BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perlindungan katodik adalah salah satu metoda untuk mencegah atau
mengurangi korosi pada suatu logam baja yang ada pada elektrolit dengan cara
memberi arus listrik searah melalui anoda ke struktur yang akan diproteksi, atau
menghubungkan dengan logam yang sifatnya lebih anodik untuk membuat
menjadi katodik. Sistem proteksi katodik ini biasanya digunakan untuk
melindungi baja, jalur pipa, tangki, tiang pancang, kapal, anjungan lepas pantai
dan selubung sumur minyak di darat. Dalam perancangan yang tepat, laju oksidasi
pada logam yang dilindungi dapat ditekan sehingga laju oksidasi tersebut dapat
diabaikan. Jika hal itu terjadi maka dapat dikatakan proteksi katodik telah efektif.
Efek samping dari penggunaan yang tidak tepat adalah timbulnya molekul
hidrogen yang dapat terserap ke dalam logam sehingga menyebabkan hydrogen
embrittlement (kegetasan hydrogen).
Proteksi katodik adalah cara yang efektif dalam mencegah stress corrosion
cracking (retak karena korosi). Proteksi katodik tercapai dengan menyuplai
elektron ke struktur logam yang dilindungi. Jika arus mengalir dari kutub positif
(+) ke negatif (-), maka struktur terlindungi. Jika arus memasuki struktur atau
logam melalui elektrolit, maka struktur tidak terlindungi. Proteksi katodik tidak
dapat bekerja pada struktur yang terekspos di lingkungan udara bebas (atmosfer)
karena udara merupakan elektrolit lemah yang menghambat terjadinya aliran arus
dari anoda ke katoda. Efektifitas proteksi katodik memungkinkan baja karbon
untuk digunakan dalam lingkungan yang sangat korosif seperti air laut atau tanah
dengan tingkat keasaman yang tinggi.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Proteksi Katodik
Proteksi katodik (cathodic protection) adalah teknik yang digunakan untuk
mencegah atau mengurangi korosi pada permukaan logam dengan menjadikan
permukaan logam tersebut sebagai katoda dari sel elektrokimia. Sistem
perlindungan katodik ini banyak digunakan hampir pada semua struktur yang
tercelup di laut maupun terpendam dalam tanah, hal ini dilakukan sebagai
penunjang sistem proteksi yang lain, misalnya: cat, lapis lindung organik dan
plastik.
Sistem proteksi katodik ini dapat dibagi dalam dua macam metode, yaitu:
1. Anoda korban (sacrificial anode)
Metode ini tidak menggunakan sumber arus dan hanya memakai anoda
yang akan dikorbankan. Dalam mendesain perlindungan katoda, yang pertama
kali dianalisa adalah komposisi material anoda yang akan dikorbankan. Anoda ini
haruslah lebih bersifat korosif daripada katoda. Kalau sifat material anoda sama
korosif atau tidak lebih korosif daripada katoda yang akan dilindungi, maka tujuan
proteksi katoda tidak tercapai. Komposisi anoda terkait erat dengan lokasi
penempatannya. Anoda yang akan ditempatkan di pinggir pantai atau di laut akan
berbeda dengan anoda yang akan ditempatkan di tanah pada ketinggian tertentu.
Derajat oksidasi untuk tiap tempat berbeda satu sama lain, sehingga kecepatan
penggerusan katoda pun akan berlainan.
2. Metode arus tanding (impressed current)
Impressed current sangat diperlukan untuk perlindungan yang menyeluruh.
Sistem impressed current menggunakan anoda yang dihubungkan dengan sumber
arus searah (DC) yang dinamakan cathodic protection rectifier. Anoda untuk
sistem impressed current dapat berbentuk batangan tubular atau pita panjang dari
berbagai material khusus. Material ini dapat berupa high silikon cast iron, grafit,
campuran logam oksida, platina dan niobium serta material lainnya.
