Anda di halaman 1dari 18

MODUL IV OSILATOR

Rosana Dewi Amelinda (13213060)


Asisten : Fikri Abdul Aziz (13212127)
Tanggal Percobaan: 11/11/2015
EL3109-Praktikum Elektronika II

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Abstrak Pada praktikum Modul IV ini dilakukan
beberapa percobaan antara lain rangkaian osilator RC,
rangakaian osilator dengan resonator, rangkaian pembangkit
gelombang segitiga, pembangkit gelombang persegi, dan osilator
cincin. Pada rangkaian osilator RC dilakukan dua
pengamaran yaitu pengamatan osilasi dan kriteria osilasi
(untuk osilator jembatan wien, osilator penggeser fasa, dan
osilator kuadratur) serta pengendalian amplitude (pada
osilator penggeser fasa). Pada rangkaian osilator dengan
resonator dilakukan pengamatan osilator LC (osilator
Collpitts, Osilator Clapp dan Osilator Hartley). Pada setiap
rangkaian osilator haruslah memenuhi kriteria Barkhausen,
perbedaanya yaitu terletak pada frekuensi sinyal yang
dibangkitkan dan amplitude output yang dihasilkan.
Kata kunci: Osilator.
1.

PENDAHULUAN

Banyak sistem elektronik menggunakan


rangkaian yang mengubah energi DC menjadi
berbagai bentuk AC yang bermanfaat. Osilator,
generator, lonceng elektronika termasuk kelompok
rangkaian ini. Pada penerima radio misalnya,
isyarat DC diubah menjadi isyarat AC frekuensitinggi.
Osilator
juga
digunakan
untuk
menghasilkan isyarat horizontal dan vertikal untuk
mengontrol berkas elektron pada pesawat TV.
Masih banyak lagi penerapan rangkaian ini pada
sistem lain seperti kalkulator, komputer dan
transmiter RF.
Osilator adalah suatu rangkaian yang
menghasilkan keluaran yang amplitudonya
berubah-ubah secara periodik dengan waktu.
Keluarannya bisa berupa gelombang sinusoida,
gelombang persegi, gelombang pulsa, gelombang
segitiga atau gelombang gigi gergaji.
Osilator bisa dibangun dengan menggunakan
beberapa teknik dasar, yaitu :
a. Menggunakan komponen-komponen yang
memperlihatkan karakteristik resistansi
negatif, dan lazimnya menggunakan diode
terobosan dan UJT
b. Menggunakan umpanbalik positif pada
penguat. Umpanbalik positif menguatkan
desah internal yang terdapat pada penguat.
Jika keluaran penguat sefasa dengan
masukkannya, osilasi akan terjadi

Banyak rangkaian yang dapat dipakai untuk


membangkitkan gelombang sinus. Dan yang paling
populer adalah Osilator Clapp, Osilator Colpitt,
Osilator kristal, dan jembatan Wien. Setiap tipe
mempunyai keuntungan khusus dan daerah
penerapan masing-masing. Jembatan Wien banyak
dipakai dalam osilator frekuensi audio terutama
karena kemantapan frekuensinya yang baik dan
relatif mudah dibuat
Berdasarkan metode pengoperasiannya osilator
dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu
osilator balikan/feedback dan osilator relaksasi.
Pada osilator balikan, sebagian daya keluaran
dikembalikan ke masukan yang miasalnya dengan
menggunakan rangkaian LC. Osilator biasanya
dioperasikan pada frekuensi tertentu. Osilator
gelombang sinus biasanya termasuk kelompok
osilator ini dengan frekuensi operasi dari beberapa
Hz sampai jutaan Hz. Osilator balikan banyak
digunakan pada rangkaian penerima radio dan TV
dan pada transmiter.
Osilator relaksasi merespon piranti elektronik
dimana akan bekerja pada selang waktu tertentu
kemudian mati untuk periode waktu tertentu.
Kondisi pengoperasian ini berulang secara mandiri
dan kontinu. Osilator ini biasanya merespon proses
pemuatan dan pengosongan jaringan RC atau RL.
Osilator ini biasanya membangkitkan isyarat
gelombang kotak atau segitiga. Aplikasi osilator ini
diantaranya pada generator penyapu horizontal
dan vertikal pada penerima TV. Osilator relaksasi
dapat merespon aplikasi frekuensi-rendah dengan
sangat baik.
Osilator Hartley banyak digunakan pada
rangkaian penerimaradio AM dan FM. Frekuensi
resonansi ditentukan oleh harga T1 dan C1.
Kapasitor C2 berfungsi sebagai penggandeng AC
ke basis Q1. Tegangan panjar Q1 diberikan oleh
resistor R2 dan R1. Kapasitor C4 sebagai
penggandeng variasi tegangan kolektor dengan
bagian bawah T1 . Kumparan penarik RF (L1)
menahan AC agar tidak ke pencatu daya. L1 juga
berfungsi sebagai beban rangkaian. Q1 adalah dari
tipe n-p-n dengan konfigurasi emitor bersama.
Osilator Colpitts sangat mirip dengan osilator
Shunt-fed Hartley. Perbedaan yang pokok adalah
pada bagian rangkaian tangkinya. Pada osilator
Colpitts, digunakan dua kapasitor sebagai
pengganti kumparan yang terbagi. Balikan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

dikembangkan dengan menggunakan medan


elektrostatik melalui jaringan pembagi kapasitor.
Frekuensi ditentukan oleh dua kapasitor terhubung
seri dan induktor. Osilator Clapp adalah versi
modifikasi osilator Colpitt dengan kemantapan
frekuensi lebih baik.
Tujuan praktikum modul 2 ini diantaranya :
Mengamati
dan
mengenali
prinsip
pembangkitan sinyal sinusoidal dengan
rangkaian umpan balik
Mengamati dan menganalisa rangkaianrangkaian osilator umpan balik resistor dan
kapasitor (RC) dan induktor dan kapasitor
(LC)
Mengamati dan menganalisa keadaan untuk
menjamin terjadinya osilasi
Mengamati dan menganalisa pengaturan
amplituda output osilator
Mengamati
dan
mengenali
prinsip
pembangkitan sinyal nonsinusoidal dengan
umpan balik rangkaian tunda dan komparator
Merancang
dan
mengimplementasikan
pembangkit gelombang segitiga dan persegi
Mengamati dan menganalisa osilator cincin
(ring oscillator)

2.

kriteria tersebut dilihat dari total penguatan loop


terbuka L sebagai berikut :

Osilator dengan Opamp, Resistor dan Kapasitor

Implementasi Kriteria Osilasi

Ada banyak cara untuk mencapai kriteria


terjadinya osilasi di atas, namun untuk
kemudahannya dalam perancangan sering kali
dipilih keadaan-keadaan berikut :

Contoh implementasi untuk ketiga keadaan


tersebut di atas, secara berurutan adalah Osilator
Jembatan Wien, Osilator Penggeser Fasa, dan
Osilator Kuadratur yang rangkaian umumnya
tampak pada Gambar 2.
Gambar 2 Contoh implementasi kriterisa Osilasi
(a) Jembatan Wien (b) Pergeseran Fasa (c) Kuadratur

