Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belakangan ini, kehidupan sehari-hari kita sering merasakan nyeri yang
membuat keditaknyamanan dalam hidup kita, sebagian dari individu merasa
tidak tidak khawatir terhadap nyeri dan sebagian individu merasa cemas,
takut terhadap nyeri itu. Banyak diantara individu yang tidak bisa
menyelesaikan masalah ketidaknyamanan ini, untuk itu kami membuat
makalah ini, memberi petunjuk bagi pembaca dalam menyelesaikan masalah
ketidaknyamanan yaitu nyeri.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian gangguan rasa aman nyaman?
2. Apa pengertian manajemen stress (relaksasi, relaksasi otot progresif,
napas dalam, guide imagery, latihan fisik)?
3. Apa yang dimaksud membersihkan lingkungan pasien?
4. Apa macam-macam tempat tidur untuk pasien?
5. Bagaimana cara mengganti alat tenun yang ada pasien diatasnya?
6. Apa pengertian mencuci tangan aseptic dan anti septik?
7. Apa pengertian dan fungsi menggunakan alat pelindung: barak scort,
sarung tangan, penutup kepala, dll?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan makalah ini adalah pembaca dan khususnya
penulis mengetahui gangguan rasa aman nyaman.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah:

a. Mahasiswa mengetahui pengertian gangguan rasa aman nyaman.


b. Mahasiswa mengetahui pengertian manajemen stress (relaksasi,
relaksasi otot progresif, napas dalam, guide imagery, latihan fisik)?
c. Mahasiswa mengetahui yang dimaksud membersihkan lingkungan
pasien.
d. Mahasiswa mengetahui macam-macam tempat tidur untuk pasien.
e. Mahasiswa mengetahui cara mengganti alat tenun yang ada pasien
diatasnya.
f. Mahasiswa mengetahui pengertian mencuci tangan aseptic dan anti
septik.
g. Mahasiswa mengetahui pengertian dan fungsi menggunakan alat
pelindung: barak scort, sarung tangan, penutup kepala, dll

D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari:
Bab I pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah dan tujuan
penulisan.
Bab II pembahasan berisi pengertian gangguan rasa aman nyaman, pengertian
manajemen stress, pengertian backrub, macam-macam tempat tidur, cara
mengganti alat tenun yang ada pasien diatasnya, pengertian dan fungsi
mencuci tangan aseptic dan anti septic dan fungsi menggunakan alat
pelindung.
Bab III

penutup berisi tentang kesimpulan dan saran dari pembuatan

makalah.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gangguan Rasa Aman Nyaman
1. Keamanan
Keamanan adalah keadaan bebas dari cedera fisik dan psikologis atau
bisa juga keadaan aman dan tentram (Potter& Perry, 2006).
2. Kenyamanan
Kenyamanan adalah suatu keadaan yang telah terpenuhi kebutuhan
dasar klien. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan ketentraman ( suatu
kepuasan yang meningkatkan ketrampilan sehari hari ) , kelegaan
(kebutuhan yang terpenuhi ) dan transenden ( keadaan tentang sesuatu yang
melebihi masalah nyeri ). Kenyamanan sering diartikan sebagai suatu keadaan
bebas dari nyeri ( Kolcaba 1992 )
Gangguan kenyamanan berarti keadaan ketika klien mengalami sensasi
tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsangan yang
berbahaya. Nyeri merupakan perasaan dan pengalaman emosional yang timbul
dari kerusakan jaringan yang actual dan potensional atau gambaran adanya
kerusakan ( NANDA , 2005 ).
Gangguan kenyamanan adalah Keadaan ketika individu mengalami
sensasi yang tidak menyenagkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan
yang berbahaya. (Lynda, 2006 : 49)
B. Manajemen Stress (Relaksasi, Relakasasi Otot Progesif, Napas Dalam,
Guide Imagery, Latihan Fisik)
1. Pengertian manajemen stress
Manajemen stres adalah kemampuan untuk mengendalikan diri
ketika situasi, orang-orang, dan kejadian-kejadian yang ada memberi
tuntutan yang berlebihan. Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah
untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Manajemen Stres :

a. Jaga selalu kondisi tubuh dan perkuatlah dengan cara mengkonsumsi


makanan dan minuman sehat (makanan seimbang) secara disiplin
(konstan makan pada jam yang sama). Tambahkan dengan asupan
multivitamin dan mineral yang cukup.
b. Tidur dan istirahat yang cukup. Tidur merupakan salah satu terapi
untuk mengurangi kemarahan dan kesedihan karena tidur memberikan
kesempatan otak untuk rilex.
c. Lakukan Olah Raga teratur. Gerak tubuh akan merangsang keluarnya
zat endorphine yaitu zat yang dapat membuat tubuh merasa nyaman
selain zat tersebut juga dikenal sebagai anti rasa sakit pada tubuh.
Itulah sebabnya mereka yang berolah raga teratur umumnya tampak
lebih fit dan bahagia.
d. Selalu berpikir positif karena tindakan atau perasaan negative pasti
berasal dari pikiran negative. Sebaliknya tindakan positive pasti
berasal dari pikiran positive. Tidak ada orang yang berhasil dalam
hidupnya kalau selalu berpikiran negative pada diri sendiri maupun
kepada orang lain.
e. Lakukan hobby (atau hal-hal menyenangkan yang positif menurut
kita) karena hobby dapat membuat kita rilex dan melupakan sejenak
rutinitas atau masalah yang ada misalnya olah raga, mendengarkan
musik, masak, jahit, menyanyi, ataupun bermain game.
f. Jangan terpaku pada rutinitas, berani berubah, tidak malu dan ragu.
Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai dari menata ulang
meja kerja, ruang tidur, rumah, menempuh route yang berbeda ke
kantor, sekali waktu makan siang/malam di mall sekaligus cuci mata,
creambath di salon, pijat reflexi, berendam di air hangat dll yang
merupakan salah satu cara untuk memperlancar aliran darah dan
meredakan ketegangan. Selain itu bila ada rejeki lebih kita perlu juga
melakukan penggantian barang-barang lama kita misalnya mengganti
hp dengan model baru, ganti model rambut, dll (secara psikologi hal
ini membawa semangat baru)
g. Murah senyum, tertawa lepas, bersenandung /

bernyanyi dan

bersosialisasi dengan teman / lingkungan (perlu teman curhat, tidak

memendam

masalah

sendiri).

