Anda di halaman 1dari 15

NEGARA DAN PEMERINTAH SEBAGAI SASARAN

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK


Ismail Siagian 1509200070011
Fakhriza 1509200070014
ABSTRAK
Penyelenggaraan pemerintahan negara untuk mewujudkan
tujuan bernegara menimbulkan hak dan kewajiban negara yang
dapat dinilai dengan uang yang perlu dikelola dalam suatu
sistem pengelolaan keuangan negara. Konsekuensi atas hak dan
kewajiban tersebut harus dipertanggung jawabkan kepada
publik. Implementasi akuntansi sektor diharapkan mampu
mewujudkan transparansi dan akuntabilitas sehingga tercapai
good governance dan good government. Paper ini akan
mendiskusikan mengenai negara dan pemerintah sebagai
sasaran akuntansi sektor publik yang berkaitan dengan
pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan. Pembahasan dalam paper ini hanya
berdasarkan literatur-literatur yang tersedia, baik berupa buku
teks, artikel/jurnal, dan peraturan perundangan-undangan.
Keyword: keuangan negara, akuntabilitas, sektor publik

I.

PENDAHULUAN
Negara Kesatuan Republik Indonesia menyelenggarakan

pemerintahan

negara

dan

pembangunan

nasional

untuk

mencapai masyarkat adil, makmur dan merata berdasrkan


Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
Pemerintah mengemban amanat rakyat untuk mencapai
cita-cita bangsa yang tercantum dalam konstitusi negara yaitu
kemakmuran yang adil dan beradab, melindungi, memandaikan,
menyehatkan, memberdayakan, melayani dan sebagainya. Agar
pemerintah mampu melaksanakan tugas, pemerintah diberi
kewenangan untuk melakukan berbagai hal-hal seperti menarik

pajak, membuat aturan, memaksa, menghukum, mengadili. Di


sisi lain negara dituntut pertanggungjawaban (akuntabilitas) atas
penyelengaraan pemerintahan.
Tuntutan masyarakat akan transparansi dan akuntabilitas
publik

untuk

meningkatkan

lembaga-lembaga
perkembangan

sektor

akuntansi

publik
sektor

semakin
publik

di

Indonesia. Akuntansi sektor publik memiliki kaitan yang erat


dengan penerapan dan perlakuan akuntansi pada domain publik.
Adanya sistem tata kelola keuangan pemerintah yang baik agar
setiap transaksi yang dilakukan dapat dipertanggung jelaskan
dan dipertanggung jawabkan dihadapan publik, sehingga Good
Government yang dicita-citakan bisa terwujud.
Tujuan penulisan paper untuk mendiskusikan mengenai
negara dan pemerintah sebagai sasaran akuntansi sektor publik
yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara yang
diatur

dalam

peraturan

perundang-undangan.

Pembahasan

dalam paper ini hanya berdasarkan literatur-literatur yang


tersedia,

baik

berupa

buku

teks,

jurnal,

dan

peraturan

perundangan-undangan.
Bagian selanjutnya, bagian II (pembahasan), paper ini akan
mengulas secara ringkas pengertian negara dan pemerinrah,
membahas

keuangan

negara

dan

APBN/APBD,

pertanggungjawaban pengelolaan keuangan negara, mencoba


melihat kondisi faktual penerapan akuntansi pemerintahan, dan
menggambarkan tantangan ke depan akuntansi sektor publik.
Terakhir, bagian III akan memberikan kesimpulan atas tujuan
penulisan paper ini.
II.

PEMBAHASAN

Negara dan Pemerintah


Negara
wilayah

yang

didefinisikan
mempunyai

sebagai

organisasi

kekuasaan

dalam

tertinggi

yang

suatu
sah,

mempunyai

kesatuan

politik,

berdaulat

sehingga

berhak

menentukan tujuan nasionalnya. Negara juga merupakan suatu


wilayah yang memiliki suatu sistem atau aturan yang berlaku
bagi semua individu di wilayah tersebut, dan berdiri secara
independen. Syarat primer sebuah negara adalah memiliki
rakyat, memiliki wilayah, dan memiliki pemerintahan yang
berdaulat. Sedangkan syarat sekundernya adalah mendapat
pengakuan dari negara lain.
Pemerintah adalah sistem yang menjalankan wewenang
dan kekuasaan mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik
suatu negara atau bagian-bagiannya atau sekelompok orang
yang secara bersama-sama memilikul tanggung jawab terbatas
untuk menggunakan kekuasaan.
Berdasarkan

pengertian

tersebut

jelas

bahwa,

pemerintahan negara republik indonesia dibentuk dalam rangka


pencapian tujuan bernegara sebagaimana tercantum dalam
alinea

IV

Pembukaan

Undang-Undang

Dasar

1945

dan

menjalankan berbagai fungsi pemerintahan dalam berbagai


bidang.

