Anda di halaman 1dari 19

Mata Kuliah

Dosen Pengampuh
Tugas Kelompok II

: Strategi Belajar Mengajar Biologi


: Prof. Dr. Hj. Nurhayati B, M. Pd.

PENGELOLAAN KELAS BERBASIS


PENDIDIKAN BERKARAKTER

Kelas Biologi A
Akhmad Kurnia
Suriah Satar
Andi Uswah Uzlifat
Arman Abu bakar

PENDIDIKAN BIOLOGI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas merupakan aset bangsa
dan negara dalam melaksanakan pembangunan nasional di berbagai sektor dan
dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat dalam era globalisasi.
Sumber daya manusia ini tiada lain ditentukan oleh hasil produktivitas lembagalembaga penyelenggara pendidikan, yang terdiri atas jalur sekolah dan luar
sekolah, dan secara spesifik merupakan hasil proses belajar mengajar di kelas.
Pendidikan adalah salah satu aspek yang sangat penting untuk kita
perhatikan dalam proses perjalanannya dari masa ke masa. Penggunaan metode
dalam pendidikan yang begitu bervariasi menjadi tidak efektif jika tanpa aplikasi
secara maksimal. Seiring perkembangan jaman, pendidikan yang hanya
berbasiskan hard skill (keterampilan tekhnis) yaitu menghasilkan lulusan yang
hanya memiliki prestasi dalam akademis, harus mulai dibenahi. Sekarang
pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan dan berkarakter.
Berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat dan berwatak
Keterkaitan antara proses belajar mengajar di kelas dengan pendidikan
berkarakter menjadi hal yang penting untuk kita cermati dan bahas, sehingga hal
ini menjadi latar belakang penyusunan makalah ini, dengan judul pengelolaan
kelas berbasis pendidikan berkarakter.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Apa yang dimaksud pengelolaan kelas?


Apa yang dimaksud dengan pendidikan berkarakter?
Bagaimana pengelolaan kelas berbasis pendidikan berkarakter?
Bagaimana implementasi pendidikan berkarakter pada kurikulum 2013 ?

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengelolaan Kelas
Tiga fokus utama mengartikan menajemen/ pengelolaan yaitu:
1. Sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal
bakal suatu profesi.
2. Sebagai proses yang menentukan langkah yang sistematis dan terpadu
sebagai aktivitas pengelolaan.
3. Sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam
menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan.
Pengelolaan merupakan kemampuan dan keterampilan khusus yng
dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara peorangan
ataupun bersama orang lain atau melalui orang lain dalam upaya mencapai tujuan
lembaga pendidikan secara produktif, efektif dan efisien. Pendapat lain
menyatakan bahwa pengelolaan kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk
memotivasi siswa belajar dan mewujudkan suasana pembelajaran aktif, kreatif,
enak dan menyenangkan.
Dapat disimpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah segala usaha yang
diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan
menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai
dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa pengelolaan kelas merupakan
usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar secara sistematis. Usaha sadar
itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga,
pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/ kondisi proses belajar mengajar
dan pengaturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan
kurikuler dapat tercapai (Dirjen POUD dan Dirjen Dikdasmen, 1996).
Menurut Dirjen Dikdasmen yang menjadi tujuan pengelolaan kelas adalah:
1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar
maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk
mengembangkan kemampuan semaksimalkan mungkin.
2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya
interaksi pembelajaran.

3. Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabot belajar yang mendukung


dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial,
emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial,
ekonomi, budaya serta sifat- sifat individu.
Kegiatan Pengelolaan
Kelas
Mengatur orang
(kondisi emosional)
Tingkah laku
Kedisiplinan
Minat/ perhatian
Gairah belajar
Dinamika
B. Pendidikan
Berkarakter
kelompok

Mengatur fasilitas
belajar mengajar
(kondisi fisik)
Ventilasi
Pencahayaan
Kenyamanan
letak duduk
Penempatan
siswa