2
2.2. Prinsip Dasar Sistem Proteksi Katodik
Korosi pada dasarnya merupakan sifat alamiah dari logam untuk kembali
ke bentuk semula. Dengan demikian sebenarnya korosi tidak dapat dihilangkan
sama sekali. Akan tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
proses korosi dapat dikendalikan sampai pada titik minimum yang dilakukan
berdasarkan proses terjadinya. Salah satu metode pengendalian korosi adalah
proteksi katodik.
Proteksi katodik untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Sir Humphrey
Davy pada tahun 1820-an sebagai sarana kontrol korosi utama pada alat
pengiriman naval di Inggris. Pada dasarnya proteksi katodik merupakan kontrol
korosi secara elektrokimia dimana reaksi oksida pada sel galvanis dipusatkan di
daerah anoda dan menekan proses korosi pada daerah katoda dalam sel yang
sama. Dengan demikian, teknologi ini sebenarnya merupakan gabungan yang
terbentuk dari unsur-unsur elektrokimia, listrik dan pengetahuan tentang bahan.
Unsur elektrokimia mencakup dasar-dasar proses terjadinya reaksi korosi,
sedangkan unsur kelistrikan mencakup konsep dasar perilaku obyek yang
diproteksi dan lingkungannya jika arus listrik dialirkan.
Gambar 1. Konsep tentang proses korosi dan sistem proteksi katodik
3
Pada gambar 1 (a), menunjukan ada dua buah logam besi dan zinc yang
terpisah dan dicelupkan ke dalam suatu elektrolit. Kedua logam tersebut akan
terkorosi dan kedua reaksi korosi (oksidasi) diseimbangkan dengan reaksi reduksi
yang sama, dimana pada kedua kasus tersebut terjadi pembebasan gas hydrogen.
Pada gambar 1 (b), kedua logam tersebut dihubungkan satu sama lain
secara elektris, disini reaksi korosi dipusatkan pada elektroda zinc (anode) dan
hampir semua reaksi reduksi dipusatkan pada elektroda besi (katoda).
Reaksi anoda zinc pada rangkaian gambar 1 (b) akan lebih cepat dari pada
rangkaian (a). Pada waktu yang bersamaan, korosi pada besi akan berhenti.
Dengan kata lain anoda zinc telah dikorbankan untuk memproteksi besi. Pada
aplikasi dilapangan, struktur yang dilindungi akan diusahakan menjadi lebih
katoda dibandingkan dengan bahan lain yang dikorbankan untuk terkorosi. Proses
ini dilakukan dengan cara mengalirkan arus searah dari sumber lain melalui
elektrolit ke permukaan pipa dan menghindari adanya arus yang meninggalkan
pipa. Jika jumlah arus yang dialirkan diatur dengan baik, maka akan mencegah
mengalirnya arus korosi yang keluar dari daerah anoda dipermukaan pipa dan arus
akan mengalir dalam pipa pada daerah tersebut. Sehingga permukaan pipa
4
tersebut akan menjadi bersifat katodik, dengan demikian maka proteksi menjadi
lengkap.
Gambar 2. Prinsip kerja proteksi katodik
5
Pada gambar tersebut tampak bahwa arus mengalir ke pipa pada daerah
dimana sebelumnya sebagai anoda. Driving voltage sistem proteksi katodik harus
lebih besar dari pada driving voltage sel korosi yang sedang berlangsung. Supaya
sistem proteksi katodik bekerja, harus ada arus yang mengalir dari groundbed.
Selama terjadinya aliran arus ketanah, maka material groundbed akan menjadi
subjek korosi. Oleh karena kegunaan groundbed untuk mengeluarkan arus, maka
sebaiknya menggunakan bahan yang laju konsumsinya lebih rendah dari pada
pipanya itu sendiri. Atau secara termodinamika, potensial pipa atau struktur yang
diproteksi dibuat menjadi imun yaitu pada -850 mV.
