Anda di halaman 1dari 23

ALAT KESEHATAN ENDOSKOP (ENDOSCOPE)

Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri
Mata kuliah Teknologi Kesehatan 1

Dosen Pengampu :
Ns. Priyanto, S.Kep., M.Kep., SpKMB

Oleh :
Wulandari
PSIK- Kelas B / 010114A128

Program Studi Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo
Ungaran
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa


karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami
dapat menyelesaikan makalah tentang Alat Kesehatan ini dengan baik,
meskipun masih banyak kekurangan di dalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai alat
kesehatan, terutama alat endoskop ini. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,
saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna
tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang telah
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna
bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya.

Ungaran, 10 Januari 2015

Wulandari
010114A128

WULANDARI /010114A128

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

.................................................................

ii

.............................................................................

iii

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

....................................................................

B. Rumusan Masalah

....................................................................

C. Manfaat Penulisan

....................................................................

.......................................................

B. Sejarah Endoskop

....................................................................

C. Jenis Endoskop

...................................................................

D. Manfaat Endoskop

...................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Endoskop

E. Bagian-bagian pada Endoskop


F. Cara Kerja Endoskop

...........................................

10

........................................................

10

G. Keunggulan dan Kelemahan Endoskop


H. Ketenagaan/TIM

................................

11

....................................................................

11

I. Waktu penggunaan Endoskop


J. Perawatan Endoskop

............................................

15

.......................................................

15

K. Perkembangan Alat Endoskop di Salah Satu Rumah Sakit


Indonesia

..............................................................................

16

BAB III PENUTUPAN


A. Kesimpulan

..............................................................................

19

B. Saran

..............................................................................

19

..................................................................

20

DAFTAR PUSTAKA

WULANDARI /010114A128

iii

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ilmu dan teknologi yang terus berkembang pesat di bidang kedokteran
telah menghasilkan sebuah prosedur diagnostik yang cepat dan tepat,serta
metode penyembuhan penyakit dalam tanpa melakukan operasi.
Pemeriksaan saluran cerna dengan menggunakan alat yang menyerupai
endoskop untuk pertama kalinya dilakukan pada abad ke-18. Pada saat itu
pemeriksaan dilakukan dengan cara mengintip melalui suatu tabung yang
dimasukkan ke dalam rektum penderita dengan penerangan lilin untuk dapat
melihat keadaan didalam rektum. Cara ini kemudian berkembang dengan
pemakaian alat dari logam yang pemakaiannya masih memberikan
penderitaan bagi pasien. Baru pada tahun 1932, diperkenalkan suatu
gastroskop setengah lentur yang mempunyai lapang pandang yang lebih luas,
lebih praktis dan aman. Alat ini kemudian dilengkapi dengan kamera dan
forsep untuk biopsi. Endoskop menjadi lebih baik saat prinsip-prinsip optik
serat (fiber optic) diterapkan pada alat endoskop.
Endoskopi Gastrointestinal (EGI) adalah suatu teknik dalam bidang
Ilmu Gastro-enterologi- Hepatologi untuk melihat secara langsung keadaan
didalam saluran cerna bagian atas (SCBA), disebut Esofago Gastroduo
Denokopi (EGD) dan saluran cerna bagian bawah (SCBB) disebut
kolonoskopi, serta saluran organ padat pankreohepatobilier disebut ERCP
(Endoskopic Retrograde Cholangio Pancreatography) dengan menggunakan
alat endoskopi . (Syafruddin AR. Lelosutan, 2004).
Dewasa ini dokter telah menjadikan alat endoskop sebagai alat
diagnostik dan terapeutik yang handal, sehingga mampu menyederhanakan
beberapa tindakan terapi operatif. Hampir di setiap Rumah Sakit besar
memiliki dan menjadikan alat endoskop sebagai sarana penunjang yang
menjanjikan pada pasien yang akan menjalankan pemeriksaan
kolonoskopi.
Kemudahan
yang didapat dengan tindakan endoskopi
menjadikan diagnosis berbagai penyakit saluran cerna dapat ditegakkan
dengan lebih akurat serta, memudahkan pengobatan dan mempercepat
masa penyembuhan pasien.

B. Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian Endoskop ?
2. Bagaimanakah sejarah Endoskop ?
3. Apa saja jenis Endoskop ?
4. Apa saja manfaat Endoscop ?
5. Apa saja bagian-bagian pada Endoskop ?
6. Bagaimana cara kerja Endoskop ?
7. Apa saja keunggulan dan kelemahan dari penggunaan Endoskop ?
8. Siapa saja ketenagaan yang dapat mengunakan Endoskop ?

WULANDARI /010114A128

9. Kapan alat Endoskop digunakan ?


10. Bagaimanakah perawatan Endoskop ?
11. Bagaimana perkembangan alat endoskop di salah satu rumah sakit
Indonesia ?

C. Manfaat Penulisan
Makalah ini di tulis untuk meningkatkan pengetahuan pembaca mengenai
alat kesehatan Endoscop. Selain itu, digunakan untuk memenuhi tugas
akhir mata kuliah Teknologi Kesehatan 1.

