Isi Terapi Cairan Pada DBD
Isi Terapi Cairan Pada DBD
PENDAHULUAN
kritis selam 2-3 hari. Pada waktu fase ini pasien sudah tidak demam, akan tetapi
mempunyai risiko untuk terjadi renjatan jika tidak mendapat pengobatan tidak
adekuat3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Demam Berdarah Dengue
2.1.1 Definisi
Demam dengue adalah sindrom jinak yang disebabkan oleh arthropodborne
viruses dengan karakteristik demam bifasik, nyeri otot dan sendi, ruam kulit,
leukopenia, dan limfadenopati. Demam berdarah dengue adalah demam dengue
dengan kondisi hemoragik seperti trombositopenia, hemokonsentrasi dan dalam
beberapa kasus kasus yang parah, protein-losing shock syndrome (dengue shock
syndrome). Kondisi ini dipercaya memiliki hubungan basis imunopatologis4,5.
2.1.2 Epidemiologi
Dengue merupakan penyakit virus yang paling cepat menyebar di dunia.
Dalam 50 tahun terakhir, insiden meningkat sebanyak 30 kali . Diperkirakan 50 juta
infeksi dengue terjadi tiap tahun dan diperkirakan 2,5 miliar orang tinggal di Negara
yang endemik dengue.
masyarakat di Asia Tenggara, setelah perang dunia II, ada kenaikan yang dramatis
dalam jumlah dan frekuensi epidemi penyakit demam berdarah di Asia Tenggara 6. Di
seluruh dunia, 2,5 hingga 3 miliar orang diperkirakan beresiko terjangkit virus
dengue. Penyakit ini paling banyak menyerang anak anak dengan angka fatalitas
kasus berkisar antara 1% hingga 10 % (rata rata 5 %). Diperkirakan terjadi 50
hingga 100 juta kasus demam dengue per tahun, 500.000 kasus DBD perlu di rawat
inap setiap tahunnya dengan persentase 90% pada anak anak yang berusia di bawah
15 tahun rata rata kematian mencapai 5% dari semua kasus DBD.
Istilah
hemorrhagic fever di Asia Tenggara pertama kali digunakan di Filipina pada tahun
19537. Di Indonesia DBD pertama kali dicurigai di Surabaya pada tahun 1968, tetapi
konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970 dan pada tahun 1993 DBD telah
menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia. Dalam penelitian di Indonesia didapati
laki laki lebih tinggi terkena DBD dibandingkan perempuan dengan perbandingan
1,4:1 dikarenakan nyamuk Aedes aegypti yang aktif menggigit pada siang hari
dengan dua puncak aktivitas yaitu pada pukul 08.00 12.00 dan 15.00 17.00, pada
jam tersebut anak-anak biasanya bermain di luar rumah. Pada penelitian yang
diadakan pada tahun 2009, 5 provinsi yang memiliki angka insiden tertinggi yaitu
DKI Jakarta dengan angka insiden 313 kasus setiap 100.000 penduduk, lalu disusul
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Bali, dan Kepulauan Riau. Kasus DBD
perkelompok umur dari tahun 1993 - 2009 terjadi pergeseran. Dari tahun 1993 sampai
tahun 1998 kelompok umur terbesar kasus DBD adalah kelompok umur <15 tahun,
tahun 1999 - 2009 kelompok umur terbesar kasus DBD cenderung pada kelompok
umur >=15 tahun2. Untuk di Bali, rasio insiden pada tahun 2013 sebesar 174,5 per
100.000 penduduk, dimana jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 20128.
