0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan9 halaman

Inert Gas System Ship

1. Sistem gas inert bertujuan untuk mencegah kebakaran dan ledakan dengan mengurangi kadar oksigen di ruang muat menjadi kurang dari 5% dengan menggunakan gas buang mesin atau generator gas inert. 2. Generator gas inert menyaring gas buang dari pembakaran melalui scrubber dan demister untuk menghilangkan zat-zat berbahaya sebelum didistribusikan ke ruang muat oleh blower. 3. Tujuan utama sistem gas inert adalah men

Diunggah oleh

fitriaulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan9 halaman

Inert Gas System Ship

1. Sistem gas inert bertujuan untuk mencegah kebakaran dan ledakan dengan mengurangi kadar oksigen di ruang muat menjadi kurang dari 5% dengan menggunakan gas buang mesin atau generator gas inert. 2. Generator gas inert menyaring gas buang dari pembakaran melalui scrubber dan demister untuk menghilangkan zat-zat berbahaya sebelum didistribusikan ke ruang muat oleh blower. 3. Tujuan utama sistem gas inert adalah men

Diunggah oleh

fitriaulia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Inert Gas System

System gas inert bertujuan untuk mencegah terjadinya kebakaran maupun ledakan
dengan cara mengurangi jumlah oksigen pada ruang muat hingga kurang dari 5%. Gas inert
dapat diproduksi sendiri di kapal dengan memanfaatkan gas buang mesin, boiler, atau
menggunakan generator gas inert. Gas inert juga dapat digunakan untuk membersihkan udara
dalam tangki sebelum diganti dengan udara yang bersih.
Apabila menggunakan gas buang dari boiler, maka perbandingan antara bahan bakar
dengan udara harus tepat agar kualitas gas inert yang dihasilkan baik. Apabila terlalu banyak
udara maka kandungan oksigen dapat melebihi ambang batas sehingga gas yang dihasilkan tidak
bisa digunakan.Sedangkan apabila terlalu banyak bahan bakar dapat menyebabkan akumulasi
gas hidrokarbon yang sangat berbahaya.
Pada kapal gas tanker inert gas yang digunakan tidak dihasilkan dari gas buang boiler,
melainkan dari generator gas inert. Hal ini disebabkan pada kapal jenis ini dibutuhkan gas inert
dengan kandungan oksigen kurang dari 1%. Generator gas inert terdiri dari ruang pembakaran,
blower, scrubber, dan demister.

Scrubber
Scrubber berfungsi untuk menyaring sekaligus mendinginkan flue gas sebelum akhirnya
masuk ke demister. Proses penyaringan dan pendinginan dilakukan dengan memasukkan air laut
ke demister sehingga flue gas akan melewati air laut ini. Kandungan SO2 yang terdapat pada flue
gas akan bereaksi dengan air laut sehingga akan tersaring, sedangkan partikel-partikel kecil
lainnya juga akan tersaring saat flue gas melewati air laut.

Scrubber harus terbuat dari material yang tahan korosif dan suhu tinggi. Karena pada flue
gas terdapat kandungan SO2 yang apabila bereaksi dengan air akan membentuk asam.
Sedangkan flue gas sendiri merupakan gas buang hasil pembakaran yang suhunya sangat tinggi.

Demister
Demister berfungsi untuk menghilangkan kadar air yang terdapat pada flue gas akibat
dari proses penyaringan pada scrubber. Proses penghilangan kadar air menggunakan
polypropylene atau cyclone dryer. Setelah kadar air dihilangkan, gas ini akan menuju blower dan
siap digunakan.

Blower
Tahap selanjutnya setelah penyaringan adalah distribusi. SOLAS Regulation 62.3.1
mengharuskan gas inert untuk kargo setidaknya berjumlah 125% dari volume kargo yang
dibongkar kapal. Alasannya demi menjamin keselamatan kapal dan kru kapal pada saat bongkar
muat kargo. Diharuskan terdapat 2 buah blower yang dapat digunakan secara bersama-sama.
Beberapa kapal memiliki satu blower besar dan satu blower kecil. Blower besar
digunakan pada saat kegiatan bongkar muat sedangkan blower kecil digunakan untuk menambah
(top-up) pada saat kapal berlayar. Kerugian dari kombinasi ini adalah apabila terjadi kerusakan
pada blower yang besar, maka blower kecil harus digunakan secara terus-menerus sampai blower
besar diperbaiki. Cargo rate juga harus menyesuaikan dengan kapasitas dan batas aman operasi
blower kecil ini. Sehingga tidak jarang kapal memiliki du abuah blower besar yang digunakan
secara bergantian.
Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam pemasangan blower diantaranya ruang
yang cukup untuk pembersihan dan inspeksi, penggunaan material yang tahan terhadap korosi,
drainase, dan lain sebagainya. Kapasitas blower harus tahan terhadap beberapa kehilangan
tekanan yang terjadi pada beberapa titik, seperti scrubber, deck water seal, dan pipa penyaluran.
Blower digerakkan dengan motor listrik yang terhubung pada impeller. Kapasitas serta
rating dari motor harus cukup besar untuk digunakan pada saat beban maksimum. Selanjutnya
gas inert akan memasuki sistem non-return dikenal dengan nama deck water seal dan selanjutnya
gas inert akan memasuki pipa distruibusi.

