Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENCEGAHAN KOROSI KOROSI GALVANIK

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum Korosi.

Dosen Pembimbing : Ir. Gatot Subiyanto

Oleh : Kelompok VI 3A-Teknik Kimia Produksi Bersih Raden Khoirun Nissa Ria Rahmawati Rizky Fitriansyah (091424023) (091424024) (091424025)

Tanggal Praktikum

: 21 Maret 2012

Tanggal Penyerahan : 30 Maret 2012

TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB
Korosi Galvanik A. Tujuan Mengetahui prinsip korosi galvanik. Menentukan logam yang berperan sebagai katodik dan anodik dalam peristiwa galvanik. Menghitung besar laju korosi dalam lingkungan yang berbeda. B. Dasar Teori Korosi galvanik dapat didefinisikan adanya reaksi atau kontak antara dua logam yang berbeda dalam larutan elektrolit. Dalam korosi ini, logam yang memiliki potensiak lebih positif akan bersifat katodik, sedangkan yang berpotensial negatif akan bersifat anodik. Prinsip korosi galvanik sama dengan prinsip elektrokimia yaitu terdapat elektroda (katoda dan anoda), elektrolit dan arus listrik. Logam yang berfungsi sebagai anoda adalah logam yang sebelum dihubungkan bersifat lebih aktif atau mempunyai potensial korosi lebih negatif. Pada anoda akan terjadi reaksi oksidasi atau reaksi pelarutan sedangkan pada katoda terjadi reaksi reduksi logam atau tidak terjadi reaksi apa-apa dengan cara proteksi katodik. Untuk meminimumkan terjadinya korosi galvanik salah satunya adalah dengan pemilihan pasangan logam dengan perbedaan potensial yang sangat kecil. Deret galvanik hanya memberikan informasi tentang kecenderungan terjadinya korosi galvanik pada pasangan dua logam atau logam paduan. Jenis korosi ini dapat diketahui dengan baik karena adanya dua logam yang kontak secara elektrik dan tercelup dalam larutan air membentuk sel elektrokimia. Dimana salah satu logam yang relatip kurang mulia akan mengalami korosi dan logam yang lebih mulia tidak akan terjadi korosi. Dasar timbulnya mekanisme reaksi korosi jenis ini karena adanya perbedaan potensial sistem logam dimedia larutan berair yang lebih dikenal dengan deret tegangan logam Sebagai contoh atap seng gelombang yang mengalami korosi pada lapisan sengnya terlebih dahulu, logam baja tidak akan terkorosi selama masih ada lapisan seng dan secara elektrik masih terinteraksi. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Korosi Galvanik

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB
Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap korosi galvanik yaitu diantaranya:

Lingkungan Tingkatan korosi galvanik tergantung pada keagresifan dari lingkungannya. Pada umumnya logam dengan ketahanan korosi yang lebih rendah dalam suatu lingkungan berfungsi sebagai anoda. Biasanya baja dan seng keduanya akan terkorosi akan tetapi jika keduanya dihubungkan maka Zn akan terkorosi sedangkan baja akan terlindungi. Pada kondisi khusus, sebagai contoh dalam lingkungan air dengan temperature 180 oF, terjadi hal sebaliknya yaitu baja mengalami korosi sedangkan Zn terlindungi. Rupanya dalam kasus ini produk korosi pada Zn bertindak sebagai permukaan yang lebih mulia terhadap baja. Menurut Haney, Zn menjadi kurang aktif dan potensialnya menjadi kebalikannya jika ada ion-ion penghalang seperti nitrat, bikarbonat atau karbonat dalam air. 1. Zn bersifat anodik terhadap baja pada semua kondisi 2. Al sifatnya bervariasi 3. Sn selalu bersifat sebagai katodik 4. Ni selalu bersifat sebagai katodik Korosi galvanik tidak terjadi jika kedua logam benar-benar kering karena tidak ada elektrolit yang memindahkan arus dintara anoda dan katoda.

Jarak Laju korosi pada umumnya paling besar pada daerah dekat pertemuan kedua logam. Laju korosi berkurang dengan makin bertambahnya jarak dari pertemuan kedua logam tersebut. Pengaruh jarak ini tergantung pada konduktivitas larutan dan korosi galvanik dapat diketahui dengan adanya serangan korosi lokal pada daerah dekat pertemuan logam.