1. Pengertian Pendidikan Karakter


Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikam moral,

karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalh benar- salah,
tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal- hal yang baik dalam
kehidupan, sehingga anak/ peserta didik memiliki kesadaran, dan pemahaman
yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam
kehidupan sehari- hari.
Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika,
akhlak, dan atau nilai yang berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif,
bukan netral. Sedangkan Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008)
merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik,
baik yang terpatri dalam diri dan terjewantahkan dalam perilaku. Karakter secara
koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta
olahraga seseorang atau sekelompok orang.
Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan
temperamen, yang lebih memberi penekanan pada defenisi psikososial yang
dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter
dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis
yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor


yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan, yang juga disebut faktor
bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan
tumbuh dan berkembang. Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar
jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor
lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan
ndividu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang dapat
dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui
rekayasa faktor lingkungan.
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Penyelenggaraan
pendidikan karakter memerlukan pengelolaan yang memadai. Pengelolaan yang
dimaksudkan adalah bagaimana pembentukan karakter dalam pendidikan
direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara memadai.
2. Faktor Pendidikan Karakter
Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran
yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari
proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan
kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya
lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik,
dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan
dapat dilakukan melalui strategi :
a. Keteladanan
b. Intervensi
c. Pembiasaan yang dilakukan secara Konsisten
d.

Penguatan.

Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan


pengembangan

keteladanan

yang

ditularkan,

intervensi

melalui

proses

pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang

dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai
luhur.
3. Pilar - Pilar Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap
orang dapat menyetujui nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau
bias budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu
siswa memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
a. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu, menjiplak atau mencuri, jadilah handal melakukan
apa yang anda katakan anda akan melakukannya, minta keberanian untuk
melakukan hal yang benar, bangun reputasi yang baik, patuh berdiri dengan
keluarga, teman dan negara.
b. Recpect (Respek)
Bersikap toleran terhadap perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa
yang buruk, pertimbangkan perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul
atau menyakiti orang lain, damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.
c. Responsibility (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah
sebelum bertindak mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas
pilihan anda.
d. Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai aturan, ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka;
mendengarkan orang lain, jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan
menyalahkan orang lain sembarangan.

e.

Carin (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan

rasa syukur, maafkan orang lain, membantu orang yang membutuhkan.


f. Citizenshi (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja sama,
melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang baik, mentaati
hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
4. Tujuan, Fungsi dan Media Pendidikan Karakter, dan Nilai- Nilai
Pembentuk Karakter
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang
tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,
berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan yang Maha
Esa berdasarkan Pancasila.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
a. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan
berperilaku baik
b. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
c. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup
keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah,
dunia usaha, dan media massa.
Nilai- Nilai Pembentuk Karakter
Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan
melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan
pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter
pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18
nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values)
yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter telah


teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan
pendidikan nasional, yaitu: Jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,
demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
prestasi,

bersahabat/Komunikatif,

cinta

damai,

gemar

membaca,

peduli

lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, religius.


(Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa:
Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran
1.). Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan
pendidikan

dapat

menentukan

prioritas

pengembangannya

dengan

cara

melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang


diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis
karakter yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah
yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi
satuan pendidikan masing-masing. Di antara berbagai nilai yang dikembangkan,
dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan
mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni
bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
5. Pentingnya Pendidikan Karakter
Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk
memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti
itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita
sadari telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakterb pada anak didik.
Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif.
Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya
raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada
tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anakanak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah
bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan
karakter.

Ada sebuah kata bijak mengatakan ilmu tanpa agama buta, dan agama
tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif
tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan,
berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat
tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa
pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan
dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak
mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan
pembentukan

karakter adalah pendidikan yang

nilai-nilai karakter

pada

anak didik.

menekankan
Mengutip

empat

pada
ciri

dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan


karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster:
a. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai
normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman
pada norma tersebut.
b. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan
begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah
terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.
c. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari
luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik
mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari
pihak luar.
d. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam
mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar
penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan
karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas
bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan,
kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan
karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan
kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.

Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata


kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan
kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan
mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20
persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill
ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik. Berpijak
pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam
polapendidikan yang

diberikan pada

anak didik.

Misalanya,

memberikan

pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan
kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi
dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati
keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya,
menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan
berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting
bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban
kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan
tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan
metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di
lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan
pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul
akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

Berikut skema pendidikan karakter:

KEG. PEMB.
KESISWAAN

C. Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Berkarakter


Menurut H. Koontz & ODonnel (Aldag, 1987), pengelolaan berhubungan
dengan pencapaian suatu tujuan yang dilakukan melalui dan dengan orang lain.
Hampir senada dengan pendapat tersebut, Siregar (1987) menyatakan bahwa
pengelolaan

adalah

pengorganisasian,

proses

yang

penggerakan,

membeda-bedakan

pelaksanaan

dan

atas:

perencanaan,

pengendalian,

dengan

memanfaatkan ilmu dan seni, agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Pengelolaan juga didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki tujuan
bersama dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pengelolaan terkandung pengertian pemanfaatan sumberdaya untuk
tercapainya tujuan. Sumberdaya adalah unsur-unsur dalam pengelolaan, yaitu:
manusia (man), bahan (materials), mesin/peralatan (machines), metode/cara kerja
(methods), modal uang (money), informasi (information). Sumberdaya bersifat
terbatas, sehingga tugas manajer adalah mengelola keterbatasan sumber daya
secara efisien dan efektif agar tujuan tercapai.
Proses pengelolaan adalah proses yang berlangsung terus menerus,
dimulai dari: membuat perencanaan dan pembuatan keputusan (planning);
mengorganisasikan

sumberdaya

yang

dimiliki

(organizing);

menerapkan

kepemimpinan untuk menggerakkan sumberdaya (actuating); melaksanakan


pengendalian (controlling). Proses di atas sering disebut dengan pendekatan Barat

dengan konsep POAC (Planning-Organizing-Actuating-Controlling), berbeda


dengan pendekatan Jepang yang dikenal dengan pendekatan PDCA (Plan-DoCheck-Action). Dalam konteks dunia pendidikan, yang dimaksudkan dengan
manajemen pendidikan/sekolah adalah suatu proses perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi pendidikan dalam upaya untuk menghasilkan lulusan yang sesuai
dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan itu sendiri.
Berdasarkan pada uraian sebelumnya, keterkaitan antara nilai-nilai
perilaku dalam komponen-komponen moral karakter (knowing, feeling, dan
action) terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama, lingkungan, kebangsaan, dan
keinternasionalan membentuk suatu karakter manusia yang unggul (baik).
Penyelenggaraan pendidikan karakter memerlukan pengelolaan yang memadai.
Pengelolaan yang dimaksudkan adalah bagaimana pembentukan karakter dalam
pendidikan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara memadai.
Sebagai suatu sistem pendidikan, maka dalam pendidikan karakter juga
terdiri dari unsur-unsur pendidikan yang selanjutnya akan dikelola melalui
bidang-bidang perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Unsur-unsur
pendidikan karakter yang akan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan
tersebut antara lain meliputi: (a)nilai-nilai karakter kompetensi lulusan, (b)muatan
kurikulum nilai-nilai karakter, (c)nilai-nilai karakter dalam pembelajaran, (d)nilainilai karakter pendidik dan tenaga kependidikan, dan (e)nilai-nilai karakter
pembinaan peserta didik.
Pemerintah telah menetapkan bahwa lulusan siswa dalam suatu sekolah
hendaknya memiliki nilai-nilai karakter, yaitu mempunyai kemampuan dan watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Nilai-nilai karakter yang
ada dalam pengelolaan kelas adalah disiplin, terbuka, bertanggungjawab,
kerjasama, cermat dan partisipatif.
Hal-hal yang perlu diperhatikan, khususnya guru baru pada pertemuan
pertama dengan peserta didik dikelas sebagai berikut : (1) Bersikap tenang dan

percaya diri sendiri; (2) Tidak menunjukkan rasa cemas, muka masam atau sikap
yang tidak simpatik; (3) Memperkenalkan diri; (4) Melaksanakan pembelajaran
dengan lancar dan tertib; dan (5) Bertindak disiplin, baik terhadap siswa maupun
terhadap diri sendiri.
1.

