerap (adsorben). Mekanisme
adsorpsi yang mungkin terjadi adalah adsorpsi fisika (melibatkan gaya Van der Walls),
adsorpsi kimia (melibatkan gaya elektrostatik), ikatan hidrogen dan pembentukan
kompleks koordinasi. Molekul atau zat yang dijerap akan menempati posisi pori.
Daya serap (absorbansi) zeolit tergantung dari jumlah pori dan luas permukaan.
Molekul-molekul dengan ukuran lebih kecil dari pori yang mampu terjerap oleh zeolit.

Zeolit Sebagai Absorben


Zeolit juga memiliki sifat pertukaran ion. Kation-kation pada pori berperan sebagai
penetral muatan zeolit. Kation-kation ini dapat bergerak bebas sehingga dapat dengan
mudah terjadi pertukaran ion. Mekanisme pertukaran kation tergantung pada ukuran,
muatan dan jenis zeolitnya.

Pertukaran Ion Pada Zeolit

Clay (lempung)
Clay atau lempung atau tanah liat terbagi menjadi beberapa jenis . salah satunya adlah
bentonit, yang memiliki kemampuang mengadsorpsi. Bentonit adalah suatu istilah nama
dalam dunia perdagangan yang sejenis lempung plastis yang mempunyai kandungan
mineral montmorilonit lebih dari 85%.
Bentonit dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan kandungan alumunium
silikat hydrous, yaitu:
- Actinated clay adalah lempung yang kurang memiliki daya pemucat, tetapi daya
-

pemucatnya dapat ditingkatkan melalui pengolahan tertentu.


Fullers earth digunakan di dalam fulling atau pembersih bahan wool dari lemak

Sifat daya jerap yang terdapat dalam bentonit terjadi karena adanya ruang pori-pori
antar ikatan mineral lempung serta ketidakseimbangan antar muatan listrik dalam ionionnya. Daya serap tersebut umumnya berada pada ujung permukaan kristal serta
diameter ikatan mineral lempung. Hal ini menyebabkan bentonit banyak digunakan
sebagai bahan penyerap dalam berbagai keperluan baik dalam bentuk basah (suspensi)
maupun dalam bentuk kering (serbuk). Semakin besar luas permukaannya maka
semakin besar pula zat-zat yang terbawa atau melekat pada bentonit. Bentonit juga
memiliki kemampuan mengembang dan mengkerut yang menyebabkan clay ini dapat
menerima dan menyerap ion-ion logam dan senyara organic.

Kitosan

Kitosan banyak digunakan dalan pengolahan air limbah industry. Hal ini disebabkan
Karena kitosan mampu menyerap ion-ion logam pada air limbah dan dapat digunakan
kembali melalui proses desorpsi dengan cara pembakaran.
Kemampuan kitosan untuk mengikat logam dengan cara pengkelat adalah dihubungkan
dengan kadar nitrogen yang tinggi pada rantai polimernya. Kitosan mempunyai satu
kumpulan amino linier bagi setiat unit glukosa. Kumpulan amino ini mempunyai
sepasang elektron yang dapat berkoordinat atau membentuk ikatan-ikatan aktif dengan
kation-kation logam. Unsur nitrogen pada setiap monomer kitosan dikatakan sebagai
gugus yang aktif berkoordinat dengan kation logam.
Interaksi kitosan dengan ion logam terjadi karena proses pengkompleksan dimana
penukaran ion, penyerapan dan pengkhelatan terjadi selama proses berlangsung. Ketiga
tiga proses tersebut tergantung dari ion logam masing masing seperti penukaran ion
logam masing-masing seperti penukaran ion pada logam Ca. kitosan menunjukkan
affinitas yang tinggi pada logam transisi golongan 3, begitu pula pada logam yang
bukan golongan alkali dengan konsentrasi rendah.
Pada umumnya mekanisme serapan kitosan terhadap logam dapat dirumuskan pada tiga
cara, yaitu : Secara pengkelatan, dimana terbentuknya ikatan aktif antara nitrogen
kitosan dengan kation logam, dalam hal ini nitrogen dari kitosan bertindak sebagai basa
lewis yang menyumbangkan sepasang electron untuk berkoordinat dengan logam.
Secara pertukaran ion yaitu berlaku pertukaran antara proton dari kitosan dengan kation
logam. Secara memperangkap, dimana ion logam terperangkap dalam lingkaran rantai
polimer kitosan.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adsorpsi

