Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

MANAJEMEN AGROEKOSISTEM
FASE PERTUMBUHAN TANAMAN SUWEG

DISUSUN OLEH :
NAMA

: CHICHA YAYAN LOVELYANA

NIM

: 145040200111154

KELAS

:O

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukut kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, taufik serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah dengan judul Fase Pertumbuhan Tanaman Suweg untuk memenuhi tugas
kuliah manajemen agroekosistem.
Penyusun berharap agar makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan serta pengetahuan pembaca mengenai fase pertumbuhan
tanaman suweg. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa didalam tugas ini
terdapat kekurangan dan jauh dari yang diharapkan. Untuk itu, penyusun berharap
adanya kritik dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan berguna bagi pembaca.
Sebelumnya penyusun mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan. Penyusun berharap agar pembaca dapat memberikan kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Malang, April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1

Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2

Rumusan Masalah .................................................................................... 1

1.3

Tujuan ....................................................................................................... 1

BAB II ISI .............................................................................................................. 2


2.1

Klasifikasi Tanaman Suweg ..................................................................... 2

2.2

Morfologi tanaman suweg ........................................................................ 2

2.3

Manfaat Tanaman Suweg ......................................................................... 4

2.4

Fase pertumbuhan Tanaman Suweg ......................................................... 4

BAB III PENUTUP ............................................................................................... 7


3.1

Kesimpulan ............................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 8

ii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl) ........................ 3
Gambar 2. Bunga Tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl)............. 3
Gambar 3. Umbi tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl) ............... 4

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar dari penduduknya
memiliki mata pencaharian sebagai petani. Selain menanam padi masyarakat juga
banyak menanam umbi-umbian sebagai tanaman sela pada setiap peralihan musim
seperti umbi jalar, singkong jenis umbi-umbian yang lain. Fakta bahwa Indonesia
memiliki potensi pangan yang besar dan beragam, serta memiliki pasar pangan
yang sangat besar yang terus berkembang, maka kemandirian pangan haruslah
merupakan tujuan dari kebijakan pangan.
Penganekaragaman pangan merupakan salah satu komitmen pemerintah
untuk membangun ketahanan pangan. Ditinjau dari kondisi agroekologi,
Indonesia memiliki potensi dalam pengembangan pangan pokok non-beras, akan
tetapi kebanyakan pangan sumber karbohidrat tersebut selama ini masih tersisih.
Oleh karena itu upaya penganekaragaman ini harus terus ditingkatkan dengan
memanfaatkan sumberdaya lokal dan menekan ketergantungan pada negara lain.
Tanaman suweg merupakan salah satu umbi-umbian yang dapat dijadikan
sebagai bahan pangan alternatif dan sebagai sumber karbohidrat. Sehingga
diperlukan suatu upaya untuk memasyarakatkan penggunaan suweg sebagai salah
satu alternatif bahan pangan dalam kaitannya dengan usaha diversivikasi pangan.
Oleh karena itu, akan lebih dibahas lebih mendalam tentang fase-fase
pertumbuhan tanaman suweg (Amorphophallus campanulatus Bl.).
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana klasifikasi tanaman suweg?
2. Bagaimana morfologi tanaman suweg?
3. Apa saja manfaat tanaman suweg?
4. Bagaimana fase pertumbuhan tanaman suweg?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui fase
pertumbuhan tanaman suweg (Amorphophallus campanulatus Bl.).

BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi Tanaman Suweg
Berikut ini adalah klasifikasi tanaman suweg menurut plantamor (2016):
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Arecidae

Ordo

: Arales

Famili

: Araceae (suku talas-talasan)

Genus

: Amorphophallus

Spesies

: Amorphophallus campanulatus Bl

2.2 Morfologi tanaman suweg


Tanaman suweg tidak memiliki batang sejati tetapi berupa umbi yang
selalu berada di bawah permukaan tanah. Umbi batang membentuk anakan umbi
dari samping dan dapat memunculkan daun sehingga kadang-kadang tampak
seperti berumpun. Tangkai daun tunggal utama seringkali dianggap "batang",
tumbuh tegak, lunak, dan berwarna hijau (mulai dari muda hingga gelap)
berbelang-belang putih; permukaan tangkai daun suweg kasar bila diraba, berbeda
dari iles-iles yang halus; tangkai daun pada ketinggian tertentu (dapat mencapai
1,5 m) menjadi tiga cabang sekunder dan akan mencabang lagi sekaligus menjadi
tangkai helai daun; helai daun ada yang menyatu pada tangkai daun.
Suweg tidak memiliki umbi udara (bulbil) pada bagian percabangan
tangkai daun, sebagaimana halnya iles-iles. Bunga tersusun majemuk berupa
struktur khas talas-talasan, yaitu bunga-bunga tumbuh pada tongkol yang
dilindungi oleh seludang bunga. Kuntum bunga tidak sempurna, berumah satu,
berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan terletak di bagian distal (lebih
tinggi) daripada bunga betina.

