Anda di halaman 1dari 30

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peningkatan populasi hewan dalam jumlah besar menjadi masalah tersendiri bagi
kesehatan manuasi, terutama hewan kecil seperti anjing dan kucing karena hewan-hewan
tersebut dapat menjadi agen penular berbagai penyakit zoonosis. Salah satu solusi untuk
memecahkan masalah ini adalah dengan melakukan tindakan sterilisasi pada anjing
maupun kucing baik jantan maupun betina. Sterilisasi pada hewan betina dapat dilakukan
dengan mengangkat ovarium (ovariectomy) atau mngangkat ovarium beserta uterus
(ovariohisterectomy).
Ovariohisterectomy dapat juga ilakukan untuk terapi pengobatan pada kasus-kasus
reproduksi seperti perubahan tingkah laku seperti hewan tidak birahi , tidak bunting dan
tidak menyusui atau hewan terindikasi kanker, tumor, pyometra, cysta ovari. Sehingga
tindakan ovoriohisterectomy perlu dilakukan. Ovarohysterectomy elektif (spay) umum
dilakukan untuk mencegah siklus estrus dan kebuntigan yang tidak diinginkan. Manfaat
lainnya adalah pencegahan pyometra dan neoplasia ovarian atau uterus. Prevalensi tumor
mammae menurun dengan drastic saat hewan steril pada usia muda. Risiko untuk
neoplasia mammae terjadi yaitu 0.5% dan 8% pada anjing yang steril sebelum estrus
pertama atau kedua. Risiko pada anjing steril atau yang tidak jadi di steril. Pada kucing,
sterilisasi sebelum 6, 12 dan 24 bulan dapat menurunkan risiko perkembangan tumor
mammae sebanyak 91%, 86% dan 11%. Mensterilkan kucing setelah berumur 2 tahun
atau anjing dengan umur setelah 2.5 tahun mempunyai efek minimal pada perkembangan
tumor (Tobias, 2012).
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan praktikum ovariohisterektomi ini
1
2
3

adalah:
Untuk mengetahui pengertian ovariohisterektomi
Untuk mengetahui prosedur dan teknik bedah ovariohisterektomi
Untuk mengetahui keuntungan dan kerugian ovariohisterektomi

1.3 Manfaat
Setelah dilaksanakannya praktikum ovariohisterektomi, diharapkan dapat melatih
dan meningkatkan keterampilan mahasiswa (praktikan) Program Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya dalam persiapan preoperasi, operasi, dan post operasi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ovariohisterctomy
Ovaryohisterectomy merupakan bahasa medis yang terdiri dari dua kata yaitu
Ovariectomy dan Histerectomy. Ovariectomy memiliki arti yaitu tindakan mengamputasi,
mengeluarkan dan menghilangkan ovarium dari rongga abdomen. Histerectomy
merupakan tindakan mengamputasi, mengeluarkan dan menghilangkan uterus dari rongga
abdomen. Sehingga Ovaryohisterectomy merupakan tindakan pengambilan ovarium,
corpus uteri, dan kornua uteri (Sudisma. 2006). Ovaryohisterectomy merupakan salah
satu cara Desexing pada kucing betina. Desexing disebut dengan Spaying sedangkan
pada kucing jantan disebut Neutering.
Ovaryohisterectomy dapat dilakukan pada hampir semua fase siklus reproduksi
tetapi yang paling baik dilakukan sebelum dewasa kelamin dan selama fase anestrus.
Ovaryohisterectomy paling berbahaya dilakukan pada saat pregnansi serta betina tua dan
obesitas. Umur 6-1 tahun merupalan waktu paling tepat untuk melakukan
ovaryohisterectomy untuk kucing. Ovariohisterectomy biasanya menggunakan teknik
laparotomi posterior dimana dengan sayatan medianus sesuai dengan posisi ovarium
uterus. Uterus tersebut berada pada daerah abdominal (flank) bagian posterior, tepatnya
di anterior dari vesica urinaria (Tobias, 2012).
2.2 Indikasi dilakukan Ovariohisterctomy
Tindakan Ovaryohisterectomy dilakukan berdasarkan indikasi adanya penyakit atau
kasu-kasus seperti Tumor yang menyerang organ reproduksi hewan betina, Cysta ovary,
Pyometra, Metritis, Salpingitis , dan Kanker mammae. Pasca Ovaryohisterectomy, kucing
betina memiliki resiko terkena kanker mammae 40-60% lebih rendah dibandingkan
kucing kucing yang tidak dilakukan tindakan Ovaryohisterectomy. Selain kasus-kasus
yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa pemilik kucing meminta dilakukan
Ovaryohisterectomy dengan tujuan

modifikasi tingkah laku sehingga kucing lebih

mudah dikendalikan dan lebih jina, tujuan penggemukan atau untuk membatasi populasi
kucing liar (Tilley, 2009).
2.3 Anatomi Organ Reproduksi Betina
Organ reproduksi pada betina kcing betina terdiri dari ovarium, oviduk,
infundibillum, uterus, serviks, vagina, vestibula, klitoris dan vulva (Junaidi, 2013).
Ovarium berasal dan secondary sex cord dan genital ridge, sedangkan sistim duktus

berasal dan mullerian ducts, yaitu sepasang duktus yang muncul saat perkembangan
embrio awal. (Yusuf, 2012).
Berikut ini merupakan penjelasan bagian-bagian organ reproduksi kucing betina,
a. Ovarium
Ovarium merupakan organ reproduksi primer pada hewan betina. Disebut
organ primer karena ovarium menghasilkan sel garnet betina (yaitu ovum) dan hormon
kelamin betina. Hormon kelamin yang dihasilkan oleh ovarium dibedakan dalam dua
kelompok yaitu hormon steroid dan hormon peptida. Hormon steroid terdiri dan
progesteron dan estrogen, sedangkan hormon peptida terdiri dari inhibin, activin,
relaxin, dan oxytocin.
Ovarium kucing dewasa berbentuk oval kira-kira erukuran 1,0 x 0,3 x 0,5 cm
dan berat 220 mg. letak ovarium di abdomen dorsal bersebelahan dengan ginjal.
Ovarium, Oviduk, dan Uterus masing-masing tergantung dirongga peritoneum oleh
ligament penggantung berturut-turut adalah mesovarium, mesosalphing, dan
mesoometrium. Arteri ovaria yang berasal sari aorta memasok ovary dan porsi cranial
koruna uteri. Vena ovaria mengalirkan darah balik dari ovarium, koruna uteri, dan
bagian cranial koruna uteri yang berakhir pada vena cava caudalis (Junaidi, 2013).

Gambar 1. letak organ reproduksi kucing betina tampak lateral

b. Oviduk
Oviducts disebut juga tuba falopi (fallopian tubes) secara anatomis mempunyai
hubungan yang sangat dekat dengan ovarium. Mukosa oviducts tersusun oleh lipatanlipatan primer, sekunder dan tertier. Lipatan mukosa ampulla, berjumlah 20-40 lipatan,
tinggi dan bercabang-cabang, dimana ketinggian tersebut berkurang menjelang
isthmus, dan kemudian menjadi sangat rendah di bagian utero-tubal junction. Oviduk
kucing dewasa panjangnya 5-6 cm. Infundibullum merupakan ujung cranial oviduk

adalah pembesaran konikal yang dibatasi oleh vili mukosa yang disebut fimbria (Rout,
2005).
c. Uterus
Uterus kucing betina adalah organ berbentuk huruf Y yang terdiri atas
corpus sepanjang 2 cm yang terletak antara kolon yang turun secara dorsal dan
kandung kemih secara ventral dan dua koruna uteri sepanjang 10 cm yang memanjang
secara cranial untuk bertemu dnegan oviduk. Kedua sisi uterus terhubung ke dinding
pelvis dan abdomen oleh ligamentum lata uteri.Berat uterus pada kucing yang tidak
bunting yaitu 1,5 gram (Junaidi, 2013).
d. Serviks
Serviks ialah lehere berdinding tebal dari uterus yang menghubungkan dengan
vagina. Serviks uteri kucing menonjol keluar kedalam vagina sebagai suatu papilla
yang diarahkan secara ventrocaudal. Ukuran uterus kuicng tergantung pada besar,
umur dan paritas kucing serta fase estrus atau umur kebuntngan.
e. Vagina
Vagina kucing dewasa memanjang secara caudal dari serviks ke bagian hymen
tepat sebelah cranial dari orificium uretra eksternal di vestibula atau sinusurogenital
(Rout, 2005).
f. Vestibula
Vestibula kucing panjangnnya 2 cm dengan diameter bisa mengakomodasi
probe berdiameter 4 mm yang dimasukkan ke vulva sekitar 20 mm. Vestibula
memanjang dari cranial ke orificium uretra eksternal secara cranial ke vulva secara
caudal dan berjarak 2 cm (Junaidi, 2013).

