Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH FISIKA MODERN

RADIOAKTIVITAS DAN REAKSI INTI


Dosen Pengampu : Fathiah Alatas, S. Pd., M. Si.

Disusun Oleh :

Yuli Rahmah

: 1113016300041

Ai Ummul Apiah

: 1113016300054

Fisika 7 B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2016

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga dapat menyusun
makalah ini dengan baik. Tidak lupa pula shalawat dan salam kami curahkan
kepada Nabi Muhammad saw. karena berkat bimbingan beliau kami tetap di jalanNya.
Penyusun berharap, makalah yang kami susun dapat memberi manfaat dan
dapat mengambil pelajaran dan bisa mengambil hikmah dari hal-hal yang telah
kami susun ini.
Tidak lupa pula dalam kesempatan kali ini kami menyampaikan ucapan
terima kasih kami kepada Ibu Fathiah Alatas, M. Pd. selaku dosen mata kuliah
Fisika Modern kami, yang telah memberikan kami kesempatan untuk membahas
materi tersebut. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada teman-teman atas
dukungan dan masukannya dalam penyusunan makalah ini.
Kami tahu makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran dari
berbagai pihak sangat kami harapkan, agar ke depan kami bisa menyusun makalah
dengan lebih baik. Harapan kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami
dan para pembaca.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Tangerang, 11 September 2016

Penyusun

ii

DAFTAR ISI
Kata Pengantar ........................................................................................................ ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB I Pendahuluan ................................................................................................ 1
1.1.

Latar Belakang..................................................................................................... 1

1.2.

Rumusan Masalah ............................................................................................... 1

1.3.

Tujuan ................................................................................................................. 2

1.4.

Metode Penulisan ............................................................................................... 2

BAB II Pembahasan ................................................................................................ 3


2.1.

Penemuan Radioaktif .......................................................................................... 3

2.2.

Peluruhan Radioaktif........................................................................................... 4

a.

Aktivitas Bahan Radioaktif dan Hukum Peluruhan ............................................. 4

b.

Waktu Paro ......................................................................................................... 7

c.

Latihan Soal ......................................................................................................... 9

2.3.

Peluruhan Inti...................................................................................................... 9

a.

Peluruhan Alpha () .......................................................................................... 12

b.

Peluruhan Beta () ........................................................................................... 14

c.

Peluruhan Gamma () ....................................................................................... 18

d.

Sifat Radiasi , , .................................................................................... 19

e.

Deret Radioaktif ................................................................................................ 19

2.4.

Reaksi Inti .......................................................................................................... 21

a.

Reaksi Fisi .......................................................................................................... 21

b.

Reaksi Fusi ......................................................................................................... 24

BAB III Penutup ................................................................................................... 26


3.1.

Kesimpulan ........................................................................................................ 26

3.2.

Kritik dan Saran ................................................................................................. 27

Daftar Pustaka ........................................................................................................ iv

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada saat ini dunia teknologi sudah berkembang dengan pesat, mulai
dari bidang kedokteran, pertanian, perairan, dan pangan. Perkembangan
tersebut juga diiringi dengan penggunaan bahan radioaktif yang sudah
diteliti sehingga aman untuk dikonsumsi sesuai dengan takaran yang ada.
Maka dari itu, kami mencoba untuk membahas mengenai radioaktivitas.
Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk
memancarkan radiasi menjadi inti yang stabil. Materi yang mengandung
inti tak-stabil yang memancarkan radiasi, disebut zat radioaktif. Reaksi
inti merupakan peristiwa perubahan suatu inti atom sehingga berubah
menjadi inti atom lain dengan disertai munculnya energi yang sangat besar.
Ada banyak kesamaan antara struktur atom dan struktur inti atom
yang memudahkan kita dalam mengkaji berbagai sifat inti atom. Perilaku
inti atom tunduk pada hukum-hukum fisika kuantum. Mereka memiliki
keadaan dasar dan eksitasi serta memancarkan foton (yang dikenal sebagai
sinr gama) sewaktu melakukan transisi antara berbagai keadaan
eksitasinya. Seperti halnya dengan keadaan atom, keadaan inti atom juga
di lebel oleh momentum sudut totalnya.
1.2. Rumusan Masalah
Dalam penulisan makalah ini terdapat pembatasan masalah yang
terseusun dalam rumusan masalah, sebagai berikut;
1) Bagaimana sejarah ditemukannya radioaktif?
2) Apa pengertian radioaktif dan radioaktivitas?
3) Apa yang dimaksud peluruhan inti?
4) Bagaimana penurunan persamaan aktivitas, hokum peluruhan
radioaktif dan waktu paro?
5) Bagaimana sejarah ditemukannya radioaktif , , dan ?

6) Bagaimana sifat dari bahan-bahan radioaktif radioaktif , , dan ?


