Amin yang Amanah

Amin adalah seorang anak yatim. Ayahnya dulu adalah
seorang polisi yang meninggal ketika berusaha menangkap pengedar
narkoba. Beliau tertembak di bagian dada dan meninggal ketika
dibawa ke rumah sakit.

Ibu Amin adalah

seorang guru honorer di sebuah sekolah. Amin
adalah anak yang pandai dan juga berbakti
kepada

orang

tua.

Ia

tidak

pernah

menyusahkan ibunya. Ia selalu bersyukur
terhadap apa yang sudah diberikan olehnya. Ia
bahkan membantu pekerjaan ibunya seperti
mencuci baju, piring dan lain-lain. Setiap pagi ia membawa jajanan
khas Kalimantan seperti amparan tatak dan amplang kuku macan
untuk dititipkan ke kantin sekolah. Walau begitu, ia tidak ingin
tertinggal pelajaran di sekolahnya. Ia selalu mengulang kembali
pelajaran yang didapatnya di sekolah. Di sekolah ia tidak pernah malu
akan kondisi keluarganya. Walaupun ada beberapa anak yang suka
mengejeknya ia tetap tersenyum.
Di sekolah, Amin mendapatkan kepercayaan menjadi seorang
bendahara kelas. Pribadinya yang jujur serta dapat dipercaya
membuatnya terpilih untuk memegang amanah tersebut. Salah satu
program

dari menjadi

bendahara

adalah setiap anak wajib

mengumpulkan uang kas sebesar Rp5.000,00 setiap minggunya. Uang
kas tersebut akan digunakan untuk membeli keperluan kelas seperti

sapu, penghapus, dan lain-lain. Bahkan jika mencukupi, uang tersebut
akan digunakan untuk membantu biaya wisata ke luar kota ketika
akhir tahun ajaran nanti.
Uang kas yang saat ini dipegang oleh Amin berjumlah
Rp5.000.000,00. Rencananya uang tersebut akan digunakan untuk
biaya wisata ke pantai Lamaru di Balikpapan setelah ujian kenaikan
kelas. Mereka sangat menantikan liburan ini. karena mereka akan
melepaskan penat yang ada di kepala mereka setelah berjibaku dengan
berbagai mata pelajaran yang harus dikuasai ketika ujian nasional
nanti. Mereka berencana akan menggunakan bis dan juga membawa
bekal makanan sendiri sehingga mengurangi biaya pengeluaran.
Semua itu sudah dihitung dengan rapi dan teliti oleh Amin.
“Reng… teng … teng …!”
Bel sekolah berbunyi tiga kali. Tanda bahwa jam pelajaran hari
ini sudah selesai dan para siswa boleh pulang ke rumah. Amin pun
merapikan alat tulisnya dan bersiap untuk pulang ke rumah. Sesampai
di rumah Amin terkejut melihat ibunya berbaring di tempat tidur.
Tidak biasanya pada jam tersebut ibunya masih tidur. Segera ia
menemui ibunya. Ia pegang kening ibunya dan terasa panas sekali.
Ibunya ternyata sakit demam. Ia pun segera pergi ke dapur untuk
mengambil handuk dan semangkuk air. Ia rendam handuk tersebut
dengan air dan meletakkan air tersebut di kening sang ibu.

“Sudah pulang kamu, Min?” Ibu terbangun karena air
kompresan yang terasa dingin di keningnya.
“Ibu jangan bangun dulu. Istirahat saja. Badan ibu panas
sekali, nanti malam kita ke dokter ya, Bu?” jawab Amin.
“Maaf ya, Min, Ibu belum menyiapkan makan siangmu. Badan
Ibu sepertinya meriang. Tidak usah pergi ke dokter, besok juga pasti
sudah sembuh. Ibu juga tidak punya uang untuk pergi ke dokter.”
jawab ibu dengan lirih
“Iya Bu tidak apa-apa, Amin juga masih kenyang. Ibu tenang
saja, Amin akan mencarikan uang untuk ibu pergi ke dokter!” Ia
menjawab dengan mantap.
“Uang dari mana, Min? Ibu tidak mau kalau kamu mencari
uang dengan cara yang tidak halal!” sergah ibunya.
Amin hanya terdiam. Ia