STUDI PUSTAKA

Osilator dan Umpan Balik Positif


Sistem dengan umpan balik secara umum
dapat digambarkan dengan diagram blok pada
Gambar 1 berikut
Gambar 1 Diagram Blok Sistem dengan Umpan Balik

Blok A merupakan fungsi transfer maju dan


blok merupakan fungsi transfer umpan baliknya.
Pada sistem dengan umpan balik ini dapat
diturunkan penguatan tegangannya:

Secara umum persamaan di atas menunjukkan


adanya tiga keadaan yang ditentukan oleh
denominatornya. Salah satu keadaan tersebut
adalah saat denominator menjadi nol. Saat itu nilai
Af menjadi tak hingga. Secara matematis pada
keadaan ini bila diberikan sinyal input nol atau
vi=0 ini, akan menjadikan tegangan vo dapat
bernilai berapa saja. Keadaan seperti inilah yang
menjadi prinsip pembangkitan sinyal atau osilator
sinusoidal dengan umpan balik yang disebut
sebagai Kriteria Barkhausen. Dalam rangkaian

Osilator Jembatan Wien secara umum


mempunyai frekuensi osilasi dan penguatan yang
diperlukan untuk terjadinya osilasi sebagai
berikut :

Dalam realisasinya, dalam merancang Osilator


Jembatan Wien sering kali dipilih R1=R2=R dan
C1=C2=C sehingg frekuensi osilasinya menjadi
=1/CR dan penguatan yang diperlukan Am=3.
Nilai lain yang juga sering digunakan adalah R1=R,
R2=10R, C1=C/10, dan C2=10C dengan frekuensi
osilasi yang sama yaitu =1/CR namun penguatan
hanya Am=1,2.
Untuk Osilator Penggeser Fasa frekuensi
osilasi dan penguatan yang diperlukan adalah

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Sedangkan untuk osilator kuadratur frekuensi


osilasinya adalah

dan untuk masing-masing integrator (inverting dan


noninverting) penguatannya adalah

Dalam perancangannya bila dipilih R1=R2=R,


R3=R4 dan C3=C4 maka diperoleh penguatan pada
masing-masing opamp 1 (satu) dan penguatan loop
terbuka juga 1 (satu).

Pengendalian Amplituda

Kriteria osilasi sangat ketat, bila


maka
maka rangkaian umpan balik menjadi tidak stabil
dan bila

Osilator Clapps memberikan frekuensi osilasi

osilasi tidak akan terjadi. Oleh

karena itu, penguat pada osilator menjamin


saat mulai dioperasikan dan kemudian dibatasi
pada nilai
saat beroperasi. Cara yang umum
digunakan untuk kendali tersebut adalah dengan
rangkaian pembatas amplituda (clipper) atau
pengendali penguatan otomatis (automatic gain
control, AGC).
Prinsip kerja rangkaian pembatas amplituda
adalah memanfaatkan dioda pada resistor penentu
penguatan rangkaian penguat operasional. Dioda
akan konduksi dan mempertahankan nilai
tegangannya bila memperoleh tegangan lebih dari
tegangan cut-in. Prinsip kerja pengendali
penguatan otomatis adalah dengan menggantikan
resistor penentu penguatan rangkaian penguat
operasional dengan transistor (FET). Tegangan
output disearahkan dan digunakan untuk
mengendalikan resistansi transistor.
Cara lain adalah dengan menggunakan Piece
Wise Linear Limiter. Prinsip cara ini adalah
menjadikan penguat memberikan penguatan pada
amplituda yang berbeda yang ditentukan dengan
dioda dan resistor.
Osilator dengan Resonator

tersebut tidak dapat terjadi dengan sendirinya.


Untuk menjamin terjadinya osilasi tersebut, maka
rangkaian LC harus mendapat mekanisme
kompensasi
terhadap
redaman.
Pada
implementasinya maka induktor dan kapasitor
ditempatkan dalam rangkaian umpan balik guna
menjaga resonansi berkelanjutan.
Ada beberapa rangkaian osilator LC yang
terkenal, tiga diantaranya adalah Colpitts, Clapp,
dan hartley. Prinsip rangkaian penguat dan
umpan balik untuk ketiganya tampak pada
Gambar 3. Frekuensi osilasi rangkaian ini
ditentukan oleh rangkaian resonansinya. Untuk
Osilator Collpits frekuensi resonansinya dalah
sebagai berikut.

Osilator Penguat, Induktor dan Kapasitor


(LC Oscillator)

Osilator dengan penguat, induktor dan


kapasitor pada dasarnya merupakan osilator yang
memanfaatkan rangkaian resonansi seri induktor
dan kapasitor (LC). Secara teoritis, induktor dan
kapasitor akan mengalami self resonance. Akan
tetapi adanya redaman akibat resistansi pada
induktor dan konduktansi pada kapasitor osilasi

Osilator Hartley memberikan frekuensi osilasi

Pada persamaan di atas digunakan tanda


mendekati karena frekuensi akan bergeser sedikit
bila resistansi input dan resistansi output penguat
masuk dalam perhitungan.
Gambar 3 Osilator LC (a) Colpitts(b) Clapp (c) Hartley

Osilator Kristal
Prinsip osilator dengan kristal mirip dengan
osilator LC. Osilator kristal menggunakan kristal
untuk rangkaian resonansi sekaligus rangkaian
umpan baliknya. Banyak alternatif penggunaan
osilator sinusoidal dengan kristal adalah dengan
memanfaatkan resonansi seri atau resonansi paralel
kristal tersebut
Prinsip Pembangkit Gelombang Nonsinusoidal
Prinsip Umum
Secara umum osilator nonsinusoidal atau juga
dikenal sebagai astable multivibrator dapat
memanfaatkan fungsi penunda sinyal, inverting,
dan/ atau komparasi dengan histeresis atau bistable
multivibrator. Bagian-bagian tersebut dapat Bagianbagian tersebut dirangkai dalam loop tertutup
dengan keseluruhan loop bersifat inverting.
Alternatif pembentukan loop tersebut ditunjukkan
pada 4.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 4 Prinsip Dasar Pembangkitan Gelombang

dapat dibangun dengan rangkaian resistor dan


kapasitor orde satu (RC orde 1 sebagai filter
frekuensi rendah LPF). Penggunaan integrator
memberikan skala waktu tunda linier sedangkan
rangkaian RC orde 1 memberikan waktu tunda
mengikuti fungsi eksponensial negatif.