Suweg bisa tumbuh baik di tempat tempat yang lembab dan terlindung
dari sinar matahari. Daerah dataran rendah sampai ketinggian 800 m diatas
permukaan air laut, merupakan daerah yang bisa memberikan kehangatan optimal.
Tanaman ini membutuhkan suhu rata-rata harian 25-35 0C. Curah hujan rata-rata
tahunan yang dibutuhkan antara 100 mm-1500 mm.Tanaman ini lebih cocok
ditanam pada lahan yang agak ternaungi jadi perlu tanaman pelindung. Suweg
berkembang biak dengan pemisahan anakan atau memotong tunas anakan yang
tersebar dipermukaan umbi. Tanah yang cocok adalah campuran antara tanah
humus, lempung dan pasir. Tanaman akan menghasilkan umbi siap panen ketika
memasuki usia 18 bulan. Masa panen suweg sebaiknya dilakukan saat batang
suweg sudah membusuk dan memasuki masa istirahat, saat inilah kandungan pati
di dalam suweg maksimal. Berat umbi suweg bisa mencapai 5 kg.

Gambar 1. Tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl)

Gambar 2. Bunga Tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl)

Gambar 3. Umbi tanaman Suweg (Amorphophallus campanulatus Bl)


2.3 Manfaat Tanaman Suweg
Sumber pangan karbohidrat tidak hanya berasal dari beras saja, akan tetapi
masih ada yang lain seperti umbi umbian yang sangat potensial contohnya umbi
suweg. Berikut ini adalah manfaat dari tanaman suweg menurut Setijati
Sastrapradja et al (1977):
1. Umbi suweg dapat digunakan sebagai obat luka
2. Umbi suweg dapat sebagai pangan fungsional
3. Umbi suweg juga seperti umbi-umbi yang lain dapat dijadikan sebagai
bahan baku pembuatan sirup glukosa, salah satunya untuk pengisian infus
glokosa dalam bidang kedokteran
4. Tepung suweg sebagai bahan baku aneka makanan tradisional atau modern.
5. Tanaman suweg dapat menyumbang untuk pengurangi kerawanan pangan
dan dapat menjaga ketahanan pangan di masa paceklik pada waktu di
musim kemarau maupun bencana alam.

2.4 Fase pertumbuhan Tanaman Suweg


Suweg termasuk tanaman terna dan dwimusim karena fase vegetatif dan
generatifnya muncul tidak bersamaan. Perkembangbiakan suweg secara vegetatif
dengan anakan sedangkan secara umbi generatif dengan biji. Berikut ini adalah
fase pertumbuhan tanaman suweg menurut Pitojo (2011):