Kegiatan

semacam

ini

dapat

merangsang endorphine dan serotonin dalam tubuh sehingga otak


lebih tenang.
h. Yang terakhir tetapi merupakan hal terpenting adalah beribadah dan
berdoa kepada Yang Maha Kuasa tidak pada masa sulit saja, berbuat
baik kepada semua orang, bersyukur terhadap setiap hasil usaha kita,
baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil, mensyukuri rejeki dll.
2. Relaksasi
a. Pengertian relaksasi
Relaksasi adalah proses melepaskan ketegangan dan mengembalikan
keseimbangan baik pikiran maupun tubuh. Teknik relaksasi sangat
penting dalam mengelola stres. Karena stres dikenal untuk
berkontribusi bagi perkembangan banyak penyakit, orang perlu
penangkal pertempuran stres. Bahkan, relaksasi mungkin menjadi
salah satu faktor yang paling penting dalam menjaga kesehatan tubuh
dan pikiran. Relaksasi yang profesional sangat penting untuk
kesehatan dan disarankan terapis harus menggunaan teknik relaksasi
untuk mengelola stress, stres tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari
tetapi juga stres yang disebabkan oleh kondisi kesehatan tiap pasien.
Teknik relaksasi dapat menguntungkan baik kesehatan psikologis dan
fisik.
b. Jenis relaksasi
1) Relaksasi Autogenik.
Teknik ini memanfaatkan baik kesadaran tubuh dan citra visual
untuk melepaskan ketegangan dan stres. Salah satu contoh relaksasi
autogenik yang membayangkan diri Anda dalam lingkungan yang
damai dan kemudian berfokus pada pengendalian pernapasan,
denyut jantung, atau sensasi fisik lainnya.
2) Relaksasi Visualisasi
Adalah teknik relaksasi lain. Dalam memanfaatkan teknik ini, Anda
menciptakan citra mental untuk dapat mengambil sendiri ke tempat
yang damai atau situasi yang menenangkan. Ketika berlatih
visualisasi, Anda mencoba untuk menggunakan semua indra Anda
jika mungkin.

3) Relaksasi Otot Progresif


Merupakan teknik relaksasi yang berfokus pada perlahan tegang
dan santai otot. Teknik ini akan membuat lebih menyadari
perbedaan antara relaksasi dan ketegangan otot, ini adalah cara
untuk menjadi lebih sadar akan sensasi fisik.
3. Relaksasi otot progresif
a. Pengertian relaksasi otot progresif
Relaksasi
progresif
adalah
mengurangi kecemasan dengan

teknik

untuk
bergantian

antara tegang dan santai pada otot-otot yang mendalam. Relaksasi


progresif ini dikembangkan dan diterbitkan oleh Edmond Jacobson
(dokter dari Chicago), menerbitkan buku Progresive Relaxtion
(relaksasi progresif) pada tahun 1929. Di dalam buku ini dijelaskan
teknik relaksasi otot dalam, yang tidak memerlukan imajinasi,
ketekunan, atau sugesti, namun lebih memerlukan suatu keyakinan
bahwa tubuh berespons pada ansietas yang merangsang pikiran dan
kejadian dengan ketegangan otot.
Manfaat jangka panjang dari latihan teratur relaksasi otot progresif
meliputi:

Penurunan kecemasan umum


Penurunan dalam kecemasan antisipatif terkait dengan fobia
Pengurangan frekuensi dan durasi serangan panik
Peningkatan kemampuan untuk menghadapi situasi fobia melalui

paparan dinilai
Peningkatan konsentrasi
Peningkatan rasa kontrol atas suasana hati
Peningkatan harga diri
Peningkatan spontanitas dan kreativitas
b. Prosedur Relaksasi Otot Progresif
Relaksasi progresif dapat dipraktekkan sambil berbaring
terlentang atau duduk di kursi dengan kepala disandarkan. Setiap otot
atau kelompok otot yang tegang selama lima detik dan kemudian
rileks selama dua puluh detik. Prosedur ini diulang setidaknya
sekali. Pada awalnya hanya relaksasi parsial dapat terjadi, tapi setelah

latihan

seluruh

tubuh

dapat

bersantai

dalam

beberapa

menit. (Perhatian:. Jangan tegang leher, punggung, kaki, dan kaki.


Tegang ini dapat mengakibatkan kram otot.).
Periode waktu yang diperlukan agar mahir dalam melakukan
relaksasi progresif adalah sekitar satu sampai dua minggi, dua kali 15
menit perhari.
Prosedur Pelaksanaan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien
2. Jelaskan tujuan dan durasi plaksanaan prosedur serta tindakan
yang akan dilakukan.
3. Jelaskan juga mengenai kelompok otot yang menjalani prosedur,
yaitu:
a.
Tangan, lengan bawah, dan otot bisep.
b.
Kepala, wajah, tenggorokan, dan bahu. Teknik relaksasi
progresif pada kelompok otot ini meliputi pemutusan perhatian
pada dahi, pipi, hidung, mata, rahang, bibir, lidah, dan leher.
Sedapat mungkin perhatian diarahkan pada kepala, karena otot
yang paling penting secara emosional ada di area ini.
c.
Dada, abdomen, dan punggung bagian bawah.
d.
Paha, bokong, betis, dan kaki.
4. Bantu klien memperoleh posisi yang nyaman dan ciptakan
lingkungan yang tenang.
5. Bimbing klien untuk melakukan teknik relaksasi:
a.
Kepalkan kedua telapak tangan, lalu kencangkan bisep dan
lengan bawah selama 5-7 detik. Bimbing klien ke area otot
yang tegang, kemudian anjurkan klien untuk merasakannya.
Kencangkan otot tersebut sepenuhnya kemudian relaks selama
b.

