Anda di halaman 1dari 23

PENGUKURAN VARIABEL,

KUISIONER, DAN INSTRUMEN

Disusun oleh :
KELOMPOK 3
ANDIKA SIAHAAN (02)
SATRIA FADLI (12)

PROGRAM ALIH JENJANG SARJANA AKUNTANSI


KELAS KERJASAMA BEASISWA STAR-BPKP
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...........................................................................................................................


BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................
A. LATAR BELAKANG ...........................................................................................

Halaman
2
3
3

B. TUJUAN .............................................................................................................
PEMBAHASAN.........................................................................................................
A. PENGUKURAN VARIABEL ...............................................................................
1. BAGAIMANA VARIABEL-VARIABEL DIUKUR ............................................
2. DEFENISI OPERASIONAL (OPERASINALISASI) ......................................
3. APA YANG BUKAN DEFINISI OPERASIONAL ...........................................
4. TINJAUAN DEFINISI OPERASIONAL
5. DIMENSI INTERNASIONAL DARI OPERASIONALISASI ...........................
6. SKALA ..........................................................................................................
7. VALIDITAS PENGUKURAN .........................................................................
8. RELIABILITAS PENGUKURAN ...................................................................
B. KUISIONER .......................................................................................................
1. JENIS-JENIS KUISIONER............................................................................
2. PEDOMAN UNTUK MENDESAIN KUESIONER .........................................
3. DIMENSI SURVEY INTERNASIONAL .........................................................
4. MULTIMETODE PENGUMPULAN DATA ....................................................
5. IMPLIKASI MANEJERIAL ............................................................................
6. ETIKA DALAM PENGUMPULAN DATA ......................................................
C. INSTRUMEN ......................................................................................................
1. JENIS INSTRUMEN PENELITIAN................................................................
2. CONTOH INSTRUMEN YANG DIKEMBANGKAN ......................................
BAB III PENUTUP ................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................

3
4
4
4
4
9
9
9
9
12
12
13
13
14
16
17
17
17
18
18
20
22
23

BAB II

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Metode penelitian memberikan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan
untuk mengatasi masalah dan menghadapi tantangan lingkungan dimana pengambilan
keputusan harus dilakukan dengan cepat. Kita perlu tahu bagaimana mengenali
penelitian yang baik dan bagaimana melaksanakannya.
Dengan semakin rumitnya lingkungan bisnis, maka semakin meningkat pula
jumlah dan keampuhan peralatan untuk melaksanakan penelitian. Pengetahuan semakin
bertambah luas di semua bidang manajemen. Teori teori yang dibangun sudah lebih
baik. Teknik penelitian saling memperkuat satu dengan yang lain dan mempunyai
dampak yang sangat besar terhadap manajemen bisnis.
B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah
Metodologi Penelitian dan juga menambah wawasan dalam bidang metodologi
penelitian khususnya tentang pengukuran variabel, kusioner, dan istrumen.

BAB II
PEMBAHASAN
Pengukuran variabel dalam kerangka dasar konseptual adalah sebuah bagian yang
utuh dari penelitian dan sebuah aspek yang penting dari desain penelitian. Pengukuran ini
penting untuk memperoleh hasil atas apa yang hendak diteliti atau diuji.
A. PENGUKURAN VARIABEL
1. BAGAIMANA VARIABEL-VARIABEL DIUKUR
Untuk mengukur beragam hipotesis di tempat kerja yang memengaruhi efektivitas
organisasi maka kita harus mengukur keragaman di tempat kerja dan efektivitas organisasi.
Pengukuran adalah penegasan atas angka atau simbol lain untuk karakteristik atau atribut
dari suatu objek sesuai dengan set aturan tertentu. Objek dapat meliputi orang, unit strategi
bisnis, perusahaan, negara, dan sebagainya. Atribut dari sebuah objek yang dapat diukur
secara fisik oleh beberapa instrumen yang dikalibrasi tidak menimbulkan masalah
pengukuran.
Pengukuran dari sejumlah atribut abstrak dan subjektif jauh lebih sulit karena tidak
mudah untuk menguji hipotesis tentang hubungan antara keragaman di tempat kerja,
keahlian manajerial, dan efektivitas organisasi. Variabel tertentu membiarkan diri untuk
pengukuran mudah melalui penggunaan alat ukur yang tepat serta atribut fisik tertentu
seperti panjang dan berat. Ada paling tidak dua jenis variabel: satu variabel untuk
pengukuran objektif dan tepat yang lain lebih samar-samar dan tidak untuk pengukuran
akurat karena sifatnya abstrak dan subjektif.
2. DEFENISI OPERASIONAL (OPERASINALISASI)
Meskipun terdapat kekurangan dari pengukuran fisik untuk mengukur variabel yang
samar-samar namun ada jalan yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah ini. Salah
satu teknik yang dapat digunakan adalah mengurangi gagasan abstrak atau konsep untuk
menjadikan karakteristik penelitian lebih mungkin untuk diobservasi. Pengurangan abstrak
atau konsep untuk memberikan jalan yang berwujud untuk melakukan pengukuran disebut
mengoperasionalisasikan konsep.
Contoh, konsep haus adalah abstrak, setiap orang mempunyai tingkat kehausan
masing-masing yang tidak dapat dilihat secara kasat mata. Cara untuk mengukur tingkat
kehausan yaitu dengan pengukuran jumlah cairan yang diminum pada saat kehausan. Cara
untuk mengukur dari konsep abstrak ke cara yang nyata disebut operationalizing.