C. DEFINISI OPERASIONAL.
Untuk mengurangi resiko terjadinya suatu kebakaran dan ledakan di atas kapal tanker maka perlu
ditiadakan adanya sumber api dan udara (atmosfer) yang dapat terbakar yang secara bersamaan,
timbul ditempat yang sama, dan pada waktu yang sama, tidaklah selalu dapat dijamin tidak
adanya kedua faktor ini, sehingga tindakan kewaspadaan umum diatas kapal tanker perlu di
laksanakan dengan tujuan meniadakan salah satu dari padanya.
Berdasarkan pernyataan tersebut maka jelaslah bahwa kebakaran baru bisa terjadi kalau
memenuhi persyaratan dari Segi Tiga Api, dalam bahasan ini adalah;
1. Source of ignition asal dari percikan api
2. Fuel - dalam hal ini hydrocarbon yang memenuhi persyaratan
3. Oxygen yang cukup untuk dapat menimbulkan kebakaran.
Kalau salah satu dari 3 unsur ini tidak ada atau tidak terpenuhi persyaratan jumlah (kadarnya)
maka tidak akan terjadi kebakaran.
Perlu diketahui sedikit mengenai sumber penyalaan (source of ignition) yang pada umumnya ada
diatas kapal tanker, beberapa diantaranya :
1. Nyala api terbuka
a. Merokok, pada waktu berlayar dianjurkan pada ruangan yang telah ditentukan. Nahkoda akan
menetapkan dimana merokok diperbolehkan. Jangan sekali-kali merokok diluar atau pada
geladak terbuka.
b. Korek api gas, korek api gas untuk membakar rokok tidak diijinkan di bawa ke kapal, jika
korek api gas terjatuh diatas dek maka korek api itu bisa bekerja menimbulkan api.
c. Korek api (geretan), hanya menggunakan korek api dari kayu dan gunanya yang berlabel
safety matches. Macam-macam lain dari korek api adalah merupakan suatu ancaman diatas
kapal.
2. Partikel partikel yang terbang; jelaga dari funnel ketika kapal melakukan shoot blow
(meniupkan jelaga keluar melalui funnel), percikan api dari pengelasan dan pemotongan bahan.