teringat uang yang ia bawa dari

sekolah sebesar Rp.5.000.000,00 tadi. Ia yakin bahwa uang tersebut
cukup untuk membawa ibunya ke dokter dan membeli obat di apotek.
Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana caranya agar
ibunya bisa segera sembuh. Ia sangat sedih melihat ibunya sakit. Ia
pergi ke dapur dan membuatkan ibunya segelas teh hangat. Ia berikan
teh tersebut ke ibunya. Ibunya kembali tertidur. Amin selimuti ibunya
karena ibunya terlihat menggigil kedinginan. Setelah itu ia merapikan
dapur, mencuci baju dan membersihkan rumah. Tak terasa hari sudah

senja. Matahari terbenam di ufuk timur. Ia pun meminta izin kepada
ibunya untuk pergi ke masjid di dekat rumah dan dilanjutkan dengan
mengaji bersama teman-temannya. Ibunya pun mengizinkan karena
merasa tubuhnya sudah lebih baik.
Pada hari itu selepas sholat maghrib ternyata mengaji bersama
ditiadakan dan diganti dengan ceramah. Sebenarnya Amin agak malas
untuk mendengarkan ceramah tersebut. Ia mengkhawatirkan kondisi
ibunya di rumah. Tetapi karena sudah sampai di masjid, ia enggan
untuk pulang. Ia mendengarkan ceramah tersebut dengan rasa malas.
Ternyata materi ceramah hari itu adalah tentang bahaya korupsi dalam
kehidupan sehari-hari. Ternyata korupsi tidak hanya bisa terjadi di
pemerintahan yang biasa ia tonton di TV. Bahkan seorang yang biasabiasa saja pun bisa melakukan korupsi.
“Deg!!” Jantung Amin berdegup dengan keras. Ia tersentak
dari lamunannya. Ia menjadi tertarik dengan penjelasan Pak Ustadz.
“ Bapak, ibu, dan adik-adik yang dirahmati Allah SWT. Di
dalam Al Qur’an sudah dijelaskan pada
Q.S Al-Anfal Ayat 27
"Hai

orang-orang

yang

beriman,

janganlah

kamu

mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah
kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu,
sedang kamu mengetahui."

Q.S Al-Baqarah ayat 188
"Dan

janganlah

sebahagian

kamu

memakan

harta

sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan
(janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda
orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu
mengetahui."
“Ayat tersebut adalah larangan dalam Islam terhadap kegiatan
yang berhubungan dengan korupsi. Korupsi tidak hanya tentang uang
dan jabatan. Sebuah amanah yang diberikan kepada seseorang pun
jika tidak ditepati ataupun ingkar terhadap amanah itu maka ia pun
melakukan korupsi, dan itu sering tidak kita sadari.” Dengan panjang
lebar Pak Ustadz menjelaskan makna korupsi kepada para jamaah
masjid. Terlihat seorang ibu mengangguk-angguk tanda setuju
terhadap penjelasan Pak Ustadz.
“Korupsi kecil-kecilan yang sering kita lakukan sehari-hari
tapi tanpa kita sadari itu contohnya adalah korupsi waktu! Buat bapakbapaknya nih yang sama kantornya disuruh datang jam tujuh, eh
malah datang jam sembilan” Para bapak-bapak yang mendengar
tertawa kecil.
“Kalau ibu–ibunya nih biasanya korupsi uang belanjaan.
Disuruh buat belanja keperluan rumah, eh malah buat bayar cicilan
daster!” Sekarang ibu-ibu yang tersipu-sipu disindir oleh Pak Ustadz.