Fungsi komparator dengan histeresis atau


bistable multivibrator adalah mempertahankan
keadaan pada status tertentu sehingga ada sinyal
luar yang memaksa perubahan status tersebut.
Fungsi penunda adalah untuk memberikan selisih
waktu antara perubahan pada output komparator
atau multivibrator kembali ke input komparator
atau multivibrator tersebut. Secara keseluruhan
fungsi dalam satu loop haruslah bersifat inverting
atau membalikkan sinyal.
Komparator dengan Histeresis
Alternatif cara untuk memperoleh komparator
dengan histeresis adalah dengan menggunakan
penguat operasional dan resistor pembagi
tegangan. Gambar 5 menunjukkan rangkaian
komparator dengan histeresis non inverting berikut
kurva karakteristik alih tegangan (VTC)-nya.
Rangkaian komparator dengan histeresis inverting
berikut kurva karakteristik alih tegangan (VTC)nya ditunjukkan pada Gambar 6. Pada kedua
gambar tersebut VS menyatakan tegangan saturasi
keluaran penguat operasional.
Gambar 5 (a) Komparator dengan Histeresis (b) Kurva
Karakteristik Alih Tegangannya

Gambar 6 (a) Komparator dengan Histeresis Inverting (b)


Kurva Karakteristik Alih Tegangannya

Rangkaian Tunda
Rangkaian tunda dapat diimplementasikan
dengan beberapa cara. Rangkaian tunda inverting
dapat dibangun dengan integrator dengan penguat
operasional dan rangkaian tunda noninverting

Rangkaian Pembangkit Gelombang Nonsiusoidal


Pembangkit Gelombang Segitiga
Rangkaian pembangkit gelombang segitiga
dapat
dibangun
dengan
memanfaatkan
komparator dengan histeressis noninverting dan
rangkaian integrator. Rangkaian ini tampak pada
Gambar 7.
Gambar 7 Pembangkit Gelombang Segitiga

Rangkaian pembangkit gelombang segitiga ini


akan memberikan sinyal dengan frekuensi dan
amplituda pada persamaan berikut.

Untuk memastikan komparator berfungsi baik


maka nilai harus dipenuhi resistansi R2>R1. Selain
menghasilkan gelombang segitiga, rangkaian
tersebut juga mengahsilkan gelombang persegi
pada output komparatornya dengan tegangan +Vs
dan Vs.
Pembangkit Gelombang Persegi
Rangkaian pembangkit gelombang segitiga
dapat
dibangun
dengan
memanfaatkan
komparator dengan histeressis inverting dan
rangkaian RC orde 1. Rangkaian ini tampak pada
Gambar 8.
Gambar 8 Pembangkit Gelombang Persegi

Rangkaian pembangkit gelombang segitiga ini


akan memberikan sinyal dengan frekuensi sbb.:

Gelombagn
persegi
yang
mempunyai tegangan +Vs dan Vs.

dihasilkan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Osilator Cincin (Ring Oscillator)


Osilator cincin dapat dibangun dengan
sejumlah ganjil inverter CMOS dan penunda
waktu yang disusun dalam satu loop. Secara
alamiah setiap inverter juga mempunyai waktu
tunda dengan demikian sejumlah ganjil inverter
yang disusun dalam satu loop juga akan
membentuk osilator seperti ditunjukkan pada
Gambar 9. Untuk memperoleh frekuensi yang
lebih rendah waktu tunda tiap inverter dapat
diperbesar dengan menambahkan kapasitor yang
terhubung dengan ground pada output inverter.
Gambar 9 Osilatpr Cincin

Frekuensi sinyal yang dihasilkan oleh osilator


cincin ini adalah

Dalam hal ini n adalah jumlah inverter dan td


adalah delay rata-rata inverter.
Pengaturan Duty Cycle
Rangkaian osilator di atas menghasilkan
gelombang simetris dengan duty cycle 50%. Untuk
menghasilkan gelombang asimetris atau duty
cycle bukan 50% dapat dengan mudah dilakukan
dengan mengatur nilai waktu tunda yang berbeda
saat naik dan saat turun. Cara ini dapat dilakukan
dengan menggantikan resistor rangkaian tunda
pada integrator atau rangkaian RC orde 1 dengan
dua buah resistansi yang berbeda masing-masing
terhubung seri dengan dioda yang berlawanan
arah. Contoh untuk pembangkit gelombang
segitiga dengan waktu naik dan turun berbeda
tampak pada Gambar 10. Resistansi Ra akan
mementukan waktu tunda naik dan resistansi Rb
menentukan waktu tunda turun.
Gambar 10 Pembangkit Gelombang Asimetrik (a)
Segitiga (b) Persegi

Prinsip yang sama dapat digunakan pada


rangkaian pembangkit sinyal persegi dengan
menggantikan resistansi rangkaian orde 1 dengan
dua resistansi masing-masing terhubung seri
dengan dioda yang berlawanan arah.
Pada rangkaian pembangkit segitiga resistor
Ra menentukan lama sinyal naik dan tegangan
negetif pada output komparator. Sedangkan
resistor Rb menentukan lama sinyal turun atau
tegangan positif pada komparator. Dengan
merujuk duty cycle pada output sinyal persegi
dari komparator rangkaian pada Gambar 10 (a),
nilai resistansi tersebut dapat ditentukan dengan
persamaan berikut:

dengan D duty cycle dan f frekuensi gelombang


yang dibangkitkan. Sedangkan untuk rangkaian
pada Gambar 10 (b) nilai resistansi dapat
ditentukan dengan persamaan berikut:

3.

METODOLOGI

Pada percobaan 4 ini, alat dan bahan yang


digunakan yaitu :
1.

Kit praktikum Osilator Sinusoidal

2.

Generator Sinyal GW Instek SFG-2110

3.

Osiloskop GW Instek GDS-806S

4.

Multimeter Digital Sanwa (1 buah)

5.

Catu daya Ter-regulasi (2 buah)

6.

Kabel dan asesori pengukuran ( 5 buah


kabel BNC dan 18 kabel banana)

7.

Aerosol udara terkompresi

8.

Breadboard

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

9.

Komponen aktif Opamp 741 dan Inverter


CMOS 4007

10. Komponen pasif Resistor dan Kapasitor


11. Kabel AWG 22
Memulai percobaan

Sebelum memulai percobaan, isi dan tanda


tangani lembar penggunaan meja yang
tertempel pada masing-masing meja praktikum
Osilator RC

Pengamatan Osilasi dan Kriteria Osilasi

Disusun rangkaian osilator jembatan Wien pada


gambar 11 berikut dengan nilai resistansi R = 1.8
k, kapasitansi C = 18 nF, resistansi Ri = 10 k,
dan resistansi Rf sedikit diatas 20 k. Tegangan
catu daya penguat operasional Vcc = 15 V dan Vcc = -15 V

Hubungkan terminal output vO dengan kanal 2


osiloskop. Atur resistansi Rf sehingga diperoleh
rangkaian yang berosilasi dengan output sinyal
sinusoid yang baik. Amati dan catat ampitudo dan
frekuensi sinyal keluarannya, serta ukur resistansi
Rf.

Putuskan rangkaian pada simpul P dan hubungkan


simpul input rangkaian umpan balik dengan
generator sinyal dengan frekuensi sesuai
pengamatan atau perhitungan (Gambar 12).
Hubungkan juga sinyal dari generator sinyal ini ke
input kanal 1 osiloskop. Amati dan catat
amplituda dan fasa penguatan total loop.

Pindahkan input kanal 2 osiloskop vX. Amati dan


catat amplituda dan fasa peredaman pada
rangkaian umpan balik.