konsep Operasionalisasi dapat dilakukan dengan melakukan pengamatan dimensi,


aspek dan sifat yang dilambangkan oleh konsep yang digunakan. Ini kemudian
diterjemahkan ke dalam unsur-unsur yang dapat diamati dan terukur sehingga dapat
mengembangkan suatu indeks pengukuran konsep. Operasionalisasi konsep melibatkan
serangkaian langkah, yaitu:
a. Langkah pertama adalah untuk datang dengan definisi konstruk yang Anda ingin ukur.
b. Langkah kedua adalah pengembangan dari serangkaian memadai dan perwakilan dari
item atau pertanyaan.
c. Langkah ketiga adalah pengukuran skala.
d. Langkah selanjutnya yaitu mengecek validitas dan reliabilitas.
1) Operasionalisasi: dimensi dan elemen
Mengoperasionalkan atau secara operasional mendefinisikan sebuah konsep
untuk membuatnya bisa diukur, dilakukan dengan melihat pada dimensi perilaku, aspek,
atau sifat yang ditunjukkan oleh konsep. Hal tersebut kemudian diterjemahkan kedalam
elemen yang dapat diamati dan diukur sehingga menghasilkan suatu indeks
pengukuran konsep.
Orang lain bisa menggunakan ukuran yang serupa, sehingga memungkinkan
pengulangan atau peniruan (replicability). Tetapi, perlu disadari bahwa semua definisi
operasional sangat mungkin (1) meniadakan beberapa dimensi dan elemen penting
yang terjadi karena kelalaian mengenali atau mengonsepkannya, dan (2) menyertakan
beberapa segi yang tidak relevan, yang secara keliru dianggap relevan.
Mendefinisikan

konsep

secara

operasional

adalah

cara

terbaik

untuk

mengukurnya. Tetapi, benar-benar mengobservasi dan memperhitungkan seluruh


prilaku individu dalam cara tertentu, bahkan jika hal tersebut cukup praktis, akan selalu
sulit dilakukan dan memakan waktu. Jadi, daripada benar-benar mengobservasi
perilaku individu, kita bisa meminta mereka menceritakan pola perilaku mereka sendiri
dengan mengajukan pertanyaan yang tepat yang bisa direspon pada sekala tertentu
yang telah disusun.
Mengilustrasikan cara yang mungkin untuk mengukur variabel terkait dengan
wilayah subjektif dari sikap, perasaan dan persepsi orang dengan pertama-tama
mendefinisikan konsep secara operasional. Definisi operasional disusun dengan
mereduksi konsep dari level abstraksi, dengan menguraikannya kedalam dimensi dan
elemen. Dengan menentukan perilaku yang berhubungan dengan sebuah konsep, kita
dapat mengukur variabel. Tentu saja, pertanyaan akan mengundang respon pada
beberapa skala yang dilekatkan padanya (seperti sangat sedikit atau sangat
banyak).
2) Pengoperasionalan multi dimensi konsep dari motivasi pencapaian
5

Seorang peneliti harus menyimpulkan motivasi dengan mengukur dimensi


perilaku, fakta, atau karakteristik yang kita harapkan untuk ditemukan pada orang
dengan motivasi berprestasi tinggi. Memang, tanpa mengukur dimensi, aspek, atau
karakteristik, kita tidak akan bisa sampai pada bottom-line pernyataan tentang
hubungan antara gender dan motivasi berprestasi. Langkah selanjutnya yang harus
dilakukan adalah membangun abstrak melalui tinjauan literatur untuk menemukan
apakah ada konsep pengukuran, baik melalui jurnal ilmiah ataupun scale handbooks.
3) Dimensi dan Elemen-elemen Pencapaian Motivasi
Mengoperasionalkan atau secara operasional mendefinisikan sebuah konsep
untuk membuatnya bisa diukur, dilakukan dengan melihat pada dimensi perilaku, aspek,
atau sifat yang ditunjukkan oleh konsep. Hal tersebut kemudian diterjemahkan kedalam
elemen yang dapat diamati dan diukur sehingga menghasilkan suatu indeks
pengukuran konsep.
a. Elemen Dimensi 1
Kita dapat menjelaskan seseorang yang digerakkan oleh pekerjaan. Orang
semacam itu akan (1) bekerja sepanjang waktu, (2) enggan untuk tidak masuk kerja,
dan (3) tekun, bahkan dalam menghadapi sejumlah kemunduran. Tipe perilaku
tersebut bisa diukur. Menelusuri seberapa sering orang terus tekun melakukan
pekerjaan meskipun diterpa kegagalan merupakan refleksi ketekunan dalam
mencapai tujuan. Ketekunan akan mendorong seseorang untuk meneruskan usaha.
Karena itu, ketekunan bisa diukur dengan jumlah kemunduran yang orang alami
dalam pekerjaan dan tetap melanjutkan pekerjaan tanpa terhalang oleh kegagalan.
Misalnya

seorang

akuntan

mungkin

menemukan

bahwa

ia

tidak

berhasil

menyeimbangkan saldo neraca. Ia menghabiskan waktu selama 1 jam berusaha


mendeteksi kesalahan, gagal melakukanya, menyerah dan meninggalkan tempat
kerja. Karyawan lain yang berada dalam posisi serupa tetap sabar bekerja,
menemukan kesalahan. Dalam hal ini, mudah untuk menentukan siapa dari
keduanya yang lebih tekun hanya dengan mengamatinya.
Dengan demikian, jika kita dapat mengukur berapa banyak jam per minggu
yang individu berikan untuk aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan, seberapa
tekun meraka dalam menyelesaikan tugas sehari-hari, serta berapa sering dan untuk
alasan apa mereka tidak masuk kerja, kita akan memiliki suatu ukuran yang
menunjukkan sampai tingkat apa karyawan digerakkan oleh pekerjaan. Variabel ini,
jika kemudian diukur, akan menempatkan individu pada sebuah kontinum yang
membentang dari mereka yang hidupnya diisi dengan bekerja. Hal tersebut,
6

kemudian akan memberi beberapa petunjuk mengenai tingkat motivasi pencapaian


mereka.
b. Elemen Dimensi 2
Tingkat ketidakinginan untuk bersantai dapat diukur dengan mengajukan
pertanyaan seperti (1) berapa sering Anda memikirkan pekerjaan ketika tidak sedang
berda di tempat kerja? (2) apa hobi Anda? dan (3) bagaimana anda menghabiskan
waktu ketika tidak ditempat kerja? Mereka yang dapat bersantai akan menunjukkan
bahwa bisanya tidak memikirkan pekerjaan atau tempat kerja ketika dirumah.
Jadi, kita bisa menempatkan karyawan pada sebuah kontinum yang
membentang dari mereka yang sangat dapat bersantai ke yang sedikit bersantai.
Dimensi ini kemudian juga menjadi bias diukur.
C
Achievement
Motivation