WULANDARI /010114A128

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Endoskop adalah suatu alat yang digunakan untuk memeriksa organ dalam
tubuh manusia. Dapat secara visual dengan mengintip menggunakan alat tersebut
(rigid/ fiber skop) atau langsung melihat pada layar monitor (skop evis),
sehingga kelainan yang ada pada organ tersebut dapat dilihat dengan jelas (Agus
Priyanto, 2009 :13).
Salah satu peralatan endoskopi medical adalah fiberskop di mana bagian
dari alat yang masuk kedalam organ bagian dalam tubuh (saluran cerna) berbentuk
pipa yang lentur (fleksibel) dan di dalamnya terdapat serat-serat optic yang
berfungsi sebagai pemungut gambar serta pembawa cahaya. (Agus Priyanto, 2009
: 13).
Prinsip dasar dari Endoscop fibre-optic ini merupakan kumpulan serat
fibre-optic yang berdiameter 2-3 mm dan berisi sekitar 20.000 - 40.000 fibre-glass
yang halus dengan diameter 10 micro meter. Sinar yang berasal dari sumber
cahaya ditransmisikan melalui refleksi internal secara sempurna sampai kebagian
distal sampai ke obyek yang akan dilihat. Masing-masing fibre-optic masih
diliputi lapisan glass dengan optical density yang lebih rendah sehingga dapat
menghindari kerusakan akibat sinar yang melewati bagian dalam fibre tapi lapisan
ini tidak menghantarkan sinar disamping itu masih ada ruang antar fibre yang
memberikan bayangan gelap yang menyerupai jala kecil-kecil yang biasa muncul
pada gambar. Hal ini agak berbeda dengan bayangan dari lensa yang rigid.
Suatu keuntungan fibreoptic ini adalah sangat fleksible walaupun alat
dalam keadaan membelok maksimal tanpa mengurangi kualitas gambar. Pada
instrumen modern lensa bagian distal yang terfokus pada obyek benar-benar
terfixasi. Kedalaman fokus obyek yang dapat diamati ialah 3mm sampai dengan
10-15cm. Bayangan gambar ini direkonstruksi pada ujung distal alat dan
diteruskan kemata melalui suatu lensa yang dapat diatur menyesuaikan individu
masing-masing.

Gambar : Endoskop

WULANDARI /010114A128

Endoskop adalah alat yang digunakan dalam pemeriksaan endoskopi. Alat


ini berbentuk pipa kecil panjang yang dapat dimasukkan ke dalam tubuh,
misalnya ke lambung, ke dalam sendi, atau ke rongga tubuh lainnya. Di dalam
pipa tersebut terdapat dua buah serat optik. Satu untuk menghasilkan cahaya agar
bagian tubuh di depan ujung endoskop terlihat jelas, sedangkan serat lainnya
berfungsi sebagai penghantar gambar yang ditangkap oleh kamera. Di samping
kedua serat optik tersebut, terdapat satu buah bagian lagi yang bisa digunakan
sebagai saluran untuk pemberian obat dan untuk memasukkan atau mengisap
cairan. Selain itu, bagian tersebut juga dapat dipasangi alat-alat medis seperti
gunting kecil, sikat kecil, dll.

Gambar : Penggunaan Endoskop

Endoskop biasanya digunakan bersama layar monitor sehingga gambaran


organ yang diperiksa tidak hanya dilihat sendiri oleh operator, tetapi juga oleh
orang lain di sekitarnya. Gambar yang diperoleh selama pemeriksaan biasanya
direkam untuk dokumentasi atau evaluasi lebih lanjut.

Gambar : Foto hasil pemeriksaan endoskopi

WULANDARI /010114A128

Pemeriksaan ini sangat berperan dalam menentukan penyebab pendarahan


saluran cerna yang sulit ditentukan berdasarkan pemeriksaan radiologis. Beberapa
lesi (terlihat putih atau pucat) yang tak terlihat pada pemeriksaan radiologis dapat
diketahui dengan pemeriksaan endoskopi.
Beberapa jenis gangguan yang dapat dilihat dengan endoskop antara lain :
abses, sirosis biliaris, perdarahan, bronkhitis, kanker, kista, batu empedu, tumor,
polip, tukak, dan lain-lain.

Gambar : Penggunaan endoskop

Tindakan endoskopi adalah untuk mengamati struktur anatomi dan


fisiologi saluran pencernaaan (traktus digestivus) secara langsung dengan bantuan
alat endoskopi beserta asesorisnya. Pengamatan endoskopi pada saluran cerna
bagian atas dikenal dengan istilah esofago-gastro-duodenoskopi (EGD),
sedangkan endoskopi pada saluran cerna bagian bawah dikenal dengan nama
kolonoskopi.
Esofago-gastro-duodenoskopi (EGD) merupakan pemeriksaan di dalam
saluran kerongkongan, lambung, dan usus 12 jari dengan menggunakan endoskop
serat optic atau EVIS (Elektronik Video Information System). Tujuan dari
pemeriksaan EGD adalah identifikasi kelainan selaput lendir di dalam saluran
kerongkongan, lambung, dan usus 12 jari. Ketepatan diagnostic EGD berkisar 8090%, bahkan bisa mencapai 100% bila dilakukan oleh tenaga yang sudah
berpengalaman.
Alat endoskopi EGD umumnya dengan skop frontview (lensa kamera
berada di ujung depan skop). Sedangkan endoskop dengan skop sideview
digunakan untuk ERCP (Endoskopic Retrogade Cholangio Pancreatography) atau
bila harus melihat dan melakukan biopsy (mengambil jaringan dengan
menggunakan jarum) pada kelainan yang terletak di sisi luar saluran (misalnya
kecurigaan tumor, dll.
B. Sejarah Endoscop
Sejarah perkembangan endoskopi gastrointestinal dibagi menjadi 2 bagian
besar yaitu:

WULANDARI /010114A128

1. Sejarah perkembangan endoskopi di luar negeri


Sejarah dari gastrointestinal endoskopi dibagi atas 3 periode, yaitu :
a. Periode I, yaitu periode endoskop kaku atau straight rigid tubes antara
tahun 1795 1932.
Periode endoskop yang masih kaku, diawali oleh sarjana
BOZZINI dalam tahun 1795. Pada waktu ini untuk memeriksa rektum
dan uterus. Sarjana tersebut membuat suatu alat dari logam dengan
diberi penyinaran lilin. Pada tahun 1868 KUSSMAUL pertama kali
membuat gastroskop dari logam. Karena alat tersebut masih kaku dan
yang dilengkapi dengan lampu dan kaca yang memantulkan cahaya,
maka disebut straight rigid gastroskop .
Kemudian, gastroskop tersebut diperbaiki/disempurnakan oleh
MIKULICZ pada tahun 1881, dengan membuat lekukan di ujungnya
sebesar 30 derajat, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa isi
lambung lebih sempurna dan disebut rigid elbowed gastroscope.
Perkembangan tidak hanya mengenai bentuk endoskop saja,tapi juga
penyinarannya. Bila tadinya hanya memakai penyinaran dengan lilin
maka sejak tahun 1906 dipakai penyinaran listrik. Dan ini dipelopori
oleh ROSENHEIM yang pertama kali mempergunakan lampu listrik
untuk iluminasi di gastroskop.
Alat endoskop lainnya, misalnya esofagoskop dipelopori oleh
BEVAN pada tahun 1868, yang digunakan pertama kali untuk
mengambil benda-benda asing dan untuk melihat kelainan di esofagus.
Alat endoskop yang digunakan untuk memeriksa rektum dan sigmoid
pertama kali dikembangkan oleh TUTTLE pada tahun 1902, Dan
peritoneoskopi pertama kali dikembangkan oleh OTT pada tahun 1901,
dan disebutnya celioskopi,
Ia mempergunakan spekulum vagina ke dalam rongga perut
melalui insisi. Cara memeriksa isi rongga perut ini diikuti oleh
KELLING pada tahun yang sama dengan menggunakan cystoskop
b. Periode II, yaitu periode setengah lentur atau semi- flexible tube
endoscopy antara tahun 1932 1958.
Periode semiflexible tube endoscope antara tahun 1932 1958.
Oleh karena alat-alat endoskop sebelum tahun 1932 masih kaku dan
masih banyak kesukaran dan bahayanya, maka RUDOLF SCHINDLER
WOLF membuat semiflexible gastroscope yang pertama kali pada tahun
1932. Oleh karena itu RUDOLF SCHINDLER diakui oleh kalangan
gastroenterolog di dunia sebagai seorang pionir dalam flexible
endoskopi, Alat tersebut mempunyai lensa ganda dengan jarak sangat
pendek.
Kemudian alat tersebut mengalami berbagai macam modifikasi,
di antaranya HEN-NING pada tahun 1939 membuat modifikasi
lensanya, dan bagian yang kaku dibuat lebih kecil, sehingga
memudahkan pemeriksaan. Pada tahun 1941 EDER PALMER membuat
gastroskop dengan diameter 9 mm, diameter ini lebih kecil dari pada

