Anda di halaman 1dari 45

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

MODUL : Penukar Panas (Heat Exchanger)


PEMBIMBING : Dhyna Analyes, S.T., M.T

Oleh :

Kelompok :7
Nama : Muhammad Fikri Rahmadillah 171424021
Muhammad Helldy Rivaldy 171424022
Kelas : 3A - TKPB

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Alat penukar panas (atau alat penukar kalor) banyak sekali digunakan di industri kimia,
terutama pada industri kimia yang bahan baku dan produknya sebagian besar berupa cairan
atau gas. Pada umumnya namanya berbeda-beda tergantung fungsinya. Nama alat penukar
kalor dalam industri kimia antara lain disebut; heater (pemanas), pre-heater (pemanas awal),
cooler (pendingin), evaporator (penguap), condenser (pengembun) dan lain-lain. Alat penukar
panas berfungsi untuk memindahkan panas/kalor dari suatu fluida panas ke fluida dingin
melalui kontak secara langsung atau tidak langsung. Penukar panas ini pada umumnya
bertujuan untuk memanaskan, mendinginkan, menguapkan, dan mengembunkan suatu fluida
dengan menggunakan fluida lain sebagai media pemanas atau pendingin. Perpindahan panas
merupakan unit operasi penting yang berkontribusi terhadap efisiensi dan keamanan banyak
proses. Dalam praktikum ini, alat penukar panas yang digunakan adalah jenis Double Pipe dan
jenis Shell and Tube. Semua penukar panas ini bisa dioperasikan secara parallel dan counter-
flow. Pertukaran panas dilakukan antara air panas dan air dingin.
1.2 Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat :
1. Memahami fungsi alat penukar panas jenis Double Pipe (DPHE) dan jenis Shell and
Tube (STHE)
2. Menjelaskan mekanisme operasi alat penukar panas jenis Double Pipe (DPHE) dan
jenis Shell and Tube (STHE)
3. Menjelaskan komponen-komponen utama alat penukar kalor jenis Double Pipe
(DPHE) dan jenis Shell and Tube (STHE)
4. Mengevaluasi kinerja alat penukar panas jenis Double Pipe (DPHE) dan jenis Shell
and Tube (STHE)

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Mekanisme Perpindahan Panas


Berdasarkan mekanismenya, perpindahan panas dibedakan atas 3 cara, yakni:
1) Perpindahan panas secara konduksi
Yakni perpindahan panas melalui suatu bahan padat. Pertukaran energi terjadi
pada tingkat molekuler. Besarnya energi yang berpindah telah diteliti oleh Fourier.
Model matematik untuk perpindahan panas secara konduksi dituliskan oleh Fourier
sebagai berikut:
q = - k A (ΔT/ ΔX)
A = luas penampang, m2
k = konduktivitas termal, W/m.K
ΔT = beda suhu, K
ΔX = panjang/tebal, m

2) Perpindahan panas secara konveksi


Perpindahan panas bergantung pada konduksi antara permukaan benda padat
dengan fluida terdekat yang bergerak.
Model matematik untuk perpindahan panas secara konveksi dituliskan oleh Newton
sebagai berikut:
q = h A (Ts - Tf)
A = luas penampang, m2
h = koefisien konveksi, W/m2.K
Ts = suhu permukaan, 0C
Tf = suhu fluida, 0C

3) Perpindahan panas radiasi


Perpindahan energi melalui pelompatan foton dari suatu permukaan ke
permukaan yang lain.
Model matematik untuk perpindahan panas secara konveksi dituliskan oleh Stefan-
Boltzmann sebagai berikut:
q = σ T4

2
σ = tetapan Stefan-Boltzmann, 5,669 x 10-8 W/m2.K
T = suhu absolute, K

2.2 Pengertian Heat Exchanger


Sesuai dengan namanya, maka alat penukar kalor (heat exchanger) berfungsi
mempertukarkan suhu antara dua fluida dengan melewati dua bidang batas. Bidang batas pada
alat penukar kalor ini berupa pipa yang terbuat dari berbagai jenis logam sesuai dengan
penggunaan dari alat tersebut.
Pada percobaan ini akan dilakukan pengamatan unjuk kerja alat penukar kalor pipa ganda
(double pipe heat exchanger) yang terdiri dari dua pipa konsentris. Pipa yang berada di luar
dikenal sebagai annulus (shell), sedangkan bagian dalam dikenal sebagai pipa (tube).

2.3 Prinsip Kerja Heat Exchanger


Heat exchanger adalah heat exchanger antara dua fluida dengan melewati dua bidang
batas. Bidang batas pada heat exchanger adalah dinding pipa yang terbuat dari berbagai jenis
logam. Pada heat exchanger ini, terdapat dari dua pipa konsentris, yaitu: annullus/shell (pipa
yang berada di luar) dan tube (pipa yang berada di dalam). Berdasarkan jenis alirannya heat
exchanger dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Parallel Flow
Kedua fluida ,mengalir dalam heat exchanger dengan aliran yang searah. Kedua
fluida memasuki HE dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan temperatur yang
besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x, jarak pada HE. Temperatur
keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi temperatur fluida panas.
2. Counter Flow
Berlawanan dengan paralel flow, kedua aliran fluida yang mengalir dalam HE masuk
dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran yang fluida dingin ini suhunya mendekati
suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil suhu yang didapat lebih efekrif dari
paralel flow. Mekanisme perpindahan kalor jenis ini hampir sama dengan paralel
flow, dimana aplikasi dari bentuk diferensial dari persamaan steady-state:
dQ  U T  t a" dL (1)
dQ  WCdT  wcdt (2)

3
3. Cross-flow Heat Exchanger
Dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain. Biasa dipakai untuk
aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya sistem kondensor uap (tube and shell
heat exchanger), di mana uap memasuki shell, air pendingin mengalir di dalam tube
dan menyerap panas dari uap sehingga uap menjadi cair.
2.4 Pemilihan Fluida yang dialirkan ke Shell dan Tube
Untuk mengoperasikan alat penukar panasSebelum dilakukan perhitungan
sebaiknya ditentukan dahulu cairan mana yang harus ditempatkan di bagian pipa dan
cairan mana yang harus ditempatkan di bagian shell.
Ketentuannya adalah sebagai berikut:
 Korosi. Cairan yang lebih korosif harus dialokasikan ke bagian tabung. Hal
ini akan mengurangi biaya komponen logam paduan yang mahal.
 Fouling. Cairan yang memiliki kecenderungan untuk mengerak pada
permukaan perpindahan panas seharusnya ditempatkan di bagian tabung. Hal
ini akan memberikan kontrol yang lebih baik terhadap desain kecepatan
fluida, dan semakin tinggi kecepatan cairan dalam tabung yang diijinkan akan
mengurangi fouling. Selain itu, apabila terjadi kerak, bagian tabung akan
lebih mudah dibersihkan daripada di bagian shell.
 Suhu cairan. Jika suhu yang cukup tinggi membutuhkan pemakaian bahan
logam paduan khusus, penempatan fluida yang memiliki suhu lebih tinggi
akan mengurangi biaya keseluruhan. Jika suhu sedang, penempatan cairan
panas di bagian tabung akan mengurangi suhu permukaan bagian shell. Hal
ini akan mengurangi kehilangan panas, dan mengurangi biaya isolasi serta
untuk alasan keamanan.
 Tekanan operasi Aliran cairan dengan tekanan yang lebih tinggi harus
dialokasikan ke bagian tabung. Tabung bertekanan tinggi akan lebih murah
daripada cangkang (shell) bertekanan tinggi.
 Penurunan tekanan(pressure drop). Untuk penurunan tekanan yang sama,
koefisien perpindahan panas di sisi tabung lebih tinggi dibandingkan di
bagian cangkang (shell), dan cairan dengan penurunan tekanan terendah harus
dialokasikan ke bagian tabung.
 Viskositas. Umumnya, koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi akan
diperoleh dengan mengalokasikan bahan yang lebih kental ke sisi cangkang,

4
yang memberikan aliran turbulent. Bilangan Reynolds kritis untuk aliran
turbulen di bagian cangkang (shell) berada di wilayah 200. Jika aliran
turbulent tidak bisa dicapai di bagian cangkang, maka lebih baik
menempatkan cairan viscous tersebut di bagian tabung, karena koefisien
perpindahan panas di bagian tabung dapat diprediksi dengan pasti.
 Laju Alir cairan. Mengalokasikan cairan dengan laju aliran terendah ke
bagian cangkang (shell) umumnya memberikan desain yang paling ekonomis.