Gambar 2. Bagian-bagian organ reproduksi kucing betina


g. Vulva
Vulva kucing terdiri atas dua labia lateral kecil yang bindar dan terletak
dibawah anus yang menyatu di komissura dorsal dan ventral (Sardjana, 2011).
h. Klitoris
Klitoris terdiri atas krura berpasangan jaringan erektil (klitoridis corpora
cavernosum). Terletak didasar klitoris fossa di lapisan tengah vestibula (Sardjana,
2011).

2.4 Penanganan Pre-Operasi


2.4.1 Persiapan Alat Dan Bahan
Sterilisai alat penting dilakukan sebelum dilakukan tidakan pembedahan.
Sterilisasi yaitu proses detruksi seluruh mikroorganisme (bakteri, virus, jamur,
spora) pada suatu objek. Sterilasi dilakukan pada peralatan bedah dan objek lainnya
a.
b.

yang akan kontak langsung dengan atau disekitar luka operasi.


Sterilisasi peralatan bedah dapat menggunakan beberapa cara yaitu
Panas (Heat), menggunakan alat Autoclave 121 0C selama 15-20 menit, oven 160-180
0

c.

C selama 1-2 jam (gelas atau botol)


Kimiawi, menggunakan Ethylene oxide (EtO), Alkohol, Chlorine compound, Iodine

d.
e.

compound, Glutaraldehyde
Plasma, menggunakan Hydrogen peroxide gas plasma (500C)
Radiasi ionisasi, menggunakan Cobalt 60
Untuk perlengkapan operasi yang terbuat dari kain dapat dibersihkan
dengan dicusi bersih dengan sabun kemudian disterilisasi menggunakan Autoclave.
Khusus peralatan yang terbuat dari logam dapat disterilisasi dengan merebus pada
air mendidih 100 0C selama 15-30 menit dengan menambahkan sodium karbonat
2% atau sodium hidroxid 0,1% untuk mencegah korosif, autoclave (steam-uap
panas), alcohol 70%. Peralatan laiinya dapat disterilisasi dengan desinfektan.
Perebusan dengan air mendidih tidak disarankan untuk peralatan seperti gunting
dan jarum dan peralatan dari gelas dan karet.

2.4.3 Persiapan Hewan


Pemeriksaan Fisik dari hewan yang akan dilakukan Ovariohisterctomy
adalah langkah awal untuk meminimalisir resiko post-operasi. Evaluasi yang paling
penting yaitu menyangkut cardiopulmonary, fungsi hepar, dan ginjal. Hewan harus
dipuasakan makan 8-12 jam dan minum 2-6 jam sebelum operasi (Sardjana, 2011) .
Tujuannya agar hewan tidak muntah akibat efek induksi anestesi. Tempat yang akan
dioperasidicukur paling sedikit 1 cm ( inch) di luar insisi pada hewan kecil.
Disarankan pula hewan dimandikan 1 atau 2 hari sebelum dilakukan operasi. Area
insisi dibersihakan dengan antiseptic sesaat sebelum dilakukan operasi. Antiseptik
yang dapat digunakan yaitu Alkohol 70%, Hibitane 5%, Iodine 2%, atau larutan
Betadine. Posisi hewan yang akan dilakukan operasi Ovariohisterctomy adalah
rebah dorsal.
Pemberian sedative untuk memudahkan pencukuran bisa dilakukan
pengekangan,

sebelum

dilakukan

pencukuran

menggunakan

pemberian

premedikasi menggunakan atropine sulfat (0,08-0,16 ml/kg BB SC atau IM) sambil


menunggu onset kerja obat 15 menit, 15 menit kemudian baru diberikan induksi

anastesi. Induksi anastesi Menggunakan ketamine HCL (Anjing 0,06-0,22 ml/kg


BB IV atau IM, kucing 0,02-0,25 ml/kg BB IV/IM) dikombinasikan dengan
xylazine. Memposisikan hewan pada rebah dorsal dan keempat kakinya difiksasi
menggunakan tali dan surgical drape diletakan disitus operasi (Fossum, 2010).
Stadium anestesi dibagi menjadi empat (4) tahap, yaitu (Sardjana, 2011) :
a. Stadium I (Stadium analgesia atau Stadium Eksitasi yang disadari atau
Disorientasi)
Stadium ini berangsung mulai induksi sampai kesq2adaran pasien hilang.
Ciri pada stadium ini yaitu pupil tidak melebar akibat terjadinya rangsang
psikosensorik, pasien masih merasakan sakit jika dicubit dengan pinset, masih
ada refleks palpebre, tipe respirasi thoracoabdominal.
b. Stadium II (Stadium Hipersekresi atau Stadium Eksitasi yang tidak disadari atau
Delirium)
Stadium ini dimulai dari hilangnya kesadaran, terjadi depresi ganglia
basalis sehingga terjadi reaksi berlebihan maupun refleks yang tidak terkendali
terhadap segala bentuk rangsangan, refleks faring yang berhubungan dengan
menelan dan muntah meningkat. Ciri pada stadium ini yaitu pupil mengalami
midriasis (melebar) akibat rangsangan syaraf simpatik pada otot dilatator, tipe
respirasi thoracoabdominal dengan amplitude menurun. Stadium I dan II dapat
menyulitkan karena berbahaya bagi pasien oleh karena itu stadium ini harus
dilewati dengan cepat untuk mencapai stadium III.
c. Stadium III (Stadium Anastesi atau Stadium Pembedahan)
Stadium pembedahan dilakukan apabila pupil dalam posisi terfiksasi
ditengah dan respirasi teratur. Pupil mengalami midriasis kembali disebabkan
pelepasan adrenalin dan pada anestesi yang dalam, pupil mengalami dilatasi
maksimal akibat paralisis syaraf cranial III. Stadium pembedahan ini dibagi
menjadi empat (4) plane yaitu :
1. Plane 1, cirinya :
Ventilasi teratur bersifat thoracoabdominal, anak mata terfiksasi, pupil
miosis, refleks cahaya positif, lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah
negative, tonus otot mulai menurun. Hanya operasi kecil dapat dilakukan
pada plane ini.
2. Plane 2, cirinya :
Ventilasi teratur bersifat abdominothoracal, frekuensi nafas meningkat,
pupil midriasis, refleks cahaya menurun dan refleks kornea negative, releks
laring negative dan semua operasi dapat dilakukan pada plane ini.
3. Plene 3, cirinya :

Ventilasi teratur bersifat abdominal karena terjadi kelumpuhan saraf


interlokal, pupil melebar, refleks laring dan peritoneum negative, tonus otos
makin menurun dan semua operasi dapat dilakukan pada plane ini.
4. Plane 4, cirinya :
Ventilasi tidak teratur, pupil midriasis, tonus otot menurun, refleks
spincter ani dan kelenjar air mata negative.
d. Stadium IV (Stadium Overdosis)
Stadium ini ditandai dengan pulsus sangat cepat, paralisa otot dada,
dilatasi pupil, bola mata seperti ikan kemudian pasien berhenti bernafas, jantung
berhenti bekerja dan diakhiri dengan kematian.
2.4.3 Persiapan Operator
Seorang dokter yang menjadi operator dalam tindakan bedah disarankan
memiliki personal hygiene, sehat, mencucu tangan dengan sabun dan antiseptic,
memakai baju operasi, topi, dan masker. Terdapat susunan pada petugas operasi
diantaranya operator utama (steril), asisten operator (steril), asisten alat steril
(steril), petugas peralatan non steril, anaestesiolog (steril atau non steril). Hal ini
dilakukan untuk menjaga tindakan pembedahan dalam kondisi yang aseptis. Aseptis
adalah kondisi dimana tidak ada mikroorganisme pathogen pada jaringan.

