Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Disusun Oleh :
Lisa Sari (11.2015.297)

Pembimbing :
Dr. Eddi Junaidi Sp.OG, SH, M.Kes

Kepaniteraan Klinik Kebidanan Dan Kandungan


Periode 14 November 2016 s/d 21 Januari 2017
RSAU Dr Esnawan Antariksa
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)
Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebun Jeruk- Jakarta Barat

BAB I
PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia merupakan yang tertinggi bila dibandingkan
dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Penyebab utama kematian ibu secara langsung

adalah perdarahan 28%, eklampsia 24%, dan infeksi 11%, dan penyebab tidak langsung
adalah anemia 51%. Anemia merupakan komplikasi dalam kehamilan yang paling sering
ditemukan.1 Hal ini disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan
bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sumsum tulang. WHO
memperkirakan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di negara maju sebesar 14% dan di
negara berkembang sebesar 51%. Sekitar 75% anemia dalam kehamilan disebabkan oleh
defisiensi gizi. Sering kali defisiensinya bersifat multipel dengan manifestasi yang disertai
infeksi, gizi buruk, atau kelainan herediter. Namun, penyebab mendasar anemia nutrisional
meliputi asupan yang tidak cukup, absorbsi yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi yang
hilang dan kebutuhan yang berlebihan. Faktor nutrisi utama yang mempengaruhi terjadinya
anemia adalah zat besi, asam folat dan vitamin B12.2,3,
Anemia merupakan suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) darah kurang dari
normal. Kadar Hb normal berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin : pada
balita 11 g %, anak usia sekolah 12 g %, wanita dewasa 12 g %, laki-laki dewasa 13 g %, ibu
hamil 11 g %, dan ibu menyusui 12 g %. Umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar Hb
di bawah 11 g/dL atau hematokrit kurang dari 33%. Komplikasi anemia dalam kehamilan
dapat berdampak pada masa kehamilan, persalinan, nifas, maupun pada janin. Anemia pada
ibu hamil diketahui akan berdampak buruk baik bagi kesehatan ibu maupun bayinya. Anemia
merupakan penyebab penting yang melatarbelakangi kejadian morbiditas dan mortalitas,
yaitu kematian ibu pada waktu hamil dan pada waktu melahirkan atau nifas sebagai akibat
dari komplikasi kehamilan. Selain itu, ibu hamil yang menderita anemia juga beresiko
terjadinya perdarahan saat melahirkan. Di samping pengaruhnya kepada kematian dan
perdarahan, anemia pada saat hamil dapat mempengaruhi pertumbuhan janin, berat bayi lahir
rendah, dan peningkatan kematian perinatal. 1,4
Anemia yang sering ditemukan dalam kehamilan adalah anemia defisiensi besi dan
anemia megaloblastik. Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi dalam
makanan untuk memenuhi kebutuhan zat besi ibu yang hamil, kebutuhan zat besi untuk janin
dan plasenta, dan pendarahan post partum. Jadi, cadangan zat besi yang dibutuhkan ibu hamil
minimal lebih dari 500 mg. Perubahan diet dengan konsumsi makanan yang kaya zat besi dan
2

penambahan suplemen zat besi dianjurkan pada ibu hamil. Anemia megaloblastik terjadi
karena kerusakan sintesis DNA yang disebabkan oleh defisiensi nutrisi asam folat atau
vitamin B12. Oleh karena itu, sebagian besar wanita mengonsumsi suplemen folat sebagai
langkah pencegahan defek tuba neural pada janin dan kebanyakan dari suplemen tersebut
merupakan kombinasi dari zat besi dan asam folat. Kedua anemia ini dapat mengakibatkan
berkurangnya produksi heme. Jadi, pengobatan yang diberikan bertujuan untuk meningkatkan
produksi sel darah merah.5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit
(red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam
jumlah yang cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara praktis
anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit atau hitung eritrosit (red
cell count).
Hemoglobin ( Hb ) yaitu komponen sel darah merah yang berfungsi menyalurkan
oksigen ke seluruh tubuh, jika Hb berkurang, jaringan tubuh kekurangan oksigen. Oksigen
diperlukan tubuh untuk bahan bakar proses metabolisme. Zat besi merupakan bahan baku
pembuat sel darah merah. Ibu hamil mempunyai tingkat metabolisme yang tinggi misalnya
untuk membuat jaringan tubuh janin, membentuknya menjadi organ dan juga untuk
memproduksi energi agar ibu hamil bisa tetap beraktifitas normal sehari hari. Fungsi Hb
merupakan komponen utama eritrosit yang berfungsi membawa oksigen dan karbondioksida.
Warna merah pada darah disebabkan oleh kandungan Hb yang merupakan susunan
protein yang komplek yang terdiri dari protein, globulin dan satu senyawa yang bukan protein
yang disebut heme. Heme tersusun dari suatu senyawa lingkar yang bernama porfirin yang
bagian pusatnya ditempati oleh logam besi (Fe). Jadi heme adalah senyawa-senyawa porfirinbesi, sedangkan hemoglobin adalah senyawa komplek antara globin dengan heme. Anemia
pada kehamilan adalah suatu keadaan ibu hamil apabila pada Trimester I & III kadar Hb <
11 gr/dl dan pada Trimester II kadar Hb < 10, 5 gr/dl dalam darah.
EPIDEMIOLOGI
Frekuensi anemia dalam kehamilan di seluruh dunia cukup tinggi yaitu berkisar antara
10-20%. Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia
dalam kehamilan yang penyebabnya merupakan defisiensi zat besi. Di Indonesia angka
anemia menunjukkan nilai yang cukup tinggi yaitu 63,5%. Karena defisiensi gizi memegang
peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat dipahami bahwa frekuensi
anemia dalam kehamilan lebih tinggi di negara berkembang dibandingkan dengan negara
maju. 2,6
Dari keseluruhan anemia dalam kehamilan sekitar 95% merupakan anemia defisiensi
besi. Insidens wanita hamil yang menderita anemia defisiensi besi meningkat. Hal ini
4