D1

D2

D3

Impatience with
ineffectiveness

Driven By
Work

Unable to
relax

Thinks of work
even at home,
does not have
any hobbies

Swears under
ones breath
when even
small mistake
occur, does not
like work with
slow or
ineficient people

Constantly
Working,
Persevering
despite
setbacks, very
reluctant to take
time off for
anything

D4

D5

Seeks moderate
challenge

Seeks
Feedback

Opts to do a
challenging rather
than a routine job,
opts to take
moderate rather
than over
whelming
challenge

Asks for
feedback on
how the job has
been done, is
impatient for
immediate
feedback

c. Elemen Dimensi 3
Individu dengan motivasi pencapaian tinggi tidak sabar terhadap orang yang
tidak efektif dan enggan bekerja dengan orang lain. Sementara orang bermotivasi
pencapaian dalam organisasi mungkin sangat tinggi dalam kecenderungan perilaku
7

tersebut, tetapi begitu juga sebaliknya, ada orang yang tidak seperti itu. Jadi,
ketidaksabaran orang terhadap ketidakefektifan juga bisa diukur dengan mengamati
perilaku.
d. Elemen Dimensi 4
Ukuran seberapa senang orang mencari pekerjaan yang menantang bisa
diperoleh dengan bertanya mengenai jenis pekerjaan yang mereka pilih. Preferensi
karyawan terhadap jenis pekerjaan yang berbeda kemudian dapat ditempatkan pada
suatu kontinum yang membentang dari yang memilih pekerjaan cukup rutin ke yang
memilih pekerjaan dengan tantangan yang kian sulit.mereka yang memiliki kadar
tantangan sedang kemungkinan besar lebih memiliki motivasi pencapaian disbanding
yang memilih kadar tantangan yang lebih besar atau kecil. Individu yang berorientasi
pencapaian cenderung realistis dan memilih pekerjaan yang tantangannya masuk
akal dan dapat dicapai.
e. Elemen Dimensi 5
Mereka yang menginginkan umpan balik akan mencarinya dari atasa, rekan
kerja, dan bahkan terkadang dari bawahan. Mereka ingin mengetahui pendapat
orang lain mengenain seberapa baik kinerja mereka. Umpan balik, entah positif atau
negatif, akan menunjukkan berapa banyak pencapaian dan prestasi. Bila menerima
pesan yang menyarankan perbaikan, mereka akan bertindak sesuai dengan hal
tersebut. Setelah mengoperasionalkan konsep motivasi pencapaian dengan
mereduksi level abstraknya menjadi perilaku yang dapat diamati, adalah mungkin
untuk melakukan pengukuran yang baik dan menelaah konsep motivasi pencapaian.
Kegunaannya adalah bahwa orang lain bisa menggunakan ukuran serupa, sehingga
memungkinkan pengulangan atau peniruan (replicability). Tetapi , perlu disadari
bahwa semua definisi operasional sangat mungkin (1) meniadakan beberapa
dimensi dan elemen penting yang terjadi karena kelalaian mengenali atau
mengonsepkannya, dan (2) menyertakan beberapa segi yang tidak relevan.
Meskipun demikan, mendefinisikan konsep secara operasional adalah cara
terbaik

untuk

mengukurnya.

Tetapi,

benar-benar

mengobservasi

dan

memperhitungkan seluruh perilaku individu dalam cara tertentu, bahkan jka hal
tersebut cukup praktis, akan terlalu sulit dilakukan dan memakan waktu. Jadi,
daripada benar-benar mengobservasi perilaku individu, kita bisa meminta mereka
menceritakan pola perilaku mereka sendiri dangan mengajukan pertanyaan tepat
yang bisa direspons pada skala tertentu yang telah disusun.
3. APA YANG BUKAN DEFINISI OPERASIONAL
8

Deifinisi operasional tidak menjelaskan korelasi konsep. Misalnya kesuksesan kinerja


tidak dapat menjadi sebuah dimensi dari motivasi pencapaian, meskipun demikian,
seseorang yang bermotivasi sangat mungkin memenuhi hal tersebut dalam ukuran yang
tinggi. Dengan demikian, motivasi pencapaian dan kinerja dan / atau kesuksesan mungkin
berkorelasi tinggi, tetapi tidak mengukur level motivasi seseorang melalui kesuksesan dan
kinerja.
Jadi jelas bahwa mendefinisikan sebuah konsep secara opersional tidak meliputi
penguraian alasan, latar belakang, konsekuensi, atau korelasi konsep. Adalah penting untuk
mengingat hal ini, karena jika kita mengoperasionalkan konsep secara tidak tepat atau
mengacaukannya dengan konsep lain, kita tidak akan memperoleh ukuran yang valid. Hal
tersebut bahwa kita tidak akan mendapatkan data yang baik dan penelitian akan menjadi
tidak ilmiah.
4. TINJAUAN DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional adalah perlu untuk mengukur konsep abstrak seperi hal-hal yang
biasanya jatuh ke dalam wilayah subjektif perasaandan sikap. Variabel yang lebih objektif
seperti usia atau tingkat pendidikan cukup mudah untuk diukur melalui pertanyaan
langsung, sederhana, dan tidak perlu didefinisikan secara operasional.
5. DIMENSI INTERNASIONAL DARI OPERASIONALISASI
Dalam melakukan penelitian transnasional, penting untuk diingat bahwa variabel tertentu
memiliki makna yang berbeda dan konotasi dalam budaya yang berbeda. Adalah bijaksana
bagi para peneliti yang berasal dari negara yang berbeda berbicara dalam bahasa untuk
merekrut bantuan setempat untuk mengoperasionalkan konsep tertentu saat menyangkut
lintas-budaya penelitian.
6. SKALA
Skala merupakan kategori respon ataupun item yang menunjukkan ukuran dari suatu
variabel, baik kualitatif maupun kuantitatif. Menentukan skala (scale) pengukuran terhadap
indikator-indikator dari variabel disebut penskalaan (scalling). Tipe skala pengukuran dalam
penelitian ada 4, yaitu: nominal (nominal), ordinal (ordinal), interval (interval), dan rasio
(rasio), yang oleh Bailey (1982:64) dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu: pengukuran
kualitatif (nominal), dan pengukuran kuantitatif (ordinal, interval, dan rasio). Variabel nominal
merupakan variabel yang dikategorikan saling terpisah dan tuntas (mutually exclusive).
Variabel ordinal merupakan variabel yang disusun dan diurut atas dasar ranking.
Variabel interval merupakan variabel yang diukur dengan ukuran interval, dan variabel rasio

