Anda di halaman 1dari 28

2.1.

1 Sistem Penaganan Batubara


PLTU batubara adalah suatu pembangkit listrik yang menggunakan batubara sebagai bahan
bakar utamanya. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem yang mengatur keperluan pasokan
batubara sebagai bahan bakar utama PLTU. Sistem penanganan batubara (coal handling system)
merupakan sekumpulan peralatan yang saling berinteraksi satu sama lain untuk menangani suplai
batubara mulai dari pembongkaran batubara sampai ke area penimbunan/penyimpanan ataupun
langsung pengisian ke bunker yang selanjutnya digunakan untuk pembakaran di boiler.
Batubara disuplai menuju PLTU Bolok melalui jalur laut dibawa dengan menggunakan kapal
tongkang yang berlabuh di pelabuhan bongkar muat yang disebut dengan jetty. Batubara
kemudian dipindahkan dengan bantuan conveyor ke area penyimpanan, yang disebut coal yard.
Namun, sebelum itu batubara harus melalui primary crusher building untuk pengolahan awal.
Batubara yang telah ditampung di coal yard, kemudian disuplai menuju coal bunker yang
kemudian akan dimasukkan ke dalam ruang bakar sebagai bahan bakar boiler. Perpindahan
batubara tersebut juga dilakukan dengan menggunakan conveyor. Batubara dari tempat
penampungan, sebelum digunakan sebagai bahan bakar boiler harus melalui proses pengolahan
terlebih dahulu pada crushing building.
A. Jetty
Batubara disuplai menuju PLTU Bolok melalui jalur laut dibawa dengan menggunakan kapal
tongkang dan berlabuh di pelabuhan bongkar muat yang disebut dengan jetty. Pada area jetty
terdapat dua buah perangkat crane yang digunakan pada saat aktivitas bongkar muat batubara
dari kapal tongkang pengangkut batubara. Crane tersebut pada ujungnya delengkapi dengan
sebuah bucket yang berfungsi untuk mengambil batubara dari atas tongkang untuk kemudian
dijatuhkan pada hopper. Hopper ini berfungsi agar batubara yang dijatuhkan dari bucket jatuh
secara merata pada conveyor.

Gambar 2.1 Jetty

Gambar 2.2 Crane coal unloader

Gambar 2.3 Bucket coal unloader

Gambar 2.4 Jetty coal hopper

Gambar 2.5 Conveyor 1


Pada PLTU Bolok, kapasitas unloading batubara didesain 150 t/h dengan dua buah ship
unloader yang berjenis fixing grap bucket dengan outputnya 150 t/h. Penyalurkan batubara dari
jetty digunakan conveyor (conveyor 1). Conveyor 1 mengirim batubara menuju primary coal
crushing building. Conveyor ini memiliki lebar belt 800 mm dengan kecepatan 1,6 m/s dengan
kapasitas debit 200t/h.
B. Primary Crushing Building
Batubara dari pelabuhan bongkar muat yang akan dipindahkan menuju tempat penampungan
batubara terlebih dahulu harus melewati primary crusher building. Batubara yang dibawa oleh
conveyor 1 pada primary crusher building akan dipisahkan kandungan metal/logamnya.
Pemisahan tersebut dilakukan dengan alat magnetic separator. Magnetic separator bekerja
berdasarkan induksi elektromagnetik, logam besi yang terbawa pada aliran batubara akan ditarik
olehmedan elektromagnetik lalu menempel pada conveyor magnetic separator yang berputar dan
akan jatuh pada sisi penampungan.
Dari primary coal crushing building batubara dipindahkan menuju coal yard (open coal
yard) menggunakan conveyor (conveyor 2) dengan spesifikasi yang sama untuk kemudian
disimpan sebagai persediaan bahan bakar boiler. Namun sebelum itu, batu bara yang dibawa oleh
conveyor 2 melewati proses sampling pada area sampling building. Sampling building digunakan
untuk mengambil sampel batubara sebelum batubara disimpan pada area coal yard. Pengambilan
sampel ini dilakukan oleh pihak laborat untuk mengetahui karakteristik batubara yang akan

digunakan sebagai bahan bakar boiler, diantaranya nilai kalor bahan bakar, maupun kandungan
moisture/kelembabannya.