WULANDARI /010114A128

yang dibuat oleh SCHINDLER Pada tahun 1948 oleh BENEDICT


dibuat gastroskop yang dilengkapi dengan alat biopsi.
Yang melakukan pemotretan pertama kali ialah HENNING
dengan memakai Schindler gastroskop, film yang dipakai hitam putih
Kemudian tahun 1948 dilakukan pemotretan dengan film berwarna oleh
HENNING, KEILHACK, SEGAL, dan WATKINS. Tahun 1950 oleh
UJI dibuat gastrokamera dengan mempergunakan mikrofilm yang dapat
dimasukkan ke dalam gastroskop.
c. Periode III, yaitu periode fiberoptic endoscopy, yang diawali pada
tahun 1958.
Periode fiberoptic endoskop, yang dimulai sejak tahun 1958.
Periode
ini
dipelopori
oleh
HIRSCHOWITZ
dengan
mendemonstrasikan untuk pertama kalinya gastroduodenal fiberskop
buatan ACMI. Berkas-berkas cahaya yang terdapat di dalam alat-alat
tersebut dipantulkan oleh fiberglass dengan diameter 0,0006 inch atau
+/- 14 u. Di dalam satu bundel dengan diameter 0,25 inch terdapat
150.000 fiberglass.
Dengan
ditemukannya
gastroduodenal
fiberskop
HIRSCHOWITZ ini, mulai terlihat kemajuan di bidang endoskopi,
karena pemakaiannya tebih mudah dan lebih aman. Kemudian Olympus
Co. dari Jepang membuat gastrokamera yang dikombinir dalam
fiberskop, yang disebut GFT(1962), dan kemudian mengalami perbaikan
dan disebut GFTA(1965).
Sejak tahun 1970 di Jepang telah dapat dilakukan pemeriksaan
endoskopi di TV (Television endos-kopy), maksudnya untuk
memudahkan pendidikan. Sedang untuk pemeriksaan di kolon, yang
tadinya dipakai rektosigmoidoskop bentuk kaku, dengan ditemukannya
fiberoptic endoskop, sejak tahun 1963 telah dibuat oleh ACMI fibersigmoidoskop yang panjangnya 50-60 cm.
Kemudian oleh Olympus Co. dibuat fiber-kolonoskop yang
panjangnya 105 cm dapat untuk memeriksa sampai kolon transversum,
dan fiber-kolonoskop yang panjangnya185cm dapat untuk memeriksa
sampai daerah coecum. Alat ini diperkenalkan pertama kali pada tahun
1968.
Demikian juga peritoneoskop mengalami banyak perubahan
setelah ditemukannya fiberoptic endoskop. Bahkan pada Waktu 5th
Asian Pacific Congress of Gastroenterology di Singapura pada akhir
Mei 1976 telah dilaporkan dan dipamerkan laparoskop kecil buatan
Olympus, yang dapat digunakan untuk memeriksa penderita di bangsal.
2. Sejarah perkembangan endoskopi di Indonesia
Perkembangan endoskopi di Indonesia juga diawali dengan
penggunaan endoskop kaku yang kemungkinan sudah dimulai sejak
sebelum Perang Dunia II yaitu dengan alat rektosigmoidoskopi,
sedangkan gastroskop kaku belum pernah dilaporkan penggunaannya di

WULANDARI /010114A128

Indonesia. Pada tahun 1958 Pang mempelopori pengunaan Laparoskopi


tanpa kamera. Pada tahun 1967 gastroskop setengah lentur pertama kali
digunakan di Indonesia oleh Sumadibrata, baru selanjutnya gastroskop
lentur (Olympus GTFA) dipakai oleh Supardiman di RSUD Dr. Hasan
Sadikin Bandung (1971) dan oleh Simadibrata di RSCM Jakarta.
Selanjutnya, berdirilah perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal
Indonesia (PEGI) pada tahun 1974 yang diketuai oleh Pang.
Kolonoskop lentur pertama kali dipakai di Indonesia oleh Hilmy
dkk (1973) dan selanjutnya dilaporkan polipektomi endoscopik
dilaporkan endoskopik pada polip kolon. Skleroterapi endoscopik
dilaporkan pertama kali oleh di Indonesia oleh Hilmy dkk (1984)
dengan penyuntikan ethoxy sclerol.
Pada tahun 1984, Rani dkk melakukan kauterisasi endoskopik
terhadap 3 penderita striktur esofagus. Bila kita ikuti sejarah
perkembangan endskopi di Indonesia maka dapat disimpulkan bahwa
perkembangan pemakaian endoskop di indonesia menyerupai
penggunaan endoskop di Luar Negeri.
Dan sejak tahun ini pula perkembangan baik endoskopi
maupun gastroenterologi terasa sekali sangat pesatnya.
C. Jenis Endoskop (Endoscope)
Jenis-jenisnya cukup banyak karena saluran dalam tubuh manusia juga
beragam. Beberapa diantaranya jenis endoskop adalah :
a) Endoskop kaku (rigidscope)

b) Endoskop lentur (fiberscope)

WULANDARI /010114A128

c) Video endoscope (evis scope)

Gambar : Proses penggunaan Video endoscope (evis scope)

d) Endoskop kapsul (capsul endoscope)

Gambar : Endoskop kapsul (capsul endoscope)

D. Manfaat Endoskop (Endoscope)


a) Mengetahui bagaimana keadaan bagian dalam saluran cerna (apakah ada
luka, daging tumbuh, kelainan bentuk saluran cerna, dll)

WULANDARI /010114A128

b) Dapat digunakan untuk mengambil contoh jaringan bagian dalam (biopsy)


guna pemeriksaan.
Endoskop tidak hanya berfungsi sebagai alat periksa tetapi juga untuk
melakukan tindakan medis seperti pengangkatan polip, penjahitan, dan lainlain. Selain itu, endoskop juga dapat digunakan untuk mengambil sampel
jaringan jika dicurigai jaringan tersebut terkena kanker atau gangguan lainnya.

E. Bagian Bagian pada Endoskop (Endoscope)


a. Alat ini berbentuk pipa kecil panjang yang dapat dimasukkan ke dalam
tubuh melalui mulut,hidung,anus.
b. Terdiri dari 2 buah serat optik. Satu untuk menghasilkan cahaya.
Sedangkan, serat lainnya berfungsi sebagai penghantar gambar yang
ditangkap oleh kamera.

Gambar : Bagian bagian endoskop


Bagian lainya bisa digunakan sebagai saluran untuk pemberian obat
dan untuk memasukkan atau mengisap cairan. dipasang gunting kecil, sikat
kecil, dan lain-lain.
F. Cara Kerja
Untuk mendapatkan visual dari dalam tubuh dapat dilakukan dengan
menggunakan kamera dan ditampilkan pada layar atau melihat secara
langsung (dengan meneropong).

WULANDARI /010114A128

10

Dengan Metode Menggunakan Peneropongan

G. Keunggulan dan Kelemahan Dari Penggunaan Endoskop (Endoscope)


1. Keunggulan dari penggunaan endoskop
Dapat melakukan operasi tanpa melakukan pembedahan,misal
pengangkatan jaringan tumor,
Dapat menggantikan fungsi tindakan operasi, lebih nyaman, biaya
lebih murah dan efisien
Dapat melakukan diagnostik yang cukup akurat
Dapat mendeteksi adanya infeksi, bisul, tumor, radang, dll.
Hasil pemeriksaan dapat langsung dicetak.
2. Kelemahan dari penggunaan endoskop
Kemungkinan terjadi sakit tenggorokan atau terjadi pembengkakan
H. Ketenagaan/ Tim
Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan endoskopi, dibutuhkan
berbagai jenis tenaga. Berikut ini akan dibahas tentang : jenis Tenaga dan
uraian tugas tim perawat endoskopi.
a. Jenis Tenaga
1. Tim endoskopi terdiri dari :
Ahli bedah
Ahli penyakit dalam yang terampil dalam endoskopi
Perawat endoskopi
Ahli anestesi (bila diperlukan)
Ahli radiology
2. Tim Perawat endoskopi, terdiri dari
Perawat kepala unit endoskopi
Nama jabatan : Perawat Kepala unit endoskopi
Pengertian
: Seorang tenaga perawatan professional
yang bertanggung jawab dan berwewenang dalam
mengelola kegiatan keperawatan di unit endoskopi.
Persyaratan :
Diutamakan sarjana muda keperawatan/ lulusan D-III
Keperawatan.
Telah mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat
keperawatan endoskopi.

WULANDARI /010114A128

11

Memiliki sertifikat manajemen keperawatan


Mempunyai pengalaman kerja endoskopi minimal 5
tahun.
Memiliki kemampuan kepemimpinan
Sehat
Uraian tugas :
1. Melaksanakan fungsi perencana (P1)
a. Bersama dengan kepala unit endoskopi menyusun
rencana kegiatan endoskopi
berdasarkan jenis,
jumlah dan kapasitas ruang tindakan. Perubahan
perencanaan
mungkin
dilakukan
berdasarkan
kebutuhan pasien, atau alasan lain yang rasional.
b. Menyusun daftar kebutuhan alat dan obat yang
diperlukan sesuai dengan jenis tindakan endoskopi.
c. Menyusun daftar dinas berdasarkan jumlah dan
tingkat kemampuan tenaga perawat.
d. Menyusun program pengembangan staf
e. Menentukan jumlah/jenis tenaga yang dibutuhkan di
unit endoskopi.
f. Menyusun pedoman kerja di ruang endoskopi,
termasuk menyusun pedoman penggunaan alat.
2. Melaksanakan fungsi penggerak dan pelaksana (P2)
a. Mengatur pelayanan prosedur endoskopi
b. Memantau pelaksanaan tugas yang dibebankan
c. Mengatur pemanfaatan sumber daya secara efektif
dan efisien
d. Mengadakan
pelatihan
pegawai
secara
berkesinambungan
e. Memberi orientasi pegawai baru/siswa di unit
endoskopi
f. Menciptakan suasana kerja yang harmonis
g. Melakukan komunikasi efektif antar anggota tim
(dokter, perawat).
h. Menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
3. Melaksanakan fungsi pengawasan, pengendalian dan
penilaian/ Wasdanil (P3)
a. Memantau seluruh staf dalam penerapan dan
pelaksanaan peraturan etik yang berlaku di ruang
prosedur.
b. Memantau pelaksanaan tugas yang dibebankan.
c. Menilai hasil-hasil kerja pegawai dan memberikan
penghargaan untuk prestasinya.

WULANDARI /010114A128

12

d. Mengisi dan menyimpan anecdotal record serta


menandatangani daftar prestasi untuk berbagai
kepentingan pegawai.
e. Mengawasi pendayagunaan/inventarisasi alat
Memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan pegawai.

Perawat pelaksana unit endoskopi


Nama jabatan : Perawat pelaksana unit endoskopi
Pengertian
: Seorang tenaga preofesional yang diberi
wewenang dan tanggung jawab sebagai anggota tim
endoskopi
untuk kelancaran pelaksanaan tindakan
endoskopi serta ditugaskan dalam pengelolaan dan
pemeliharaan alat endoskopi.
Persyaratan :
Berijazah pendidikan formal kepera-watan dari semua
jenjang yang diakui oleh pemerintah atau yang
berwenang (SPK, AKPER).
Memiliki sertifikat : teknik keperawatan endoskopi.
Mempunyai bakat, minat dan iman
Berdedikasi tinggi
Berkepribadian mantap/emosional stabil
Dapat bekerjasama dengan anggota tim
Tanggung jawab : Secara administrative maupun secara
operasional seluruh petugas unit endoskopi bertanggung
jawab kepada kepala unit endoskopi dan perawat kepala
endoskopi.
Uraian Tugas
1. Sebelum pelaksanaan endoskopi :
a. Sehari sebelum tindakan, melakukan kunjungan pada
pasien yang dirawat inap yang akan menjalani
tindakan endoskopi, untuk koordinasi.
b. Menyiapkan ruangan prosedur endoskopi agar siap
pakai mencakup :
o Kebersihan ruangan
o Meja periksa
o Serat optic
o Sumber cahaya
o Asesori endoskop
o Alat pengisap lendir/suksion
o Oksigen
o Tempat untuk bahan pemeriksaan jaringan/patolgi
anatomi