menunjukkan keperluan zat besi maternal yang bertambah pada saat kehamilan. Kematian
maternal meningkat oleh karena terjadinya pendarahan post partum yang banyak pada wanita
hamil yang sebelumnya memang sudah menderita anemia.
ETIOLOGI
Etiologi anemia dalam kehamilan terbagi menjadi dua yaitu :
1) Didapatkan (acquired)

Anemia defisiensi besi


Anemia karena kehilangan darah secara akut
Anemia karena inflamasi atau keganasan
Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik
Anemia aplastik7

2) Herediter

Thalasemia
Hemoglobinopati lain
Hemoglobinopati sickle cell
Anemia hemolitik herediter7
Anemia disebabkan oleh penurunan produksi darah yaitu hemopoetik, peningkatan

pemecahan sel darah (hemolitik), atau kehilangan darah yaitu hemoragik. Dalam kehamilan,
anemia yang sering ditemukan adalah anemia hemopoetik yaitu karena kekurangan zat besi
(anemia defisiensi besi), asam folat (anemia megaloblastik), dan protein.8
PATOFISILOGI
Kehamilan selalu berhubungan dengan perubahan fisiologis yang berakibat
peningkatan volume cairan dan sel darah merah serta penurunan konsentrasi protein pengikat
gizi dalam sirkulasi darah, begitu juga dengan penurunan gizi mikro. Peningkatan produksi
sel darah merah ini terjadi sesuai dengan proses perkembangan dan pertumbuhan masa janin
yang ditandai dengan pertumbuhan tubuh yang cepat dan penyempurnaan susunan organ
tubuh. Adanya kenaikan volume darah pada saat kehamilan akan meningkatkan kebutuhan
zat besi.
Pada trimester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena
peningkatan produksi eritropoetin sedikit, oleh karena tidak terjadi menstruasi dan
5

pertumbuhan janin masih lambat. Sedangkan pada awal trimester kedua pertumbuhan janin
sangat cepat dan janin bergerak aktif, yaitu menghisap dan menelan air ketuban sehingga
lebih banyak kebutuhan oksigen yang diperlukan. Akibatnya kebutuhan zat besi semakin
meningkat untuk mengimbangi peningkatan produksi eritrosit dan rentan untuk terjadinya
anemia, terutama anemia defisiensi besi.7
Konsentrasi hemoglobin normal pada wanita hamil berbeda dengan wanita yang tidak
hamil. Hal ini disebabkan karena pada kehamilan terjadi proses hemodilusi atau pengenceran
darah, yaitu terjadi peningkatan volume plasma dalam proporsi yang lebih besar jika
dibandingkan dengan peningkatan eritrosit. Perubahan hematologi sehubungan dengan
kehamilan, antara lain adalah oleh karena peningkatan oksigen, perubahan sirkulasi yang
makin meningkat terhadap plasenta dan janin, serta kebutuhan suplai darah untuk pembesaran
uterus, sehingga terjadi peningkatan volume darah yaitu peningkatan volume plasma dan sel
darah merah. Namun, peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar
sekitar tiga kali lipat jika dibandingkan dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi
penurunan konsentrasi hemoglobin akibat hemodilusi. Hemodilusi berfungsi agar suplai
darah untuk pembesaran uterus terpenuhi, melindungi ibu dan janin dari efek negatif
penurunan venous return saat posisi terlentang, dan melindungi ibu dari efek negatif
kehilangan darah saat proses melahirkan.9,10
Hemodilusi dianggap sebagai penyesuaian diri yang fisiologi dalam kehamilan dan
bermanfaat bagi wanita untuk meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat
dalam masa hamil, karena sebagai akibat hypervolemia cardiac output meningkat. Kerja
jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga
tekanan darah tidak meningkat. Secara fisiologis, hemodilusi ini membantu maternal
mempertahankan sirkulasi normal dengan mengurangi beban jantung. 9,10
Ekspansi volume plasma dimulai pada minggu ke-6 kehamilan dan mencapai
maksimum pada minggu ke-24 kehamilan, tetapi dapat terus meningkat sampai minggu ke37. Volume plasma meningkat 45-65 % dimulai pada trimester II kehamilan, dan maksimum
terjadi pada bulan ke-9 yaitu meningkat sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm
serta kembali normal tiga bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma
seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldosteron. 9,10
Volume plasma yang terekspansi menurunkan hematokrit, konsentrasi hemoglobin
darah, dan hitung eritrosit, tetapi tidak menurunkan jumlah absolut Hb atau eritrosit dalam
sirkulasi. Penurunan hematokrit, konsentrasi hemoglobin, dan hitung eritrosit biasanya
6