Gambar 2.6 Primary crusher building

Gambar 2.7 Magnetic separator pada primary crusher building

Gambar 2.8 Coal sampling pada sampling building

Gambar 2.9 Conveyor 2


C. Coal Yard
Coal yard merupakan area penimbunan/penampungan persediaan batubara untuk stok bahan
bakar boiler. Terdapat dua macam fasilitas penyimpanan batu bara di PLTU Bolok, yakni open
coal yard dan dry coal yard (dry coal shed).
Pada open coal yard, pemindahan dan penumpukkan batubara dilakukan dengan bantuan alat
berat (loader/excavator). PLTU Bolok mempunyai open coal yang digunakan untuk
penyimpanan batu bara dengan luas area sebesar 17.875 m 2. Open coal yard mampu menampung
sekitar 45.000 ton batubara untuk memenuhi kebutuhan operasi boiler selama 74,13 hari. Batu
bara dari open coal yard harus di disuplai ke dry coal yard/shed untuk memenuhi kebutuhan
batubara pada musim hujan.

Gambar 2.10 Open coal yard


Dry coal yard di PLTU Bolok merupakan suatu area penyimpanan batubara beratap dengan
luas area 30 x 72 m dengan kapasitas penampungan batubara maksimum 6220 ton, dengan tinggi
tumpukan maksimum 4 m, dan kerapatan tumpukan batubara 0,9 t/m 3, yang cukup untuk
memenuhi kebutuhan operasi boiler selama 10 hari. Dari coal yard batubara dipindahkan ke
conveyor dengan bantuan alat berat. Batubara dijatuhkan ke conveyor dengan melalui hopper
yang dilengkapi motor vibrator. Perangkat ini berfungsi agar barubara terdistibusi (jatuh) pada
conveyor dengan baik. Hopper ini terdapat di area dry coal yard dengan jumlah empat buah
untuk dua lajur (A dan B). Satu pasang hopper terdapat di ujung coveyor 3A dan 3B. Hopper ini
digunakan untuk menjatuhkan batubara yang berasal dari open coal yard. Hopper ini
menggunakan bantuan alat berat wheel loader. Sedangkan satu pasang lainnya, berada pada
tengah jalur conveyor 3 yang berada pada area dry coal yard. Hopper ini digunakan untuk
menjatuhkan batubara yang berasal dari dry coal yard. Proses ini menggunakan bantuan alat
berat excavator.

Gambar 2.11 Dry coal yard

(a)

(b)
Gambar 2.12 Alat berat: (a) wheel loader; (b) excavator

Gambar 2.13 Motor vibrator hopper 1

Gambar 2.14 Motor vibrator hopper 2

Gambar 2.15 Conveyor 3 A dan 3 B


D. Crushing Building
Sebelum masuk ke dalam coal bunker, batu bara melewati proses penggerusan yang terdapat
pada coal crusher building. Pada coal crusher building, terdapat 2 pengayak (shieve) yang
berjenis roller shieve dan 2 crusher berjenis ring hummer, yang mana satu untuk operasi dan
lainnya standby atau jalan keduanya. Ayakan atau shiever dalam sistem coal handling
mempunyai debit jatuhan batubara sebesar 100 t/h dengan ukuran partikel batubara yang masuk
sebesar 80 mm dan ukuran partikel keluaran sebesar 13 mm. Sedangkan crusher pada sistem
coal handling PLTU Bolok mempunyai debit jatuhan batubara sebesar 100 t/h dengan rentang
ukuran partikel yang masuk dan keluar crusher sama dengan masukan dan keluaran shiever. Jadi,
batubara yang digunakan sebagai bahan bakar boiler cfb pada PLTU Bolok mempunyai ukuran
partikel maksimal sebesar 1,3 cm. Pada coal crusher Building juga terdapat 2 buah perangkat
iron removal. Perangkat ini berfungsi sebagai penghilang material logam yang ikut terbawa
dalam suplai batubara secara magnetik atau disebut juga sebagai perangkat magnetic separator.
Batubara yang dibawa oleh conveyor 3 mula-mula melalui magnetic separator untuk
memisahkan material logam yang terbawa bersama batubara. Batubara yang telah terpisah dari
kandungan logamnya kemudian masuk menuju shiever. Batubara yang berukuran 13 mm akan
lolos pengayak dan akan jatuh langsung pada conveyor 4, sedangkan batubara yang berukuran
lebih besar akan terayak dan bergerak jatuh ke dalam crusher. Pada crusher, batubara akan

dihancurkan hingga berukuran 13 mm. Batubara yang telah berukuran maksimal 1,3 cm akan
dibawa oleh conveyor 4 menuju area coal bunker.