Pembentukan

pemerintahan

negara

tersebut

menimbulkan hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai


dengan

uang

yang

perlu

dikelola

dalam

suatu

sistem

pengelolaan keuangan negara.


Keuangan Negara
Definisi keuangan negara adalah semua hak dan kewajiban
negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu
baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut (UU 17/2003). Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dinyatakan bahwa
pendekatan yang digunakan dalam merumuskan Keuangan
Negara adalah dari sisi objek, subjek, proses, dan tujuan.

Dari sisi objek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara


meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai
dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang
fiskal,

moneter

dan

pengelolaan

kekayaan

negara

yang

dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun


berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung
dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dari sisi subjek, yang dimaksud dengan Keuangan Negara
meliputi

seluruh

sebagaimana

subjek

tersebut

di

yang

memiliki/menguasai

atas,

yaitu:

pemerintah

objek
pusat,

pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain


yang ada kaitannya dengan keuangan negara.
Dari sisi proses, Keuangan Negara mencakup seluruh
rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan objek
sebagaimana tersebut di atas mulai dari perumusan kebijakan
dan

pengambilan

keputusan

sampai

dengan

pertanggunggjawaban.
Dari

sisi

tujuan,

Keuangan

Negara

meliputi

seluruh

kebijakan, kegiatan dan hubungan hukum yang berkaitan dengan


pemilikan dan/atau penguasaan objek sebagaimana tersebut di
atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.
Salah satu ruang lingkup dari keuangan negara adalah
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disamping
barang-barang inventaris kekayaan negara dan Badan Usaha
Milik Negara (BUMN).

APBN dan barang-barang inventaris

kekayaan negara dikelola langsung oleh negara, sehingga kedua


merupakan unsur penting dalam keuangan negara. Pada tingkat
daerah, terdapat ruang lingkup serupa dengan kekuangan
negara, yaitu Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD),
barang-barang inventaris kekayaan daerah, dan Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD). APBD dan barang-barang inventaris
kekayaan daerah dikelola langsung oleh daerah.

Hal-hal

baru

dan/atau

perubahan

mendasar

dalam

ketentuan pengelolaan keuangan negara yang diatur dalam UU


No. 17 Tahun 2003 meliputi pengertian dan ruang lingkup
keuangan

negara,

asas-asas

umum

pengelolaan

keuangan

negara, kedudukan presiden sebagai pemegang kekuasaan


pengelolaan
presiden
lembaga,

kepada
susunan

penyusunan
mengenai

keuangan

dan

negara,

menteri
APBN

keuangan
dan

penetapan

penyusunan

pendelegasian

dan

dan

APBD,
APBN

kekuasaan

menteri/pimpinan

ketentuan

dan

penetapan

APBD,
APBN

mengenai
ketentuan

dan

APBD,

pengaturan hubungan kekuangan antara pemerintah pusat dan


bank sentral, pemerintah daerah dan pemerintah/lembaga asing,
pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah dengan
perusahaan negara, perusahaan daerah, dan perusahaan swasta,
dan badan pengelola dana masyarakat, serta penetapan bentuk
dan batas waktu penyampaian laporan pertanggung jawaban
pelaksanaan APBN dan APBD.
Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance
dalam penyelenggaraan negara, pengelolaan keuangan negara
perlu

diselenggarakan

secara

profesional,

terbuka,

dan

bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah


ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Aturan pokok
Keuangan Negara telah dijabarkan ke dalam asas-asas umum,
yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam
pengelolaan keuangan negara, seperti asas tahunan, asas
universalitas, asas kesatuan, dan asas spesialitas maupun asasasas baru sebagai pencerminan penerapan kaidah-kaidah yang
baik (best practices) dalam pengelolaan keuangan negara.
Penjelasan

dari

masing-masing

asas

tersebut

adalah

sebagaiberikut.

