Anda di halaman 1dari 15

Pengertian Korosi

Korosi berasal dari bahasa latin Corrodere yang artinya perusakan logam atau
berkarat. Korosi merupakan suatu kerusakan yang dihasilkan dari reaksi kimia antara
sebuah logam atau logam paduan dan didalam suatu lingkungan. Fenomena korosi
merupakan reaksi kimia yang dihasilkan dari dua reaksi setengah sel yang melibatkan
elektron sehingga menghasilkan suatu reaksi elektrokimia. Dari dua reaksi setengan sel ini
terdapat reaksi oksidasi pada anoda dan reaksi reduksi pada katoda (Alfin, 2011).
Adapun definisi korosi dari pakar lain :
a. Perusakan material tanpa perusakan mekanis.
b. Kebalikan dari metalurgi ekstraktif.
c. Proses elektrokimia dalam mencapai kesetimbangan termodinamika suatu sistem.
Jadi korosi adalah merupakan sistem termodinamika logam dengan lingkungan (air,
udara, tanah) yang berusaha mencapai keseimbangan. Sistem ini dikategorikan setimbang
bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil (berenergi
paling rendah).
Korosi disebut juga suatu penyakit dalam dunia teknik, walaupun secara langsung tidak
termasuk produk teknik. Studi dari korosi adalah sejenis usaha pengendalian kerusakan
supaya serangannya serendah mungkin dan dapat melampaui nilai ekonomisnya, atau jangan
ada logam jadi rongsokan sebelum waktunya. Caranya adalah dengan pengendalian secara
preventif supaya menghambat serangan korosi. Cara ini lebih baik daripada memperbaiki
secara represif yang biayanya akan jauh lebih besar
Faktor Faktor yang Mempengaruhi Korosi
Beberapa faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses korosi secara umum
antara lain, yaitu :
1. Suhu
Kenaikan suhu akan menyebabkan bertambahnya kecepatan reaksi korosi. Hal ini
terjadi karena makin tinggi suhu maka energi kinetik dari partikel-partikel yang bereaksi akan
meningkat sehingga melampaui besarnya harga energi aktivasi dan akibatnya laju kecepatan
reaksi (korosi) juga akan makin cepat, begitu juga sebaliknya. (Fogler, 1992).
2. Kecepatan Alir Fluida Atau Kecepatan Pengadukan
Laju korosi cenderung bertambah jika laju atau kecepatan aliran fluida bertambah
besar. Hal ini karena kontak antara zat pereaksi dan logam akan semakin besar sehingga ion-

ion logam akan makin banyak yang lepas sehingga logam akan mengalami kerapuhan
(korosi). (Kirk Othmer, 1965).
3. Konsentrasi Bahan Korosif
Hal ini berhubungan dengan pH atau keasaman dan kebasaan suatu larutan. Larutan
yang bersifat asam sangat korosif terhadap logam dimana logam yang berada didalam media
larutan asam akan lebih cepat terkorosi karena karena merupakan reaksi anoda. Sedangkan
larutan yang bersifat basa dapat menyebabkan korosi pada reaksi katodanya karena reaksi
katoda selalu serentak dengan reaksi anoda (Djaprie, 1995)
4. Oksigen
Adanya oksigen yang terdapat di dalam udara dapat bersentuhan dengan permukaan
logam yang lembab. Sehingga kemungkinan menjadi korosi lebih besar. Di dalam air
(lingkungan terbuka), adanya oksigen menyebabkan korosi (Djaprie,1995).
5. Waktu Kontak
Aksi inhibitor diharapkan dapat membuat ketahanan logam terhadap korosi lebih besar.
Dengan adanya penambahan inhibitor kedalam larutan, maka akan menyebabkan laju reaksi
menjadi lebih rendah, sehingga waktu kerja inhibitor untuk melindungi logam menjadi lebih
lama. Kemampuan inhibitor untuk melindungi logam dari korosi akan hilang atau habis pada
waktu tertentu, hal itu dikarenakan semakin lama waktunya maka inhibitor akan semakin
habis terserang oleh larutan. (Uhlig , 1958). 9
Mekanisme Terbentuknya Sel Korosi
Secara umum mekanisme korosi yang terjadi di dalam suatu larutan berawal dari logam
yang teroksidasi di dalam larutan, dan melepaskan elektron untuk membentuk ion logam
yang bermuatan positif. Larutan akan bertindak sebagai katoda dengan reaksi yang umum
terjadi adalah pelepasan H2 dan reduksi O2, akibat ion H+ dan H2O yang tereduksi. Reaksi
ini terjadi dipermukaan logam yang akan menyebabkan pengelupasan akibat pelarutan logam
ke dalam larutan secara berulang-ulang (Alfin, 2011).

Mekanisme korosi yang terjadi pada logam besi (Fe) dituliskan sebagai berikut :
Fe (s) + H2O (l) + O2(g) Fe(OH)2 (s)
Fero hidroksida [Fe(OH)2] yang terjadi merupakan hasil sementara yang dapat
teroksidasi secara alami oleh air dan udara menjadi ferri hidroksida [Fe(OH)3], sehingga
mekanisme reaksi selanjutnya adalah :
4 Fe(OH)2(s) + O2 (g) + 2H2O(l) 4Fe(OH)3 (s)
Ferri hidroksida yang terbentuk akan berubah menjadi Fe2O3 yang berwarna merah
kecoklatan yang biasa kita sebut karat (Vogel, 1979). Reaksinya adalah:
2Fe(OH)3 Fe2O3 + 3H2O
Bentuk-Bentuk Korosi
Akan lebih mudah untuk mengklasifikasikan korosi berdasarkan penampilan atau rupa
logam yang terserang korosi. Masing-masing bentuk korosi dapat dikenali dengan hanya
melakukan pengamatan secara visual. Pada kebanyakan kasus, pengamatan bentuk korosi
hanya dengan mata telanjang sudah cukup. Tetapi kadang-kadang pengamatan dengan
menggunakan perbesaran juga dibutuhkan. Informasi yang penting untuk solusi dari masalah
korosi sering diperoleh melalui pengamatan yang cermat dari spesimen uji korosi
Uniform Attack (Korosi Merata)
Korosi merata adalah bentuk korosi yang pada umumnya sering terjadi. Hal ini
biasanya ditandai dengan adanya reaksi kimia atau elektrokimia yang terjadi pada permukaan
yang bereaksi. Logam menjadi tipis dan akhirnya terjadi kegagalan pada logam tersebut.
Sebagai contoh, potongan baja atau seng dicelupkan pada asam sulfat encer, biasanya akan
terlarut ecara seragam pada seluruh permukaannya
Galvanic Corrosion (Korosi Galvanik)
Perbedaan potensial biasanya terjadi diantara dua logam yang berbeda, ketika keduanya
di celupkan ke dalam larutan korosif. Ketika logam tersebut berkontak, dengan adanya
perbedaan potensial akan menghasilkan aliran elektron. Elektron mengalir dari logam yang
kurang mulia (anodik) menuju ke metal yang lebih mulia (katodik). Akibatnya metal yang
kurang mulia berubah menjadi ion-ion positif karena kehilangan elektron. Ion-ion positif
metal bereaksi dengan ion-ion negatif yang berada di dalam elektrolit menjadi garam metal.
Karena peristiwa tersebut permukaan anoda kehilangan metal. Korosi akan menyerang logam
yang ketahanan-korosi nya lebih rendah dan serangan pada logam yang lebih tahan-korosi
akan lebih sedikit. Logam yang terserang korosi akan menjadi anoda dan logam yang lebih
tahan terhadap serangan korosi akan menjadi katoda. Biasanya logam yang katodik akan

terserang sedikit bahkan tidak terjaidi korosi ketika kedua logam tersebut disambungkan.
Jenis korosi ini disebut korosi galvanik
Crevice Corrosion (Korosi Celah)
Korosi lokal sering terjadi di dalam celah-celah dan daerah yang tertutup pada
permukaan logam yang terkena korosi. Jenis korosi ini biasanya disebabkan oleh lubang yang
kecil, dan celah-celah di bawah kepala baut dan paku keling. Karat celah sebenarnya adalah
sel korosi yang diakibatkan oleh perbedaan konsentrasi zat asam. Akan halnya karat celah,
proses pengkaratannya karena celah sempit terisi dengan elektrolit (air yang pH-nya rendah)
maka terjadilah suatu sel korosi dengan katoda-nya permukaan sebelah luar celah yang basah
dengan air yang banyak mengandung zat asam daripada bagian dalam celah yang sedikit
mengandung zat asam sehingga bersifat anodik. Akibatnya terjadi kehilangan metal pada
bagian yang di dalam celah.
Proses pengkaratan ini berlangsung cukup lama karena cairan elektrolit di dalam celah
cenderung lama mengeringnya walaupun bagian luar celah telah lama mengering

Pitting Corrosion (Korosi Sumur)


Pitting corrosion adalah bentuk serangan korosi yang sangat lokal (menyerang pada
daerah tertentu saja) yang mengakibatkan lubang dalam logam. Lubang ini mungkin memiliki
diameter yang kecil atau besar, namun dalam banyak kasus lubang tersebut kecil relatif kecil.
Lubang terisolasi atau kadang-kadang terlihat seperti permukaan yang kasar. Pits umumnya
dapat digambarkan sebagai rongga atau lubang dengan diameter permukaan kurang-lebih
sama atau kurang dari kedalaman.
Pitting corrosion adalah salah satu bentuk korosi yang paling merusak dan berbahaya.
Hal itu menyebabkan peralatan menjadi gagal karena dengan penurunan massa yang sedikit
saja akibat adanya lubang, maka kegagalan dapat terjadi dengan mudah. Sering kali sulit
untuk mendeteksi pit karena ukurannya yang kecil dan arena lubang-lubang tersebut tertutup
oleh produk korosi.

Terjadinya korosi bentuk ini antara lain karena karena komposisi logam tidak homogen
dan dapat menimbulkan korosi yang dalam pada beberapa tempat. Dapat juga karena ada
kontak antara logam yang berlainan dan logam kurang mulia, maka pada daerah batas, timbul
korosi berbentuk sumur
Intergranular Corosion (Korosi antar Batas Butir)
Di daerah batas butir memilki sifat yang lebih reaktif. Banyak-sedikitnya batas butir
akan mempengaruhi kegunaan logam tersebut. Semakin sedikit batas butir pada suatu
material maka akan menurunkan kekuatan material tersebut. Jika logam terkena karat, maka
di daerah batas butir akan terkena serangan terlebih dahulu dibandingkan daerah yang jauh
dari batas butir. Serangan yang terjadi pada daerah batas butir dan daerah yang berdekatan
dengan batas butir hal ini biasa disebut intergranular corrosion [6].
Intergranular corrosion dapat terjadi karena adanya kotoran pada batas butir,
penambahan pada salah satu unsur paduan, atau penurunan salah satu unsur di daerah batas
butir. Sebagai contoh paduan besi dan alumunium, dimana kelarutan besi lambat maka akan
terjadi serangan pada batas butir [6].
Beberapa kegagalan pada 18-8 baja karbon telah terjadi karena intergranular corrosion.
Ini terjadi dalam lingkungan dimana paduan harus memiliki ketahanan korosi yang sangat
baik. Ketika baja dipanaskan pada suhu kira-kira antara 9500F sampai 14500F, baja tersebut
akan peka atau rentan terhadap intergranular corrosion. Sebagai contoh untuk menghindari
terjadinya intergranular corrosion, maka prosedur kepekaan di panaskan pada suhu 12000F
selama satu jam [6]. Kebanyakan teori tentang terjadinya intergranular corrosion didasarkan
pada kehilangan atau penipisan kromium di daerah batas butir. Penambahan kromium pada
baja akan meningkatkan ketahanan korosi diberbagai kondisi lingkungan. Umumnya
penambahan tersebut berkisar 10% kromium untuk pembuatan baja karbon tahan karat. Jika
kromium secara efektif diturunkan ketahanan terhadap korosi akan berkurang [6].
Selective Leaching

Selective leaching (pelarutan selektif) adalah pemindahan salah satu unsur dari sebuah
paduan yang padat akibat proses korosi. Contoh yang paling umum adalah pelarutan selektif
dalam paduan seng kuningan (dezinfication). Proses yang sama terjadi dalam sistem paduan
lain dimana alumunium, besi, kobalt, kromium dan elemen lainnya yang akan terlarut.
Pelarutan selektif adalah istilah umum yang menggambarkan proses-proses dan
penggunaan

istilah

tersebut

tidak

mencakup

pada

istilah

dealuminumification,

decobsltification dan lain lain.


Parting (dealloying) adalah istilah metalurgi yang kadang-kadang digunakan, akan
tetapi istilah selective leaching lebih disukai [6]. Zat komponen yang larut adalah selalu
bersifat anodik terhadap komponen yang lain. Walaupun secara visual tampak perubahan
warna pada permukaan paduan namun tidak tampak adanya kehilangan materi berupa takik,
perubahan dimensi, retak atau alur. Bentuk permukaan tampaknya tetap tidak berubah tingkat
kehalusan/kekasarannya. Namun sebenarnya berat bagian yang terkena karat ini menjadi
berkurang, berpori-pori dan yang terpenting adalah kehilangan sifat mekanisnya yakni
menjadi getas dan memiliki kekuatan tarik yang sangat yang rendah
Erosion Corrosion (korosi Erosi)
Korosi erosi adalah percepatan atau peningkatan tingkat kerusakan atau serangan pada
logam karena gerakan relatif antara cairan korosif dan permukaan logam. Umumnya
gerakan ini cukup cepat, dan berkaitan dengan abrasi. Logam yang berada di permukaan akan
berubah menjadi ion terlarut atau menjadi bentuk produk korosi yang padat. Kadang-kadang
pengaruh dari lingkungan dapat mengurangi laju korosi, khususnya ketika serangan lokal
terjadi dalam kondisi tergenang, tapi ini tidak bisa disebut erosion corrosion karena
kerusakan tidak bertambah [6]. Bentuk fisik dari korosi erosi ditandai dalam penampilan
berupa alur, parit, gelombang, lubang bulat, lembah-lembah, dan biasanya menunjukan pola
arah. Gambar 2.26 menunjukan penampilan alur dari kegagalan korosi erosi

Stress Corrosion (Korosi Tegangan)


Gaya-gaya mekanis seperti tarikan atau kompresi berpengaruh sangat kecil pada proses
pengkaratan pada bagian metal yang sama jika ditinjau dari laju pengkaratan dalam mils per
tahun. Namun demikian apabila itu merupakan kombinasi antara tensile stress dan
lingkungan yang korosiif, maka kondisi ini merupakan salah satu dari penyebab utama
kegagalan material. Kegagalan ini berupa retakan yang lazim disebut korosi tegangan [9].
Sifat retak jenis ini sangat spontan (tiba-tiba terjadinya). Bila logam telah dibentuk
dingin (diregang, ditekuk) maka walaupun tidak sampai patahan atau retak, tetapi butiran
logamnya berubah bentuk hingga timbul tegangan dalam. Butiran logam yang tegang ini
mudah sekali bereaksi dengan lingkungannya, hingga suatu saat benda itu akan retak atau
pecah dengan sendirinya.
Jenis serangan karat ini terjadi sangat cepat, dalam ukuran menit, yakni jika semua
persyaratan untuk terjadi nya karat regangan (tegangan) ini telah terpenuhi pada saat tertentu
yaitu adanya regangan internal dan terciptanya kondisi korosif yang berhubungan dengan
konsentrasi zat karat (corrodent) dan suhu lingkungan [9]. Karat dapat terbentuk di celahcelah sempit. Volume produk karat tersebut dapat jauh lebih besar dari metal asalnya yang
terkonsumsi, akibatnya terjadi tekanan yang cukup besar di dalam celah tersebut sehingga
menimbulakan korosi tegangan. Karat tegangan pada awal terjadinya berukuran mikroskopis
(sangat kecil). Dengan menjalarnya retak ke dalam material, maka kekuatan penampang
menjadi berkurang ketingkat sedemikian rendah sehingga struktur material tersebut gagal.
Gambar 2.28 adalah contoh dari karat tegangan

Proteksi Logam Dari Korosi


Korosi logam tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikendalikan seminimal mungkin. Ada
tiga metode umum untuk mengendalikan korosi, yaitu pelapisan (coating), proteksi katodik,
dan penambahan zat inhibitor korosi.
Pengendalian Korosi dengan Metode Pelapisan (Coating)
Metode pelapisan atau coating adalah suatu upaya mengendalikan korosi dengan
menerapkan suatu lapisan pada permukaan logam besi. Misalnya, dengan pengecatan atau

penyepuhan logam. Penyepuhan besi biasanya menggunakan logam krom atau timah. Kedua
logam ini dapat membentuk lapisan oksida yang tahan terhadap karat (pasivasi) sehingga besi
terlindung dari korosi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari oksida
logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat mencegah korosi lebih lanjut.
Logam seng juga digunakan untuk melapisi besi (galvanisir), tetapi seng tidak membentuk
lapisan oksida seperti pada krom atau timah, melainkan berkorban demi besi.
Pengendalian Korosi dengan Proteksi Katodik
Proteksi katodik adalah metode yang sering diterapkan untuk mengendalikan korosi
besi yang dipendam dalam tanah, seperti pipa ledeng, pipa pertamina, dan tanki penyimpan
BBM. Logam reaktif seperti magnesium dihubungkan dengan pipa besi. Oleh karena logam
Mg merupakan reduktor yang lebih reaktif dari besi, Mg akan teroksidasi terlebih dahulu.
Jika semua logam Mg sudah menjadi oksida maka besi akan terkorosi.
Pengendalian Korosi dengan Penambahan Inhibitor
Inhibitor adalah zat kimia yang ditambahkan ke dalam suatu lingkungan korosif dengan
kadar sangat kecil (ukuran ppm) guna mengendalikan korosi. Inhibitor korosi dapat
dikelompokkan berdasarkan mekanisme pengendaliannya, yaitu inhibitor anodik, inhibitor
katodik, inhibitor campuran, dan inhibitor teradsorpsi. Pemakaian inhibitor dalam suatu
sistem tertutup atau sistem resirkulasi, pada umumnya hanya dipakai sebanyak 0.1% berat.
Inhibitor yang ditambahkan akan menyebabkan :
-

Meningkatnya polarisasi anoda

Meningkatnya polarisasi katoda

Meningkatnya bahan tahanan listrik dari sirkuit oleh pembentukan lapisan tebal pada
permukaan logam.

Cara inhibitor mereduksi laju korosi adalah sebagai berikut:


-

Memodifikasi polarisasi katodik dan anodik (Slope Tafel)

Mengurangi pergerakan ion ke permukaan logam.

Menambah hambatan listrik dipermukaan logam

Menangkap atau menjebak zat korosif dalam larutan melalui pembentukan senyawa yang
tidak agresif.
Berdasarkan bahan dasarnya, inhibitor korosi terbagi menjadi dua, yaitu inhibitor dari

senyawa organik dan dari senyawa anorganik. Inhibitor anorganik yang saat ini biasa
digunakan adalah sodium nitrit, kromat, fosfat, dan garam seng. Penggunaan sodium nitrit
yang harus dengan konsentrasi besar (300-500 mg/l) menjadikannya inhibitor yang tidak
ekonomis, berdasarkan hasil penelitian kromat dan seng ditemukan bersifat toksik, dan fosfat

merupakan senyawa yang dianggap sebagai polusi lingkungan, karena menyebabkan


peningkatan kadar fosforous dalam air. Sehingga inhibitor tersebut perlu digantikan dengan
senyawa lain yang bersifat non toksik dan mampu terdegradasi secara biologis, namun tetap
bernilai ekonomis dan mampu mengurangi laju korosi secara signifikan. Secara umum
inhibitor korosi dibagi atas beberapa kategori, yakni :
1. Inhibitor Anodik
Inhibitor anodik menurunkan laju korosi dengan cara memperlambat reaksi anodik.
Inhibitor anodik membentuk lapisan pasif melalui reaksi ion-ion logam yang terkorosi untuk
menghasilkan selaput pasif tipis yang akan menutupi anoda (permkaan logam) dan lapisan ini
akan menghalangi pelarutan anoda selanjutnya. Lapisan pasif yang terbentuk mempunyai
potensial korosi yang tinggi atau inhibitor anodik menaikkan polarisasi anodik. Senyawa
yang biasa digunakan sebagai inhibitor anodik adalah kromat, nitrit, nitrat, molibdat, silikat,
fosfat, borat.
2. Inhibitor Katodik
Inhibitor katodik menurunkan laju korosi dengan cara memperlambat reaksi katodik.
Inhibitor katodik bereaksi dengan OH- untuk mengendapkan senyawa-senyawa tidak larut
pada permukaan logam sehingga dapat menghalangi masuknya oksigen. Contohnya antara
lain Zn, CaCO3, polifosfat.
3. Inhibitor Campuran
Inhibitor campuran mengendalikan korosi dengan cara menghambat proses di katodik
dan anodik secara bersamaan. Pada umumnya inhibitor komersial berfungsi ganda, yaitu
sebagai inhibitor katodik dan anodik. Contoh inhibitor jenis ini adalah senyawa silikat,
molibdat, dan fosfat.
4. Inhibitor Teradsorpsi
Inhibitor teradsorpsi umumnya senyawa organik yang dapat mengisolasi permukaan
logam dari lingkungan korosif dengan cara membentuk film tipis yang teradsorpsi pada
permukaan logam. Contoh jenis inhibitor ini adalah merkaptobenzotiazol dan 1,3,5,7
tetraazaadamantane
Korosi Perapuhan Hidrogen
Hydrogen attack mengakibatkan logam menjadi rapuh akibat penetrasi hidrogen ke
kedalaman logam. Peristiwa perapuhan ini biasa disebut dengan Hydrogen Embrittlement.
Logam juga bisa retak oleh invasi hidrogen.
Belum diketahui bagaimana hidrogen bisa merusak logam secara kimiawi ataupun
secara elektrokimia, tetapi efek pengrusakannya terhadap logam sebagai bahan konstruksi

sudah jelas. Boleh jadi hidrogen hanya mendifusio secara fisika saja ke dalam logam akibat
kecilnya ukuran atom hidrogen.

KOROSI EROSI
Pengertian Umum
Korosi erosi merupakan kerusakan pada permukaan logam yang disebabkan aliran
fluida yang sangat cepat, merusak permukaan metal dan lapisan film pelindung. Korosi dapat
pula terjadi pada permukaan yang bergerak cepat sementara fluida disekitarnya mengandung
partikel-partikel padat. Korosi erosi terbentuk ketika logam terserang akibat gerak relative
antara elektroit dan permukaan logam. Korosi ini terutama di akibatkan oleh efek-efek
mekanik seperti pengausan, abrasi dan gesekan. Logam-logam lunak sangat mudah terkena
korosi jenis ini, misalnya, tembaga, kuningan, aluminium murni dan timbal. Pada stainless
steel, paduan nikel dan titanium biasanya lebih tahan akan korosi, karena mereka ulet dan
tahan lama pasif film.
Jenis korosi ini yang perlu diperhatikan keretakan korosi erosi (stress corrosion
cracking) dan penggetasan zat air. Dalam hal ini perusakan karena erosi dan korosi saling
mendukung. Logam yang telah kena erosi akibat terjadi keausan dan menimbulkan bagianbagian yang tajam dan kasar. Bagian-bagian inilah yang mudah terkena korosi dan bila ada
gesekan akan menimbulkan abrasi lebih barat lagi.
Pada dasarnya korosi erosi dapat dibedakan menjadi tiga jenis yakni:
a. Kondisi aliran laminar
b. Kondisi aliran turbulensi
c. Kondisi peronggaan
Aliran laminer adalah aliran ideal dan disukai dalam aliran pipa. Aliran turbulen
merupakan aliran bergolak/berputar, hal ini biasanya terjadi pada blower. Aliran turbulen
adalah aliran yang tidak disukai pada pipa, karena dapat menyebebkan korosi erosi yang
sangat cepat pada pipa.
Secara umum korosi erosi dipengaruhi oleh:
a. Sifat Logam Paduan Ketahanan
Kerentanan terhadap korosi erosi lebih tergantung lunak pada bahan logam. Dimana setiap
bahan mempunyai ketahanan yang berbeda akan abrasi. Jadi secara tidak langsung akan
mempengaruhi ketahanan korosi erosi. Untuk itu kekerasan bahan sangat mempengaruhi
ketahanan akan korosi erosi.

b. Alam dan Sifat Film Pelindung


Keras padat, kepatuhan, film terus dan mudah untuk pasivasi-ulang memberikan
perlindungan yang lebih baik. Baja Stainless lebih pasif dan tahan terhadap korosi,
akibatnya bahan ini rentan terhadap erosi-korosi. Bahan ini tidak menunjukkan penurunan
berat badan dan benar-benar pasif dalam kondisi stagnan, tetapi serangan yang cepat dari
material oleh-ferrous sulfat bubur asam sulfat terjadi di kecepatan tinggi.
c. Galvanic Efek
Efek galvanik mungkin tidak ada, bahkan kondisi statis. Namun hal ini dapat terjadi ketika
gerakan hadir.
d. Suhu/Temperatur
Pada lingkungan berait (aqueous), temperatur mempengaruhi laju korosi, temperatur
permukaan, hear flux, dan konsentrasi permukaan yang terkaitdan gradien trasnfer kimia.
pada kebanyakan reaksi kimia, peningkatan temperatur diikuti dengan peningkatan laju
korosi. Aturan kasar (rule of thumb) menyatakan laju reaksi korosi meningkat dua kali
lipat pada tiap kenaikan temperatur 10o. Jadi dapat disimpulkan bahwa peningkatan suhu
akan menyebabkan serangan meningkat (korosi) pada suatu bahan (logam dan non logam).
e. pH
Tergantung pada sifat dan komposisi produk korosi padat terbentuk pada permukaan
logam, pH larutan bervariasi-korosi laju erosi. Laju korosi akan meningkat seiring
menurunnya pH. Situasi ini terutama ketika pH lingkungan menurun menjadi di bawah 7.
Pasivitas dari beberapa paduan tergantung dari pH. Pada daerah yang lokal, korosi akan
meningkat dengan pecahnya dan tergerusnya lapisan pasif sehingga menyenyebabkan
korosi erosi.
f. Kecepatan
Kecepatan lingkungan memainkan peran penting dalam erosi korosi. Ini efek penggunaan
mekanis pada nilai tertinggi dan terutama ketika solusi berisi padat dalam suspensi. Ini
sering mempengaruhi mekanisme reaksi korosi. Meningkatkan kecepatan umumnya hasil
dalam serangan meningkat, terutama jika tingkat aliran aliran besar yang terlibat. Efek ini
mungkin tidak ada, namun hal ini bida terjadi bahkan meningkat perlahan sampai
kecepatan kritis tercapai, dan kemudian dapat meningkatkan serangan dengan kecepatan
tinggi.
Contoh Korosi Erosi
-

Korosi Erosi pada Pipa Besi


Ini merupakan jenis korosi yang kerusakannya karena aliran fluida (kerusakan karena
mekanis) dan reaksi electromechemical. Erosi juga didefinisikan sebagai degradasi yang
dipercepat karena adanya aliran fluida. Groves, gullies, sudut tajam, permukaan
gelombang adalah karakter kerusakan dari erosi korosi. Kerusakan berupa peronggaan

juga sering dijumpai pada bagian dalam pipa dimana zat cair seolah-olah diam, vibrasivibrasi pada dinding pipa yang dihasilkan oleh mesin pompa yang menimbulkan obilasi
tekanan transversal pada lapisan zat cair dinding-dindingnya. Perubahan tekanan ini
menimbulkan serangan peronggaan dan sumuran.

Gambar Korosi Erosi pada Pipa Besi


-

Korosi Erosi pada Busi


Karat yang terjadi pada busi ini disebabkan oleh suhu yang tinggi dalam ruang
pembakaran. Busi yang telah kena erosi akibat terjadi keausan dan menimbulkan bagian
bagian yang tajam dan kasar. Bagian bagian inilah yang mudah terkena korosi dan bila
ada gesekan akan menimbulkan abrasi lebih barat lagi.

Gambar Korosi Erosi pada Busi


Korosi Erosi pada Kran Mesin Cuci
Korosi yang terjadi pada kran pembuangan mesin cuci ini disebabkan karena adanya laju
aliran fluida dengan disertai pola aliran turbulen sehingga terjadi gesekan yang
mengakibatkan sebagian material pada permukaan rusak, maka sedikit demi sedikit kran
akan terkorosi

Gambar Korosi Erosi Pada Kran Mesin Cuci


Pengendalian
a. Desain atau pemilihan material.
b. Redesain peralatan untuk mengurangi kecepatan permukaan dan turbulensi dari aliran
proses menimpa. Perancangan, penambahan diameter pipa membantu dari segi mekanika

dalam hal pengurangan kecepatan dan membuat agar aliran yang terjadi adalah aliran
laminar yaitu aliran fluida tanpa turbulensi (pusaran air)

Gambar Perancangan Diameter Pipa


c. Mengganti materian dengan bahan yang lebih tahan korosi. Material dengan ketahanan
korosi yang baik, misalnya stailess steel. Stainless Steel adalah istilah generik untuk
keluarga paduan baja tahan korosi yang mengandung kromium 10,5% atau lebih.
d. Mengurangi pH larutan, yaitu dengan penyesuaian pH, kandungan oksigen terlarut
menghilangkan, dan penurunan suhu.
e. Penambahan inhibitor atau passivator.
Perubahan pada lingkungan, deareation dan penambahan inhibitor, inhibitor kimia adalah
suatu zat kimia yang dapat menghambat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Secara
khusus, inhibitor korosi merupakan suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam suatu
lingkungan tertentu, dapat menurunkan laju penyerangan lingkungan itu terhadap suatu
logam. Pada prakteknya, jumlah yang di tambahkan adalah sedikit, baik secara kontinu
maupun periodik menurut suatu selang waktu tertentu.
Adapun mekanisme kerjanya dapat dibedakan sebagai berikut :
1) Inhibitor teradsorpsi pada permukaan logam, dan membentuk suatu lapisan tipis dengan
ketebalan beberapa molekul inhibitor. Lapisan ini tidak dapat dilihat oleh mata biasa,
namun dapat menghambat penyerangan lingkungan terhadap logamnya.
2) Melalui pengaruh lingkungan (misal pH) menyebabkan inhibitor dapat mengendap dan
selanjutnya teradsopsi pada permukaan logam serta melidunginya terhadap korosi.
Endapan yang terjadi cukup banyak, sehingga lapisan yang terjadi dapat teramati oleh
mata.
3) Inhibitor lebih dulu mengkorosi logamnya, dan menghasilkan suatu zat kimia yang
kemudian melalui peristiwa adsorpsi dari produk korosi tersebut membentuk suatu
lapisan pasif pada permukaan logam. Inhibitor menghilangkan kontituen yang agresif
dari lingkungannya.
Menggunakan ketebalan bagian yang lebih besar atau penggantian bagian-bagian yang
mudah rentan

f. Coatings Protection
Coating (Pelapisan), dimana prosedur pengaplikasiannya adalah
-

Pembersihan permukaan pipa


Primming, lapisan primer betul-betul kering
Coating dengan bahan yang tepat, mengikuti Rekomendasi manufacturer
Perlindungan katodik
Kurangi flow rate dan turbulen,
Hindari perubahan arah secara tiba - tiba, perkuat lapisan