adalah variabel yang diukur dengan ukuran rasio. Untuk menentukan ukuran variabel
tersebut, dilakukan pengurutan seperti berikut:
Penentuan Ukuran Variabel
Apakah lebih dari dua kategori?

Tidak, Variabel dikotomi

Ya, Variabel poliomi. Adakah jarak antara kategori seimban

Ya, variabel interval atauTidak,


rasio variabel nominal atau ordinal. Dapatkah kategori diurut/di

Ya, variabel ordinal

Tidak, Variabel Nominal

Pelaksanaan penskalaan variabel dalam ilmu-ilmu sosial akan berbeda dengan


operasionalisasi variabel pada ilmu-ilmu eksakta yang ukurannya menggunakan skala
parametik (interval dan rasio). Pada ilmu-ilmu sosial banyak dijumpai ukuran yang berskala
nominal dan ordinal. Untuk lebih jelas, perhatikan tabel berikut:
Jenis Skala
Nominal
Ordinal
Interval
Ratio

Terdapat
Perbedaan
Ya
Ya
Ya
Ya

Terdapat
Peringkat
Tidak
Ya
Ya
Ya

Ada jarak yang


seimbang
Tidak
Tidak
Ya
Ya

Mempunyai Nol
Mutlak
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

Kombinasi ciri-ciri utama, jarak, dan asal mula menghasilkan pengelompokkan skala
ukuran berikut yang umum dipakai:
Jenis Skala
Nominal
Ordinal
Interval

Ratio

Ciri ciri Skala


Tidak ada urutan, jarak, atau asal
mula
Berurutan tetapi tidak ada jarak
atau asal mula yang unik
Berurutan dan berjarak tetapi
tidak mempunyai asal mula yang
unik
Berurutan, berjarak, dan asal
mula yang unik

Operasi Empiris Dasar


Penentuan kesamaan
Penentuan nilai-nilai lebih besar
atau lebih kecil daripada
Penetuan kesamaan interval atau
selisih.
Penentuan kesamaan rasio

10

Skala Nominal merupakan tingkat pengukuran yang paling rendah karena hanya
rnampu mernberikan bentuk perbedaan atau klasifikasi. Data yang diperoleh melalui
pengukuran nominal hanyalah data kategorikal atau klasifikasi.
Pada ukuran nominal tidak ada penjenjangan maupun jarak antar variat, meskipun
demikian ukuran nominal merupakan ukuran terbaik untuk atribut atribut kualitatif .
Contoh

variabel

yang

berskala

nominal

adalah:

agama,

jenis

kelamin,

departemen/bagian tempat bekerja; letak geografis, dsb.


Skala Ordinal merupakan skala yang tidak hanya memberikan perbedaan atau
klasifikasi, namun juga menunjukkan urutan ataupun tingkatan (orde). Oleh sebab itu
skala ordinal memberikan indikasi bahwa beberapa subyek lebih tinggi atau lebih baik,
sementara yang lain lebih rendah atau lebih buruk. Ada 3 hal penting yang perlu
diperhatikan dalam skala ordinal:
1) Variabel yang secara given ukuran dan kategori respon yang ada telah pasti
seperti tingkat pendidikan, pangkat kepegawaian atau di lingkungan militer,
jabatan akademik di perguruan tinggi, dsb.
2) Menyusun beberapa alternatif ukuran yang berbeda,

misalnya

dengan

menggunakan skala bogardus untuk meneliti sikap penerimaan etnis Cina ke


oleh warga etnis Sunda. Atau contoh lain adalah dengan mengurutkan tingkat
keentingan suatu atribut produk tertentu dengan urutan sangat penting yang
diberi nilai (5) sampai dengan tidak penting yang diberi nilai (1).
3) Peneliti menyusun ukuran respon berdasarkan rangking. Urutan dari ukuran
tersebut dapat dua atau lebih tingkatan, namun hal yang harus diperhatikan disini
adalah tingkat ketelitian pengukuran, semakin banyak alternatif respon, akan
semakin teliti hasil yang diperoleh.
Skala Interval merupakan skala yang memiliki semua karateristik yang dimiliki oleh
skala nominal maupun skala ordinal dan juga diurutkan menurut jarak yang sama antar
kategori. Jadi tingkat ukuran interval menggambarkan equal spacing between members
champion dalam U. Silalahi (1999:165). Hal tersebut mengakibatkan bahwa antar nilai
yang satu dengan nilai yang lain terdapat selisih yang dapat dihitung dan dinyatakan
dengan angkat.
Skala Rasio merupakan tingkat pengukuran yang paling tinggi, dimana semua sifat
skala yang lain terangkum, dan mempunyai nilai nol yang mutlak yang berarti nilai nol
adalah nilai yang tidak ada atau kosong, sehingga skala rasio dapat di multiplikasi,
dibagi, maupun dioperasikan secara matematis, dengan fungsi-fungsi matematis yang
lain.
7. VALIDITAS PENGUKURAN
11