3. Percikan-percikan api dari sumber-sumber mekanis dan pergesekan (alat-alat perkakas tangan)
Perkakas tangan yang terbuat dari logam dapat menyebabkan bunga api karena saling
berbenturan satu sama lain.
4. Senter (flashlight); lampu-lampu senter (baterry) dapat menyebabkan bunga api ke uap yang
mudah terbakar. Lampu-lampu senter yang digunakan harus lampu senter terbuat khusus (lampu
senter yang aman dan di akui), lampu senter jenis ini kedap terhadap gas dan air.
5. Perlengkapan domestik; semua peralatan listrik termasuk lampu-lampu harus diperiksa
6. Antenna radio transmitter; pemakaian pemancar radio dalam frekuensi tinggi disekitar antenna
terdapat gas hydrocarbon, karena gelombang radio dapat berubah menjadi potensi listrik.
7. Allmunium; jangan sekali-kali menyeret almunium atau metal-metal yang ringan sepanjang
deck/geladak karena gesekan dapat menimbulkan percikan api.
8. Pakaian sintetik; meskipun tidak menimbulkan elektrostatis, tetapi dalam pemakaian dalam
temperatur tinggi dapat meleleh/terbakar.
9. Petir (halilintar) yang terjadi selama hujan.
10. Listrik statis; prinsip-prinsip dari bahaya elektrostatis menimbulkan bahaya-bahaya
kebakaran dan ledakan pada waktu penanganan minyak bumi dan operasi kapal tanker dengan
tidak ada kekecualian.
Pengalaman telah membuktikan bahwa manusia telah bersusah payah untuk membatasi source of
ignition untuk dihilangkan dari fire triangle dalam pengoperasian tanker tapi tidak pernah
berhasil.
Dalam keadaan inilah peranan dari intalasi gas lembam sangat di perlukan, sesuai dengan
difinisinya Inert gas system adalah: suatu sistem dengan memasukkan gas lembam dari gas
buang hasil dari pembakaran Inert gas generator ke dalam tangki muatan untuk mendesak udara
terutama oxygen keluar dari dalam tangki muatan sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
kebakaran atau ledakan dalam tangki muat tersebut.
Prinsip dari inert gas system adalah untuk mempertahankan kadar oxygen yang rendah didalam
tangki dengan memanfaatkan gas buang dari hasil pembakaran Inert gas generator.
Adapun gas buang yang digunakan harus memenuhi kualitas pembakaran yang baik yaitu harus
memastikan bahwa kandungan oxygen pada gas buang selalu kurang dari 8% dari volume, tetapi
mungkin juga untuk mencapai kandungan oxygen 5% dari volume dengan pemasangan instalasi
yang lebih maksimal.
Dan alasan utama penggunaan gas buang dari Inert gas generator ini adalah :
1. Kadar oxygen dalam gas tersebut cukup rendah jika Inert gas generator terpelihara dengan
baik dan pembakaran cukup sempurna sehigga dapat diatur kurang dari 8%.
2. Pemakaian Inert gas pada waktu kapal loading, Discharging dan tank clening. Dan jika sistem
gas lembam sudah bekerja, penambahan gas lembam hanya sekali-kali saja untuk

mempertahankan kondisi tekanan gas lembam pada tangki muatan dimana pada waktu itu
umumnya kapal berada di pelabuhan.
Sebagai gambaran berikut ini adalah contoh komposisi gas buang dari Inert gas genertor yang
akan digunakan sebagai gas lembam :
1. N2 77% by volume dan sifatnya lembam (inert) gas ini tidak mempengaruhi kondisi
atmosfer dalam tangki nanti, jadi tidak perlu dikhawatirkan.
2. CO2 13% by volume sifatnya lembam (inert) dan toxic (beracun) gas ini tidak akan
membantu adanya combustion (pembakaran) gas ini tidak perlu di ragukan untuk dimasukkan ke
dalam tangki walaupun beracun dan dapat menimbulkan karat.
3. H2O 5% by volume sifatnya lembam (inert) bisa di terima apabila kadarnya rendah.
4. O2 4% by volume sudah jauh dibawah batas terbakar (flammable), bisa diterima.
5. SO2 0,3% sifatnya dapat menimbulkan karat dan beracun, gas ini perlu sedapat mungkin
dikeluarkan dari gas lembam karena sifatnya yang dapat menimbulkan karat.
6. Nox 0,04% by volume, sifatnya beracun bisa diabaikan karena kadarnya rendah.
7. CO 0,1% by volume, sifatnya beracun bisa diabaikan karena kadarnya rendah.
8. Kotoran-kotoran dan abu (shoot and ash) 150 mg/m. barang-barang (zat) ini harus sedapat
mungkin dikeluarkan karena kehadiran zat-zat ini dapat menyumbat sistem, dan menimbulkan
endapan-endapan pada instalasi gas lembam yang mempengaruhi kerja sistem ini.
Jadi yang penting untuk dikeluarkan dari inert gas adalah gas SO2, Shoot and Ash dan
temperatur diturunkan (dinginkan).
Gas Sulphur dioxide (SO2) harus dapat dikeluarkan dari gas lembam yang terbuat dari hasil
pembakaran Inert gas generator, kandungan gas sulphur dioxide tersebut akan terbawa oleh air
pendingin yang berfungsi sebagai pendingin untuk mendinginkan temperature dari gas lembam
tersebut
Selanjutnya air pendingin itu dibuang ke laut dan proses ini terus berlangsung selama inert gas
sistem masih beroperasi.
SO2 + H2O H2SO3 sifatnya corrosive dapat dikeluarkan bersama-sama air pencuci tadi.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa dengan memasukkan gas lembam pada tangki muat
minyak, ledakan dan kebakaran dalam tangki muat dapat dihindari karena kadar oxygen dalam
gas tersebut rendah, dan dengan masuknya sistem gas lembam tersebut dengan sedikit tekanan
akan dapat mendesak gas hydrocarbon dari dalam tangki sampai dibawah apa yang disebut
Lower flammable Limit
Batas teratas disebut Upper Flammable Limit atau UFL. Demikian juga kalau konsentrasi gas
hydrocarbon diatas batas ini maka juga tidak dapat menimbulkan kebakaran (Too Rich).
Flammable range untuk gas hydrocarbon dari bermacam-macam jenis minyak atau petroleum
berbeda-beda tapi sesuai pengalaman batas tersebut antara 1 % sampai 11% Hydrocarbon gas
by volume. Kadar oxygen dalam udara segar adalah 21% dan kalau kadar O2 dikurangi di bawah
10% maka sudah tidak cukup untuk menimbulkan nyala api (Ignition). Sebab itu untuk