1.

Asas Tahunan, memberikan persyaratan bahwa anggaran Negara


dibuat secara tahunan yang harus mendapat persetujuan dari

2.

badan legislatif.
Asas Universalitas (kelengkapan), memberikan batasan bahwa
tidak

3.

diperkenankan

terjadinya

percampuran

antara

penerimaan negara dengan pengeluaran negara.


Asas Kesatuan, mempertahankan hak budget dari dewan secara
lengkap, berarti semua pengeluaran harus tercantum dalam

4.

anggaran.
Asas Spesialitas mensyaratkan bahwa jenis pengeluaran dimuat
dalam mata anggaran tertentu/tersendiri dan diselenggarakan

5.

secara konsisten baik secara kualitatif maupun kuantitatif.


Asas Akuntabilitas berorientasi pada hasil, mengandung makna
bahwa

setiap pengguna

menerangkan

kinerja

anggaran wajib

organisasi

atas

menjawab

keberhasilan

dan
atau

6.

kegagalan suatu program yang menjadi tanggung jawabnya.


Asas Profesionalitas mengharuskan pengelolaan keuangan

7.

negara ditangani oleh tenaga yang profesional.


Asas Proporsionalitas; pengalokasian anggaran dilaksanakan
secara proporsional pada fungsi-fungsi kementerian/lembaga

8.

sesuai dengan tingkat prioritas dan tujuan yang ingin dicapai.


Asas Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara,
mewajibkan
penetapan,

9.

adanya
dan

keterbukaan

perhitungan

dalam

anggaran

pembahasan,

serta

atas

hasil

pengawasan oleh lembaga audit yang independen.


Asas Pemeriksaan Keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas
dan mandiri, memberi kewenangan lebih besar pada BPK
untuk melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan keuangan
negara secara objektif dan independen.
Asas-asas umum tersebut diperlukan pula guna menjamin
terselenggaranya prinsip-prinsip pemerintahan daerah. Dengan
dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam undang-undang
tentang Keuangan Negara, pelaksanaan undang-undang ini
selain menjadi acuan dalam reformasi manajemen keuangan

negara, sekaligus dimaksudkan untuk memperkokoh landasan


pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
APBN/APBD
Anggaran

adalah

alat

akuntabilitas,

kebijakan

ekonomi.

Sebagai

instrumen

anggaran

berfungsi

untuk

mewujudkan

manajemen,

kebijakan

dan

ekonomi,

pertumbuhan

dan

stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam


rangka mencapai tujuan bernegara. Anggaran negara adalah
rencana

pengeluaran/belanja

dan

penerimaan/pembiayaan

belanja suatu negara selama periode tertentu.


Pengertian anggaran negara dapat dibedakan dalam arti
luas dan arti sempit. Dalam arti luas, anggaran negara berarti
jangka waktu perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggung
jawaban anggaran. Sedangkan dalam arti sempit, anggaran
negara berarti rencana pengeluaran dan penerimaan hanya
dalam kurun waktu satu tahun. Anggaran negara memiliki
beberapa fungsi, yaitu:
1. Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola negara
selama periode mendatang.
2. Sebagai
alat
pengawas

bagi

masyarakat

terhadap

kebijaksanaan yang telah dipilih pemerintah karena sebelum


anggaran dijalankan harus mendapatkan persetujuan dewan
terlebih dahulu.
3. Sebagai
alat

pengawas

bagi

masyarakat

terhadap

kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan


yang dipilihnya karena sesudah anggaran dijalankan harus
dipertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada dewan.
APBD didefinisikan sebagai rencana organisasi keuangan
pemerintah daerah, di satu pihak menggambarkan perkiraan
pengeluaran

setinggi-tingginya

guna

membiayai

kegiatan-

kegiatan dan program-program daerah selama satu tahun

anggaran tertentu, di pihak lain menggambarkan perkiraan dan


sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaranpengeluaran.
Melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 2003, pemerintah
berupaya mendesain sistem perencanaan anggaran relatif lebih
efektif

dalam

pengalokasiannya,

efisien

pelaksanaannya,

akuntabel, transparan, dan lebih mengedepankan pencapaian


target kebijakan yang terukur dalam melakukan pengeluaran
anggaran.
Undang-undang

tersebut

dijabarkan

dalam

Peraturan

Pemerintah No. 21 Tahun 2014 tentang Penyusunan Rencana


Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga, mengamanatkan
tiga

pendekatan

memformulasikan

yang

harus

perencanaan

dijadikan
dan

referensi

dalam

mengimplementasikan

kebijakan angarannya, yaitu:


1. Pendekatan Penganggaran Terpadu (unified budget), pada
dasarnya memuat semua kegiatan instansi pemerintah dalam
APBN yang disusun secara terpadu.
2. Penganggaran
Berbasis
Kinerja

(performance

based

budgeting), memperjelas tujuan dan indikator kinerja sebagai


bagian dari pengembangan sistem penganggaran berbasis
kinerja.
3. Pendekatan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah/KPJM
(medium term expenditure framework/MTEF), pendekatan
dengan perspektif jangka menengah memberikan kerangka
menyeluruh,

meningkatkan

keterkaitan

antara

proses

perencanaan dan penganggaran, mengembangkan disiplin


fiskal, mengarahkan alokasi sumber daya agar lebih rasional
dan strategis, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat
kepada

pemerintah

dengan

pemberian

pelayanan

yang

optimal dan lebih efisien.


Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara

APBN/APBD sebagai interpretasi keuangan negara, yang


dalam pelaksanaannya harus dipertanggungjawabkan. Dalam
rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD, setiap
entitas pelaporan wajib menyusun dan menyajikan 1) Laporan
Keuangan; dan 2) Laporan Kinerja (UU No. 17/2003). Laporan
Keuangan sebagaimana dimaksud disusun dan disajikan sesuai
dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Laporan Kinerja,
berisi ringkasan tentang keluaran dari masing-masing kegiatan
dan hasil yang dicapai dari masingmasing program sebagaimana
ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBN/APBD.
SAP dituangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 71 tahun
2010

tentang

Standar

Akuntansi

Pemerintah,

yang

mengamanatkan diterapkannya akuntansi basis akrual paling


lambat pada tahun anggaran 2015. SAP berfungsi sebagai
pengontrol jalanya Tata Kelola Keuangan Pemerintahan yang
baik. Ia juga berfungsi sebagai tolak ukur kesuksesan didalam
pengimplementasian Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara.
Penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan yang
memenuhi prinsip-prinsip tepat waktu dan disusun dengan
mengikuti SAP merupakan upaya konkret untuk mewujudkan
transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara.
Pemerintah Sebagai Entitas Pelaporan
Istilah

entitas

pelaporan

disebut

dalam

perundang-

undangan melalui penjelasan pasal 51 ayat (2) dan ayat (3) dari
Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan
negara,

berbunyi

merupakan

entitas

tiap-tiap
pelaporan

kementerian
yang

tidak

negara/lembaga
hanya

wajib

menyelenggarakan akuntansi, tetapi juga wajib menyampaikan


laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Dalam
Peraturan Pemerintah No. 08 Tahun 2006 tentang Pelaporan

Keuangan dan Kinerja

Instansi Pemerintah,

bahwa

entitas

Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau


lebih

entitas

akuntansi

yang

berkewajiban

menyampaikan

laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan (pasal 1


ayat 11). Entitas Pelaporan terdiri dari pemerintah pusat,
pemerintah

daerah,

kementerian

negara/lembaga,

dan

Bendahara Umum Negara (pasal 3 ayat 1).


Jadi, Sebagai entitas pelaporan, maka pemerintahan baik
pusat maupun daerah wajib merencanakan, mengganggarkan
dan

mempertanggungjawabkan

anggaran

yang

telah

di

pergunakan oleh daerah tersebut melalui mekanisme audit yang


dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.
Perhatian para pemakai eksternal kepada entitas pembuat
laporan keuangan itu berbeda-beda dan mereka tidak dapat
mensyaratkan informasi yang khusus mereka inginkan di laporan
keuangan. Oleh kerena informasi dalam laporan keuangan itu
tidak ditunjukkan kepada kelompok-kelompok pemakai tertentu
melainkan