2.5 Teknik Operasi Ovariohisterctomy


Teknik operasi dilakukan dengan cara menginsisi pada linea alba pada caudal pusar.
Insisi dilakukan di umbilicus kea rah caudal. Dilakukan insisi dari kulit, subcutan hingga
rongga peritoneal.

Gambar 4.1. Metode Operasi Ovariohisterectomy


Uterus dicari dengan titik orientasi vesica urinaria. Spy hook dapat digunakan untuk
membantu mengangkat uterus yang telah ditemukan. Langenbeck retractor juga dapat
digunakan untuk membantu menguakkan dinding abdomen. Selanjutnya cornua uteri kiri
dan kanan dibagian ligament uretero ovarium

dijepit dengan dua carmalt forceps.

Kemudian dilakukan ligasi dengan cut gut chromic absorbable dengan ukuran 2.0

dibagian proksimal ovarium sinister dan dekster. Dilakukan pemeriksaan secara seksama
bahwa posisi ligasi ovarium pada posisi yang tepat. Selanjutnya dilakukan pemotongan
dengan scalpel diantara dua carmalt forceps. Setelah dilakukan pemotongan kedua cornua
uteri sinister dan dekster ditarik ke caudal dari korpus uteri. Kemudian dilakukan klem
pada bagian corpus uteri diantara bifurcartio dan serviks uteri dengan dua carmalt
forceps. Ligasi arteri uterine diantara bifurcartio dan serviks uteri dengan cut gut chromic
absorbable 2.0 dan pemotongan corpus uteri dilakukan diantara kedua forceps.
Selanjutnya klem dilepas, cavum abdomen ditutup kembali dimulai dari peritoneum dan
musculus dibagian abdomen dengan cut gut absorbable 2.0 dengan jahitan simple
terputus atau matras silang, selanjutnya fascia dijahit sebagai pelindung jahitan abdomen
dengan jahitan menerus juga menggunakan cut gut absorbable 2.0 dan terakhir kulit
dijahit dengan silk atau nylon ukuran 2.0 dengan jahitan terputus atau dengan jahitan
matras horizontal yang memberikan hasil kesembuhan luka pada kulit dengan baik.
Kesembuhan luka operasi sekitar 10-19 hari pasca operasi dan jahitan kulit dapat dilepas
(Sardjana, 2011).

Gambar 4.2. Metode Operasi Ovariohisterectomy


2.6 Penanganan Post-Operasi
Setelah dioperasi hewan dicek dengan berkala untuk mengetahui kondisi dari
hewan tersebut, adapun hal hal yang dilakukan post operasi adalah (Fossum, 2010) :
a. Mengukur suhu tubuh hewan apakah turun atau naik.
b. Mengukur frekuensi nafas.
c. Memberikan obat penghilang rasa nyeri dan pemberian infuse jika terjadi dehidrasi
atau lemas pada hewan.

BAB III
METODOLOGI
1

Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ovariohisterektomi pada kucing adalah 4
tali sumbu, silet, scalpel dan blade, pinset anatomis, gunting tajam-tajam (tata), gunting
tajam-tumpul (tatu), Alice tissue forceps arteri clamp (klem bengkok besar kecil dan klem
lurus besar kecil), towel clamp, spy hook, IV cateter, needle holder, needle, termometer,
stetoskop, jam (stopwatch), spuit 1 cc & 5 cc, wadah stainless, alas, senter, dan lampu
penghangat.
3.1.2

Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ovariohisterektomi pada kucing adalah
kucing betina dengan berat 2,5 kg, duk, gloves, masker, hairnet, benang catgut chromic,
benang silk, benang plain, tampon kotak steril, tampon kotak bulat, gurita, air sabun,
atropin sulfat, xylazine, ketamine, NaCl fisiologis, povidone iodine, alcohol 70 %,
antibiotik amoxicilin,biodin, hematopan, analgesik tolfenamic acid.
2 Prosedur
1
Pre-operasi
1 Persiapan ruang operasi
Ruang
-

dibersihkan dari kotoran


- disterilisasi dengan dengan desinfektan (alkohol 70%)

Hasil
2

Persiapan peralatan
Alat Bedah
-

disiapkan seperangkat alat bedah standart


- disterilisasi dengan cara dicuci bersih dan dikeringkan ditata dalam wadah,
wadah yang berisi peralatan dibungkus dengan kertas, dan peralatan yang
sudah terbungkus dimasukkan ke dalam autoklaf pada suhu 121C selama 1
jam

Hasil

3 Persiapan obat-obatan

Obat
-

disiapkan desinfektan yaitu alkohol 70%


disiapkan untuk premedikasi yaitu Atropin sulfat (dosis 0,04 mg/kg BB, BB
kucing 2,5 kg sehingga dosis yang diberikan 0,4 ml)
disiapkan untuk anastesi yaitu xylazine (dosis 2 mg/kg BB, sehingga dosis
yang diberikan pada kucing 0,25 ml)
disiapkan untuk anastesi yaitu ketamin (dosis 10 mg/kg BB, sehingga dosis
yang diberikan 0,25 ml)
disiapkan antibiotik menggunakan amoxycilin (dosis 0,33 ml diberikan dua
hari sekali post operasi) amoxycillin pre operasi dosis 0,5 ml, disiapkan
analgesik tolfenamic (dosis 4 mg/kg BB, sehingga dosis yang diberikan 0,25
ml diberikan dua hari sekali pasca operasi)

Hasil

Persiapan perlengkapan operator dan asisten


Perlengkapan
-

dibutuhkan perlengkapan operator dan asisten 1, yaitu tutup kepala, masker,


handuk kecil, baju operasi, dan sarung tangan.
disterilisasi peralatan tersebut.
dipakai peralatan yang telah disterilisasi dan disiapkan

Hasil
5

Persiapan Hewan
Kucing
-

dipuasakan atau tidak diberi makan 6-12 jam dan tidak diberi minum 2-6 jam
sebelum operasi
diperiksa kondisi kesehatannya
diukur suhu tubuh
dihitung frekuensi nafas dan frekuensi jantungnya
ditimbang berat badannya
diperhatikan limfonodusnya serta mukosanya
dicukur bagian yang akan disayat (caudal umbilicus)
didesinfeksi dengan alkohol 70% dan iodine dengan cara diusap dari bagian
tengah kemudian memutar ke arah luar dan harus searah
Hasil