2.5 Double Pipe Heat Exchanger


Terdiri dari satu buah pipa yang diletakkan di dalam
sebuah pipa lainnya yang berdiameter lebih besar secara
konsentris. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa kecil
sedangkan fluida yang lain mengalir di bagian
luarnya. Pada bagian luar pipa kecil biasanya dipasang
fin atau sirip memanjang, hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan permukaan perpindahan panas yang lebih
Gambar 1.Double pipe HE
luas. Double pipe ini dapat digunakan untuk memanaskan
atau mendinginkan fluida hasil proses yang membutuhkan area perpindahan panas
yang kecil (biasanya hanya mencapai 50 m2).
Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua
fluida tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin)
mengalir melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi mengalir
pada pipa yang lebih besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian mungkin terdiri
dari beberapa lintasan yang disusun dalam susunan vertikal. Perpindahan kalor yang
terjadi pada fluida adalah proses konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada
dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang
bertemperatur rendah.
Double Pipe Heat Exchanger ini juga dapat digunakan untuk mendidihkan atau
mengkondensasikan fluida proses tapi dalam jumlah yang sedikit. Kerugian yang ditimbulkan
jika memakai heat exchanger ini adalah kesulitan untuk memindahkan panas dan mahalnya
biaya per unit permukaan transfer. Tetapi, double pipe heat exchanger ini juga memiliki
keuntungan yaitu heat exchanger ini dapat dipasang dengan berbagai macam fitting (ukuran).

5
Pada alat ini, mekainsme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua fluida tidak
bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin) mengalir melalui pipa
kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi mengalir pada pipa yang lebih besar
(pipa annulus). Penukar kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa lintasan yang disusun
dalam susunan vertical. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida adalah proses konveksi,
sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor mengalir dari fluida yang
bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.

2.6 Shell and Tube Heat Exchanger


Shell and tube heat exchanger merupakan jenis alat penukar panas yang banyak
digunakan pada suatu proses seperti petroleum, industri kimia, dan industri HVAC. Shell and
tube heat exchanger mengandung beberapa tube sejajar di dalam shell. Shell and tube heat
exchanger digunakan saat suatu proses membutuhkan fluida untuk dipanaskan atau
didinginkan dalam jumlah besar. Untuk membuat perpindahan panas yang lebih baik dan untuk
menyangga tube yang ada di dalam shell, maka sering dipasang baffle. Efektifitas perpindahan
panas meningkat dengan dipasangnya baffle. Efektifitas meningkat seiring dangan
mengecilnya jarak antar baffle hingga suatu jarak tertentu kemudian menurun. Shell and tube
heat exchanger merupakan bejana tekanan dengan banyak tube didalamnya. Pada suatu proses,
fluida mengalir melalui tube pada exchanger saat fluida lainnya mengalir keluar tube yang
berada di antara shell. Fluida pada sisi tube dan pada sisi shell terpisah oleh tube sheet.
2.6.1 Prinsip Kerja Shell and Tube Heat Exchanger
STHE terdiri dari satu bundel pipa (tube) yang dipasang paralel dan ditempatkan dalam
sebuah cangkang yang dinamakan cangkang (shell). Untuk meningkatkan efisiensi dari STHE
maka dipasang sekat yang bertujuan membuat aliran didalam cangkang bergolak (turbulen)
yang berakibat juga bertambahnya waktu tinggal (residence time). Namun sisi lain dari
kerugian pemasangan sekat ini adalah naiknya beban kerja karena bertambahnya beban pompa.
Bahan penukar panas ini dipilih berdasarkan fluida yang digunakan dan biasanya terbuat dari
logam dan paduannya. Selain itu kondisi operasi dengan tekanan tinggi, sifat fluida yang
korosif dan juga suhu dalam alat yang tidak seragam juga menjadi pertimbangan pemilihan
bahan penukar panas ini.

6
Gambar 2.2 Shell and Tube Heat Exchanger
Sumber : Google

Gambar 2.3 Susunan Pipa STHE


Sumber : Google

Susunan pipa yang ada didalam alat yang digunakan adalah in-line (a) dan rasio antara
Sn/D = Sp/D = 1,25
2.6.2 Tipe Shell and Tube Heat Exchanger
Berikut adalah jenis-jenis STHE :

Gambar 2.4 Straight-Tube One Pass Tube Side STHE


Sumber : Google

7
Gambar 2.5 Straight-Tube Two Pass Tube Side STHE
Sumber : Google

2.6.3 Perhitungan pada Shell and Tube Heat Exchanger


Berikut adalah profil temperatur dari peralatan penukar panas :

Gambar 2.6 Profil Temperatur dari Peralatan Penukar Panas


Sumber : Google

A. Menghitung Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan (U) Menggunakan


Neraca Energi
Q = 𝑈. 𝐴.△ 𝑇𝑚 (3)
𝑄
𝑈 = 𝐴.△𝑇 (4)
𝑚

△ 𝑇𝑚 = 𝐹𝑇 .△ 𝑇𝑚 (5)
 Harga Q dapat dihitung dari :
Kalor yang diberikan fluida panas
Q = (M. Cp. ∆T)1 (6)

8
Kalor yang diterima fluida dingin
Q = (M. Cp. ∆T)2 (7)
 Efisiensi kalor yang dipertukarkan :
(M.Cp.△T)2
𝜂 = (M.Cp.△T)1 𝑥 100 % (8)

Q = Laju alir kalor (Watt)


A = Luas permukaan (m2)
U = Koefisien pindah panas keseluruhan (W/m2K)
 ∆Tlm = Perbedaan suhu logaritmik (K) :
Untuk aliran counter-current
∆T1 = Thi - Tco
∆T2 = Tho - Tci
Untuk aliran co-current
∆T1 = Tho - Tco
∆T2 = Thi – Tci
 Harga FT dapat diperoleh dari kurva di bawah :