WULANDARI /010114A128

13

c. Memeriksa kelengkapan dokumen medis, antara lain :


o
Izin tindakan endoskopi atau yang biasa disebut
informed consent
o
Hasil pemeriksaan lab terakhir
o
Hasil pemeriksaan radiology + EKG
o
Hasil konsultasi dengan hal lain sesuai kebutuhan
2. Kelengkapan obat-obatan, cairan dan alat kesehatan.
o Memeriksa persiapan fisik
o Melakukan serah terima pasien dan perlengkapan
sesuai isi chelist dengan perawat ruang rawat.
3. Saat pelaksanaan endoskopi :
a. Memberikan penjelasan ulang kepada pasien sebatas
kewenangannya meliputi :
o Tindakan endoskopi yang akan dilakukan
o Tim endoskopi yang akan menolong
o Fasilitas yang ada dalam unit endoskopi
o Tahap-tahap emberian sedasi
b. Mengatur posisi pasien sesuai dengan tindakan
endoskopi yang dilakukan.
c. Mendampingi pasien dan dokter endoskopi untuk
memasukkan fiberskop.
d. Mencatat obat yang diberikan kepada pasien saat
prosedur berlangsung.
e. Mengukur dan mencatat tanda vital.
f. Melakukan pengisapan lendir bila diperlukan.
g. Mendokumentasikan pelaksanaan endoskopi yang
dilaksa-nakan.
h. Melaporkan hasil pemantauan dan pencatatan kepada
ahli endoskopi
i. Menyiapkan bahan pemeriksaan.
4. Pasca pelaksanaan endoskopi
a. Membersihkan dan merapikan pasien yang telah
selesai menjalani tindakan endoskopi
b. Memindahkan pasien ke ruang pulub (RR)
c. Mengukur dan mencatat tanda vital : Tensis, Nadi,
Pernapasan, Suhu, di ruang pulih.
d. Memeriksa tingkat kesadaran pasien, cara
memanggil nama pasien, memberikan rangsang,
memeriksa reaksi pupil.
e. Mencatat obat serta cairan yang diberikan pada
pasien (bila ada), mencakup nama obat, dosis.
f. Mendokumentasikan reaksi pasien selama tindakan
endoskop
g. Melakukan serah terima dengan perawat ruang inap
tentang :

WULANDARI /010114A128

14

o Kelengkapan dokumen medik


o Keadaan umum pasien
o Obat-obatan dan resep baru
h. Membersihkan dan membereskan alat
Membuat jadwal pemeriksaan ulang (bila diperlukan,
terutama pasien yang mendapat tindakan therapy
endoskopi), seperti halnya skerotegrapi, dll).
3. Tenaga lain terdiri dari :
Tata usaha
Pekarya kesehatan / cleaning service
I. Waktu Penggunaan Endoskop (Endoscope)
Penggunaan alat ini digunakan saat melakukan tindakan Endoskopi.
Tindakan Endoskopi sendiri dilakukan saat kondisi pasien :
1. keluhan saluran cerna yang berulang(kronis atau berat).dilakukan
tindakan gastroskopi
2. pendarahan saluran cerna atas(muntah darah dan buang air besar
berwarna hitam) dilakukan tindakan gastroskopi
3. pendarahan saluran cerna bawah.dilakukan kolonoskopi
4. adanya perubahan kebiasaan pada waktu buang air besar.dilakukan
tindakan kolonoskopi.
5. pengobatan
varices
(pelebaran)
pembuluh
darah
pada
tenggorokan.dilakukan tindakan gastroskopi.

J. Perawatan Endoskop
Alat Endoscop merupakan alat yang canggih dengan harga yang cukup
mahal. Perawatan Endoscop beserta kelengkapannya merupakan salah satu
faktor penting didalam menunjang keberhasilan tindakan Endoscopi dan
mempertahankan alat tetap awet dan tidak mudah rusak.
Konsep
pemeliharaan alat meliputi hal berikut :
1. Handling Alat
Alat harus diperlakukan dengan halus dan penuh kasih sayang.
Tahapan yang harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh untuk
mencegah kerusakan alat dimulai dari cara mengambil alat dari lemari
penyimpanannya, membawa alat ke tempat pemeriksaan, meletakkan alat
pada sandaran Endoscop atau meja pemeriksaan, memasang alat pada
sumber cahaya, saat memulai tindakan, waktu manuver, observasi dan
waktu menarik alat dari pasien, melepas alat dari sumber cahaya,
membersihkan alat, mengeringkan serta mengembalikannya lagi ke lemari
penyimpanan.