Gambar 2.16 Magnetic separator pada crusher building

Gambar 2.17 Shiever

Gambar 2.18 Coal crusher hummer

Gambar 2.19 Conveyor 4 A dan 4 B

E. Coal bunker
Batubara yang telah melalui proses crushing dibawa oleh conveyor 4 menuju area coal
bunker. Batubara mula-mula akan jatuh dari conveyor 4 menuju conveyor 5 melalui hopper yang
disebut dengan electric tee. Electric tee merupakan hopper yang mempunyai gerbang/damper
yang dapat diatur buka tutupnya oleh sebuah motor. Electric tee berfungsi untuk mengatur arah
jatuhnya batubara dari conveyor 4 A dan B menuju ke conveyor 5 A atau 5 B. Pada area coal
bunker terdapat dua buah electric tee, yakni sabagai hopper untuk conveyor 4 A dan 4 B. Kedua
electric tee tersebut dapat diatur agar menjatuhkan batubara di salah satu conveyor 5 saja (A atau
B) ataupun salah satu untuk menjatuhkan batubara di conveyor 5 A dan lainnya untuk
menjatuhkan batubara di conveyor 5 B.
Batubara yang telah jatuh di conveyor 5 akan diarahkan untuk memasuki coal bunker. PLTU
Bolok memiliki empat buah coal bunker, yang mana untuk setiap unit masing-masing memiliki
dua buah coal bunker. Pengaturan pemilihan bunker yang akan diisi oleh batubara yang diangkut
oleh conveyor 5, apakah itu bunker besar atau kecil maupun bunker untuk unit 1 atau unit 2,
dilakukan dengan bantuan electric plow unloader. Electric plow unloader ini dapat bergerak naik
dan turun. Saat electric plow unloader berada pada posisi naik/terangkat, maka batubara akan
tetap terus berada pada conveyor 5 atau dilewatkan begitu saja. Sedangkan saat electric plow
unloader berada pada posisi turun, maka batubara akan tercurah menuju coal bunker yang berada
di bawahnya dengan masuk melalui lubang coal bunker yang berada tepat disamping electric
plow unloader.
Coal bunker pada unit pembangkitan Bolok terdapat dua buah untuk setiap unit. Salah satu
buah coal bunker disebut sebagai coal bunker besar. Coal bunker tersebut disebut sebagai coal
bunker besar dikarenakan dalam satu coal bunker pada keluarannya terbagi ke dalam dua buah
coal feeder. Sedangkan coal bunker lainnya disebut sebagai coal bunker kecil karena pada
keluarannya batubara hanya bermuara pada sebuah coal feeder.

Gambar 2.20 Electric tee

Gambar 2.21 Conveyor 5 A dan 5 B

Coal feeder merupakan komponen yang berfungsi untuk menyuplai batubara ke dalam
furnace. Coal feeder dilengkapi dengan pengatur kecepatan motor feeder. Pengatur kecepatan ini
yang mengatur banyaknya (debit) flow batubara yang akan masuk ke ruang bakar.
Sedikit/banyaknya flow batubara yang disupali oleh coal feeder ini berbanding lurus dengan
pengaturan bukaan flow damper coal feeder yang dilakukan dari ruang kontrol (CCR). Pada coal
feeder juga dilengkapi dengan panel monitor yang akan menunjukkan flow rate coal feeder yang
sedang bekerja. Dari panel tersebut juga diketahui total flow batubara yang masuk ke furnace
melalui coal feeder. Untuk mengatur buka tutup aliran batubara sebelum masuk coal feeder,
peralatan ini dilengkapi dengan katup yang disebut dengan sliding gate. Saat coal feeder tidak
beroperasi, sliding gate pada sisi input coal feeder berada dalam posisi close. Jika coal feeder
akan beroperasi maka gerbang/katup ini dibuka secara manual dengan cara ditari atau digeser
(slide).