Membahas validitas suatu pengukuran adalah membahas apakah instrumen atau alat
ukur yang digunakan untuk mengukur suatu gejala yang ingin diukur dan tidak mengukur
indikator lain. Secara metodologis hal ini disebut sebagai validitas. Hal ini berhubungan
dengan ketelitian, kecermatan dan kesamaan dari instrumen. Suatu instrumen pengukur
dikatakan teliti atau cermat jika memiliki kemampuan menunjukkan secara cermat dan teliti
ukuran besar kecilnya gejala yang akan diukur.
Dua faktor yang mempengaruhi validitas pengukuran adalah:
1. Faktor Internal : Yaitu faktor yang berada di dalam alat ukur itu sendiri, ini
berhubungan dengan perancangan instrumen pengukur yang telah benar-benar
mengikuti langkah-langkah atau prosedur yang tepat. Hal ini dipengaruhi oleh dua
hal

Pertama

yaitu

operasionalisasi

variabel,

atau

menterjemahkan

dan

menguraikan variabel dari tingkat teoritis yang abstrak menjadi variabel operasional
(tingkat empirik) yang disebut sebagai indikator. Hal yang perlu diperhatikan adalah
sub variabel dan variabel operasional atau indikator harus tercakup oleh defenisi
operasional dari variabel. Kedua berhubungan dengan ketetapan penentuan skala
pengukuran untuk variabel atau indikator-indikator yang diukur.
2. Faktor Eksternal : yang berada di luar instrumen pengukur, yang dapat disebabkan
oleh:

Faktor pengumpul data yang kurang mengerti dan memahami masalah dan

tujuan penelitian atau makna dari setiap instrumen pengukur;


Faktor unit observasi yang mampu memberikan jawaban secara obyektif; dan
Faktor pelaksanaan yang menuntut momen yang benar-benar tepat ketika
pengambilan data dilakukan.

8. RELIABILITAS PENGUKURAN
Reliabilitas atau keterandalan dalam pengukuran mempertanyakan apakah instrumen,
atau alat ukur yang digunakan secara berulang-ulang untuk mengukur gejala yang sama
pada responden yang sama, akan menghasilkan hasil yang sama. Dengan kata lain
reliabilitas pengukuran menghasilkan stabilitas dan konsistensi dalam pengukuran.
Jadi reliabilitas atau keterandalan suatu alat ukur dapat dilihat dari korespondensi atas
hasil dari suatu alat ukur jika dilakukan pengukuran ulang dengan menggunakan alat ukur
yang sama untuk mengukur gejala yang sama pada responden yang sama.

12

B. KUESIONER
1. JENIS-JENIS KUESIONER
Kuisioner adalah suatu set pertanyaan tertulis yang diformulasi sebelumnya untuk para
responden mencatat jawaban, biasanya dalam gambaran dekat alternatif. Kuisioner
merupakan metode pengumpulan data yang efisien ketika melaksanakan penelitian
deskriptif atau eksplorasi. Kuisioner secara umum didesain untuk mengumpulkan data
kuantitatif dalam jumlah besar. Secara umum kuesioner dapat dibagikan secara individu,
dikirim melalui surat, atau dibagikan secara elektronik. Jenis-jenis kuisoner terdiri dari:
1. Kuesioner yang diberikan secara pribadi
2. Kuesioner surat dan
3. Elektronik
Adapun kelebihan dan kekurangan masing-masing terdapat pada tabel berikut:
Bentuk
Pengumpulan
Data
Personally
administered
questionnaires

Kelebihan

Mail
questionnaires

Electronic
questionnaires

Kekurangan

Dapat membangun hubungan dan


memotivasi responden.
Keraguan dapat diklarifikasi.

Lebih murah ketika diatur untuk


kelompok responden.
Hampir 100% kepastian respon.
Anonim responden tinggi.

Penjelasan bisa saja


bias.
Membutuhkan waktu
dan usaha.

Anonymity yang tinggi.

Daerah geografis yang luas dapat

dicapai.
Hadiah token dapat terlampir untuk
mencari pemenuhan.
Responden dapat mengambil waktu
lebih untuk merespon.

Tingkat respon selalu


rendah.
Tidak dapat
mengklarifikasi
pertanyaan.
Prosedur follow-up
untuk yang tidak
merespon dibutuhkan
Computer
literacy
adalah keharusan.
Responden
harus
memiliki
akses
ke
fasilitas.
Responden harus mau
untuk
menyelesaikan
survei.

Mudah diatur.

Dapat meraih secara global.

Sangat murah.
Pengiriman yang cepat.
Responden dapat mengambil waktu

yang lebih untuk menjawab.

13

2. PEDOMAN UNTUK MENDESAIN KUESIONER

Agar kelihatan serasi dan sesuai dengan prisip design kuesioner yang baik perlu
memperhatikan tiga hal yaitu,
1) Prinsip Penulisan
Dalam penyusunan kata perlu memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
a. Isi dan Tujuan Pertanyaan
Yang dimaksud disini adalah, apakah isi pertanyaan tersebut merupakan bentuk
pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran maka dalam membuat
pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus dalam bentuk skala pengkuran
dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang diteliti.
b. Bahasa yang Digunakan
Bahasa yang digunakan dalam penulisan kuisoner harus disesuaikan dengan
kemampuan berbahasa responden. Kalau sekiranya responden tidak dapat
berbahasa Indonesia jangan disusun dengan bahasa Indonesia. Jadi bahasa
yang digunakan dalam angket harus memperhatikan jenjang pendidikan
responden keadaan sosial budaya, dan frame of reference dari responden.
c. Tipe dan Bentuk Pertanyaan
Jenis pertanyaan mengacu pada apakah pertanyaan bersifat terbuka diakhiri
atau tertutup format dari pertanyaan yang mengacu secara positif ataupun
secara negatif. Ada beberapa jenis dan format kuesioner yaitu sebagai berikut :

