Anda di halaman 1dari 8

AUDIT KEPATUHAN

IKHTISAR HASIL PEMERIKSAAN SEMESTER (IHPS) 1 TAHUN 2015

PENGAUDITAN SEKTOR PUBLIK


Dosen: Suyanto, PhD., CA.

Kelompok 3:
Farid Fajrin
Fatma Dwi Jati
Fitria Ningrum Sayekti

15/387007/PEK/20557
15/387008/PEK/20558
15/387011/PEK/20561

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

A. Audit Kepatuhan
Audit dilakukan untuk menjamin kebenaran atas apa yang disajikan di
laporan keuangan baik sektor privat maupun sektor publik. Di sektor publik istilah
yang digunakan untuk audit adalah pemeriksaan, yaitu proses identifikasi
masalah, analisis, dan evaluasi yang dilakukan secara independen, objektif, dan
profesional

berdasarkan

standarpemeriksaan,

untuk

menilai

kebenaran,

kecermatan, kredibilitas, dan keandalan informasi mengenai pengelolaan dan


tanggung jawab keuangan negara (pasal 1 UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang
Badan Pemeriksa Keuangan). Pemeriksa keuangan untuk sektor publik
(pemerintah) adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Menurut pasal 1 UU Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa
Keuangan,hasil

pemeriksaan

adalah

hasil

akhir

dari

proses

penilaian

kebenaran,kepatuhan, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan data/informasi


mengenaipengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan
secaraindependen,

objektif,

dan

profesional

berdasarkan

Standar

Pemeriksaan,yangdituangkan dalam laporan hasil pemeriksaan sebagai keputusan


BPK. Pada pasal ini dinyatakan bahwa pemeriksaan yang dilakukan BPK
terhadap laporan keuangan pemerintah tidak hanya menyajikan kebenaran, tetapi
juga kepatuhan atas peraturan perundang-undangan.
Hasil pemeriksaan BPK disebut opini, yaitu pernyataan profesional
pemeriksa mengenai kewajaran informasi keuangan yang disajikan dalam laporan
keuangan yang didasarkan pada kriteria (i) kesesuaian dengan standar akuntansi
pemerintahan, (ii) kecukupan pengungkapan (adequate disclosures), (iii)
kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan (iv) efektivitas sistem
pengendalian intern (penjelasan pasal 16 UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara).
B. Kepatuhan dan Kerugian Keuangan Negara
Pemeriksaan

ditujukan

untuk

menguji

dan

menilai

apakahsistem

pengendalian intern telah dirancang secara memadai dandilaksanakan secara


konsisten, serta menilai kepatuhan pengelolaanpendapatan dan belanja daerah
terhadap ketentuan peraturanperundang-undangan.

Kepatuhan atas peraturan perundang-undangan merupakan hal yang tidak


bisa ditawar. Perundang-undangan, khususnya keuangan, dibuat sedemikian rupa
untuk melindungi negara dari kerugian keuangan. Ketidakpatuhan pada peraturan
perundang-undangan bisa mengakibatkan kerugian keuangan negara.
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) I Tahun 2015 disusun dari
10.154 temuan yang memuat 15.434 permasalahan, yang meliputi 7.544 (48,88%)
permasalahan kelemahan SPI dan 7.890 (51,12%) permasalahan ketidakpatuhan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan senilai Rp33,46 triliun. Dari
permasalahan