kepada

semua

pemakai

tanpa

membedakan

kepentingannya masing-masing, maka informasi tersebut harus


dapat memenuhi interest mereka yang dipandang serupa.
Laporan keuangan yang menyajikan informasi yang memenuhi
common interest atau common needs para pemakai tersebut
disebut laporan keuangan umum atau dikenal dengan sebutan
general purpose financial reports (GPFR).
Seiring

dengan

penunjukan

daerah

sebagai

entitas

pelaporan, maka secara otomatis akan lebih memudahkan kerja


pemerintahan pusat untuk mewujudkan Good Governance and
Good Corporate Governance. Dimana aturannya, masing-masing
kepala daerah seperti Gubernur, Walikota dan Bupati terkena
kewajiban
tanggung

menyelenggarakan
jawab

pengelolaan

akuntansi

sebagai

perbendaharaan,

bentuk

sedangkan

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai pengguna

10

anggaran dan/atau barang terkena kewajiban menyelenggarakan


akuntansi

sebagai

bentuk

tanggung

jawab

pengelolaan

perbendaharaan kepada kepala daerah bersangkutan. Jadi bisa


disebutkan, bahwa masing-masing kepala pemerintahan daerah
mempunyai tanggung jawab lebih dalam mengemban amanat
konstitusi ini, dibandingkan dengan satuan kerja-satuan kerja
yang lainnya. Oleh karena itu, masing-masing kepala daerah
dirasakan wajib untuk mengetahui mekanisme-mekanisme yang
utuh tentang pelaksanaan sistem akuntansi daerah agar tidak
terganjal dengan kasus penyelewengan anggaran daerah.
Kondisi Faktual Penerapan Akuntansi Berbasis Akrual
Sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 17 Tahun 2003
tentang

Keuangan

pendapatan

dan

Negara,
belanja

pengakuan

berbasis

dan

akrual

pengukuran

paling

lambat

dilaksanakan tahun 2008. Akan tetapi, sampai dengan tahun


2010,

pengakuan

dilaksanakan

dan

dan

pengukuran

masih

berbasis

menggunakan

basis

akrual

belum

kas.

Dalam

perkembangannya, pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan


Pemerintah No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) yang menganut basis akrual penuh.
Selanjutnya

Kementerian

Dalam

Negeri

(Kemendagri)

menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) No.


64 Tahun 2013 tentang Penerapan SAP Berbasis Akrual pada
Pemda. Pada Pasal 10 Permendagri tersebut diatur bahwa
penerapan SAP berbasis akrual paling lambat tahun 2015.
Berdasarkan Permendagri No. 43 Tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kemendagri, Direktorat Pelaksanaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Dit. P2KD) bertugas
melaksanakan sebagian tugas Direktorat Jenderal Bina Keuangan
Daerah

di

bidang

pelaksanaan,

penatausahaan,

akuntansi,

pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan daerah. Salah

11

satu fungsinya melaksanakan pembinaan umum di bidang


pelaksanaan,

penatausahaan,

akuntansi,

pelaporan,

dan

pertanggungjawaban keuangan daerah.


Hasil

pemeriksaan

BPK

tahun

anggaran

2015,

menunjukkan implementasi SAP berbasis akrual secara umum


belum efektif karena masih ditemukan permasalahan antara lain:
1. Penyiapan dan pembinaan kepada pemda oleh Kemendagri
belum optimal
2.

Kebijakan akuntansi dan praktik pencatatan pendapatan,


beban, aset, dan kewajiban pada pemerintah pusat belum
mendukung

3.

Pengendalian aplikasi pada SPAN atas proses rekonsiliasi


masih lemah

4.

Kementerian

Keuangan

belum

memiliki

kebijakan,

pedoman, dan prosedur terkait dengan mekanisme Control


Self Assessment (CSA)
5.

Upaya-upaya yang dilakukan pemda untuk mendukung


pelaporan keuangan berbasis akrual belum sepenuhnya
efektif

Tantangan pada Masa Mendatang


Sebagai

salah

satu

instrumen

ekonomi

politik

yang

strategis, kebijakan anggaran tidak akan lepas dari kepentingan


dan

proses

politik.