Tiba-tiba Amin berdiri sambil mengangkat tangannya dan
bertanya kepada Pak Ustadz yang sedari tadi berdiri didepannya.
“Pak Ustadz?!,Kalau anak kecil bisa korupsi gak ya?atau siswa
sekolah bisa korupsi juga gak ya?”
Pak ustadz yang ditanya secara tiba-tiba pun agak kaget
dibuatnya. Selain kaget karena penampakan anak kecil yang tiba-tiba
berdiri di depannya, ia juga tidak siap dengan pertanyaan Amin karena
tidak ada di lembar ceramahnya yang dia siapkan tadi sore. Tetapi
berkat pengalamannya yang sudah sering ceramah di berbagi tempat,
maka pertanyaan tersebut ia jawab dengan tenang.
“Semua orang bisa melakukan korupsi. Bahkan seorang murid
sekalipun. Contohnya jika ia dititipin uang buku sama orang tuanya
atau sama teman sekelasnya. Tapi malah dibelanjain mainan atau
ngebakso di kantin belakang. Nah, itu juga korupsi.” Pak Ustadz
menjelaskan kepada Amin dengan lemah lembut.
“Maka daripada itu kita memohon kepada Allah agar
dijauhkan dari perilaku korupsi dan sifat yang tidak amanah di
manapun kita berada. Amin amin ya robbal aalaamiin”. Pak Ustadz
melanjutkan ceramahnya dan menutupnya dengan doa.
Amin pulang ke rumah dengan hati yang masygul. Ia teringat
dengan penjelasan Pak Ustadz ketika di masjid tadi. Ia adalah seorang
bendahara di kelasnya. Jika ia menggunakan uang kas kelasnya yang

bukan haknya maka ia adalah seorang koruptor. Ia akan menjadi
seorang koruptor cilik. Ia akan mencemarkan nama baik orang tuanya.
Selain itu ia akan mendapatkan azab dari Allah SWT. Sesampai di
rumah, ia mengucapkan salam dan mengetuk pintu dengan pelan dan
lemah.
“ Assalamualaikum,” ucapnya sembari masuk ke dalam
rumah.
“Ibu, ini Amin bawakan berkat dari masjid. Tadi di masjid ada
ceramah dan pulangnya dibagiin berkat. Amin udah makan tadi waktu
di masjid dikasih sama bapak-bapak soalnya dia alergi telur katanya.”
Amin menjelaskan perihal nasi berkat tersebut sebelum ibunya
bertanya.
“Iya, terimakasih ya, Nak”. Ibunya menjawab sambil
tersenyum melihat Amin. Ia sangat bersyukur sekali mempunyai anak
seperti amin yang sangat perhatian terhadapnya. Sebagai seorang ibu,
ia melihat perubahan pada diri amin. Di matanya, Amin terlihat tidak
seceria biasanya. Ia paham bahwa Amin sangat khawatir akan
kondisinya yang sedang sakit. Ia pun berusaha menenangkan hati
Amin yang duduk di sampingnya dan sedang membuka buku
pelajarannya.
“Min, Amin tidak usah khawatir. Ibu cuma kecapekan aja,
besok juga udah sembuh kok. Ibu gak mau kalo Amin sedih kemudian
mencari uang dengan cara yang tidak halal. Nanti bukannya ibu malah

tambah sembuh tapi malah tambah sakit gimana?” Amin pun kaget
dengan penjelasan ibunya. Ibunya bisa membaca isi hati Amin.
“Iya bu, Amin tidak akan mencari uang dengan cara yang tidak
halal kok. Tadi kebetulan gak ngaji trus diganti sama ceramah.
Ceramahnya tentang korupsi.” Amin pun menjelaskan tentang
ceramah yang ia dapatkan di masjid tadi kepada ibunya dengan penuh
semangat. Di sela-sela ceritanya, Amin tertidur. Ia kelelahan karena
seharian belajar dan membantu tugas ibunya di rumah dan dilanjutkan
dengan pergi ke masjid. Ibunya pun menyelimuti Amin. Setelah
meninum obat yang didapat dari Puskesmas, ibunya pun berbaring di
sebelah Amin.
Lamat-lamat terdengar suara azan Shubuh melalui pengeras
suara. Suara khas Pak Dirman yang parau membangunkan penduduk
sekitar untuk shalat Shubuh berjamaah. Amin pun terbangun dan
segera pergi ke dapur untuk berwudhu dan bersiap pergi ke masjid.
Sesampai di masjid ia melaksanakan sholat dengan khusyu. Di akhir
sholatnya ia berdoa untuk kesembuhan ibunya. Karena saat ini, hanya
doa yang ia punya.
“Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang …”
“Hanya kepada Engkaulah aku memohon karena hanya
Engkaulah yang patut aku sembah dan aku panjatkan segala
permohonan…”