Operasi
Kucing
-

dibuat sayatan pada midline di posterior umbilikal dengan panjang kurang


lebih 3 - 4 cm. Lapisan pertama yang disayat adalah kulit kemudian
subkutan
di bawah subkutan kemudian dipreparir sedikit hingga bagian peritoneum
dapat terlihat
dibagian peritoneum tersebut dijepit menggunakan pinset kemudian disayat
sedikit tepat pada bagian linea alba sekitar 2-3 cm dari umbilicus dengan
menggunakan scalpel hingga ruang abdomen terlihat
diperpanjang ke arah anterior dan posterior menggunakan gunting tajamtumpul (bertujuan agar tidak melukai organ bagian dalam), dengan panjang
sesuai dengan sayatan yang telah dilakukan pada kulit. Setelah rongga
abdomen terbuka, kemudian dilakukan pencarian organ uterus dan ovarium
dicari uterus dan ovarium dilakukan dengan menggunakan jari telunjuk
yang dimasukkan ke rongga abdomen. Setelah itu, uterus ditarik keluar dari
rongga abdomen hingga posisinya adalah ekstra abdominal
ditemukan ovarium dan dipreparir hingga posisinya ekstra abdominal. Saat
mempreparir, beberapa bagian yang dipotong diantaranya adalah
penggantung uterus (mesometrium), penggantung tuba falopi
(mesosalphinx), dan penggantung ovarium (mesovarium). Pada saat
mempreparir uterus dan jaringan sekitarnya, dinding uterus tetap dijaga
jangan sampai robek atau rupture
dilakukan penjepitan pada bagian penggantung ovarium dan termasuk
pembuluh darahnya
dilakukan pengikatan menggunakan benang silk
dilakukan pemotongan pada penggantung tersebut menggunakan gunting
pada posisi diantara dua klem arteri tadi
diklem arteri yang menjepit penggantung dan berhubungan dengan uterus
tidak dilepas sedangkan klem arteri yang satunya lagi dilepas secara
perlahan-lahan, sebelumnya dipastikan tidak ada perdarahan lagi
dilakukan hal yang sama pada bagian uterus yang disebelahnya. Dilakukan
penjepitan, pengikatan, dan pemotongan dengan cara yang sama
dibagian corpus uteri yang dipreparir. Pada bagian corpus uteri, dilakukan
penjepitan menggunakan klem yang agak besar. Kemudian diligasi dengan
penjahitan corpus uteri menggunakan catgut chromic 3,0. Dilakukan
pengikatan dengan kuat melingkar pada corpus uteri menggunakan benang
catgut chromic, dan pada ikatan terakhir dikaitkan pada corpus uteri agar
ikatan lebih kuat
dilakukan pemotongan menggunakan scalpel pada bagian corpus uteri yaitu
pada posisi diantara dua klem tadi.
dilepas uterus dan ovarium dan diangkat keluar tubuh, dan jika sudah tidak
ada perdarahan, klem yang satunya lagi dapat dilepas secara perlahan dan
sebelum ditutup jangan lupa berikan antibiotik

dilakukan teknik penjahitan dengan menuggunakan catgut chromic 3,0


dilakukan penjahitan aponeurose M. obliqous abdominis externus dengan
menggunakan teknik terputus sederhana (simple interrupted)
dilakukan pada kulit dengan teknik jahitan simple interupted menggunakan
benang chromic, dan dilanjutkan dengan jahitan tunggal sederhana
menggunakan benang silk
diberi vicilin sebagai antibiotik pada bagian dalam organ sedikit demi
sedikit secara merata pada semua bagian.
didesinfeksi jahitan dengan mengusap bagian jahitan dengan betadine, pada
jahitan secara merata dan kemudian tutup dengan hypavix dan dipasang
gurita untuk melindungi jahitan supaya kering, tidak ada kontaminasi dan
tidak digigit sehingga jahitan tidak lepas

Hasil
3

Post-operasi
1 Pencucian peralatan
Dissecting set
-

setelah digunakan direndam dalam air yang diberi larutan pencuci


disikat, dimulai dari ujung yang paling steril (ujung yang pertama
mengenai pasien)
dibilas dengan air yang mengalir
dikeringkan dengan ditata di rak
disterilisasi setelah kering

Hasil
2 Ruang operasi
Meja Operasi
-dibersihkan dari kotoran/debu dengan disapu
- disterilisasi dengan desinfektan berupa alkohol 70%
Hasil

Perawatan Post Operasi


1 Perawatan kucing

Kucing
-

diperiksa kesehatannya
diukur suhu, frekuensi nafas, frekuensi denyut jantung, serta diameter pupil
diperhatikan membran mukosa, limphonodus, dan selaput lendir
diberikan antibiotik menggunakan amoxicillin setiap hari 2 kali sehari selama
5 hari PO
diinjeksi analgesik menggunakan tolfenamic 3 hari sekali dengan dosis SC
dilepas jahitan pada hari ke tujuh

Hasil

BAB IV
HASIL
Anamnesa
4.1.1 Signalement
Nama
: Cilla
Jenis hewan
: Kucing
Kelamin
: Betina
Ras/breed
: Domestik
Warna bulu/kulit : Abu-abu putih
Umur
: 3 tahun
Berat badan
: 2,5 kg
Tanda kusus
:4.1.2 Pre Operasi
Temp
: 38,6 0C
Pulse
: 132/menit
Membrane color : pink
Hydration
: <2 (normal)
Color and consistency of feces: cokelat kekuningan
Body condition : Underweight
Overweight
System Review
a. Integumentary
Normal
Abnormal
e. Nervus
Normal
Abnormal
Lympatic
Normal
Abnormal

b. Otic
Normal
Abnormal
f. Cardiovaskuler
Normal
Abnormal
j. Reproduction
Normal
Abnormal

Deskripsi Abnormal
Telinga terdapat wax
Vaksinasi
Ya
Tidak
ctt:
Disease Record: 4.2 Perhitungan Dosis
a) Atropin Sulfat (SC)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 0,04 mg/kg BB
Konsentrasi : 0,25 mg/ml
Perhitungan : 0,04 mg/kg BB x 2,5 kg
0,25 mg/ml

c. Optalmic
Normal
Abnormal
g. Respiration
Normal
Abnormal
k. Urinaria
Normal
Abnormal

Respirasi
: 112/menit
CRT
: <2 detik
Body Weight : 2,5 kg
Normal
d. Muscoloskeletal
Normal
Abnormal
h. Digesty
Normal
Abnormal

= 0,4 ml
b) Ketamine (IM)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 10 mg/kg BB
Konsentrasi : 100 mg/ml
Perhitungan : 10 mg/kg BB x 2,5 kg
100 mg/ml
= 0,25 ml
c) Xylazine (IM)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 2 mg/kg BB
Konsentrasi : 20 mg/ml
Perhitungan : 2 mg/kg BB x 2,5 kg
20 mg/ml
= 0,25 ml
d) Amoxicillin (IM)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 20 mg/kg BB
Konsentrasi : 150 mg/ml
Perhitungan : 20 mg/kg BB x 2,5 kg
150 mg/ml
= 0,33 ml
e) Tolfenamic Acid (SC)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 4 mg/kg BB
Konsentrasi : 40 mg/ml
Perhitungan : 4 mg/kg BB x 2,5 kg
40 mg/ml
= 0,25 ml
f) Hematopan (IM)
BB
: 2,5 kg
Dosis
: 0,05 mg/kg BB
Perhitungan : 0,05 mg/kg BB x 2,5 kg
= 0,125 ml
g) Biodin (IM)
BB
Dosis
Perhitungan

: 2,5 kg
: 0,05 mg/kg BB
: 0,05 mg/kg BB x 2,5 kg
= 0,125 ml

4.3 Data yang Diperoleh (Form)


4.3.1 Kontrol Anestesi
DOSIS
Golongan
Obat
(mg/Kg
Obat
BB)
Amox short
Antibiotik
20
acting
Atropin
Premedikasi
0,04
sulfat
Ketamine
Anasthesi
10
Xylazine
Anasthesi
2
Tolfen
Analgesik
4
Amox long
Antibiotik
20
acting
Hematopan Multivitamin
0,05
Biodin
0,05

KOSENTRAS
I
(mg/ml)

Volume
Obat
(ml)

Rute

Waktu

100

0,5

Intramuscular

13.39

0,25

0,4

Subkutan

14.09

100
20
40

0,25
0,25
0,25

Intra muscular
Intra muscular
Subkutan

14.27
14.27

150

0,48

Subkutan

2,4
2,4

Intramuskular
Intramuskular

4.3.2 Kontrol Pemeriksan Post-operasi


Menit
0
15
30
45
Pulsus(/menit
120
76
116
116
)
Temp(0C)
38,7
38,3
37,6 37,1
Respirasi
100
36
25
32
Menit
Pulsus(/menit
)
Temp(0C)
Respirasi
Mulai operasi
Selesai operasi
Mulai Anestesi