Susun rangkaian osilator penggeser fasa seperti


pada Gambar 13. Gunakan nilai resistansi R=1,8k ,
kapasitansi C=18nF, dan resistansi Rf sedikit di atas
52,2k . Tegangan catu daya penguat operasional
VCC=15V dan VCC=-15V.

Ulangi langkah 2-4 di atas untuk rangkaian osilator


penggeser fasa ini.

Susun rangkaian osilator kuadratur seperti pada


Gambar 2(c). Gunakan nilai resistansi R=1,8k ,
kapasitansi C=18nF, resistansi Ri=10k , dan
Resistansi Rf sekitar 10k .

Ulangi langkah 2-4 di atas untuk rangkaian osilator


penggeser fasa ini.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 11 Osilator Jembatan Wien dengan Penguat


Operasional

Gunakan rangkaian osilator penggeser fasa dan atur


resistansi Rf sehingga ouput osilator diperoleh 18Vpp
(atau nilai lain yang lebih rendah yang dapat
diperoleh dengan mudah).

Gunakan udara terkompresi untuk mendinginkan


penguat operasional dan amati apa yang terjadi pada
amplituda output osilator

Atur kembali resistansi resistansi Rf sehingga ouput


osilator diperoleh sekitar 25Vpp atau lebih.
Gambar 12 Pengukuran Penguat Open Loop Osilator
Jembatan Wien

Hubungkan penguat dengan pembatas amplituda


seperti pada gambar 14. Gunakan pembatas
amplituda dengan resistansi RA 5,6k dan RB 3,3k .
Gunakan udara terkompresi untuk mendinginkan
penguat operasional dan amati apa yang terjadi pada
amplituda output osilator.
Gambar 14 Osilator Penggeser Fasa dengan Pembatas
Amplituda
Gambar 13 (a) Osilator Penggeser Fasa (b) Pengukuran
Penguatan Open Loop nya

Osilator dengan Resonator

Osilator LC

Pengendalian Amplituda

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Gambar 16 Osilator Hartley

Susunlah rangkaian osilator seperti


digambarkan pada Gambar 15 (kiri). Untuk
rangkaian penguat gunakan nilai komponen R1
= 10k , R2 = RC =3,3k , Re = 82 , RE = 1k , CC1 =
CC2 = CB = 1 F, dan Q1 = 2N2222, serta catu daya
rangkaian VCC = 12V. Komponen rangkaian
umpan balik untuk osilator Colpitts ini L = 100
H, C1 = 18nF, dan C2 = 22nF.

Amati dan catat amplituda dan frekuensi sinyal


ouput osilator tersebut.

Lakukan kembali untuk rangkaian Osilator


Clapp seperti pada Gambar 15 (kanan) dengan
komponen rangkaian umpan balik L = 2,5mH, C1
= 220nF, C2 = 330nF dan C3 = 470nF

Susunlah rangkaian Osilator Hartley seperti


digambarkan pada Gambar 16. Untuk rangkaian
penguat gunakan nilai komponen R1 = 15k , R2 =
1k , RE = 22 , CC1 = CC2 = CB = 1 F, dan Q1 =
2N2222, serta catu daya rangkaian VCC = 12V.
Komponen rangkaian umpan balik untuk
osilator Hartley ini C = 18nF, L1 = 33 H, dan L2 =
82 H.

Amati dan catat amplituda dan frekuensi sinyal


ouput osilator tersebut.

Gunakan udara terkompresi untuk


mendinginkan beberapa komponen secara
bergiliran transistor, kapasitor dan induktor
rangkaian resonansi. Amati amplituda dan
frekuensi sinyal outputnya

Osilator Kristal

Susunlah rangkaian osilator kristal seperti


digambarkan pada Gambar 17 (a). Osilator ini
menggunakan inverter CMOS 4007 sebagai
penguat inverting. Gunakan resistansi bias RB =
1M untuk menetapkan titik bias inverter dan
kapasitor kopling CC = 1nF serta kapasitor Cf =
33pF bersama dengan kristal untuk umpan balik
tegangan.

Amati amplituda dan frekuensi sinyal outputnya.

Gunakan udara terkompresi untuk


mendinginkan secara bergiliran inverter CMOS
dan kristal. Amati amplituda dan frekuensi
sinyal outputnya

Lakukan kembali untuk Osilator Kristal Pierce


seperti pada Gambar 17 (b) dengan nilai
komponen RB = 1M Cf = 33pF, RLP = 10k dan
CLP = 33pF.
Gambar 17 Osilator Kristal

Gambar 15 (kiri) Osilator Collpitts (kanan) Osilator Clapp

Pembangkit Gelombang segitiga

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Susunlah rangkaian pembangkit gelombang segitiga


sesuai rangkaian yang telah dipersiapkan.

Susunlah rangkaian osilator cincin dengan 3


(tiga) inverter.

Gunakan kanal 1 osiloskop dan mode waktu untuk


mengamati keluaran integrator pada pembangkit
sinyal yang telah disusun. Amati dan catat bentuk
sinyal, amplituda dan frekuensinya. Pada saat yang
sama amati juga sinyal tegangan pada output
komparatornya pada kanal 2

Bacalah pada kanal input BNC osiloskop nilai


beban kapasitif osilokop dan baca juga data sheet
untuk probe osiloskop yang digunakan terkait
beban kapasitifnya.

Gunakan salah satu kanal osiloskop untuk


mengamati sinyal output salah satu inverter.
Catat frekuensi sinyal yang dihasilkannya.

Putuskan hubungan antara komparator dan


integrator. Hubungkan input komparator dengan
generator sinyal. Berikan sinyal segitiga dengan
amplituda mendekati 15Vpp. Hubungkan input
komparator dengan kanal 1 osiloskop dan ouput
komparator dengan kanal 2 osiloskop. Gunakan
osiloskop pada mode xy untuk memperoleh kurva
karakteristik alih tegangan (VTC) komparator

Secara bersamaan gunakan juga kanal osiloskop


lainnya untuk mengamati sinyal input pada
inverter di atas dan perhatikan frekuensi yang
dihasilkan.

Pembangkit Gelombang Persegi


Susunlah rangkaian pembangkit gelombang
persegi sesuai rangkaian yang telah dipersiapkan.

Gunakan kanal 1 osiloskop dan mode waktu


untuk mengamati keluaran komparator pada
pembangkit sinyal yang telah disusun. Amati
dan catat bentuk sinyal, amplituda dan
frekuensinya. Pada saat yang sama amati juga
sinyal tegangan pada input komparatornya pada
kanal 2.

Dengan hanya mengamati satu sinyal dengan


osiloskop, amati dan catat frekuensi yang
dihasilkan untuk osilator cincin dengan 3, 5 dan 7
buah inverter.

4.