7) Apa yang dimaksud deret radioaktif?
8) Apa yang dimaksud reaksi fisi dan reaksi fusi inti?
1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penulisan
makalah ini adalah:
1. Mengetahui sejarah ditemukannya bahan radioaktif
2. Mengetahui pengertian radioaktif dan radioaktivitas
3. Mengetahui apa yang dimaksud dengan peluruhan inti
4. Mengetahui bagaimana penurunan persamaan aktivitas, hukum
peluruhan radioaktif dan waktu paro
5. Mengetahui sejarah ditemukannya radioaktif , , dan
6. Mengetahui sifat dari bahan-bahan radioaktif radioaktif , , dan
7. Mengetahui apa yang dimaksud deret radioaktif
8. Mengetahui apa yang dimaksud reaksi fisi dan reaksi fusi inti
1.4. Metode Penulisan
Metode yang kami lakukan dalam penyusunan makalah ini yakni
dengan metode studi pustaka, seperti mencari data dari beberapa buku
referensi, jurnal penelitian dan data dari internet, yang berkaitan dengan
materi yang akan dibahas.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Penemuan Radioaktif
Penemuan sinar-x oleh rontgen pada tahun 1895 merangsang Henri
Becquerel untuk menyelidiki asal-usul sinar-x. dalam percobaan yang
dilakukan, sebenarnya Becquerel sedang mempelajari gejala flueresens dan
fosforesens. Gejala flouresens adalah gejala di mana suatu benda dapat
memancarkan cahaya yang berbeda ketika menerima cahaya dari luar atau
menerima tembakan dari aliran partikel.1 Misalnya, dinding kaca dalam tabung
sinar katoda yang memancarkan dari aliran cahaya hijau ketika dinding kaca
dalam tabung sinar katode. Gejala fosforesens adalah gejala di mana suatu
benda dapat memancarkan cahaya beberapa selang waktu kemudian setelah
benda itu menerima cahaya dari luar2, misalnya pada jarum penunjuk arloji
yang bersinar pada malam hari setelah menerima cahaya matahari pada siang
hari.
Dalam penyelidikannya itu, secara kebetulan Becquerel menemukan
bahwa senyawa uranium menunjukkan keaktifan radiasi tertentu dengan daya
tembus yang sangat kuat, seperti sinar-X, meskipun senyawa uranium itu tidak
disinari terlebih dahulu. Mula-mula Becquerel menduga bahan ini menyimpan
energy matahari yang di peroleh sebelumnya. Kemudian Becquerel menguji
dugaannya dengan menempatkan bijih uranium dalam kotak hitam yang
tertutup rapat dan menyimpannya beberapa bulan. Ternyata, walau sudah
tertutup rapat dan tidak ada sumber energy, bahan uranium tersebut tetap
menunjukan keaktifan radiasi, yakni dapat menghitamkan pelat film. Ini bearti,
tanpa terkena sinar matahari pun, bahan uranium tetap menghasilkan sinar
tembus seperti halnya sinar-x. pemancaran sinar tembur (sinar radioaktif)
secara spontan oleh inti-inti stabil (misalnya inti uranium) dinamakan

1
2

Kanginan, Marthen. Fisika untuk SMA Kelas XII. (Jakarta: Erlangga, 2006) hlm. 362
Ibid.

radioaktifitas3. Nama ini diberikan oleh Marie Carie. Jadi, radioaktifitas alami
pertama kali ditemukan oleh Henri Becquerel. Becquerel tidak menyedari
bahwa sinar ini berbahaya sehingga beruntunglah Becquerel karena terhindar
dari bahaya sinar radioaktif ini. Sekarang, telah diketahui bahwa radiasi ini
dapat menyebabkan ionisasi molekul dalam sel-sel hidup, yang selanjutnya
dapat merusak sel. Beberapa waktu kemudian, pasangan suami-istri Marie
Curie dan pierre Curie berhasil menemukan dua unsur radioaktif baru:
polonium dan radium.
2.2. Peluruhan Radioaktif
Peluruhan radioaktif adalah proses statistik yang memenuhi teori
kemungkinan. Tidak ada hubungan sebab akibat yang terkait dalam peluruhan
inti, yang terdapat hanalah kemungkinan per satuan waktu4.
a. Aktivitas Bahan Radioaktif dan Hukum Peluruhan
Misalkan kita ambil suatu contoh bahan radioaktif yang
mengandung sejumlah tertentu inti atom radioaktif. Inti-inti radioaktif ini
tidak meluruh sekaligus pada suatu waktu. Sebagai gantinya inti-inti
radioaktif ini meluruh satu per satu selama suatu selang waktu tertentu. Laju
perubahan radioaktif dalam suatu bahan radioaktif disebut aktivitas5
(lambang A). aktivitas hanya ditetukan oleh banyaknya inti yang meluruh
per sekon. Jika peluang tiap inti untuk meluruh disebut tetapan peluruhan
(lambang )6, maka aktivitas bahan bergantung pada banyak inti radioaktif
dalam bahan (N) dan . Secara matematis ditulis dengan persamaan (2.1)
=
Tetapan peluruhan memiliki harga berbeda untuk inti yang berbeda tetapi
konstan tehadap waktu. Karena peluruhan, maka banyaknya inti radioaktif
3

Ibid.
Wiyatmo, Yusman. FIsika Nuklir : dalam Telaah Semiklasik dan Kuantum. (Yogyakarta: Pustaka
Palajar, 2009), h. 60
5
Krane, Kenneth. Fisika Modern. (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press),1992), hlm.
359
6
Ibid. hlm. 360
4

N berkurang terhadap waktu. Karena N berkurang terhadap waktu dan


tetap, maka aktivitas A haruslah berkurang terhdap waktu. Kita dapat
definisikan aktivitas A sebagai laju peluruhan sejumalh inti radioaktif
terhadap waktu. Makin banyak inti yang yang meluruh persatuan waktu,
makin besar A. secara matematis, pernyataan ini dinyatakan oleh persamaan
(2.2)
=

Tanda negatif kita berikan karena N berkurang terhadap waktu. Sedang kita
menginginkan A berhaga positif . Dari (2.1) dan (2.2) kita peroleh

Atau

Persamaan diatas dapat kita integralkan secara langsung untuk


menghasilkan

[ln ]
0 = []0

ln ln 0 =
ln

=
0

=
0
Hukum Peluruhan Radioaktif (2.3)
= 0
Dengan,

= Banyaknya inti radioaktif pada saat t = 0,

= banyak inti radioaktif setelah selang waktu t

= bilangan natural = 2,718 ,

= tetapan peluruhan (satuan s-1)