Luas Penampang Yang dimaksud dengan luas penampang elektroda terhadap korosi galvanik adalah pengaruh perbandingan luas penampang katodik terhadap anodik. Jika luas penampang katodik jauh lebih besar dari pada katoda. Makin besar rapat arus pada daerah anoda mengakibatkan laju korosi makin cepat pula.. Korosi di daerah anodik akan menjadi 100-

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB
1000 kali lebih besar jika dibandingkan dengan keseimbangan luas penampang anodik dan katodik.

Cara Pengendalian Korosi Terdapat beberapa cara pengendalian yang umum dilakukan untuk mengendalikan korosi galvanik., yaitu antara lain : 1. Pemilihan material yang tepat. Pemilihan material dengan perbedaan potensial dari kedua material agar sekecil mungkin 2. Menghindarkan penggunaan 2 jenis logam yang saling berhubungan dalam suatu kontruksi. 3. Melakukan penggunaan lapis lindung. Jika harus menggunakan lapis lindung maka gunakan lapis lindung pada katoda. 4. Menghindari kombinasi luas penampang material dengan anoda kecil sedangkan luas penampang katoda besar. 5. Menambahkan inhibitor untuk mengurangi keagresifan lingkungan. 6. Merancang dengan baik agar dapat mengganti bagian-bagian anoda yang rusak dengan menggunakan bahan-bahan yang siap pakai atau buatlah anodik yang lebih tebal agar lebih tahan lama.

C. Alat dan Bahan Alat : Gelas kimia 1000 ml, 6 buah Multimeter pH meter spatula Timbangan elektronik Elektroda acuan SCE Batang pengaduk Penggaris / jangka sorong Bahan : Logam baja Fe Logam seng Logam Cu Kertas abrasive Isolasi Larutan NaCl 3,56 gpl sebanyak @1000 ml, 2 buah Larutan HCl 1 M sebanyak @1000 ml, 2

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB
buah Air keran sebanyak @1000 ml, 2 buah

D. Cara Kerja Persiapan specimen / Benda Kerja

siapkan logam Fe, Zn, dan Cu

ampelas masing masing logam

bersihkan logam dengan menggunakan aquades

Persiapan Larutan

membuat larutan proses NaCl 3,56 gpl, sebanyak @1000 ml, 2 buah

membuat larutan HCl 1 M sebanyak @1000 ml, 2 buah

siapkan air keran sebanyak @1000 ml, 2 buah

Langkah Kerja

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB

Mengampelas logam logam yang akan digunakan

mencuci logam - logam tersebut dengan menggunakan aquades

memasang kawat kawat kabel pada setiap logam

menutupbagian logam yang berhubungan dengan alat penghubng / isolasi

mengukur luas permukaan yang tidak terisolasi

timbang kembali berat qwal

hitunga pH masing masing dari setiap larutan

hubungkan logam logam tersebut

diamkan selama 7 hari

setelah 7 hari, bersihkan dengan air keran

timbang berat akhir

E. Data Pengamatan Pengamatan dilakukan selama 7 hari Larutan pH 6,09 NaCl 5,96 0,36 HCl 0,40 6,45 Air keran 6,63 Logam Fe Zn Fe Cu Fe Zn Fe Cu Fe Zn Fe Cu Panjang (mm) 4.9 2.2 4.8 4.1 4.2 2.3 4.7 2.3 4.9 3.2 4.4 3.2 Lebar (mm) 1.9 1.9 1.9 2.3 1.9 2 1.9 2 2 2 1.9 2.4 Berat (gr) Awal Akhir 7.41 3.37 1.01 0.62 7.41 3.34 8.25 3.08 7.41 1.49 1.01 0.05 7.41 0.5 6.23 2.91 7.41 2.75 1.01 0.5 7.41 3.35 7.75 3

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB

F. Perhitungan

Dimana,

= laju korosi (mpy), = berat yang hilang (gr),

= luas permukaan (cm2), = densitas logam (gr/cm3), dan

= waktu (jam).

Nilai t (waktu) : 7 hari = 168 jam Berat jenis : Fe = 7,85 gr/cm3, Cu = 8,94 gr/cm3, dan Zn = 7,14 gr/cm3.

