Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
1.1.1. Pengertian
Menurut Tarwoto (2010) Nutrisi adalah zat-zat gizi atau zat-zat lain yang berhubungan
dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh manusia
untuk menerima makananatau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan
menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuh serta
mengeluarkan sisanya. Nutrisi juga dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan,
zat-zat gizi dan zat-zat lain yang terkandung, aksi, reaksi, dan keseimbangan yang
berhubungan dengan kesehatan dan penyakit.
Nutrisi adalah proses total yang melibatkan dalam konsumsi dan penggunaan zat
makanan (marilyn E.Doengoes)
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan keadaan individu tidak
puasa atau berisiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan tidak
cukupnya masukan atau metabolisme nutrisi untuk kebutuhan metabolisme (carpenito,
1998)
1.1.2. Etiologi
Kelainan nutrisi disebabkan oleh
a. Kekurangan Nutrisi:
Gangguan Sistem Pencernaan (misalnya: sakit gigi, stomatitis, faringitis, gastritis,
GERD, dll)
Gangguan Sistem Endokrin (Hipertiroidisme, Diabetes Mellitus
Gangguan Sistem Neurobehaiour (Kelemahan pada nervus Vagus, Nervus
Glossus, Nervus Hipoglossus)
Gangguan sistem Muskuloskeletal (Trauma pada tulang dan atau otot pencernaan
seperti fraktur mandibularis, dll)
Proses Penyakit (Diare, Kanker, TB, Thypoid, AIDS dll)
Efek Terapi (Kemoterapi, Radioterapi)
b. Kelebihan Nutrisi:
Gangguan Sistem Endokrin ( Hipotiroidisme,
Gangguan pola aktifitas dan olah raga (Makan berlebih, Kurang olahraga)
1.1.3. Fisiologis
Makanan yang kita makan tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh dalam bentuk energi
sebelum melalui proses pencernaan, absorbsi, dan metabolisme. Tubuh memerlukan
energi untuk fungsi-fungsi fisiologis organ tubuh, pergerakan, mempertahankan
temperatur, fungsi kelenjar, kerja hormon, pertumbuhan, dan penggantian sel sel yang
rusak.
Proses Pencernaan Makanan
Pencernaan merupakan proses pemecahan makanan menjadi bagian lebih kecil, dari
kompleks menjadi sederhana agar dapat diabsorbsi. Proses pencernaan dilakukan
secara mekanik dan secara kimiawi.

1. Pencernaan secara mekanik


Pencernaan makanan secara mekanik lebihbanyak terjadi dalam rongga mulut yaitu
melaluimekanisme pengunyahan (mastikasi). Makanan yang sudah berada di rongga
mulut bercampurdengan saliva, kemudian dengan pernan gigi dan lidah makanan
kemudian dikunyah menjadi bagian yang lebih kecil. Makanan dikunyah rata-rata 20
sampai dengan 25 kali, tetapi tergantung dari jenis makanan. Makanan yang sudah
dikunyah selanjutnya masuk ke esofagus melalui proses menelan (deglutition).
Menelan merupakan proses volunter, dimana makanan didorong ke belakang menuju
faring. Peristiwa ini mencetuskan serangkaian gelombang kontraksi involunter pada
otot-otot faring yang mendorong makanan ke dalam esofagus.
Proses menelan merupakan suatu proses yang kompleks, yang memerlukan peranan
organ yang harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan.
a.

Tahap oral atau bukal


Pada fase oral ini, makanan akan dikumpulkan oleh gigi, lidah, palatum mole,
otot-otot pipi, dan saliva untuk menggiling dan membentuk bolus dengan konsistensi
dan ukuran yang siap ditelan. Lidah akan menekan palatum durum untuk mendorong
bolus ke arah faring. Palatum mole akan terangkat untuk mencegah makanan masuk ke
hidung. Proses ini dilakukan secara disadari.
b. Tahap Faringeal
Fase ini dimulai ketika bolus makanan menyentuh arkus faring anterior (arkus
palatoglosus) dan refleks menelan segera timbul. Laring akan terarik ke atas dan
epiglotis melipat untuk mencegah makanan masuk ke trakea. Otot faring mendorong
makanan masuk ke esofagus.
c. Tahap Esofageal
Pada tahap ini terjadi gerakan peristaltik yang membawa bolus ke lambung.
d. Bolus memasuki lambung melalui gerakan peristaltik esofagus.

2. Pencernaan secara kimiawi


Sejak berada dalam rogga mulut, makanan sudah dicerna secara kimiawi karena sudah
bercampur dengan saliva yang mengandung dua jenis enzim pencernaan yaitu lipase
dan amilase. Pencernaan makanan secara kimiawi dilambung dilakukan melalui
pencampuran makanan dengan asam lambung, mukus, dan pepsin, kemudian
dihasilkan komponen karbohirdrat, protein, dan lemak. Karbohidrat dicerna pada
bagian badan lambung menjadi bagian yang lebih sederhana yaitu monosakarida
seperti glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Protein dipecah menjadi asam amino dan
lemak lalu selanjutnya akan diubah menjadi trigliserida yang tersusun atas tiga asam
lemak.
Peran pencernaan makanan tidak terlepas dari peran organ-organ asesoris sistem
pencernaan, diantaranya hati, kandung empedu, dan pankreas.
a.