Prinsip Prinsip Pengelolaan Kelas Berbasis

Pendidikan Berkarakter
a. Hangat dan antusias
Dalam proses pembelajaran guru yang memiliki sifat hangat dan antusias
lebih diminati siswa daripada guru yang menakutkan dan memiliki muka yang
menyeramkan, hal ini akan membuat tidak nyaman dalam siswa belajar sehingga
siswa tidak semangat dalam belajar dan menyebabkan proses pembelajaran tidak
berjalan dengan efektif.
b. Tantangan
Dalam proses pembelajaran hal yang monoton akan menyebabkan
kebosanan pada diri siswa, maka tantangan perlu diberikan selain untuk menarik
perhatian siswa dalam belajar hal ini juga akan menambah sifat berani pada diri
siswa dan mengendalikan belajar siswa. Tantangan ini bisa berupa tindakan, katakata atau permainan.
c. Bervariasi
Variasi adalah hal penting dalam proses pembelajaran. Metode atau media
yang berganti minimal setiap pertemuannya akan membuat siswa merasa senang
dan penasaran sehingga membuat siswa bergairah dalam belajar.
d. Keluwesan
Guru perlu memiliki karakter ini. Hal ini diperlukan untuk bisa merubah
strategi dalam proses pembelajaran sehingga mencegah kemungkinan munculnya
keributan, tidak ada perhatian serta membuat iklim belajar menjadi efektif
e. Penekanan pada hal-hal yang positif
Guru juga harus bisa menjadi motivator siswanya. Harus bisa menekankan
jiwa positif dalam diri siswa agar siswa bersifat optimis untuk mencapai citacitanya dan menghindari pemusatan perhatian pada hal yang negative. Dilakukan

dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru dalam malakukan
kesalahan yang dapat mengganggu proses pembelajaran.
f. Penanaman disiplin diri
Guru harus punya karakteristik disiplin, karena ia akan menanamkan
disiplin diri pada siswanya. Baik disiplin belajar siswa atau disiplin kelas
merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas. Guru harus selalu mendorong
siswa untuk selalu bersifat disiplin.
2.

Rancangan Kelas Berbasis Pendidikan Berkarakter


Untuk mewujudkan pendidikan karakter dalam pengelolaan kelas sekolah

memerlukan usaha di antaranya membuat sekolah menjadi sekolah karakter,


ajarkan materi akademik dan karakter secara serempak, praktik disiplin berbasis
karakter, ajarkan tata krama, mencegah kekejaman teman sebaya dan mendorong
kebaikan, dan membantu anak serta orang dewasa bertanggung jawab
membangun karakter diri. Di sini peran guru sangat penting karena guru memiliki
tugas membentuk karakter peserta didik dengan cara membimbing, mengajar,
mengawasi, menilai dan mengarahkan agar peserta didik memiliki karakter
dalam dirinya. Pendidikan karakter yang berhasil merupakan buah dari kerja sama
yang baik antara pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karakter yang baik
yang telah diajarkan kepada anak di rumah dan di sekolah, membutuhkan
peneguhan dalam masyarakat. Itulah sebabnya, sekolah karakter yang efektif
adalah mereka yang tidak hanya bekerja sendirian, melainkan mereka yang
bersedia bekerja sama secara optimal dengan orang tua siswa dan berbagai
komunitas karakter. Jadi, sangat jelas mengapa kini banyak orang menginginkan
agar sekolah semakin peduli pada pendidikan karakter. Itu karena pendidikan
karakter yang membuat kita semua punya alasan kuat untuk tetap memiliki
harapan dan sikap optimis bahwa masyarakat yang lebih baik akan terwujud kelak
di kemudian hari.
Pembelajaran dalam era sekarang masih mengacu pada pengelolaan kelas
dengan system yang lama, dengan meja dan kursi guru berada didepan sedang
meja dan kursi siswa berderet kebelakang. Hal ini membuat proses pembelajaran
berjalan dengan kurang sempurna, ini dikarenakan focus atau perhatian siswa