12-30 detik.
Kerutkan dahi ke atas dan pada saat yang bersamaan, dorong
kepala sejauh mungkin ke balakang, kemudian putar searah
jarum jam dan kebalikannya. Selanjutnya, anjurkan klien untuk
mengerutkan otot wajah, mengedipkan mata, memajukan bibir,
menekan lidah ke langit-langit dan mengangkat bahu selama 5-

7 detik. Bimbing klien ke area otot yang tegang, kemudian


anjurkan klien untuk merasakannya. Kencangkan otot tersebut
c.

sepenuhnya, kemudian relaks selama 12-30 detik.


Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik napas
dalam, kemudian dorong abdomen ke luar. Tahan posisi trsebut

d.

selama 10 detik, kemudian lepaskan.


Tarik kaki klien ke belakang mengarah ke wajah. Tahan posisi
tersebut selama 5-7 detik, kemudian lepaskan. Lipat jari kaki
secara serentak, kencangkan otot betis, paha, dan bokong
selama 5-7 detik. Bimbing klien ke area otot yang tegang, lalu
anjurkan klien untuk merasakannya. Kencangkan otot tersebut

sepenuhnya, kemudian relaks selama 12-30 detik.


6. Ulangi setiap prosedur minimal satu kali. Jika area yang
menjalani relaksasi tetap tegang, kembali ulangi prosedur
sebanyak lima kali dengan mempertahankan respons klien.
7. Selama melakukan teknik relaksasi, dokumentasikan respons
nonverbal klien. Hentikan latihan jika klien menunjukkan
kegelisahan atau otot jika klien mngalami kesulitan melakukan
latihan. Kurangi kecepatan latihan dan konsentrasi pada area
tubuh yang tegang (klien harus mengetahui dari awal bahwa
latihan dapat dihentikan kapan pun)
8. Dokumentasikan respons klien terhadap teknik relaksasi dan
perubahan tingkat kenyamanan klien dalam catatan perawatan.
4. Teknik Pernapasan Dalam
a. Pengertian Teknik Pernapasan Dalam
Teknik pernapasan dalam merupakan teknik dasar dari
perkembangan teknik relaksasi lainnya. Dasar konsep teknik
pernapasan dalam adalah semakin banyak paru terpenuhi oleh oksigen
maka semakin turun derajat ketegangan. Teknik relaksasi pernapasan
bermanfaat karna efektif mereduksi kecemasan (misal karena operasi),
depresi, iritabilitas (sensitif, cepat tersinggung ) ketegangan,
kelelahan.

Teknik relaksasi dengan latihan nafas dalam sangat mudah


dilakukan kapan saja dan dimana saja yang dibutuhkan hanya posisi
paling nyaman (bisa duduk, berbaring, berdiri) taruh satu tangan
diatas perut yang lainya diatas dada kemudian ambil nafas sampai
terasa memenuhi seluruh kapasitas paru, tahan nafas sesaat keluarkan
perlahan melalui bibir seperti anda mau bersiul agar aliran udarah
terkontrol, rasakan perubahan kontur abdomen sewaktu dikosongkan,
ulangi siklus inspirasi-ekspirasi sambil terus fokuskan seluruh
kesadaran pada suara nafas, jalani latihan ini selama 5 sampai 10
menit.
b. Peran Pernafasan Dalam
Meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia di otak.
Membuat tubuh rileks dan membersihkan pikiran dari ketegangan.
Menetapkan siklus berirama yang membawa harmoni otak pada

kondisi gelombang alpha 8 - 12 cps (siklus per detik).


Memperlambat denyut jantung
Mengatur tekanan darah,
Menghilangkan ketegangan otot dan
Mengembalikan keseimbangan mental dan emosional batin.
Membersihkan tubuh dan membuat berolahraga lebih efektif.

c. Teknik Pernapasan Dalam


1. Walaupun latihan ini dapat dilakukan dalam berbagai sikap,
direkomendasikan sikap berikut : rebahkan diri di atas permadani
atau tikar di lantai. Tekuk kedua lutut dan direnggangkan kaki anda
lebih kurang 8 inci, dengan jari mengarah sedikit keluar. Pastikan
bahwa tulang anda lurus.
2. Amati tubuh anda yang tegang.
3. Letakkan satu tangan di atas perut dan satu tangan di atas dada.
4. Tarik napas pelan-pelan dan dalam melalui hidung masuk ke dalam
perut mendorong dengan tangan anda sekuat-kuatnya selama anda
merasa nyaman. Dada anda harus sedikit bergerak dan bersamaan
dengan pergerakan perut.
5. Jika anda merasa mudah dengan langkah ke-4, tersenyum sedikit,
tarik napas melalui hidung dan hembuskan melalui mulut, ciptakan

