Anda di halaman 1dari 7

Uji Triaksial Consolidated Undrained

September 15, 2013 oleh joetomo 2 Komentar

Uji triaksial consolidated-undrained atau yang kadangkala disebut R-test merupakan uji yang
seringkali digunakan sebagai pengganti uji CD untuk mencari properti longterm tanah.
Namun juga dapat diaplikasikan untuk kondisi-kondisi dimana tanah yang telah terkonsolidasi oleh
tegangan isotrop dan deviatorik tertentu, mengalami perubahan tegangan deviatorik secara
mendadak.
Contoh kasus dimana terjadi perubahan tegangan deviatorik secara mendadak dapat dilihat pada
gambar dibawah ini:

Bendungan tanah yang mengalami perubahan m.a.t. secara mendadak

Gambar diatas adalah gambar sebuah bendungan yang memiliki muka air tanah relatif konstan
(angka 1) dalam rentang waktu yang lama, sedemikian sehingga inti bendungan (tanah lempung)
telah mencapai kondisi long term (drained).
Bila terjadi penurunan muka air tanah secara cepat (misalnya >1 m per hari) atau seringkali dikenal
sebagai rapid drawdown (ditandai dengan angka 2 pada gambar), maka kondisi batas di bendungan
menjadi berubah, yaitu perubahan tegangan hidrostatik pada permukaan bendungan dan pada dasar
bendungan. Akibatnya tanah yang telah terkonsolidasi ini mengalami perubahan tegangan deviatorik.
Karena ini bukan posting soal rapid drawdown, maka saya tidak membahas lebih jauh fenomena ini,
namun bila tertarik bisa membacanya disalah satu artikel di sini.
Sehingga kesimpulannya uji ini dapat digunakan untuk 2 hal, pertama bila yang akan dihitung adalah
stabilitas bendungan tanah untuk kondisi long term, maka properti tanah kohesi dan sudut geser
tanah yang akan digunakan
dan
dari lempung (clay) dapat dicari menggunakan

uji CU.
Kedua bila yang dicari adalah properti tanah yang telah terkonsolidasi dan mengalami perubahan
tegangan deviatorik secara mendadak, maka properti tanahnya
dan
juga dapat

dicari menggunakan uji ini.


Uji Consolidated Undrained
Seperti halnya semua uji triaksial lainnya, uji triaksial CD terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase
pembebanan tegangan spherical/isotrop/kompresi yang merupakan tegangan yang sama besarnya
ke ketiga arah prinsipal, dan fase pembebanan tegangan deviatorik.

Skematis uji CU

Pada uji CU, pada fase kompresi keran akan dibuka untuk memperkenankan terjadi konsolidasi,
sedangkan pada fase deviatorik, keran akan ditutup.
Karena keran dibuka pada fase konsolidasi, maka tegangan air pori akan nol pada fase ini.
Bila yang akan dicari adalah properti tanah terkonsolidasi yang mengalami perubahan tegangan
deviatorik secara mendadak
dan
, maka kita cukup mengamati tegangan total

yang diberikan hingga tanah mengalami keruntuhan.


Namun bila kita melakukan uji ini sebagai substitusi uji CD untuk mencari
properti longtermtanah
dan
, maka kita perlu mengamati besarnya perubahan

tegangan air pori didalam benda uji selama fase deviatorik.


Dengan mengamati besarnya perubahan tegangan air pori ini, maka kita dapat menghitung besarnya
tegangan efektif tanah tanpa melakukan uji drained.
Hal penting lainnya yang perlu dicermati adalah derajat saturasi benda uji, dimana benda uji harus
mencapai derajat saturasi mendekati sempurna sebelum melakukan uji ini. Derajat saturasi sempurna
dapat dicapai dengan mengaplikasikan back pressure pada benda uji dan dapat dihitung dengan
menggunakan koefisien Skempton.
Ini diperlukan karena tanah yang tidak tersaturasi sempurna akan berperilaku berbeda. Secara
sederhana dengan membuat tanah tersaturasi sempurna, benda uji akan memiliki fasa air yang
kontinum dan tentunya tanah hanya memiliki 2 fase saja (air dan kerangka solid).
Sekarang saya akan jelaskan apa yang terjadi selama masing-masing fase pembebanan pada uji CU
ini.
1. Fase kompresi
Pada fase kompresi, benda uji diberikan tegangan isotrop secara bertahap
mencapai tegangan kekangan yang diinginkan

setiap tahapnya.

hingga

, dengan tegangan air pori dijaga nol pada

Pada akhir fase kompresi, kita akan memiliki tegangan seperti pada gambar dibawah ini, dengan
nilai-nilainya sbb:
a. Pada cell/chamber (tegangan total):
b. Tegangan air pori:

c. Tegangan efektif:

Seperti halnya pada uji CD, perilaku lempung akan sangat tergantung pada tegangan
prakonsolidasinya.
Tegangan prakonsolidasi inilah yang akan membatasi 2 kondisi tanah lempung, yaitu tanah lempung
yang overkonsolidasi dan tanah lempung yang terkonsolidasi normal.
Lempung overkonsolidasi dapat diperoleh bila kita memberikan tegangan kekangan efektif
tanah
<= tegangan prakonsolidasi

Sedangkan sebaliknya, lempung yang terkonsolidasi normal terjadi saat tegangan kekangan efektif
tanah
> tegangan prakonsolidasi

Ini artinya, perilaku benda uji lempung sangat tergantung dari besaran tegangan kekangan yang kita
berikan!!
2. Fase deviatorik
Beban deviatorik akan diberikan setelah keran ditutup, sehingga air tidak keluar dari benda uji.
Karena keran ditutup, maka saat tegangan deviatorik diberikan maka akan terjadi perubahan
tegangan air pori didalam benda uji.