135
92

150

165

170

96

96

94

36,5
36

37,3
40

38,1
40

38,0
38

60
104

75
110

90
105

105
96

120
88

36
68

35,2
40

34,8
38

35
40

35,1
30

180
116
37,6
38

: 15.00 WIB
: 16.35 WIB
: 14.27 WIB

4.5 Form Monitoring Pasca Operasi


Tanggal
Pemeriksaan
14/11/2016 Suhu : 38,7 0C
Appetice
Senin
Pulsus : 100
Defekasi
CRT : < 2 (Normal)
Urinasi
SL

15/11/2016 Suhu : 38,7 0C


Selasa
Pulsus : 100
CRT : < 2 (Normal)
16/11/2016 Suhu : 39 0C
Rabu
Pulsus : 110

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

Terapi
T/ Amoxicillin
postop
Hematopan
Biodin
Tolfen
Ganti bandage
T/

T/ Amoxicillin
postop

CRT

: < 2 (Normal)

Urinasi
SL

:-++++
:-++++

Tolfen
Biodin
Hematopan

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

T/ Ganti bandage

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

T/

21/11/2016 Suhu : 39 0C
Senin
Pulsus : 105
CRT : < 2 (Normal)

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

T/ Amoxicillin
(peroral)
Dexamethasone
Ganti bandage

22/11/2016 Suhu : 38,10C


Selasa
Pulsus : 102
CRT : < 2 (Normal)

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

T/
Ganti bandage

17/11/2016 Suhu : 38,9 0C


Kamis
Pulsus : 115
CRT : < 2 (Normal)
18/11/2016 Suhu : 38,5 0C
Jumat
Pulsus : 120
CRT : < 2 (Normal)

19/11/2016 Suhu : 38,9 0C


Sabtu
Pulsus : 111
CRT : < 2 (Normal)
20/11/2016 Suhu : 40 0C
Minggu
Pulsus : 115
CRT : < 2 (Normal)

23/11/2016 Suhu : 38,50C


Rabu
Pulsus : 102
CRT : < 2 (Normal)
24/11/2016 Suhu : 38,40C
Kamis
Pulsus : 115
CRT : < 2 (Normal)
25/11/2016 Suhu : 38,80C
Jumat
Pulsus : 105
CRT : < 2 (Normal)

T/ Amoxicillin
postop
Tolfen
Biodin
Hematopan

T/ Amoxicillin
postop
Tolfen
Biodin
Hematopan

T/

T/

T/

26/11/2016 Suhu : 38,50C


Sabtu
Pulsus : 104
CRT : < 2 (Normal)
27/11/2016 Suhu : 38,60C
Minggu
Pulsus : 110
CRT : < 2 (Normal)

Appetice
Defekasi
Urinasi
SL
Appetice
Defekasi
Urinasi
SL

:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++
:-++++

T/

T/ Ganti bandage

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Analisa Prosedur
Kucing dipuasakan dari makan 6-12 jam, dan tidak diberi minum 2-6 jam pre
operasi. Melakukan puasa pada kucing ini berguna agar kucing tidak muntah pada saat
dilakukan anestesi. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk kegiatan operasi.
Persiapan berguna agar alat yang dibutuhkan tersedia cukup ketika melakukan operasi.
Diletakkan kucing di atas meja operasi yang telah dilapisi oleh alas. Hal ini berguna
untuk memposisikan kucing pada saat akan dilakukan operasi. Disuntikkan antibiotic pre
operasi yaitu amoxicillin sebanyak 0,5 ml. Selanjutnya disuntikkan obat premedikasi
yaitu Atropin sulfat yang di injeksi secara subcutan, dengan dosis 0,4 mg/kg BB
konsentrasi 0,25 mg/ml dan volume 0,4 ml. Injeksi Atropin sulfat berguna untuk
mengurangi efek samping anestesi seperti muntah, hipersalivasi, dll. Ditunggu selama 1015 menit untuk menunggu onset kerja Atsopin sulfat. Hal ini untuk melihat efek setelah
injeksi anestesi. Disuntikkan campuran ketamin dosis 10 mg/kg Bb konsentrasi 100
mg/ml dengan xylazine 2 mg/kg BB konsentrasi 20 mg/ml setelah 15 menit pasca
pemberian atropin sulfat dengan volume masing-masing 0,25 ml kemudian dicampur
dalam satu spuit dan dinjeksikan secara Intramuscular. Hal ini berguna sebagai agen
anestesi ketika dilakukan operasi. Ditunggu sampai efek anastesi mulai terlihat pada
hewan, setelah teranastesi hewan diposisikan rebah dorsal pada meja operasi. Hal ini
dilakukan karena situs operasi berada bagian ventral abdomen dan untuk memudahkan
proses operasi. Setelah hewan teranastesi, dilakukan restrain hewan diatas meja operasi
yang telah diberi alas.keempat kaki kucing difiksasi menggunakan tali yang diikatkan
pada kursi tujuannya untuk menjamin keamanan saat operasi jika hewan tiba-tiba sadar
dan menjadi agresif. Pencukuran rambut dilakukan dengan silet. Area yang dicukur yaitu
dibawah umbilicus kurang lebih 5 cm kearah caudal dan lateral kanan dan kiri.
Pencukuran rambut dibantu dengan air sabun dan searah rebah rambut. Tujuannya agar
pencukuran dapat dilakukan dengan mudah dan meminimalisir luka ketika pencukuran.
Area operasi yang bersih dari rambut, diberrsihkan dengan antiseptic yaitu povidone
iodine dan tampon bulat secara circular dari sentral ke tepi. Tujuannya yaitu untuk
meminimalisir mokroorganisme yang dapat menimbulkan infeksi. Kemudian dilakukan
pemasangan duk/towel dengan posisi lubang pada area operasi. Towel difiksasi dengan
towel clamp pada tepi keempat sudut lubang. Tujuannya agar towel tidak berpindah atau
bergeser yang dapat mengganggu operasi. Incisi dilakukan di caudal midline yaitu

dibawah umbilicus ke arah caudal sepanjang 5 cm. pemilihan operasi medianus caudal
midline didasari dengan tujuan dan target organ yang dicari yaitu organ uterus.
Incisis dilakukan pada lapisan kulit, subcutan, linea alba dan peritoneum,
selanjutnya ketiga lapisan dikuakan dengan Alice tissue forceps dan retractor agar area
pandang lebih luas dan memudahkan ekspolarasi abdomen menggunakan jari kelingking
atau teluunjuk untuk menemukan uterus. Perdarahan dibersihkan dengan menggunakan
tampon untuk menyerap darah yang keluar. Tarik perlahan uterus kepermukaan , hati-hati
dengan tekanan negatif rongga abdomen yang dapat menyebabkan usus keluar
menghalangi lapang pandang. setelah itu dilakukan pemisahan ovarium dengan
penggantungnya dan dilakukan ligasi menggunakan catgut chromic 3-0 pada pembuluh
darah dan bagian proksimal ovarium untuk mencegah adanya perdarahan. Apabila ligasi
dirasa sudah kuat dan tidak ada darah yang merembes maka dilanjutkan dengan
melakukan pemotongan ovarium diantara dua ligasi. Hal yang sama dilakukan pada
bagian ovarium lainya. Apabila ovarium sudah dipotong semua maka selanjutnya adalah
melakukan ligasi pada uterus. Hal ini bertujuan agar pada saat pemotongan tidak terjadi
perdarahan. Ligasi pada uterus dilakukan pada bagian corpus uteri 0,5-1 cm dibawah
bifurcartio uteri. Setelah itu dilakukan pemotongan diantara ligasi proksimal dan ligasi
medial, sisakan 1 forceps untuk membuat alur jahitan parker-ker. Apabila uterus sudah
selesai dipotong dan ligasi dirasa cukup kuat maka uterus yang tersisa dimasukan
kembali pada bagian rongga abdomen. Pada semua proses ligasi, harus selalu dipastikan
bahwa tidak ada perdarahan setelah ligasi dilakukan.
Dilakukan penutupan pada masing-masing lapisan dan diberi penicillin G serbuk
sebagai antibiotic. Karena setiap lapisan yang dibuka telah berinteraksi dengan
lingkungan yang kemungkinan tidak steril dan dapat beresiko terjadinya infeksi.
Penjahitan pertama dilakukan dengan tehnik jahitan simple interupted menggunakan
jarum bulat dengan benang cut gut chromic absorable. Penjahitan pertama ini dilakukan
pada muskulus. Benang cut gut chromic dapat diserap (absorbable) dan waktu serapnya
yang lama yaitu 20 hari. Jahitan kedua dilakukan pada liniea alba dengan pola jahitan
simple continous dengan jarum bulat dan benang cut gut chromic. Menurut (Theresa,
2007) Linea alba dapat ditutup dengan jahitan simple interrupted suture atau simple
continuous suture. Pastikan saat penjahitan pada linea alba tidak ada jaringan lain yang
ikut terjahit karena bisa menghambat penutupan luka. Jahitan ketiga pada sucutan
menggunakan jarum bulat dan benang cut gut plain dengan pola jahitan cushing. Benang
cut gut plain memiliki dengan daya serap 3-7 hari. Pola jahitan cushing termasuk pola
jahitan kosmetik yag memberikan hasil kesembuhan luka yang baik. Jarum berujung
bulat dipillih karena stukture peritoneum dan linea alba yang tidak terlalu keras sehingga