ketenangan,

relaks, desingkan

udara seperti

angin

seraya

meniupkan udara dengan lembut ke luar. Mulut, hidung dan rahang


anda akan relaks. Ambil napas panjang , pelan , dalam yang
membesarkan dan mengecilkan perut. Fokuskan pada bunyi dari
pernapasan sambil anda semakin relaks.
6. Lanjutkan napas dalam selama lima atau sepuluh menit setiap kali,
satu atau dua kali sehari, selama dua minggu , kemudian , jika anda
suka , perpanjang waktunya sampai 20 menit.
7. Pada akhir setiap kali pernafasan dalam gunakan waktu sejenak
untuk sekali lagi mengamati tubuh anda yang tegang. Bandingkan
ketegangan yang anda rasakan pada akhir latihan dengan yang anda
alami pada awal latihan.
8. Bila anda telah terbiasa dengan pernapasan perut, lakukan setiap
saat anda menginginkannya sepanjang hari saat anda duduk atau
berdiri. Konsentrasikan pada gerakan perut ke atas dan ke bawah,
udara ke luar masuk paru-paru anda, dan perasaan relaks yang
dihasilkan dengan napas dalam.
9. Bila anda telah belajar merilekskan diri dengan menggunakan
napas dalam, lakukanlah setiap kali anda merasa tegang.
5. Guided Imagery
a. Pengertian Guided Imagery
Guided imagery adalah sebuah teknik yang menggunakan imajinasi
dan visualisasi untuk membantu mengurangi stress dan mendorong
relaksasi.
b. Manfaat Guided Imagery
Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari menerapkan prosedur
guided imagery, berikut ini manfaat dari guided imagery menurut
Townsend (1977):
1) Mengurangi stress dan kecemasan
2) Mengurangi nyeri
3) Mengurangi efek samping
4) Mengurangi tekanan darah tinggi
5) Mengurangi level gula darah (diabetes)
6) Mengurangi alergi dan gejala gangguan pernapasan
7) Mengurangi sakit kepala
8) Mengurangi biaya rumah sakit
9) Meningkatkan penyembuhan luka dan tulang

10

c. Indikasi Guided Imagery


Dossey, et al (dalam Potter & Perry, 2009) menjelaskan aplikasi
klinis guided imagery yaitu sebagai penghancur sel kanker, untuk
mengontrol dan mengurangi rasa nyeri, serta untuk mencapai
ketenangan dan ketentraman. guided imagery juga membantu dalam
pengobatan: seperti asma, hipertensi, gangguan fungsi kandung
kemih, sindrom pre menstruasi, dan menstruasi. selain itu guided
imagery juga digunakan untuk mereduksi nyeri luka bakar, sakit
kepala migrain dan nyeri pasca operasi (Brannon & Feist, 2000).
Indikasi dari guided imagery adalah semua pasien yang
memiliki pikiran negatif atau pikiran menyimpang dan mengganggu
perilaku (maladaptif). Misalnya: over generalization, filter mental,
stress, cemas, depresi, nyeri, hipokondria, loncatan kesimpulan dan
lain-lain.
d. Prosedur Pelaksanaan
1. Bina hubungan saling percaya dengan klien
2. Jelaskan tujuan prosedur dan tindakan yang akan dilakukan, yang
mencakup durasi dan peran Anda sebagai pembimbing.
3. Minta klien untuk duduk atau mengambil posisi yang nyaman
sambil memejamkan mata.
4. Perdengarkan musik atau suara lembut sebagai latar belakang
untuk membantu klien merasa relaks.
5. Duduk bersama klien, tetapi tidak mengganggu.
6. Lakukan bimbingan dengan baik terhadap klien.
a.
Dengan suara lembut, minta klien untuk memikirkan hal atau
pengalaman yang menyenangkan dan libatkan seluruh idra
b.

untuk membantu merealisasikan imajinasi tersebut.


Hentikan bimbingan setelah klien tampak relaks da berfokus

c.

pada imajinasinya.
Jika klien menunjukkan

tanda

agitasi,

gelisah,

atau

ketidaknyamanan, Anda harus menghentikan prosedur dan


d.

memulainya kembali setelah klien siap.


Dokumentasikan pengalaman atau hal yang menyenangkan
bagi klien menggunakan informasi yang spesifik dan tanpa
mengubah pernyataan klien.

11

7. Kaji

kembali

skala

nyeri

klien

setelah

intervensi

dan

dokumentasikan dalam catatan keperawatan.


C. Membersihkan Lingkungan Pasien
1. Lingkungan
Lingkungan adalah tempat pemukiman dengan segala sesuatu,
dimana organisme itu hidup beserta segala keadaan & kondisinya, yg
secara langsung dpt diduga ikut mempengaruhi tingkat kehidupan maupun
kesehatan dari organisme itu (Slamet Riyadi, 1976)
2. Pengertian Kebersihan Lingkungan
Hygiene & sanitasi lingkungan mrpk pengawasan lingkungan fisik,
biologis, sosial & ekonomi yg mempengaruhi kesehatan mns, dimana
lingkungan yg berguna ditingkatkan & diperbanyak, sedangkan yg
merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang, 2000).
3. Pengaruh Lingkungan Manusia
Kesehatan manusia
Terhadap estetika, kenikmatan & efisiensi kehidupan manusia
Terhadap keseimbangan ekologi & sumber daya alam
4. Lingkungan Kesehatan
Segera : lingkungan tdk menguntungkan penyakit
Lambat laun : lingkungan tdk menguntungkan tenggang waktu penyakit
5. Lingkungan Penyakit
Faktor Predisposisi : menunjang terjadinya suatu penyakit pd manusia.
Ex : kelembaban TBC
Penyebab penyakit scr langsung. Ex : penggunaan APD
Medium transmisi penyakit. Ex : air, kolera
Mempengaruhi penyakit. Ex : udara buruk, memperburuk penyakit paru
12

6. Di Rumah Sakit
Perhatian daerah dimana klien banyak menghabiskan waktunya
Sedapat mungkin harus menyenangkan & memudahkan
Fokus : penyediaan ruang/tempat, keselamatan, kesenangan &
kemudahan
Kebersihan lingkungan di sekitar kamar klien, tempat tidur :
o Terhindar dari infeksi nosokomial
o Kenyamanan dan keamanan klien, serta menunjang kesehatan &
kesejahteraan hidup klien
7. Penyediaan Sarana Kenyamanan
Tata ruang/dekorasi
Lampu/penerangan
Suhu, kelembaban & ventilasi
Perabot/perlengkapan
Tempat tidur
Kasur & bantal
Meja & kursi
Alat perawatan pribadi, dll.
PENGKAJIAN