tampak pada minggu ke-7 sampai ke-8 kehamilan, dan terus menurun sampai minggu ke-16
sampai ke-22 ketika titik keseimbangan tercapai.
Sebab itu, apabila ekspansi volume plasma yang terus-menerus tidak diimbangi
dengan peningkatan produksi eritropoetin sehingga menurunkan kadar Ht, konsentrasi Hb,
atau hitung eritrosit di bawah batas normal, timbullah anemia. Umumnya ibu hamil
dianggap anemia jika kadar hemoglobin di bawah 11 g/dl atau hematokrit kurang dari 33 %.
MANIFESTASI KLINIS
Kekurangan Asam
Folat

Kekurangan Protein

Kekurangan zat besi

Berkurang
pembentukan dan
terjadinya kelainan
sel darah merah

Berkurang
pembentukan
hemoglobin

Berkurang
pembentukan tissue
respiratory enzymes

Anemia
Megaloblastik

Anemia Defisiensi
Besi

Defisiensi
penggunaan oksigen

Defisiensi pengangkutan
oksigen di dalam darah

Gejala Klinis
Anemia

Gejala klinis dari anemia bervariasi, bergantung pada tingkat anemia yang diderita.
Berdasarkan gejala klinis anemia dapat dibagi menjadi anemia ringan, sedang dan berat.
Tanda dan gejala klinisnya adalah :
a) Anemia ringan : adanya pucat, lelah, anoreksia, lemah, lesu dan sesak.
b) Anemia sedang : adanya lemah dan lesu, palpitasi, sesak, edema kaki, dan tanda
malnutrisi seperti anoreksia, depresi mental, glossitis, ginggivitis, emesis atau diare.
c) Anemia berat: adanya gejala klinis seperti anemia sedang dan ditambah dengan tanda
seperti demam, luka memar, stomatitis, koilonikia, pika, gastritis, thermogenesis yang
terganggu, hepatomegali dan splenomegali bisa membawa seorang dokter untuk
mempertimbangkan kasus anemia yang lebih berat.3,6
DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis anemia dalam kehamilan dibutuhkan anamnesis yang
akan diperoleh keluhan berupa pucat, lelah, anoreksia, lemah, lesu, sesak, berdebar-debar,
muntah-muntah, diare. Selain itu dari pemeriksaan fisis dapat ditemukan edema kaki, tanda
7

malnutrisi seperti anoreksia, glossitis, ginggivitis, stomatitis, koilonikia, pika, gastritis,


termogenesis yang terganggu, penyakit kuning, hepatomegali dan splenomegali sesuai
dengan derajat anemia yang diderita. 1,3
Pemeriksaan penunjang dan pengawasannya dapat dilakukan dengan alat sahli. Hasil
pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
a) Anemia ringan

: Hb 10 11 gr%

b) Anemia sedang

: Hb 7 10 gr%

c) Anemia berat

: Hb < 7 gr%. (1)

Pada pemeriksaan laboratorium berupa indeks sel darah merah membantu


menentukan ada tidaknya kelainan abnormal pada sel darah merah. Pemeriksaan hemoglobin
atau hematokrit harus diulang saat trimester ketiga (lebih kurang 28 sampai 32 minggu) dan
lebih sering jika diindikasikan.
PEMBAGIAN ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Berbagai macam pembagian anemia dalam kehamilan telah banyak dikemukakan.
Penyebab anemia tersering adalah karena defisiensi zat-zat nutrisi. Seringkali defisiensinya
bersifat multipel dengan manifestasi klinik yang disertai infeksi, gizi buruk, atau kelainan
herediter seperti hemoglobinopati. Namun, penyebab mendasar anemia nutrisional meliputi
asupan yang tidak cukup, absorpsi yang tidak adekuat, bertambahnya zat gizi yang hilang,
kebutuhan yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi nutrisi hemopoietik. Sekitar 75 % anemia
dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi zat besi yang memperlihatkan gambaran eritrosit
mikrositik hipokrom pada apusan darah tepi. Penyebab tersering kedua adalah anemia
megaloblastik yang dapat disebabkan oleh defisiensi asam folat atau vitamin B12. Penyebab
anemia lainnya yang jarang ditemui antara lain adalah hemoglobinopati, proses inflamasi,
toksisitas zat kimia, dan keganasan.6
Anemia yang akan dibahas kali ini adalah anemia yang sering ditemukan di Indonesia
yaitu anemia defisiensi besi dan anemia megaloblastik.6

ANEMIA DEFISIENSI BESI


Anemia dalam kehamilan yang paling sering ditemukan adalah anemia akibat
kekurangan zat besi. Kekurangan ini dapat disebabkan :
8

Kurang intake unsur zat besi dalam makanan.


Gangguan absorpsi zat besi : muntah dalam kehamilan mengganggu absorpsi,
peningkatan pH asam lambung, kekurangan vitamin C atau dikonsumsi bersama
kandungan fosfat (sayuran), tanin (teh dan -kopi), polyphenol (coklat, teh, dan kopi),

dan kalsium (susu dan produk susu).