mudah ditembus jarum dan untuk meminimalisir luka/bekas jahitan. Selanjutnya jahitan
keempat pada kulit menggunakan jarum triangle dan benang silk dengan pola jahitan
simple interrupted. jarum triangle akan memudahkan proses penjahitan karena kulit
cukup keras. Jahitan interrupted dipilih karena jahitan ini kuat mempertahankan dua tepi
luka dan jika salah satu simpul lepas, simpul yang lain tidak akan lepas. Benang silk
digunakan karena lebih kuat dan setelah luka sembuh dilakukan pelepasan jahitan pada
kulit.
Setelah semua lapisan dijahit, maka diberi antiseptic povidone iodine

untuk

meminimalisir mikroorganisme dan dilakukan bandage dengan tiga lapisasn yaitu primer
layer mennggunakan sofratulle sebagai antibiotik, sekunder layer menggunakan kasa
untuk menyerap cairan luka dan sirkulasi yang baik dan tersier layer menggunakan
hypafix untuk memperkuan bandage. Pemasangan gurita bertujuaan agar kucing tidak
menjilati dan mencakar luka operasi serta melindungi luka dari kotoran. Setelah operasi
kucing ditempatkan pada kandang yang diberi penghangat bersumer lampu dop,
tujuaannya untuk membantu menstabilkan suhu normal kucing yang turun selama
operasi. Suhu kucing turun selama operasi karena laju metabolisme selama teranastesi
menurun sehingga kalor tubuh ditransfer ke lingkunagn sekitar. Setalah kucing sadar,
diberikan Betamox Long Acting dengan kandungan amoxicillin sebagai antibiotic secara
subcutan dengan dosis 0,33 ml dan tolfen sebagai analgesic yang dapat mengurangi nyeri
secara subcutan dengan dosis 0,25 ml. Karena setelah sadar, efek anastesi berkurang
sehingga kucing dapat merasakan nyeri setelah operasi.
Selama perawatan post operasi, diterapi dilanjutkan dengan antibiotic Betamox
Long Acting dengan kandungan Amoxicilin, Subcutan (SC) dengan dosis 20 mg/kg BB
konsentrasi 150 mg/ml volume 0,33 ml. Amoxicillin berguna untuk mencegah
pertumbuhan mikroorganisme dari bagian dalam tubuh serta mencegah infeksi sekunder.
Amoxicillin diberikan dua kali sehari Monitoring dilanjutkan selama perawatan hewan
untuk mengetahui kesembuhan post operasi. Monitoring yang dilakukan seperti
pemeriksaan rutin setiap hari suhu, pulsus, Capillary Refill Time (CRT), nafsu makan,
defekasi, urinasi, dan warna mukosa.

5.2 Analisa Hasil


Hasil yang diperoleh yaitu status kesehatan kucing semakin membaik. Hal ini
didukung pula dengan luka jahitan yang menyatu sempurna, nafsu makan meningkat,
kucing kembali aktif, urinasi dan defekasi normal, CRT, pulsus, dan suhu kembali
normal. Selain pemberian antibiotik peroral seperti Amoxicilin, juga diberikan antibiotik
topikal seperti Nebacetin powder yang mengandung Neomycin sulphate dan Bacitracin.
Hal ini dimaksudkan untuk mencegah infeksi sekunder pada luka jahitan.
5.2.1 Obat yang digunakan
a. Atropin Sulfat
Farmakokinetik
Atropin alkaloid belladonna, memiliki afinitas kuat terhadap reseptor
muskarinik, di mana obat ini terikat secara kompetitif, sehingga mencegah
asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik. Atropin menyekat
reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. Atropin sulfat
diberikan secara Subcutan dan dapat didistribusikan keseluruh jaringan tubuh.
Dengan pemberian secara subcutan, Atropin sulfat akan diserap secara
perlahan dan kemudian dimetabolisme di hati. Atropin sulfat

yang telah

termetabolisme akan dieksresikan melalui ginjal bersama urine.


Farmakodinamik
.Alkaloid belladonna mudah diserap dari semua tempat, kecuali kulit. Dari
sirkulasi darah, atropin cepat memasuki jaringan dan kebanyakan mengalami
hidrolisis enzimatik oleh hepar. Sebagian diekskresi melalui ginjal dalam
bentuk asal. Efeknya mampu mengurangi aktivitas traktus digestivus, menekan
urinasi dan aksi nervus vagus, kerugiannya adalah peningkatan kecepatan
metabolisme, peningkatan denyut jantung, dapat menyebabkan bradikardia
atau takikardia dan dilatasi pupil.
Efek samping sulfat yaitu mulut kering, gangguan miksi, meteorisme
sering terjadi, tetapi tidak membahayakan. Pada orang tua efek sentral
terutama sindrom demensia, dapat terjadi. Memburuknya retensi urin pada
pasien dengan hypertrofi prostat dan penglihatan pada pasien glaukoma,
menyebabkan obat ini kurang diterima. Efek samping sentral kurang pada
pemberian antimuskarinik yang bersifat ammonium kuartener. Walaupun
demikian selektifitas hanya berlaku pada dosis rendah dan pada dosis toksik
semuanya dapat terjadi.
Farmakoterapi
Dosis pada anjing adalah 0,04 mg/kgBB dengan konsentrasi 0,025%
secara subkutan (Tenant,2002).

b. Xylazin
Farmakokinetik
Xylazine mengandung 23,32 mg / ml hidroklorida xylazine dalam larutan
air injeksi berbasis. Administrasi Xylazin yaitu secara intravena, intramuskular,
subkutan, namun lebih sering diberikan secara intramuscular walaupun
Xylazine dapat menyebabkan iritasi kecil pada daerah suntikan, tetapi tidak
menyakitkan dan akan hilang dalam waktu 24 48 jam. Setelah injeksi,
Xylazin akan menyebar ke seluruh tubuh dan mempengaruhi sistem respirasi,
termoregulasi

tubuh,

kardiovaskular

dan

kesadaran

hewan.

Xylasin

dimetabolisme di hepar dan dieksresikan melalui ginjal bersama urine.