“Aku mohon ya Allah… berilah kesembuhan kepada ibuku
tercinta… berilah kekuatan kepada ibuku untuk mengatasi segala
cobaan ini… pulihkanlah kesehatan ibuku seperti sediakala… Aku
mohon ya Allah…”
“Hamba hanyalah seorang anak yang ingin selalu berbakti
kepada orang tuaku… Engkau telah mengambil Ayahku tercinta disaat
aku masih kecil… Ibuku yang telah membesarkan ku seorang diri…
Aku mohon dengan sangat ya Allah… Sembuhkanlah Ibuku…
Kembalikan keceriaan Ibuku… “
“Ya Allah… aku mohon, ya Allah… sembuhkanlah Ibuku…
Amin…”
Selesai berdoa, ia pun kembali pulang dengan perasaan tenang.
Ia yakin bahwa Allah akan menjawab doanya. Dan benar saja, ibunya
seketika sembuh seperti sediakala. Ibunya sudah bangun dan sedang
menyiapkan bekalnya nanti di sekolah. Amparan tatak dan amplang
kuku macan untuk dititipkan di kantin sekolah pun sudah siap.
“Ibu sudah sembuh?”tanya Amin.
“Alhamdulillah, Min, Ibu sudah agak enakan. Mungkin ini
berkat doa anak sholeh yang selalu mendoakan ibunya.”Jawab ibu
sambil tersenyum.

Amin terkejut dengan jawaban ibunya. Sekali lagi ibunya bisa
membaca apa yang ada di dalam pikirannya. Ia sangat bersyukur
ibunya sudah sembuh seperti sedia kala. Tidak dapat ia bayangkan
jika ia menggunakan uang kas kelasnya untuk pergi ke dokter atau
membelikan

ibunya

obat

dengan

uang

yang

haram.

Amin

membuktikan bahwa Allah akan menjaga orang-orang yang amanah
terhadap tugasnya. Allah tidak akan pernah memberikan ujian dan
cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. ♥♥♥

4 Sekawan dan Misteri Hantu Bukit Bangkirai

“Teng .. teng .. teng ..!” Bel sekolah berbunyi tiga kali, tanda
jam pelajaran telah selesai. Tampak siswa-siswi SMP Islam Merah
Putih yang terletak di Jalan D.I. Panjaitan Kecamatan Samarinda
Utara berhamburan ke luar sekolah. Ada beberapa siswa yang
berkumpul untuk menikmati jajanan yang dijual di depan gerbang
sekolah. Ada yang langsung pulang menggunakan sepeda dan ada
juga yang mencari tumpangan. Di sebuah kelas yang papan namanya
tergantung tidak rapi karena rantainya putus sebelah, berlokasi dekat
toilet siswa laki-laki, berkumpullah tiga orang siswa yang terlihat
masih enggan pulang sekolah. Mereka terkenal dengan sebutan Empat
Sekawan karena mereka sangat kompak dan mampu memecahkan
kasus-kasus misterius di sekitar mereka. Kasus terakhir yang mereka
tangani adalah misteri pencurian kotak amal mushola sekolah.
Empat Sekawan terdiri dari empat orang siswa yang berlainan
suku agama dan etnis. Walaupun begitu, mereka sangat menjunjung
tinggi persaudaraan dan persatuan. Aji, si pemimpin dalam kelompok
tersebut, berwajah tampan, bertubuh atletis, jago olahraga, memiliki
kulit putih karena memiliki keturunan Kutai dan Jepang dari ayah dan

ibunya. Wildan, seorang anak laki-laki yang berkemauan keras.
Sebagai seorang anak pelaut dari Sulawesi, ia terkenal tidak takut
dengan apapun selama ia benar. Ia berbadan hitam dan besar, bersuara
keras, dan jago berkelahi karena menjadi anggota Klub Karate di
sekolahnya dan sudah bersabuk coklat. Malky, bermata sipit, berkulit
putih, bertubuh gendut, merupakan anak dari seorang anggota DPR.
Banyak fasilitas yang bisa disediakan oleh Malky untuk teman-teman
anggota Empat Sekawan. Ia juga terbiasa dimanja oleh kedua orang
tuanya. Ia sangat takut dengan hantu.
Siang ini seperti biasanya, mereka berkumpul untuk membahas
sesuatu yang sangat penting.
“Mana nih si Fadhil? Kok gak dateng-dateng? Udah jam
berapa ini, entar keburu sore!” Wildan mulai tidak sabar menunggu
temannya yang satu lagi.
“Iya nih, mana ya Fadhil? Tinggal kita aja ni di sekolah? Entar
kalo ada hantu gimana?” Malky mulai ketakutan.
“Halah, gada itu yang namanya hantu! Dasar manja!” Wildan
menjawab dengan gusar.
“Sudah-sudah, jangan bertengkar. Kita tunggu sebentar lagi
saja. Kalau mereka belum juga muncul, kita tunda rapat kita hari ini.”
Aji mencoba menengahi mereka berdua.