Kaji kondisi umum dari klien

Kaji lingkungan klien, meliputi : keadaan tempat tidur klien, meja, atap
kamar, lantai kamar, & dinding kamar klien. Perhatikan juga alat-alat
bantu yang ada di sekeliling klien

13

PERENCANAAN
Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian keperawatan
yang sudah dilakukan pada lingkungan klien.
PELAKSANAAN

Menyiapkan & membersihkan tempat tidur

Mengganti alat tenun

Jenis Persiapan Tempat Tidur

Unoccupied bed (tempat tidur tanpa klien di atasnya) :


o

Closed bed (t.t tertutup)

Open bed ( t.t terbuka)

Aether bed (t.t utk klien pasca-operasi)

Occupied bed (mengganti tempat tidur dengan klien di atasnya)

Prinsip Perawatan Tempat Tidur

Tempat tidur klien harus selalu bersih & rapi

Linen (tenun) diganti sesuai dengan kebutuhan & sewaktu-waktu jika


kotor

Penggunaan linen bersih harus sesuai kebutuhan & tidak boros

Satu set linen digunakan untuk satu klien, bila tempat tidur akan
digunakan utk klien yg lain harus diganti

Hal-hal yang harus diperhatikan

Hindari kontaminasi pada linen bersih

Bawa linen sesuai kebutuhan > tidak berlebihan (menghindari kontaminasi


& infeksi nosokomial)

14

Saat memasang linen bersih, bentangkan linen di atas tempat tidur, jangan
dikibaskan

Jangan menempatkan linen kotor pd tempat tidur klien, meja, lantai atau
peralatan klien yg lainnya

Saat memasang linen, gunakan cara yg efektif & kerjakan pada satu sisi
terlebih dahulu, baru pindah

Tempatkan linen kotor pada tempat bertutup. Bawa dengan hati-hati &
jangan menyentuh pakaian perawat / peralatan yg lainnya

Tetap memperhatikan KU klien selama tindakan

Cuci tangan sebelum & sesudah tindakan

Tempat Tidur Tertutup (closed bed)

Merupakan tempat tidur yg sdh disiapkan & msh tertutup dgn sprei
penutup (over laken) di atasnya

Tujuan :
o

Siap pakai sewaktu-waktu

Tampak selalu rapi

Perasaan senang & nyaman pd klien

Persiapan alat

Tempat tidur, kasur, bantal & guling

Alat tenun :
o

Alas kasur

Laken/sprei besar

Perlak

Stik laken/sprei kecil/sprei melintang

Boven laken (bila ada)

Selimut

15

Sarung bantal guling

Over laken/sprei penutup

Prosedur Pelaksanaan Cuci tangan

Susun alat tenun sesuai pemakaian, letakkan di dekat tempat tidur (over
laken sarung bantal/guling selimut stik laken perlak sprei besar)

Pasang alas kasur & kasur

Pasang sprei besar :


o

Garis tengah tepat di tengah kasur

Bentangkan sprei, masukkan bagian kepala & kaki + 30 cm, tarik


setegang mungkin

Bentuk sudut 90o, masukkan dgn rapi & tegang

Letakkan perlak + 50cm dari bagian kepala

Letakkan stik laken melintang, masukkan sisi2nya bersama dengan perlak

Pasang selimut pd bagian kaki scr terbalik, masukkan ke bawah kasur + 10


cm, bentuk sudut 90o & masukkan ke bawah kasur

Masukkan bantal guling ke dalam sarung, bagian terbuka di bawah

Pasang over laken

Cuci tangan

16

Closed bed for home nursing

UNOCCUPIED BED

Tempat Tidur Terbuka (open bed)

Merupakan tempat tidur yang sudah disiapkan tanpa sprei penutup (over
laken)

Tujuan : dapat segera digunakan

Dilakukan :
o

Jika ada klien baru

17

Pada tempat tidur dimana klien diperbolehkan untuk turun dari


tempat tidur

Persiapan alat :
o

Sama dengan pemasangan alat tenun pd tempat tidur tertutup, ttp


tdk menggunakan over laken (sprei penutup)

Prosedur Pelaksanaan:
o

Spt menyiapkan t.t tertutup, ttp tdk dipasang over laken. Atau dari
t.t tertutup, buka over lakennya & dilipat.

Perhatian :
o

Alat tenun yg sobek jangan dipakai. Pasang tenun secara tegang


rata supaya rapi & nyaman.

Tempat Tidur Klien Pascaoperasi (aether bed)

Merupakan tempat tidur yg disiapkan utk klien pascaoperasi yg mendapat


narkose (obat bius)

Tujuan :
o

Menghangatkan klien

Mencegah penyulit/komplikasi pascaoperasi

Persiapan alat

Tambahkan satu selimut tebal pd alat tenun utk t.t terbuka

Dua buah buli-buli panas/Warm Water Zack (WWZ) suhu : 40 43oC

Perlak & handuk dlm satu gulungan, handuk di bagian dalam

Termometer air (jika ada)


Langka kerja

Cuci tangan

18

Pada t.t terbuka, angkat bantal & bentangkan gulungan perlak & handuk
pd bagian kepala

Pasang selimut tambahan hingga menutup seluruh permukaan tempat tidur

Letakkan buli-buli panas di antara sprei & selimut pd bagian kaki, arahkan
mulut buli-buli ke pinggir tempat tidur

Angkat buli-buli panas sebelum klien dibaringkan, setelah kembali dari


kamar bedah

Lipat pinggir selimut tambahan bersama-sama selimut dari atas tempat


tidur pada salah satu sisi tempat masuknya klien, lipat pada sisi yang lain

Cuci tangan

Perhatian

Alat tenun harus selalu bersih

Buli-buli panas jangan sampai bocor (cek dulu sebelum dipakai)

Bila akan dipakai lagi, ganti air dalam buli-buli bila sudah dingin

Surgical bed

D. Backrub
1. Pengertian backrub

19

Pijatan pada punggung, bahu, dan leher bagian bawah biasa disebut
backrub (menggosok punggung).
2. Tujuan Back rub
a. Mengurangi kecemasan
b. Mengalihkan persepsi nyeri
c. Mengurangi ketegangan otot dan kelelahan
d. Stimulasi peredaran darah
e. Merangsang peningkatan sistem imun
3. Pelaksanaan back rub
Pemijatan dilakukan setelah mandi / menjelang tidur. Memberi
perasaan menyenangkan Pasien bedrest: tiap 2 jam tiap alih posisi.
Perhatikan pada pasien kesakitan/nyeri (tidak dilakukan). Gunakan good
posture and body mekanik yg baik. Gunakan lotion hangat untuk massage
(tidak sebabkan kulit kering) atau alkohol/kamfer spirtus namun dpt
sebabkan

kulit

kering.

Pijat dengan telapak tangan bergantian secara teratur untuk rangsang


sirkulasi darah. Tanyakan tekanan pijatan apakah terlalu ketat
E. Macam- Macam Tempat Tidur
Ada 2 jenis tempat tidur pasien yaitu tempat tidur manual dan tempat
tidur elektrik.
1. Tempat tidur

manual ada

beberapa

tipe,

dibedakan

berdasarkan

putaran/engkolnya. Umumnya ada 1-3 putaran : naikkan punggung saja (1crank), naikkan punggung dan naikkan kaki (2-crank), serta naikkan
punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan (3-crank). Cara
mengoperasikan tempat tidur ini adalah dengan cara memutar bagian
putaran/engkol

tersebut.

Cara

memutarnya

cukup

mudah,

untuk

menaikkan misalnya, putarlah putaran/engkol tersebut searah jarum jam


hingga tinggi yang dibutuhkan. Untuk menurunkannya dengan memutar
berlawanan arah jarum jam. Biasanya putaran/engkol tersebut ada di
bagian kaki tempat tidur. Yang mengoperasikannya bisa keluarga pasien
atau perawat. Beratnya putaran disesuaikan dengan berat badan pasien
yang ada di tempat tidur tersebut.

20

2.

Tempat tidur elektrik pun ada beberapa tipe, dibedakan berdasarkan


putaran/engkolnya. Umumnya ada 1-4 putaran : naikkan
Punggung saja (1-crank), naikkan punggung dan naikkan kaki (2-crank),
naikkan punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan (3-crank),
& naikkan punggung, naikkan kaki dan naik-turun seluruh badan serta
miring naik/turun seluruh badan (4-crank). Cara mengoperasikan tempat
tidur ini adalah dengan menekan tombol intruksi (gambar) yang terdapat
pada remote control tempat tidur tersebut. Biasanya remote control
tersebut ada di bagian pagar pengaman sisi kiri pasien. Yang
mengoperasikannya bisa keluarga pasien, perawat ataupun pasien itu
sendiri. Beratnya putaran disesuaikan dengan berat badan pasien yang ada
di tempat tidur tersebut. Bila menggunakan tempat tidur elektrik ini harus
menggunakan genset bagi daerah tempat tinggal yang sering mengalami
aliran listrik mati (mati lampu) karena bila hal itu terjadi dan tanpa genset,
maka tempat tidur elektrik ini tidak dapat menjalankan fungsinya.
Pada dasarnya kedua jenis tempat tidur tersebut mempunyai fungsi
yang sama, hanya sistem pemakaiannya berbeda.

F. Mencuci Tangan Aseptic Dan Antiseptic


1. Mencuci tangan aseptic
Mencuci tangan aseptik yaitu cuci tangan yang dilakukan
sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan
antiseptik.

Mencuci

tangan

dengan

larutan

disinfektan,

khususnya bagi petugas yang berhubungan dengan pasien


yang mempunyai penyakit menular atau sebelum melakukan
tindakan bedah aseptik dengan antiseptik dan sikat steril.

Alat bahan:
1. Handuk kecil
2. Sabun
3. Sikat tangan
4. Larutan desinfektan
5. Keran air mengalir
6. Keranjang tempat handuk kotor
Prosedur kerja:
21

1. Lepaskan semua aksesoris ditangan


2. Basahi jari tangan, lengan bawah hingga sikut dengan air
3. Sabuni dan sikat tangan dan kuku secara bergantian selama 10-15
detik, jalin jari-jari kemudian gosok telapak dan punggung tangan
dengan gerakan memutar
4. Bilas tangan dengan air mengalir secara menyeluruh
5. Keringkan dengan handuk atau lap kering bersih dimulai dari
ujung jari hingga siku
6. Letakkan handuk pada tempat yang disediakan
7. Pertahankan tangan tetap bersih
2. Cuci tangan antiseptic
Adalah tindakan cuci hama dengan membunuh kuman patogen dan
apatogen beserta spora-sporanya yang menempel pada bagian tangan
dengan menggunakan air mengalir dan sabun khusus. Cuci tangan
antiseptic dilakukan sebelum melakukan tindakan steril dan setelah
tindakan isolasi.
Tujuan:
1. Mencegah infeksi silang
2. Mencegah kontaminasi tangan
Alat bahan:
Baki berisi:
1. Keran air mengalir atau bak cuci tangan
2. Sabun anti mikroba
3. Sikat tangan steril
4. Handuk steril dalam tempatnya
5. Korentang
6. Alkohol
7. Sarung tangan dalam tromol
Prosedur kerja:
1. Lepaskan semua aksesoris ditangan
2. Tengadahkan tangan dibawah keran air mengalir dari ujung jari hingga
siku, kemudian alirkan sabun 2-5 ml ke tangan. Gosokkan ke tangan
serta lengan hingga 5cm di atas siku. Sikat ujung jari, tangan, lengan,
dan kuku tangan kurang lebih 15 kali gosokan, telapak tangan 10 kali
gosokkan hingga siku.
3. Bilas tangan dengan menyeluruh dari ujung jari hingga siku dalam
satu kali gerakan, biarkan air mengalir hingga siku.
22

4. Ulangi hingga bersih


5. Keringkan tangan dengan handuk steri dengan gerakan dari jari ke
siku, keringkan dengan gerakan melingkar
6. Pertahankan tangan mengadah ke atas kemudian tuangkan alkohol,
usapkan ke seluruh lengan, kemudian gunakan sarung tangan steril
jika hendak melakukan tindakan steril.
G. Mengganti alat tenun yang ada pasien diatasnya
1. Pengertian
Mengganti

linen

kotor

pada

tempat

tidur

klien

tanpa

memindahkannya.Tindakan ini dilakukan jika klien tidak dapat turun dari


tempat tidur, misalnya mengalami sakit keras atau dalam keadaan koma.
2. Tujuan
1. Memberi kenyamanan pada klien.
2. Mencegah terjadinya dekubitus.
3. Mempertahankan kebersihan dan kerapian.
3. Prosedur
Sama dengan cara mengganti linen pada tempat tidur terbuka, tetapi
awalnya dilakukan pada salah satu sisi dan dilanjutkan ke sisi lainnya.
4. Persiapan Alat
1. Linen bersih disusun berdasarkan urutan pemakaian.
2. Kursi.
3. Wadah linen kotor yang bertutup.
4. Dua ember kecil berisi larutan disinfektan (Lisol 1 %) dan air bersih.
5. Lap kerja 3 buah.
6. Persiapan Klien
Klien diberi tahu jika memungkinkan.
7. Prosedur Pelaksanaan
1. Cuci tangan.
2. Dekatkan peralatan peralatan yang telah disiapkan ke tempat tidur.
3. Bersihkan rangka tempat tidur klien.
4. Pindahkan bantal dan selimut klien yang tidak dipakai ke kursi (jika
memungkinkan dan tidak mengganggu klien)
5. Miringkan klien ke satu sisi (jika perlu, ganjal dengan bantal atau
guling agar tidak terjatuh)
6. Lepaskan linen pada sisi tempat tidur yang kosong dari bawah kasur
lalu gulung satu persatu hingga ke bawah punggung klien.
a. Gulung stik laken hingga ke bawah punggung klien.
23

b.

Bersihkan perlak dengan larutan disinfektan, kemudian keringkan

c.

dan gulung perlak hingga ke bawah punggung klien.


Gulung laken hingga ke bawah punggung klien. Bersihkan alas
tempat tidur dan kasur dengan lap yang sudah dibasahi dengan

larutan disinfektan, kemudian keringkan.


7. Bentangkan laken bersih kasur.
8. Letakkan gulungan laken bersih di bawah punggung klien. Rapikan
setengan bagian lainnya, dan masukkan ke bawah dan gulung
setengan bagian.
9. Buka gulungan perlak dan rapikan kembali.
10. Bentangkan stik laken bersih di atas perlak, gulung setengan bagian,
dan letakkan di bawah punggung klien. Rapikan setengah bagian
lainnya di atas perlak, dan masukkan ke bawah kasur bersama dengan
perlak. Setelah satu bagian tempat tidur rapi, miringkan klien ke arah
sebaliknya (jika perlu, sangga dengan bantal agar klien tidak terjatuh).
11. Lepaskan linen yang kotor dari bawah kasur.
12. Angkat stik laken dan masukkan wadah lain kotor.
13. Bersihkan perlak dengan cara yang sama seperti sebelumnya, dan
gulung ke bawah klien.
14. Lepaskan laken kotor dan masukkan ke wadah lain kotor.
15. Bersihkan alas tempat tidur dan kasur dengan cara seperti sebelumnya.
16. Buka gulungan laken dari bawah punggung klien. Tarik dan ratakan
hingga tidak ada kerutan pada laken, kemudian masukkan ke bawah
kasur.
17. Buka gulungan perlak dan stik laken dengan cara yang sama.
18. Lepaskan sarung bantal dan guling yang kotor, ratakan isinya
kemudian pasang sarung yang bersih.
19. Susun bantal dengan sisi yang terbuka menghadap ke kasur atau
membelakangi pintu, lalu baringkan kembali klien dalam sikap yang
nyaman.
20. Ganti selimut kotor dengan yang bersih.
21. Rapikan peralatan dan kembalikan ke tempat semula.
22. Cuci tangan.
H. Menggunakan Alat Pelindung Diri (Barak Scort, Sarung Tangan,
Penutup Kepala, Sepatu )
1. Pengertian APD

24

Adalah seperangkat alat yg digunakan oleh tenaga kerja utk


melindungi seluruh / sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya
potensi bahaya/ kecelakaan kerja
2. Tujuan penggunaan APD
Melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari resiko pajanan
darah, semua jenis cairan tubuh , sekret, ekskreta , kulit yang tidak utuh
dan selaput lendir pasien
3. Jenis Alat Pelindung Diri
a. Penutup kepala
Tujuan: Mencegah jatuhnya mikroorganisme yang ada di rambut dan
kulit kepala petugas terhadap alat alat daerah steril dan juga sebaliknya
untuk melindungi kepala / rambut petugas dari percikan bahan bahan
dari pasien
Manfaat penutup kepala :

Petugas
terhindar dari paparan / percikan darah dan cairan tubuh
Pasien
Mencegah jatuhnya mikroorganisme dari rambut dan kulit petugas
kepada pasien

Indikasi Pemakaian Tutup Kepala :