Gambar 2.7 Grafik FT, Z, Y


Sumber : Google

B. Menghitung Koefisien Perpindahan Panas Keseluruhan (U) Menggunakan


Persamaan Empiris
Untuk pipa sepanjang L
1
𝑈=
1 1
⁄ + △ 𝑋⁄𝐾. 𝐴𝑟 + ⁄
ℎ𝑖. 𝐴𝑖 ℎ𝑜𝐴𝑜

9
1
𝑈= 𝑟𝑜
1 ln ( 𝑟𝑖 ) 1
⁄ + ⁄ + ⁄
ℎ𝑖. 2𝜋. 𝑟𝑖. 𝐿 𝐾. 2𝜋. 𝐿 ℎ𝑜. 2𝜋. 𝑟𝑜. 𝐿
Keterangan
hi, ho = Koefisien pindah panas konveksi inside dan outside (W/m2K)
ri, ro = Diameter (m) inside dan outside pipa yang kecil
K = Koefisien konduksi (W/m.K)
L = panjang pipa yang diameternya kecil (m)
Harga ri, ro, dan L dapat diukut dari alat, harga K bahan SS-204 dapat diperoleh
dari buku referensi dan hi, ho dihitung dari persamaan empiris
2.7 Flow Arrangement
Terdapat dua jenis Heat Exchanger berdasarkan flow arrangements yakni single pass
dan multiple pass. Pada single pass, kedua fluida melewati sistem hanya satu kali, sedangkan
pada multiple pass, salah satu atau kedua fluida mengalir bolak-balik secara zigzag. Pada single
pass aliran fluida bisa parallel ataupun berlawanan, sedangkan pada multiple pass merupakan
kombinasai keduanya. Fluida juga dapat mengalir secara crossflow. Yang pertama, kedua
fluida tidak bercampur, mereka melewati jalan masing-masing tanpa bercampur. Yang kedua,
kedua fliuda bercampur tanpa terjadi reaksi kimia. Jika luas shell besar, crossflow akan
menghasilkan koefisien perpindahan kalor yang lebih tinggi daripada aliran aksial yang terjadi
di dalam tabung double-pipe.
2.8 Parameter Heat Exchanger
2.8.1 Logaritmic Mean Temperature Difference (LMTD)

Pada awalnya kita mengandaikan U (bisa juga digantikan oleh h ) sebagai nilai konstan
(nilai U dapat dilihat pada tabel pada lampiran). U sendiri merupakan koefisien heat
transfer overall. Aturan untuk nilai U adalah sebagai berikut :
1. Fluida dengan konduktivitas termal rendah seperti tar, minyak atau gas, biasanya
menghasilkan h yang rendah. Ketika fluida tersebut melewati heat exchanger, U
akan cenderung untuk turun

2. Kondensasi dan Pemanasan merupakan proses perpindahan kalor yang efektif.


Proses ini dapat meningkatkan nilai U.

3. Untuk U yang tinggi, tahanan dalam exchanger pasti rendah

10
4. Untuk fluida dengan konduktivitas yang tinggi , mempunyai nilai U dan h yang
tinggi.

Untuk U pada suhu yang hampir konstan, variasi temperatur dari aliran fluida dapat
dihitung secara overall heat transfer dalam bentuk perbedaan temperatur rata-rata dari
aliran dua fluida, yang dapat dibuat persamaan sebagai berikut :

Q  UATmean (3)

Yang menjadi masalah kali ini adalah bagaimana membuat persamaan tersebut menjadi
benar. Kita harus dapat menghitung nilai dari ΔT yang diinginkan. Hal ini disebabkan
karena terlihat pada grafik mengenai kecenderungan perubahan temperatur fluida akan
lebih cepat sejalan dengan posisinya (grafik bisa dilihat dari lampiran). Selain itu pada
counterflow dan pararel flow, perhitungan tersebut bisa berbeda. Oleh karena itu perlu
dicari suatu persamaan yang dapat menyelesaikan masalah ini. Dengan menurunkan
rumus awal sebagai berikut :
dQ  U (dA)T  (mc p ) h dTh  (mc p ) c dTc (4)

Keterangan : h untuk aliran panas dan c untuk aliran dingin


Setelah itu kita menyamakan persamaan antara persamaan untuk counterflow dan
persamaan untuk pararel flow dan didapat :
 Ta  Tb 
Q  UA  (5)
 ln( Ta / Tb 
Dimana ΔTa adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin awal
dan ΔTb adalah selisih antara suhu keluaran shell dengan suhu fluida pendingin akhir. Δt
mean yang dimaksud dalam persamaan tersebut adalah LMTD, yaitu :
 Ta  Tb 
Tm ean  LMTD    (6)
 ln( Ta / Tb 
Namun demikian penggunaan LMTD juga cukup terbatas. Kita harus menggunakan
faktor koreksi F yang dapat dilihat dalam grafik pada lampiran. Sehingga rumusnya
menjadi :
Q  UAF (LMTD) (7)
1
U (8)
1 ri ln( r0 / rp ) r j ln( rp / ri ) r
   i  Rd
hi k insulator k pipe r0 h0

11
Perpindahan Kalor pada Alat Penukar Kalor

(9)
Δtm merupakan suhu rata-rata log atau Log Mean Temperature Difference (LMTD).
Untuk shell and tube heat exchanger, nilai LMTD harus dikoreksi dengan faktor yang
dicari dari grafik yang sesuai (Fig 18 s/d Fig 23 Kern). Caranya adalah dengan
menggunakan parameter R dan S.

(10)
Nilai LMTD dihitung dengan persamaan sbb:
Bila UD konstan
Untuk aliran searah (co-current)

Atau

Untuk aliran berlawanan arah (Counter Current)

12
(11)
Nilai LMTD yang diperoleh ini harus dikoreksi dengan faktor FT yang dicari dari grafik
yang sesuai. Caranya yaitu dengan menggunakan parameter R dan S:

(12)
Dan harga Δ tm =FT.LMTD
Bila UD tidak konstan (berubah) terhadap suhu
Untuk aliran searah atau aliran berlawanan arah, maka persamaan LMTD berupa
persamaan implisit:

13
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Steam Air

Kondensat

Preheater

P-7

V4
T1

V13

V1

V19

T1 T1

HE - 1
V20

F1
T1 V5

T1

V12 T1

V3

T1
T1

HE - 2
V15

V16
T1
V2

V10

V9

V6

V14 V17 V8

T11 F1
T10

HE - 3 V7

T12
T13
Kondensat V11

V18

14
Keterangan gambar :
Valves
V1 : valve air dingin menuju HE-1, HE-2 V11 : valve air pendingin keluar HE-3
V2 : valve air dingin menuju HE-3 V12 : valve air pemanas keluar HE-1
V3 : valve air pendingin masuk HE-2 V13 : valve steam menuju preheater-1
V4 : pengatur laju air panas HE-1, HE-2 V14 : valve steam menuju preheater-2
V5 : valve air pendingin masuk HE-1 V15 : valve air pendingin keluar HE-2
V6 : pengatur laju air dingin HE-3 V16 : valve air pendingin keluar HE-2
V7 : valve air pendingin masuk HE-3 V17 : valve air pemanas masuk HE-3
V8 : pengatur laju air panas HE-3 V18 : valve air pemanas keluar HE-3
V9 : valve air pemanas keluar HE-2 V19 : pengatur laju air dingin HE-1,2
V10 : valve air pemanas keluar HE-2 V20 : valve air pemanas keluar HE-1
Temperature Indicators
T1 : suhu air dingin T8 : suhu air pemanas keluar HE-1
T2 : suhu air pendingin masuk HE-2 T9 : suhu air pemanas masuk HE-1
T3 : suhu air pendingin keluar HE-2 T10 : suhu air pendingin masuk HE-3
T4 : suhu air pemanas keluar HE-2 T11 : suhu air pemanas masuk HE-3
T5 : suhu air pemanas masuk HE-2 T12 : suhu air pendingin keluar HE-3
T6 : suhu air pendingin masuk HE-1 T13 : suhu air pemanas keluar HE-3
T7 : suhu air pendingin keluar HE-1
Flow Indicators
F1 : indikator laju alir air dingin masuk HE-1 dan HE-2
F1 : indikator laju alir air panas masuk HE-3
F1 : indikator laju alir air dingin masuk HE-3
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan adalah steam (dicampurkan dengan air sebagai fluida pemanas)
dan air dingin (sebagai fluida dingin)
3.2 Prosedur Kerja
Masing-masing prosedur penggunaan HE terdiri dari empat tahap, yaitu periapan dan
start-up, kalibrasi, pengoperasian, serta pengentian dan shut-down.