Persamaan (2.3) menyatakan bahawa banyaknya inti induk dalam

suatu contoh berkurang secara eksponensial terhadap waktu. Persamaan


(2.3) disebut hukum peluruhan radioaktif7.
Kits secara nyata tidak dapat mengukur banyaknya inti radioaktif N,
tetapi kita dapat menyatakan persamaan (2.3) kedalam bentuk persamaan
aktivitas, yaitu dengan mengalikan kedua ruasnya dengan sehingga
memberikan
= 0
Aktivitas radioaktif (2.4)
= 0
Dengan,
0

= Aktivitas awal pada t = 0 (satuan Becquerel atau Bq)

= Aktivitas setelah selang waktu t (dalam Bq)

Satuan Aktivitas Radiasi


Dalam SI, satuan aktivitas radiasi dinyatakan dalam Becquerel (Bq),
sesuai dengan anma penemu radioaktivitas, dengan
1 Bq = 1 peluruhan/sekon
Satuan yang paling sering digunakan oleh alat pengukur aktivitas radiasi
adalah curie (Ci). Satu curie didefiniskan sebagai banyaknya peluruhan
yang dilakukan oleh satu gram radium dalam waktu satu sekon 8.

7
8

Ibid., hlm. 361


Ibid., hlm. 360

Ternyata diperoleh 3,7 1010 peluruhan dalam satu sekon, sehingga


didapat hubungan :
1 curie = 3,7 1010

peluruhan
= 3,7 1010 Bq
s

b. Waktu Paro
Jika masa hidup suatu isotop radioaktif diambil sebagai waktu yang
diperlukan agar seluruh inti yang ada meluruh atau waktu yang diperlukan
agar aktivitas sama dengan nol, maka jelaslah dari persaman (2.4) bahwa
masa hidup isotop radioaktif apa saja adalah tak berhingga.
Grafik Peluruhan Radioaktif dan aktu Paro

Karena masa hidup suatu isotop radioaktif adalah tak terhingga,


maka tidaklah terlalu berguna untuk membicarakan tentang masa hidup
(waktu hidup) suatu isotop radioaktif. Sebagai gantinya kita mendefinisikan
waktu paro (1 ). Waktu paro dari suatu isotop radioaktif adalah selang
2

waktu yang dibutuhkan agar aktivitas radiasi berkurang setengah dari


aktivitas semula9. Waktu paro juga dapat didefinisikan sebagai selang waktu
yang dibutuhkan agar setengah dari inti radioaktif yang ada meluruh. Jadi,
jika jumlah inti mula-mula N0 , maka setelah selang wantu = 1 , jumlah
2

inti tinggal = 2 0 . Dengan mensubstitusikan ke persamaan (2.4)


diperoleh

Ibid., hlm. 361

0
1
2
= 0
2
1
1
2
=
2
21 =

ln 21 = ln

ln 2 = 1

ln 2 = 1

1 =
2

ln 2

Waktu Paro (2.5)


1 =
2

0,693

Kita bisa memperoleh hubungan N dan N0 dengan fakta bahawa setiap 1 ,


2

banyak inti yang tinggal adalah dari banyak inti sebelumnya


1

1 1

1 2

Setelah = 1 1 , banyak inti atom = 0 = ( ) 0


2

Setelah = 2 1 , banyak inti atom = 4 0 = (2) 0


2

Secara umum, banyak (inti) atom yang tinggal (belum meluruh) setelah
selang waktu = 1

Jumlah atom sebelum meluruh persamaan (2.6)


1
= ( ) 0
2
Dengan
=

dengan,
t

= Lama penyimpanan atau umur radioaktif,

= Banyaknya atom radioaktivitas mula-mula,

() = Banyaknya atom radioaktif yang tersisa pada saat t.

c. Latihan Soal
1. Usia-paruh

198

Au adalah 2,70 hari. (a) berapakah tetapan luruh

198

Au?

(b) berapakah probabilitas sebarang inti 198Au untuk meluruh dalam satu
detik? (c) andaikan kita mempunyai cuplikan

Au sebanyak 1,00g.

198

Berapakah aktivitasnya? (d) berapa jumlah peluruhan per detik yang


terjadi apabila usia cuplikan ini satu minggu?
Pemecahan :
(a) =

0,693
12

0,693
2,70

24 3600

= 2,97 106 1
(b) Probabilitas peluruhan per detik adalah tetapan luruh. Jadi,
probabilitas peluruhan sebarang

198

Au dalam satu detik adalah

2,97 106 1
(c) Jumlah atom dalam cuplikan adalah
= 1,00 106

1
198

6,021023

= 3,04 1015
= = (2,97 106 1 )(3,04 1015 )
= 9,03 109
= 1,50 0,244
(d) Aktivitas meluruh menurut persamaan (2.4):
= 0
= (9,03 109

0,693
)(7 )
2,70

= 1,50 10 /
2.3. Peluruhan Inti
Radioaktivitas atau peluruhan radioaktif adalah peristiwa pemancaran
energi dalam bentuk sinar-sinar radioaktif dari inti tidak stabil untuk
membentuk inti stabil10. Peristiwa ini sering berlangsung secara spontan dan
10

Supiyanto. Fisika 3 untuk SMA Kelas XII. (Jakarta: Phibeta, 2007)., hlm. 293

biasanya disertai dengan pemancaran partikel , partikel , dan sinar . Pada


umumnya, inti yang mengalami peluruhan adalah inti dengan nomor atom
besar karena memiliki energi ikat per nucleon yang relatif kecil.
Penemuan Jenis-Jenis Radioaktif
Pada tahun 1899, Ernest Rutherford melakukan percobaan dalam
rangka studinya mengenai radioaktif. Rutherford dan rekan sekerjanya
berhasil membedakan tiga jenis radiasi yang dipancarkan oleh
radionuklida, yakni zarah alfa, beta dan gamma yang akhirnya dikenal
sebagai inti, electron dan foton11. Energy gamma lebih besar daripada
energy zarah beta dan alfa. Radiasi yang energinya terkecil adalah zarah
alfa. Sebagai ilustrasi pada gambar 1 berikut disajikan gerakan zarah alfa,
beta dan gamma dalam pengaruh medan magnet homogen.