Kebutuhan besi yang meningkat
Banyaknya zat besi keluar dari tubuh : perdarahan.7,10
Kebutuhan zat besi bertambah selama kehamilan, seiring dengan bertambahnya usia

kehamilan. Peningkatan penggunaan zat besi yang diabsorpsi di dalam tubuh meningkat dari
0.8mg/hari di awal kehamilan hingga 7.5mg/hari pada trimester akhir. Zat besi yang rata-rata
dibutuhkan untuk wanita hamil adalah 800mg, 300 mg adalah untuk janin dan plasenta, dan
500 mg ditambahkan untuk hemoglobin ibu. Hampir 200 mg zat besi hilang saat perdarahan
persalinan dan post partum. Jadi penyimpanan zat besi yang minimal di dalam tubuh pada
wanita hamil adalah lebih dari 500 mg di awal kehamilan. Apabila zat besi tidak ditambah
dalam kehamilan, maka mudah terjadi anemia defisiensi zat besi, terutama pada kehamilan
kembar, multipara, kehamilan yang sering dalam jangka waktu yang singkat dan vegetarian.
Di daerah tropis, zat besi lebih banyak keluar melalui keringat dan kulit. Suplemen zat besi
setiap hari yang dianjurkan tidak sama untuk berbagai negara.
Hampir semua kebutuhan zat besi terjadi pada paruh kedua kehamilan, ketika
pembentukan organ janin terjadi. Rata-rata, kebutuhan besi harian adalah antara 6 dan 7 mg
dibandingkan dengan 1 mg / hari dalam kondisi fisiologis normal. Selama 6 sampai 8 minggu
terakhir kehamilan, kebutuhan meningkat hingga 10 mg / hari. Meskipun penyerapan zat besi
yang meningkat secara substansial selama kehamilan dan cukup pada pemenuhan zat besi
wanita yang sehat, itu gagal untuk memenuhi kebutuhan pemakaian zat besi wanita hamil.
Pada wanita yang memasuki kehamilan dengan cadangan zat besi rendah, suplemen zat besi
sering gagal untuk mencegah kekurangan zat besi. Lebih jauh lagi, kondisi seperti implantasi
plasenta yang abnormal dapat menyebabkan kehilangan darah kronis dan meningkatkan
kebutuhan zat besi selama kehamilan.2
Sehubungan dengan periode postpartum, peningkatan volume plasma selama
kehamilan yang secara proporsional lebih tinggi dari peningkatan massa sel darah merah
darah menghasilkan hemodilusi yang fisiologis. Akibatnya, ibu dilindungi dari hilangnya sel
darah merah selama perdarahan yang berhubungan dengan persalinan. Namun, 5% dari
persalinan disertai dengan kehilangan darah >1 L, dan gejala anemia sehingga harus

ditransfusi darah.2,3 Perdarahan menahun yang menyebabkan kehilangan besi atau kebutuhan
besi yang meningkat akan dikompensasi tubuh sehingga cadangan besi makin menurun.(10)
Jika cadangan besi menurun, keadaan ini disebut keseimbangan zat besi yang negatif,
yaitu tahap deplesi besi (iron depleted state). Keadaan ini ditandai oleh penurunan kadar
feritin serum, peningkatan absorpsi besi dalam usus, serta apusan besi dalam sumsum tulang
negatif. Apabila kekurangan besi berlanjut terus maka cadangan besi menjadi kosong sama
sekali, penyediaan besi untuk eritropoesis berkurang sehingga menimbulkan gangguan pada
bentuk eritrosit tetapi anemia secara klinis belum terjadi. Keadaan ini disebut sebagai iron
deficient erythropoiesis. Pada fase ini kelainan pertama yang dijumpai adalah peningkatan
kadar free protophorphyrin atau zinc protophorphyrin dalam eritrosit. Saturasi transferin
menurun dan kapasitas ikat besi total (total iron binding capacity = TIBC) meningkat, serta
peningkatan reseptor transferin dalam serum. Apabila penurunan jumlah besi terus terjadi
maka eritropoesis semakin terganggu sehingga kadar hemoglobin mulai menurun. Akibatnya
timbul anemia mikrositik hipokrom, disebut sebagai anemia defisiensi besi (iron deficiency
anemia).11
Gejala klinis anemia defisiensi besi adalah pucat, lemah, lesu, anoreksia, sesak, nyeri
kepala, berdebar-debar, rambut halus dan rapuh, koilonikia, atropi papila lidah dan stomatitis.
Pucat ditemukan di mukosa membran, konjungtiva, kuku, dan telapak tangan. Pada kasus
yang berat, ditemukan takikardia dan takipnea.4
Penegakan diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciriciri yang khas bagi defisiensi besi. Menggunakan pemeriksaan apusan darah tepi dapat
ditemukan mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan
ciri-ciri khas itu, bahkan banyak yang bersifat normositer dan normokrom. Hal itu disebabkan
karena defisiensi besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folat. Sifat lain yang khas
bagi defisiensi besi adalah kadar zat besi serum rendah, ferritin yang rendah, daya ikat zat
besi serum tinggi, protoporfirin eritrosit tinggi, reseptor transferin yang meningkat, dan tidak
ditemukan hemosiderin dalam sumsum tulang.
Apabila pada pemeriksaan kehamilan hanya hemoglobin yang diperiksa dan Hb
kurang dari 10gr/dl, maka wanita dapat dianggap sebagai menderita anemia defisiensi besi,
baik yang murni maupun yang dimorfis, karena tersering anemia dalam kehamilan adalah
anemia defisiensi besi. Nilai Hb yang kurang dari 10g/dl dianggap sebagai anemia defisiensi
besi yang ringan, sedangkan Hb yang kurang dari 8g/dl dianggap sebagai anemia defisiensi
besi berat.2,10

10

Tabel 1. Diagnosis anemia defisiensi besi


Terapi zat besi oral terbukti efektif dalam memperbaiki anemia defisiensi besi pada
banyak kasus. Kemanjurannya mungkin, namun terbatas pada banyak pasien karena dosis
bergantung pada efek samping, kurangnya kepatuhan dan penyerapan zat besi yang tidak
cukup di duodenum. Juga harus dicatat bahwa meskipun ada bukti yang mendukung
perbaikan parameter status hematologi dan besi dengan suplementasi besi oral, data pada
peningkatan berat lahir dan berkurangnya kelahiran premature masih kurang.2,3
Pemberian suplementasi besi setiap hari pada ibu hamil sampai minggu ke-28
kehamilan pada ibu hamil yang belum mendapat besi dan nonanemik (Hb <11g/dl dan ferritin
> 20 g/l) menurunkan prevalensi anemia dan bayi berat lahir rendah.12
Menurut Depkes RI (1999), tablet zat besi diberikan pada ibu hamil sesuai dengan
dosis dan cara yang ditentukan yaitu:
Dosis pencegahan
Diberikan pada kelompok sasaran tanpa pemeriksaan Hb. Dosisnya yaitu 1 tablet
(60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat) berturut-turut selama minimal 90 hari
masa kehamilan mulai pemberian pada waktu pertama kali ibu memeriksa
kehamilannya.
Dosis Pengobatan
Diberikan pada sasaran (Hb < ambang batas) yaitu bila kadar Hb<11gr%
pemberian menjadi 3 tablet sehari selama 90 hari kehamilannya.
Pada beberapa orang, pemberian tablet zat besi dapat menimbulkan gejala-gejala
seperti mual, nyeri didaerah lambung, kadang terjadi diare dan sulit buang air besar, pusing
bau logam. Selain itu setelah mengkonsumsi tablet tersebut, tinja akan berwarna hitam,
namun hal ini tidak membahayakan. Frekuensi efek samping tablet zat besi ini tergantung
pada dosis zat besi dalam pil, bukan pada bentuk campurannya. Semakin tinggi dosis yang
11

diberikan maka kemungkinan efek samping semakin besar. Tablet zat besi yang diminum
dalam keadaan perut terisi akan mengurangi efek samping yang ditimbulkan tetapi hal ini
dapat menurunkan tingkat penyerapannya.
Terapi parenteral hanya diberikan apabila terdapat kontraindikasi dengan terapi oral.
Zat besi parenteral diberikan dalam bentuk ferri secara intramuskular dapat disuntikkan
dekstran besi Imferon atau sorbitol besi. Hasilnya lebih cepat dicapai, hanya penderita merasa
nyeri di tempat suntikan. Akhir-akhir ini Imferon banyak pula diberikan dengan infus dalam
dosis total antara 1000-2000 mg unsur zat besi sekaligus, dengan hasil yang sangat
memuaskan.9,10
Walaupun zat besi intravena dan dengan infus kadang-kadang menimbulkan efek
samping, namun apabila ada indikasi yang tepat, maka cara ini dapat dilakukan. Efek
sampingnya lebih kurang dibandingkan dengan transfusi darah. Transfusi darah sebagai
pengobatan anemia dalam kehamilan sangat jarang diberikan walaupun hemoglobinnya
kurang dari 6gr/dL apabila tidak terjadi perdarahan. Darah secukupnya harus tersedia selama
persalinan, yang segera harus diberikan apabila terjadi perdarahan yang lebih dari biasa,
walaupun tidak lebih dari 1000 ml. Makanan kaya zat besi yang dianjurkan untuk ibu hamil
seperti daging sapi (besi dalam hemoglobin dan mioglobin), daging ayam dan ikan (besi
dalam mioglobin), sayuran hijau dan kacang-kacangan (kaya zat besi dan asam folat).10
TERAPI PREPARAT BESI IV
Terdapat 3 jenis terapi dengan preparat besi IV, yaitu:
1. Iron Sucrose (Venofer, Vifor Pharma)
2. Iron Dextran (CosmoFer, Vitaline Pharma)
3. Ferric Carboxymaltose (FCM, Ferinject, Vifor Pharma)
INDIKASI:
Preparat besi intravena diindikasikan untuk pengobatan defisiensi zat besi pada situasi
berikut ini:

Menunjukkan intoleransi penggunaan zat besi oral


Terjadi kebutuhan klinis untuk mengantarkan dengan cepat preparat besi untuk

mengisi cadangan besi


Penyakit radang usus aktif di mana penggunaan zat besi oral tidak dapat ditoleransi

atau dikontraindikasikan
Pasien yang tidak patuh dengan terapi zat besi oral.12

12

Zat besi oral tidak boleh diberikan bersamaan dengan penggunaan besi IV . Dapat
diberikan dengan jangka waktu 5 hari setelah terapi terakhir penggunaan preparat besi IV.12
KONTRAINDIKASI:

Anemia yang tidak disebabkan oleh kekurangan zat besi

Iron Overload

Riwayat hipersensitivitas terhadap preparat besi parenteral

Riwayat sirosis hati

Trimester pertama kehamilan

Gagal ginjal akut

Pasien dengan riwayat asma yang parah, eksim atau alergi atopik lainnya

1. IRON SUCROSE
Pada jalur metabolisme besi, kenaikan jumlah retikulosit akan terjadi selama minggu
kedua dan setelah itu, tidak terjadi kenaikan yang berlebihan, diharapkan terjadi kenaikan
hemoglobin sekitar 1.5g / minggu.12
Dosis Test penggunaan:

Tabel 2. Penggunaan Dosis Test Pada Venofer12


Dosis selanjutnya:
Dosis berikutnya dapat diberikan 15 menit ( 100mg ) atau 30 menit ( 200mg ).

13

Tabel 3. Penggunaan Dosis Lanjutan12


Terapi pada trisemester 2 dan 3:

Bagan 1. Penggunaan IV Venofer 12


Efek samping :

Reaksi anafilaktik yang tidak serius (Jarang)

Hipotensi
14

Demam, mual dan menggigil

Reaksi di tempat suntikan

Manajemen efek samping

Reaksi anafilaksis atau alergi yang serius:hentikan infus / IM, pemberian adrenalin,
tindakan resusitasi.

Reaksi alergi ringan : hentikan infus dan pemberian antihistamin.

Episode Hipotensi dapat terjadi jika pemberian terlalu cepat: Kurangi waktu infus.

2. IRON DEXTROSE
Protokol iron dextran
Indikasi :
Pengobatan anemia defisiensi besi pada pasien yang tidak dapat mengabsorbsi zat
besi secara oral.
Kontraindikasi :

Hipersensitif pada iron dextran complex


Digunakan secara berhati-hati pada penderita dengan asma, gangguan
hepar dan arthritis rheumatoid.

Dosis :
Tes Dosis :

0,5 mL i.v/i.m untuk permulaan terapi


Untuk i.v dosis, dilusi 25mg/0,5 mL dalam 50 mL isotonic saline solution
dan infus sekitar 15 menit.

Protokol iron dextran


Sediakan epinefrine di samping penderita. Observasi penderita selama 30
menit untuk melihat ada tidaknya reaksi anafilaktik.
Dosis (mL) :

0,0476 x berat badan (kg) x (14,8 observasi Hgb) + (1mL/5kg hingga

maksimum 14mL untuk penyimpanan zat besi)


Dosis maksimum i.v = 3000mg (60 mL)
Dilusi jumlah dosis di dalam 250-1000mL isotonic saline solution. Volume

yang sering digunakan 500mL


Konsentrasi maksimum = 50 mg/mL
Infus selama 1-6 jam (kecepatan tidak lebih dari 50mg/min). Batas waktu

15

infus yang sering digunakan sekitar 2-3 jam. Observasi pasien untuk
25mL yang pertama untuk mengobservasi ada tidaknya reaksi alergik.
Jangan menambah iron dextran pada total nutrisi parenteral.
Efek samping:

Kardiovaskular : flushing, hipotensi, kolaps kardiovaskular (<1%)


Sistem saraf Pusat : pusing, demam, nyeri kepala (>10%),

menggigil(<1%)
Dermatologik : urtikaria, flebitis (<1%), kelainan pewarnaan pada kulit

(hipopigmentasi, hiperpigmentasi).
Gastrointestinal : nausea, muntah, rasa metalik, perubahan warna pada urin

(1-10%)
Respiratori : diaphoresis (>10%).

Catatan : diaphoresis, urtikaria, demam, menggigil dan pusing mungkin timbul


24-48 jam pertama setelah diberikan i.v dan 3-4 hari setelah

i.m. Reaksi

anafilaktik terjadi dalam menit-menit pertama setelah disuntik.


Observasi : Tekanan darah setiap 5 menit selama tes dosis. Lihat reaksi alergik
dan efek samping 3-4 hari pertama. Cek hemoglobin dan retikulosit.
3. FERRIC CARBOXYMALTOSE
Indikasi:

Memperbaiki anemia defisiensi besi ketika sediaan oral / IM tidak efektif atau tidak

dapat digunakan.
Mengisi / mempertahankan cadangan besi saat dilakukan terapi erythropoietin.
Mengurangi kebutuhan transfusi darah berulang.

Kontraindikasi:

Riwayat hipersensitivitas terhadap Ferri Carboxymaltose.


Di bawah usia 14 tahun
Hamil pada trimester pertama
Anemia bukan karena defisiensi zat besi
Iron Overload atau gangguan dalam penggunaan zat besi dalam tubuh
Septik

Pencampuran Ferric Carboxymaltose:

16

Tabel 4. Pencampuran Ferric Carboxymaltose


Dosis Penggunaan:

Perhitungan dosis kumulatif pada trimester kedua atau ketiga kehamilan harus
didasarkan pada berat badan sebelum kehamilan.

Dosis pemberian zat besi kumulatif lebih besar dari 1000mg harus dibagi menjadi dua
dosis, diberikan setidaknya dibagi per satu minggu.
-

Dosis hingga 20mg besi / kg berat badan ( maksimum besi 1000mg ) dapat
diberikan sebagai dosis tunggal

Maksimal 1000mg besi dapat diberikan per minggu

Efek Samping:

Mual ( 3.1 % )
Hipofosfatemia ( 1,9 % )
Reaksi pada tempat injeksi ( 1,6 % )
Sakit kepala ( 1.4 % )
hipertensi ( 1,3 % )
Pusing ( 1.2 % )

ANEMIA MEGALOBLASTIK

17

Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat


(pterolyglutamic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanocobalamin). Asam
folat merupakan vitamin larut air yang sumbernya dari daging, hati, kacang-kacangan dan
sayuran hijau. Penyimpanan asam folat pada tubuh adalah di hepar. Berbeda dari Eropa dan
di Amerika Serikat frekuensi anemia megaloblastik dalam kehamilan cukup tinggi di Asia.
Hal itu erat hubungannya dengan defisiensi gizi di negara yang berkembang. Anemia
megaloblastik sering ditemukan pada multipara yang berusia lebih dari 30 tahun, atau
individu dengan diet tidak adekuat (intake asam folat yang kurang). Faktor lain yang
menyebabkan terjadinya anemia megaloblastik adalah pasien yang mempunyai riwayat
penyakit seperti preeklampsia, eklampsia, sickle cell anemia, dan pasien yang masih dalam
pengobatan epilepsi (primidone atau fenitoin).6,10
Asam folat diperlukan untuk sintesa DNA di dalam tubuh, karena itu diperlukan
kebutuhan asam folat maksimum saat jaringan janin dibentuk. Defisiensi asam folat terjadi
disebabkan:
a) Intake yang kurang : diet yang kurang asam folat, muntah dalam kehamilan
b) Penggunaan asam folat meningkat : kebutuhan saat hamil bertambah, kecepatan
pertumbuhan janin, plasenta dan jaringan uterus.
Turunnya kadar hemoglobin tidak terjadi sampai habisnya simpanan folat, yaitu
sekitar 90 hari. Gejala klinis termasuk lesu, anoreksia, glossitis, ginggivitis, emesis atau diare
biasa terjadi.6
Diagnosis anemia megaloblastik ditegakkan apabila ditemukan megaloblas atau
promegaloblas dalam darah atau sumsum tulang. Sifat khas anemia megaloblastik dari apusan
darah tepi adalah makrositer dan hiperkrom yang tidak selalu dijumpai, kecuali bila
anemianya sudah berat. Perubahan-perubahan dalam leukopoesis, seperti hipersegmentasi
granulosit dan polimorfonuklear yang merupakan petunjuk bagi defisiensi asam folat.
Defisiensi asam folat sering berdampingan dengan defisiensi besi dalam kehamilan. Standar
baku emas untuk penegakan diagnosis anemia megaloblastik adalah dengan pemeriksaan
kadar serum folat absorption test dan clearance test asam folat.10
Pada pengobatan anemia megaloblastik dalam kehamilan sebaiknya diberikan terapi
oral asam folat bersama-sama dengan zat besi. Tablet asam folat diberikan dalam dosis 510mg/hari. Anemia megaloblastik jarang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12. Apabila
anemia megaloblastik disebabkan oleh defisiensi vitamin B12, diberikan dosis terapi oral
minimum 6-9mg/hari. Karena anemia megaloblastik dalam kehamilan pada umumnya berat,

18

maka transfusi darah kadang-kadang diperlukan apabila kehamilan masih preterm atau
apabila pengobatan dengan berbagai obat penambah darah bisa tidak berhasil.6,10
KOMPLIKASI
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh yang kurang baik bagi ibu, baik dalam
kehamilan, persalinan maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Berbagai penyulit dapat
timbul akibat anemia seperti :
1) Pengaruh anemia terhadap kehamilan
a) Abortus (keguguran)
b) Persalinan prematurus
c) Gangguan pertumbuhan janin dalam rahim
d) Ancaman dekompensasi kordis (Hb< 6 gr%)
e) Molahidatidosa
f) Mudah terjadi infeksi
g) Hiperemesis gravidarum
h) Perdarahan sebelum persalinan
2) Pengaruh anemia terhadap persalinan
a) Gangguan his Inersia Uteri PTM ( Partus Tak Maju)
b) Ketuban pecah dini
c) Kala II dapat berlangsung lama dan partus lama
d) Kala uri dapat diikuti retensio plasenta.
3) Pengaruh anemia pada saat nifas
a) Terjadi sub involusi uteri menimbulkan pendarahan post partum
b) Memudahkan infeksi puerpuerium
c) Pengeluaran ASI berkurang
d) Terjadinya dekompensasi kordis.
4) Pengaruh anemia terhadap janin
a) Kematian janin dalam kandungan
b) Berat bayi lahir rendah
c) Kelahiran dengan anemia
d) Cacat bawaan
19