15
3.2.1 Double Pipe Heat Exchanger-1 (HE-1)
Prosedur penggunaan HE-1 dijelaskan dalam diagram alir di bawah ini :
A. Pra Pengoperasian

Membuka valve aliran keluar pompa

Menyalakan pompa dengan menyambungkan kabel ke sumber aliran


listrik

Kalibrasi laju alir air dingin

Membuka valve V1, V4, V5, V12, V13, V19, dan V20 kemudian menutup
valve V2, V3, V10, dan V14

Menunggu laju alir air keluar stabil

Mengambil sejumlah air yang keluar dari V20 dalam gelas ukur pada
waktu tertentu

Mengatur V19 untuk mengatur laju alir lainnya untuk melakukan variasi
bukaan pompa

Kalibrasi laju alir air panas

Membuka valve V4 kemudian menutup valve V13

Membuka V4 satu putaran, tampung air menggunakan gelas ukur dari V12

Lakukan variasi bukaan valve beberapa putaran

Membuka16
kurva kalibrasi
B. Pengoperasian

Mengecek suhu panas dan dingin keluar masuk setiap 2 menit dengan 3
menit

Variasikan laju alir air

Mengatur V19 dan V4 (1 Putaran)

Mencatat suhu panas keluar masuk, dingin keluar masuk selama 6 menit,
sebanyak 3 titik

Lakukan langkah 1-3 variasikan bukaan V19 dan V4 tetap sebanyak 3


variasi laju alir air dingin

Setelah variasi laju alir air dingin selesai, variasikan laju alir air panas
dan laju alir air dingin tetap lakukan seperti langkah 1-4

C. Pasca Pengoperasian

Menutup V13 dan V4

Memastikan suhu keluaran HE telah turun

Menutup V1, V5, V20

Mencabut sambungan listrik pada pompa

Menutup Valve Keluaran

17
3.2.2 Double Pipe Heat Exchanger-2 (HE-2)
Prosedur penggunaan HE-2 dijelaskan dalam diagram alir di bawah ini :
A. Pra Pengoperasian

Membuka valve aliran keluar pompa

Menyalakan pompa dengan menyambungkan kabel ke sumber aliran


listrik

Kalibrasi laju alir air dingin

Membuka valve V1, V3, V15, dan V19 kemudian menutup valve V2, V4,
V5, dan V16

Menunggu laju alir air keluar stabil

Mengatur V19 untuk mengatur laju alir lainnya untuk melakukan variasi
bukaan pompa

Mengambil sejumlah air yang keluar dari V15 dalam gelas ukur pada
waktu tertentu

Kalibrasi laju alir air panas

Membuka valve V1, V4, dan V10 kemudian menutup valve V2 dan V9

Menunggu laju alir air keluar stabil

Mengatur V4 untuk mengatur laju alir lainnya untuk melakukan variasi


bukaan pompa

Mengambil sejumlah air yang keluar dari V10 dalam gelas ukur pada
waktu tertentu
18
B. Pengoperasian

Membuka valve V1, V19, V3’,dan V15 dan menutup valve V2, V4, V5, dan
V16 agar air mengalir ke bagian dalam pipa bagian dalam HE-2

Membuka valve V4, dan V10 lalu menutup valve V9 agar air dingin
mengalir ke bagian pipa luar HE-2

Membuka V13 setelah air dingin mengalir ke bagian pipa dalam dan pipa
luar HE-2 untuk memanaskan air dingin yang masuk ke bagian luar pipa

Mengatur V13 agar suhu air panas yang mengalir ke bagian pipa luar HE-
2 tidak melebihi 80°C (lihat indikator suhu)

Menunggu beberapa saat hingga kondisi aliran fluida di kedua bagian


pipa “steady-state”

Mencatat suhu masuk dan keluar fluida dingin dan fluida panas serta
besarnya laju alir fluida dingin dan fluida panas pada HE-2

Melakukan pencatatan kurang lebih 3-4 kali dengan selang waktu 3-5
menit

C. Pasca Pengoperasian

Menutup V13 lalu menutup valve V1, V4, dan V5 sehingga tidak ada air
yang mengalir ke HE-2

Menutup valve pompa setelah menutup seluruh valve yang tersambung


dengan HE-2

Mematikan alat dengan mencabut kabel dari stop kontak untuk memutus
aliran listrik

19
3.2.3 Shell and Tube Heat Exchanger (HE-3)
Prosedur penggunaan HE-2 dijelaskan dalam diagram alir di bawah ini :
A. Pra Pengoperasian
Kalibrasi Laju Alir Dingin

Membuka Valve: V6, V7, V11, V12

Menutup Valve: V1, V8

Membuka Valve Pompa lalu menghubungkan listrik pompa dan


menyalakan pompa

Mengkalibrasi secara manual menggunakan gelas ukur dan stopwatch pada


aliran air yang telah stabil.

Mengatur V8 untuk laju alir lainnya. Menutup valve pompa untuk persiapan
kalibrasi berikutnya

Kalibrasi Laju Alir Panas

Membuka Valve: V2, V17, V8, V18

Menutup Valve: V1, V6

Membuka Valve Pompa

Mengkalibrasi secara manual menggunakan gelas ukur dan stopwatch pada


aliran air yang telah stabil.

Mengatur V8 untuk laju alir lainnya

20
B. Pengoperasian

Membuka Valve: V2, Valve pompa, V18, V11, V6, V8, V7

Menutup Valve: V1, V14, Vsteam (pastikan tertutup sebelum operasi)

Membuka Valve Pompa dan Valve Steam. Atur bukaan Valve steam dan
laju alir air dingin

Melakukan pengecekan terhadap suhu masuk dan keluar air dingin, serta
suhu masuk dan keluar air panas. Dengan rentang waktu tertentu, lalu lihat
indikator temperatur agar tidak lebih dari 80oC

Melakukan Variasi (laju alir dingin tetap atau laju air panas tetap) lainnya.

Mengukur laju steam dan total steam yang digunakan, menggunakan ember
lalu menimbangnya

C. Pasca Pengoperasian

Menutup Valve steam dan Valve Pompa, Menutup valve V14, V8, V17, V2,
V6, V7

Mematikan dan mencabut sambungan listrik terhadap Pompa

Membersihkan kembali ruang lingkup peralatan HE

21
3.3 Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja yang harus dipenuhi selama melakukan percobaan adalah :
1. Menggunakan alat pelindung diri (APD)
2. Berhati-hati saat membuka valve
3. Berhati-hati saat melakukan kegiatan yang berhubungan dengan steam
4. Mengawasi selang-selang air dan valvenya agar tidak ada kebocoran

22
BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN
4.1 Heat Exchanger-1 (DPHE)
4.1.1 Spesifikasi
Berikut adalah spesifikasi peralatan Double Pipe Heat Exchanger-1 (HE-1)
Tabel 4.1 Spesifikasi Peralatan HE-1
Spesifikasi Ukuran Ukuran
Panjang Pipa m 1,4
Diameter Shell (pipa bagian luar) m 0,09
Diameter Tube (pipa bagian dalam) m 0,036
2
Luas Perpindahan Panas m 0,1583
Jenis Aliran - Counter Current
4.1.2 Data Pengamatan
Data pengamatan yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai berikut :
a. Kalibrasi
1) Laju Alir Air Dingin
Tabel 4.2 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-1
No. Laju Alir Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Rotameter (s) (mL) Terukur Aktual Massa (Kg/s)
(LPM) (LPM) (LPM)
1 1,8 240 1,44 2,09 0,03
2 3 410 2,46 3,14 0,05
3 6 10 910 5,46 6,20 0,10
4 9 1330 7,98 8,77 0,15
5 12 2000 12 12,87 0,21

Laju Rotameter Vs Laju Terukur


14
12
Laju Rotameter

y = 0,9796x + 0,6119
10 R² = 0,9928
8
6
4
2
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Laju Terukur

Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-1

23
2) Laju Alir Air Panas
Tabel 4.3 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-1
No. Bukaan Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Valve (s) (mL) Terukur Aktual Massa
(LPM (LPM) (Kg/s)
1 0,125 390 2,34 29,22 0,49
2 0,25 700 4,2 51,73 0,86
3 0,375 5 900 5,4 66,26 1,10
4 0,5 1090 6,54 80,06 1,33
5 0,625 1440 8,64 105,49 1,76

Bukaan Valve Vs Laju Terukur


0,8
Bukaan Valve

0,6 y = 0,0826x - 0,0732


R² = 0,9877
0,4
0,2
0
0 2 4 6 8 10
Laju Terukur

Gambar 4.2 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-1

b. Pengoperasian
1) Laju Alir Air Dingin Tetap
Tabel 4.4 Data Pengamatan Laju Alir Air Dingin Tetap pada HE-1
Laju Dingin Tetap = 9 LPM
No. Bukaan Valve Waktu Tc in Tc Th Th Konsumsi Steam
(Putaran) (menit) out in out (kg)
2 25,5 30 61 54
1 0,25 4 26 31 64,5 57 3,7
6 26 30 65 55
2 25,5 29 50 47
2 0,5 4 25,5 29 41,5 43,5 3,96
6 25,5 28 43 41
2 25 27 36,5 34
3 0,75 4 25,5 26 33 31 2,08
6 26 26 32 30

24
2) Laju Alir Air Panas Tetap
Tabel 4.5 Data Pengamatan Laju Alir Panas Tetap pada HE-1
Bukaan Valve Panas Tetap = 0,25 putaran
No. Laju Dingin Waktu Tc in Tc Th Th Konsumsi Steam
(LPM) (menit) out in out (kg)
2 26 28,5 38,5 36
1 6 4 25,5 28 36,5 35 1,54
6 25,5 27,5 35 34
2 25,5 28 35,5 32,5
2 9 4 25 28 37,5 35 1,74
6 25 27 41 38
2 25 27 46 42
3 12 4 25 27 48 43,5 3,36
6 25,5 27,5 50,5 45,5

4.1.3 Pengolahan Data


Hasil dari pengolahan data adalah sebagai berikut :
1) Laju Alir Air Dingin Tetap (9 LPM)
Tabel 4.6 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-1 dengan Laju Alir Air Dingin Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Panas (kg/s) Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kW/m2°C) (kW/m2°C)
0,86 9,66 5,92 0,120 0,129 0,50
1,33 15,22 4,75 0,168 0,187 0,72
1,76 2,91 15,42 0,080 0,087 0,34
2) Laju Alir Air Panas Tetap (bukaan valve 0,25 putaran)
Tabel 4.7 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-1 dengan Laju Alir Air Panas Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Panas (kg/s) Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kW/m2°C) (kW/m2°C)
0,10 18,64 2,21 0,213 0,242 0,66
0,15 15,26 6,77 0,205 0,237 0,91
0,21 11,15 5,18 0,087 0,093 0,52

25
4.2 Heat Exchanger-2 (DPHE)
4.2.1 Spesifikasi
Berikut adalah spesifikasi peralatan Double Pipe Heat Exchanger-2 (HE-2)
Tabel 4.8 Spesifikasi Peralatan HE-2
Spesifikasi Ukuran Ukuran
Panjang Pipa m 1,4
Diameter Shell (pipa bagian luar) m 0,116
Diameter Tube (pipa bagian dalam) m 0,044
Luas Perpindahan Panas m2 0,1936
Jenis Aliran - Co - Current
4.2.2 Data Pengamatan
Data pengamatan yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai berikut :
a. Kalibrasi
1) Laju Alir Air Dingin
Tabel 4.9 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-2
No. Laju Alir Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Rotameter (s) (mL) Terukur Aktual Massa
(LPM) (LPM) (LPM) (kg/s)
1 1,8 230 1,38 1,84 0,03
2 3 420 2,52 2,95 0,05
3 6 10 870 5,22 5,59 0,09
4 9 1330 7,98 8,28 0,14
5 12 1910 11,46 11,67 0,19

Laju Rotameter Vs Laju Terukur


14
12 y = 1,025x + 0,5054
Laju Rotameter

R² = 0,9971
10
8
6
4
2
0
0 2 4 6 8 10 12 14
Laju Terukur

Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-2

26
2) Laju Alir Air Panas
Tabel 4.10 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-2
No. Bukaan Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Valve (s) (mL) Terukur Aktual Massa
(putaran) (LPM) (LPM) (kg/h)
1 0,125 10 790 4,74 118,08 1,97
2 0,25 1250 7,5 185,89 3,09
3 0,375 920 11,04 272,87 4,54
4 0,5 5 1270 15,24 376,06 6,26
5 0,625 1300 15,6 384,91 6,41

Bukaan Valve Vs Laju Terukur


0,7
0,6 y = 0,0407x - 0,0658
Bukaan Valve

0,5 R² = 0,9598
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0 5 10 15 20
Laju Terukur

Gambar 4.4 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-2

b. Pengoperasian
1) Laju Alir Air Dingin Tetap
Tabel 4.11 Data Pengamatan Laju Alir Air Dingin Tetap pada HE-2
Laju Dingin Tetap = 9 LPM
Bukaan Valve Waktu Konsumsi Steam
No. Tc in Tc out Th in Th out
(Putaran) (menit) (kg)
2 24 28,5 28,5 30
1 0,25 4 24 28,5 28,5 30 0,68
6 24 25 28 30
2 24 24 24 24
2 0,5 4 24 24 24 24 0,82
6 24 24 24 24
2 24 24 24 24
3 0,75 4 24 24 24 24 0
6 24 24 24 24

27
2) Laju Alir Air Panas Tetap
Tabel 4.12 Data Pengamatan Laju Alir Panas Tetap pada HE-2
Bukaan Valve Panas Tetap = 0,5 putaran
Laju Dingin Waktu Konsumsi Steam
No. Tc in Tc out Th in Th out
(LPM) (menit) (kg)
2 25 26 35 36
1 6 4 24 25 32 33 1,32
6 25 25 31 32
2 24 25 30 31
2 9 4 24 25 30 30,5 1,9
6 24 25 32 30,5
2 24 25 28,5 30
3 12 4 24 25 28,5 30 0,78
6 24 24,5 30 30
4.2.3 Pengolahan Data
Hasil dari pengolahan data adalah sebagai berikut :
1) Laju Alir Air Dingin Tetap (9 LPM)
Tabel 4.13 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-2 dengan Laju Alir Air Dingin Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Panas (kg/h) Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kW/m2°C) (kW/m2°C)
3,09 9,65 34,41 0,231 0,210 0,63
6,26 0 0 0 0 0
6,41 0 0 0 0 0
2) Laju Alir Air Panas Tetap (bukaan valve 0,5 putaran)
Tabel 4.14 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-2 dengan Laju Alir Air Panas Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Panas (kg/h) Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kW/m2°C) (kW/m2°C)
0,09 1,49 6,95 0,075 0,064 0,13
0,14 2,69 14,05 0,153 0,141 0,42
0,19 2,07 24,48 0,204 0,192 0,80

28
4.3 Heat Exchanger-3 (STHE)
4.3.1 Spesifikasi
Berikut adalah spesifikasi peralatan Shell and Tube Heat Exchanger (HE-3)
Tabel 4.15 Spesifikasi Peralatan HE-3
Spesifikasi Ukuran Ukuran
Panjang Pipa m 1,2
Diameter Shell (pipa bagian luar) m 0,375
Diameter dalam Tube m 0,027
Diameter luar Tube m 0,032
Jumlah Tube buah 24
Jumlah Sekat (baffle) buah 13
2
Luas Perpindahan Panas m 2,67017
Jenis Aliran - Counter Current
4.3.2 Data Pengamatan
Data pengamatan yang diperoleh dari praktikum adalah sebagai berikut :
a. Kalibrasi
1) Laju Alir Air Dingin
Tabel 4.16 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-3
No. Laju Alir Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Rotameter (s) (mL) Terukur Aktual Massa
(LPM) (LPM) (LPM) (kg/h)
1 2 10 280 1,68 1,92 0,03
2 4 690 4,14 4,56 0,08
3 6 810 4,86 5,33 0,09
4 8 1220 7,32 7,97 0,13
5 10 1570 9,42 10,22 0,17

Laju Rotameter Vs Laju Terukur


10
y = 0,933x - 0,114
8
Laju Rotameter

R² = 0,98
6

0
0 2 4 6 8 10 12
Laju Terukur

Gambar 4.5 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Dingin HE-3

29
2) Laju Alir Air Panas
Tabel 4.17 Data Pengamatan Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-3
No. Laju Alir Waktu Volume Laju Alir Laju Alir Laju Alir
Rotameter (s) (mL) Terukur Aktual Massa
(LPM) (LPM) (LPM) (kg/h)
1 2 305 1,83 5,59 0,09
2 4 660 3,96 9,31 0,15
3 6 10 945 5,67 12,29 0,20
4 8 1020 6,12 13,08 0,22
5 10 1080 6,48 13,71 0,23

Laju Rotameter Vs Laju Terukur


8
7 y = 0,573x + 1,374
6 R² = 0,8845
Laju Rotameter

5
4
3
2
1
0
0 2 4 6 8 10 12
Laju Terukur

Gambar 4.6 Kurva Kalibrasi Laju Alir Air Panas HE-3

b. Pengoperasian
1) Laju Alir Air Dingin Tetap
Tabel 4.18 Data Pengamatan Laju Alir Air Dingin Tetap pada HE-3
Laju Dingin Tetap = 6 LPM
Laju Panas Waktu Konsumsi Steam
No. Tc in Tc out Th in Th out
(LPM) (menit) (kg)
3 26 32 60 42
1 4 6 26 32 61 45 2,46
9 26 32,8 52 42
3 26 32 43 38
2 6 6 26 31,8 44 36 2,02
9 26 31,8 48 38
3 26 31 44 37
3 8 6 26 31,8 41 37 2,4
9 26 31 36,5 34

30
2) Laju Alir Air Panas Tetap
Tabel 4.19 Data Pengamatan Laju Alir Panas Tetap pada HE-3
Laju Panas Tetap = 6 LPM
Laju Dingin Waktu Konsumsi Steam
No. Tc in Tc out Th in Th out
(LPM) (menit) (kg)
3 23 27 36 30
1 4 6 23 27,8 39,5 32 1,28
9 23 28 34 32
3 23 26 36 35
2 6 6 23 27 49 38 2,72
9 24 30 51 40
3 24 31 49 42
3 8 6 25 30 44 38 2,62
9 26 30 46 37
4.3.3 Pengolahan Data
Hasil dari pengolahan data adalah sebagai berikut :
1) Laju Alir Air Dingin Tetap (6 LPM)
Tabel 4.20 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-3 dengan Laju Alir Air Dingin Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Panas (kg/h) Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kW/m2°C) (kW/m2°C)
0,15 26,50 0,18 0,203 0,246 0,03
0,20 36,21 0,21 0,313 0,413 0,06
0,22 56,58 0,16 0,380 0,550 0,08
2) Laju Alir Air Panas Tetap (6 LPM)
Tabel 4.21 Hasil Pengolahan Data Operasi HE-3 dengan Laju Alir Air Panas Tetap
Laju Alir Air Metode LMTD Metode NTU
Dingin Ƞ (%) U ɛ NTU U
(kg/h) (kW/m2°C) (kW/m2°C)
0,08 47,06 0,20 0,351 0,484 0,06
0,09 56,51 0,14 0,202 0,239 0,03
0,13 49,21 0,12 0,248 0,317 0,07

31
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Pembahasan oleh M Fikri Rahmadillah (171424021)
Pada Praktikum penukar panas kali ini pada dua jenis alat penukar panas, yaitu
Shell and Tube Heat Exchanger (STHE) dan Double Pipe Heat Exchanger (DPHE) tipe
co – curret (DPHE2) dan tipe counter current (DPHE1). Dapat diperoleh faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi perpindahan panas yaitu luas permukaan perpindahan panas,
jenis fluida yang digunakan, dan tipe laju aliran yang digunakan Kedua jenis alat ini
diamati nilai konduktivitas/penyerapan panasnya dan juga nilai efisiensinya dengan
metode LMTD dan NTU.

 Double Pipe Heat Exchanger

Berdasarkan data DPHE 1 diatas nilai efisiensi yang tertinggi adalah pada laju
alir panas pada tetap bukaan valve 0,75 putaran dan laju alir dingin terendah 0.092 kg/h
Hal ini dikarenakan pada laju alir air dingin & laju alir air panas yang rendah dapat
memberikan waktu kontak yang relatif lebih lama. Waktu kontak yang lebih lama ini
pun dapat mengakibatkan panas yang terserap akan lebih banyak, sehingga efisiensi
perpindahan panas pada DPHE akan lebih tinggi. Akan tetapi yang terjadi pada variasi
laju alir air dingin tetap dan laju alir air panas berubah-ubah. Efisiensi rata-rata yang
tertinggi adalah pada kurva laju air dingin tetap 9 liter/menit dan laju alir air panas 0,115
kg/h hal ini disebabkan karena panas yang diberikan tidak stabil karena adanya
penurunan steam. Hal berbeda terlihat pada DPHE 2 dimana nilai efisiensi nya sangat
kecil bahkan bernilai nol, ini terjadi karena pada saat praktikum DPHE 2 sudah tidak
ada steam yang dialirkan pada HE sehingga perpindahan panas yang terjadi hanya
dengan sisa sisa dari steam yang ada sehingga Nilai koefisien perpindahan panas total
(U) pada DPHE 2 hanya didapatkan satu variasi nilai dan tidak dapat diketahui
pengaruh laju alirnya

Nilai koefisien perpindahan panas total (U) yang tertinggi dari data DPHE 1
diatas yaitu 24361,60 kW/m2°C (laju alir panas tetap pada bukaan 0,75 putaran). Hal
ini dikarenakan kalor yang dilepas untuk menaikkan suhu air yang lebih dingin lebih
banyak. Pada Variasi laju alir air dingin tetap dan laju alir air panas berubah-ubah U
yang tertinggi adalah 55494,43 kW/m2°C (laju alir air dingin tetap 9 liter/menit & laju

32
alir air panas 0,165 kg/h), hal ini dikarenakan pada laju alir air dingin yang lebih tinggi
memiliki efisiensi yang rendah, sehingga panas yang diserap akan lebih sedikit.

 Shell and Tube Heat Exchanger

Pada perhitungan NTU nilai efisiensi maksimum ketika laju alir massanya
tinggi pada kedua jenis penukar panas. Pada STHE nilai efisiensinya lebih tinggi
dibandingkan dengan DPHE, hal ini dikarenakan terdapat buffle yang membuat aliran
fluida bersifat turbulen dan menambah waktu tinggal sehingga panas yang diterima
lebih tinggi Hal ini bergantung pula pada kondisi suhu masuk dan keluaran heat
exchanger.

Konstanta perpindahan panas total (U) rata-rata tertinggi adalah 761,62


kW/m2°C pada laju alir dingin tetap dengan laju alir panas 0,102 kg/h kurva 4.17 (pada
laju alir air panas tertinggi). Dan pada variasi laju alir panas tetap diperoleh nilai U
tertinggi sebesar 715,86 kW/m2°C pada laju alir dingin 0,027 kg/h Menurut teori pada
STHE 1-2 semakin besar laju alir fluida panas, maka nilai LMTD mengalami
peningkatan. Nilai LMTD memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap efisiensi.

33
5.2 Pembahasan oleh M Helldy Rivaldy (171424022)

Praktikum kali ini dilakukan percobaan perpindahan panas antara fluida air
dingin dan fluida air panas dengan menggunakan alat Heat Exchanger. Terdapat dua
jenis HE yang digunakan yaitu Double Pipe Heat Exchanger dan Shell and Tube Heat
Exchanger. Kemudian dilakukan evaluasi kinerja alat penukar panas dengan
mengkalkulasi koefisien perpindahan panas overall serta menghitung efisiensi setiap
jenis alat Penukar Panas.

Prinsip alat penukar panas ini yaitu terjadi nya perpindahan panas secara
konduksi antara permukaan logam pipa aliran fluida panas dan aliran fluida dingin.
Sehingga terjadi perpindahan panas, perpindahan energi antara fluida panas dan fluida
dingin. Berdasarkan hukum fourier, koefisien perpindahan panas diinterpretasikan
secara overall atau keseluruhan. Karena terdapat perbedaan suhu antara fluida panas
dan fluida dingin maka terjadilah Driving Force sehingga energi bertukar, panas
bertukar antara fluida dingin dan fluida panas.

Untuk penukar panas jenis DPHE. Terdiri dari dua buah pipa dengan diameter
yang lebih kecil disimpan di dalam pipa yang diameter nya lebih besar, fluida panas
dialirkan di dalam pipa yang berukuran kecil, karena fluida panas yang dialirkan di
dalam pipa yang kecil, panas yang keluar akibat konveksi, panas tidak akan terbuang
ke lingkungan melainkan menuju pipa besar yang di dalam nya terdapat fluida dingin.
Pemilihan bahan atau fluida harus diperhatikan, untuk jenis DPHE itu sendiri tidak
boleh menempatkan fluida yang Viskos, karena akan menyumbat saluran pipa dan akan
merusak struktur dalam pipa.

Untuk penukar panas jenis STHE. Terdiri dari Shell dan Tube. Bagian cangkang
ditempatkan di luar menyelimuti atau menutup bagian Tub atau pipa. Seperti prinsip
pada DPHE . Aliran fluida panas dialirkan didalam tube, sehingga proses perpindahan
panas terjadi secara optimal. Di dalam STHE ini terdapat Baffle atau sekat guna
mengefektifkan perpindahan panas antara fluida dingin dan fluida panas.

Evaluasi kinerja alat penukar panas ini dapat dilihat dari nilai keefektifan atau
efektivitas dari alat penukar panas. Nilai efisiensi perpindahan panas berdasarkan hasil
pengolahan data yang didapatkan memiliki nilai yang fluktuatif. Sementara itu terdapat
pula efisiensi yang tidak bisa ditentukan, karena pada saat praktikum tidak ada

34
perbedaan antara suhu masuk dan suhu keluar baik fluida dingin maupun fluida panas.
Hal ini karena praktikum dilakukan pada saat terakhir, kemungkinan steam yang
dipasok dari ruang Boiler sudah sedikit atau bahkan tidak ada. Nilai efisiensi terbesar
ada pada alat penukar panas jenis STHE. Seperti yang dipaparkan sebelumnya di dalam
STHE terdapat Baffle sehinga mengefektifkan perpindahan panas, sedangkan pada
DPHE tidak terdapat sekat atau Baffle.

Saran untuk praktikum kali ini, untuk instrumentasi alat ukur sebaiknya
menggunakan yang Digital, sehingga mengakuratkan hasil pengamatan pada saat
praktikum.

35
BAB VI
SIMPULAN
6.1 Simpulan

1. STHE lebih efektif dibandingkan dengan DPHE mengingat bahwa adanya


komponen Baffle di dalam STHE.
2. Dengan menggunakan aliran counter-current baik pada DPHE maupun STHE
dapat meningkatkan efisiensi perpindahan panas.
3. Laju alir fluida panas berbanding terbalik dengan nilai perpindahan panas (U).
Sedangkan laju alir fluida dingin berbanding lurus dengan nilai perpindahan
panas

36
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Double Pipe Heat Exchanger. https://www.scribd.com/doc/314600136/Double-Pipe-


Heat-Exchanger
Bizzy, I. Setiadi, R. 2013. Studi Perhitungan Alat Penukar Kalor Tipe Shell and Tube Dengan
Programheat Transfer Research INC.( HTRI ). Palembang: Universitas Sriwijaya
Geankoplis, Christie J. 1978. Transport Procss and Unit Operations 3rd ed. London: Prentice-Hall
International Inc
Incopera, Frank P and de Witt. 1990. Fundamentals of Heat Mass Transfer. Michigan
University-Wiley.
Tim Dosen Teknik Kimia. 2017. Petunjuk Praktikum Pilot Plant.Bandung:Politeknik Negeri Bandung
Mc Cabe. W L Smith. JC, Harriot P. Unit operation of Chemical Engineering 6th ed. Mc
Graw-Hill. New York. 1985. Chapter 11, 12, 15

37
LAMPIRAN
Perhitungan

1. Penukar Panas Double Pipe (Heat Exchanger-1)


Cp = 4,18 kJ/kg.K A = 0,1583 m2

- Laju alir air dingin tetap


Metode LMTD

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


31 28,5 29,73 25,20 2,75 10,90 5,35
33,5 31 32,23 27,00 3,05 11,30 5,29
35 29 31,91 36,00 2,44 6,78 7,13
21 21,5 21,25 16,71 2,14 12,78 4,97
12,5 18 15,08 11,14 2,14 19,17 4,67
15 15,5 15,25 11,14 1,53 13,69 4,62
9,5 9 9,25 18,35 1,22 6,65 12,54
7 5,5 6,22 14,68 0,31 2,08 14,91
6 4 4,93 14,68 0 0 18,80

Metode NTU

Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U


3,600 0,610 0,170 21,67 0,127 0,137 0,53
3,600 0,610 0,170 23,50 0,130 0,141 0,54
3,600 0,610 0,170 23,80 0,103 0,109 0,42
5,571 0,610 0,110 14,95 0,143 0,155 0,60
5,571 0,610 0,110 9,76 0,219 0,250 0,96
5,571 0,610 0,110 10,68 0,143 0,155 0,60
7,340 0,610 0,083 7,02 0,174 0,192 0,74
7,340 0,610 0,083 4,58 0,067 0,069 0,27
7,340 0,610 0,083 3,66 0 0 0

38
- Laju alir air panas tetap
Metode LMTD

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


10 10 0,00 9,00 1,08 11,98 0,00
8,5 9,5 8,99 5,40 1,08 19,97 3,79
7,5 8,5 7,99 3,60 0,86 23,96 2,85
7,5 7 7,25 10,80 1,53 14,13 9,41
9,5 10 9,75 9,00 1,83 20,34 5,83
14 13 13,49 10,80 1,22 11,30 5,06
19 17 17,98 14,40 1,79 12,44 5,06
21 18,5 19,72 16,20 1,79 11,06 5,19
23 20 21,47 18,00 1,79 9,95 5,30

Metode NTU

Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U


3,600 0,431 0,120 5,39 0,200 0,226 0,62
3,600 0,431 0,120 4,74 0,227 0,262 0,71
3,600 0,431 0,120 4,10 0,211 0,240 0,65
3,600 0,610 0,170 6,10 0,250 0,294 1,13
3,600 0,610 0,170 7,63 0,240 0,280 1,08
3,600 0,610 0,170 9,76 0,125 0,135 0,52
3,600 0,896 0,249 18,81 0,095 0,101 0,57
3,600 0,896 0,249 20,60 0,087 0,092 0,52
3,600 0,896 0,249 22,40 0,080 0,084 0,48

39
2. Penukar Panas Double Pipe (Heat Exchanger-2)
Cp = 4,18 kJ/kg.K A = 0,1936 m2

- Laju alir air dingin tetap


Metode LMTD

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


4,5 1,5 2,73 19,40 2,59 13,36 36,70
4,5 1,5 2,73 19,40 2,59 13,36 36,70
4 5 4,48 25,87 0,58 2,23 29,82
0 0 ~ 0 0 0
0 0 ~ 0 0 0
0 0 ~ 0 0 0
0 0 ~ 0 0 0
0 0 ~ 0 0 0
0 0 ~ 0 0 0

Metode NTU

Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U


12,93 0,58 0,045 11,66 0,222 0,199 0,59
12,93 0,58 0,045 11,66 0,222 0,199 0,59
12,93 0,58 0,045 2,30 0,250 0,234 0,70
26,17 0,58 0,022 0 ~ 0
26,17 0,58 0,022 0 ~ 0 0
26,17 0,58 0,022 0 ~ 0 0
26,78 0,58 0,022 0 ~ 0 0
26,78 0,58 0,022 0 ~ 0 0
26,78 0,58 0,022 0 ~ 0 0

40
- Laju alir air panas tetap
Metode LMTD

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


10 10 ~ 26,17 0,39 1,49 0
8 8 ~ 26,17 0,39 1,49 0
6 7 6,49 26,17 0 0 20,84
6 6 ~ 26,17 0,58 2,20 0,00
6 5,5 5,75 13,08 0,58 4,40 11,76
8 5,5 6,67 39,25 0,58 1,47 30,39
4,5 5 4,75 39,25 0,81 2,07 42,72
4,5 5 4,75 39,25 0,81 2,07 42,72
6 5,5 5,75 0 0,41 ~ 0

- Metode NTU

Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U


26,17 0,39 0,015 3,89 0,100 0,089 0,18
26,17 0,39 0,015 3,11 0,125 0,117 0,23
26,17 0,39 0,015 0,00 0,000 -0,015 -0,03
26,17 0,58 0,022 3,46 0,167 0,157 0,47
26,17 0,58 0,022 3,46 0,167 0,157 0,47
26,17 0,58 0,022 4,61 0,125 0,109 0,33
26,17 0,81 0,031 3,66 0,222 0,214 0,90
26,17 0,81 0,031 3,66 0,222 0,214 0,90
26,17 0,81 0,031 2,44 0,167 0,147 0,62

41
3. Penukar Panas Shell & Tube
Cp = 4,18 kJ/kg.K A = 2,67017 m2

- Laju alir air dingin tetap


Metode LMTD

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


28 16 21,44 11,66 2,23 19,09 0,21
29 19 23,65 10,36 2,23 21,48 0,17
19,2 16 17,55 6,48 2,52 38,94 0,14
11 12 11,49 4,28 2,23 52,04 0,15
12,2 10 11,06 6,84 2,15 31,44 0,25
16,2 12 14,00 8,55 2,15 25,15 0,24
13 11 11,97 6,37 1,85 29,12 0,21
9,2 11 10,07 3,64 2,15 59,11 0,14
5,5 8 6,67 2,28 1,85 81,53 0,13

Metode NTU

Thi-Tho Tco-Tci Z Tco-Tci Thi-Tci Y FT ΔTlm


18 6 3,00 6 34 0,18 0,959 20,562
16 6 2,67 6 35 0,17 0,970 22,949
10 6,8 1,47 6,8 26 0,26 0,962 16,884
5 6 0,83 6 17 0,35 0,961 11,043
8 5,8 1,38 5,8 18 0,32 0,933 10,323
10 5,8 1,72 5,8 22 0,26 0,948 13,272
7 5 1,40 5 18 0,28 0,958 11,467
4 5,8 0,69 5,8 15 0,39 0,961 9,676
2,5 5 0,50 5 10,5 0,48 0,951 6,345

42
Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U
0,648 0,371 0,573 12,61 0,176 0,206 0,03
0,648 0,371 0,573 12,98 0,171 0,199 0,03
0,648 0,371 0,573 9,64 0,262 0,333 0,05
0,855 0,371 0,434 6,31 0,353 0,483 0,07
0,855 0,371 0,434 6,68 0,322 0,427 0,06
0,855 0,371 0,434 8,16 0,264 0,329 0,05
0,910 0,371 0,408 6,68 0,278 0,349 0,05
0,910 0,371 0,408 5,56 0,387 0,547 0,08
0,910 0,371 0,408 3,90 0,476 0,756 0,10

- Laju alir air panas tetap

ΔT1 ΔT2 ΔTLMTD Qhot Qcold η U


9 7 7,96 5,13 1,27 24,73 0,26
11,7 9 10,29 6,42 1,52 23,74 0,25
6 9 7,40 1,71 1,59 92,72 0,09
10 12 10,97 0,86 1,11 130,10 0,03
22 15 18,28 9,41 1,48 15,77 0,20
21 16 18,39 9,41 2,23 23,65 0,20
18 18 ~ 5,99 3,88 64,82 0,00
14 13 13,49 5,13 2,77 54,01 0,15
16 11 13,34 7,70 2,22 28,81 0,22

43
- Metode LMTD

Thi-Tho Tco-Tci Z Tco-Tci Thi-Tci Y FT ΔTlm


6 4 1,50 4 13 0,31 0,933 7,426
7,5 4,8 1,56 4,8 16,5 0,29 0,940 9,677
2 5 0,40 5 11 0,45 0,969 7,166
1 3 0,33 3 13 0,23 0,996 10,924
11 4 2,75 4 26 0,15 0,978 17,866
11 6 1,83 6 27 0,22 0,966 17,769
7 7 1,00 7 25 0,28 0,980 ~
6 5 1,20 5 19 0,26 0,972 13,115
9 4 2,25 4 20 0,20 0,965 12,879

Cmax Cmin c Qmax ɛ NTU U


0,855 0,317 0,371 4,12 0,308 0,396 0,05
0,855 0,317 0,371 5,23 0,291 0,368 0,04
0,855 0,317 0,371 3,49 0,455 0,690 0,08
0,855 0,371 0,434 4,82 0,231 0,279 0,04
0,855 0,371 0,434 9,64 0,154 0,173 0,02
0,855 0,371 0,434 10,02 0,222 0,266 0,04
0,855 0,554 0,648 13,86 0,280 0,370 0,08
0,855 0,554 0,648 10,53 0,263 0,341 0,07
0,855 0,554 0,648 11,09 0,200 0,241 0,05

44