2.3. Sistem Proteksi Katodik
Berdasarkan sumber arus searah yang digunakan, sistem proteksi katodik
dapat dibedakan dalam dua jenis. Pertama adalah dengan anoda korban (sacrificial
anode), kedua adalah sistem arus tandingan (impressed current). Persamaan dari
kedua sistem tersebut adalah sebagai berikut:
a. Anoda dan struktur yang diproteksi harus berada dalam elektrolit yang
menyatu.
b. Diperlukan rangkaian listrik tertutup (lengkap), dimana arus proteksi mengalir
dari anoda, melalui elektrolit ke katoda, dan balik lagi ke anoda melalui
logam konduktor.
2.4. Penerapan Sistem Proteksi Katodik
2.4.1. Penerapan Praktis Proteksi Katodik dengan Anoda Korban
Metode anoda tumbal paling tepat untuk penerapan-penerapan skala kecil,
walaupun telah digunakan secara luas, pada struktur- struktur berukuran besar.
Meskipun demikian, untuk itu anoda-anoda harus sering diganti dan kalau yang
dibutuhkan banyak sekali, struktur harus diberi tegangan ekstra.
Penggunaan anoda tumbal untuk melindungi lambung kapal kini kurang
popular dibanding metode arus terpasang tetapi masih dijumpai pada kapal-kapal
kecil, Karena untuk kasus ini metode arus terpasang tidak ekonomis. Seng
merupakan bahan anoda yang paling umum, dan orang lebih suka
6
menggabungkannya dengan pelapisan cat. Anoda-anoda itu dilaskan atau
dibautkan ke dinding lambung kapal; serigkali dalam susunan yang cukup rapat
pada bagian buritan, karena bagian itulah yang paling membutuhkan
perlindungan. Disini, olakan hebat yang disebabkan oleh putaran baling-baling
cenderung merusak lapisan pelindung, dan selanjutnya dinding segera mengalami
korosi benturan (impingement corrosion).
Korosi peronggaan (cavitation corrosion) juga biasa dialami oleh bagian
ini. Di samping itu, komponen yang dipasang pada bagian buritan, seperti baling-
baling, misalnya sering dibuat dari paduan bukan besi (umumnya paduan
tembaga) dan ini biasa menjadi katoda yang begitu aktifnya sehingga selain
dengan pengecatan bagian buritan juga perlu dilindungi dengan cara katodik.
Anoda mungkin juga dipasang pada bagian lunas kapal, serta dalam sistem mesin,
yakni pada bagian- bagian yang menerima masukan air laut.
Untuk proteksi struktur lepas pantai cara penerapannya direncanakan
melalui tahap-tahap umum sebagai berikut:
a. Luas permukaan struktur logam (dalam hal ini baja) yang tersingkap dalam
air laut atau dalam lumpur dihitung, kemudian arus proteksi yang
diperlukan diperkirakan.
Tabel 1. Perkiraan Arus Proteksi yang Diperlukan
Arus Proteksi yang Diperlukan
Lokasi dan Kondisi Logam
(mA/m2)
1. Daerah Pasang
Baja telanjang 60-100
Baja dengan lapis lindung 20-50
2. Daerah terendam air laut
Baja telanjang 100-150
Baja dengan lapis lindung 40-80
3. Daerah Lumpur
Baja telanjang 15-25
Baja dengan lapis lindung 5-10
b. Jumlah berat anoda yang diperlukan untuk memberikan arus proteksi
selama jangka waktu perlindungan yang direncanakan dihitung atas dasar
kapasitas ampere-jam per kilogram anoda.
