Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM GRAVITY

PEMISAHAN ANOMALI REGIONAL DAN LOKAL

Oleh :

PAULUS FEBRIANTO PANDU WIBOWO


115.150.021
KELOMPOK 06

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI


PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM GRAVITY
PENGOLAHAN DATA ABL

Laporan ini disusun sebagai syarat mengikuti acara Praktikum Gravity


selanjutnya, tahun ajaran 2016/2017, Program Studi Teknik Geofisika, Fakultas
Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Disusun oleh :

PAULUS FEBRIANTO PANDU WIBOWO


115.150.021

Yogyakarta, 6 Maret 2017


ACC 1 ACC 2

Asisten Gravity Asisten Gravity

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI


JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis hantarkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus
karena berkat rahmatNya, penulis mampu menyelesaikan Laporan Praktikum
Gravity Pemisahan Anomali Regional dan Lokal ini dengan memuaskan.

Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada pihak keluarga dan pasangan


penulis yang telah memberikan dukungan yang sangat membantu dalam
penyusunan laporan ini. Tidak lupa kepada pihak asisten Laboratorium Gravity dan
rekan-rekan praktikan yang telah berbagi pemahaman dan ilmu dalam segala
kegiatan praktikum.

Penulis mengharapkan kritik dan saran atas laporan yang masih belum
sempurna ini sehingga nantinya dapat dihasilkan laporan yang mumpuni dan layak
dan dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Yogyakarta, 6 Maret 2017

PAULUS FEBRIANTO PANDU WIBOWO

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... vi

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2. Maksud dan Tujuan ................................................................................... 1

BAB II. DASAR TEORI


2.1. Metode Gravity ........................................................................................ 2
2.2. Faktor yang Mempengaruhi Gravitasi ..................................................... 3
2.3. ABL (Anomali Bouguer Lengkap) ........................................................... 4
2.4 Upward Continuation ................................................................................ 5
2.5 Geosoft Oasis Montaj................................................................................. 5

BAB III. METODE PENELITIAN


3.1. Diagram Alir Pengolahan Data ................................................................. 7
3.2. Pembahasan Diagram Alir ........................................................................ 8

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Peta Elevasi ................................................................................................ 9
4.2 Peta Anomali Bouguer Lengkap ................................................................ 11
4.3 Peta Upward Continuation Regional ......................................................... 13
4.4 Peta Upward Continuation Lokal .............................................................. 15

BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan ............................................................................................... 18
5.2. Saran.......................................................................................................... 19

iv
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
LAMPIRAN A: NOTEPAD X,Y,Z PETA ELEVASI
LAMPIRAN B: NOTEPAD X,Y,Z PETA ABL
LAMPIRAN C: PETA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
LAMPIRAN D: LEMBAR KONSUL

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Diagram Alir Pengolahan Data.................................................. 7


Gambar 4.1. Peta Elevasi................................................................................ 9
Gambar 4.3. Peta Anomali Bouguer Lengkap................................................ 11
Gambar 4.2. Peta Upward Continuation Regional ......................................... 13
Gambar 4.3. Peta Upward Continuation Lokal .............................................. 16

vi
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Wahyu dan Staf Asisten Praktikum Gravity. 2017. Buku Panduan
Praktikum Laboratorium Geofisika Eksplorasi Gravity. Yogyakarta: Teknik
Geofisika UPN Veteran Yogyakarta.
Telford, Geldart dan Sherif, 1990, Applied Geophysics, Cambridge University
Press, New York, Melbourne.
LAMPIRAN C
PETA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Geofisika merupakan ilmu yang mampu memberikan gambaran mengenai
keadaan bumi dibawah permukaaan melalui aspek-aspek fisika yang diukur di atas
permukaan. Aspek-aspek yang diukur dapat berupa percepatan gravitasi, nilai
resistivitas, nilai cepat rambat gelombang seismik dan aspek-aspek fisis lainnya.
Gravitasi adalah salah satu metode dalam geofisika dengan mengukur nilai
percepatan gravitasi di permukaan untuk mengetahui persebaran nilai densitas di
bawah permukaan. Metode gravitasi merupakan metode yang tidak memerlukan
usikan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dan sifat pengukurannya regional.
Hasil pengolahan akhir dari metode gravitasi adalah nilai Anomali
Bouguer Lengkap yang menandakan anomali nilai gravitasi pada titik tersebut yang
disampaikan dalam bentuk peta. Dari peta ABL dapat diolah lebih lanjut menjadi
peta Upward Continuation dan peta Residual nilai ABL atau proses filtering. Kedua
peta ini memiliki manfaat masing-masing dalam menggambarkan keadaan bawah
permukaan. Pada peta Upward Continuation akan diberikan nilai anomali secara
regional sedangkan pada peta Residual akan dihasilkan nilai anomali yang bersifat
lokal. Software Oasis Montaj dapat membantu seorang geofisis dalam membuat
peta Upward Continuation dan peta Residual.

1.2. Maksud dan Tujuan


Maksud dari kegiatan praktikum gravitasi acara Filltering adalah supaya
praktikan mampu memahami konsep dan cara melakukan filtering pada nilai ABL
dan kegunaannya dalam menginterpretasi suatu anomali pada daerah penelitian.
Tujuan dari kegiatan praktikum gravitasi acara filtering adalah praktikan dapat
membuat peta ABL dan memfilternya menjadi peta Upward Continuation dan peta
Residual dengan Software Oasis Montaj serta menginterpretasi peta-peta tersebut
dengan mempertimbangkan keadaan geologi dan sifat fisik batuan.

1
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Metode Gravity


Metode gravitasi adalah suatu metode eksplorasi yang mengukuran
medan gravitasi pada kelompok-kelompok titik pada lokasi yang berbeda dalam
suatu area tertentu. Tujuan dari eksplorasi ini adalah untuk mengasosiasikan variasi
dari perbedaan distribusi rapat massa dan juga jenis batuan.
Tujuan utama dari studi mendetil data gravitasi adalah untuk memberikan suatu
pemahaman yang lebih baik mengenai lapisan bawah geologi. Metode gravitasi ini
secara relatif lebih murah, tidak mencemari dan tidak merusak (uji tidak merusak)
dan termasuk dalam metode jarak jauh yang sudah pula digunakan untuk
mengamati permukaan bulan. Metode ini tergolong pasif, dalam arti tidak perlu ada
energi yang dimasukkan ke dalam tanah untuk mendapatkan data sebagaimana
umumnya pengukuran.
Pengukuran metode gravity dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: penentuan
titik ikat dan pengukuran titik-titik gaya berat. Sebelum survei dilakukan perlu
menentukan terlebih dahulu base station, biasanya dipilih pada lokasi yang cukup
stabil, mudah dikenal dan dijangkau. Base station jumlahnya bisa lebih dari satu
tergantung dari keadaan lapangan. Masing-masing base station sebaiknya
dijelaskan secara cermat dan terperinci meliputi posisi, nama tempat, skala dan
petunjuk arah. Base station yang baru akan diturunkan dari nilai gaya berat yang
mengacu dan terikat pada Titik Tinggi Geodesi (TTG) yang terletak di daerah
penelitian. TTG tersebut pada dasarnya telah terikat dengan jaringan Gaya berat
Internasional atau International Gravity Standardization Net.
Pada pekerjaan lapangan, peralatan yang akan dipakai dikalibrasi lebih dulu.
Hal ini dilakukan supaya dihindari kesalahan alat. Secara teoritis kalibrasi dapat
dilakukan dengan tilting, sementara sistem geometri yang presisi dilibatkan. Tetapi
cara ini bukan cara yang biasa. Secara umum kalibrasi dilakukan dengn mengukur
harga suatu tempat yang telah diketahui harga percepatan gravitasinya sehingga
diperoleh harga skalanya (mgal/skala).

2
Setelah kalibrasi alat dilakukan kemudian ditentukan lintasan pengukuran
dan stasiun yang harga percepatan gravitasinya diketahui (diikatkan dengan titik
yang telah diketahui percepatan gravitasinya). Selanjutnya ditentukan loop lintasan
pengukuran dan titik ikat tiap loop pengukuran. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam menentukan titik pengamatan adalah:
Letak titik pengkuran harus jelas dan mudah dikenal misal pada titik
triangulasi, penunjuk kilometer, persimpangan jalan dsb.
Lokasi titik harus dapat dibaca di peta
Titik pengamatan harus bersifat tetap (permanen), mudah dijangkau, bebas
dari ganguan seperti getaran mesin dsb.
Setelah data diperoleh kemudian dilakukan koreksi-koreksi terhadapnya untuk
mendapatkan hasil yang sebenarnya.