Farmakodinamik
Xylazine bekerja melalui mekanisme yang menghambat tonus simpatik
karena xylazine mengaktivasi reseptor postsinap 2-adrenoseptor sehingga
menyebabkan medriasis, relaksasi otot, penurunan denyut jantung, penurunan
peristaltik, relaksasi saluran cerna, dan sedasi. Aktivitas xylazine pada susunan
syaraf pusat adalah melalui aktivasi atau stimulasi reseptor 2-adrenoseptor,
menyebabkan penurunan pelepasan simpatis, mengurangi pengeluaran
norepineprin dan dopamin. Reseptor 2, Xylazine menghasilkan sedasi dan
hipnotis yang dalam dan lama, dengan dosis yang ditingkatkan mengakibatkan
sedasi yang lebih dalam dan lama serta durasi panjang. Xylazine menyebabkan
relaksasi otot melalui penghambatan transmisi impuls intraneural pada susunan
syaraf pusat dan dapat menyebabkan muntah. Xylazine juga dapat menekan
termoregulator. Xylazine menyebabkan tertekannya sistem syaraf pusat,
bermula dari sedasi, kemudian dengan dosis yang lebih tinggi menyebabkan
hypnosis, tidak sadar dan akhirnya keadaan teranestesi.Pada sistem pernafasan,
xylazine menekan pusat pernafasan. Xylazine juga menyebabkan relaksasi otot
yang bagus melalui imbibisi transmisi intraneural impuls pada SSP.
Penggunaan xylazine pada anjing menghasilkan efek samping merangsang
muntah tetapi dapat mengosongkan lambung pada anjing diberi makan
sebelum dianestesi.
Xylazine biasanya digunakan sebagai preanestesi, tetapi pada anjing akan
menyebabkan muntah sehingga bersifat kontra-indikasi untuk hewan yang
menderita obstruksi gastro-intestinal. Waktu induksi dari suatu agen anestesi
bisa dikurangi sampai 50-75% dengan pemberian preanestesi xylazine untuk
menghindari overdosis.
Sebagai efek samping dari xylazine adalah mengalami penurunan setelah
kenaikan awal pada tekanan darah dalam perjalanan efeknya vasodilatasi

tekanan darah dan juga dapat menyebabkan bradikardi. Kontra indikasi


Xylazin yaitu Xylazine tidak boleh digunakan pada hewan dengan
hipersensitivitas atau alergi terhadap obat tersebut, dan tidak dianjurkan pada
hewan yang menerima epinefrin,penyakit jantung,darah rendah,penyakit ginjal
dengan atau jika hewan ini sangat lemah.
Farmakoterapi
Dosis yang dianjurkan adalah 1-2 mg/kgBB secara intramuskuler atau
c.

subkutan. Efek dari xylazine dapat bertahan selama 1-2 jam.


Ketamin
Farmakokinetik
Ketamin merupakan produk anesthesia disasosiatif dimana ketamin dapat
menimbulkan efek analgesia dan amnesia tetapi relaksasi muskulus yang
buruk. Administrasi ketamin dapat diberikan secara Intramuskular dan
didistribusikan diseluruh tubuh. Metabolisme Ketamin berlangsung di hepar
dan dieksresikan bersama urine malalui ginjal.
Farmakodinamik
Ketamin dapat menimbulkan efek analgetik visceral dan somatik dan
dapat menghambat pusat rasa sakit. Fungsi respirasi menurun, tetapi akan
meningkatkan kadar gula darah dalam hati dan tekanan darah. Tidak
menyebakan problem terhadap ekskresi saliva, reflek menelan tetap ada dan
mata tetap membuka.
Ketamin dapat menimbulkan efek yang membahayakan, yaitu takikardia,
hipersalivasi, meningkatkan ketegangan otot, nyeri pada tempat penyuntikan,
dan bila berlebihan dosis akan menyebabkan pemulihan berjalan lamban dan
bahkan membahanyaka. Efek samping yang tidak diharapkan dari suatu
pembiusan itu dapat diatasi dengan mengkombinasikan obat-obatan dan
mengambil kelebihan masing-masing sifat yang diharapkan (Sardjana, 2011).
Kombinasi ini menghasilkan relaksasi muskulus yang baik tanpa
konfulsi. Emesis sering terjadi pasca pemberian ketamin xilazine, tetapi hal ini
dapat diatasi dengan pemberian atropin 15 menit sebelum pemberian ketamin
xilazine. Efek anastesi akan timbul setelah 10-30 menit, dan kembalinya
kesadaran timbul setelah 1-2 jam.
Farmakoterapi
Dosis yang digunakan untuk anjing adalah 10-20 mg/kgBB dimana onset
akan timbul dalam waktu 3-5 menit. Efek dari ketamin dapat bertahan kurang
dari 30 menit tetapi masa rekoveri dapat berlangsung selama 2-6 jam. Dosis

tambahan perlu diberikan 30-50 % dari dosis induksi.


d. Tolfedine Acid
Farmakokinetik

Asam Tolfenamic (N - (2 - metil - 3 - klorofenil) Asam antranilat) adalah


steroid agen anti - inflamasi non (NSAID), yang termasuk dalam kelompok
fenamate. Aktivitas anti - inflamasi asam Tolfenamic dievaluasi dalam
berbagai model binatang peradangan. Ditemukan bahwa itu adalah 4 kali lebih
kuat dari fenilbutazon dalam model pembelajaran tikus. tolfedine menunjukkan
ditandai sifat analgesik dan anti - piretik. Setelah pemberian oral , kadar darah
yang efisien dengan cepat tercapai (Cmax tercapai dalam 1 sampai 2 jam pada
hewan berpuasa , atau 2 sampai 4 jam bila diberikan dengan makanan) dan
berada cukup tinggi untuk mengerahkan aksi anti - inflamasi yang memuaskan
selama minimal 24 sampai 36 jam.
Farmakodinamik
Asam Tolfenamic merupakan inhibitor poten enzim siklooksigenase,
sehingga menghambat sintesis mediator inflamasi penting seperti tromboksan
(Tx) B2 dan prostaglandin ( PG ) E2 . Kerjanya tidak hanya oleh sintesis
prostaglandin, tetapi juga memiliki tindakan antagonis langsung pada reseptor .
Efek obat menunjukkan ditandai sifat analgesik dan anti - piretik. Tolfenamic
acid dikenal sangat efektif setiap kali untuk mengurangi peradangan, demam

e.

dan nyeri.
Farmakoterapi
Dosis 40 mg/kg BB secara Subcutan.
Amoxicillin
Farmakokinetik
Administrasi Amoxicillin yaitu melalui peroral selanjutnya diserap secara
lengkap oleh saluran pencernaan (74-92%) dan disebarkan diseluruh tubuh.
Kadar bermakna didalam serum darah dicapai 1 jam setelah pemberian peroral. Kadar puncak didalam serum darah 5,3 mg/ml dicapai 1,5-2 jam setelah
pemberian per-oral Metabolisme amoxicillin berlangsung di hepar dan kurang
lebih 60% pemberian per-oral akan diekskresikan melalui urin dalam 6 jam.
Farmakodinamik
Amoxicillin (alpha-amino-p-hydoxy-benzyl-penicillin) adalah derivat
dari 6 aminopenicillonic acid, merupakan antibiotika berspektrum luas yang
mempunyai daya kerja bakterisida. Amoxicillin, aktif terhadap bakteri gram
positif maupun bakteri gram negatif. Bakteri gram positif: Streptococcus
pyogenes,

Streptococcus

viridan,

Streptococcus

faecalis,

Diplococcus

pnemoniae, Corynebacterium sp, Staphylococcus aureus, Clostridium sp,


Bacillus

anthracis.

Neisseriameningitidis,

Bakteri

gram

Haemophillus

negatif:
influenzae,

Neisseira

gonorrhoeae,

Bordetella

pertussis,

Escherichia coli, Salmonella sp, Proteus mirabillis, Brucella sp. Mekanisme

kerja Amoxicillin yaitu menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan


mengikat satu atau lebih pada ikatan penisilin-protein (PBPs Protein binding
penisilins), sehingga menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir
transpeptidase sintesis peptidoglikan

dalam dinding sel bakteri, akibatnya

biosintesis dinding sel terhambat, dan sel bakteri menjadi pecah (lisis).
Amoxicillin tidak dianjurkan untuk penderita yang alergi terhadap penicillin.
Farmakoterapi
Amoxicillin dapat diberikan secara Peroral (PO). Dosis pemberian untuk
f.

kucing yaitu 20 mg/Kg berat badan.