Gambar 2.22 Electric Plow Unloader

Gambar 2.23 Coal bunker

Gambar 2.25 Coal feeder

G. Conveyor Belt System


Transport batubara dilakukan dengan bantuan conveyor belt. Coal handling system pada
PLTU Bolok mempunyai dua jalur. Dua jalur ini dapat dioperasikan salah satu (satu jalur
standby) atau keduanya secara bersamaan. Sistem coal handling didesain menggunakan
conveyor (conveyor 3, 4, dan 5) dengan lebar belt 650 mm, kecepatan 1 m/s, dan output 60t/h
yang mana merupakan 150% dari konsumsi aktual boiler.
Sistem transportasi batubara dengan conveyor banyak dipilih dalam sistem pembangkit
berbahan bakar batubara karena memiliki beberapa keuntungan. Keuntungan penggunaan sistem
conveyor antara lain:

Menurunkan biaya dan waktu pada saat memindahkan batubara

Meningkatkan efisiensi pemindahan material

Menghemat ruang

Menjaga kualitas lingkungan kerja (tidak berisik dan rendahnya tingkat polusi udara)
Dalam sistem conveyor terdapat beberapa perangkat yang saling berkaitan satu sama lain

dalam fungsinya mendukung pengoperasian sitem transportasi batubara. Perangkat utama dari
sistem conveyor adalah belt conveyor. Belt conveyor merupakan sabuk yang terbuat dari karet
yang berfungsi sebagai pembawa material batubara. Selain itu, terdapat perangkat yang disebut
sebagai idler. Idler adalah perangkat berbentuk tabung yang berputar (roller). Idler berfungsi
sebagai penyangga belt conveyor secara langsung dan mengangkut material pada belt conveyor.
Terdapat beberapa jenis idler yang ada pada sistem conveyor, yaitu:
a) Carrying idler
Carrying idler adalah idler yang berfungsi sebagai penyangga belt conveyor disisi atas.

Gambar 2.29 Carrying Idler


b) Impact idler
Impact idler adalah idler yang berfungsi sebagai penahan beban jatuhnya batubara pada
conveyor.

Gambar 2.30 Impact Idler


c) Return idler
Return idler adalah idler yang berfungsi sebagai penyangga belt conveyor pada sisi balik.

Gambar 2.31 Return Idler

Selain idler, perangkat sistem conveyor lain yang berperan dalam pergerakan belt conveyor
adalah pulley. Pulley berfungsi untuk memutar, menyangga belt conveyor dan material yang
dibawa. Ada beberapa jenis pulley dalam sistem conveyor, yaitu:
a) Drive pulley
Drive pulley adalah pulley penggerak pada sisi depan conveyor. Drive pulley merupakan
pulley yang langsung berhubungan dengan motor penggerak conveyor, sehingga drive
pulley berfungsi untuk mengirim drive power ke sistem.

Gambar 2.32 Drive Pulley dan Motor Penggerak Conveyor


b) Tail pulley
Tail pulley adalah pulley penggerak conveyor pada sisi belakang. Tail pulley terpasang di
penerima akhir conveyor.

Gambar 2.33 Tail Pulley

c) Take up pulley
Take up pulley adalah pulley yang berfungsi untuk menjaga tensi tegangan belt. Pada
sistem conveyor PLTU bolok, take up pulley dihubungkan dengan pemberat/counter
weight.

Gambar 2.34 Take up pulley dan counter weight


d) Bend pulley
Bend pulley adalah pulley yang berfungsi penyangga conveyor pada sisi siku (lekukan)
conveyor.

Gambar 2.35 Bend Pulley


Pada sistem conveyor juga terdapat perangkat yang berfungsi untuk membersihkan sisa
batubara yang menempel pada belt pada sisi balik coveyor, yaitu belt cleaner.

Gambar 2.36 Belt Cleaner


H. Sistem Pengaman Coal Handling
Dalam sistem coal handling terdapat komponen-komponen yang saling berhubungan dalam
fungsinya sebagai pengaman dalam proses transportasi batubara. Pengamanan dalam proses
transportasi yang dimaksud adalah agar tidak terjadinya penumpukan batubara pada suatu
tahapan dalam sistem penanganan batubara yang dapat menyebabkan tumpahnya batubara
maupun kerusakan pada salah satu komponen peralatan yang dilalui.