7
Tabel 2. Kapasitas Anoda Korban
Jenis Potensial Rangkaian Terbuka terhadap Kapasitas Arus
Anoda Ag/AgCl Volt A.H/Kg
Al -1,1 2700
Zn -1,05 780
Mg -1,5 1230
c. Distribusi dari berat anoda ditetapkan atas dasar perhitungan atau
pengalaman, yang akan menghasilkan jumlah dan ukuran anoda yang
diperlukan.
d. Penilaian akhir dilakukan untuk kemungkinan mengadakan perubahan
angka-angka yang diperoleh yaitu menyangkut perkiraan arus proteksi
yang diperlukan oleh struktur selama jangka waktu perlindungan yang
ditetapkan. Kemampuan anoda memberikan arus, makin lama makin
berkurang karena semakin habis. Setelah anoda-anoda terpasang, tentu saja
perlu dilakukan pemeriksaan apakah diperoleh perlindungan sempurna
seperti yang direncanakan.
2.4.2. Penerapan Praktis Proteksi Katodik dengan Arus Terpasang
Di penghujung tahun 1920-an, pipa-pipa condenser di sebuah pembangkit
listrik di Inggris diketahui mengalami korosi sumuran. Untuk menanggulangi hal
tersebut, para ahli memutuskan menerapkan proteksi katodik arus searah dengan
besi tuang sebagai anoda.
Percobaan yang dilakukan terhadap sebuah kapal perang Angkatan Laut
Inggris, HMS Blackwood, ternyata justru menimbulkan efek yang sangat
memalukan. Ketika itu ada dua sistem yang diterapkan, masing-masing untuk
melindungi salah satu sisi kapal. Sialnya, pada waktu pemasangan,
penyambungan kabel ke salah satu sistem terbalik. Akibatnya sisi kapal yang
seharusnya terhindar dari korosi malahan larut dengan cepat, sementara anoda
yang terbuat dari besi tua sendiri terlindung. Kesalahan ini baru disadari ketika
kapal mulai mengalami kebocoran yang serius.
8
Untuk menerapkan sistem arus tandingan memerlukan perencanaan yang
pada dasarnya tidak berbeda dengan anoda korban langkah-langkah utamanya
adalah sebagai berikut:
a. Luas permukaan yang akan diproteksi dihitung dan keperluan arus
proteksi diperkirakan.
b. Pemilihan bahan anoda yang akan digunakan, jumlah anoda dan
distribusinya pada struktur yang akan dilindungi, serta rapat arus yang
diperkenankan merupakan hal-hal yang saling berkaitan untuk
pengambilan keputusan. Perkembangan terakhir ini menunjukkan bahwa
untuk proteksi katodik struktur lepas pantai banyak digunakan anoda jenis
bahan yang dilapisi platina, atau mungkin juga paduan timbal.
c. Setelah ditentukan jenis anoda dan lokasi pemasangan, kemudian
dilakukan pemilihan sumber tenaga dan kabel antara sumber tenaga
struktur anoda.
Proses perencanaan proteksi katodik dengan arus tandingan lebih sukar,
sehingga banyak keputusan pada umumnya diambil atas dasar intuisi dan
pengalaman. Misalnya mengenai anoda, kita dapat mempertimbangkan beberapa
alternatif sebagai berikut:
a. Penggunaan sedikit anoda dengan kapasitas arus besar. Biaya rendah,
distribusi arus jelek, ada over proteksi lokal.
b. Banyak anoda dengan kapasitas arus rendah. Distribusi arus baik, mahal,
lebih kompleks, terutama mengenai perkabelan.
c. Variasi (a) dan (b) tetapi dengan anoda yang mudah dilakukan
penggantian. Pemeliharaan mudah, lebih kompleks, lebih mahal.
d. Sedikit atau hanya satu sistem anoda dengan kapasitas arus sangat tinggi
dipasang jauh (remote) dari struktur.
Sumber tenaga pada umumnya adalah transformer rectifier yang fungsinya
menyediakan arus searah dengan tegangan rendah. Besarnya arus ditentukan oleh
keperluan arus seperti diperhitungkan, sedang tegangan ditentukan oleh tahanan
anoda ke air laut ditambah tahanan dari semua kabel yang dilewati arus, ditambah
lagi tegangan yang ada antara anoda dan katoda yang melawan aliran arus listrik.
