Anda di halaman 1dari 4

1.

Definisi masyarakat
Sejumlah manusia yang merupakan satu kesatuan golongan yang berhubungan tetap dan
mempunyai kepentingan yang sama.Seperti; sekolah, keluarga,perkumpulan, Negara semua
adalah masyarakat definisi lain dari Masyarakat juga merupakan salah satu satuan sosial sistem
sosial, atau kesatuan hidup manusia.
2. 4 sikap harmonis
Beberapa sikap yang dapat dilakukan untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat, antara
lain:
1. Adanya kesadaran mengenai perbedaan sikap, watak, dan sifat.
2. Menghargai berbagai macam karakteristik masyarakat.
3. Bersikap ramah dengan orang lain
4. Selalu berfikir positif.
3.Konsep Dharmawijaya
Kehidupan yang berdasarkan moral dan spiritual yang disebut Dharma Wijaya.
4.Konsep Karaniya Metta
Karaniya Metta Sutta merupakan Sutta yang menggambarkan cinta kasih dan belas kasihan
kepada semua makhluk. Sutta ini pertama sekali di ucapkan langsung oleh Sang Buddha kepada
lima ratus orang murid-Nya yang diganggu oleh makhluk yang menyeramkan sewaktu mereka
diperintahkan oleh Sang Buddha untuk melatih diri di hutan. Untuk membantu para siswa-Nya,
Sang Buddha kemudian mengucapkan syair yang kemudian kita kenal dengan Karaniya Metta
Sutta.
5.Susunan
Susunan Masyarakat Hukum Adat
Berdasarkan geneologis (keturunan) susunan masyarakat hukum adat dibagi menjadi empat
bagian yaitu :
1. Struktur masyarakat matrilineal
2. Struktur masyarakat patrilineal
3. Struktur masyarakat patrilineal beralih-alih
4. Struktur masyarakat bilateral/parental
A. Struktur Masyarakat Matrilineal
Yaitu struktur masyarakat dimana orang menarik garis hukum dengan menggabungkan diri
dengan orang lain melalui garis perempuan. Contohnya perkawinan semendo. Ciri-ciri
perkawinan semendo adalah endogami dan matrilokal.

Endogami, berarti bahwa menurut hukum adat perkawianan yang ideal dalam sistem
perkawinan semendo adalah apabila jodoh diambil dikalangan sukunya sendiri.

Matrilokal, mengandung arti bahwa menurut hukum adat semendo, tempat tinggal
bersama dalam perkawinan adalah ditempat tinggal istri.

Contoh masyarakat perkawinan semendo adalah masyarakat Minangkabau.

B. Struktur Masyarakat Patrilineal


Yaitu susunan masyarakat dimana orang menarik garis hukum dalam hubungan diri dengan
orang lain melalui garis laki-laki. Contohnya kawin jujur. Ciri-ciri perkawinan jujur adalah
eksogami dan patrilokal.

Eksogami, menurut hukum adat perkawinan jujur, perkawinan yang ideal adalah apabila
jodoh diambil dari luar marganya sendiri.

Patrilokal, menurut hukum adat perkawinan jujur, tempat tinggal bersama dalam
perkawinan adalah tempat tinggalnya suami.

Contoh : masyarakat Gayo, Batak, Bali, serta Sumatra Selatan.

C. Struktur Masyarakat Patrilineal Beralih-Alih


Yaitu struktir masyarakat dimana orang menarik agris hukum dengan menghubungkan diri
dengan orang lain beralih-alih antara perempuan dengan garis laki-laki, tergantung pada bentuk
perkawinan yang dipilih oleh orang tuanya.

Apabila orang tua kawin semento maka anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut
akan menarik garis hubungan melalui orang tuanya yang perempuan, begitu juga hukum
seterusnya keatas akan beralih-alih tergantung pada bentuk perkawinan yang dilakukan
orang tuanya.

Contoh : masyarakat Rejang lebong dan Lampung pepadon.

D. Struktur Masyarakat Bilateral/Parental


Yaitu struktur masyarakat dimana orang menari garis hukum dan hubungan diri dengan orang
lain melalui garis laki-laki maupun perempuan.

Pada masyarakat tersetruktur secara bilateral tidak ada bentuk perkawinan khusus, begitu
juga tentang tempat tinggal bersama dalam perkawinan, tidak ada ketentuan yang jelas.

Contoh : Aceh, Jawa, Sunda, Makasar dan Bugis.