akan rendah kerena posisi kursi antara guru dan murid seakan-akan menjadikan
pembelajaran menjadi teacher oriented. Guru berada didepan siswa.
Mengapa hal tersebut menjadi perhatian dalam proses pembelajaran dalam
pendidikan karakter, hal ini termasuk upaya strategi dalam pembelajaran. Dalam
pendidikan karakter, strategi dapat dimaknai dengan kurikulum yang dilaksanakan
dengan kaitannya mengintegrasikan pendidikan karakter dengan bahan ajar.
Sedangkan kaitannya dengan tokoh strategi prndidikan karakter terkait dengan
model tokoh yang sering dilakukan dinegara-negara maju yaitu seluruh tenaga
pendidik, kepala sekolah, guru, seluruh tenaga Bimbingan Konseling, seluruh
tenaga administrasi harus bisa menjadi contoh bagi siswanya, untuk membentuk
siswa yang berkarakter, maka strategipun harus dilakukan dengan sesempurna
mungkin.
Sedang dalam kaitannya dengan metodologi, strategi yang umum
diimplementasikan dengan pemanduan, pujian dan hadiah, definisikan dan
latihkan, penegakan disiplin dan juga perangai. Salah satunya yaitu pemanduan,
maka strategipun dilakukan dengan pemasangan poster, spanduk yang
ditempelkan dalam papan khusus, dan ditempelkan pengumuman tentang
beberapa nilai baik yang dilakukan siswa.
Untuk mengubah itu, maka perlu adanya reorganisasi pengelolaan tata
ruang kelas baik meja, kursi atau tempelan dalam dinding yang mendukung
aktifitas pembelajaran pendidikan karakter. Salah satu contoh dengan membuat
meja dalam lingkaran besar, untuk melakukan aktifitas diskusi besar guna
melakukan strategi definisikan dan latihkan. Meja kursi dalam lingkaran besar
untuk menjadikan siswa saling bekerja sama secara kooperatif.
Menurut Mulyasa (2014), secara lebih rinci, pembelajaran berkarakter di
sekolah harus menampakkan adanya kegiatan seperti: pembenahan lingkungan
belajar; pembuatan perencanaan bersama; pembuatan kelompok belajar;
pengidentifikasian kebutuhan belajar; pengidetifikasian karakter peserta didik;
perumusan tujuan, standar kompetensi dan kompetensi dasar; pengintegrasian
karakter ke dalam tujuan standar kompetensi dan kompetensi dasar; pengelolaan
dan pelaksanaan pembelajaran; dan penilaian proses dan hasil belajar serta upaya
mendiagnosis kembali kebutuhan belajar

D. Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum 2013


Memperhatikan struktur argumentasi dari keseluruhan uraian tema
bahasan di atas, maka implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum
2013, dapat dikembangkan sebagaimana berikut:
1. Mengintegrasikan capaian pembelajaran, pada ranah kognitif,
afektif, dan psikomotorik.
Berbagai konsep terkait dengan taksonomi capaian pembelajaran,
telah dirumuskan oleh pakar, diantaranya; Bloom (1956), Simpson (1966),
Gagne (1977), dan Merrill (1983) dalam Miarso menyebutkan klasifikasi
capaian pembelajaran dapat dikembangkan menjadi 3 (tiga), yaitu; 1)
kognitif; 2) afektif; dan 3) psikomotorik.
Ketiga ranah tersebut diurai lagi, dalam bentuk klasifikasi secara
umum, selanjutnya dikembangkan lagi menjadi bagian-bagian yang lebih
khusus. Klasifikasi secara spesifik merupakan spesifikasi capaian hasil
pembelajaran yang menunjukkan satu hasil perilaku belajar peserta didik,
dengan ketentuan bahwa kata kerja operasional dalam pernyataan hasil
pembelajaran tidak melahirkan tafsiran ganda.
Klasifikasi capaian pembelajaran hingga diurai menjadi bagianbagian yang lebih khusus akan saling diintegrasikan antar satu bagian
ranah dengan bagian ranah lainnya. Proses integrasi terhadap ranah
pembelajaran tersebut, dapat berlangsung mulai dari tahap perencanaan
pembelajaran, tahap
pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran.
2. Mengsinergikan