Larutan

pH 6,09

Berat (gr) Luas Panjang Lebar Logam permukaan (mm) (mm) Awal Akhir (cm2) Fe Zn Fe Cu Fe Zn Fe Cu Fe Zn Fe Cu 4.9 2.2 4.8 4.1 4.2 2.3 4.7 2.3 4.9 3.2 4.4 3.2 1.9 1.9 1.9 2.3 1.9 2 1.9 2 2 2 1.9 2.4 0.0931 0.0418 0.0912 0.0943 0.0798 0.046 0.0893 0.046 0.098 0.064 0.0836 0.0768 7.41 1.01 7.41 8.25 7.41 1.01 7.41 6.23 7.41 1.01 7.41 7.75 3.37 0.62 3.34 3.08 1.49 0.05 0.5 2.91 2.75 0.5 3.35 3

m (gr) 4.04 0.39 4.07 5.17 5.92 0.96 6.91 3.32 4.66 0.51 4.06 4.75

Laju korosi (cm/jam) 0.032904 0.007075 0.033839 0.036503 0.056252 0.015825 0.058674 0.048054 0.036056 0.009252 0.036825 0.04118

Laju korosi (mpy) 113481 24399.44 116705.42 125893.25 194003.81 54576.40 202356.91 165731.03 124351.58 31906.95 127002.19 142022.12

NaCl 5,96 0,36 HCl 0,40 Air keran 6,45 6,63

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB

G. Pembahasan Korosi galvanik adalah adanya reaksi atau kontak listrik antara dua logam yang berbeda dalam larutan elektrolit. Potensial yang lebih positif akan bertindak sebagai katodik dan begitu pun sebaliknya yang lebih negatif akan menjadi anodik. Praktikum ini dilakukan selama 7 hari untuk data pengamatan karena waktu yang tepat untuk terjadinya korosi. Larutan yang dipakai bervariasi yaitu larutan garam (NaCl), larutan HCl, dan Air keran. Pasangan logam yang digunakan yaitu Fe-Zn dan Fe-Cu. Hasil yang didapatkan dari data praktikum yaitu laju korosi paling maksimum ada pada larutan HCl untuk pasangan logam Fe-Cu. Pasangan logam ini terkorosi pada larutan HCl yang mempunyai pH sangat asam yaitu 0,4. Laju korosi yang didapatkan untuk logam Fe yaitu sebesar 202356,91 mpy dan laju korosi Cu yaitu sebesar 165731,03 mpy. Sementara itu, untuk pasangan logam Fe-Zn yaitu pada logam Fe mempunyai laju korosi 194003,81 mpy dan logam Zn yaitu sebesar 54576,40 mpy. Larutan HCl ini memang sangat reaktif terhadap pengkorosian logam-logam karena suasana larutannya asam kuat sehingga wajar apabila didapatkan nilai laju korosi maksimum ada pada larutan HCl ini. Seharusnya, berdasarkan teori ketika logam Fe-Zn dikontakkan logam Zn mengalami pengkorosian terbesar atau laju korosinya lebih besar dibandingkan dengan laju korosi Fe karena nilai potensial yang dimiliki oleh Zn lebih negatif atau anodik dibandingkan dengan nilai potensial Fe sehingga logam Zn lebih terkorosi parah dibandingkan dengan logam Fe. Namun, pada saat praktikum hasilnya berbeda. Laju korosi logam Fe lebih besar dibandingkan dengan laju korosi logam Zn. Hal ini disebabkan oleh adanya sambungan kabel yang menghubungkan logam Fe dan Zn dengan kabel yang berbahan tembaga sehingga logam Fe kontak terlebih dahulu dengan logam Cu yang pada dasarnya yang lebih positif nilai potensialnya antara logam Fe dan Cu adalah logam Cu sehingga laju korosi logam Fe lebih besar dibandingkan dengan laju korosi logam Zn. Hasil ini berlaku juga pada semua larutan yang lainnya bahwa nilai laju korosi Fe lebih besar dibandingkan dengan nilai laju korosi Zn.

Laporan Korosi Galvanik Kelompok


VI 3A TKPB
Sementara untuk Fe-Cu yang akan menjadi anoda adalah logam Fe sehingga laju korosi pada logam Fe akan lebih besar dibandingkan dengan nilai laju korosi pada logam tembaga. Dalam fakta praktikum, nilai laju korosi Fe ada yang lebih kecil dibandingkan dengan laju korosi logam Cu yaitu pada larutan NaCl dan air keran. Hal ini mungkin disebabkan pH yang ada pada larutan-larutan tersebut mempunyai kandungan cukup netral yaitu pH 6. H. Kesimpulan Hasil pengolahan data yang terjadi ketika praktikum tidak sesuai dengan teori yang disebutkan karena adanya kontak Fe dengan kabel yang berbahan Cu sehingga laju korosi Fe lebih besar dibandingkan laju korosi Zn pada pasangan logam Fe-Zn.

I. Daftar Pustaka
Harianto. 2007. Korosi Galvanik. (Online). Diakses tanggal 27 Maret 2012.