Tak lama kemudian, muncul sesosok anak laki-laki dengan
keringat membasai baju olahraganya.
“Sori, sori. Aku telatkah? Hehehe...” Chris muncul dengan
nafas yang terengah-engah. Chris adalah anak laki-laki yang terkenal
akan kejeniusannya. Bertubuh kurus dan kacamata tebal adalah ciriciri yang mudah diingat dari sosok Chris. Dengan alat-alat canggih
yang dimilikinya, ia bisa membuat berbagai macam peralatan yang
sangat berguna bagi kelompok Empat Sekawan.
“Ikam tu kada telat lagi pang! Hampir bulik dah kami ni
menunggui ikam aja!” Wildan menjawab pertanyaan Chris dengan
sedikit mengomel.
“Sori, aku tadi lagi meneliti tanaman yang mempunyai efek
gatal dan bisa kita gunakan kalo ada kasus. Karena keasikan, eh
sampe kelupaan ternyata,” Chris menjawab dengan cengengesan.
“Oke, karena anggota tim sudah lengkap, kita mulai rapatnya,
ya?” Dengan tenang, Aji memulai rapat pertemuan mereka sore itu.
“Jadi, kita dapat undangan dari pamannya Malky. Beliau
punya penginapan di Bukit Bengkirai. Penginapannya dulu sangat
terkenal dan pengunjungnya pun sangat banyak. Tapi akhir-akhir ini
tidak ada lagi yang mau menginap di sana karena katanya di
penginapan tersebut ada hantunya. Cuma, pamannya Malky tidak
yakin dan tidak mempunyai bukti akan hal itu. Jadi, beliau meminta

pertolongan

kepada

Empat

Sekawan.

Gitu

ceritanya.

Ada

pertanyaan?” Aji menjelaskan kasus yang akan mereka hadapi dengan
detail, sedangkan keempat temannya mendengarkan dengan serius dan
saksama.
“Kalo aku sih oke aja, kebetulan minggu ini aku gada acara,”
kata Chris.
“Kita ke sananya gimana?” Wildan mengajukan pertanyaan.
“Ntar semua akomodasi dan transportasi disediain sama
pamannya Malky. Kita tau beres aja,” Aji menjawab pertanyaan
Malky dengan jelas.
“Tapi gak papa nih kita ambil kasus ini? Ntar kalo muncul
hantu beneran gimana?” Malky mulai ketakutan.
“Udah deh, ntar kalo ada hantunya biar aku yang ngadepin!”
Wildan turun dari meja yang dari tadi ia duduki dan menjawab
pertanyaan Malky sambil menepuk dada.
“Oke, kalo semua memang sudah setuju, berarti kita akan
ambil kasus ini dan kita coba bantu pamannya Malky,” Aji
menyimpulkan.
“Empat Sekawan siap beraksi!” Mereka beradu tangan
mengucapkan yel-yel khas mereka.
***

Hari yang ditunggu pun tiba. Empat Sekawan berkumpul di
gerbang sekolah. Rintik gerimis tidak menghalangi mereka untuk
menangani kasus yang akan mereka pecahkan. Tujuan mereka adalah
Bukit Bangkirai yang merupakan lokasi wisata hutan hujan tropis
yang masih alami, berada di Jalan Raya Soekarno-Hatta km 38,
Kecataman Samboja, Kabupaten Kutai Kertanegara, Balikpapan,
Kalimantan Timur. Kawasan ini berjarak 20 km dari ibukota
Kecamatan Samboja, 58 km dari kota Balikpapan, dan 150 km dari
Kabupaten Tenggarong atau Kota Samarinda. Bukit Bangkirai
mempunyai 45 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam yang
menjadi maskot Kalimantan Timur. Selain itu, pohon bangkirai
merupakan tumbuhan yang mendominasi kawasan hutan ini dengan
umur rata-rata lebih dari 150 tahun, tinggi 40-50 meter, dan diameter
2,3 meter. Itulah sebabnya, kawasan ini dinamakan Bukit Bangkirai.
Terdapat pula beragam satwa yang menghuni hutan ini di antaranya
113 jenis burung, monyet ekor panjang, babi hutan, owa-owa, beruk,
lutung merah, bajing terbang, dan rusa sambar.
Selain keindahan dan kesejukan hutan dengan aneka ragam
flora dan fauna yang ada di kawasan wisata ini, Jembatan tajuk
gantung (canopy bridge) menjadi daya tarik tersendiri. Jembatan ini
terbentang sepanjang 64 meter diatas ketinggian 30 meter dari
permukaan tanah yang menghubungkan 5 pohon bangkirai dengan
masing-masing pohon berjarak sekitar 10-15 meter. Canopy bridge di