2.1.3 Etiologi
Demam berdarah dengue dan demam dengue disebabkan oleh infeksi virus
dengue, yang termasuk dalam genus Flavivirus, dari famili Flaviviridae. Virus dengue
termasuk dalam virus RNA (dengue fever). Hasil translasi genom ini dapat berupa
satu rantai polipeptida berupa tiga protein struktural (capsid=c, premembrane= prM,
dan envelope =E) dan tujuh protein non struktural (NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A,
NS4B, dan NS5). Polipeptida tersebut membentuk menjadi masing-masing protein
dengan adanya aktivitas berbagi enzim, baik dari virus maupun dari penjamu. Protein
prM yang terdapat saat virus belum matur oleh enzim furin diubah menjadi protein
M. Protein M, bersama dengan protein C dan E membentuk capsul dari virus
sedangkan protein non struktural tidak ikut membentuk struktur virus. Satu-satunya
protein non struktural yang dapat disekresikan oleh sel penjamu mamalia tetapi tidak
oleh oleh nyamuk adalah NS1, sehingga dalam darah penjamu dapat ditemukan
sebagai antigen NS18. Demam berdarah dengue disebabkan oleh infeksi virus dengue
dimana Virus dengue merupakan anggota dari famili Flaviviridae. Virus lain yang
termasuk dalam family virus ini adalah virus Hepatitis C. Famili virus ini memiliki
genome RNA yang tunggal yang terbungkus dalam kapsul ikosahedral. Hasil translasi
genom ini dapat berupa satu rantai polipeptida berupa tiga protein struktural
(capsid=c, premembrane=prM, dan envelope =E) dan tujuh protein non struktural
(NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A, NS4B, dan NS5). Polipeptida tersebut membentuk
menjadi masing-masing protein dengan adanya aktivitas berbagi enzim, baik dari
virus maupun dari penjamu. Protein prM yang terdapat saat virus belum matur oleh
enzim furin diubah menjadi protein M. Protein M, bersama dengan protein C dan E
membentuk capsul dari virus sedangkan protein non struktural tidak ikut membentuk
struktur virus. Satu-satunya protein non struktural yang dapat disekresikan oleh sel
penjamu mamalia tetapi tidak oleh oleh nyamuk adalah NS1, sehingga dalam darah
penjamu dapat ditemukan sebagai antigen NS19.
Dengue virus dikategorikan sebagai dikategorikan sebagai arbovirus atau
virus demam hemoragik karena mereka ditransmisikan oleh vector antropoda dan
menyebabkan demam hemoragik yang mengganggu system kardiovaskular. Terdapat
empat tipe serotype dari virus dengue yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia,
yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-410. Sertipe yang dapat ditemukan dan paling
banyak beredar di suatu negara tidaklah sama, namun keempat serotipe dapat
ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak (3) Infeksi
dengue dapat ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegipty (dahulu
disebut Aedes aegipty) dan Stegomiya albopictus (dahulu disebut Aedes albopictus).
Stegomiya aegipty (Aedes aegipty) merupakan vektor utama, terutama terdapat di
daerah tropis dan sub tropis. Nyamuk ini memiliki pola hidup yang menjadikannya
sangat potensial untuk menularkan virus, karena memiliki afinitas tinggi untuk
menggigit manusia (antropofilik) dan bisa menggigit lebih dari satu individu
(multiple bite)9.
2.1.4 Patofisiologi
Dua teori yang banyak dianut dalam menjelaskan patogenesis infeksi dengue
adalah hipotesis infeksi sekunder (secondary heterologous infection theory) dan
hipotesis immune enhancement.
pasien yang memiliki keadaan tersebut akan bertambah parah dengan kehilangan
volume plasma. Efusi pleura dan ascites dapat terdeteksi tergantung dari tingkat
keparahan kebocoran plasma tersebut. Maka foto thorax dan USG abdomen dapt
digunakan sebagai alat bantu diagnosa. Kadar hematokrit yang melebihi batas normal
dapat digunakan sebagai acuan melihat derajat keparahan kebocoran plasma. Syok
dapat terjadi jika volume plasma berkurang hingga titik kritis dan sering didahului
oleh warning signs. Syok yang berlangsung lama, menyebabkan hipoperfusi organ
sehingga
dapat
mengakibatkan
gangguan
organ,
metabolik
asidosis,
dan
pada akhir dari fase demam, biasanya terjadi saat hari ke-3 hingga 7. Muntah yang
persisten dan nyeri perut yang parah meru[pakan indikasi awal dari plasma leakage
dan menjadi lebih parah saat pasien berlanjut ke status syok. Rasa lelah dan
mengantuk pasien menjadi meningkat tetapi secara mental tidak. Gejala-gejala ini
tetap bertahan hingga saat tingkat syok. Lemah, pusing dan hipotensi postural
sering terjadi saat tingkat syok. Peningkatan ukuran hati juga sering terjadi.