5.Susunan Masyarakat Buddhis:


i.Masyarakat awam dan viharawan
Yang dimaksud dengan umat awam adalah umat Buddha yang hidup berumah tangga, hidup di
masyarakat yang mempunyai pekerjaan dan harta benda.
Umat Awam terdiri dari Upasaka dan Upasika. Upasaka adalah umat Buddha laki-laki,
sedangkan Upasika adalah umat Buddha perempuan.
b. Viharawan (Umat Buddha Yang Meninggalkan Kehidupan Duniawi)
Umat Buddha yang meninggalkan kehidupan duniawi terdiri dari Anagarika, Samanera,
Samaneri, Bhikkhu dan Bhikkhuni.

Oleh karena itu bhikkhu maupun samanera tidak lagi menguruskan hal-hal duniawi, jadi lebih
diarahkan atau lebih focus pada pelaksanaan moralitas dan pengembangan batin yang lebih
dalam, sebab jika para viharawan melaksanakan moralitas dan pengembangan batin dengan baik,
maka jika umat awam berdana kepada bhikkhu atau samanera, maka hasilnya berbada jika
bhikkhu atau samanera menjalankan Sla dan Bhavana dengan tidak baik, dan yang lebih
baiknya lagi umat awam dan viharawan sama-sama menjalankan sla dan bhavana dengan baik
jadi dengan istilah simbiosis mutualisme (hubungan timbal-balik yg saling menguntungkan
antara dua organisme).
iv.Masalah otoritas tertinggi dalam agama Buddha
Dalam kerangka ajaran Sang Buddha Gautama, sejauh berhubungan dengan pembebasan dari
derita, tidak dikenal adanya "lembaga pemegang otoritas tertinggi".
Hal ini dapat dibuktikan dalam sabda Sang Buddha Gautama yang terdapat dalam Kalama Sutta
dan Maha Parinibbana Sutta.
Hubungan yang wajar dan sepatutnya antara umat awam dengan para Bhikkhu telah digariskan
dengan jelas oleh Sang Buddha Gautama dalam Sigalovada Sutta.
"Jangan engkau menerima segala sesuatu hanya karena itu berdasarkan atas laporan, tradisi,
kabar angin, tertulis di dalam kitab-kitab suci ... atau hanya karena hormat terhadap guru
(pandita). Akan tetapi, bilamana engkau ketahui sendiri... "hal-hal ini tidak baik, tercela, tidak
dibenarkan oleh para bijaksana, tidak sesuai untuk dilaksanakan, menimbulkan kerugian dan
penderitaan, maka engkau harus meninggalkannya ... bilamana engkau ketahui sendiri ... "hal-hal
ini baik, tidak tercela, dipuji oleh para bijaksana, sesuai untuk dilaksanakan, membawa pada
kesejahteraan dan kebahagiaan, maka terimalah hal-hal itu dan laksanakanlah dalam hidupmu".
~Anguttara Nikaya I, 189.

Dalam Maha Parinibbana Sutta (Digha Nikaya 16) antara lain dikatakan "apa yang telah
Kutunjukkan dan Kuajarkan (Dhamma Vinaya) inilah yang akan menjadi gurumu setelah Aku
tiada".
Hubungan antara Bhikkhu dengan umat awam merupakan hubungan yang bersifat moral religius
semata-mata dan bersifat timbal balik sebagaimana dijelaskan Sang Buddha Gautama dalam
Sigalovada Sutta :
"Umat awam hendaknya menghormati Bhikkhu dengan : membantu dan memberlakukan mereka
dengan perbuatan , kata-kata dan pikiran baik, membiarkan pintu terbuka bagi mereka dan
memberikan makanan serta keperluan yang sesuai dengan mereka.
Sebaliknya para Bhikkhu yang mendapat penghormatan demikian mempunyai kewajiban
terhadap umat awam , yaitu : melindungi dan mencegah seseorang dari perbuatan jahat, memberi
petunjuk untuk melakukan perbuatan baik, mencintai mereka dengan hati yang tulus,
menerangkan ajaran yang belum didengar atau diketahui, menjelaskan apa yang belum
dimengerti, dan menunjukkan Jalan untuk menuju pembebasan".
Dengan demikian, para Bhikkhu yang benar-benar menjalankan Dhamma Vinaya adalah sahabat
yang baik (Kalyana Mitta), yang sepatutnya mendapat pelayanan dan penghormatan yang layak
dari umat awam.