Untuk

menjawab

dinamika

lingkungan

tersebut kebijakan anggaran membutuhkan tingkat fleksibilitas


tertentu untuk bereaksi dan mengantisipasi perubahan signifikan
pada lingkungan, terutama yang berdampak negatif pada
kualitas kehidupan masyarakat luas.
Kecepatan pengambilan keputusan yang akurat menjadi
kunci bagi keberhasilan kebijakan anggaran, dan untuk itu
perubahan paradigma yang cukup radikal harus beradi dilakukan.
Sehingga apabila ada perubahan kebijakan pemerintah tidak

12

seharusnya

bersifat

sementara, tetapi

sudah

direncanakan

dengan baik.
Khusus untuk reformasi akuntansi sektor publik, ada
beberapa tantangan yang dihadapi oleh pemerintah, diantaranya
adalah:
1. Harus tersedia sistem akuntansi dan teknologi informasi yang
mampu mengakomodasi persyaratan-persyaratan dalam.
2.

Harus ada komitmen dan dukungan politik dari pimpinan


dan para pengambil keputusan dalam pemerintahan.

3.

Harus tersedia sumber daya manusia yang kompeten dan


profesional dalam pengelolaan keuangan.

4.

Lingkungan/masyarakat yang juga harus mengapresiasi


dan

mendukung

keberhasilan

penerapan

akuntansi

pemerintahan.
5.

Dukungan dari auditor, karena perubahan basis akuntansi


akan mengubah cara pemeriksaan yang dilakukan oleh
pemeriksa.

6.

Adanya sistem penganggaran berbasis akrual, karena jika


anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaannya masih
berbasis kas sedangkan realisasinya berbasis akrual, maka
antara

anggaran

dan

realisasinya

tidak

dapat

diperbandingkan.
7.

Adanya
kearah

resistensi

sistem

pihak

akuntansi

internal
berbasis

terhadap
akrual,

perubahan
sehingga

membutuhkan sosialisasi yang maksimal terkait dengan


sistem tersebut (Akhyaruddin, 2013).
III.

KESIMPULAN
Negara dan pemerintah sebagai sasaran akuntansi sektor

publik merupakan konsekuensi dari pembentukan pemerintahan


negara

Indonesia.

Pembentukan

pemerintahan

tersebut

menimbulkan hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai

13

dengan

uang

yang

perlu

dikelola

dalam

suatu

sistem

pengelolaan keuangan negara. Sistem pengelolaan keuangan


negara diatur dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003, yang
mengatur prinsip-prinsip pengelolaan keuangan negara.
Penerapan prinsip pengelolaan keuangan negara yang
transparan dan akuntabel diyakini berpengaruh besar atas upaya
pencapaian tujuan bernegara. Adanya akuntansi sektor publik
diharapkan pemerintah bisa lebih transparan dan akuntabel di
dalam menjalankan tata kelola keuangan dan penggunaan
anggaran. Karena, bagaimanapun juga, masyarakat sebagai
pihak yang paling dominan di dalam memberikan dana kepada
pemerintahan melalui mekanisme pajak, tidak menginginkan
adanya

penyimpangan

keuangan,

karena

hal

itu

akan

menghambat tujuan bernegara.


REFERENSI
Akhyaruddin, M. 2013. Tantangan Penerapan Akuntansi Berbasis
Akrual
di
Pemerintahan
Indonesia.
http://kaseiur.blogspot.co.id/2013/06/tantangan-penerapanakuntansi-berbasis.html
Arif, E. 2013. Negara dan Pemerintah sebagai Sasaran Akuntansi
Sektor Publik. Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akutansi. 21
(2), 43-55.
Badan Pemeriksa Keuangan. 2016. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semester II Tahun 2015.
Halim, A. dan Kusufi, MS., 2012. Akuntansi Sektor Publik:
Akuntansi Keuangan Daerah. Edisi keempat. Jakarta:
Salemba Empat.
Halim, A. dan Kusufi, MS., 2014. Teori, Konsep, dan Aplikasi
Akuntansi Sektor Publik: dari anggaran hingga laporan
keuangan dari pemerintah hingga tempat ibadah. Edisi 2.
Jakarta: Salemba Empat.
Renyowijoyo, M. 2010. Akuntansi Sektor Publik: organisasi
nirlaba. Edisi 2. Jakarta: Mitra Wacana Media.

14

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan


Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.
Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2014 tentang Penyusunan
Rencana Kerja Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara.

15