peran

(formalnonformal-informal).
Salah satu karakteristik

lembaga-lembaga
Kurikulum

2013

pendidikan
adalah

sekolah

merupakan bagian dari masyarakat yang memberikan pengalaman belajar


yang terencana dimana peserta didik menerapkan apa yang dipelajari di
sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber
belajar, dan mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan serta
menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
Artinya, peran dan partisipasi lembaga pendidikan informal dan nonformal

harus memperoleh ruang yang memadai dalam pendidikan formal. Ada


komunikasi efektif yang terbangun antara keluarga, masyarakat, dan
sekolah. Komunikasi tersebut sebagai wujud dari cermin tanggung jawab
bersama dalam pembinaan dan pendidikan, serta mengotrol perkembangan
peserta didik. Jalinan komunikasi dan kerjasama antar keluarga,
masyarakat, dan sekolah, akan membentuk peserta didik yang berkarakter.
3. Penguatan Kompetensi dan Keteladanan Guru
Penguatan kompetensi dan keteladanan guru merupakan
keniscayaan dalam lingkungan pendidikan. Diamanatkan UU Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 ayat 1, Guru adalah pendidik
professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan
pendidikan menengah. Dalam amanat PP 32 Tahun 2013 Standar Nasional
Pendidikan, pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi
sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Selanjutnya
dinyatakan, kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang
pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
a. Kompetensi pedagogik;
b. Kompetensi kepribadian;
c. Kompetensi profesional;
d. Kompetensi sosial.
Capaian kompetensi maksimal yang dimiliki guru, dengan
sendirinya akan memunculkan perilaku teladan yang dapat dicontoh oleh
peserta didiknya. Dengan demikian, pada dasarnya UU dan PP di atas
telah memberikan acuan untuk melakukan pengembangan pendidikan
karakter.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dalam makalah ini yaitu sebagai berikut:

1. Pengelolaan kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan


suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat
memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.
2. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran
atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.
3. Nilai-nilai karakter yang ada dalam pengelolaan kelas adalah disiplin,
terbuka, bertanggungjawab, kerjasama, cermat dan partisipatif.
4. Diperlukan kesamaan persepsi serta strategi mengenai implementasi
pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 dari semua pihak yang terkait
baiklangsung maupun tidak langsung. Terutama pada lingkungan
pendidikan formal, informal, dan nonformal.
B. Saran
Dalam makalah ini, kami menyadari bahwa masih ada hal- hal yang
kurang maksimal. Olehnya kami tetap membuka diri untuk menerima saran dari
para pembaca demi penulisan makalah yang lebih baik selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Awan.

2012. Pendidikan Karakter. https://pndkarakter.wordpress.com/


category/tujuan-dan-fungsi-pendidikan-karakter/

Dhiyan Nata. 2015. Pendidikan Karakter. http://dhiyanata.blogspot.co.id/2015/01/


pendidikan-karakter.html
Kemendiknas Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 1).
Kemendiknas RI. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen. Jakarta: Visimedia, 2007.
Mulyasa. 2014. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Nurhayati. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Makassar: UNM Press.
STIT At-Taqwa. 2013. Pengelolaan Kelas Berbasis Pendidikan Berkarakter.
http://stitattaqwa.blogspot.co.id/2013/04/pengelolaan-kelas-berbasis
pendidikan.html
Thomas Lickona. 2014. Pendidikan Karakter Dalam Pengelolaan Kelas Sekolah.
https://resensibukupgsdupy.wordpress.com/2014/12/04/pendidikankarakter-dalam-pengelolaan-kelas-sekolah/