WULANDARI /010114A128

15

2. Peyimpanan
Tempat penyimpanan alat harus mempunyai suhu konstan di
bawah 20C. Kelembaban diusahakan stabil dengan memelihara silica gel
yang harus selalu diganti, bebas jamur dan bakteri. Lemari penyimpanan
Endoscop didesain sesuai kebutuhan, sandaran dibuat dengan kemiringan
60 dengan dilapisi peredam untuk melindungi dari benturan sewaktu
mengambil dan meletakkan Endoscop.
3. Pembersihan
Pembersihan alat endoscop melalui 3 tahapan yaitu: pembersihan,
desinfektan dan steril. Hati-hati terjadi kontaminasi infeksi yang sering
terjadi pada paska skleroterapi. Oleh karena itu perlu tindakan
pembersihan yang baik. Kelalaian pada proses ini dapat mengakibatkan
terjadinya infeksi paska tindakan.
K. Perkembangan Alat Endoskop di Salah Satu Rumah Sakit Indonesia
Salah satu contoh rumah sakit yang telah menggunakan alat endoskop
adalah Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Rumah Sakit Medistra memiliki
Pelayanan Khusus Penyakit Dalam (Hati dan Saluran Cerna) yang melayani
prosedur diagnostik dan terapetik untuk saluran cerna atas dan bawah dan juga
ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio-Pancreatography). Sedangkan
prosedur lain di bidang penyakit hati seperti tindakan biopsi hati, aspirasi
jarum halus (untuk biopsi tumor di hati dan abses hati), dan PTBD
(Percutaneous Transhepatic Biliary Drainage). Fasilitas dan Pelayanan di RS
Medistra diantaranya :
1. Biopsi Hati
2. ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography) adalah teknik
yang menggabungkan penggunaan endoskopi dan fluoroskopi untuk
mendiagnosa dan mengobati masalah tertentu dari bilier atau sistem duktus
pankreas.
3. Endoskopi Polypectomy adalah prosedur non invasifuntuk menghilangkan
polip dari saluran pencernaan
4. EUS (Endoscopy Ultrasonography) adalah teknik pemeriksaan organ
pencernaan dengan penggunaan endoskopi yang dikombinasikan dengan
ultrasografi.
5. Fibroscan adalah teknik yang digunakan untuk menilai pengerasan hati.
6. HVPG (Hepatic Vein Pressure Gradient) adalah
pengukuran gradien
tekanan vena hati.
7. PTBD (Percutaneus Transhepatic Biliary Drainase) adalah prosedur terapi
pemasangan stent melalui kulit pada kasus penyumbatan saluran empedu.
8. Gastroskopi adalah pemeriksaan kelainan pada lambung.
9. Kolonoskopi adalah pemeriksaan kelainan pada usus besar.
10. Rektoscopy adalah pemeriksaan kelainan pada lambung
11. Onkologi dan Hematologi pada kasus Kanker Saluran Cerna

WULANDARI /010114A128

16

Salah satu unggulan dalam bidang Endoscopi di Rumah Sakit


Medistra adalah ERCP. ERCP (Endoscopic Retrograde CholangioPancreatography) adalah suatu tindakan endoskopi yang diindikasikan untuk
kasus-kasus penyakit saluran empedu ataupun pankreas (Batu saluran
empedu, striktur saluran empedu baik yang jinak maupun ganas/tumor
Klatskin, sumbatan saluran empedu akibat tumor di muara saluran
empedu/CholangioCA ataupun tumor di pankreas, batu di pankreas, dll) yang
dilakukan oleh seorang dokter spesialis khususnya di bidang hepato-bilier
yang sudah mendapatkan pelatihan khusus.

Perkembangan Tindakan Endoskopi RS. Medistra


2008-2012
Tindakan
Terapetik

2009
151

2010
141

2011
129

2012
136

2013
376

Diagnostik

1252

1315

1417

1256

1162

TOTAL

1403

1456

1546

1392

1538

Tindakan ini dilakukan dengan sedasi yang dilakukan oleh dokter


anestesi dan dilakukan di ruang khusus dengan fluoroskopi. Tehnik yang
dilakukan memasukkan duodenoscope sampai ke depan muara papil
kemudian dilakukan kanulasi dengan kateter (memasukkan kateter ke
dalam saluran empedu melalui papil) dan diinjeksikan kontras sehingga
terdapat gambaran yang jelas mengenai penyakit yang ada. Setelah itu,
untuk pengambilan batu biasanya dilakukan sfingterotomi (pembukaan
muara saluran/papil) dengan syarat faktor pembekuan darah baik, diikuti
pengambilan batu dengan basket atau balon. Bila batu yang terdapat di
saluran merupakan batu yang keras dan muara saluran agak sempit bisa
dilakukan pemecahan batu dengan alat pemecah batu (BML). Sedangkan
untuk striktur atau penekanan pada saluran empedu akibat tumor bisa
dilakukan pemasangan stent baik yang plastik maupun yang kawat
sehingga aliran empedu akan menjadi lancar kembali. Semua tindakan ini
cukup dilakukan per endoskopik saja.