Gambar 1.Jenis-jenis Radiasi yang dipancarkan Radionuklida

Pada gambar 1 tersebut tampak bahwa sinar alfa dan beta dibelokkan
dalam pengaruh medan magnet. Hal ini disebabkan sinar alfa dan beta
adalah zarah bermuatan positif dan negative. Sedangkan sinar gamma tidak
dibelokkan dalam medan magnet, karena sinar gamma merupakan radiasi
elektromegnetik yang tidak bermuatan. Selanjutnya pada gambar 2 berikut

11

Yusman. Op. Cit., hlm. 62

10

ini disajikan ilustrai tentang kemampuan daya tembus sinar alfa, beta dan
gamma.
Bagaimana dengan daya tembus sinar-sinar radioaktif?
Percobaan Becquerel telah memperlihatkan bahwa radiasi dapat
menembus film, tetapi tidak dapat menembus kunci. Kita sekarang akan
melihat bagaimana radiasi dapat dihentikan oleh bahan-bahan tertentu.
Sewaktu radiasi menembus bahan, radiasi ini kehilangan energy karena
bertumbukan dengan atom-atom penyusun bahan. Pada kejadian ini
ditkatakan bahwa radiasi diserap oleh bahan. Untuk mempelajari sifat
penyerapan oleh bahan ini, biasanya dilakukan percobaan seperti gambar
10.9 bahan yang menyerap sinar radioaktif disisipkan di antara tabung GM (Geiger-Muller) dan sumber radioaktif. Oleh karena bahaya radiasi,
orang yang melakukan oercobaan ini perlu memakai sarung tangan untuk
menghindari kontak langsung dengan sumber radiasi.
Sewaktu selembar kertas tipis disisipkan di antara sumber dan
tabung, pembacaan angka pada alat hitung berkurang bila dibandingkan
sebelumnya. Fakta ini menunjukkkan bahwa sebagian radiasi telah diserap
oleh kertas. Radiasi yang diserap oleh kertas tipis adalah radiasi sinar .
Sewaktu selembar aluminium setebal 3mm disiipkan di antara
sumber dan tabung pembacaan angka pada alat hitung berkurang makin
banyak. Fakta ini menunjukka bahwa sebagaian radiasi telah diserap oleh
aluminium. Tambahan radiasi yang diserap oleh lembaran aluminium
adalah sinar .
Sewaktu selembar timbal setebal 3cm disisipkan di antara sumber
dan tabung, pembacaan angka pada alat hitung berkurang makin banyak.
Fakta ini menunjukkan bahwa jenis radiasi ketiga telah banyak diserap.
Radiasi yang diserap oleh selembar timbal adalah radiasi .

11

Hasil percobaan ini dilukiskan pada gambar 2 dari hasil ini didapat
bahwa: urutan daya tembus sinar radioaktif yang terkecil ke yang terbesar
adalah , , lalu . Secara singkat, urutan daya tembusan adalah:

Gambar 2 : Ilustrasi kemampuan daya tembus sinar alfa, beta dan gamma

Jenis radiasi yang dipancarkan radioaktif adalah:


a. Peluruhan Alpha ()
Suatu inti radioaktif tertentu (dengan Z > 82) secara spontan meluruh
menjadi inti turunan dengan memancarkan inti helium 42 atau partikel
12. Berdasarkan kekekalan muatan dan nucleon, peluruhan memenuhi
reaksi yang dinyatakan oleh:

4
2

+ 24

Dengan T adalah inti turunan dan I adalah inti induk.


Contohnya adalah
212
83

208
81

1 + 24

Persamaan reaksi peluruhan tersebut adalah untuk inti yang dapat


dinyatakan dalam atom dengan menambah sejumlah electron yang sesuai:

(inti) +

12

4 (inti)
+
2

(Atom)

4
2

( 2) + 24 + 2

(Atom) + 24 (Atom)

Kusminarto. Esensi Fisika Modern. (Yogyakarta: ANDI, 2011), hlm.179

12

Jika inti induk mula-mula dalam keadaan rehat (tak bergerak), hukum
kekekalan energi memberikan:
( ) = ( )
( + ) = ( + )
2 + 0 = 2 + + 2 +
( ) 2 = +

Dengan,

= Massa atomic induk

= Massa atomic turunan

= Massa atom 24
= Energi kinetic turunan
= energy kinetic
Energy kinetic tidak pernah negatif, maka ( ) > 0
sehingga menjadi persamaan (3.1):
> ( + )
Keadaan dalam persamaan (3.1) merupakan syarat agar terjadi peluruhan
. Energy yang dilepaskan pada peluruhan, yaitu energy kinetic inti
turunan dan energy kinetic hasil peluruhan ( + ) disebut eneri
disintegrasi dengan symbol Q dalam persaman (3.2).
= + = ( ) 2
Hukum kekekalan momentum dalam peluruhan ini memberikan :
=
Jika persamaan diatas dikuadratkan dan dikalikan dengan faktor 1/2 maka
akan kita peroleh:
1
1
( )2 = ( )2
2
2
1
1
( 2 ) = ( 2 )
2
2
=

13

4 dan = 4 dalam satuan massa atom u, maka


( 4) = 4
=

Masukkan ke persamaan (3.2) maka kita peroleh:

=1+

= +

Atau persamaan (3.3)