14

(1) Open ended versus closed question (pertanyaan terbuka versus tertutup).
Membuka pertanyaan dan diakhiri mengijinkan responden untuk menjawab
pertanyaan mereka.
(2) Positively and negatively worded questions (pertanyaan yang disusun secara
positif dan negatif). Sebagai ganti pengutaraan semua pertanyaan yang
secara positif, adalah sebaiknya untuk meliputi beberapa pertanyaan yang
worded juga, sehingga kecenderungan di dalam responden untuk dengan
mesin melingkar poin-poin ke arah satu orang mengakhiri dari skala diperkecil
(3) Double barreled questions (pertanyaan yang memiliki respon ganda). Suatu
pertanyaan yang mengutarakan diri ke tanggapan yang mungkin berbeda ke
sub pertanyaan.
(4) Ambiguous question (pertanyaan ambigu). Suatu pertanyaan yang memiliki
dua arti makna atau lebih sehingga respondent mengalami kesulitan dalam
menginterprestasikan pertanyaan yang sesuai dengan perasaan mereka.
(5) Recall dependent question (pertanyaan yang bergantung pada ingatan).
Beberapa pertanyaan mengaruskan responden mengingat pengalaman di
masa lalu, kemungkinan besar jawaban yang diberikan akan mengalami
penyimpangan. Sebagai contoh karyawan yang telah bekerja lebih dari 30
tahun akan mengalami kesulitan ketika diminta menyatakan pengalaman
pertama bekerja di perusahaan tersebut.
(6) Leading question (pertanyaan yang mengarahkan). pertanyaan yang
diutarakan sedemikian rupa sehingga dari pertanyaan tersebut mengarahkan
responden untuk berpartisipasi memberi tanggapan yang peneliti inginkan.
(7) Loaded Question (pertanyaan yang bermuatan). Jenis pertanyaan yang
menyimpang dari topik permasalahan. Sehingga responden merasa terbebani
dengan petanyaan yang ada dalam kuesioner.
(8) Social Desirability (keinginan disukai secara sosial). Suatu pertanyaan
dimana tanggapan responden menimbulkan dampak sosial.
(9) Length

of

questions

(panjang

pertanyaan).

Suatu

pertanyaan

yang

sederhana, pendek dan singkat lebih baik daripada pertanyaan yang banyak
dan panjang. Lazimnya suatu pertanyaan / pernyataan didalam kuesioner
mestinya sekitar 20 kata atau melebihi satu garis penuh.
d. Sequencing of questions (urutan pertanyaan).
Urutan pertanyaan koisoner sebaiknya dimulai dari yang bersifat lebih umum ke
pertanyaan spesifik, dan dari pertanyaan yang relatif mudah ke pertanyaan yang
semakin sulit dijawab.

15

Dalam menentukan urutan pertanyaan, disarankan tidak menempatkan secara


berdekatan pertanyaan positif dan negatif yang mengungkap elemen atau
dimensi konsep yang sama.
e. Data rahasia atau data pribadi.
Jangan menanyakan masalah pribadi kepada responden.
2) Prinsip Pengukuran
Angket yang diberikan kepada responden adalah merupakan instrumen penelitian,
yang digunakan untuk mengukur variabel yang akan diteliti. Oleh karena itu,
instrumen angket tersebut harus dapat digunakan untuk mendapatkan data yang
valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data penelitian
yang valid dan reliabel, maka sebelum isntrumen angket tersebut diberikan pada
responden, maka perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Instrumen
yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data maka akan
menghasilkan data yang tidak valid dan tidak reliabel pula.
3) Penampilan Fisik Angket
Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon
atau keseriusan responden dalam mengisi angket. Angket yang dibuat di kertas
buram akan mendapat respon yang kurang menarik bagi responden, bila
dibandingkan angket yang dicetak dalam kertas yang bagus dan berwarna. Tetapi
angket yang dicetak di kertas yang bagus dan berwarna akan menjadi mahal.
3. DIMENSI SURVEY INTERNASIONAL
Ada dua hal yang menyangkut masalah dimensi survey internasional:
a) Special issues in instrumentation for cross- cultural research
Special issues in instrumentation for cross- cultural research adalah isu khusus
tertentu mengenai riset budaya sebagai rancangan instrumen untuk pengumpulan
data dari berbagai negara.
b) Issue in data collection
Terdapat tiga topik penting dalam isu internasional yaitu budaya pengumpulan data
kesamaan responden, pemilihan waktu pengumpulan data, dan status dari individu
peneliti. Pengumpulan data dalam survey international harus memperhatikan
perbedaan budaya masing-masing negara sehingga penting bagi peneliti untuk
memperkenalkan studi, peneliti, keterangan penelitian pada awal penelitian, agar
ketepatan waktu karena perbedaan budaya dapat diatasi.

16

4. MULTIMETODE PENGUMPULAN DATA


Jika metode wawancara, kuesioner, dan observasi di lakukan bersama-sama, maka
seluruhnya akan memiliki hubungan yang kuat, dan akan meningkatkan kepercayaan
atas data yang dikumpulkan. Hubungan yang tinggi diantara data yang diperoleh
beberapa variabel dari sumber yang berbeda dan melalui metode pengumpulan data
yang berbeda maka data yang diperoleh menjadi lebih kredibel.
5. IMPLIKASI MANAJERIAL
Dalam melakukan penelitian manajer akan melibatkan konsultan untuk melakukan
penelitian. Meskipun demikian, selama penelitian, ketika memperoleh hasil wawancara
yang berkaitan dengan pekerjaan melalui wawancara dengan klien, pekerja atau
karyawan,

atau

lainnya,

manajer

akan

mengetahui

bagaimana

mengutarakan

pertanyaan yang dapat memberikan tanggapan dari responden yang bermanfaat untuk
penelitian.
6. ETIKA DALAM PENGUMPULAN DATA
Etika dan Peneliti
a) Memperlakukan informasi yang diperoleh dengan kepercayaan dan menjaga privasi.
b) Tidak salah menyajikan sifat studi kepada subjek.
c) Peka terhadap permintaan informasi pribadi atau yang dapat mengganggu, harus
menawarkan alasan yang khusus.
d) Tidak boleh merusak harga diri subjek penelitian.
e) Tidak memaksa untuk merespon survei.
f)

Pengamat non-partisipan sebaiknya tidak mengganggu sebisa mungkin.

g) Dalam studi lab, subjek diberikan pengungkapan alasan eksperimen.


h) Subjek tidak pernah diekspos agar tidak mengalami ancaman fisik atau mental.
i)

Tidak salah menyajikan atau distorsi dalam melaporkan data yang terkumpul.