menjadikan tangki muat jadi inert harus dimasukkan inert gas kedalam tangki tersebut sampai
dibawah batas kadar oxygen yang bisa membantu menimbulkan ignition.
Karena itu di ambil batas yang aman ialah tangki muat disebut inert kalau kadar O2 dibawah 8%
by volume, untuk hydrocarbon guna mendapatkan campuran gas hydrocarbon dan untuk tidak
menimbulkan ignition maka satu-satunya jalan adalah mengurangi kadar hydrocarbon di bawah
batas Critical Dilution Line . Pada keadan ini maka walaupun ditambah dengan udara segar O2
tidak akan sampai melalui Flammable Range sampai kadar oxygen menjadi 21% by volume.
Proses ini disebut gas free for entry the tank.
Campuran gas hydrocarbon dan udara tidak dapat dinyalakan kalau komposisinya tidak terletak
dalam jangkauan konsentrasi gas dalam udara yang disebut flammable range (jangkauan
bakar).
Batas bawah dari jangkauan ini di sebut lower flammable limit (batas bakar bawah) adalah
suatu konsentrasi hydrocarbon yang apabila dibawah dari konsentrasi tersebut hydrocarbon tidak
cukup untuk mendukung pembakaran.
Batas atas dari jangkauan yang disebut upper flammable limit (batas bakar atas) adalah sesuatu
konsentrasi hydrocarbon yang apabila diatas dari konsentrasi tersebut udara tidak cukup untuk
mendukung pembakaran hydrocarbon.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa inert gas system yang digunakan dikapal adalah dengan
memanfaatkan gas buang hasil pembakaran dari Inert gas generator khusus didesain untuk
keperluan instalasi gas lembam.
Melihat akan kenyataan pentingnya peranan sistem gas lembam pada kapal-kapal tanker,
menjadikan sistem ini suatu sumbangan yang sangat berharga di dalam dunia pelayaran. Yang
mana hal ini menimbulkan rasa keingintahuan para pembacanya dan untuk mempermudah dalam
mempelajarinya maka di bawah ini akan di jelaskan mengenai pengertian dari istilah-istilah yang
ada :
1. Flash point (titik bakar), berarti suhu terendah dimana suatu zat atau bahan bakar cukup
mengeluarkan uap dan terbakar/menyala secara terus-menerus bila diberi sumber panas.
2. Flammable, berarti mudah menyala.
3. Flash point (titik nyala), berarti suhu terendah dimana suatu cairan mengeluarkan gas yang
cukup untuk membentuk suatu campuran gas yang dapat terbakar sesaat jika ada sumber
penyalaan. Suhu ini diukur di laboratorium memakai alat yang standart dengan mengikuti
prosedur yang sudah ditentukan.
4. Flue gas, berarti gas sisa pembakaran yang diambil dari ketel (boiler) di kamar mesin.
5. Gas freeing (pembebasan gas) berarti memasukkan udara segar ke dalam tangki dengan tujuan
mengeluarkan gas-gas beracun, serta meninggalkan kadar oxygen sampai 21% dari volume.
6. Gas lembam, berarti gas atau campuran gas yang tidak cukup mengandung oxygen untuk
mendukung pembakaran hydrocarbon, misalnya gas hasil pembakaran Inert gas generator.
7. Inerting, berarti memasukkan gas lembam ke dalam tangki dengan tujuan untuk mencapai
kondisi lembam seperti didefinisikan dalam kondisi lembam.
8. Kebakaran, berarti bahaya api yang disebabkan oleh terbentuknya proses segitiga api, (bahan
bakar, panas dan oxygen) yang menghasilkan suatu reaksi berantai antara ketiga unsur tersebut
secara tepat dan seimbang.