=

Inti atom yang meluruh dengan memancarkan adalah inti-inti dengan


nomor atom Z yang besar dan demikian pula, nomor massa A sehingga:

(untuk A >> 4)

Dengan demikian, energy peluruhan hamper seluruhnya diberikan kepada


partikel sebagai energy kinetic, sedangkan energy kinetic turunan
(energy pentalan) dapat dianggap sama dengan nol.
b. Peluruhan Beta ()
Peluruhan beta dapat didefinisikan sebagai proses peluruhan
radioaktif dengan muatan inti berubah tanpa terjadi perubahan cacah
nucleon13. Contoh sederhana digambarkan pada peluruhan 125 menjadi 126
dan 127 menjadi

12
6

Ketiga inti memiliki cacah nucleon yang sama, tetapi cacah proton dan
neutronnya berbeda. 126 adalah inti stabil dengan cacah proton dan neutron

13

Ibid., hlm. 182

14

yang sama, masing-masing 6. Boron terlalubanyak neutronnya, sedangkan


nitrogen terlalu banyak protonnya. Inti boron yang tak stabil meluruh
dengan mengubah satu neutronnya menjadi proton untuk menjadi inti
karbon. Agar muatan listriknya kekal, suatu muatan negative dibentuk
(electron). Jika electron harus berada di dalam inti dengan ukuran diameter
berorde besar 10-14 m maka menurut asas ketidakpastian Heisenberg,

electron harus memiliki momentum dengan lebar jangkauan = ~ =


20 /. Eksperimen membuktikan bahwa energy partikel dalam
peluruhan umumnya kurang dari 1 MeV sehingga electron dengan energi
20 MeV tidak dapat berada di dalam inti dan diemisikan sebagai radiasi
yang disebut sinar beta14.
12
5

12
6

+ +

disebut anti neutrino, yaitu partikel netral yang tak bermassa seperti
foton. Artinya, kelajuannya sama dengan c dan seluruh energinya bersifat
kinetis. Analogi dengan

12
5

12
7

terlalu banyak cacah proton

dibandingkan dengan cacah neutronnya untuk stabil. Oleh karena itu,

12
7

meluruh degan mengubah sebuah proton menjadi neutron serta melepaskan


sebuah muatan positif yang disebut positron15.
12
7

12
6

+ + +

disebut neutrino, yaitu partikel sejenis antineutrino dengan spin


berlawanan tehadap spin neutrino.
Selain peluruhan beta negative dan beta positif, ada satu lagi tipe
peluruhan yang termasuk dalam peluruhan beta, yaitu tangkapan electron.
Dalam tangkapan electron, sebuah electron orbit ditangkap oleh proton
dalam inti untuk berubah menjadi neutron. Di sini cacah nukleonnya tetap,
tetapi sebuah protonnya berubah menjadi neutron seperti pada peluruhan

14
15

Ibid.
Ibid.

15

beta positif. Electron dari kulit K memiliki kemungkinan terbesar untuk


ditangkap oleh proton. Contoh tangkapan electron adalah pada 74:
7
4

+ 1 73 +

Kita tidak dapat mengamati langsung proses tangkapan electron, tetapi


dapat melihatnya dari radiasi sinar-X karakteristik yang dipancarkan karena
electron kulit K yang telah ditangkap meninggalkan tempat kosong di kulit.
Electron-elektron di kulit yang lebih luar akan mengisinya dengan melepas
energy berupa sinar-X karakteristik inti turunan.
Berikut adalah penjelasan ketiga tipe peluruhan beta secara rinci.
a) Peluruhan Beta Negative ( )
Peluruhan inti induk I menjadi turunan T dapat dituliskan sebagai
berikut:

+1

+ 10 +

(inti)

Kekekalan energi menghasilkan persamaan :


(mI Zme )c 2 = [mT (Z + 1)me ]c 2 + me c 2 + Ekin T + Ekin e + Ekin
= + + / 2

Dengan,
= + +
Kita peroleh persamaan (3.4) :
= + / 2
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa peluruhan hanya mungkin
jika > . Dari persamaan ini pula, nilai Q suatu peluruhan dapat
dihitung langsung, yaitu persamaan (3.5) :
= ( ) 2
Misalnya pada peluruhan

12
5

menjadi

12
6 ,

energy peluruhannya

adalah:
= ( ) 2

= Massa atom

12
5

= 12,014354 u

16

12
6

= Massa atom

= 12,000000 u

= 0,014354
= 0,014354 2
= 0,014354

931,5
2

= 13,37
b) Peluruhan Beta Positif ( + )
Persamaan reaksi peluruhan :

+1

+ +1 +

Seperti pada proses peluruhan beta negative, kekekalan energy


memberikan:
= [ ( 1) ] + + / 2
Atau
= + 2 + / 2
Peluruhan beta positif hanya mungkin jika massa induk lebih besar
paling tidak 2 terhadap massa turunan.
c) Tangkapan Elektron
Persamaan reaksi peluruhannya secara umum adalah
+ ( ) = [ ( 1) ] + / 2
Atau
= + / 2
Seperti peluruhan , peluruhan dapat pula diikuti oleh radiasi gamma
().
Neutrino dan antineutrino pada mulanya merupakan partikel
yang didalilkan oleh pauli (1931) sebelum akhirnya terbukti dari
pengamatan bahwa keduanya bertanggungjawab atas terjadinya
kekekalan energy dan spin. Misalnya, pada proses peluruhan dari

17

neutron menjadi proton dan electron, kalau tak ada antineutrino maka
hokum kekekalan momentum sudut akan melanggar. Namun, dengan
kehadiran antineutrino hal ini terhindar. Akibatnya, distribusi energy
sinar beta mempunyai spectrum yang kontinu. Hal ini dapat dipahami
karena energy peluruhan Q tidak hanya diberikan pada beta, tetapi juga
kepada neutrino/antineutrino. Persamaannya (3.6) :
= +
Energy maksimum sinar beta sama dengan energy disintegrasinya.
=
c. Peluruhan Gamma ()
Suatu inti dapat berda pada tingkat tereksitasinya misalnya sebagai akibat
pelulruhan , peluruhan atau tumbukan dengan neutron, dan sebagainya.
saat menuju tingkat dasarnya, inti tersebut melepas energy dalam bentuk
radiasi gamma16.
Energi sinar gamma () akan berkurang atau terserap oleh suatu material
yang dilewatinya. Karena ada penyerapan energi oleh bahan maka intensitas
dari sinar gamma akan berkurang setelah melewati material tersebut.
= 0 .
Dengan :
I

= Intensitas sinar gamma yang berhasil melewati material

Io = Intensitas mula-mula
X = Tebal material
= Koefisien atenuasi linier atau koefisien pembanding yang besarnya
tergantung sifat material penyerap dan energi sinar gamma.
Jika tebal material penyerap L, maka:
=

16

(0 /)

Ibid., hlm. 186

18

Jika intensitas I yaitu intensitas sinar gamma yang berhasil melewati


material tinggal separoh dari intensitas awal, maka tebal material tersebut
dinamakan Lapisan Harga Paroh (Half Value Layer = hvl).
=

0,693

d. Sifat Radiasi , , 17
Radiasi

Hakikat

Kelajuan

Daya
Ionisasi

Inti Helium

10 m/s

Kuat

Elektron

Mendekati
3 104
m/s

Sedang

Gelombang
Elektromag
netik

3 108
m/s

Lemah

Daya
Tembus

Oleh
Medan
Magnet

Dihentikan
Sedikit
oleh selembar
dibelokkan
kertas
Dihentikan
Dibelokkan
oleh lempeng
dengan
aluminium
kuat
Dihentikan
Tidak
oleh selembar
dibelokkan
timbal

e. Deret Radioaktif
Sering kali suatu peluruhan isotope radioaktif menghasilkan isotope
lain yang juga radioaktif. Inti anak yang radioaktif ini selanjutnya meluruh
menghasilkan isotope ketiga yang juga radioaktif. Proses peluruhan
radioaktif ini terus berlangsung sampai diperoleh isotope yang stabil. Proses
peluruhan berturut-turut seperti ini dikataan peluruhan radioaktif berantai,
yang umumnya mengikuti tahapan-tahapan tertentu yang mengikuti suatu
deret radioaktif18.
Dalam proses peluruhan radioaktif, nomor massa A inti induk akan
berubah dengan 4 satuan (peluruhan ) atau A tidak berubah (peluruhan ).
Karena itu harga nomor massa A dari isotope-isotop anggota suatu
peluruhan berantai berbeda dengan kelipatan 4. Dengan demikian kita
17
18

Supiyanto. Op. Cit., hlm. 295


Kanginan. Op. Cit., hlm. 375

19

harapkan ada empat deret radioaktif yang mungkin dengan nomor massa A
dapat kita nyatakan dengan rumus 4n, 4n+1, 4n+2, dan 4n+3, dengan n
adalah bilangan bulat.
Masing-masing deret radioaktif diberi nama sesuai dengan inti
induksinya. Deret radioaktif 4n+2 diberi nama deret uranium karena inti
induknya adalah 238
92 , yang mengalami peluruhan berantai sampai tercapai
inti akhir stabil

206
82.

Deret radioaktif 4n+3 diberinama deret actinium

karena inti induk stabilnya 238


92 , yang mengalami peluruhan berantai sampai
tercapai inti akhir stabil 207
82. Deret radioaktif 4n di berinama deret thorium
karena inti induknya adalah

232
90

sampai tercapai inti akhir stabil

, yang mengalami peluruhan berantai

208
82

. Deret radioaktif 4n+1 diberi nama

deret neptunium karena inti induknya adalah

237
93

, yang mengalami

peluruhan berantau sampai tercapai inti induknya stabil 209


83 . Keempat deret
radioaktif ini dirangkum dalam tabel.
Para ahli percaya bahwa hampir semua nuklida yang terdapat di bumi
dibentuk bersamaan dengan terbentuknya Bumi, kira-kira 5 miliar tahun
yang lalu (5,0 x 109 tahun). Deret neptunium yang diawali dengan inti induk
memiliki waktu paro 2,14 x 106 tahun (jauh lebih kecil dari umur

237
93

Bumi), sehingga saat ini unsur 237Np sudah tidak terdapat di Bumi. Karena
itu ketiga deret ini masih hadir saat ini di Bumi. Demikian pula banyak
nuklida-nuklida yang memiliki waktu paro singkat dengan cepat meluruh
sampai habis sehingga pada hari ini tidak lagi kita jumpai di alam.
Karena deret radioaktif di alam memungkinkan lingkungan hidup kita
secara konstan dilengkapi dengan unsur-unsur radioaktif yang seharusnya
sudah musnah sejak lama. Sebagai contoh, suplai radium

226
88

dengan

waktu paro hanya 1600 tahun (jauh lebih kecil dari umur Bumi 5,0 x 109
tahun) seharusnya sudah musnah karena peluruhan radioaktif pada saat yang
lalu. Tetapi karena adaya deret radioaktif uranium yang diawali dengan inti
induk

238
92

(waktu paro 4,47 x 109 tahun atau mendekati umur bumi) yang

20

dalam beberapa langkah meluruh menghasilkan

226

Ra, maka pada saat ini

kita masih menjumpai unsur 226Ra di alam.


Tabel Deret Radioaktif19
Inti Induk

Waktu paro

Rumus

Inti

(tahun)

deret

akhir

Stabil

Uranium

238
92

4,47 109

4n+2

206
82

Aktinium

235
92

7,04 108

4n+3

207
82

Thorium

232
90

1,41 1010

4n

208
82

Neptunium

237
93

2,14 106

4n+1

209
83

Deret

2.4. Reaksi Inti


a. Reaksi Fisi
Inti berat yang ditumbuk oleh sebuah partikel dapat membelah
menjadi dua inti baru yang lebih ringan. Dalam reaksi inti ini, massa
total produk lebih kecil daripada massa total reaktan. Reaksi ini disebut
reaksi pembelahan inti atau reaksi fisi20. Ini disebabkan energ ikat per
nucleon untuk inti berat lebih kecil dari energy ikat per nucleon inti
ringan hasil belahannya. Sebagai contoh, inti dengan A = 230
mempunyai energy ikat per nucleon sekitar 7,6 MeV, sedangkan inti
engan A = 15 energi ikat per nukleonnya adalah 8,5 MeV
Pembelahan inti dapat diimbas dengan menembakkan neutron
pada inti tersebut. Sebagai contoh adalah reaksi tangkapan neutron
lambat oleh inti

235

U untuk membentuk inti gabungan

236

U yang

tereksitasi dan segera meluruh melalui pembelahan. Pembelahan


demikian umumnya menghasilkan inti-inti dengan nomor atom massa
sekitar 95 dan 140. Karena inti-inti memiliki kelebihan neutron maka
proses pembelahan disertai pula pelepasan beberapa neutron yang
disebut neutron spontan (prompt neutron). Kadang-kadang inti hasil

19
20

Ibid.
Ibid., hlm. 385

21

belah menghasilkan pula neutron dalam proses peluruhannya. Neutron


dalam hal ini dinamakan neutron kasep (delayed neutron)21.
Contoh reaksi pembelahan tersebut sebagai berikut:

Suatu hal yang sangat penting dalam reaksi pembelahan


terimbas neutron adalah pembelahan sendiri menghasilkan neutron
yang dapat mengimbas reaksi pembelahan berikutnya. Dengan
demikian, proses pembelahan dapat mempertahankan terjadinya
pembelahan sendiri dan terjadilah reaksi berantai yang dapat tumbuh
semakin banyak. Inilah dasar kerja reactor nuklir fisi.
Pada reaksi dengan penembakan neutron termal pada inti
uranium (inti fisi) akan menghasilkan inti baru dan disertai lepasnya
dua neutron. Neutron yang dihasilkan dalam pembelahan merupakan
neutron cepat sehingga perlu diperlambat agar dapat bereaksi dengan
inti

235

U yang dijumpainya. Untuk keperluan itu dipasang bahan

pemerlambat neutron dalam reactor yang disebut moderator22. Agar


proses perlambatan neutron efektif, kita pilih bahan moderator yang
mengandung inti bermassa seimbang dengan massa neutron. Bahanbahan moderator yang sering digunakan adalah air (H2O), air berat
(D2O), grafit (C), dan berilium (Be).
seperti gambar dibawah ini.

21
22

Kusminarto. Op. Cit., hlm194


Ibid.

22

Gambar 3. Reaksi berantai Uranium 235


Pada gambar 3 menjelaskan bahwa sebuah neutron yang
bergerak lambat memicu fisi atau pembelahan sebuah inti uranium-235
dan beberapa neutron dipancarkan. Dalam uranium yang telah
diperkaya agar mengandung uranium-235 dengan perbandingan yang
tinggi, neutron-neutron ini segera menghantam inti-inti uranium-235
lainnya dan mengulangi proses tersebut. Terjadilah proses fisi secara
terus menerus, dengan melepaskan energi dalam jumlah yang besar.
Cacah neutron hasil pembelahan yang tersedia untuk menjaga
berlangsungnya reaksi berantai, harus lebih besar atau sama dengan
cacah neutron yang menyebabkan pembelahan sebelumnya. Cacah
neutron dapat dikendalikan dengan menyisipkan penyerap neutron
seperti cadmium (Cd) yang memiliki tampang serapan neutron lambat
sangat besar. Bahan penyerap neutron umumnya berbentuk batang,
sehingga dinamakan batang pengendali23.
Penyisipan batang pengendali menurunkan reaktivitas reactor.
Tiga keadaan reactor dapat dicapai dengan pengaturan batang
pengendali, yaitu pertama, keadaam subkritis jika rata-rata suatu
reaksi pembelahan menghasilkan cacah reaksi pembelahan berikutnya
23

Ibid., hlm. 195

23

yang lebih sedikit, dalam hal ini reaksi berantai akhirnya akan berhenti.
Kedua, keadaan superkritis jika reaksi pembelahan berikutnya lebih
banyak dari sebelumnya , sedangkan keadaan ketiga adalah keadaan
kritis jika cacahan reaksi pembelahan berikutnya tepat sama dengan
cacahan reaksi pembelahan sebelumnya.
Pada setiap reaksi pembelahan sebelumnya dilepaskan pula
sejumlah energi berupa energy kinetik inti dan neutron hasil reaksi.
Karena interaksinya dengan bahan moderator dan lainnya diubah
menjadi energy termal maka reactor manjadi panas. Oleh karena itu,
reactor harus dilengkapi sistem pendingin. Pada reactor daya, energy
panasnya dimanfaatkan untuk menguapkan air dan selanjutnya akan
menggerakkan turbin yang digandeng dengan dinamo pembangkit
listrik.
b. Reaksi Fusi
Dua inti ringan dapat bergabung membentuk sebuah inti yang
lebih berat. Energi inti berat lebih besar daripada jumlah energi ikat
kedua inti

ringan pembentuknya.