Bukit Bangkirai ini merupakan yang pertama di Indonesia, kedua di
Asia, dan kedelapan di dunia.
Sebelum mereka berangkat, Aji memimpin teman-temannya
untuk berdoa agar perjalanan yang akan mereka lalui berjalan dengan
lancar, kasus yang mereka tangani bisa terpecahkan, dan mereka
semua kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Setelah
berdoa,

Empat

Sekawan

berangkat

menuju

Bukit

Bangkirai

menggunakan mobil yang sudah disiapkan oleh paman Malky.
Perjalanan mereka cukup lancar. Tak banyak kendaraan yang
menuju Kota Balikpapan pada hari itu. Dalam waktu kurang lebih dua
jam, mereka sudah sampai di penginapan pamannya Malky.
Penginapan itu bernama Penginapan Anggrek Hitam. Paman Malky
adalah seorang lelaki yang sudah berumur. Badannya tinggi dan tegap,
jauh berbeda dengan postur Malky. Beliau berkumis tipis dan terlihat
beberapa helai uban di rambutnya.
“Ayo masuk. Angggap aja rumah sendiri. Malky sering
bercerita tentang kalian. Empat Sekawan katanya. Paman kira dia
bercanda aja sampai paman baca prestasi kalian di koran. Makanya
paman minta tolong sama Malky supaya Empat Sekawan bisa
membantu paman dalam kasus ini. Penginapan ini seperti ada
penunggunya. Tengah malam sering terdengar teriakan wanita dari
dalam kamar tamu. Pintu kamar juga ada yang menggedor-gedor,
membuat para tamu tidak betah. Belum lagi air toilet yang berubah

menjadi darah.” Paman menyambut Empat Sekawan dengan ramah
dan menceritakan kondisi penginapannya. Terlihat garis kerutan
dahinya dan kantung hitam matanya, menandakan ia memikirkan
kondisi penginapannya yang mulai sepi.
“Iya,

Paman.

Kami

akan

mencoba

untuk

membantu

memecahkan kasus ini. Mudah-mudahan kasus ini bisa kami
selesaikan dengan baik.” Aji menjawab dengan sopan.
“Baiklah kalau begitu. Paman tinggal dulu, ya? Paman masih
ada kerjaan. Malky, ajak teman-temanmu untuk beristirahat dulu di
kamar.” Sambil menenteng tas, paman Malky mempersilakan Empat
Sekawan untuk beristirahat. Ia berlalu menuju mobil hitamnya yang
dari tadi terparkir di halaman penginapan.
“Oke, setelah menaruh barang-barang di kamar, kita langsung
mulai penanganan kasus ini, ya? Waktu kita tidak banyak. Kita harus
segera memecahkan kasus ini tetapi jangan sampai kita salah dalam
penanganannya.” Aji mengkoordinir kawan-kawannya.
“Wildan dan Malky, tugas kalian mencari tahu siapa saja yang
ada di penginapan ini. Jumlah pegawai dan jam kerja mereka. Chris
dan aku, akan mencari tahu peralatan apa saja yang digunakan di
penginapan ini. Apakah ada sesuatu yang aneh di sini atau tidak.
Sejam dari sekarang, kita akan berkumpul lagi di sini dan
menceritakan informasi apa saja yang sudah kita dapat.” Aji
menjelaskan tugas mereka semua.