Perilaku Etika Responden


a) Didalam pokok materi ketika mencoba mengambil pilihan suatu studi maka perlu
bekerjasama secara penuh dalam tugas seperti untuk menjawab survey atau ambil
bagian dalam suatu experimen
b) Reponden harus memiliki suatu kewajiban untuk percaya dan jujur dalam
menanggapi suatu survey.

17

C. INSTRUMEN
Instrumen penelitian ialah alat bantu yang digunakan dalam sebuah penelitian untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diolah dan disusun secara sistematis. Menurut
Teguh (2001), terdapat langkah-langkah dalam penyusunan instrument, yaitu:

Analisis variabel penelitian, yaitu mengkaji variabel menjadi sub penelitian sehingga
indikatornya dapat diukur dan menghasilkan data yang akurat. Peneliti dapat
menggunakan teori ataupun konsep pengetahuan ilmiah yang relevan dengan variabel
tersebut, atau dengan menggunakan fakta berdasarkan pengamatan secara langsung.

Penetapan penggunaan jenis instrumen dalam mengukur variabel, subvariabel,


ataupun indikatornya. Setiap variabel dapat diukur dengan satu atau lebih jenis
instrumen.

Menyusun kisi-kisi instrument. Berisi materi, jenis, dan banyaknya pertanyaan serta
waktu yang dibutuhkan. Setiap indikator akan menghasilkan beberapa isi pertanyaan,
serta abilitas yang diukur atau kemampuan yang diharapkan dari subjek penelitian.

Menyusun item pertanyaan, yang harus disesuaikan dengan jenis dan jumlah
instrumen berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Selain itu, peneliti dapat membuat
pertanyaan beberapa pertanyaan cadangan. Setiap item pertanyaan yang telah dibuat,
jawaban atau gambaran yang diinginkan dari pertanyaan tersebut harus dibuat oleh
peneliti.

Revisi instrumen. Instrumen yang telah dibuat sebaiknya dilakukan uji coba guna
perbaikan isi dan pembahasan, menghilangkan instrumen yang tidak sesuai atau diganti
dengan instrumen yang baru.

1. JENIS INSTRUMEN PENELITIAN


1. Instrumen Tes
Menurut Arikunto (2002:127) tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat
lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan intelegensi,
kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Macam-macam
Instrumen tes:
Tes kepribadian yaitu tes yang digunakan untuk mengungkap kepribadian
seseorang. Yang diukur bisa self-concept, kreativitas, disiplin, kemampuan
khusus,dll.
Tes bakat, untuk mengukur atau mengetahui bakat seseorang.
Tes intelegensi yaitu tes yang digunakan untuk mengukur tingkat intelektual
seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan
diukur intelegensinya.

18

Tes sikap yaitu alat yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap
berbagai sikap seseorang.
Tes minat, untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
Tes prestasi yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang
setelah mempelajari sesuatu.
2. Instrumen Nontest
Angket atau kuesioner, adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau
hal-hal yang ia ketahui. Kuesioner terdiri dari 4 jenis:
a) Kuesioner pilihan ganda
b) Kuesioner isian
c) Check list yaitu responden tinggal membubuhkan tanda check()
d) Rating-scale. Misalnya mulai dari setuju sampai ke sangat setuju.
3. Interview.
Interview yang sering disebut juga dengan wawancara atau kuesioer lisan adalah
sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari
terwawancara.Interview digunakan oleh peneliti untuk meneliti keadaan seseorang.
Interview terdiri dari:
a)

Interview bebas, pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi tetap focus
pada data utama yang akan dikumpul.

b)

Interview terstruktur, pewawancara telah menyiapkan sederetan pertanyaan


lengkap dan terperinci.

c)

Interview semistruktur, kombinasi antara interview bebas dan interview


terstuktur.

4. Observasi
Sering disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan mengamati sesuatu objek
dengan

menggunakan

seluruh

alat

indra,

baik

penglihatan,

penciuman,

pendengaran, peraba, maupun pengecap. Penelitian observasi dapat dilakukan


dengan tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.Observasi dapat di bagi
menjadi 2 jenis yaitu:
a)

Observasi non-sistematis yang dilakukan

oleh pengamat

dengan tidak

menggunakan instrumen pengamatan.


b)

Observasi sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan menggunakan


pedoman sebagai instrumen pengamatan.

5. Dokumentasi

19

Dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan inilah kita telah
menggunakan metode dokumentasi. Kita dapat memperhatikan tiga macam sumber
dalam metode dokementasi, yaitu tulisan (paper), tempat (place), dan kertas atau
orang (people). Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki
benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan,
notulen rapat, catatan harian, dsb. Metode dokumentasi dapat dilaksanakan dengan:
a)

Pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan
dicari datanya.

b)

Check-list, yaitu daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Dalam hal ini
peneliti tinggal memberikan tanda atau tally setiap pemunculan gejala yang
dimaksud.

2. CONTOH INSTRUMEN YANG DIKEMBANGKAN


Judul penelitian:
Gaya dan Situasi Kepemimpinan serta Pengaruhnya Terhadap Iklim Kerja Organisasi
Judul tersebut terdiri atas dua variabel independen dan satu variabel dependen.
Masing-masing instrumennya adalah:
1) Instrumen untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan;
2) Instrumen untuk mengukur variabel situasi kepemimpinan;
3) Instrumen untuk mengukur variabel iklim kerja organisasi.
Kisi-Kisi Instrumen yang diperlukan untuk mengukur gaya kepemimpinan, situasi
kepemimpinan dan iklim kerja organisasi sebagai berikut:
Variabel Penelitian
Gaya Kepemimpinan

Indikator
1.Kepemimpinan direktif
2.Kepemimpinan supportif
3.Kepemimpinan partisipatif