9. Ledakan, berarti pembakaran yang terjadi dalam ruang tertutup, karena terjadi penambahan
tekanan pada ruang tertutup maka mengakibatkan peledakan.
10. Listrik statis, berarti aliran listrik yang terjadi karena perpindahan elektron-elektron dari
molekul-molekul yang muatannya berlainan, listrik statis ini menimbulkan bunga api yang dapat
menyalakan gas yang ada disekitarnya.
11. Plant gas lembam, berarti semua perlengkapan yang dipasang khusus untuk menghasilkan
gas lembam yang dingin, bersih dan bertekanan beserta alat yang mengontrol penyalurannya ke
dalam sistem tangki muat.
12. Purging, berarti memasukkan gas lembam pada saat tangki dalam keadaan kosong sehingga
menjadi lembam.
13. Sistem distribusi gas lembam, berarti semua pemipaan, kerangan-kerangan dan pasanganpasangan yang berhubungan dengan distribusi gas lembam dari plant ke tangki-tangki muat,
pembuangan gas ke atmosfer dan perlindungan tangki dari tekanan lebih atau vakum.
14. Sistem gas lembam, berarti plant (penghasil) gas lembam dengan sistem distribusi gas
lembam beserta sarana-sarana untuk mencegah aliran balik yang mengandung gas muatan ke
ruangan kamar mesin, alat ukur yang tetap maupun jinjing dan alat pengontrol (control devices).
Dan berikut adalah pengertian dari pada komponen-komponen utama yang di butuhkan:
1. Inert gas scrubber.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk menyaring kotoran-kotoran seperti jelaga dari flue gas
untuk dijadikan inert gas dan juga sebagai tempat pendingin flue gas tersebut.
2. Demister separator.
Adalah suatu alat yang berfungsi sebagai penyaring gas yang sudah dicuci dan didinginkan di
scrubber masuk ke demister dimana masih ada sisa-sisa liquid terutama air.
3. Inert gas blower.
Adalah alat yang berfungsi sebagai pompa pengantar inert gas kedalam tangki-tangki muatan.
4. Deck water seal.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mencegah jangan sampai terjadi aliran balik dari gas
hydrocarbon. Dari tangki-tangki muat ke daerah kamar mesin atau daerah-daerah yang
seharusnya bebas gas dimana alat inert gas terpasang.

5. Non return valve.


Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mencegah kebocoran gas hydrocarbon sebagai akibat
dari back flow dari tangki muatan dan juga untuk mencegah tekanan balik dari cargo gases.
6. Vent mast riser.
Adalah suatu alat yang berfungsi sebagai pembuang gas terutama pada saat loading dan freeing
gas, juga berfungsi untuk tempat memasang savety valve, biasa disebut vent valve.
7. Control system.
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengontrol bekerjanya alat-alat gas lembam dengan baik
dan normal juga untuk memberikan tanda alarm bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
8. Oxygen analyzer.
adalah suatu alat yang berfungsi untuk secara tetap dapat mengontrol kualitas dari gas lembam

dan mempertahankan konsentrasi oxygen (O2) dalam gas tersebut di bawah batas yang
ditentukan.
9. Pressure vacuum breaker (P.V breaker).
Adalah suatu alat yang berfungsi untuk menjaga tangki muat dari kenaikan atau penurunan
tekanan yang tidak normal.

Common questions

Didukung oleh AI

The inert gas system on tankers prevents fire and explosions by reducing the oxygen concentration in cargo spaces below the level required to support combustion. This is achieved by introducing inert gas, primarily composed of nitrogen and carbon dioxide, which displaces the oxygen. Critical components of the system include: 1. Inert Gas Generator: Produces inert gas by using flue gas from the combustion of fuel. 2. Scrubber: Cools and cleans the flue gas, removing sulfur dioxide and particulates. 3. Demister: Removes any residual water from the gas. 4. Blower: Distributes the inert gas to the cargo tank. 5. Deck Water Seal: Prevents the backflow of explosive cargo gases into the engine room. 6. Non-return Valve: Prevents backflow from the cargo tanks. 7. Vent Mast Riser: Releases excess gases and incorporates safety valves. 8. Oxygen Analyzer: Monitors oxygen levels to ensure they remain below safety thresholds. 9. Pressure Vacuum Breaker: Maintains safe tank pressures during operation .