“Siap, 86, Komendan!” jawab Widlan, Chris dan Malky
serempak.
Sesaat setelah menaruh perlengkapan yang mereka bawa,
mereka berpencar menuju lokasi sesuai dengan tugas mereka
masingmasing. Wildan dan Malky menuju front office dari
penginapan dan lingkungan sekitar penginapan. Chris dan Aji
berkeliling di dalam penginapan memasuki kamar demi kamar.
Penginapan tersebut lumayan besar. Bangunan berarsitektur alam
yang memiliki tiga lantai dan dua belas kamar tersebut memiliki
fasilitas yang lengkap. Seharusnya dengan fasilitas yang ditawarkan
dan harga yang cukup murah membuat penginapan tersebut layak
untuk dinikmati. Tetapi dengan adanya kasus hantu ini, pengunjung
tidak ada yang berani menginap.
Enampuluh menit berlalu. Empat Sekawan telah berkumpul di
kamar tuntuk melaporkan informasi yang sudah mereka temukan.
“Wildan dan Malky, informasi apa yang sudah kalian
temukan?” Aji memulai rapat mereka siang itu.
“Hasil yang kami peroleh adalah penginapan ini memiliki 8
orang pegawai. 2 orang sebagai koki. 4 orang room boy yang bertugas
merapikan setiap kamar di lantainya masing-masing, 1 orang tukang
kebun dan 2 orang cleaning service. Ada 1 orang manaajer yang
bertanggung jawab terhadap penginapan ini. Jam kerja mereka dibagi
menjadi dua yaitu jam 5 pagi hingga 5 sore dan 5 sore hingga jam 5

pagi. Begitu seterusnya. Di sekitar sini juga ada penginapan sejenis.
Pemiliknya adalah Pak Armin, orangnya kurus dan kumisnya tebal
seperti Pak Raden. Sejauh ini, belum ada yang mencurigakan.”
Wildan dan Malky menyampaikan informasi yang mereka dapat
setelah berkeliling.
“Oke, bagus. Informasi yang akurat sekali. Kami pun sudah
mengelilingi penginapan ini. Sepertinya kami sudah menemukan
penyebab gangguan hantu tersebut. Suara wanita, pintu kamar yang
bersisik dan air toilet yang mengeluarkan darah. Sekarang tugas kita
adalah menemukan pelakunya. Kami sudah memasang jebakan. Untuk
menangkap hantu gadungan tersebut. Malam ini, akan kita bongkar
rahasia mereka semua.” Aji menjelaskan informasi yang mereka
dapatkan kepada kedua sahabatnya. Kemudian dengan suara pelan dan
setengah berbisik, Aji menjelaskan tugas masing-masing anggota
kelomponya. Ia takut ada orang lain yang mencuri dengar rencananya.
Jam dinding di penginapan menunjukkan pukul 23.30. Para
anggota Empat Sekawan telah berada di posisi mereka masingmasing, namun belum terlihat gangguan dari Hantu Bukit Bangkirai.
Tepat pukul 12.00, terdengar suara wanita yang berteriak dengan
nyaring di lantai tiga penginapan. Disusul suara gedoran pintu di
lantai dua. Para anggota Empat Sekawan pun keluar dari posisinya
masing-masing.

Malky mematikan saklar lampu di penginapan tersebut.
Penginapan tersebut menjadi gelap gulita.
“Aduh ...!” Prang! Terdengar suara seseorang terantuk meja
dan vas bunga yang terjatuh di lantai.
Dengan cekatan, Aji melempar jaring yang sudah ia siapkan
sebelumnya untuk menangkap Hantu Bukit Bangkirai jadi-jadian
tersebut.
Dari lantai satu terdengar pintu terbuka dan sesosok pria
berusaha kabur melalui pintu belakang, namun Wildan telah berada di
tempat tersebut. Prediksi bahwa anggota kelompok Hantu Bukit
Bangkirai pasti akan kabur melewati tempat tersebut. Wildan bersiap
untuk menangkap pria tersebut.
“Heh, anak kecil, awas! Jangan macam-macam kamu!” Sang
Hantu Bukit Bangkirai mengancam Wildan dengan pisau yang
dibawanya.
“Ayo maju sini dasar hantu jadi-jadian!” Wildan menjawab
tanpa ada rasa takut.
Sang hantu jadi-jadian mencoba menyerang Wildan. Tetapi
serangan dari tersebut hanya mengenai angin. Sebagai seorang
karateka bersabuk coklat, serangan tersebut dapat dengan mudah ia
hindari. Dengan satu gerakan oi zuki jodan, yaitu pukulan ke arah
kepala, membuat hantu jadi-jadian tersebut terhuyung-huyung. Hantu