Hati.
Memproduksi cairan empedu yang kemudian keluar melalui dua saluran yaitu
duktus hepatikus kanan dan kiri, dan selanjutnya bergabung menjadi common ductus
hepaticus. Kemudian melalui common ductus bile sebelum akhirnya masuk ampula
duodenum.
Disamping fungsi sebagai regulasi hematologik dan fungsi-fungsi lain yang
jumlahnya lebih dari 200 fungsi, salah satu fungsi dari hati adalah regulasi metabolik.
Regulasi metabolik dari fungsi hati terjadi karena seluruh sirkulasi darah dari saluran
pencernaan yang mengabsorbsi nutrisi akan masuk ke hati melalui sistem vena porta
hepatika. Sel hati akan mengekstrak nutrisi dan toksin dari darah sebelum beredar ke
sirkulasi sistemik. Hati akan memindahkan atau menyimpan kelebihan nutrisi dan
2

akan memecahkan simpanan makanan jika terjadi kekurangan nutrisi. Beberapa fungsi
hati diantaranya dalam pengaturan metabolisme karbohidrat, lemak, asam amino,
penyimpanan mineral, dan vitamin.
b.

Kandung Empedu
Fungsi utama dari kandung empedu adalah menyimpan cairan/garam empedu
yang dihasilkan oleh hati sekitar 1 liter setiap hari. Empedu bersifat alkalin dan
mengandung garam empedu, kolesterol, billirubin, elekrolit, dan air. Produksi empedu
dipengaruhi oleh adanya hormon cholecystokinin (CCK) yang dihasilkan oleh usus
halus. Adanya rangsangan saraf simpatis mengakibatkan terjadinya kontraksi kandung
empedu yang kemudian isinya akan mengalir masuk ke duodenum. Garam empedu
berfungsi untuk mempercepat kerja enzim seperti amilase dan tripsin.
c.

Pankreas
Pankreas merupakan kelenjar yang memiliki dua fungsi yaitu fungsi endokrin dan
eksokrin. Sel-sel endokrin adalah pulau-pulau langerhans yang menghasilkan hormon
insulin dan glukagon yang berperan dalam pengaturan kadar gula darah. Sedangkan
sel eksokrin pankreas adalah sel acinar dan epitel yang menghasilkan cairan pankreas
seperti enzim-enzim pencernaan, air, dan ion-ion. Enzim-enzim pencernaan dari
pankreas bekerja di usus halus untuk memecahkan makanan menjadi bagian yang
lebih sederhana sehingga dapat diabsorbsi usus. Pankreas menghasilkan cairan sekitar
1 liter. Sekresi cairan dipengaruhi oleh hormon-hormon dari duodenum seperti
sekretin dan cholecystokinin. Pada saat kimus (makanan dalam bentuk setengah cair)
berada di duodenum, hormon sekretin dan cholecystokinin dilepaskan, kemudian
mempengaruhi sekresi enzim-enzim pankreas. Sekresi enzim-enim pankreas juga
distimulasi oleh nervus vagus. Enzim-enzim pankreas diantaranya sebagai berikut:
1) Pankreatik alfa amilase
Enzim ini sama dengan enzim amilase saliva, berfungsi memecahkan pati menjadi
maltosa yang selanjutnya akan diubah menjadi glukosa.
2) Lipase
Enzim ini diaktifkan oleh adanya cairan empedu yang masuk ke duodenum,
berfungsi dalam pencernaan trigliserida menjadi digliserida dan monogliserida, asam
lemak bebas dan gliserol.
3) Enzim proteolitik
Merupakan enzim yang terbanyak dihasilkan oleh pankreas sekitar 70%. Enzim
ini dalam bentuk tidak aktif, sampai setelah masuk ke usus halus misalnya tripsinogen,
chimotripsinogen, karboksipeptisode akan berubah menjadi tripsin, kimotripsin, dan
karboksipeptidose. Fungsi dari enzim tersebut mengubah protein menjadi dipeptida,
tripeptida, dan asam amino.

1.1.4. Klasifikasi
Tubuh membutuhkan nutrisi untuk kelangsungan fungsi-fungsi tubuh. Zat gizi
berfungsi sebagai penghasil energi bagi fungsi organ, untuk pergerakan, serta kerja
fisik. Sebagian zat gizi berperan dalam pembentukan dan perbaikan jaringa tubuh serta
berperan sebagai pelindung dan pengatur.
Elemen nutrisi terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi utama tubuh. Karbohidrat akan terurai
dalam bentuk glukosa yang kemudian dimanfaatkan tubuh dan kelebihan glukosa
akan disimpan di hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen.
a. Jenis Karbohidrat
Berdasarkan susunan kimianya, karbohidrat digolongkan menjadi tiga bagian
yaitu monosakarida, disakarida, dan polisakarida.
1) Monosakarida
3

Merupakan jenis karbohidrat yang paling sederhana dan merupakan


molekul yang paling kecil. Dalam bentuk ini karbohidrat diserap oleh
pembuluh darah di usus. Jenis monosakarida adalah glukosa, dektrosa,
fruktosa, dan galaktosa.
2) Disakarida
Jenis disakarida adalah sukrosa, maltosa, dan laktosa. Sukrosa banyak
terdapat pada makanan nabati, sedangkan laktosa merupakan jenis gula
dalam susu baik pada susu ibu maupun susu hewan.
3) Polisakarida
Merupakan gabungan dari beberapa molekul monosakarida. Jenis
polisakarida adalah zat pati, glikogen, dan selulosa.
b. Fungsi Karbohidrat
1) Sumber energi yang murah
2) Sumber energi utama bagi otak dan saraf.
3) Cadangan untuk tenaga tubuh
4) Pengaturan metabolisme lemak
5) Efisiensi penggunaan protein
6) Memberikan rasa kenyang
c. Sumber Karbohidrat
Sumber karbohidrat berasal dari makanan pokok, umumnya berasal dari
tumbuh-tumbuhan seperti beras, jagung, kacang, sagu, singkong, dan lain-lain.
Sedangkan karbohidrat pada hewani berbentik glikogen.
d. Pencernaan Karbohidrat
Pencernaan karbohidrat dilakukan secara mekanik dan kimiawi. Pencernaan
karbohidrat secara mekanik terjadi di mulut, lambung, dan usus halus.
Pencernaan karbohidrat secara kimiawi melalui bantuan enzim amilase saliva
yang diaktifkan oleh HCl, enzim enterokinase yang dihasilkan oleh usus
dengan mengakifkan maltosa, laktosa, dan sukrosa untuk mengubah menjadi
gula sederhana. Enzim lain yang berperan dalam pencernaan karbohidrat
adalah pankreatik alfa amilase yang dihasilkan oleh pankreas dan berfungsi
memecah pati menjadi maltosa yang selanjutnya akan diubah menjadi glukosa.
e. Absorbsi Karbohidrat
Karbohidrat hanya dapat diserap oleh tubuh dalam bentuk monosakarida
melalui proses difusi pada usus dan masuk ke kapiler vilus selanjutnya dibawa
menuju hati melalui vena porta hepatika. Di hati, galaktosa dan fruktosa diubah
menjadi glukosa dan sebagian glukosa akan diubah menjadi glikogen dengan
pengaruh insulin.
2. Protein
Protein merupakan unsur zat gizi yang sangat berperan dalam penyusunan senyawa
Senyawa penting seperti enzim, hormon, dan antibodi
a. Jenis protein
Protein adalah senyawa kompleks,tersusun atas asam amino atau peptida. Pada
manusia terkandung 22 jenis asam amino yang berbeda.bentuk sederhana dari
protein adalah asam amino.berdasarkan sumbernya,asam amino nonesensial.asam amino esensial hanya dapat di peroleh dari luar tubuh seperti
makanan
karena
tidak
dapat
disintesis
dalam
tubuh,misalnya
lisin,triptofan,fenilalanin,dan leusin.sedangkan asam amino nonesensial
merupakan asam amino yang dapat disintesis merupakan asam amino yang dapat
disintesis oleh tubuh dari senyawa lain.misanya glutamin,alanin,hidroksisilin, dan
piruvat
Jenis asam amino :

1. Asam amino esensial antara lain histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin,
fenilalanin, treonin, triptofan, valin.
2. Asam amino non-esensial antara lain alanin, arginin, asam aspartat, sitrulin,
sistein, sistine, asam glumamat, glisin, hidroksilisin, hidroksiprolin, prolin,
serin, tirosin.
Berdasarkan susunan kimianya, protein, di golongkan, menjadi tiga golongan,
yaitu :
1. Protein sederhana, yaitu jenis protein yang tidak berikatan dengan senyawa
lain seperti albumin dan globulin.
2. Protein bersenyawa, protein ini dapat membentuk ikatan dengan zat lain
seperti dengan glikogen maembentuk glikoprotein, dengan hemonglobin
membentuk kromoprotein
3. Turunan atau derivat dari protein, termasuk dalam turunan protein misalnya
albuminose,pepton, dan gelatin.
b. Fungsi protein
1. Dalam bentuk albumin berperan dalam keseimbangancairan yaitu dengan
meningkatkan tekanan osmotik koloid serta keseimbangan asam basa.
2. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh.
3. Pengaturan metabolisme dalam bentuk enzim dan hormon.
4. Sumber energi disamping karbohidrat dan lemak.
5. Dalam bentuk kromosom, protein berperansebagai tempat menyimpan dan
meneruskan sifat-sifat keturunan.
c. Sumber protein
1. Protein hewani, yaitu protein yang berasal dari hewan seperti susu, daging,
telur, hati, udang, kerang, ayam, dan sebagainya.
2. Protein nabati, yaitu protein yang berasal dari tumbuhan seperti jagung,
kedelai, kacang hijau, tepung terigu, dan sebagainya.
d. Pencernaan Protein
Jika ada makanan yang mengandung protein masuk ke lambung, maka akan
menstimulasi produksi pepsinogen oleh sel utama (chief cell) lambung.
Pepsinogen dengan bantuan HCl diaktifkan dengan cepat menjadi pepsin pada pH
di bawah 5,0 dan akan efektif pada pH 2,0. Produksi pepsinogen dipengaruhi oleh
adanya hormon asetilkolin, gastrin, dan sekretin selama ada makanan dan
kerjanya dihambat oleh keadaan alkali seperti pada keadaan keasaman di usus.
Pepsin mengubah protein menjadi polipeptida, yaitu albuminosa dan pepton. Di
usus, albuminosa dan pepton akan diubah menjadi asam amino dengan bantuan
enzim tripsin dari pankreas.
e. Absorbsi protein
Setiap hari sekitar 200 gram asam amino diabsorbsi melalui ileum dan masuk ke
kapiler-kapiler darah vilus melalui proses difusi, selanjutnya dibawa ke vena porta
hepatika. Karena protein dapat larut dalam air sehingga penyerapan umumnya
dapat terjadi secara sempurna, maka hampir tidak tersisa protein makanan dalam
fefes.
3. Lemak
Lemak atau lipid merupakan sumber energi yang menghasilkan jumlah kalori yang
lebih besar daripada karbohidrat dan protein.
a. Jenis lemak
Berdasarkan ikatan kimianya lemak dibedakan menjadi
1. Lemak murni
Yaitu lemak yang terdiri atas asam lemak dan gliserol. Asam lemak bebas dapat
dengan mudah menembus membran sel melalui proses difusi.
5

2. Lemak yang berikatan dengan unsur lain.


Seperti fosfolipid, merupakan senyawa ikatan lemak dengan garam fosfor,
glikolipid (senyawa ikatan lemak dengan glikogen), serta lipoprotein (senyawa
antara lipid dan protein).
b. Fungsi Lemak
Sebagai sumber energi, memberikan kalori dimana dalam 1 gram lemak
menghasilkan 9 kalori pada peristiwa oksidasi.
Melarutkan vitamin sehingga dapat diserap oleh usus.
Untuk aktivitas enzim seperti fosfolipid
Penyusunan hormon seperti biosintesis hormon steroid
c. Sumber lemak
Berasal dari nabati dan hewani, lemak nabati mengandung lebih banyak asam
lemak tak jenuh seperti pada kacang-kancangan, kelapa, dan lain-lain. Sedangkan
lemak hewani banyak mengandung asam lemak jenuh dengan rantai panjang seperti
pada daging sapi, kambing, dan lain-lain.
d. Pencernaan lemak
Pencernaan lemak dimulai di mulut dengan bantuan enzim lipase saliva yang
dihasilkan di sublingual kemudian di lambung dan duodenum dengan bantuan
enzim lipase yang dihasilkan oleh pankreas. Enzim lipase diaktifkan oleh adanya
garam empedu yang masuk ke duodenum. Lemak dicerna menjadi asam lemak,
monogliserida, dan kolesterol dengan bantuan garam-garam empedu dan lipase lalu
diserap ke darah manuju hati.
e. Absorbsi lemak
Sekitar 80 gram per hari lemak diabsorbsi dalam usus khususnya di duodenum
melalui mekanisme difusi pasif. Asam lemak dengan rantai pendek (terdiri atas 10
sampai 12 atom karbon) masuk ke jaringan kapiler dan selanjutnya dibawa ke vena
porta hepatika sebagai asam lemak bebas. Sedangkan asam lemak dengan rantai
panjang (lebih dari 12 atom karbon) disintesis kembali menjadi trigliserida,
kemudian bergabung bersama lipoprotein, kolesterol, dan fosfolipid membentuk
silomikron selanjutnya diabsorbsi oleh lakteal dari villi.dari lakteal kemudian
masuk ke sirkulasi limfatik dan selanjutnya masuk ke sirkulasi darah.
4. Vitamin
Merupakan komponen organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil dan tidak
dapat diproduksi dalam tubuh. Vitamin sangat berperan dalam proses metabolisme
karena fungsinya sebagai katalisator.
a. Jenis vitamin
Vitamin dikelompokkan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1. Vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B Kompleks, B1 (tiamin), B2
(riboflavin), B3 (niacin), B5 (Asam pantothenat), B6 (Piridoksin), B12
(kobalamin), asam folat, dan vitamin C. Jenis vitamin ini dapat larut dalam air
sehingga kelebihannya akan dibuang melalui urine.
2. Vitamin yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak seperti vitamin A,
D, E, dan K.
b.

Fungsi Vitamin.
1. Vitamin B1 berfungsi mencegah terjadinya penyakit beri-beri, neuropati
perifer, gangguan konduksi sistem saraf, dan encephalopaty wernicke.
2. Vitamin B2 berfungsi memperbaiki kulit, mata, serta mencegah terjadinya
hiperbillirubinemia pada bayi baru lahir yang mendapatkan fototherapy.

3. Vitamin B3 berfungsi menetralisasi zat racun, berperan dalam sintesis


lemak, memperbaiki kulit dan saraf, serta sebagai koenzim pada banyak
enzim dehidrogenase yang terdapat dalam sitosol dan mitokondria.
4. Vitamin B5 berfungsi sebagai katalisator reaksi kimia dalam pembentukan
koenzim A yang berperan dalam pembentukan energi (ATP)
5. Vitamin B6 berperan dalam proses metabolisme asam amino, proges
glikogenolisis, pembentukan antibody serta regenerasi sel darah merah.
Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan dermatitis, bibir pecah-pecah,
sariawan, anemia, dan kejang.
6. Vitamin B12 berperan dalam proses pembentukan sel darah merah,
mencegah kerusakan sel saraf, dan membantu metabolisme protein.
7. Vitamin C membantu pembentukan tulang, otot, dan kulit, membantu
penyembuhan luka, meningkatkan daya tahan tubuh, membantu penyerapan
zat besi serta melindungi tubuh dari radikal bebas.
8. Asam Folat berfungsi dalam membantu metabolisme khususnya asam
amino, pematangan sel darah merah, serta mencegah terjadinya penyakit
jantung bawaan. Kekurangan dapat mengakibatkan anemia megaloblastik.
9. Vitamin D berfungsi meningkatkan penyerapan kalsium, fosfor untuk
kekuatan tulang dan gigi, pengaturan produksi hormon, serta pengaturan
kadar kalsium darah.
10. Vitamin A berfungsi membangun sel-sel kulit melindungi sel-sel retina dari
kerusakan. Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan gangguan
penglihatan pada senja hari (rabun senja).
11. Vitamin E berfungsi sebagai antioksidan dengan cara memutuskan berbagai
rantai reaksi radikal bebas.
12. Vitamin K membantu dalam proses pembekuan darah dan jika terjadi
kekurangan dapat mengakibatkan penyakit perdarahan.
5. Mineral
Mineral adalah ion anorganik esensial untuk tubuh karena peranannya sebagai
katalis dalam reaksi biokimia. Mineral dan vitamin tidak menghasilkan energi,
tetapi merupakan elemen kimia yang berperan dalam mempertahankan proses
tubuh.
a. Jenis mineral
1. Makromineral yaitu jumlah kebutuhan mineral tubuh lebih dari 100mg per
hari seperti Na, Ca, P, K, Cl, dan Mg
2. Mikromineral yaitu jumlah kebutuhan mineral kurang dari 100mg per hari
seperti Fe, Zn, Cr, Mn, Cu, F, I
b. Fungsi mineral
1. Penentuan konsentrasi osmotik cairan tubuh, misalnya Na dan Cl yang
berperan dalam mempertahankan cairan ekstraseluler. K sangat
pentingdalam mempertahankan konsentrasi osmotik intraseluler.
2. Proses fisiologis, variasi, kombinasi dari ion, ion berperan dalam berbagai
proses fisiologis seperti mempertahankan transmembran potensial,
pembentukan, dan mempertahankan tulang, kontraksi otot, pembentukan
neurotransmiter, pembentukan hormon, pembekuan darah, transfer gas, dan
sistem penyangga (buffer).
3. Sebagai kofaktor esensial berbagai reaksi enzimatik seperti pada Calcium
dependen ATPase pada tulang membutuhkan ion magnesium. ATPase
untuk mengubah glukosa menjadi asam piruvat membutuhkan ion kalium
dan magnesium
6. Air
Merupakan media transpor nutrisi dan sangat penting dalam kehidupan sel-sel
tubuh.

Setiap hari, sekitar 2 liter air masuk ke tubuh kita melalui minum, sedangkan cairan
digestif yang diproduksi oleh berbagai organ saluran pencernaan diserap organ
sekitar 8 sampai 9 liter, sehingga sekitar 10 sampai 11 liter cairan beredar dalam
tubuh. Namun demikian, dari 10 sampai 11 liter cairan yang masuk, hanya 50
sampai 200ml yang dikeluarkan melalui feses, selebihnya direabsorbsi.
Absorbsi air terjadi pada usus halus dan usus besar (colon) dan terjadi melalui
proses difusi.
Jejenum 5-6 liter per hari
Ileum 2 liter per hari
Colon 1,5 liter per hari.

1.1.5. Patofisiologi
Berikut adalah Pathway Gangguan Nutrisi Kurang dari kebutuhan.
Gangguan Mekanis Sistem Pencernaan

Faringitis

Tonsilitis

Parotitis

Kemampuan Menelan

Gangguan Kimiawi Sistem Pencernaan

Sakit Gigi

Stomatitis

Kemampuan mengunyah

Hormon T3, T4, dan TSH

Asam Lambung

Laju Metabolisme

Iritasi Dinding Lambung

Kebutuhan Energy

Dehidrasi

Anorexia

MK: Gangguan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan

Malaise

MK: Gangguan Mobilitas Fisik

Nausea & Vomiting

MK: Gangguan Keseimbangan


Cairan dan Elektrolit

Albumin Serum

MK: Resiko Tinggi Infeksi

1.1.6. Manifestasi Klinis


a.

Kekurangan Nutrisi
Penurunan BB
BB dibawah normal
TB di bawah normal
Malaise
Myalgia
Defisit Albumin serum

b.

Kelebihan Nutrisi
Peningkatan BB
BB diatas normal
DM
PJK

1.1.7. Pemeriksaan Penunjang


Agar didapat dukungan nutrisi yang adekuat penting dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut:
1. Penilaian status gizi untuk mengetahui keadaan umum pasien.
2. Penilaian stres metabolik mengetahui perubahan metabolisme akibat penyakitnya.
3. Pemantauan kebutuhan nutrisi dan metode pemberian.
4. Pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan perubahan metabolisme.
Ekskresi Nitrogen Urea Urin (NUU)
Kadar Glukosa Darah
Asam Laktat Plasma
Glukosa Urin
Analisa Gas Darah
Benda Keton
Pemeriksaan laboratorium yang penting pada gangguan metabolisme karbohidrat:
1. Pemeriksaan urin
2. Glukosa darah
3. Hb A1 C/ Hb A1 total
4. Fructosamin
5. Insulin/ Glukagon
6. C-peptide
7. Benda keton
8. Analisa gas darah
1.1.8. Penatalaksanaan
1. Timbang badan setiap hari dan pantau hasil pemeriksaan laboratorium, misalnya
: Hb, albumin, nematokrit.
2. Tentukan kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat, konsekuen pada
ahli gizi.
3. Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat, negosiasikan dengan klien. Tujuan
masukan untuk setiap kali makan dan makan makanan kecil
4. Pertahankan kebersihan mulut yang baik (sikat gigi, membersihkan / membilas
mulut) sebelum dan sesudah mengunyah makanan.
5. Jelaskan tentang konsep keseimbangan intake output.
10

BAB II
Konsep Asuhan Keperawatan

2.1.Pengkajian
2.1.1 Anamnesa
Data Dasar / Biodata
1.1. Identitas pasien (nama, umur, jenis klamin, agama, alamat, pendidikan,
pekerjaan, diagnosa medis, tanggal MRS, tanggal dan jam dilakukan
pengkajian, golongan darah).
1.2. Keluhan Utama
Satu buah keluhan yang paling dirasakan pasien saat kita melakukan
pengkajian
1.3. Riwayat Penyakit sekarang
Menceritakan tentang kronologis terjadinya penyakit yang dialami saat ini.
Antara lain:
a. Sebelum Masuk Rumah Sakit: Apa saja keluhan yang dirasakan,
upaya pengobatan yang sudah dilakukan, dan treatment yang sudah
didapatkan. Akan tetapi kesemuanya itu belum membuahkan hasil
sehingga memunculkan satu alasan untuk memutuskan merujuk pasien
ke Rumah Sakit.
b. Saat Masuk Rumah Sakit: Keluhan apa saja yang masih dirasakan
(bisa saja keluhan berkurang atau bertambah karena sebelum MRS
sudah mendapatkan pengobatan)
c. Saat dilakukan pengkajian: Keluhan apa saja yang masih dirasakan
pasien saat pengkajian dilakukan. (bisa berkurang ataupun
bertambah). Keluhan inilah yang menjadi fokus diagnosa keperawatan
yang diangkat dalam asuhan keperawatan.
1.4. Riwayat penyakit masa lalu
Ada atau tidaknya riwayat penyakit yang sama atau mempengaruhi
sehingga terjadi penyakit yang sekarang diderita.
1.5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama dengan
pasien saat ini (menyelidiki adanya penyakit keturunan).
Genogram digunakan apabila ada kemungkinan penyakit keturunan dan
atau ada potensi penularan penyakit dari anggota keluarga. Genogram
dibuat minimal 3 (tiga) generasi ke atas dan hanya fokus kepada
kemungkinan terjadinya penyakit keturunan dan atau potensi penularan
penyakit saja.
1.6. Pola Psikososial dan Spiritual
Bagaimana hubungan pasien dengan keluarga dan lingkungannya, adakah
adat atau kepercayaan pasien sehubungan dengan penyakitnya, agama
yang dianut, apa saja yang boleh dan tidak boleh berdasarkan
keyakinannya tersebut.
1.7. Pola Aktifitas sehari-hari
Membandingkan beberapa aspek saat di rumah (sebelum sakit) dan saat
dirawat di rumah sakit, antara lain berisi tentang hal hal sebagai berikut:
a. Pola Nutrisi
Membandingkan aspek nutrisi saat sebelum sakit dan saat sakit
dengan mengkaji aspek manajemen nutrisi berikut ini:
A = Antropometri (meliputi Tinggi badan, Berat Badan, Lingkar
lengan tangan yang tidak dominan/ umumnya lengan kiri)
B = Biokimia (meliputi kadar Hb, Albumin, Lemak, Cholesterol)
C = Clinical sign (tanda klinis kelebihan atau kekurangan nutrisi)
D = Diet (history jenis diet dan polanya)
E = Energy dan aktivitas
11

F = Faktor faktor lain yang mempengaruhi status nutrisi pasien.


b. Pola Eliminasi
Mengkaji aspek manajemen eliminasi berikut ini:
Eliminasi Alvi: meliputi frekwensi, bentuk, konsistensi, bau, warna,
dan jumlah.
Eliminasi Urine: meliputi: frekwensi, jumlah dalam cc, konsistensi,
warna dan bau
c. Pola Istirahat
Mengkaji jumlah jam tidur siang dan malam
d. Pola Aktivitas
Mengkaji aktifitas sebelum sakit (sebelum di RS) dan saat di RS.
e. Pola Personal Hygiene
Mengkaji pola mandi, jenis mandi, dan frekwensi mandi per hari dan
membandingkan antara sebelum MRS dan selama MRS.
f. Pola Kebiasaan
Mengkaji kebiasaan aktivitas pasien sebelum MRS dan saat MRS.
1.8. Keadaan / Penampilan / Kesan umum pasien
Keadaan pasien secara umum yang dapat kita amati, apakah pasien lemah,
sehat, bugar, atau coma.
1.9. Harapan klien dan keluarga sehubungan dengan penyakitnya.
Berisi tentang harapan pasien secara subjektif tentang penyakit yang
sedang di alaminya.
1.10. Tanda tanda vital
Mengukur suhu aksila pada pasien dewasa dan anak anak atau suhu
rektal pada bayi, jumlah nadi per menit, jumlah pernapasan per menit, dan
tekanan darah.
1.11. Antropometri
Mengukur tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas tangan yang tidak
dominan, dan lingkar perut pasien.
1.2.1.2 Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan seluruh tubuh dengan tehnik Inspeksi (melihat),
Palpasi (meraba dan menekan), Perkusi (mengetuk untuk mengamati bunyi
ketukannya), dan Auskultasi (mendengarkan). Tehnik yang dipakai dan urutan
pemeriksaannya tergantung pada aspek pemeriksaan manakah yang akan kita
kaji. Aspek tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan Kepala
Inspeksi: Bagaimanakah bentuk kepalanya (bulat atau oval, simetris
atau tidak), warna dan kebersihan rambut, menggunakan penutup
kepala atau tidak, berketombe atau tidak, apakah ada luka/lesi dan
benjolan yang tak wajar.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
b. Pemeriksaan Mata
Inspeksi: kesimetrisan bola mata, apakah ada luka/lesi/peradangan,
Konjungtiva (anemis/tidak), Sklera (ikterik/merah/putih).
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
c. Pemeriksaan Hidung
Inspeksi: lubang hidung, kebersihan hidung, adakah luka/lesi,
benjolan tak normal pada hidung.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
d. Pemeriksaan Telinga
Inspeksi: apakah ada luka/lesi, benjolan tak normal, Liang telinga
kotor/bersih dari serumen, daun telinga, bertindik atau tidak.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
e. Pemeriksaan Mulut
12