Using sea water in scrubbers is beneficial because it effectively cools and removes particulates and sulfur oxides from the flue gas, leveraging its natural abundance and effectiveness at absorbing and neutralizing acidic components. However, it can also pose problems, such as contributing to corrosion if the materials used in the scrubber are not adequately resistant to the salty and acidic environment. Additionally, the disposal of used seawater back into the ocean must be managed properly to prevent environmental harm, ensuring that it does not carry concentrated pollutants .

Static electricity is a significant risk on tankers because it can lead to sparks capable of igniting flammable gas mixtures. This risk becomes acute during cargo operations when static discharge can occur from the movement of cargo or personnel. Inert gases mitigate this risk by lowering the oxygen content within cargo tanks, preventing any hydrocarbon vapors present from reaching flammable concentrations, even if a static discharge occurs. Therefore, maintaining low oxygen levels mitigates the risk of explosions and fires, even in environments prone to static electricity .

Scrubbers in the inert gas system must be constructed from materials that can withstand high temperatures and corrosive environments. This is vital because the flue gases contain sulfur dioxide (SO2), which reacts with water to form sulfurous acid, a corrosive substance. Thus, the scrubber material needs to be resistant to corrosion and able to operate effectively under the high temperatures of flue gas. Additionally, the scrubber should efficiently remove particulates and cool the gas using seawater. Proper materials and maintenance ensure that the scrubber remains functional and effective in removing impurities from the inert gas, safeguarding the system's operational integrity .

Maintaining appropriate temperature limits in flue gas is critical to prevent equipment damage and ensure the effectiveness of the inert gas system. High temperatures can accelerate corrosion, especially when combined with corrosive components like sulfur dioxide, and can also damage scrubber components or lead to inefficient scrubbing processes. Cooling solutions, such as scrubbers employing seawater, reduce the temperature before the gas is further processed. Incorrect temperature control could lead to inefficiencies in dousing capacity, resulting in ineffective inerting and higher risks of tank explosions or fires .

Deck water seals and non-return valves are crucial components in inert gas systems as they prevent the reverse flow of potentially hazardous gases. Deck water seals use a water barrier to stop returned hydrocarbon gases from leaking back, particularly from cargo tanks to the engine room or areas meant to be gas-free. The non-return valve is a mechanical component that stops gas from flowing back through the system towards the inert gas generator. These components work together to isolate the inert gas system from dangerous backflows, maintaining safety by ensuring that flammable or toxic gases do not reach non-protected parts of the ship .

Inert gas analyzers are critical for ensuring safe tanker operations by continuously monitoring the oxygen concentration in the inert gas being supplied to cargo tanks. They ensure that the oxygen level remains below the threshold necessary to prevent combustion—typically around 8%. By maintaining accurate and real-time data on gas composition, these analyzers allow the crew to make informed decisions about system adjustments, verifying that the inert gas is effectively preventing flammable atmospheres. The analyzers also serve as an early warning system, alerting to any deviations from safe oxygen levels that may require corrective action .

The purging process involves introducing inert gas into cargo tanks to displace flammable atmospheres or air, ensuring the atmosphere within remains below combustible levels. This process is crucial when tanks are transitioned from one state to another, such as before loading cargo, after cleaning, or when preparing for gas freeing. One challenge with purging is ensuring complete displacement without uneven mixing, which requires careful control of gas introduction rates and thorough monitoring of tank gas composition. Poor execution could result in un-inert areas or pockets of high oxygen concentration, elevating fire risks .

Using excessive fuel in generating inert gas can lead to the build-up of dangerous hydrocarbon gases, while excessive air can result in elevated oxygen levels that compromise the inert gas's ability to prevent combustion. These dangers are mitigated by carefully controlling the air-to-fuel ratio to ensure efficient combustion that produces a gas mixture with low oxygen content (typically below 5%). Moreover, monitoring the output composition via oxygen analyzers ensures that the gas remains safe for use in displacing oxygen within cargo tanks, thus maintaining the integrity and safety of the inert atmosphere .

Hydrocarbon gas flammable limits are defined by the concentration range where a fuel-air mixture can ignite: the Lower Flammable Limit (LFL) and Upper Flammable Limit (UFL). The inert gas system prevents the atmosphere in cargo tanks from reaching these limits by reducing oxygen levels to below critical levels for combustion. The LFL is the minimum hydrocarbon concentration required to support combustion, and the UFL is the maximum concentration where there is still enough oxygen to support combustion. Inert gas keeps the oxygen level under 8%, ensuring that even if hydrocarbon vapors are present, they will not be within the flammable range, thus preventing ignition even in the presence of an ignition source .

Anda mungkin juga menyukai