jadi-jadian itu belum menyerah. Ia mencoba menyerang Wildan
kembali. Dengan teknik mae geri atau tendangan depan ke arah perut,
Wildan membuat hantu tersebut mengerang kesakitan dan tak mampu
berdiri lagi.
Aji pun memberi aba-aba kepada Malky untuk menyalakan
saklar listrik. Penginapan yang gelap gulita pun kembali terang. Dua
hantu jadi-jadian itu dibawa ke lobby penginapan untuk diinterogasi.
Setelah dipertemukan dengan paman Malky, identitas mereka
diketahui. Ternyata hantu jadi-jadian tersebut adalah Pak Komar dan
Pak Karso yang bertugas sebagai roomboy di penginapan tersebut.
Mereka mengaku disuruh oleh Pak Armin untuk menakutnakuti para pengunjung yang menginap di penginapan tersebut dengan
diming-imingi upah yang lebih besar. Mereka juga mengaku bahwa
selain mereka berdua, Pak Armin juga membayar Pak Heru yang
merupakan manajer penginapan tersebut untuk mengatur jam kerja
dan melancarkan aksi mereka berdua. Merasa posisinya terancam, Pak
Heru berusaha kabur. Tetapi dengan sigap, Chris melempar bola-bola
berwarna hijau yang kemudian mengeluarkan asap di tubuh Pak Heru.
Pak Heru kemudian merasa tubuhnya sangat gatal. Ia sampai
menggosok-gosokkan badannya di lantai agar gatal itu hilang. Bolabola hijau itu adalah ekperimen terbaru Chris menggunakan tumbuhan
tanaman jarak pagar. Jarak mengandung zat ricin, yaitu sejenis zat
yang berbahaya karena dapat menghambat sintesis protein, efek
sampingnya antara lain nyeri pada perut, gatal-gatal seluruh tubuh,

pengelupasan kulit telapak tangan dan kaki, pembengkakan, gatal
pada tenggorokan, suara serak, dan menggigil.
Setelah para pelaku hantu jadi-jadian itu tertangkap, paman
Malky menghubungi kepolisian untuk menindak mereka sesuai
dengan hukum yang berlaku. Akhirnya, mereka bertiga pun dibawa ke
kantor polisi beserta barang bukti rekaman CCTV yang menunjukkan
bahwa mereka pelakunya. Sedangkan di tempat terpisah, Pak Armin
juga dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan terkait
keterlibatannya sebagai dalang kasus ini.
“Kok kalian bisa tahu sih kalau mereka pelakunya?” Tanya
paman Malky ke seluruh anggota Empat Sekawan.
“Saya sudah curiga ketika melihat buku jam kerja mereka yang
tidak wajar. Mereka berdua selalu bersama ketika gangguan itu terjadi.
Sedangkan yang mengatur jam kerja mereka adalah Pak Heru sebagai
manajer.” Wildan menjelaskan tugasnya.
“Suara wanita yang biasa terdengar bersumber dari speaker
kecil yang diletakkan di tempat strategis dan bisa dioperasikan
menggunakan handphone. Kebetulan saya juga punya di rumah,
sedangkan air darah di toilet itu hanya akal-akalan mereka yang
mencampur pewarna makanan di flusher toilet,” jawab Chris.
“Tugas saya adalah mematikan lampu, jadi mereka tidak bisa
kabur,” jawab Malky.

“Terima kasih atas bantuan kalian semua. Akhirnya misteri ini
telah terpecahkan. Tanpa bantuan kalian, mungkin Paman akan
kehilangan penginapan ini selama-lamanya.
“Sama-sama, Paman. Memang sudah tugas kami untuk
memcahkan masalah, karena kami adalah Empat Sekawan,” jawab
Aji.

Biodata Penulis
Nama

: Yosimar Akbar, S.Pd,

Tempat, Tanggal Lahir

: Samarinda, 9 Juli 1986

Alamat

: Jalan Mugirejo 20 RT 06

Pekerjaan

: Guru Swasta

Nomor HP

: 0853 9030 9944

E-mail

: Kyoshiemaruakbar@yahoo.co.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful