Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
Tulang

belakang

manusia

adalah

pilar/

tiang

yang

berfungsi

menyangga tubuh dan melindungi medulla spinalis. Pilar tersebut terdiri dari 33
ruas tulang belakang yang tersusun secara segmental yang terdiri atas 7 ruas
tulang servikal, 12 ruas tulang torakal, 5 ruas tulang lumbal, 5 ruas tulang sacral
yang menyatu dan 4 ruas tulang ekor. Setiap ruas tulang belakang dapat bergerak
satu dengan yang lain oleh karena adanya dua sendi di daerah posterolateral
dan diskus intervertebralis di anterior.1
Vertebra lumbalis merupakan tulang terbesar dan terkuat dari semua tulang
yang berada pada tulang belakang. Vertebra ini dimulai dari lengkung lumbal
(yaitu, persimpangan torakolumbalis) dan meluas ke sacrum. Otot-otot yang
melekat pada vertebra lumbalis menstabilkan tulang belakang. Fraktur vertebra
lumbalis disebabkan oleh trauma berat atau keadaan patologis yang melemahkan
tulang. Osteoporosis adalah penyebab terbanyak terjadinya fraktur kompresi
lumbal, terutama pada wanita pascamenopause. Fraktur vertebra yang diakibatkan
oleh osteoporosis dapat terjadi tanpa trauma yang jelas.2 Fraktur di

daerah

kolumna vertebralis sebagai akibat osteoporosis bisa terjadi dalam bentuk


crush (pada wanita pasca menopause) atau bentuk multiple, seperti baji
(wanita/ pria akibat osteoporosis senilis). Gejala dan tanda sering tidak khas.
Kadang- kadang penderita merasa nyeri dengan derajat ringan sampai sedang.
Nyeri akan bertambah bila bergerak atau batuk dan berkurang pada waktu
istirahat. Khas adalah timbulnya bongkok akibat fraktur daerah pungggung
(Dowagers hump), yang juga berakibat tinggi penderita berkurang. Nyeri yang
timbul bisa disertai nyeri akibat penekanan saraf sesuai dengan dermatom,
karena penekanan saraf daerah tersebut. Nyeri biasanya akan membaik dalam
waktu 2-4 minggu, sedangkan fraktur akan sembuh dalam waktu 3 - 4 bulan.3
Namun,

pemeriksaan

diagnostik

menyeluruh

selalu

dibutuhkan

untuk

menyingkirkan keganasan tulang belakang.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Fraktur kompresi (wedge fractures) merupakan kompresi pada bagian
depan corpus vertebralis yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Fraktur
kompresi adalah fraktur tersering yang mempengaruhi kolumna vertebra.

Gambar 2.1. Fraktur Kompresi Vertebra

Fraktur ini dapat disebabkan oleh kecelakaan jatuh dari ketinggian dengan
posisi terduduk ataupun mendapat pukulan di kepala, osteoporosis dan adanya
metastase kanker dari tempat lain ke vertebra kemudian membuat bagian vertebra
tersebut menjadi lemah dan akhirnya mudah mengalami fraktur kompresi.
Vertebra dengan fraktur kompresi akan menjadi lebih pendek ukurannya daripada
ukuran vertebra sebenarnya. Trauma vertebra yang mengenai medula spinalis
dapat menyebabkan defisit neorologis berupa kelumpuhan.4

2.2. Anatomi dan Fisiologi


2.2.1. Vertebra secara umum
Vertebra

dimulai

dari

cranium

sampai

pada

apex

coccigeus,

membentuk skeleton dari leher, punggung dan bagian utama dari skeleton (tulang
cranium, costa dan sternum). Fungsi vertebra yaitu melindungi medulla spinalis
dan serabut syaraf, menyokong berat badan dan berperan dalam perubahan posisi
tubuh. Vertebra terdiri dari 33 vertebra dengan pembagian 5 regio yaitu 7 cervical,
12 thoracal, 5 lumbal, 5 sacral, 4 coccigeal.

Gambar 2.2. Kolumna Vertebra

Vertebra manusia terbentuk oleh dua jenis tulang yaitu tipe kortikal
dan kalselus. Tulang kortikal menutupi bagian luar vertebra dan mencakup sekitar
80% masa tulang. Tulang kalselus berada pada bagian dalam dan mengisi 20%
masa tulang vertebra. Tulang kalselus memberikan bentuk arsitektur dan
komponen struktural dari vertebra. Proses remodeling tulang merupakan proses
normal dari aktifitas osteoklas (menghancurkan) dan osteoblas (pembentukan),
1020% tulang orang dewasa normal mengalami remodeling setiap tahun.
Pada

osteoporosis, kehilangan masa tulang disebabkan oleh karena

meningkatnya aktifitas osteoklas dan menurunnya aktifitas osteoblas. Kehilangan


masa

tulang

merununkan

keseluruhan

integritas

dari

vertebra

dengan

pengurangan densitas dari pusat tulang kalselus.


Begitu juga pada orang tua, pengurangan masa tulang disebabkan oleh
penipisan cakram vertebra oleh karena proses degenerasi. Penguranagan massa
tulang ini akan menyebabkan ketidakseimbangan dalam menahan beban antar
vertebra end plates. Kombinasi dari pengurangan massa tulang dan kelemahan
tulang vertebra akibat proses penuaan akan mengakibatkan kelainan bentuk dari
vertebra.5

2.2.2. Vertebra Lumbalis


Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis yang terdiri
dari lima ruas tulang dengan ukuran ruasnya lebih besar dibandingkan dengan
ruas tulang leher (vertebra cervical) maupun tulang punggung (vertebra thorakal).
Vertebra lumbalis dapat dibedakan oleh karena tidak adanya bidang untuk
persendian dengan costa. Diantara ruas-ruas vertebra lumbalis tersebut terdapat
penengah ruas tulang yang terdiri atau tersusun dari tulang muda yang tebal dan
erat, berbentuk seperti cincin yang memungkinkan terjadinya pergerakan antara
ruas-ruas tulang yang letaknya sangat berdekatan. Bagian atas dari vertebra
lumbalis berbatasan dengan vertebra torakalis 12, yang persendiannya disebut
thoracolumbal joint atau articulatio thoracolumbalis. dan pada bagian bawahnya
berbatasan dengan vertebra sakralis. dan persendiannya disebut lumbosacral joint
atau articulatio lumbosacralis.6
Vertebra lumbal adalah satu dari lima rangkaian kolumna vertebralis yang
terletak pada pertengahan tubuh bagian posterior. Pada umumnya vertebra
lumbalis mempunyai bentuk melengkung ke arah depan atau disebut juga
lordosis.
Dilihat dari lengkungannya vertebra lumbal termasuk ke dalam vertebra
sekunder, karena lengkungan dari vertebra lumbal tumbuh setelah lahir, yaitu
pada saat seorang anak belajar berjalan pada usia satu sampai satu setengah
tahun.7
Oleh karena tugasnya menyangga bagian atas tubuh, maka bentuk dari
vertebra lumbalis ini besar dan kuat.
Ciri vertebra lumbalis diantaranya:
a. Corpus besar dan berbentuk ginjal.
b. Pediculus kuat dan mengarah ke belakang.
c. Lamina tebal
d. Foramina vertebrale berbentuk segitiga.
e. Processus transversus panjang dan langsing.
f. Processus spinosus pendek, rata dan berbentuk segiempat dan mengarah ke
belakang.

g. Facies articularis processus articularis superior menghadap ke medial dan


facies articularis processus articularis inferior menghadap ke lateral.

Gambar 2.3 Vertebra Lumbalis

2.2.3. Medulla Spinalis


Medulla spinalis terletak di dalam kanalis vertebralis yang diliputi dan luar
oleh duramater, subdural space, arachnoid, subarachnoid dan piamater. Medulla
spinalis dimulai dari atas setinggi foramen magnum sebagai lanjutan dari medulla
oblongata. Medulla spinalis daerah cervical tempat asal plexus brachialis dan di
thoracica bawah dan lumbal tempat asal plexus lumbosacralis terdapat pelebaran
fusiformis yang disebut intumescentia cervicalis dan lumbalis.
Di inferior medulla spinalis meruncing menjadi conus medullaris. Dari
puncak conus ini berjalan turun lanjutan piameter yaitu filum terminale.

Gambar 2.4. Medulla Spinalis

2.2.4. Fisiologi Vertebra Lumbalis


Vertebra lumbalis merupakan bagian dari kolumna vertebralis, sehingga
fungsi dari vertebra lumbalis tidak terlepas dari fungsi kolumna vertebralis secara
keseluruhan. Sesuai dengan anatomi vertebra lumbalis yang mempunyai bentuk
yang besar dan kuat, maka fungsi vertebra lumbalis adalah :6
a. Menyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang rawan yaitu diskus
intervertebralis yag lengkungannya dapat memberikan fleksibilitas yang dapat
memugkinkan membungkuk ke arah depan (fleksi) dan kearah belakang
(ekstensi), miring ke kiri dan ke kanan pada vertebra lumbalis.
b. Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan yang terjadi bila
sedang menggerakkan berat badan seperti berlari dan melompat.
c. Melindungi otak dan sumsum tulang belakang dari goncangan.
d. Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat melesetnya
nukleus pulposus pada diskus intervertebralis. Namun apabila annulus fibrosus
mengalami kerusakan, maka nukleus pulposusnya dapat meleset dan dapat
menyebabkan penekanan pada akar saraf disekitarnya yang menimbulkan rasa
sakit dan ada kalanya kehilangan kekuatan pada daerah distribusi dari saraf
yang terkena.

2.3. Epidemiologi
Fraktur kompresi vertebra merupakan jenis fraktur yang sering terjadi dan
merupakan masalah yang serius. Setiap tahun sekitar 700.000 insidensi di Ameika
Serikat, dimana prevalensinya meningkat 25% pada wanita yang berumur diatas
50 tahun. Satu dari dua wanita dan satu dari empat laki-laki berumur lebih dari 50
tahun menderita osteoporosis berhubungan dengan fraktur. Insidensi fraktur
kompresi vertebra meningkat secara progresif berdasarkan semakin bertambahnya
usia, dan prevalensinya sama antara laki-laki (21,5%) dan wanita (23,5%),
yang diukur berdasarkan suatu studi pemeriksaan radiologi. Meskipun hanya
sekitar sepertiga menunjukkan gejala akut, awalnya semua berhubungan
dengan

angka

yang signifikan

fungsional dan psikologis.

meningkatkan

mortalitas

dan

gangguan

2.4. Etiologi
Penyebab terjadinya fraktur kompresi vertebra adalah sebagai berikut:
2.4.1. Trauma langsung ( direct )
Fraktur

yang

disebabkan

oleh

adanya

benturan

langsung

pada

jaringan tulang seperti pada kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, dan
benturan benda keras oleh kekuatan langsung.
2.4.2. Trauma tidak langsung ( indirect )
Fraktur yang bukan disebabkan oleh benturan langsung, tapi lebih
disebabkan oleh adanya beban yang berlebihan pada jaringan tulang atau otot,
contohnya seperti pada olahragawan yang menggunakan hanya satu tangannya
untuk menumpu beban badannya.
2.4.3. Trauma tidak langsung ( indirect )
Fraktur yang disebabkan oleh proses penyakit seperti osteoporosis,
penderita tumor dan infeksi.

Penyebab pokok dari fraktur kompresi lumbal adalah osteoporosis. Pada


wanita, faktor risiko utama untuk osteoporosis adalah menopause, atau defisiensi
estrogen. Faktor risiko lain yang dapat memperburuk tingkat keparahan
osteoporosis termasuk merokok, aktivitas fisik, penggunaan prednison dan obat
lain, dan gizi buruk. Pada laki-laki, semua faktor risiko non-hormon di atas juga
berpengaruh. Namun, kadar testosteron rendah juga dapat berhubungan dengan
fraktur kompresi.
Gagal ginjal dan gagal hati keduanya terkait dengan osteopenia.
Kekurangan gizi dapat menurunkan remodeling tulang dan meningkatkan
osteopenia. Akhirnya, genetika juga memainkan peran dalam pengembangan
fraktur kompresi, risiko osteoporosis juga dapat dilihat dari riwayat keluarga
dengan keluhan serupa.
Keganasan dapat bermanifestasi awalnya sebagai fraktur kompresi. Kanker
yang paling umum di tulang belakang adalah metastasis. Keganasan khas yang
bermetastasis ke tulang belakang sel ginjal, prostat, payudara, paru-paru dan,

meskipun jenis lainnya dapat bermetastasis ke tulang belakang. 2 hal keganasan


tulang primer paling umum adalah multipel myeloma dan limfoma.
Infeksi yang menghasilkan osteomyelitis dapat juga mengakibatkan fraktur
kompresi. Biasanya, organisme yang paling umum dalam infeksi kronis adalah
stafilokokus atau streptokokus. Tuberkulosis bisa terjadi pada tulang belakang dan
disebut penyakit Pott.2,3

2.5. Patofisiologi
Tulang belakang merupakan satu kesatuan yang kuat yang diikat

oleh

ligamen di depan dan di belakang, serta dilengkapi diskus intervertebralis yang


mempunyai daya absorpsi terhadap tekanan atau trauma yang memberikan sifat
fleksibilitas dan elastis. Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu
trauma yang hebat, sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke
rumah sakit penderita harus secara hati-hati. Trauma pada tulang belakang dapat
mengenai :8
a. Jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligamen, diskus dan faset.
b. Tulang belakang sendiri
c. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Mekanisme trauma diantaranya :8
a. Fleksi
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada
vertebra. Vertebra mengalami tekanan terbentuk remuk

yang dapat

menyebabkan kerusakan atau tanpa kerusakan ligamen posterior. Apabila


terdapat kerusakan ligamen posterior, maka fraktur bersifat tidak stabil dan
dapat terjadi subluksasi.

Gambar 2.5. Fraktur Akibat Fleksi

b. Fleksi dan rotasi


Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi.
Terdapat strain dari ligamen dan kapsul, juga ditemukan fraktur faset. Pada
keadaan ini terjadi pergerakan ke depan/ dislokasi vertebra diatasnya. Semua
fraktur dislokasi bersifat tidak stabil.

Gambar 2.6. Fraktur Akibat Rotasi

c. Kompresi vertikal (aksial)


Suatu trauma vertikal yang secara langsung mengenai vertebra yang akan
menyebabkan kompresi aksial.

Nukleus

pulposus

akan

memecahakan

permukaan serta badan vertebra secara vertikal. Material diskus akan


masuk dalam badan vertebra dan menyebabkan vertebra menjadi rekah
(pecah). Pada trauma ini elemen posterior masih intak sehingga fraktur yang
terjadi bersifat stabil.

Gambar 2.7. Fraktur Kompresi

d. Hiperekstensi atau retrofleksi


Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan
ekstensi. Keadaan ini sering ditemukan pada vertebra servikal dan jarang pada
vertebra torakolumbal. Ligamen anterior dan

diskus

dapat

mengalami

kerusakan atau terjadi fraktur pada arkus neuralis. Fraktur ini biasanya
bersifat stabil.

Gambar 2.8. Fraktur Akibat Hiperekstensi

e. Fleksi lateral
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan
menyebabkan fraktur pada komponen lateral yaitu pedikel, foramen vertebra
dan sendi faset.

Pembagian trauma vertebra menurut BEATSON (1963) membedakan atas 4


grade:
a. Grade I

= Simple Compression Fraktur

b. Grade II

= Unilateral Fraktur Dislocation

c. Grade III

= Bilateral Fraktur Dislocation

d. Grade IV = Rotational Fraktur Dislocation

Dengan adanya penekanan/ kompresi yang berlangsung lama menyebabkan


jaringan terputus akibatnya daerah disekitar fraktur dapat mengalami edema
atau hematoma. Kompresi akibatnya sering menyebabkan iskemia otot. Gejala
dan tanda yang menyertai peningkatan tekanan kompartemental mencakup nyeri,
kehilangan sensasi dan paralisis. Hilangnya tonjolan tulang yang normal,
pemendekan

atau

pemanjangan

tulang

dan kedudukan

yang khas untuk

dislokasi tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk (deformitas).


Trauma dapat mengakibatkan cedera pada medula spinalis secara langsung
dan tidak langsung. Fraktur pada tulang belakang yang menyebabkan instabilitas
pada tulang belakang adalah penyebab cedera pada medulla spinalis secara tidak
langsung. Apabila trauma terjadi di bawah segmen cervical dan medula spinalis
tersebut mengalami kerusakan sehingga akan berakibat terganggunya distribusi
persarafan pada otot-otot yang disarafi dengan manifestasi kelumpuhan otot-otot

10

intercostal, kelumpuhan pada otot-otot abdomen dan otot-otot pada kedua anggota
gerak bawah serta paralisis sfingter pada uretra dan rektum. Distribusi persarafan
yang terganggu mengakibatkan terjadinya gangguan sensoris pada regio yang
disarafi oleh segmen yang cedera tersebut.

Klasifikasi derajat kerusakan medulla spinalis :


a. Frankel A = Complete, fungsi motoris dan sensoris hilang sama sekali di
bawah level lesi.
b. Frankel B = Incomplete, fungsi motoris hilang sama sekali, sensoris masih
tersisa di bawah level lesi.
c. Frankel C = Incomplete, fungsi motris dan sensoris masih terpelihara tetapi
tidak fungsional.
d. Frankel D = Incomplete, fungsi sensorik dan motorik masih terpelihara dan
fungsional.
e. Frankel E = Normal, fungsi sensoris dan motorisnya normal tanpa deficit
neurologisnya.

2.6. Manifestasi Klinis


Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental, menunjukkan gejala nyeri
tulang belakang ringan sampai berat. Dapat mengakibatkan perubahan postur
tubuh karena terjadinya kiposis dan skoliosis. Pasien juga menunjukkan
gejala-gejala pada abdomen seperti rasa perut tertekan, rasa cepat kenyang,
anoreksia dan penurunan berat badan. Gejala pada sistem pernafasan dapat
terjadi akibat berkurangnya kapasitas paru.
Hanya sepertiga kasus kompresi vertebra yang menunjukkan gejala.
Pada saat fraktur terasa nyeri, biasanya dirasakan seperti nyeri yang dalam pada
sisi fraktur. Jarang sekali menyebabkan kompresi pada medulla spinalis, tampilan
klinis menunjukkan gejala nyeri radikuler yang nyata. Rasa nyeri pada
fraktur disebabkan oleh banyak gerak, dan pasien biasanya merasa lebih
nyaman dengan beristirahat. Banyak pasien yang mengalami fraktur kompresi
vertebra akan menjadi tidak aktif, dengan berbagai alasan antara lain rasa nyeri

11

akan berkurang dengan terlentang, takut jatuh sehingga terjadi patah tulang
lagi. Sehingga kurang aktif atau malas bergerak pada akhirnya akan
mengakibatkan semakin buruknya kemampuan dalam melakukan aktifitas
sehari-hari.
Apabila kerusakan tulang belakang setinggi vertebra L1-L2 mengakibatkan
sindrom konus medullaris. Konus medullaris adalah ujung berbentuk kerucut dari
sumsum tulang belakang. Normalnya terletak antara ujung vertebra torakalis (T12) dan awal dari vertebra lumbalis (L-1), meskipun kadang-kadang konus
medullaris ditemukan antara L-1 dan L-2. Saraf yang melewati konus medullaris
mengontrol kaki, alat kelamin, kandung kemih, dan usus. Gejala umum termasuk
rasa sakit di punggung bawah, anestesi di paha bagian dalam, pangkal paha;
kesulitan berjalan, kelemahan di kaki, kurangnya kontrol kandung kemih;
inkontinensia alvi, dan impotensi.

Gambar 2.9 Dermatom


a. Gangguan motorik
Cedera medula spinalis yang baru saja terjadi, bersifat komplit dan terjadi
kerusakan sel-sel saraf pada medulla spinalisnya menyebabkan gangguan arcus
reflek dan flacid paralisis dari otot-otot yang disarafi sesuai dengan segmensegmen medulla spinalis yang cedera. Pada awal kejadian akan mengalami

12

spinal shock yang berlangsung sesaat setelah kejadian sampai beberapa hari
bahkan sampai enam minggu. Spinal shock ini ditandai dengan hilangnya
reflek dan flacid. Lesi yang terjadi di lumbal menyebabkan beberapa otot-otot
anggota gerak bawah mengalami flacid paralisis.
b. Gangguan sensorik
Pada kondisi paraplegi salah satu gangguan sensoris yaitu adanya paraplegic
pain dimana nyeri tersebut merupakan gangguan saraf tepi atau sistem saraf
pusat yaitu sel-sel yang ada di saraf pusat mengalami gangguan. Selain itu kulit
dibawah level kerusakan akan mengalami anaestesi, karena terputusnya
serabut-serabut saraf sensoris.
c. Gangguan bladder dan bowel
Pada defekasi, kegiatan susunan parasimpatetik membangkitkan kontraksi otot
polos sigmoid dan rectum serta relaksasi otot spincter internus. Kontraksi otot
polos sigmoid dan rectum itu berjalan secara reflektorik. Impuls afferentnya
dicetuskan oleh ganglion yang berada di dalam dinding sigmoid dan rectum
akibat peregangan, karena penuhnya sigmoid dan rectum dengan tinja.
Defekasi adalah kegiatan volunter untuk mengosongkan sigmoid dan rectum.
Mekanisme defekasi dapat dibagi dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tinja
didorong ke bawah sampai tiba di rectum kesadaran ingin buang air besar
secara volunter, karena penuhnya rectum kesadaran ingin buang air besar
timbul. Pada tahap kedua semua kegiatan berjalan secara volunter. Spincter ani
dilonggarkan dan sekaligus dinding perut dikontraksikan, sehingga tekanan
intra abdominal yang meningkat mempermudah dikeluarkannya tinja. Jika
terjadi inkontinensia maka defekasi tak terkontrol oleh keinginan.
d. Gangguan fungsi seksual
Pasien pria dengan lesi tingkat tinggi untuk beberapa jam atau beberapa hari
setelah cidera. Seluruh bagian dari fungsi seksual mengalami gangguan pada
fase spinal shock. Kembalinya fungsi sexual tergantung pada level cidera dan
komplit/tidaknya lesi. Untuk dengan lesi komplet diatas pusat reflek pada
konus, otomatisasi ereksi terjadi akibat respon lokal, tetapi akan terjadi
gangguan sensasi selama aktivitas seksual. Pasien dengan level cidera rendah

13

pusat reflek sakral masih mempunyai reflex ereksi dan ereksi psikogenik jika
jalur simpatis tidak mengalami kerusakan, biasanya pasien mampu untuk
ejakulasi, cairan akan melalui uretra yang kemudian keluarnya cairan diatur
oleh kontraksi dari internal bladder sphincter. Kemampuan fungsi seksual
sangat bervariasi pada pasien dengan lesi tidak komplit, tergantung seberapa
berat kerusakan pada medula spinalisnya. Gangguan sensasi pada penis sering
terjadi dalam hal ini. Masalah yang terjadi berhubungan dengan lokomotor dan
aktivitas otot secara volunter.

2.7. Diagnosis
2.7.1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan dengan cara pasien berdiri,
sehingga tanda-tanda osteoporosis seperti kiposkoliosis akan lebih tampak.
Kemudian pemeriksaan dilakukan dengan menekan vertebra dengan ibu jari mulai
dari atas sampai kebawah yaitu pada prosesus spinosus. Fraktur kompresi
vertebra dapat terjadi mulai dari oksiput sampai dengan sacrum, biasanya
terjadi pada region pertengahan torak (T7-T8) dan pada thorakolumbal
junction. Ulangi lagi pemeriksaan sampai benar-benar ditemukan lokasi nyeri
yang tepat. Nyeri yang berhubungan dengan pemeriksaan palpasi vertebra
mungkin disebabkan oleh adanya fraktur kompresi vertebra.5
Adanya deformitas pada tulang belakang

tidak mengindikasikan

adanya fraktur. Jika tidak ditemukan nyeri yang tajam, kemungkinan hal tersebut
merupakan suatu kelainan tulang belakang yang berkaitan dengan umur.
Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan membantu pasien
gerakan

fleksi

menyebabkan

dan ekstensi
rasa

nyeri

pada

tulang

belakang,

gerakan

melakukan
ini

akan

yang disebabkan oleh adanya fraktur kompresi

vertebra. Spasme otot atau kekakuan otot dapat terjadi sebagai akibat dari
kekuatan otot melawan gravitasi pada bagian anterior dari vertebra. Pemeriksaan
neurologis perlu dilakukan. Tidak jarang pada kasus osteomielitis mempunyai
gejala yang mirip dengan fraktur kompresi vertebra.5

14

2.7.2. Pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu :9
a. Roentgenography : pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat tulang
vertebra untuk melihat fraktur dan pergeseran tulang vertebra

Gambar 2.10. Fraktur Kompresi Vertebra Lumbal 1

b. Magnetic Resonance Imaging : pemeriksaan ini memberi informasi detail


mengenai jaringan lunak di daerah vertebra. Gambaran yang akan dihasilkan
adalah 3 dimensi. MRI sering digunakan untuk mengetahui kerusakn jaringan
lunak pada ligament dan diskus intervertebralis dan menilai cedera medulla
spinalis

Gambar 2.11. MRI Fraktur Kompresi Lumbal 1


c. CT- Scan
CT scan sangat berguna dalam menggambarkan adanya fraktur dan dapat
memberikan informasi jika tentang adanya kelainan densitas tulang. CT scan

15

dan MRI juga sangat penting dalam menentukan diferensial diagnosis karena
adanya penyempitan kanalis spinal, dan komposisi spesifik vertebra dapat
digambarkan.
d. Single-Photon Emission Computed Tomography (SPECT)
Dapat juga digunakan dalam menentukan adanya fraktur dan tingkat adanya
osteoporosis karena kemampuannya dalam menggambarkan densitas tulang.
e. Scintigraphy
Merupakan suatu metode diagnostik yang menggunakan deteksi radiasi sinar
gamma untuk menggambarkan kondisi dari jaringan atau organ, juga
merupakancmetode yang penting untuk memprediksikan hasil (outcome) dari
beberapa teknik operasi.

2.8. Penatalaksanaan
a. Nyeri akut fraktur kompresi vertebra
Jika pada pasien tidak ditemukan kelainan neurologis, pengobatan pada pasien
dengan akut fraktur harus menekankan pada pengurangan rasa nyeri, dengan
pembatasan bedrest, penggunaan analgetik, brancing dan latihan fisik.9
1) Menghindari bedrest terlalu lama
Bahaya dari bedrest yang terlalu lama pada orang tua adalah, meningkatkan
kehilangan densitas tulang, deconditioning, thrombosis, pneumonia, ulkus
dekubitus, disorientasi dan depresi.
2) Analgetik
Analgetik digunakan untuk mengurangi rasa nyeri, biasa diberikan sebagai
terapi awal untuk menghindari dari bedrest yang terlalu lama.
3) Calcitonin, diberikan secara subkutan, intranasal, atau perrektal mempunyai
efek analgetik pada fraktur kompresi yang disebabkan oleh osteoporosis
dan pasien dengan nyeri tulang akibat metastasis.
4) Bracing
Bracing merupakan terapi yang biasa dilakukan pada manegemen akut non
operatif. Ortose membantu dalam mengontrol rasa nyeri dan membantu
penyembuhan

dengan

menstabilkan

tulang

belakang.

Dengan

16

mengistirahatkan pada posisi fleksi, maka akan mengurangi takanan pada


kolumna anterior dan rangka tulang belakang.Bracing dapat digunakan
segera, tetapi hanya dapat digunakan untuk dua sampai tiga bulan. Terdapat
beberapa tipe ortose yang tersedia untuk pengobatan.
5) Vertebroplasty
Vertebroplasty dilakukan dengan menempatkan jarum biopsy tulang
belakang kedalam vertebra yang mengalami kompresi dengan bimbingan
fluoroscopy

atau

computed

tomography.

Kemudian

diinjeksikan

Methylmethacrylate kedalam tulang yang mengalami kompresi. Prosedur


ini dapat menstabilkan fraktur dan megurangi rasa nyeri dengan cepat yaitu
pada 90% 100% pasien. Tetapi prosedur ini tidak dapat memperbaiki
deformitas yang terjadi pada tulang belakang.

Gambar 2.12. Teknik Vertebroplasty


6) Kypoplasty
Prosedur ini dilakukan dengan menyuntikkan jarum yang berisikan tampon
kedalam tulang yang mengalami fraktur. Insersi jarum tersebut akan
membentuk suatu kavitas pada tulang vertebra. Kemudian kavitas tersebut
diisi dengan campuran methylmetacrylate dibawah tekanan rendah.

Gambar 2.13. Teknik Kypoplasty

17

b. Penatalaksanaan nyeri kronis


Nyeri kronis umumnya biasa dialami oleh pasien dengan multipel fraktur,
penurun tinggi badan, dan kehilangan densitas tulang. Pada pasien-pasien
ini,

sangat dianjurkan untuk tetap aktif

melakukan pelemasan otot dan

program peregangan, seperti program yang berdampak ringan seperti berjalan


dan berenang. Sebagai tambahan obat penghilang rasa sakit, pemeriksaan
nonfarmakologis seperti stimulasi saraf listrik transkutaneus, aplikasi panas
dan dingin, atau penggunaan bracing, dapat menghilangkan rasa sakit
sementara. Aspek psikologis dari rasa nyeri yang kronis dan kehilangan fungsi
fisiologis harus diterangkan dalam konseling, jika perlu, dapat diberikan
antidepresan.9
c. Pencegahan fraktur tambahan
1) Sebagian besar pasien dengan fraktur akibat osteoporosis akut harus
diberikan terapi osteoporosis secara agresif.
2) Pemeriksaan bone densitometry sebaiknya dilakukan pada pasien dengan
fraktur kompresi dan sebelumnya diduga mengalami kehilangan massa
tulang.
3) National Osteoporosis Foundation menganjurkan semua wanita

yang

mengalami fraktur spiral dan densitas mineral tulang harus diberikan


terapi seperti osteoporosis.
4) Diet suplemen vitamin D dan kalsium harus optimal. Bisphosponates
(alendronate, risendronate) mengurangi insidensi terjadinya fraktur vertebra
baru sampai lebih dari 50%.
5) Raloxifene, merupakan modulator estrogen selektif, menunjukkan dapat
mengurangi terjadi fraktur vertebra 65% pada tahun pertama dan
sekitar 50% pada tahun ketiga.
6) Kalsitonin menunjukkan penurunan resiko terjadinya fraktur vertebra baru
sekitar 1 dari 3 wanita yang mengalami fraktur vetebra.
7) Teriparatide

(fortoe),

merupakan

preparat

hormon

paratiroid

rekombinan diberikan secara subkutan. Obat ini juga menunjukkan


rendahnya resiko terjadinya fraktur vertebra dan meningkatkan densitas

18

tulang pada wanita postmenopause dengan osteoporosis. Obat ini


bekerja pada osteoblast untuk menstimulasi pembentukan tulang baru.

2.9. Komplikasi
Apakah fraktur kompresi vertebra menunjukkan gejala atau tidak,
komplikasi jangka

panjangnya

sangat

penting.

Konsekuensinya

dapat

dikategorikan sebagai biomekanik, fungsional, dan psikologis.9


a. Biomekanik
Pada beberapa pasien yang mengalami pemendekan segmen torakolumbal yang
signifikan, costa bagian terbawah akan bersandar pada pevis, menyebabkan
terjadinya abdominal discomfort. Gejala-gejala pada gangguan abdomen dapat
berupa anoreksia yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, terutama
pada pasien yang berusia lanjut. Konsekuensi pada paru akibat adanya fraktur
kompresi pada vertebra dan kyposis umumnya ditandai dengan penyakit paru
restriktif dengan penurunan kapasitas vital paru. Dalam persamaan, setiap
fraktur menurunkan kapasitas vital 9%. Meningkatkan resiko terjadinya
fraktur. Karena terjadinya kyposis, maka beban berlebih akan ditopang oleh
tulang disekitarnya, ditambah lagi dengan adanya osteoporosis semakin
meningkatkan resiko terjadinya fraktur. Adanya satu atau lebih vertebra
mengalami fraktur kompresi semakin meningkatkan adanya fraktur tambahan
lima kali lipat dalam satu tahun.
b. Fungsional
Pasien yang mengalami fraktur kompresi memiliki level yang lebih rendah
dalam performa fungsional dibandingkan dengan kontrol, lebih banyak
membutuhkan pembantu, pengalaman lebih sering mengalami sakit saat
bekerja, dan mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Penelitian terbaru pada pasien-pasien ini memiliki nilai yang rendah pada
indeks kulalitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan berdasarkan
fungsi fisik, status emosi, gejala klinis dan keseluruhan performa fungsional.
Oleh karena itu, banyak pasien yang mengalami fraktur kompresi vertebra
akan menjadi tidak aktif, dengan berbagai alasan antara lain rasa nyeri akan

19

berkurang dengan terlentang, takut jatuh sehingga terjadi patah tulang lagi.
Sehingga kurang aktif atau malas bergerak pada akhirnya akan mengakibatkan
semakin buruknya kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
c. Psikologis
Kejadian depresi meningkat sampai 40% pada pasien yang menderita fraktur
kompresi vertebra, akibat nyeri kronis, perubahan bentuk tubuh, detorientasi
dalam kemampuan untuk merawat diri sendiri, dan akibat bedrest yang lama.
Pasien yang mengalami depresi biasanya yang mengalami lebih dari satu
fraktur dan akan menjadi cepat tua dan terisolasi secara sosial

2.10. Prognosis
Nyeri dan fraktur yang dialami akan membaik dengan dukungan terapi
farmakologis dan farmakologis, namun dengan semakin bertambahnya usia,
fungsi dan struktur fisiologi tulang akan semakin menurun, diperlukan upaya
kewaspadaan agar tetap menjaga stabilitas tulang belakang dan pencegahan
trauma pada usia lanjut.

2.11. Pencegahan
a. Hindari aktifitas fisik berat
b. Olah raga seperti jogging dan berjalan cepat
c. Jaga asupan kalsium (sayuran hijau, susu tinggi kalsium dll)
d. Hindari defisiensi vitamin D
e. Nutrisi dengan diet tinggi protein
f. Berjemur pada pagi dan sore hari
g. Diperlukan pendamping untuk usia lanjut
h. Memperhatikan lingkungan dan berbagai penyebab untuk menghindari
berulangnya jatuh

20

BAB 3
KESIMPULAN
Fraktur kompresi adalah kompresi pada bagian depan corpus vertebralis
yang tertekan dan membentuk patahan irisan. Etiologi dari fraktur kompresi
vertebra ini dapat dikarenakan oleh trauma atau non trauma.
Fraktur kompresi biasanya bersifat insidental, menunjukkan gejala nyeri
tulang belakang ringan sampai berat. Dapat mengakibatkan perubahan postur
tubuh karena terjadinya kiposis dan skoliosis. Apabila fraktur kompresi vertebra
menyebabkan kerusakan tulang belakang setinggi vertebra L1-L2 mengakibatkan
sindrom konus medullaris dengan gejala umum seperti rasa sakit di punggung
bawah, anestesi di paha bagian dalam, pangkal paha; kesulitan berjalan,
kelemahan di kaki, kurangnya kontrol kandung kemih; inkontinensia alvi, dan
impotensi.
Fraktur dan jatuh merupakan masalah besar pada usia lanjut. Terdapat
berbagai faktor risiko dan penyebab instabilitas serta diperlukan pengkajian
secara menyeluruh untuk mencegah terjatuh dan fraktur maupun fraktur
berulang. Osteoporosis dengan bertambahnya usia baik pada perempuan
maupun laki-laki menyebabkan peningkatan risiko fraktur pada trauma minimal.
Penyakit tulang dan fraktur merupakan satu dari sekian banyak masalah
pada usia lanjut.

Bagaimanapun upaya pencegahan jauh lebih bermanfaat

sehingga upaya penyebarluasan mengenai penyakit tulang dan fraktur ini perlu
ditekankan.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Jong WD, Samsuhidayat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC, 2005. Hal
870-874
2. Andrew L Sherman, MD, MS; Chief Editor: Rene Cailliet, MD. Lumbar
Compression Fracture. (diakses tanggal

17 Juli 2014). Diunduh dari

http://emedicine.medscape.com/article/309615-overview
3. Rasjad, C. Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi. Jakarta : PT. Yarsif Watampone.
2007.
4. Young W. Spinal cord injury level and classification (serial online) 2000
(diakses

10

April

2012);

Diunduh

dari:

URL:

http://www.neurosurgery.ufl.edu/Patients/fracture.shtml
5. Hanna J, Letizia M. Kyphoplasty: A treatment for osteoporotic vertebral
compression fractures. nursing journal center (serial online) 2007 ( diakses 10
April

2012);

Dunduh

dari:

URL:

http://www.nursingcenter.com/library/journalarticle.asp?article_id=755899.
6. Pearce, Evelyn C., Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama. 2006. Hal 89
7. Philips W. Ballinger, M.S., R.T.(R). (1995), Merrills Atlas of Radiographic
Positions and Radiologic Prosedures. Ohio : Mosby-Year Book.
8. Apley graham and Solomon Louis. Ortopedi Fraktur System Apley; edisi
ketujuh. Jakarta: Widya medika, 1995.
9. Aron B, Walter CO. Vertebral compreesion fractures : treatment and
evaluation (serial online) 2006 ( diakses 10 April 2012); Diunduh dari: URL:
http://bjr.birjournals.org/cgi/reprint/75/891/207.pdf.

22