a. Fase pertumbuhan vegetatif pertama


Fase pertumbuhan vegetatif pertama berawal dari tunas umbi yang tumbuh
menjadi tanaman muda suweg. Tanaman suweg yang baru pertama kali tumbuh
akan berukuran kecil, apabila dibandingkan dengan tanaman suweg yang telah
lama hidup di lahan. Hal ini dikarenakan, tanaman suweg yang baru memiliki
kemampuan tumbuh terbatas dan dapat tumbuh dengan sumber energy yang
berasal dari tunas. Selanjutnya, kecepatan tumbuh dan kemampuan tumbuh
tanaman sangat ditentukan oleh perakaran yang masih terbatas serta laju
fotositesis yang juga masih terbatas karena dukungan klorofil belum maksimal
walaupun kondisi lingkungan atau lahan sudah ideal.
Hal yang menarik untuk dicermati adalah tanaman yang baru tumbuh dari
mata tunas akan tumbuh tidak tinggi, dengan satu tangkai daun, membentuk daun
tunggal yang terdiri atas empat atau lima lembar anak daun. Tanaman tersebut
akan membentuk tunas baru, serta akan tumbuh lebih kuat dari tanaman pertama
dan tidak hanya membentuk satu tangkai daun. Dari pangkal tangkai daun tersebut
kemudian muncul tunas daun dan menjadi daun ketiga. Selanjutnya dari pangkal
pelepah daun yang ketiga tersebut masih mungkin muncul tunas daun yang baru.
Kemampuan tanaman suweg untuk tumbuh sangat berkaitan dengan kondisi
lingkungan tempat tumbuh tanaman. Tanaman suweg tumbuh vegetative pertama
selama 5-6 bulan dan menghasilkan umbi yang berukuran kecil serta belum siap
dikonsumsi.
b. Fase istirahat pertama
Fase istirahat pertama atau dorman berlangsung sejak daun terakhir
tanaman suweg telah layu dan mati. Dengan denikian maka tidak ada lagi bagian
tanaman yang tampak berada diatas tanah dan berakhirnya masa hidup daun
suweg untuk periode tersebut karena tidak berlangsungnya proses fotosintesis.
Tanaman beristirahat dalam bentuk umbi di dalam tanah, yang dikenal sebagai
fase dorman dan berlangsung pada musim kemarau.
c. Fase vegetative kedua
Fase pertumbuhan vegetative kedua berawal sejak tunas umbi tumbuh
kembali menjadi tanaman suweg muda yang baru. Tanaman suweg yang kedua

kali tersebut berukuran lebih besar apabila dibandingkan dengan tanaman suweg
yang baru pertama kali hidup di lahan. Hal ini dikarenakan, tanaman suweg yang
baru memiliki kemampuan tumbuh lebih besar didukung oleh sumber tenaga yang
berasal dari umbi. Untuk selanjutnya, kecepatan dan kemampuan tumbuh tanaman
sangat ditentukan oelh perkaran, aktivitas fotosintesis selama periode tumbuh,
serta kondisi lahan tempat tumbuhnya tanaman selama 5-6 bulan.
Pada pertumbuhan vegetatif kedua, tanaman suweg mampu menghasilkan
umbi yang lebih besar daripada umbi yang dihasilkan oleh tanaman pada tahun
pertama. Selanjutnya umbi suweg dapat digunakan untuk benih tanaman
berikutnya. Hal yang perlu diperhatikan yaitu tunas tidak boleh tumbuh banyak
dalam satu umbi karena akan menyebabkan tanaman tersebut tumbuh lembab dan
tidak produktif. Untuk mengatasi hal tersebut, anakan umbi dihilangkan dan benih
umbi yang ditanam harus dengan posisi yang terbalik terutama benih umbi suweg
dewasa.
d. Fase generatif
Pertumbuhan Generatif Tanaman suweg yang menginjak fase generatif
menggunakan sebagian energi yang dihimpun dalam umbi selama pertumbuhan
vegetatif untuk mendukung pembentukan dan pertumbuhan bunga. Bunga muncul
apabila simpanan energi berupa tepung di umbi sudah mencukupi untuk
pembungaan. Sebelum bunga muncul, seluruh daun termasuk tangkainya akan
layu. Bunga tersusun majemuk berupa struktur khas talas-talasan, yaitu bungabunga tumbuh pada tongkol yang dilindungi oleh seludang bunga. Kuntum bunga
tidak sempurna, berumah satu, berkumpul di sisi tongkol, dengan bunga jantan
terletak di bagian distal (lebih tinggi) daripada bunga betina. Struktur generatif ini
pada saat mekar mengeluarkan bau bangkai yang memikat lalat untuk membantu
penyerbukannya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman suweg (Amorphophallus campanulatus Bl) merupakan salah satu
bahan pangan alternatif dan sebagai sumber karbohidrat. Salah satu cara untuk
memanfaatkan suweg adalah membuatnya menjadi tepung suweg, karena akan
lebih mudah untuk diolah lebih lanjut menjadi berbagai makanan. Terdapat dua
fase dalam pertumbuhan tanaman suweg yaitu fase fegetatif dan fase generatif.
Perkembangbiakan suweg secara vegetatif dengan anakan sedangkan secara umbi
generatif dengan biji.

DAFTAR PUSTAKA
Pitojo, Setijo. 2011. Seri Budidaya Suweg : Bahan Pangan Alternatif, rendah
kalori dan dilengkari resep masakan. Kanisius. Yogyakarta
Setijati Sastrapradja. 1977. Umbi umbian. LIPI. Jakarta.
www.plantamor.com. Diakses pada 7 april 2016