Tindakan operasi
Tindakan invasif
Tindakan intubasi
Penghisapan lender
b. Sarung tangan
Tujuan : Melindungi tangan dari kontak dengan darah , cairan tubuh,
sekret, ekskreta, mukosa, kulit yang tidak utuh, dan benda yang
terkontaminasi
Jenis sarung tangan :

Sarung tangan bersih

Sarung tangan steril

Sarung tangan rumah tangga

25

Indikasi : Tindakan yang kontak atau yang diperkirakan akan terjadi


kontak dengan darah , cairan tubuh , sekret, ekskreta , kulit yang tidak
utuh , selaput lendir pasien dan benda yang terkontaminasi
Manfaat Pemakaian Sarung Tangan

Petugas : Mencegah kontak tangan dengan darah , cairan tubuh,


benda yang terkontaminasi

Pasien : Mencegah kontak mikroorganisme dari tangan petugas


memakai sarung tangan steril

Persiapan alat

Sarung tangan steril

Bengkok berisi larutan desinfektan


Tahap kerja

Mencuci tangan

mengambil sarung tangan

Memasukkan jari jari tangan sesuai dgn jari jari sarung tangan

Lakukan juga dengan tangan yang lain

Melepas sarung tangan , kmd masukkan kedalam bengkok berisi


larutan desinfekatan

Mencuci tangan
Sikap

Menjaga kesterilan sarung tangan

Tidak menyentuh benda benda lain ( yang tidak steril )


Hal yang harus diperhatikan pd penggunaan sarung tangan

Cuci tangan sebelum memakai dan sesudah melepaskan sarung


tangan

Gunakan sarung tangan berbeda utk setiap pasien

Pahami tehnik memakai dan melepaskan sarung tangan

c. Skort/ Jas/ Celemek

26

Tujuan: Melindungi petugas dari kemungkinan genangan / percikan


darah atau cairan tubuh lainnya yang dpt mencemari baju petugas
Jenis :

Tidak kedap air

Kedap air

Steril

Non steril

Persiapan:

Celemek

Kantong cucian ( ember pakaian kotor )

Tahap Kerja
1. Mencuci tangan
2. Memakai celemek / skort menutupi semua pakaian luar
3. Melepas skort dgn bagian dlm disebelah luar
4. Masukkan ke dlm kantong cucian / ember
5. Mencuci tangan
Sikap:

Skort yang akan dipakai bersih dan tali/kancingnya lengkap

Sesuai dengan ukuran

Tidak memakai skort diluar kamar pasien

Mengganti skort yang basah

Menghindari kontaminasi

Skort dipakai hanya satu kali

d. Memakai Masker
Manfaat Masker: mencegah membran mukosa petugas terkena kontak
dgn percikan darah dan cairan tubuh Pasien mencegah kontak droplet
dari mulut dan hidung petugas yang mengandung mikroorganisme saat
bicara , batuk ,bersin.
Persiapan:

27

Masker

Tempat masker

Larutan Desinfektan

Tahap Kerja
Memasang masker

Memasang masker menutupi hidung dan mulut mengikat tali


talinya

bagian atas lewat atas telinga ke blkg kpl

bag bawah di belakang leher

Menanggalkan masker

Menanggalkan masker dg melepaskan tali talinya

Masker dilipat dgn kedua permukaan dalamnya bertemu

Madker dimasukkan ke tempat khusus / direndam dg larutan


desinfektan

Sikap

Masker dipakai satu kali

Jika sdh lembab harus diganti tdk efektif lagi

Jangan menggantung masker di leher dan kmd dipakai lagi

Tidak memakai masker ke luar dari lingkungan pasien

e. Sepatu pelindung
Tujuan : Melindungi kaki petugas dari tumpahan / percikan darah ,
cairan tubuh lainnya dan mencegah dari kemungkinan tudukan
benda tajam / kejatuhan alat kesehatan
Sepatu karet / plastik yg menutupi seluruh ujung dan telapak kaki
Sepatu pelindung hrs digunakan selama didlm ruang operasi dan
tidak boleh dipakai ke luar
Sandal , sepatu terbuka dan telanjang kaki tidak dianjurkan

28

29

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Gangguan rasa aman nyaman adalah jauh dari cedera fisik. Gangguan

kenyamanan di definisikan ketika individu mengalami sensasi yang tidak


menyenagkan dalam berespons terhadap suatu rangsangan yang
berbahaya.

(Lynda, 2006 : 49). Untuk menghindari hal buruk dari

gangguan rasa aman nyaman, kita perlu mengetahui cara bagaimana


memenejemen stress tersebut. Manajemen stres adalah kemampuan
untuk mengendalikan diri ketika situasi, orang-orang, dan kejadiankejadian yang ada memberi tuntutan yang berlebihan. Tujuan dari
manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup
individu itu agar menjadi lebih baik. Selain menejemen stress, hal yang
dapat dilakukan untuk menghindari rasa gangguan aman nyaman yaitu
dengan membersihkan lingkungan pasien seperti membereskan tempat
tidurnya; termasuk barang-barang di daerah pasien, mengganti alat tenun,
mengetahui macam-macam tempat tidur untuk pasien, lakukan cuci
tangan aseptic dan antiseptic, dan menggunakan alat pelindung; sarung
tangan, penutup kepala dan barak scort untuk tetap bersih agar tetap
tercipta rasa nyaman.

30

DAFTAR PUSTAKA
Sigalingging, Ganda. (2012). Buku Panduan Laboratorium Kebutuhan Dasar
Manusia. Jakarta:EGC.
Kusyati, Eni, dkk. (2014). Keterampilan & Prosedur Laboratorium Keperawatan
Dasar. Jakarta:EGC.
https://teknikrelaksasi.wordpress.com/tag/pengertian-relaksasi/
http://viaanggun.blogspot.com/2015/05/guided-imagery.html#
https://beequinn.wordpress.com/nursing/...i.../alat-pelindung-diri-apd/

31