Ada beberapa macam pengaman dalam sistem penanganan batubara, diantaranya pull
cord/pull rope switch, belt tracking/miss alignment switch, serta interlock sistem pada
pengoperasian.
1) Pull cord switch adalah komponen pengaman conveyor yang berfungsi memberhentikan belt
conveyor dengan cara menarik tali yang dipasang sepanjang belt sisi kiri dan kanan apabila
ada gangguan atau kelainan peralatan di lokal. Pull cord switch juga diaktifkan pada saat ada
pekerjaan perbaikan/pemeliharaan di daerah conveyor, agar conveyor tidak bisa menyala
yang bisa menyebabkan kecelakaan pada pekerjanya.
2) Belt tracking/miss alignment switch adalah komponen pengaman conveyor yang berfungsi
untuk memberhentikan belt conveyor apabila terjadi unbalance/jogging (belt bergerak ke
kiri/ke kanan tidak pada posisi tengah)
3) Interlock sistem adalah komponen pengamanan yang bersifat elektrik yang diakses dari
computer HMI (human machine interface) dalam ruang kendali coal handling. Interlock
sistem ini diaktifkan sebelum dilakukan pengoperasian coal handling system baik conveyor
maupun perangkat lainnya. Interlock sistem ini berfungsi untuk mencegah penumpukan
batubara pada peralatan akibat salah satu perangkat dalam sistem mengalami kerusakan/trip.
Apabila salah satu perangkat mengalami kerusakan, interlock sistem ini akan otomatis
menghentikan seluruh komponen dalam sistem coal handling. Sistem ini diaktifkan dengan
meng-klik valid pada tab pengoperasian pengkat coal handling pada HMI.
Selain perangkat-perangkat diatas, di area conveyor terdapat alat keamanan lain yang berupa
lampu sirine. Lampu sirine ini diaktifkan sesaat sebelum menjalankan conveyor. Lampu sirine ini
berfungsi untuk memberi peringatan kepada operator lokal sebagai tanda bahwa conveyor akan
berjalan.

Gambar 2. 37 Pull cord switch

Gambar 2. 38 Miss alignment switch

Gambar 2.39 Sistem valid pada HMI

Gambar 2.40 Lampu sirine


I. Pengoperasian Sistem Penanganan Batubara
Pengendalian jalannya sistem coal handling dalam dilakukan melalui program kontrol.
Pengaturan start/stop peralatan coal handling dilakukan dari ruang coal handling central control

room dan panel lokal. Dalam operasi normal pelaksanaan start/stop peralatan dilakukan pada
HMI dari ruang coal handling central control room.
Perangkat dalam sistem penanganan batubara harus dinyalakan melalui suatu langkah urutan
tertentu. Urutan langkah ini harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi tumpukan batubara
pada sisi ujung peralatan yang mana perangkat selanjutnya belum menyala. Urutan penyalaan
peralatan sistem penganan batubara dilakukan dari ujung akhir sistem, yakni pada daerah coal
bunker. Perangkat pertama yang diaktifkan adalah conveyor 5A/5B. Kemudian penyalaan
dilanjutkan dengan conveyor 4A/4B, diikuti oleh perangkat pada daerah crusher building, yaitu
crusher hammer, shiever, dan magnetic separator. Perangkat selanjutnya yang dinyalakan ada
pada area coal yard, yaitu coveyor 3A/3B dan terakhir motor vibrator hopper. Setiap akan
menyalakan peralatan dari komputer HMI, tombol valid harus di-klik terlebih dahulu untuk
pengaman sistem.

Gambar 2.41 HMI pada ruang coal handling control room

Operator lcr bertugas untuk mengoperasikan peralatan pada sistem coal handling dari
monitor HMI. Selain itu, operator lcr juga berkoordinasi dengan operator-operator lokal coal
handling untuk memantau apakah kondisi di lokal telah aman untuk pengoperasian peralatan.