9
Transformer-rectifier dapat diatur kerjanya dengan tangan (manual) atau
secara otomatis untuk menjaga agar potensial proteksi selalu dicapai yang
dikendalikan secara otomatis atau potensiostatis, digunakan elektroda pembanding
yang dipasang secara tetap, dimana potensial baja/air laut diukur secara terus-
menerus dan pengendali otomatis selalu menjaga harga potensial tetap seperti
yang telah diatur.
2.5. Perbandingan antara Sistem Anoda Korban dengan Sistem Arus
Tandingan
Berikut beberapa keuntungan dan keterbatasan dari kedua sistem proteksi
katodik:
1. Sistem Anoda Korban
a. Perlengkapan dan material tidak mudah rusak.
b. Dapat memberikan perlindungan secara menyeluruh, karena dapat
membagi arus keseluruh struktur.
c. Umur dari sistem dapat ditentukan dengan perhitungan yang teliti.
d. Kecil kemungkinan terjadinya overproteksi dan perapuhan hidrogen.
e. Keluaran arus anoda mengatur sendiri.
2. Sistem Arus Tanding
a. Keperluan arus dapat disediakan menurut kebutuhan.
b. Perlengkapan total tidak berat.
c. Penggantian anoda, kabel dan perlengkapan lain dalam air sukar, kecuali
digunakan peralatan khusus.
d. Peralatan dapat rusak oleh kondisi lingkungan, sehingga umur guna
menjadi terbatas.
e. Peralatan biasanya baru ada setelah struktur dipasang, sehingga diperlukan
tambahan usaha proteksi sampai dengan pemasangan sistem. Tahun
pertama sangat kritis bila korosi lelah telah merupakan ancaman.
BAB III
APLIKASI
10
3.1. Peningkatan Efektivitas Proteksi Katodik Struktur Beton Bertulang
di Daerah Pantai
Beton bertulang merupakan suatu konstruksi baja dalam beton. Agar beton
bertulang kualitas rendah di daerah rawan korosi memiliki umur pemakaian yang
lebih lama, maka perlu dilakukan suatu cara perlindungan korosi pada
tulangannya. Proteksi katodik merupakan salah satu teknik terbaik yang diketahui
dan paling sering digunakan dalam perlindungan korosi baja pada beton
bertulang. Namun, selama ini masih terdapat beberapa masalah dalam penerapan
proteksi katodik pada struktur bangunan beton bertulang, terutama pada beton
berkualitas rendah di lingkungan rawan korosi. Untuk mengatasi berbagai
masalah yang telah ditemui, maka dilakukan penelitian sebagai upaya dalam
peningkatan efektifitas proteksi katodik.
3.2. Pembuatan Anoda Karbon untuk Proteksi Katodik Berbasis
Alumunium
Pada penelitian ini akan dilakukan pembuatan anoda Al dengan komposisi
tertentu yang bervariasi guna mendapatkan anoda yang memproteksi struktur baja.
Anoda aluminium banyak digunakan sebagai anoda korban di laut. Metoda
penelitian yang dilakukan adalah dengan mempelajari teknik melting ( pencairan )
dan teknik alloying ( pemaduan ) dalam pembuatan anoda Al serta diikuti dengan
serangkaian pengujian metalografi, fisik dan efisiensi arus terhadap variasi
komposisi yang dibuat. Dari pengujian yang dilakukan hasil yang terbaik
diperlihatkan oleh anoda no. 2 untuk paduan Al-Zn-In dimana efisiensinya
sebesar 80.1 %, Kapasitas arus sebesar 2386 A.J/Kg dan Laju konsumsi 4.012
Kg/A.th sedangkan untuk paduan Al-Zn-Sn ditujukan oleh anoda no. 5 dengan
efesiensi arus sebesar 72 %, kapasitas arus sebesar 2155 Ah/Kg dan laju
konsumsi sebesar 4.839 Kg/A.th.
11