Karena

itu dalam reaksi

penggabungan dua inti ini, massa inti baru lebih kecil daripada jumlah
massa kedua inti ringan pembentuknya sehingga menyisakan defek
massa. Defek massa ini muncul sebagai energy fusi. Reaksi seperti
disebut reaksi penggabungan inti atau reaksi fusi24.
a. Syarat Terjadinya Reaksi Fusi
Contoh :
2
1

+ 21 31 + 11

Jika dua inti 2H (deuterium) didekatkan, maka gaya tolak coulomb


antara

proton-proton

dalam

inti

deuterium

menghalangi

penggabungan inti. Untuk dapat mengatasi gaya tolak coulomb,


maka inti deuterium harus digerakkan dengan kelajuan sangat
tinggi. Kelajuan sangat tinggi memerlukan energy kinetic yang
24

Kanginan. Op. Cit., hlm. 395

24

sangat tinggi, dan energi sangat tinggi berarti suhu yang sangat
tinggi (sesuai dengan persamaan energy kinetic partikel ( =
3
2

).

Untuk menggabungkan dua inti 2H (deuterium) diperlukan suhu


dalam orde 109K (miliaran kelvin). Tentu saja sangat sukar untuk
membayangkan keadaan dengan suhu setinggi ini dapat diciptakan.
Akan tetapi, keadaan suhu tinggi ini sungguh-sungguh terjadi pada
bagian dalam matahari dan bintang-bintang yang menghasilkan
energinya melalui reaksi-reaksi fusi. Dengan demikian reaksi fusi
telah mendukung seluruh kehidupan di Bumi. Karena reaksi fusi
membutuhkan suhu yang sangat tinggi supaya dapat berlangsung,
reaksi fusi sering disebut reaksi termonuklir25.

25

Ibid.

25

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan:
1. Penemuan sinar-x oleh rontgen pada tahun 1895 merangsang Henri
Becquerel untuk menyelidiki asal-usul sinar-x. Dalam penyelidikannya
itu, secara kebetulan Becquerel menemukan bahwa senyawa uranium
menunjukkan keaktifan radiasi tertentu dengan daya tembus yang
sangat kuat, seperti sinar-X, meskipun senyawa uranium itu tidak
disinari terlebih dahulu.
2. Peluruhan radioaktif atau radioaktivitas adalah pemancaran sinar
tembur (sinar radioaktif) secara spontan oleh inti-inti stabil (misalnya
inti uranium).
3. Persamaan aktivitas, hukum peluruhan radioaktif dan waktu paro:

Aktivitas radioaktif (2.4)


= 0

Hukum Peluruhan Radioaktif (2.3)


= 0

Waktu Paro (2.5)


1 =
2

0,693

4. Pada tahun 1899, Ernest Rutherford melakukan percobaan dalam


rangka studinya mengenai radioaktif. Rutherford dan rekan sekerjanya
berhasil membedakan tiga jenis radiasi yang dipancarkan oleh
radionuklida, yakni zarah alfa, beta dan gamma yang akhirnya dikenal
sebagai inti, electron dan foton
5. Sifat dari bahan-bahan radioaktif radioaktif , , dan
Radiasi

Hakikat

Kelajuan

Daya
Ionisasi

Daya
Tembus

Oleh
Medan
Magnet

26

Inti Helium

107 m/s

Elektron

Mendekati
3 104
m/s

Sedang

Gelombang
Elektromag
netik

3 108
m/s

Lemah

Kuat

Dihentikan
oleh
selembar
kertas
Dihentikan
oleh
lempeng
aluminium
Dihentikan
oleh
selembar
timbal

Sedikit
dibelokkan
Dibelokkan
dengan
kuat
Tidak
dibelokkan

6. Deret Radioaktif merupakan proses peluruhan radioaktif berantai,


yang umumnya mengikuti tahapan-tahapan tertentu yang mengikuti
suatu deret radioaktif
7. Reaksi fisi dan reaksi fusi
Reaksi fisi (reaksi pembelahan) yaitu reaksi yang terjadi pada inti
berat dan akan meluruh atau pecah menjadi inti-inti ringan secara
berantai.
Reaksi fusi (penggabungan atau peleburan) yaitu reaksi antara intiinti

ringan

disertai

dengan

pelepasan

energi,

misalnya

penggabungan proton menjadi deutron.


3.2. Kritik dan Saran
Dalam penyusunan makalah ini penyusun menyadari terdapat
beberapa kekurangan sehingga mengurangi kesempurnaannya. Oleh
karena

itu, kami

menyempurnakan

mengharapkan
kekurangan

kritik

tersebut

dan saran
untuk

yang dapat

penyusun

makalah

berikutnya.
Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua
khusunya bagi para pembaca

27

DAFTAR PUSTAKA
Beiser, Arthur. 2000. Fisika Modern. Jakarta: Erlangga
Geutreau, Ronald & Savin W.1995. Teori dan Soal-Soal Fisika Modern. Jakarta:
Erlangga
Kanginan, Marthen. 2006. Fisika untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Krane, Kenneth. 1992. Fisika Modern. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UIPress)
Kusminarto. 2011. Esensi Fisika Modern. Yogyakarta: ANDI
Supiyanto. 2007. Fisika 3 untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Phibeta
Wiyatmo, Yusman. 2009. Fisika Nuklir : dalam Telaah Semiklasik dan Kuantum.
Yogyakarta: Pustaka Palajar
Ahmad,hiakia.2001.Kimia Unsur dan Radiokimia.Bandung. PT. Citra Aditya Bakti
Ratna Dewi Syarifah. Nucler Physics diakses pada jumat 9 September 2016 di.
http://fisikanuklir.unnes.ac.id/index.php?tj=menu/output_menu&id_radio_
materi=13

iv