Situasi Kepemimpinan 1.Hubungan pemimpin dengan anggota


2.Tugas-tugas
3.Power position
Iklim Kerja Organisasi 1.Otonomi dan fleskibilitas
2.Menaruh kepercayaan dan terbuka
3.Simpatik & memberi dukungan
4.Jujur dan menghargai
5.Kejelasan tujuan
6.Pekerjaan yang berisiko
7.Pertumbuhan kepribadian

No. Item Instrumen


1,4,7,10,13,16
2,5,8,11,14,17
3,6,9,12,15,18
1,2,3,4,5,6
7,8,9,10,11,12
13,14,15,16,17,18
1,2
3,4
5,6
7,8
9,10
11,12
13,14

Instrumen yang diperlukan untuk mengungkapan gaya kepemimpinan. Bentuk


isntrumen pilihan ganda.
Mohon dijawab pertanyaan-pertanyaan berikut sesuai dengan hasil pengamatan
Bapak/Ibu/Saudara.
1. Apakah pemimpin anda menjelaskan tugas-tugas yang harus dikerjakan
kelompok?
20

a.Tidak pernah
b.Jarang sekali
c.Sering
d. Selalu
2. Apakah pimpinan anda menunjukkan hal-hal yang dapat menarik minat kerja
pegawai?
a.Tidak pernah
3. Apakah

peminpin

b.Jarang sekali
anda

mengajak

c.Sering
anggota

d. Selalu

kelompok

bersama-sama

merumuskan tujuan?
a.Tidak pernah
b.Jarang sekali
c.Sering
d. Selalu
Instrumen yang diperlukan untuk mengungkapan situasi kepemimpinan. Bentuk
instrumen checklist.
No Pertanyaan tentang situasi kepepimpinan
1 Apakah para pegawai memberi dukungan
kepada para pemimpin?
7 Apakah tujuan kelompok diberikan dengan jelas
oleh pimpinan?
13 Apakah berbagai pengetahuan dalam bidang
manajerial dipunyai oleh pimpinan?

SB

SK

TA

Instrumen yang diperlukan untuk mengungkapan situasi kepemimpinan. Bentuk


instrumen rating scale.
No Pertanyaan tentang iklim kepepimpinan
1 Terdapat fleksibilitas dalam menggunakan waktu
dan sumber-sumber untuk mencapai tujuan.
3 Pimpinan sangat menaruh kepercayaan kepada
anda.
5 Atasan anda selalu memperhatikan problem
yang anda hadapi.
7 Kontribusi
kepada
lembaga
mendapat
tanggapan yang cukup menyenangkan.

Tingkat persetujuan
4
3
2
1
4

Bentuk-bentuk isntrumen yang akan dipilih tergantung beberapa faktor, diantaranya


adalah teknik pengumpulan data yang akan digunakan. Bila akan menggunakan angket,
maka bentuk pilihan ganda lebih komunikatif, tetapi tidak hemat kertas, dan instrumen
menjadi lebih tebal sehingga responden malas untuk menjawabnya. Bentuk checklist
dan rating scale dapat digunakan sebagai pedoman observasi maupun wawancara.

21

BAB III
KESIMPULAN
1. Untuk mengukur beragam hipotesis di tempat kerja yang memengaruhi efektivitas
organisasi maka kita harus mengukur keragaman di tempat kerja dan efektivitas
organisasi.
2. Cara untuk mengukur dari konsep abstrak ke cara yang nyata disebut operationalizing.
a. Langkah pertama adalah untuk datang dengan definisi konstruk yang Anda ingin ukur.
b. Langkah kedua adalah pengembangan dari serangkaian memadai dan perwakilan dari
item atau pertanyaan.
c. Langkah ketiga adalah pengukuran skala.
d. Langkah selanjutnya yaitu mengecek validitas dan reliabilitas.
3. Elemen dapat diamati dan diukur sehingga menghasilkan suatu indeks pengukuran
konsep berupa elemen dimensi 1,2,3,4,5.
4. Tipe skala pengukuran dalam penelitian ada 4, yaitu: nominal (nominal), ordinal (ordinal),
interval (interval), dan rasio (rasio), yang oleh Bailey (1982:64) dikelompokkan dalam dua
kelompok, yaitu: pengukuran kualitatif (nominal), dan pengukuran kuantitatif (ordinal,
interval, dan rasio).
5. Suatu instrumen pengukur dikatakan teliti atau cermat jika memiliki kemampuan
menunjukkan secara cermat dan teliti ukuran besar kecilnya gejala yang akan diukur.
Reliabilitas pengukuran menghasilkan stabilitas dan konsistensi dalam pengukuran.
Jenis-jenis kuisioner terdiri dari kuesioner yang diberikan secara pribadi, kuesioner surat
dan, elektronik.
6. Pedoman untuk mendesain kuesioner terdiri dari prinsip penulisan, prinsip pengukuran,
dan penampilan fisik angket.
7. Dimensi survey internasional terdiri dari special issues in instrumentation for crosscultural research dan issue in data collection
8. Jika metode wawancara, kuesioner, dan observasi di lakukan bersama-sama, maka
seluruhnya akan memiliki hubungan yang kuat, dan akan meningkatkan kepercayaan
atas data yang dikumpulkan.
9. Langkah-langkah dalam penyusunan instrumen terdiri dari:
a. Analisis variabel penelitian
b. Penetapan penggunaan jenis instrumen dalam mengukur variabel, subvariabel,
ataupun indikatornya.
c. Menyusun kisi-kisi instrument.
d. Menyusun item pertanyaan
e. Revisi instrumen
DAFTAR PUSTAKA

22

Cooper, Donald R., dan C. William Emory. 1995. Metode Penelitian Bisnis. Edisi Ke-5.
Diterjemahkan oleh : Dra. Ellen Gunawan, M.A. dan Imam Nurmawan, S.E.
Jakarta : Erlangga
Sekaran, Uma dan Roger Bougie. 2013. Research Methods for Business. Chichester : Jhon
Wiley & Sons Ltd.
Sugiono. 2007 Metode Penelitian Bisnis Bandung : Alfabeta

23