HASIL DAN ANALISIS

Percobaan 1 : Osilator RC

Pengamatan Osilasi dan Kriteria Osilasi

Pada percobaan 1 ini dilakukan pengamtan osilasi


pada rangkaian osilator Jembatan Wien.
Perhitungan

Putuskan hubungan antara komparator dan


rangkaian RC orde 1. Hubungkan input
komparator dengan generator sinyal. Berikan
sinyal segitiga dengan amplituda mendekati
15Vpp. Hubungkan input komparator dengan
kanal 1 osiloskop dan ouput komparator dengan
kanal 2 osiloskop. Gunakan osiloskop pada
mode xy untuk memperoleh kurva karakteristik
alih tegangan (VTC) komparator.
Osilator Cincin

=
=

1
21. 2. 1. 2
1
2(18)(18)(18)(18)

= .
= 1 +

2 1
18 18
+
=1+
+
1 2
18 18
= 3 . (1)

= 1 +

3=1+

(2)

10

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Berikut hasil percobaan yang diperoleh :

yang diperoleh tidak akan sama dengan 1 dan beda


fasanya pun akan tidak sama dengan 00

Table 1 Hasil pengukuran Osilator Jembatan Wien

Selanjutnya dilakukan pengamatan yang sama


untuk rangakaian penggeser fasa dan kuadratur.
Berikut hasil yang diperoleh :

Penguatan Operasional
Frekuenis
kHz

4.833

Perhitungan Pangakaian Penggeser Fasa

Amplituda 13.7 V

Rf = 21 k
5 V/div, 50s/div

Penguatan Open Loop

1
26
1
26 (1.8)(18)

= .
Frekuenis
kHz

4.833

= 29 . . (1)

. . (2)

29 = 1 +
1.8

Amplituda 0.98 V

= 00
50 mV/div,
50s/div

= .

Tegangan pada Vx
Frekuenis
kHz

4.833

Table 2 Hasil pengamatan Osilator Penggeser Fasa

Penguatan Operasional

Amplituda 328 mV

Frekuenisi 1.931 kHz

= 00

Amplituda 324 mV

100 mV/div,
s/div

50

Rf = 53.2 k
200 mV/div, 250 s/div

Osilator jembatan wien yang dipakai pada


percobaan ini yaitu menggunakan feedback
rangkaian RC (RC seri-sebagai HPF yang
dihubungkan dengan RC parallel-sebagai LPF).
Kedua rangkaiana RC ini akan menghasilkan
frekuensi orde 2 yang bergantung pada frekuensi
resonansinya. Pada frekuensi resonansi inilah akan
diperoleh beda fasa input dan otput sama dengan 0
dan penguatan yang maksimumnya.
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh nilai
frekuensi yang menyebabkan output berosilasi
(tanpa adanya input) yaitu sebesar 4.833 kHz. Nilai
ini terbukti sesuai dengan nilai frekuensi yang
diperoleh dari hasil perhitungan yaitu 4.912 kHz.
Begitu pula dengan nilai Rf yang digunakan.
Pada pengamatan rangkaian openloop osilator
wien, dibuktikan pula bahwa pada frekuensi
resonansi yang diperoleh penguatan A = 1
dengan bedan fasa sebesar 00. Hal ini sesuai dengan
teori osilator dimana osilasi hanya terjadi pada satu
nilai frekuensi saja sehingga apabila frekuensi
input dinaikkan atau diturunkan maka penguatan

Penguatan Open Loop


Frekuenis 1.931 kHz
Amplituda 1.06 V
= 00
20 mV/div, 250 s/div

Tegangan pada Vx
Frekuenis 1.931 kHz
Amplituda 41 mV
= 1800
20 mV/div, 250 s/div

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

1
0

Agar diperoleh feedback positif maka


digunakan 3 rangkaian RC yang dihubungkan
dengan penguat non inverting. Ketiga rangakaian
feedback RC ini akan menghasilkan beda fasa
sebesar 1800 (masing-masing menghasilkan beda
fasa < 900, yaitu sekitar 600) dan pada penguat
invertingnya akan dihasilkan beda fasa 180 0 juga
sehingga dihasilkan beda fasa total sebesar 360 0.
Maka diperolehlah feedback positif. Agar kriteria
bakhausen terpenuhi maka untuk penguatan A =
1, penguatan inverting haruslah bernilai A = -29 =
291800. Oleh karena itu digunakan nilai Rf sebesar
52.2 k.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari
percobaan, terbukti bahwa nilai frekuensi dan Rf
hampir sama (mendekati) nilai yang didapat dari
hasil perhitungan. Adanya sedikit perbedaan
kemungkinan dikarenakan nilai toleransi yang ada
pada setiap komponen yang digunakan.
Pada frekuensi dan penguatan yang diperoleh
dari rangkaian close loop, terbukti bahwa saat
percobaan open loop didapatkan nilai penguatan
Vo/Vi (pada f input = f osilasi) = A 1 dan beda
fasanya = 00. Sama seperti pada osilator jembatan
wien, apabila frekuensi input dinaikkan atau
diturunkan maka penguatan yang diperoleh tidak
akan sama dengan 1 dan beda fasanya pun akan
tidak sama dengan 00. Namun perbedaannya yaitu
apabila frekuensi dinaikan, maka penguatannya
akan membesar (tidak mengecil seperti pada
jembatan wien) begitu pula sebaliknya. Hal ini
disebabkan karena penguatan A pada penggeser
fasa berbanding lurus dengan frekuensinya.
Pada percobaan rangkaian osilator kuadratur ,
praktikan tidak sempat melakukan pengamatan di
lab sehingga data diperoleh dari hasil simulas.
Hasilnya sebagai berikut :
Gambar 18 Tegangan output integrator sinus (merah) dan
Tegangan output integrator cosinus (biru)

merupakan integral (gradien) dari Vo cosinus. Hal


ini sesuai dengan hasil simulasi yang diperoleh
yaitu berupa dua buah sinyal sinusoidal yang
berbeda fasa 900.

Pengendalian Amplituda

Pada percobaan ini awalnya diminta output


sebesar 18 Vpp dengan manaikkan nilai Rf dari
nilai yang sebelumnya digunakna pada rangkaian
osilaot penggeser fasa. Namun setelah dilakukan
perubahan pada nilai Rf bahkan hingga Rf max,
tetap tidak diperoleh nilai tegangan output sebesar
18 Vpp. Oleh karena itu dilakukan perubahan pada
nilai input sehingga diperoleh tegangan output 18
Vpp sebagai berikut :
Gambar 19 Pengamatan pengendali amplituda

Selanjutnya diminta mengamati perubahan


dari sinyal output yang dihasilkan apabila
kapasitor ataupun inductor diberi udara kompresi
(aerosol). Dengan pemberian aerosol seharusnya
menghasilkan osilasi yang lebih stabil, terutama
jika adanya ketidakstabilan yang disebabkan akibat
kenaikan suhu. Akan tetapi pada saat diberikan
aerosol pada rangkaian, tidak terjadi perubahan
yang
disignifikan.
Hal
ini
kemungkinan
disebabkan karena suhu aerosol yang digunakan
sudah sama dengan suhu kamar (= suhu op amp)
Percobaan 2 : Osilator dengan Resonator

Osilator LC

Perhitungan
Osilator Collpitts
=

(180)(220)
1. 2
=
1 + 2 180 + 220
= 99

=
Rangakain ini dimanakan kuadratur karena
dilakukan 2 buah integral, dengan output integral
kedua akan mengintegralkan output dari integral
pertama (integral kuadrat). Osilator kuadratur
bekerja dengan menggunakan Opamp integrator
yang menghasilkan gelombang sinusoidal dengan
pergesaran fasa sebesar 900. Penggunaan
integerator mengakibatkan output pada Vo sinus

1
2

1
2(2.5)(99)

= .
Osilator Clapp
=

1. 2. 3
12 + 13 + 23
= 103.056

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

11

1
2

dua osilasi yang berosilasi pada frekuensi yang


sama pada pengumpan balik. Umpan balik ini akan
mengoreksi input sehingga menghasilkan output
gelombang sinusoid yang stabil.