e) Mudah terinfeksi sampai kematian perinatal


f) Inteligensi rendah.
PROGNOSIS
Prognosis anemia defisiensi besi dalam kehamilan umumnya baik bagi ibu dan anak.
Persalinan dapat berlangsung seperti biasa tanpa pendarahan banyak atau komplikasi lain.
Anemia berat meningkatkan morbiditas dan mortalitas wanita hamil. Walaupun bayi yang
dilahirkan dari ibu yang menderita anemia defisiensi besi tidak menunjukkan hemoglobin
(Hb) yang rendah, namun cadangan zat besinya kurang, yang baru beberapa bulan kemudian
tampak sebagai anemia infantum.10
Anemia megaloblastik dalam kehamilan mempunyai prognosis cukup baik tanpa
adanya infeksi sistemik, preeklampsia atau eklampsia. Pengobatan dengan asam folat hampir
selalu berhasil. Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa
pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan
karena dengan lahirnya anak kebutuhan asam folat jauh berkurang. Anemia megaloblastik
berat dalam kehamilan yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk. Angka kematian bagi
ibu mendekati 50% dan bagi janin 90%.6,10

20

BAB III
KESIMPULAN
Anemia dalam kehamilan memberi resiko pada ibu dan janin sehingga setiap wanita
hamil perlu diberi sulfas ferrosus atau glukonas ferrosus, cukup 1 tablet sehari. Selain itu,
wanita dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi protein serta sayuran yang
mengandung banyak mineral dan vitamin. Pada umumnya asam folat tidak diberikan secara
rutin, kecuali di daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi. Apabila
pengobatan anemia dengan zat besi tidak memberikan hasil yang memuaskan, maka harus
ditambah dengan asam folat.
Anemia megaloblastik dalam kehamilan mempunyai prognosis cukup baik tanpa
adanya infeksi sistemik, preeklampsia atau eklampsia. Pengobatan dengan asam folat hampir
selalu berhasil. Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa
pengobatan, maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan
karena dengan lahirnya anak kebutuhan asam folat jauh berkurang. Anemia megaloblastik
berat dalam kehamilan yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk. Angka kematian bagi
ibu mendekati 50% dan bagi janin 90%.
Anemia dapat berpengaruh terhadap kehamilan, saat persalinan, masa nifas serta pada
janin, maka dari itu diharapkan penanganan yang baik dan kesadaran dari ibu untuk selalu
memeriksakan kehamilannya dan mepelajari faktor faktor yang dapat beresiko bagi
kehamilan.

21

DAFTAR PUSTAKA
1

Nasution R. Hubungan tingkat pendidikan dan status ekonomi dengan kejadian


anemia pada ibu hamil di wilayah kerja UPTDK Puskesmas Desa Barutahun 2011.

http://rustonnasution.files.wordpress.com/2012/03/bab-i-v-final.pdf.
Wijanti RE, Rahmaningtyas I, dan Widari D. Hubungan pola makan ibu hamil
trimester III dengan kejadian anemia. Dalam: Tunas-tunas Riset Kesehatan Volume II
Nomor 2 bulan Mei 2012. http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/22128590_2089-

4686.pdf.
Sutkin G, Isada N.B, Stewart M, Powell S. Hematologic complications. In: Evans
A.T, Seigafuse S, Shaw R. et al, eds. Manual of obstetrics. 7 th edition. Texas :

Lippincott Williams & Wilkins, 2007; 328-31.


Cunningham F.G, Hauth J.C, Bloom S.L, Leveno K.J et al. Hematological disorders.
In : William obstetrics. 22nd edition. New York : Mc-Graw Hill Medical Publishing

Division, 2005; 1143-8.


Hanretty K.P. Systemic diseases in pregnancy. In : Hanretty K.P, Ramsden I,
Callander R, eds. Obstetrics illustrated. 6th edition. London : Churchill Livingstone,

2003; 137-41.
Pernoll M.L. Medical and surgical complications during pregnancy :Hematologic
disorders. In : Benson & Pernolls handbook of obstetrics &gynecology. 10 th edition.

New York : McGraw-Hill Medical Publishing Division, 2001; 435-8


Tristiyanti WF. Faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil status di
kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bogor : Prodi Gizi Masyarakat

dan Sumber Daya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.


Szymanski L.M, Mumuney A.A. Hematologic disorders of pregnancy. In: Fortner
K.B, Szymanski L.M, Fox H.E, Wallach E.E et al, eds. The Johns Hopkins manual of
gynecology and obstetrics. 3rd edition. Maryland : Lippincott Williams & Wilkins,

2007; 216.
Pitkin J, Peattie A.B, Magowan B.A. Anemia in pregnancy. In : Obstetrics and
gynaecology, an illustrated colour text. 1st edition. London : Churchill Livingstone,

10

2003; 32-3.
Hudono S.T. Penyakit darah. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin A.B, Rachimhadhi T,
eds. Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono

11

Prawirohardjo, 2006; 448, 450-7.


Weiner C.P, Oh C. Coagulation and hematological disorders of pregnancy. In : Reece
E.A, Hobbins J.C, GantN.F, eds. Clinical obstetrics, the fetus & mother. 3 rd edition.

1)

Massachusetts : Blackwell Publishing, 2007; 849-51.


Anonim, 2008. Protocol for the use of iv iron sucrose.
22

http://www.transfusionguidelines.org/document-library/documents/protocol-for-theuse-of-iv-iron-sucrose/download-file/rtc-eeng_protocol_iv_iron_sucrose.pdf.

23