Bila besarnya perubahan tegangan air pori

kita ukur, maka kita dapat menghitung

parameter tanah longterm dengan mengetahui besarnya tegangan efektif yang terjadi pada tanah.
Pada saat runtuhnya (failure), benda uji akan mendapat tambahan tegangan aksial sebesar

pada arah prinsipalnya, sehingga kita akan mendapatkan kondisi tegangan sbb:
a. Pada cell/chamber (tegangan total):
b. Tegangan air pori:

c. Tegangan efektif:

Uji CU Tegangan pada fase deviatorik (disaat rupture)

Besarnya nilai tegangan runtuh

ini akan tergantung pada kondisi tanah lempung yang

dimiliki (overconsolidated atau normally consolidated)


Berikut dibawah ini adalah gambar hasil tipikal dari uji CU. Perlu diingat bahwa pada fase ini tidak ada
deformasi volumik benda uji karena keran ditutup (undrained).

Tipikal hasil uji CU (Fase deviatorik)

Dari hasil fase deviatorik diatas dapat kita amati bahwa :

Pada lempung overkonsolidasi, setelah mencapai tegangan deviatorik maksimal, benda uji
akan mengalami softening. Bila kita amati evolusi perubahan tegangan air porinya, pertamatama tegangan air pori akan positif, karena benda uji yang seharusnya akan mengalami
pengurangan volume ditahan oleh inkompresibilitas dari air. Setelah itu, sampel
yang seharusnya mengalami dilasi (penambahan volume), perubahan volumenya kembali
ditahan oleh air, sehingga disini akan diperoleh kebalikannya, yaitu tegangan air porinya negatif.

Pada lempung terkonsolidasi normal, tegangan deviatorik akan naik secara perlahan dan
akan mencapai suatu nilai tertentu. Tegangan air pori akan selalu positif disini, karena dimana
seharusnya terjadi pengurangan volume, namun volume benda uji ditahan konstan oleh
inkompresibilitas dari air.
Untuk memahami lebih jelas mengenai fenomena terkonsolidasi normal/overkonsolidasi ini, ada
baiknya membaca tulisan saya sebelumnya di bagian Tegangan deviatorik untuk
tanah overconsolidated vs normally consolidated
Hasil uji CU pada bidang tegangan Mohr (

Mirip seperti pada uji CD, disini kita juga akan memperoleh lingkaran mohr dengan kemiringan
berbeda, yang dibatasi oleh tegangan prekonsolidasi
.

Namun tidak seperti uji CD yang memiliki tegangan total dan efektif yang berhimpit, disini tegangan
total dan efektif dipisahkan oleh tegangan air pori.
Untuk benda uji yang overconsolidated, dapat kita lihat bahwa tegangan total (digambarkan putusputus), memiliki nilai yang lebih rendah dari pada tegangan efektif sampel (digambarkan dengan garis
tak putus-putus). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ini disebabkan oleh tegangan air pori negatif
yang terjadi pada benda uji.Nilai kohesi tidak sama dengan nol, karena adanya efek overkonsolidasi,

dimana butiran tanah tidak hancur karena hanya dibebani oleh tegangan konsolidasi yang lebih
rendah daripada tegangan prakonsolidasi
.

Lingkaran Mohr (overconsolidated soil)

Untuk benda uji yang terkonsolidasi normal, maka tentunya tegangan efektif tanah akan lebih kecil
daripada tegangan totalnya. Perhatikan bahwa kohesi tanah bernilai nol pada tanah yang
terkonsolidasi normal (garis hijau tak putus-putus).

Lingkaran Mohr (normally consolidated soil)

Bila kita gabungkan kedua gambar terakhir diatas, maka diperoleh gambar gabungan sebagai berikut:

Lingkaran Mohr (over & normally consolidated soil)

Pada gambar diatas, dapat dilihat dengan jelas bahwa daerah pembatas antara lempung
terkonsolidasi normal atau overkonsolidasi ditandai dengan perubahan kemiringan dari permukaan
runtuh Mohr-Coulomb dari tegangan efektif (garis hijau tak putus-putus). Ini penting, karena kriteria
keruntuhan Mohr-Coulomb merupakan kriteria untuk kerangka solid tanah (tegangan efektif).
Rangkuman hasil properti tanah yang didapat pada uji CU adalah sbb:

Untuk tanah overconsolidated: (1) Properti long term tanah

dan

; (2)

Properti tanah untuk tanah yang telah terkonsolidasi namun mengalami perubahan tegangan
deviatorik
dan
Untuk tanah terkonsolidasi normal: (1) Properti long term tanah

, (2) Properti tanah

untuk tanah telah terkonsolidasi namun mengalami perubahan tegangan deviatorik


Cheers