Inspeksi: amati mukosa bibir, apakah ada stomatitis, keadaan gigi,


lidah, tonsil, sampai dengan faring.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
f. Pemeriksaan Leher
Inspeksi: Periksa apakah ada luka/lesi, benjolan abnormal,
pembengkakan kelenjar tiroid dan parotid.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
g. Pemeriksaan Ketiak
Inspeksi: amati kebersihan ketiak, kering atau lembab, bulu ketiak,
apakah ada benjolan atau perlukaan.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
h. Pemeriksaan Dada / Thorax
Pemeriksaan Dada:
Inspeksi: bagaimanakah bentuk dadanya, kesimetrisannya, apakah
ada luka atau lesi.
Palpasi: apakah ada crepitasi, nyeri raba dan tekan atau tidak.
Pemeriksaan Paru-paru
Inspeksi: Berapa jumlah Respiratory Rate per menitnya.
Palpasi: bagaimanakah keseimbangan vocal fremitus antara paru
dextra dan sinistra apakah sama atau tidak
Perkusi: suara paru resonan/sonor.
Auskultasi: Bagaimana bunyi dan irama napasnya, apakah ada
wheezing, ronchi, rales dsb.
Pemeriksaan Jantung
Inspeksi: apakah tampak ictus cordisnya.
Palpasi: Ictus cordis teraba di ICS 5 mid clavicula sinistra
Perkusi: Suara perkusi jantung pekak
Auskultasi: Suara jantung Lup Dup / S1-S2 sama, tidak ada bunyi
tambahan.
Pemeriksaan Payudara
Inspeksi: Apakah ada luka/lesi, benjolan tak wajar.
Palpasi: apakah ada nyeri raba/tekan, benjolan tak wajar.
i. Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi: Apakah ada luka/lesi, asites atau tidak
Auskultasi: Berapakah bising ususnya dalam 1 menit
Perkusi: suara lambung timpani, suara hepar pekak
Paplasi: apakah ada pembesaran hepar, dan atau spleen.
j. Pemeriksaan Genetalia
Inspeksi: amati kebersihan genetalia, lembab atau kering, kondisi
rambut kemaluan, terpasang DK atau tidak.
Palpasi: apakah ada nyeri raba/tekan.
k. Pemeriksaan Ekstermitas
Pemeriksaan Tangan:
Inspeksi: warna kulit, apakah ada luka/lesi, benjolan tak wajar,
terpasang IVFD atau tidak, berapa MMTnya.
Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak, berapa CRTnya.
Pemeriksaan Kaki: warna kulit, apakah ada luka/lesi, benjolan tak
wajar, terpasang IVFD atau tidak, berapa MMTnya.
Inspeksi: Palpasi: apakah ada nyeri tekan atau tidak.
l. Pemeriksaan Integumen (Kulit dan Kuku)
Inspeksi: Warna kulit, warna kuku, kebersihan.
Palpasi: Turgor kulit, CRT, Nyeri tekan atau tidak
m. Pemeriksaan Neurologi
Berisi tentang penilaian Glassgow Coma Scale.
n. Pemeriksaan Muskuloskeletal
13

o.
p.
q.

Berisi tentang penilaian uji MMT tangan dan kaki.


Pemeriksaan Penunjang Medis
Pemeriksaan penunjang yang digunakan dalam penegakan diagnosa.
Pelaksanaan Terapi
Pemberian farmakologi, frekwensi, dan dosis.
Pemeriksaan Status Mental
Penilaian kemampuan pasien dalam berinteraksi dengan orang lain,
menjawab pertanyaan, mengikuti perintah, dan adanya disorientasi atau
tidak.