Bagaimanapun, akumulasi cairan klinis bisa dideteksi jika kehilangan plasma
terjadi secara signifikan atau setelah penatalaksanaan dengan cairan intravena.
Penurunan platelet secara cepat dan progresif hingga 100.000 sel/mm3 dan
peningkata hematokrit bisa menjaditanda awal dari plasma leakage. Leukopenia
juga bisa terjadi pada tingkat ini7.
3) Fase Recovery/Penyembuhan
Pasien yang melewati fase kritis akan memasuki fase recovery / penyembuhan
dimana terjadi reabsorpsi cairan extravaskular dalam 48-72 jam, dimana keadaan
umum akan membaik, nafsu makan bertambah, gejala gastrointestinal berkurang,
status hemodinamik stabil, dan diuresis terjadi. Ruam, pruritis, bradikardia dapat
terjadi pada fase ini (WHO, 2009). Hematokrit dapat kembali stabil atau menurun
akibat efek pengenceran dari absorpsi cairan. Sel darah putih perlahan mengalami
8
2.1.6 Diagnosis
WHO poada tahun 2011 menyatakan terdapat kriteria klinis dan kriteria
laboratorium untuk mendiagnosis Demam Berdarah Dengue:
a. Kriteria Klinis:
1. Demam: onsetnya akut, demamnya tinggi dan berkelanjutan, bertahan dua
hingga 7 hari pada kebanyakan kasus.
2. Terdapatnya tanda-tanda pendarahan dimana tes yang paling umum digunakan
adalah tes tourniquet. Tanda-tanda pendarahan lainnya seperti ptekie, purpura,
ekimosis, epiktasis, pendaraham, dan hematoma atau melena.
3. Pembesaran hati (hepatomegali) sering dirasakan pada sebagian kasus yang
terjadi pada anak-anak.
4. Syok, syok ini ditandai dengan takikardi, perfusi jaringan yang rendah dengan
denyut yang leemah, denyut, tekanan darah juga menurun hingga 20 mmHg
b.
1.
2.
3.
Kriteria Laboratorium
Trombositopenia (100.000 sel /mm3 atau kurang)
Hemokonsentrasi: hematokrit meningkat lebih dari 20
Dua kriteria pertama ditambah dengan adanya trombositopenia dan
hemokonstentrasi cukup untuk menegakkan diagnosis DBD. Dua kriteria
pertama ditambah pembesaran hati juga bisa diusulkan sebagai DBD seblum
munculnya plasma leakage.
Adanya efusi pleura (pemeriksaan x-ray dan ultrasound) merupakan bukti paling
objektif dari plasma leakage, sedangkan hipoalbuminemia merupakan bukti
pendukung.2 bukti ini sangat berguna untuk mendiagnosis DBD pada pasien yang
mengalami anemia, pendarahan berat, ketika tidak ada baseline hematokrit, dan
peningkatan hematokrit kurang dari 20% karena pemberian terapi cairan yang segera.
Pada pasien dengan syok, hematokrit yang tinggi dan trombositopenia yang bermakna
mendukung diagnosis DSS11.
10
Komponen utama dalam tubuh manusia adalah air, dimana sebanyajk 63%
pada manusia dewasa. Sebuah peningkatan kandungan lemak sering dihubungkan
dengan umur, obesitas, dan jenis kelamin wanita. Alhasil, persentase air pada wanita
menurun hingga 52%. Yang terlarut didalam air adalah karbondioksida (CO2), nutrisi,
protein, dan ion-ion. Cairan di dalam tubuh dibagi menjadi dua bagian yaitu cairan
intraseluler dan ekstraseluler15. Cairan intraselular merupakan cairan yang berada di
dalam sel tubuh sedangkan cairan ekstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel
dan terdiri dari tiga kelompok yaitu cairan intravaskular (5% dari berat badan),
interstitial (15% dari berat badan), dan transeluler yang meliputi sinovial, intraokuler
dan lain lain. Cairan intravaskular merupakan cairan yang berada dalam sistem
vaskular, cairan interstitial adalah cairan yang terletak diantara sel-sel tubuh,
sedangkan cairan transelular adalah cairan sekresi khusus. Cairan intraselular dan
ekstraselular dipisahkan oleh membran semipermeabel. Sebesar 40% dari berat badan
tubuh terdiri dari cairan intraseluler dan 20% sisanya mengisi ekstraseluler yaitu 15%
mengisi cairan interstitial dan 5% mengisi plasma. Meskipun demikian faktor-faktor
seperti umur, berat badan, jenis kelamin dapat mempengaruhi variasi jumlah cairan
tubuh12.
2.3 Terapi Cairan
2.3.1 Definisi
Terapi cairan adalah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh
dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infuse kristaloid (elektrolit) atau koloid
(plasma ekspander) secara intravena14. Terapi cairan ini dilakukan pada pasien-pasien
yang mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, contohnya kehilangan
cairan akibat muntah dan diare, dan dehidrasi. Indikasi pemberian terapi cairan juga
antara lain apabila tubuh tidak dapat memasukkan air, elektrolit, dan zat-zat makanan
secara oral karena berbagai sebab, diantaranya adalah pembedahan saluran cerna,
puasa, perdarahan masif, stok, anoreksia, mual muntah yang persisten, dan lain-lain 12.
Secara umum tujuan terapi cairan adalah sebagai berikut.
1. Mengganti cairan yang hilang
11
12
kristaloid, misanya NaCL 0,9% dan Ringer laktat atau koloid misalnya
Dextrans 40 dan 70. Expafusin, Hemasel, Albumin, dan Plasma.
3. Cairan untuk tujuan khusus lainnya
Pemberian cairan juga dapat bertujuan khusus, misalnya untuk
mengoreksi keseimbangan elektrolit, cairan yang digunakan dapat berupa
natrium bikarbonat 7,5% kalsium glukonas, dan lain-lain.
4. Cairan nutrisi
Cairan ini digunakan sebagai nutrisi parenteral pada pasien yang tidak
mau makan, tidak boleh makan, dan tidak bisa makan peroral. Jenis cairan
nutrisi parenteral pada saat ini sudah dalam berbagai komposisi baik untuk
parenteral parsial atau total maupun untuk kasus penyakit tertentu13.
2.3.3 Jenis-Jenis Cairan Intravena
Terapi cairan intravena terdiri dari cairan kristaloid, koloid, atau suatu kombinasi
kedua-duanya. Solusi cairan kristaloid adalah larutan mengandung ion dengan berat
molekul rendah (garam) dengan atau tanpa glukosa, sedangkan cairan koloid berisi
ion dengan berat molekul tinggi seperti protein atau glukosa. Cairan koloid menjaga
tekanan onkotik koloid plasma dan mengisi intravaskular, sedangkan cairan kristaloid
dengan cepat didistribusikan keseluruh ruang cairan ekstraselular (interstisial). Ada
kontroversi mengenai penggunaan cairan koloid dan kristaloid. Para ahli mengatakan
bahwa koloid dapat menjaga tekanan onkotik plasma, koloid lebih efektif dalam
mengembalikan volume intravaskular dan curah jantung. Ahli yang lain mengatakan
bahwa pemberian cairan kristaloid efektif bila diberikan dalam jumlah yang cukup.
1. Cairan Kristaloid
Kristaloid sering didefinisikan sebagai cairan dari ion organik dan molekul
organic kecil yang tercampur didalam air. Kristaloid juga merupakan larutan dengan
air (aqueous) yang terdiri dari molekul-molekul kecil yang dapat menembus
membran kapiler dengan mudah. Biasanya volume pemberian lebih besar, onset lebih
cepat, durasinya singkat, efek samping lebih sedikit dan harga lebih murah.
Kandungan utama pada cairan kristaloid adalah antara glukosa atau sodium klorida
(Saline) dan cairan bisa bersifat isotonik, hipotonik atau hiprtonik yang sesuai dengan
13
14
Cairan isotonik terdiri dari cairan garam faali (NaCl 0,9%), ringer laktat
dan plasmalyte. Ketiga jenis cairan ini efektif untuk meningkatkan isi
intravaskuler yang adekuat dan diperlukan jumlah cairan ini 3 kali lebih besar dari
kehilangannya. Cairan ini cukup efektif sebagai cairan resusitasi dan waktu yang
diperlukan pun relatif lebih pendek disbanding dengan cairan koloid.
b. Cairan Hipertonik
Cairan ini mengandung natrium yang merupakan ion ekstraseluler utama.
Oleh karena itu pemberian natrium hipertonik akan menarik cairan intraseluler ke
dalam ekstraseluler. Peristiwa ini dikenal dengan infus internal. Disamping itu
cairan natrium hipertonik mempunyai efek inotropik positif antara lain
memvasodilatasi pembuluh darah paru dan sistemik. Cairan ini bermanfaat untuk
luka bakar karena dapat mengurangi edema pada luka bakar, edema perifer dan
mengurangi jumlah cairan yang dibutuhkan, contohnya NaCl 3%15.
mengandung
partikel
onkotik
dengan
berat
molekul
yang
15
plasma atau cairan pengganti plasma. Cairan koloid dapat bertahan agak lama (waktu
paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskular. Darah dan produk darah (human albumin,
fraksi protein plasma, fresh frozen plasma, larutan imunoglobulin) menghasilkan
tekanan onkotik karena mengandung molekul protein besar. Larutan koloid biasanya
diberikan dalam jumlah yang sama dengan volume kehilangan darah. Secara umum,
pemberian koloid diindikasikan pada resusitasi cairan pada pasien dengan defisit
yang berat pada intravaskuler sebelum transfusi diberikan, resusitasi cairan pada
keadaaan hipoalbuminemi atau suatu kondisi hilangnya protein yang besar contohnya
pada kasus luka bakar. Kerugian koloid yaitu mahal dan dapat menimbulkan reaksi
anafilaktik, koagulasi,dan lain-lain. Berdasarkan pembuatannya terdapat 2 jenis
larutan koloid, yaitu koloid alami dan koloid sintesis. Contoh koloid alami adalah
albumin, sementara koloid sintesis seperti dekstran, gelatin, dan hestartach. Dekstran
tersedia dalam dekstran 70 (Macrodex) dan dextran 40 (Rheomacrodex), yang
memiliki berat molekul masing-masing sekitar 70.000 dan 40.000. Meskipun
dekstran 70 bersifat lebih baik sebagai volume expander lebih dibandingkan dengan
dekstran 40, yang terakhir juga meningkatkan aliran darah melalui mikrosirkulasi
dengan mengurangi viskositas darah. Selain itu, dextran juga memiliki efek
antiplatelet. Apabila melebihi 20 mL / kg per hari, maka dextran dapat mengganggu
blood typing, memperpanjang waktu perdarahan, dan telah dikaitkan dengan gagal
ginjal.Dekstran juga bisa bersifat antigenik, serta dapat memicu reaksi anafilaktoid
dan anafilaksis ringan hingga berat. Hetastarch (hidroksietil starch) tersedia dalam
beberapa formulasi, yang dibedakan adalah dari segi konsentrasi, berat molekul,
tingkat substitusi starch (atas dasar molar), dan rasio hidroksilasi antara C2 dan posisi
C6. Hetastarch sangat efektif sebagai plasma expander dan lebih murah daripada
albumin. Selain itu, hetastarch bersifat nonantigenic, reaksi anafilaktoid serta
gangguan dikatakan tidak signifikan15.
Sifat-Sifat
Berat molekul
Kristaloid
Lebih kecil
Koloid
Lebih besar
Distribusi
Lebih cepat
16
Faal hemostasis
mengganggu
Penggunaan
Untuk dehidrasi
dengan
pendarahan
pendarahan
Tabel 3 Perbandingan cairan koloid dan kristaloid
2.3.4 Terapi Cairan pada Demam Berdarah Dengue
Pada dasarnya terapi DBD adalah bersifat suportif dan simtomatis.
Penatalaksanaan ditujukan untuk mengganti kehilangan cairan akibat kebocoran
plasma dan memberikan terapi substitusi komponen darah bilamana diperlukan.
Dalam pemberian terapi cairan, hal terpenting yang perlu dilakukan adalah
pemantauan baik secara klinis maupun laboratories (ungu). Proses kebocoran plasma
dan terjadinya trombositopenia pada umumnya terjadi antara hari ke 4 hingga 6 sejak
demam berlangsung. Pada hari ke-7 proses kebocoran plasma akan berkurang dan
cairan akan kembali dari ruang interstitial ke intravaskular. Terapi cairan pada kondisi
tersebut secara bertahap dikurangi. Selain pemantauan untuk menilai apakah
pemberian cairan sudah cukup atau kurang, pemantauan terhadap kemungkinan
terjadinya kelebihan cairan serta terjadinya efusi pleura ataupun asites yang masif
perlu selalu diwaspadai. Indikasi terapi cairan intravena pada pasien demam berdarah
adalah11:
1. Pasien tidak bisa mendapatkan cairan yang adekuat melalui oral, atau pasien
muntah.
2. Hematokrit meningkat 10-20% walaupun sudah diberikan rehidrasi secara oral
3. Impending syok atau syok
Prinsip umum terapi cairan pada DBD meliputi 3:
1. Cairan kristaloid isotonik seharusnya digunakan pada fase kritis, kecuali pada
bayi <6 bulan yang menggunakan NaCl 0,45%
2. Cairan kolloid hiperonkotik (osmolaritas >300mOsm/l) seperti dextran mungkin
digunakan pada pasien dengan kebocoran plasma yang masif, yang tidak berespon
pada kristaloid dengan volume minimal.
17
jumlah
3. Durasi terapi cairan intravena seharusnya tidak melebihi 24-48 jam pada pasien
dengan syok atau 60-72 jam pada pasien yang tidak mengalami syok.
4. Pada pasien obese, berat badan ideal harus digunakan sebagai panduan dalam
penghitungan cairan.
Berdasarkan
panduan
WHO
2012,
pasien
dengan
infeksi
dengue
18
Mulai dengan pemberian larutan isotonic (NS atau RL) 5-7 ml/kg/jam selama 1-2
jam, kemudian kurangi kecepatan tetes menjadi 3-5 ml/kg/jam selama 2-4 jam,
dan kemudian kurangi lagi menjadi 2-3 ml/kg/jam sesuai respons klinis.
Nilai kembali status klinis dan evaluasi nilai hematokrit. Jika hematokrit stabil
atau hanya meningkat sedikit, lanjutkan terapi cairan dengan kecepatan 2-3
Mulai resusitasi dengan larutan kristaloid isotonik 5-10 ml/kg/jam selama 1 jam.
Nilai kembali kondisi pasien, jika terdapat perbaikan, turunkan kecepatan tetes
secara gradual menjadi 5-7 ml/kg/jam selama 1-2 jam, kemudian 3-5 ml/kg/jam
selama 2-4 jam, kemudian 2-3 ml/kg/jam selama 2-4 jam dan selanjutnya sesuai
status hemodinamik pasien. Terapi cairan intravena dipertahankan selama 24-48
jam.
Jika pasien masih tidak stabil, cek nilai hematokrit setelah bolus cairan pertama.
Jika nilai hematorit meningkat atau masih tinggi (>50%), ulangi bolus cairan
kedua atau larutan kristaloid 10-20 ml/kg/jam selama 1 jam. Jika membaik
19
dengan bolus kedua, kurangi kecepatan tetes menjadi 7-10 ml/kg/jam selama 1-2
jam dan lanjutkan pengurangan kecepatan tetes secara gradual seperti dijelaskan
-
padapoin sebelumnya.
Jika nilai hematokrit menurun dan pasien masih tidak stabil, hal ini
mengindikasikan adanya perdarahan dan memerlukan transfusi darah (PRC atau
whole blood). Namun bila tidak terdapat perdarahan, berikan bolus cairan koloid
10-20 ml/kgbb.
20
21
22
stabil. Beberapa kekurangan yang mungkin didapatkan biaya yang lebih besar.
Namun beberapa jenis koloid terbukti memiliki efek samping koagulopati dan alergi
yang rendah (contoh: hetastarch). Penelitian cairan koloid dibandingkan kristaloid
pada sindrom renjatan dengue (DSS) pada pasien anak dengan parameter stabilisasi
hemodinamik pada 1 jam pertama renjatan, memberikan hasil sebanding pada kedua
jenis cairan. Sebuah penelitian lain yang menilai efektivitas dan keamanan
penggunaan koloid pada penderita dewasa dengan DBD derajat 1 dan 2 di Indonesia
telah selesai dilakukan, dan dalam proses publikasi. Jumlah cairan yang diberikan
sangat bergantung dari banyaknya kebocoran plasma yang terjadi serta seberapa jauh
proses tersebut masih akan berlangsung. Pada kondisi DBD derajat 1 dan 2, cairan
diberikan untuk kebutuhan rumatan (maintenance) dan untuk mengganti cairan akibat
kebocoran plasma. Secara praktis, kebutuhan rumatan pada pasien dewasa dengan
berat badan 50 kg, adalah sebanyak kurang lebih 2000 ml/24 jam; sedangkan pada
kebocoran plasma yang terjadi seba-nyak 2,5-5% dari berat badan sebanyak 15003000 ml/24 jam. Jadi secara rata-rata kebutuhan cairan pada DBD dengan
hemodinamik yang stabil adalah antara 3000-5000 ml/24 jam. Namun demikian,
pemantauan
kadar
hematokrit
perlu
dilakukan
untuk
menilai
apakah
hemokonsentrasi masih berlangsung dan apakah jumlah cairan awal yang diberikan
sudah cukup atau masih perlu ditambah. Pemantauan lain yang perlu dilakukan
adalah kondisi klinis pasien, stabilitas hemodinamik serta diuresis. Pada DBD dengan
kondisi hemodinamik tidak stabil cairan diberikan secara bolus atau tetesan cepat
antara 6-10 mg/kg berat badan, dan setelah hemodinamik stabil secara bertahap
kecepatan cairan dikurangi hingga kondisi benar-benar stabil. Pada kondisi di mana
terapi cairan telah diberikan secara adekuat, namun kondisi hemodinamik belum
stabil, pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk menilai
kemungkinan terjadinya perdarahan internal1.
23
BAB III
SIMPULAN
1. Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan angka insiden yang terus meningkat.
2. Demam residen dengue menjadi tiga fase berdasarkan gejala klinisnya, yaitu: Fase
Demam, Fase Kritis, Fase Recovery / Penyembuhan
3. Pengobatan pada pasien Demam berdarah dengue (DBD) bersifat suportif terutama
dengan terapi cairan.
4. Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam terapi cairan khususnya pada
penatalaksanaan demam berdarah dengue: pertama adalah jenis cairan dan kedua
adalah jumlah serta kecepatan cairan yang akan diberikan.
5. Kristaloid dan koloid keduanya bisa digunakan dalam pengangan DHF dengan
mempertimbangkan beberapa hal dan tergantung dari derajat penyakitnya.
24