2.2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nilai Percepatan Gravitasi


Karena bentuk bumi bukan merupakan bola pejal yang sempurna, dengan
relif yang tidak rata, berotasi serta berrevolusi dalam sistem matahari, tidak
homogen. Dengan demikian variasi gayaberat di setiap titik permukaan bumi akan
dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu :
1. Posisi garis lintang
Bentuk bumi tidaklah bulat sempurna, tetapi lebih mendekati bentuk
spheroid bumi, agak pepat dikutubnya. Akibatnya terdapat variasi radius
bumi selain itu, perbedaan percepatan sentrifugal di kitub dan di equator.
Percepatan sentrifugal maksimum di equator dan nol di kutub. Sehingga
nilai g di kutub lebih besar dibandingkan dengan g di equator.
2. Kedudukan matahari dan bulan terhadap bumi
Harganya berubah setiap waktu secara periodik tergantung dari
kedudukan benda-benda langit tersebut. Besarnya 0.3 mgal dengan
periode 12 jam. Bumi mengalami tarikan maupun dorongan dari posisi
normalnya.
3. Elevasi
Perbedaan ketinggian menyebabkann perbedaan nilai gravitasi.
Permukaan bumi yang lebih tinggi (pegunungan/perbukitan) memiliki nilai

3
gravitasi yang lebih rendah dibandingkan permukaan bumi yang lebih
rendah (lembah).
4. Keadaan topografi di sekitar titik pengukuran
Adanya efek massa di sekitar titik observasi mempengaruhi nilai
gravitasi pada titik pengamatan. Adanya bukit dan lembah di sekitar titik
amat akan mengurangi besarnya gaya berat yang sebenarnya.
5. Variasi rapat massa batuan di bawah permukaan (anomaly/target)
Dengan adanya suatu massa yang berbeda densitas dibawah
permukaan bumi menyebabkan terjadi perbedaan nilai gravitasi pada
permukaan. Nilainya bergantung gaya tarik antar massa yang menandakan
perubahan nilai gravitasi.

2.3 Anomali Bougeur Lengkap


Anomali Bouger absolut (anomali Bougeur lengkap) dapat
dirumuskan sebagai berikut :

ABL= ABS + Koreksi Topografi Sebenarnya (2.1)

Harga anomali Bouguer relatif (Anomali Bouguer Sederhana) sering


digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu yang bersifat lokal, sehingga
tidak perlu mengetahui harga g absolutnya (tidak memerlukan pengikatan pada RGBS).
Pada anomali Bougeur relatif dan absolut (Anomali Bouger Lengkap) hanya berbeda
dalam hal magnitude anomali sebesar suatu faktor yang relatif konstan.
Sedangkan anomali yang akan diinterpretasikan sebagai efek kondisi geologi
adalah anomali Bougeur yang telah dikurangi dengan efek regional yang
ditentunkan dari kecenderungan anomali Bougeur, sehingga dapat dianggap
bahwa anomali Bougeur absolut dan relatif akan menghasilkan pola dan
magnitude yang sama.

4
2.4. Upward Continuation
Dalam penelitian ini proses pemisahan dilakukan dengan metode kontinuasi
ke atas dan kebawah. Metode ini pada dasarnya dipakai untuk menghilangkan efek
lokal sehingga yang didapatkan hanyalah kecenderungan regionalnya. Hasil yang
diperoleh kemudian dikurangkan terhadap anomali medan gravitasi Bougeur
lengkap yang sudah terpapar pada bidang datar sehingga diperoleh anomali medan
gravitasi Bougeur lengkap lokal yang siap diinterpretasi.
Persamaan yang digunakan dalam melakukan kontinuasi ke atas.
Menunjukkan cara penghitungan harga medan potensial pada sembarang titik di
atas permukaan dimana harga-harga medan yang diketahui berada. Prosedur
perhitungan persamaan diatas akan lebih efisien jika dibuat dalam domain Fourier.
Secara sederhana persamaan diatas merupakan konvolusi dua dimensi.