WULANDARI /010114A128

17

Gambar : Fluroscop `

Gambar : Endoscop

Komplikasi yang bisa terjadi seperti perdarahan setelah tindakan


sfingterotomi bisa ditangani segera dengan injeksi adrenalin maupun penekanan
daerah yang menjadi sumber perdarahan dengan balon. Sedangkan komplikasi
lain seperti pankreatitis akibat rangsangan kanulasi pada papil bisa di tata laksana
seperti pasien pankreatitis pada umumnya walaupun tidak selalu terjadi.
Pada pasien-pasien usia lanjut tindakan ini sangat bermanfaat bila
dibandingkan tindakan operasi yang memiliki kemungkinan komplikasi cukup
besar. Saat ini dengan adanya kemajuan di bidang radiologi diagnostik, adanya
pemeriksaan MRCP (pemeriksaan non-invasif) sudah bisa menggantikan ERCP
diagnostik sehingga saat ini tindakan ERCP hanya dilakukan untuk terapi saja.
Selain itu, RS Medistra sudah bisa melakukan tindakan pemeriksaan Endoskopik
Ultrasonografi (Endoscopic Ultrsound / EUS). EUS adalah suatu pemeriksaan
ultrasonografi (USG) dengan alat endoskopi melalui saluran pencernaan sehingga
didapatkan gambaran organ yang lebih baik bila dibandingkan dengan
pemeriksaan USG saja. Pada kasus batu saluran empedu ataupun kecurigaan
adanya tumor ganas di pankreas terkadang sulit untuk dideteksi dengan
pemeriksaan USG saja bahkan dengan pemeriksaan yang lebih canggih seperti
CT-scan abdomen.Teknologi pencitraan seperti MRI-MRCP sebetulnya memiliki
sensitivitas yang tinggi dalam mendeteksi kelainan pada saluran empedu ataupun
pankreas tetapi biasanya pada penderita usia lanjut sulit untuk dilakukan oleh
karena sulitnya untuk menahan nafas selama pemeriksaan, dan juga adanya
ketakutan pasien dalam ruang tertutup yang memakan waktu cukup lama
terkadang bisa menjadi kendala. Selain itu, pada sebagian kasus juga bisa saja
sulit untuk mendeteksi adanya tumor.
Pemeriksaan EUS memiliki keunggulan seperti tidak adanya risiko radiasi,
dilakukan hanya di ruang tindakan endoskopi biasa, dan tidak memakan waktu
yang lama. Pasien juga tidak perlu khawatir oleh karena tindakan ini biasa
dilakukan dengan sedasi/anestesi sehingga tidak perlu merasa cemas hingga
pemeriksaan ini berakhir. Dengan adanya tindakan pemeriksaan EUS bukan
berarti meniadakan peran dari pemeriksaan pencitraan lainnya, seperti CT-scan
abdomen dan MRI abdomen tetapi bisa melengkapi kekurangan dari pemeriksaan
tersebut bahkan bisa menjadi alternatif pemeriksaan bila pasien mengalami
kesulitan untuk menjalani pemeriksaan pencitraan standar tersebut.

WULANDARI /010114A128

18

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Endoskop adalah alat yang digunakan dalam pemeriksaan
endoskopi. Alat ini berbentuk pipa kecil panjang yang dapat dimasukkan
ke dalam tubuh, misalnya ke lambung, ke dalam sendi, atau ke rongga
tubuh lainnya. Di dalam pipa tersebut terdapat dua buah serat optik. Satu
untuk menghasilkan cahaya agar bagian tubuh di depan ujung endoskop
terlihat jelas, sedangkan serat lainnya berfungsi sebagai penghantar
gambar yang ditangkap oleh kamera.
Penggunaan alat ini digunakan saat melakukan tindakan
Endoskopi. Tindakan Endoskopi sendiri dilakukan saat kondisi pasien :
1. keluhan saluran cerna yang berulang(kronis atau berat).dilakukan
tindakan gastroskopi
2. pendarahan saluran cerna atas(muntah darah dan buang air besar
berwarna hitam) dilakukan tindakan gastroskopi
3. pendarahan saluran cerna bawah.dilakukan kolonoskopi
4. adanya perubahan kebiasaan pada waktu buang air besar.dilakukan
tindakan kolonoskopi.
5. pengobatan varices (pelebaran) pembuluh darah pada
tenggorokan.dilakukan tindakan gastroskopi.
B. Saran
Setelah kita mengetahui kegunaan dan pentingnya alat ini,
setidaknya pemerintah dapat menyediakan/menambah alat endoskop ini
dalam rangka endoskopi atau terapeutik di Rumah Sakit Umum Daerah
untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di daerah sebagai pusat rujukan.

WULANDARI /010114A128

19

DAFTAR PUSTAKA

Bartiansyah, Eko. 2008. Panduan Lengkap : Membaca Tes Kesehatan. Jakarta :


Penebar Plus
Brooker, Chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Alih bahasa Andy Hartono dkk.
Ed Estu tiar. Jakarta : EGC
Kee, Joyce LeFever. 1997. Buku Saku Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik
dengan Implikasi Keperawatan. Alih bahasa Easter Nurses, Ed Monica
Ester. Jakarta : EGC
Priyanto, Agus dan Sri, Lestari. 2008. Endoskopi Gastrointestinal. Jakarta :
Salemba Medika
https://www.scribd.com/doc/194852272/alat-kesehatan ; diakaes pada tanggal

25 Desember 2015
http://jurnal.fkep.unand.ac.id/vol11no1_2015_5.pdf ; diakaes pada tanggal 25

Desember 2015
http://www.medistra.com/index.php?option=com_content&view=article&id=159
&Itemid=67 ; diakses pada 9 Januari 2015

WULANDARI /010114A128

20