Jenis adsorben dan adsorbat : Apabila adsorbennya bersifat polar, maka komponen
yang bersifat polar akan terikat lebih kuat dibandingkan dengan komponen yang kurang

polar.
Luas permukaan adsorben : Adsorben dengan luas permukaan kontak yang lebih

besar akan meningkatkan jumlah adsorbat yang teradsorpsi.


Konsentrasi zat terlarut : Senyawa terlarut memiliki gaya tarik-menarik yang kuat

terhadap pelarutnya sehingga lebih sulit diadsorbsi dibandingkan senyawa tidak larut.
Temperatur : Tingkat adsorbsi naik diikuti dengan kenaikan temperatur dan turun
diikuti dengan penurunan temperatur.

Waktu kontak adsorben dengan adsorbat. Semakin lama waktu kontak dengan

adsorbat, maka semakin besar adsorpsinya.


Karakteristik adsorbat seperti densitas, berat molekul, ukuran, bentuk molekul,
tekanan uap molekul, konsentrasi molekul, polaritas, reaktivitas, dan keberadaan
senyawa lain sebagai competitor.

4.

Untuk dapat mengetahui regenerasi penggunaan adsorben setelah digunakan, perlu


dilakukan proses-proses desorpsi, jelaskan bagaimana caranya!
Desorpsi atau proses regenerasi adsorben merupakan kebalikan dari proses adsorpsi. Karena
alasan ekonomis, adsorben yang biasanya berharga mahal harus diregenerasi dan bahanbahan yang teradsorpsi, misalnya ion logam berat harus dipisahkan dari adsorben agar dapat
diolah lebih lanjut. Desorpsi terjadi seiring berjalannya adsorpsi, ketika kesetimbangan
terjadi, laju adsorpsi sama dengan laju desorpsi. Usaha untuk mendapatkan kembali
adsorben adalah memberi gangguan kesetimbangan agar kesetimbangan bergeser ke arah
terjadinya desorpsi. Contoh desorpsi adalah pelepasan uap air dari permukaan silica gel.
Proses yang terjadi adalah sebagai berikut. Proses dari kiri ke kanan adalah proses adsorpsi,
sedangkan proses dari kanan ke kiri adalah proses desorpsi atau regenerasi adsorben.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk mendukung terjadinya desorpsi antara lain
dengan metode termal atau penambahan panas, penyinaran sinar inframerah, x-ray, dengan
bantuan analisa spektroskopi massa, laser, dialirkan arus listrik dan sebagainya. Energi
tambahan yang diberikan tersebut memberikan energi tambahan bagi molekul gas atau
cairan teradsorpsi untuk melepaskan diri dari adsorben.

Gambar . Adsorpsi dan Desorpsi

Referensi:
Adsorption Solutions. 2015. Adsorption Solutions | Mercury Removal. [ONLINE] Available
at:http://www.adsorptionsolutions.com/mercury.php. [Accessed 06 November 2015].
Anonym. 2015. Proses Penyerapan Karbon Aktif. [ONLINE] Available
at:http://www.karbonaktif.org/2013/05/proses-penyerapan-karbon-aktif.html. [Accessed 06
November 2015].
Chemistry Learning. 2015. Adsorption Isotherm and its Types | Chemistry Learning. [ONLINE]
Available

at:http://www.chemistrylearning.com/adsorption-isotherm/.

[Accessed

06

November 2015].
Kurniawan, Danar. 2008. Modifikasi Bentonit. FMIPA UI.
P.W. Atkins. 2006. Physical Chemistry 8th Edition. Great Britain: Oxford University Press.
UOP Honeywell. Nd. UOP Advanced Mercury Removal Technologies. [ONLINE] Available at:
http://www.uop.com/wp-content/uploads/2011/01/UOP-Advanced-Mercury-RemovalTechnologies-tech-paper.pdf [Accessed 06 November 2015].