2(2.5)(103.056)

= .
Osilator Hartley
= 1 + 2 = 22 + 27
= 49
=

1
2

1
2(18)(49)

= .
Pada percobaan ini dilakukan pengamaan pada
3 rangkaian osilator yaitu Collpitts, Clipp, dan
Hartley.
Saat
percobaan
praktikan
tidak
memperoleh sinyal output yang hanya berupa
noise untuk osilator Collpitts dan Clipp. Sehingga
dilakukan simulasi untuk kedua osilator tersebut.
Sedangakan untuk osilator Hartley, output yang
dihasilkan berupa sinyal sinusoidal (bukan noise).
Berikut datanya :
Osilator Collpitts
Frekuenisi 9.84 kHz
Amplituda 1.96 V
2 V/div, 50 s/div

Osilator Clapp
Frekuenis 8.24 kHz
Amplituda 1.035 V
1 V/div, 50 s/div

Osilator Collpitts adalah salah satu konfigurasi


osilator dengan resonansi yang umum digunakan.
Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa
pada saat awal osilasi, L>1 amplituda terus
membesar. Setelah beberapa waktu kemudian, L
menjadi menurun dan gelombang output menjadi
stabil dan amplitude nya konstan. Penurunan ini
terjadi akibat adanya feedback yang mengoreksi
input dan menurunkan penguatan L.
Nilai frekuensi osilator collpitts yang
menyebabkan terjadinya resonansi sesuai antara
hasil yag diperoleh dari simulasi dengan hasil
perhitungan.
Apabila diperhatikan dari hasil simulasi,
terlihat bahwa Vo dan Vf yang dihasilkan memiliki
beda fasa sebesar 1800 (sudut fasa ). Hal ini terjadi
karena pada rangakaian feddback A digununakan
Common emitter dengan Re yang kita ketahui
bahwa rangakaian tersebut akan mengakibatkan
perbedaan fasa sebesar 1800. Sehingga apabila
diakumulasikan sudut fasa A akan diperoleh
beda fasa 3600
yang berarti feedback yang
digunakan adalah feedback positif (sesuai dengan
syarat agar terjadi osilasi).
Osilator Clapp pada dasarnya merupakan
osilator Collpitts yang diberi tambahan kapasitor
yang diseri dengan induktornya. Pada saat
dilakukan simulasi, teramati perilaku yang sama
dengan osilator collpitt dimana sinyal tidak stabil
ketika awal terjadinya osilasi. Namun setelah
beberapa saat kemudian feedback dari resonansi
memperkecil penguatan dan membuat osilasi
menjadi stabil.
Nilai
frekuensi
osilator
clapp
yang
menyebabkan terjadinya resonansi sesuai antara
hasil yag diperoleh dari simulasi dengan hasil
perhitungan.

Osilator Hartley
Frekuenisi 5.431 kHz
Amplituda 9.9 V
5 V/div, 250 s/div

Osilator dengan resonator menggunakan


resonansi yang terjadi akibat adanya penjumlahan

Apabila diperhatikan dari hasil simulasi,


terlihat bahwa Vo dan Vf yang dihasilkan memiliki
beda fasa sebesar 1800 (sudut fasa ). Hal ini terjadi
karena pada rangakaian feddback A digununakan
Common emitter dengan Re yang kita ketahui
bahwa rangakaian tersebut akan mengakibatkan
perbedaan fasa sebesar 1800. Sehingga apabila
diakumulasikan sudut fasa A akan diperoleh
beda fasa 3600
yang berarti feedback yang
digunakan adalah feedback positif (sesuai dengan
syarat agar terjadi osilasi).
Osilator Hartley merupakan dual dari
konfigurasi Collpitts. Osilator ini menggunakan

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

12

prinsip dasar yang sama dengan osilator Collpitts,


yaitu memanfaatkan self resonance dengan
menggunakna
rangkaian
feedback
untuk
menstabilkan gelombang output sinusoidal. Prinsip
dual ini juga seharusnya terlihat dari frekuenis
resonansi yang dihasilkan yaitu frekuensi Hartley
merupakan frekuensi tinggi sedangakan frekuensi
Collpittd merupakan frekuensi rendah. Namun
nilai frekuensi resonansi yang diperoleh dari hasil
percobaan lumayan jauh berbeda dengan hasil
perhitungan. Dimana seharusnya diperoleh nilai
frekuensi resonansi dalam orde ratusan kHz
(sesuai perhitungan). Sedangkan nilai frekuensi
yang diperoleh dari hasil percobaan hanya sebesar
5.431kHz. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
adanya nilai toleransi kapasitor dan induktor yang
cukup besar sehingga kurang sesuai dengan nilai
komponen sebenarnya.
Pada dunia nyata, osilator Hartley lebih jarang
digunakan daripada osilator Collpitts. Hal ini
karena osilator Hartley menggunakan lebih banyak
inductor yang memiliki dimensi lebih besar dan
factor kualitas
yang
jauh
lebih
rendah
dibandingkan dengan kapasitor sehingga akan
lebih sulit untuk diprediksi dan dianalisis secara
presisi.
Percobaan 3 : Pembangkit Gelombang Segitiga
Untuk
perhitungan
pada
pembangkit
gelombang segitiga ini dapat dilihat pada
Lampiran. Pada percobaan ini praktikan mendapat
tugas untuk membuat pembangkit gelombang
segitiga dengan spesifikasi frekuensi 1 kHz dan
amplitude 9 Vpp. Hasil pembangkit sinyal yang
diperoleh :
Sinyal output integrator
Frekuensi 872.1 Hz
Amplituda 4.2 V
5 V/div, 500 s/div