ketidakpatuhan

itu,

sebanyak

4.609 (58,42%) merupakan

permasalahan berdampak finansial senilai Rp21,62 triliun. Perinciannya adalah


sebagai berikut:
1. Kerugian negara sebanyak 3.030 (65,74%) permasalahan senilai Rp2,26
triliun.
2. Potensi kerugian negara sebanyak 444 (9,63%) permasalahan senilai Rp11,51
triliun.
3. Kekurangan penerimaan sebanyak 1.135 (24,63%) permasalahan senilai
Rp7,85 triliun.
Selain itu, terdapat 3.281 (41,58%) permasalahan ketidakpatuhan yang tidak
berdampak finansial, terdiri atas 3.137 (95,61%) penyimpangan administrasi dan
144 (4,39%) ketidakhematan, ketidakefisienan, dan ketidakefektifan senilai
Rp11,84 triliun. Permasalahan ketidakpatuhan yang berdampak finansial terjadi
pada pemerintah pusat sebanyak 792 (17,18%) permasalahan senilai Rp8,65
triliun, pada pemerintah daerah 3.716 (80,63%) permasalahan senilai Rp11,90
triliun, serta pada BUMN dan Badan Lainnya sebanyak 101 (2,19%)
permasalahan senilai Rp1,07 triliun. Perincian hasil pemeriksaan BPK
selengkapnya disajikan pada Tabel 1.
Atas permasalahan ketidakpatuhan yang berdampak finansialtersebut,
entitas yang diperiksa telah menindaklanjuti denganmenyerahkan aset atau
menyetor ke kas negara senilai Rp396,67miliar (1,83%) pada saat pemeriksaan.
Perinciannya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 1. Rekapitulasi hasil pemeriksaan BPK semester I Tahun 2015

Tabel 2. Nilai permasalahan dan penyetoran/ penyerahan aset atas ketidakpatuhan


yang berdampak finansial
Permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan perundangundangan antara lain:
1. Kewajiban
Pengawasan pengelolaan akumulasi iuran dana pensiun (IDP) yang dititipkan
pada PT Taspen (Persero) dan PT Asabri (Persero) belum dilaksanakan karena
ketentuannya belum diatur lebih lanjut sejak fungsi Bapepam LK beralih ke
OJK. Selain itu, IDP pada PT Asabri (Persero) berstatus milik Kemenhan,
sehingga pemerintah belum menerapkan pengaturan terkait pengelolaan dan
pelaporannya.
2. Penerimaan Perpajakan
a. DJP terlalu besar memberikan pengembalian kelebihan pembayaran
(restitusi) pajak kepada WP sebesar Rp99,55 miliar.
b. DJP tidak/ kurang menetapkan penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB) pertambangan sektor mineral dan batu bara sebesar Rp248,87
miliar.
c. DJP belum menagih sanksi administrasi berupa bunga dan/ atau denda
sebesar Rp3,14 triliun.

d. DJP kurang menetapkan nilai pajak terutang kepada WP sebesar


Rp309,93 miliar.
3. Penerimaan Negara Bukan Pajak
Penerimaan negara bukan pajak pada 44 KL belum dikelola dengan tertib,
antara lain karena satker pengelola PNBP KL tidak mematuhi peraturan,
pendataan dan pemantauan potensi PNBP belum memadai, serta pemerintah
belum menjalankan sistem informasi PNBP secara memadai.
4. Belanja
a. Penganggaran dan pelaksanaan belanja barang dan belanja modal pada 69
KL tidak sesuai dengan ketentuan, antara lain ketidaksesuaian antara
klasifikasi anggaran belanja barang dan belanja modal, serta kelebihan
pembayaran belanja barang dan modal.
b. Penganggaran, penyaluran dan pertanggungjawaban belanja bantuan
sosial (bansos) tidak sesuai dengan ketentuan, antara lain kesalahan
pengklasifikasian anggaran belanja bansos, penyaluran yang tidak tepat
sasaran,

penggunaan

yang

tidak

sesuai

peruntukan,

dan

pertanggungjawaban belum dilakukan oleh penerima bansos.

Selain yang telah diungkapkan pada hasil pemeriksaan Laporan Keuangan


Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2014, hasil pemeriksaan Laporan Keuangan
Kementrian/Lembaga (LKKL) Tahun 2014 mengungkapkan 1.193 permasalahan
ketidakpatuhan

terhadap

ketentuan

peraturan

perundang-undangan.

Dari

permasalahan ketidakpatuhan tersebut, sebanyak 722 permasalahan berdampak


finansial yang meliputi 480 kerugian negara senilai Rp488,22 miliar, 66 potensi
kerugian negara senilai Rp1,27 triliun, dan 176 kekurangan penerimaan senilai
Rp3,81 triliun.
Berdasarkan IHPS 1 2015, hasil pemeriksaan mengungkapkan 68 temuan
yang memuat 85 permasalahan ketidakpatuhan terhadap ketentuan peraturan
perundang-undangan senilai Rp66,64 miliar. Permasalahan utama ketidakpatuhan
terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan antara lain:
1. Penambahan volume pekerjaan pada item pekerjaan harga satuantimpang atas
3 paket pekerjaan MSMHP di Medan mengakibatkankelebihan pembayaran
sebesar Rp3,47 miliar.