Nebazetin
Farmakokinetik
Nebazetin powder mengandung 5 mg Neomycin sulfat (setara dengan 3,3
mg Neomycin base) dan 250 unit Bacitracin.
Farmakodinamik
Obat luar yang bekerja sebagai antibiotik (membunuh kuman dan
mengobati infeksi) pada luka terbuka. dapet digunakan untuk membunuh
bakteri penyebab infeksi, karena Nebacetin Powder mengandung neomycin
sulfat dan bacitracin. Neomycin sulfat efektif untuk membunuh bakteri gram
positif dengan mekanisme kerja menghambat biosintesis dinding sel bakteri
gram negatif dengan mekanisme kerja merusak kode genetik dan urutan
sintesis protein dari bakteri.
Keunggulan Nebacetin Powder adalah mengandung 2 (dua) antibiotik
yang bekerja sinergis (saling menguatkan) sehingga lebih efektif membunuh
bakteri penyebab infeksi. Indikasi Nebazetin powder yaitu efektif untuk infeksi
lokal pada luka-luka terbuka pada kulit dan mukosa. kontra indikasi pada
penderita yang hipersensitif terhadap neomycin, Bacitracin atau golongan
aminoglikosida lain.
Farmakoterapi
Pemakaian Nebazetin powder dapat diberikan dengan dosis tinggi karena
penggunaannya secara lokal. Pada luka terbuka seperti luka jahitan, Nebazetin
dapat diberikan secara merata diatas luka sebelum dan setelah penjahitan.
Sedangkan pada luka trauma, pemakaiannya dengan cara ditaburkan diatas

g.

luka 2-3 kali sehari.


Povidone Iodine
Farmakokinetik
Povidon Iodine adalah suatu iodofor dari pembentukan kompleks antara
iodium dengan polivinilpirolidon
Farmakodinamik
Polivinilpirolidon berperan sebagai pembawa molekul memiliki berat
molekul rata-rata lebih kurang 40.000. Menurut Farmakope edisi IV (1995)

larutan povidon iodine mengandung tidak kurang dari 85% dan tidak lebih dari
120% Iodum dari jumlah yang tertera pada etiket, serta dapat mengandung
sedikit etanol. Kandungan etanol (jika ada) antara 90% dan 110% dari jumlah
yang tertera pada etiket. Mekanisme kerja povidon iodine dimulai setelah
kontak langsung dengan jaringan maka elemen iodine akan dilepaskan secara
perlahan-lahan dengan aktifitas menghambat metabolisme enzim bakteri
sehingga mengganggu multiplikasi bakteri yang mengakibatkan bakteri
menjadi lemah. Iodine dalam jumlah kecil diserap masuk ke dalam aliran
darah, sehingga menyebabkan efek sistemik dengan akibat shock dan anoksia
jaringan. Penggunaan iodine harus dengan diencerkan terlebih dahulu, hal ini
karena iodine dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi kulit.
Penggunaan iodine yang berlebihan dapat menghambat proses granulasi luka.
Povidon iodine yang biasanya digunakan dalam perawatan luka hanya 10%.
Hasil suatu penelitian menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi iodine
yang digunakan semakin mempercepat fase penyembuhan luka.
Povidon Iodine harus hati-hati bila digunakan pada permukaan kulit
rusak yang luas (misalnya luka bakar), karena iodium dapat diresorpsi dan
meningkatkan kadarnya dalam serum sehingga dapat menimbulkan asidosis,
neutropenia dan hipotirosis. Toksisitas dari povidon iodine dapat terjadi apabila
zat ini masuk ke traktus gastro intestinal yang menyebabkan korosif.
Keuntungan dari zat aktif povidone iodine sebagai antiseptik yaitu tidak
merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil karena tidak
menguap. Penggunannya yang berulang kali akan mengendap sehingga
efeknya bertahan lama. Keuntungan lainnya yaitu povidon iodine akan tetap
aktif pada luka yang terdapat darah, nanah, serum dan jaringan neukrotik.
Warna coklat dan baunya merupakan sifat obat ini yang kurang
menguntungkan.
Farmakoterapi
Povidone iodine digunakan secara topikal dan penggunaan dosis tinggi
tidak akan menimbulkan masalah karena penggunaannya secara topikal.
5.2.2 Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan luka antara lain adalah (Shaw,
2013) :
a. Usia: semakin tua seekor hewan maka akan menurunkan kemampuan
penyembuhan jaringan.
b. Pengobatan: beberapa terapi pengobatan dapat mempengaruhi kesembuhan luka.

c. Infeksi: infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat
juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang, sehingga akan
menambah ukuran dari luka itu sendiri, baik panjang maupun kedalaman luka.
d. Hipovolemia: kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan
menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
e. Hematoma: hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka
secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika
terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat
diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
f. Benda asing: benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan
terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari
serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah), yang membentuk
suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (Pus).
g. Iskemia: iskemi merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai
darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat
terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor
internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.
h. Diabetes: hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan
gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan
terjadi penurunan protein-kalori tubuh.

BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Ovaryohisterectomy merupakan tindakan pengambilan ovarium, corpus uteri, dan
kornua uteri. indikasi adanya penyakit atau kasu-kasus seperti Tumor yang menyerang
organ reproduksi hewan betina, Cysta ovary, Pyometra, Metritis, Salpingitis , dan Kanker
mammae. Pasca Ovaryohisterectomy , kucing betina memiliki resiko terkena kanker
mammae 40-60% lebih rendah dibandingkan kucing kucing yang

tidak dilakukan

tindakan Ovaryohisterectomy. Selain kasus-kasus yang telah disebutkan sebelumnya,


beberapa pemilik kucing meminta dilakukan Ovaryohisterectomy dengan tujuan
modifikasi tingkah laku sehingga kucing lebih mudah dikendalikan dan lebih jina, tujuan
penggemukan atau untuk membatasi populasi kucing liar. Uterus kucing betina adalah
organ berbentuk huruf Y yang terdiri atas corpus sepanjang 2 cm yang terletak antara
kolon yang turun secara dorsal dan kandung kemih secara ventral dan dua koruna uteri
sepanjang 10 cm yang memanjang secara cranial untuk bertemu dnegan oviduk. Kedua
sisi uterus terhubung ke dinding pelvis dan abdomen oleh ligamentum lata uteri.
Tindakan bedah Ovaryohisterectomy yang telah dilakukan dapat disimpulkan telah
berhasil dan kondisi kucing semakin membaik.
6.2 Saran
Sebaiknya mata kucing dijaga agar tidak terkena agen-agen yang dapat mengiritasi
mata karena saat kucing efek anestesi mnyebabkan reflek menutupnya palpebrae atau
kelopak mata hilang. Jika dibiarkan maka akan menyebabkan iritasi pada mata kucing
ditandai dengan hiperlakrimasi setelah operasi

DAFTAR PUSTAKA
Fossum, T, W. 2010. Small Animal Surgery 3rd Edition. Missouri: Mosby Elsevier
Junaidi, A. 2013. Reproduksi Dan Obstretri Pada Kucing. Gadjah Mada Press : Yogyakarta
Rout, M. V. 2005. Estrous Length Pregnancy Rate, Gestation And Parturition Lengths, Litter
Size, And Juvenile Mortality In Domestic Cat. J. Am. Anim. Hosp. Assoc. 31 : 429-433
Sardjana, I K, W. dan Diah, K. 2011. Bedah Veteriner. Airlangga University Press, Surabaya
Shaw, S, P., Rozanski, E, A., Rush, J, E. 2013 Traumatic Body Wall Herniation In 36 Dogs
And Cats. J Am Anim Hosp Assoc. 39:35.
Sudisma, I, G. 2006. Ilmu Bedah Veteriner dan Teknik Operasi. Palawa Sari : Denpasar
Tilley, L, P. 2000. The 5 Minute Veterinary Consult Canine And Feline. William & Wilkins :
USA
Tobias, Karen M., Johnston, S. A. 2012. Veterinary Surgery: Small Animal. St. Louis: Elsevier
Saunders
Yusuf. 2012. Buku Ajar Ilmu Reproduksi Ternak. Universitas Hasanuddin Fakultas Peternakan
: Makassar

Anda mungkin juga menyukai