Kondisi aman yang dimaksud adalah tidak adanya kegiatan perbaikan pada peralatan serta tidak
ada orang yang bekerja disekitar peralatan, misal pembersihan sabuk conveyor. Operator lcr juga
berkoordinasi dengan operator lokal coal handling apabila terdapat indikasi alarm saat hendak
penyalaan peralatan. Operator lcr, selain mengoperasikan peralatan juga bertugas untuk
mengamati parameter kerja dari peralatan, misal arus dari crusher batubara. Nilai arus crusher
harus diamati agar tidak terjadi trip pada peralatan. Pada operasi normal arus pada crusher
batubara berkisar antara 85 91 amper. Apabila penunjukan arus mendekati 100 amper, maka
operator lcr harus berkoordinasi dengan operator lokal pada area conveyor 3 untuk mengatur laju
curahan batubara pada conveyor agar flow batubara yang masuk ke crusher lebih sedikit
sehingga mengurangi beban dan arus crusher. Apabila penunjukkan arus lebih dari 100 amper,
maka operator lcr harus melaporkan hal tersebut kepada pihak operator ccr agar ditindaklanjuti.
Tugas dari operator lokal conveyor 5 adalah memastikan batubara masuk menuju ke dalam
coal bunker dengan baik dengan level coal bunker yang memenuhi syarat minimum. Tugas
tersebut dapat dijabarkan menjadi:
a) Memastikan batubara dari conveyor 4 jatuh menuju conveyor yang tepat.
Pada area conveyor 5 terdapat perangkat yang disebut dengan electric tee. Electric tee adalah
perangkat berupa chute dengan motor damper yang akan mengatur arah jatuhnya batubara
menuju conveyor 5A atau B. Tugas operator lokal conveyor 5 adalah berkoordinasi dengan
operator 5 mengenai arah bukaan damper electric tee. Apabila batubara yang dijatuhkan
menuju arah conveyor yang salah, misal pada conveyor yang tidak sedang dioperasikan,
maka akan terjadi penumpukan batubara.
b) Memastikan batubara dari conveyor 5 jatuh pada coal bunker yang tepat.
Di area conveyor 5, tepatnya di sekitar belt conveyor 5 terdapat perangkat yang disebut
dengan electric plow unloader yang berfungsi untuk mengarahkan batubara pada belt
conveyor 5 untuk masuk pada coal bunker. Tugas operator lokal conveyor 5 adalah
berkoordinasi dengan operator lcr untuk melakukan operasi push, yakni membuat posisi
electric plow unloader turun dan mengarahkan batubara menuju coal bunker di bawahnya,
atau operasi pull, yakni membuat posisi electric plow unloader naik dan melewatkan
batubara ke arah coal bunker selanjutnya. Koordinasi yang dilakukan operator local
conveyor 5 adalah mengenai electric plow unloader mana saja yang harus pull atau push.
Pemilihan ini berdasarkan level dari coal bunker

c) Memastikan level coal bunker untuk start/stop pengisian coal bunker pemindahan posisi
electric plow unloader.
Coal bunker yang ada tidak dilengkapi dengan level meter yang mampu beroperasi. Oleh
karena itu, tugas dari operator lokal conveyor 5 adalah mengecek secara manual yakni
dengan menyenter ke arah coal bunker dan memperkirakan ketinggian batubara pada coal
bunker kemudian melaporkan pada operator ccr untuk dicatat dalam logbook dan juga
melaporkan kepada operator ccr untuk melakukan tahapan pengisian coal bunker dengan
nilai berupa persentase level batubara. Apabila level batubara telah mecukupi, maka operator
lokal kembali berkoordinasi untuk pencatatan level dan dilakukannya penghentian pengisian
batubara.
Selain tugas yang telah dijabarkan diatas, tugas dari operator lokal conveyor 5 adalah
melakukan koreksi saat terjadi kesalahan dalam sistem conveyor 5. Kesalahan tersebut antara
lain miringnya tuas pull cord switch akibat pengamanan conveyor atau kawat switch yang tidak
sengaja tertarik saat pembersihan conveyor yang mengakibatkan tidak dapat dioperasikannya
conveyor. Hal ini dapat terindikasi dari HMI pada lcr yaitu munculnya alarm emergency.
Pengkoreksian ini dilakukan dengan menegakkan kembali tuas pull cord switch, kemudian
mengkoordinasikannya dengan operator lcr untuk melakukan reset dari HMI dan menyalakan
ulang conveyor 5. Kesalahan lainnya adalah munculnya sinyal emergency akibat kelebihan arus
pada motor conveyor. Hal ini terjadi apabila conveyor mengalami kelebihan beban, yaitu pada
saat batubara yang diangkut terlalu banyak atau terdapatnya tumpukan batubara disekitar belt
yang mengakibatkan jalannya belt yang semakin berat. Apabila hal ini terjadi maka pada layar
panel lokal operasi motor conveyor akan muncul indikasi thermal fault. Untuk mengatasi hal ini
operator lokal harus membersihkan conveyor terlebih dahulu kemudian menekan tombol reset
pada panel lokal. Kemudian operator lokal berkoordinasi dengan operator lcr untuk kembali
menjalankan conveyor dan operator lcr akan berkoordinasi dengan operator lokal conveyor 3
untuk mengatur laju curahan batubara ke conveyor 3 agar tidak terlalu banyak dan membebani
conveyor.

Gambar 2.152 Layar panel lokal dan tombol reset operasi motor conveyor