2. Penambahan item pekerjaan Raised Platform for DumpingArea pada


pekerjaan Dredging and Embankment of CengkarengFloodway Sub-Project
of JUFMP Package No. 2A tidak sesuaidengan ketentuan mengakibatkan
kelebihan

pembayaran

sebesarRp6,62

miliar

dan

potensi

kelebihan

pembayaran sebesar Rp1,07miliar.


Permasalahan tersebut disebabkan oleh:
1. Panitia pengadaan tidak memperhatikan ketentuan dalammelaksanakan
tugasnya.
2. PPK Air Limbah Satker PAMS Propinsi Sumatera Utara lemahdalam
mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan kontrak.
3. Konsultan Project Implementing Support tidak menjalankan fungsikonsultasi
dan perbantuan secara optimal kepada Satker PAMSdi dalam merencanakan
dan melaksanakan kontrak kegiatanMSMHP.
4. PPK dan Panitia Peneliti Kontrak tidak cermat melaksanakanketentuan yang
berlaku dalam menyetujui addendum kontrak danmelaksanakan proses lelang.
Atas permasalahan tersebut, BPK merekomendasikan kepada:
1. Direktur Jenderal Cipta Karya selaku Executing Agency agarmemerintahkan
kepala

CPMU

MSMHP

supaya

menginstruksikanKepala

Satker

Pengembangan Air Minum dan Sanitasi (PAMS)Provinsi Sumatera Utara


untuk menarik kelebihan pembayaransebesar Rp3,47 miliar dan menyetor ke
kas negara atau melakukanpemotongan atas pembayaran termin/ Monthly
Certificate (MC)berikutnya bagi kontrak yang masih ada.
2. Dirjen Sumber Daya Air (SDA) selaku Executing

Agency,agar

memerintahkan PIU Ditjen SDA untuk menegur danmemerintahkan PPK


yang tidak memedomani ketentuanyang berlaku dalam menyetujui addendum
kontrak sertamemperhitungkan kelebihan pembayaran sebesar Rp6,62 miliar
dalam termin berikutnya, tidak melaksanakan pembayaran atassisa tagihan
pembayaran sebesar Rp1,07 miliar, mengevaluasi danmengoreksi pekerjaan
raised platform for dumping area melaluiaddendum kontrak.
Permasalahan ketidakpatuhan lainnya antara lain persetujuanaddendum I
atas pekerjaan Dredging and Embankment of Ciliwung- Gunung Sahari Drain and
7

Waduk Melati Sub-Project of JUFMP paket 1 tidak mempertimbangkan prestasi


pekerjaan tahun 2014 dan kondisi lapangan, sehingga berpotensi kelebihan
pembayaran sebesar Rp37,52 miliar. Permasalahan ketidakpatuhan terhadap
ketentuan peraturan perundang-undangan terjadi karena PPK dan Panitia Peneliti
Kontrak tidak cermat dalam meneliti dan menyetujui addendum atas usulan
tambah/ kurang yang tidak memperhatikan progress pekerjaan sesuaidengan
kebutuhan di lapangan dan perhitungan teknis yang akurat.
C. Kesimpulan
Kepatuhan atas peraturan perundang-undangan merupakan hal yang tidak
bisa ditawar-tawar lagi. Ketidakpatuhan ini dapat menyebabkan negara menderita
kerugian yang sangat besar.
Penjaminan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan bisa
dilakukan melalui audit atau pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK terhadap
laporan keuangan, baik pusat, kemetrian/lembaga, dan daerah.
Berdasarkan IHPS 1 Tahun 2015 ketidakpatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan terjadi tidak hanya di daerah, namun juga pusat dan
kementrian/lembaga. Ketidakpatuhan ini telah menyebabkan negara mengalami
kerugian yang cukup besar.
D. Referensi
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) 1 Tahun 2015. Badan Pemeriksa
Keuangan.
UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung
Jawab Keuangan Negara.
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.