Sinyal output komparator


Frekuensi 872 Hz
Amplituda 7.2 V
5 V/div, 250 s/div

Kurva VTC
Ch1 : 5 V/div, Ch2 : 5
V/div, 250 s/div

Berdasarkan data diatas, diketahui bahwa nilai


frekuensi dan amplitude yang dihasilkan telah
sesuai dengan spesifikasi yang diberikan. Dimana
nilai frekuensi yang diperoleh yaitu 872.2 Hz dan
yang diinginkan yaitu 1 kHz serta amplitude hasil
percobaan 4.2 Vp dan yang diinginkan yaitu 4.5 Vp.
Dapat dilihat bahwa nilai tersebut telah mendekati
nilai spesifikasi yang diinginkan. Adanya sedikit
perbedaan kemungkinan disebabkan karena
adanya nilai toleransi pada komponen-komponen
yang digunakan (kapasitor dan resistor).
Output integrator yang dihasilkan yaitu berupa
gelombang segitiga diperoleh dari prinsip transien
(waktu tunda) oleh rangkaian integrator. Karena
input integrator nya berupa gelombang persegi,
maka dengan adanya waktu tunda ini akan
menyebabkan gelombang outputnya berbentuk
segitiga. Hal ini sesuai dengan prinsip rangkaian
integrator yang akan mengintegralkan tegangan
input menjadi tegangan output (integral dari
persegi adalah segitiga).
Pada output komparator diperoleh data yang
lebih kecil dari nilai yang seharusnya diperoleh
(yaitu sama dengan Vs = 15 V). hal ini
kemungkinan disebabkan karena adalnya efek slew
rate dan transien pada op amp serta nilai toleransi
pada
komponen
yang
digunakan
dalam
rangakaian.
Untuk kurva VTC rangkaian komparator yang
dihasilkan telah mendekati bentuk kurva yang
sesuai dengan referensi. Kedua garis horizontal
yang dihasilkan berada pada nilai yang merupakan
batas gelombang persegi dan segitiga (yaitu Vo /
Vs = 15 V dan V.in = 4.2V). Batas tegangan input
yang lebih lebar ini disebabkan efek slew rate yang
cukup berpengaruh pada nilai frekuensi 5 kHz.
Shingga untuk menguranginya maka perlu
digunakan frekuensi tegangan input yang lebih
kecil.
Percobaan 4 : Pembangkit Gelombang Persegi
Untuk
perhitungan
pada
pembangkit
gelombang persegi ini dapat dilihat pada Lampiran.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

13

Pada percobaan ini praktikan mendapat tugas


untuk membuat pembangkit gelombang persegi
dengan spesifikasi frekuensi 1 kHz. Hasil
pembangkit sinyal yang diperoleh :
Sinyal output komparator
Frekuensi 1.674 Hz

Pada kurva VTC rangkaian komparator yang


diperoleh, terlihat bahwa batas tegangan output
berkisar antara 12V dan batas tegangan input
sekitar 7 V. Batas tegangan input ini masih sedikit
lebih besar dikarenakan adanya efek slewrate dan
nilai toleransi komponen yang digunakan pada
percobaan .
Percobaan 5 : Osilator Cincin

Amplituda 12.1 V

Untuk Vdd = 10 V dan CL = 15 pF, diketahui dari


datasheet

5 V/div, 250s/div

tdmin = 20 ns dan tdmax = 50 ns


Berdasarkan persamaan =

1
2

, makan untuk 3

inverter memiliki frekuensi osilasi minimum


sebesar 3,33 MHz dan frekuensi osilasi maksimum
sebesar 8.33 MHz.

Sinyal input komparator


Frekuensi 1.656 Hz

Gambar 20 Sinyal output 3 inverter (2 V/div, 25 s/div)

Amplituda 3.2 V
5 V/div, 250 s/div

Kurva VTC
Ch1 : 5 V/div, Ch2 : 5
V/div, 250 s/div

Nilai frekuensi yang diperoleh sedikit berbeda


dengan nilai frekuansi hasil perhitungan. Dimana
pada percobaan diperoleh osilasi terjadi pada
fekuensi bernilai 1.674 kHz sedangkan pada soal
dminta untuk menghasilkan frekuensi resonansi
sebesar 1 kHz. Perbedaan ini kemungkinan
disebabkan karena adanya nilai toleransi pada
komponen yang digunakan. Namun untuk bentuk
tegangan pada output komparator yang dihasilkan
telah sesuai yaitu berbentuk persegi. Adanya
sedikit
kemiringan
pada
garis
vertical
kemungkinan disebabkan karena op amp memiliki
slewrate dan transien yang menyebabkan
gelombang tidak persegi sempurna. Untuk
tegangan input komparator yang diperoleh sedikit
berbeda dengan hasil yang diharapkan. Seharusnya
diperoleh gelombang segitiga karena tegangan
pada input komparator merupakan tegangan
output pada rangakaian tunda RC orde satu
dengan input berasal dari output komparator
sehingga diperoleh bentuk gelombang segitiga.

F = 7.4 kHz, Amplituda = 1.96 V (*data dari M.Fadhil


Ginting/13213071)

Pada percobaan kali ini, rangakaian osilator cincin


yang dibuat praktikan tidak berhasil mengeluarkan
output yang semestinya (hanya muncul noise),
sehingga gambar diatas diperoleh dari praktikan
lain. Berdasarkan data tersebut diperoleh nilai
waktu tunda sebesar
=

1
= 7.4
2

= 0.225
Nilai ini cukup jauh lebih besar dibandingkan
dengna nilai referensi dari data sheet dimana pada
pada data sheet seharusnya waktu tunda berada
dalam orde puluhan ns. Hal ini dikarenakan
besarnya frekuensi osilasi yang diperoleh jauh
lebih kecil dari nilai frekuensi osilasi referensi.
Untuk osilator cincin ini seharusnya diperoleh nilai
frekuensi osilasi yang sangat besar yaitu dalam
orde MegaHerzt, namun data yang diperoleh
praktikan frekuensinya hanya dalam orde
kiloHerzt. Sehingga apabila orde frekuensi osilasi
dalam orde MegaHerzt maka akan menghasilkan
nilai tegangan tunda pada orde puluhan ns yang
sesuai referensi. Perbedaan nilai ini kemungkinan
disebabkan karena nilai CL yang digunakan pada
datasheet berbeda dengan CL yang terdapat pada
osiloskop praktikum. Sesuai dengan teori yang

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

14

menyatakan bahwa frekuensi akan semakin rendah


jika CL semakin besar. Karena td berbanding
terbalik dengan f makan semakin besar CL akan
menyebabkan semakin besarnya nilai td.
Pada praktikum kali ini hanya diperoleh data dari
3 buah inverter. Apabila dilakukan pengamatan
pada 5 dan 7 buah inverter, akan dapat dibuktikan
bahwa semakin banyak inverter yang digunakan
maka akan diperoleh frekuensi osilasi yang
semakin rendah dan waktu tunda pun semakin
kecil pula. Namun akan didapatkan rentang nilai
frekuensi yang semakin kecil (jika diperbanyak
inverter).
Apabila diamati kurva VTC yang dihasilkan, untuk
inverter 3, 5, dan 7, maka akan dapat dibuktikan
bahwa semakin banyak inverter maka bentuk
sinyal input akan semakin menjauhi bentuk
sinusoidal yang mengakibatkan kurva VTC
semakin lonjong menyerupai bentuk lemon
dibanding bentuk lingkaran. Namun secara umum
akan tetap diperoleh pergeseran fasa sebesar 900.

5.

KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan pada


praktikum
modul IV ini maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
Prinsip pembangkitan sinyal sinusoidal
adalah dengan menggunakan rangkaian
umpan balik positif. Rangkaian tersebut
haruslah memenuhi kriteria barkhausen
yaitu
A()()=100,
yang
berarti
penguatan openloop sama dengan 1 dan
beda fasa input dan output yang dihasilkan
adalah 00 atau 3600. Osilasi akan terjadi
pada frekuensi ketika kedua kriteria
berkhausen tersebut terpenuhi.
Rangkaian osilator umpan balik RC yang
digunakan pada praktikum kali ini yaitu
rangkaian jembatan wien, penggeser fasa
dan kuadratur. Pada percobaan digunakan
resistansi variabel Rf agar dapat dilakukan
pengaturan nilai penguatan sehingga dapat
sesuai dengan kriteria berkhausen.
Sedangkan osilator umpan balik LC yang
digunakan yaitu rangkaian Collpitts, Clapp,
dan Hartley. Prinsip yang digunakan yaitu
frekuensi
resonansi
dari
resonator
berfungsi
untuk
menciptakan
dan
mempertahankan kestabilan osilsi dengan
melakukan umpan balik positif.
Pengendalian amplituda bertujuan untuk
menjaga
kestabilan
osilasi
dengan
mempertahankan nilai amplituda pada
berbagai nilai penguatan. Sehingga dapat

dikatakan
bahwa
untuk
menjamin
terjadinya osilasi dapat dilakukan dengan
rangakaian pengendalian amplituda.
Penurunan suhu akan meningkatkan
kestabilan dengan cara menurunkan
tegangan output. Namun dengan tegangan
output yang menurun ini, frekuensi osilasi
yang dibangkitkan menjadi semakin dekat
dengan frekuensi osilasi ideal.
Prinsip pembangkitan sinyal nonsinusoidal
pada osilator yaitu dengan mengguankan
rangkaian umpan balik negatif.
Rangkaian yang dapat digunakan yaitu
rangkaian komparator dengan histeresis
dan
rangakaian
tunda.
Rangkaian
komparator
berfungsi
untuk
mempertahankan keadaan pada status
tertentu sedangkan rangkaian tunda akan
memaksa perubahan status tersebut dan
memberikan
selisih
waktu
ketika
perubahannya.
Rangakaian tunda yang dapat digunakan
yaitu rangkaian integrator dengan opamp
(inverting) dan rangkaian RC orde 1 (non
inverting).
Gelombang segitiga dibangkitkan dengan
memanfaatkan transien dari rangkaian
tunda sehingga terbentuk gelombang
sinyal segitiga yang merupakan kombinasi
dari fungsi eksponensial negatif.
Gelobang persegi dibangkitkan dengan
mengambil tegangan output komparator
yang besarnya selalu Vs.
Osilator cincin merupakan rangkaian loop
tertutup dani n jumlah inverter (dengan n
bilangan ganjil). Frekuensi yang dihasilkan
berbanding terbalik dengan banyaknya
inverter yang digunakan. Berarti semakin
banyaknya
inverter
maka
rentang
frekuensi yang dihasilkan menjadi semakin
kecil dan delay rata-rata juga semakin kecil.
Duty cylce pada gelombang segitiga dan
persegi diatur dengan mengganti resistor
rangkaian tunda menggunakan 2 resistor
yang masing-masing dihubungkan dengan
dioda. Satu resistor akan mengatur waktu
tunda naik dan resistor lain mengatur
waktu tunda turun.
Transien dan slewrate dari opamp akan
berpengaruh pada bentuk gelombang,
frekuensi, dan amplituda outputnya.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

15

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Mervin T Hutabarat, Praktikum Elektronika II
Laboratorium
Dasar
Teknik
Elektro
ITB,Bandung, 2015.
[2]. Adel S. Sedra and Kennet C. Smith,
Microelectronic Circuits, Oxford University Press,
USA, 2004.
[3]. https://id.wikipedia.org/wiki/Osilator,
November 2015, 06.27 WIB

12

[4]. http://kambing.ui.ac.id/onnopurbo/oraridiklat/teknik/elektronika/elektronika-dasar-IIuniv-negeri-jember/bab17-rangkaianoscillator.pdf, 11 November 2015, 06.09 WIB


[5]. http://en.wikipedia.org/wiki/Slew_rate, 12
November 2015, 10.45 WIB

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

16

Lampiran
Datasheet CD4007
Waktu tunda : tdmin = 20 ns dan tdmax = 50 ns

Pembangkit Gelombang Segitiga


Diminta frekuensi 1 kHz dan Amplituda 9 Vpp.

(Vs = 15 V; Vm = Vpp/2 = 4.5 V)

1
1
. . (1)
4 ln(2 2 + 1)

1
. . (2)
2

1
=

2
Perhitungan :

4.5
1
=
15
2

1 2 1
. . (1)
4 1

1
= 0.3
2

1
. . (2)
2

Berdasarkan perbandingan diatas, dipilih nilai R1 =


3.3 k dan R2 = 10 k. Selanjutnya dipilih nilai C
= 100 nF dan dilakukan perhitugan untuk nilai R.

1
=

4.5
1
=
15
2

1 =

1
= 0.3
2
Berdasarkan perbandingan diatas, dipilih nilai R1 =
3.3 k dan R2 = 10 k. Selanjutnya dilakukan
perhitungan untuk R dan C.

1 2 1
=
4 1
1 =

1
1
4 ln (2 1 + 1)

1
1
4 (100) ln(2. 3 + 1)
10
= .

Pengaturan Duty Cycle


Gelombang segitiga : Diminta D = 20% = 0.2 ;
Amplituda = 9 Vpp. (f = 5 kHz; Vs = 15 V; Vm =
Vpp/2 = 4.5 V)

1 10 1
4 3

= 8.33 104
Maka dipilih C = 100 nF dan nilai R = 8.3 k

Pembangkit Gelombang Persegi


Diminta frekuensi osilasi 1 kHz. (Vpp = 9V; Vs = 15
V; Vm = Vpp/2 = 4.5 V)

Diperoleh perbandingan R1 dan R2 yang sama


seperti perhitungan sebelumnya yaitu R1:R2 = 3:10.
Dipilih nilai C = 100 nF. Lalu nilai tegangan dioda
(VD)= 0.7 V. Maka

2 2 1
1

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

17

2 10 15 0.7 1 0.2
100 3
15
5
= .

=
=

2 2
1

2 10 15 0.7 0.2
100 3
15
5
= .

Gelombang persegi : Diminta D = 20% = 0.2 ;


Amplituda = 9 Vpp. (f = 5 kHz; Vs = 15 V; Vm =
Vpp/2 = 4.5 V)

Diperoleh perbandingan R1 dan R2 yang sama


seperti perhitungan sebelumnya sehingga dipilih
R1 = 3.3 k dan R2 = 10 k. Dipilih nilai C = 100 nF.
Lalu nilai tegangan dioda (VD)= 0.7 V. Maka

2(1 + 2 )( )
ln(
)
1 (1 + 2 )

0.2
2(3.3 + 10)(15 0.7)
(5)(100) ln(
)
3.3. 15 (3.3 + 10)0.7
= .
=

1
2(1 + 2 )( )
ln(
)
1 (1 + 2 )

1 0.2
2(3.3 + 10)(15 0.7)
(5)(100) ln(
)
3.3. 15 (3.3 + 10)0.7
= .

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

18