2.2.Kasus asuhan keperawatan


2.2.1 Analisa data
a. Data Gayut
DS : Data yang didapat saat kita melakukan pengkajian terhadap pasien
DO : Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang meliputi
( pemeriksan fisik, tanda-tanda vital )
b. Masalah
Masalah keperawatan yang muncul dan dapat menyebabkan gangguan pada
pemenuhan kebutuhan nutrisi
a. Kemungkinan penyebab
Etiologi dan proses berjalanya gangguan hingga muncul masalah
keperawatan

2.2.2 Daftar Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b.d aktivasi mekanisme peradangan sekunder thd luka post operasi
kelenjar parotis sinistra.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penekanan pada upper esophagus sekunder thd
peradangan pada luka post operasi kelenjar parotis sinistra
3. Resiko infeksi b.d terputusnya continuitas jaringan kulit sekunder thd luka
operasi kelenjar parotis sinistra

2.2.3 Intervensi

1. Dx 1 : Nyeri kronis b.d aktivasi mekanisme peradangan sekunder thd luka


post operasi kelenjar parotis sinistra yang ditandai dengan:
Pasien tampak lemah dan menyeringai.
Tampak luka terbuka post op kelenjar parotis sinistra dengan
diameter 2,5 cm, kedalaman 1 cm.
Terdapat pus pada luka
TTV ( S=36,8 0C, N=85 x/menit, RR=18 x/menit, TD= 140/90
mmHg)
14

Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam satu jam pasien
mengatakan nyeri berkurang.
Kriteria Hasil
1. Pasien tampak lebih relax.
2. Pasien bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman.
Intervensi
1. Observasi KU dan TTV
R : menjami terjalinnya komunikasi efektif dan terapeutik
2. Berikan tindakan rawat luka dengan teknik aseptik
R : luka yang membeik akan menurunkan tingkat peradangan dan
menurunkan nyeri.
3. Ajarkan teknik distraksi dan relaxasi
R : mengurangi nyeri dengan mengalihkan fokus perhatian tidak kepada
nyerinya.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetic dan antibiotic.
R : analgetic dapat merelaksasi saraf sehingga nyeri berkurang, antibiotic
mencegah resiko infeksi sehingga menurunkan resiko pembengkakan.
5. Berikan HE tentang kanker dan luka post operasi.
R : memperbaiki tingkat pemahaman dan mekanisme koping pasien
terhadap penyakitnya

2. Dx 2 : Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d penekanan pada upper esophagus


sekunder thd peradangan pada luka post operasi kelenjar parotis sinistra
yang ditandai dengan:
Pasien tampak lemah
GCS = 4-5-6
Kesadaran Compos Mentis
Porsi makan 2 x porsi
Mukosa bibir kering
Antropometri ( TB=164 cm, BB=45kg)

Tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kebutuhan
nutrisi adekuat.
Kriteria Hasil
1. Nafsu makan membaik
15

2. Pasien tidak lemah dan lesu


Intervensi
1. Observasi dampak peradangan luka post operasi kelenjar parotis
sinistra
R : mengetahui apakah peradangan membuat saluran pencernaan
menyempit dan menekan saraf pencernaan.
2. Kaji intake dan out put nutrisi
R:

mengetahui

adanya

ketidak

seimbangan

asupan

nutrisi

dibandingkan dengan kebutuhan energi dan eliminasi.


3. Ajarkan makan porsi kecil dan sering
R : melatih kekuatan otot yang terlibat dalam mekanisme
pengunyahan dan penelanan makanan.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antiemetic

R : Dapat mengurangi resiko muntah dan melapisi dinding lambung untuk


mencegah iritasi dinding lambung akibat pemberian analgetic.
5. Berikan HE tentang oral hygiene
R : Membantu meningkatkan kenyamanan mulut dan mengasah kepekaan
saraf-saraf perasa.

3. Dx 3 :Gangguan pola tidur b.d nyeri pada daerah seputar luka dan kaku otot
leher sekunder terhadap aktivasi mekanisme peradangan pada seputar luka
post op kelenjar parotis sinistra yang ditandai dengan:
Pasien tampak lemah
GCS = 4-5-6
Kesadaran Compos Mentis
Durasi tidur (siang = 2 jam, malam = 3 jam).
Kantung mata cowong
Sklera tampak kemerahan
Palpebra nampak sedikit membesar
Nampak tegang menahan nyeri
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam resiko pola
tidur membaik
Kriteria Hasil
1. Tidur siang 2 jam
2. Tidur malam 7 jam
Intervensi
16

1. Observasi faktor penyebab gangguan tidur.


R : Mengetahui sumber permasalahan penyebab gangguan tidur
2. Beri lingkungan yang nyaman dan tenang
R : Lingkungan yang nyaman dan tenang dapat meningkatkan
kenyamanan.
3. HE kepada pasien tentang pentingnya istirahat dan tidur.
R:istirahat dan tidur memberikan kesempatan bagi tubuh untuk
memulihkan energi dan stamina.
4. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penenang.
R: merelaksasi ujung saraf dan saraf pusat untuk mengurangi
ketegangan dan stress.

2.3 Implementasi
Implementasi merupakan suatu tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai
dengan rencana intervensi keperawatan yang sudah ditentukan untuk mengatasi
masalah keperawatan yang muncul
2.4 Evaluasi
Evaluasi yaitu catatan perkembangan setelah dilaksanakannya tindakan
keperawatan atau implementasi yang sesuai dengan rencana inervensi
keperawatan dengan menggunakan format SOAP atau SOAPIER

17

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito Lynda Jual (1995) Diagnosa Keperawatan, Edisi 6 Terjemahan Monica


Ester (2000) EGC : Jakarta
Dongoes, Marilyn E dkk (1993) Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3 Terjemahan
Wartonah, Tarwoto (2010) Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, Edisi 4,
Salemba Medika: Jakarta

18