2.5. Geosoft Oasis Montaj


Sistem Pengolahan dan pemetaan Oasis Montaj adalah perangkat lunak inti
dari pengembang Geosoft yang bekerja dengan data spasial pada volume yang besar
dan menyediakan fungsionalitas yang diperlukan untuk menemukan, mengelola,
membayangkan, memanipulasi, menampilkan dan lokasi umum dari data ilmu
bumi.
Oasis Montaj adalah lingkungan yang menyediakan akses langsung dengan
data yang terkandung dalam database oasis melalui sebuah spreadsheet jendela dan
profil yang terintegrasi daam tampilan jendela.Oasis itu adalah sebuah database
tinggi dengan kinerja database yang menyediakan efisien dan akses untuk
penyimpanan data spasial yang sangat besar
Metadata (data tentang data) ditangkap oleh Oasis Montaj dari pertama kali
data tersentuh. Informasi metadata, yang didasarkan pada ISO standar 19115,
disimpan di dalam data (jika didukung) atau sebagai pendamping XML file.
Antarmuka menyediakan tautan Data visual yang memungkinkan Anda
untuk terhubung secara dinamis data dalam Spreadsheet, profil, peta dan ArcGIS
MXD pandangan. DAT teknologi (untuk mengakses Grids dan gambar)
memungkinkan antarmuka menggunakan berbagai format grid dan gambar di Oasis
Montaj.

5
Inti platform Oasis Montaj menyediakan sumber daya dasar untuk semua
aplikasi Geosoft dan alat-alat. Geosoft menyediakan berbagai sistem yang alamat
aplikasi-aplikasi spesifik dalam eksplorasi Geofisika, drillhole geologi, geokimia
eksplorasi dan daerah lain. Sistem ini terdiri dari menu dan sesuai executable
Geosoft (GXs) yang berjalan pada platform inti.
Pemetaan dan penunjukkan sistem pengolahan Oasis Montaj berisi
kumpulan data impor, built-in pengolahan, analisis, visualisasi, pemetaan,
kemampuan dan integrasiSistem ini memungkinkan anda untuk melakukan
pengolahan, kompleks mengedit, pemetaan, dan interpretasi tugas termasuk
kemampuan untuk:
Membuat, mengimpor dan menekspor: peta, database, grid, menyertakan,
MXD file, Gambar, dan profil penciptaan Metadata otomatis.
menciptakan metadata secara otomatis saat anda bekerja dengan data,
menyimpan nama pengguna, tanggal, waktu, dan tindakan
dilakukan.Sebuah xml metadata mereka dan editor memungkinkan akses
mudah ke dalam metadata.
Proses data menggunakan gridding, dan algoritma filter 1d contouring.
Advanced utility grid dan gridding toolkit
Pemetaan 3-dimensi yang mencakup berbagai pilihan untuk
memvisualisasikan data termasuk; menyertakan, beberapa permukaan dan
bagian, masing-masing dengan bantuan sendiri dan isi, dan masing-masing
dengan orientasi sendiri dalam ruang 3D
Desain dan tata letak peta, yang terdiri dari dasar peta, grids, gambar,
anotasi interkoneksi, penamaan-penamaan, warna simbol, simbol multi-
parameter merencanakan, dan tentang benda lain
Alat CAD yang mukhtahir untuk menggambar interpretasi pada peta.
Automate tasks using scripts.

6
BAB III
METODELOGI PENELITIAN

3.1. Diagram Alir Pengolahan Data

Mulai

Data ABL

Software Oasis Montaj

Peta ABL Peta Elevasi

Filtering Upward Continuation

Peta Upward Continuation Regional

Peta Upward Continuation Lokal

Analisis

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Pengolahan Data

7
3.2. Pembahasan Diagram Alir

Tahap pengolahan data-data ABL hingga didapatkan hasil berupa peta


ABL maupun peta hasil filter lainnya akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Input data-data ABL dan koordinatnya (x, y, z) pada Software Oasis Montaj.
2. Buat peta ABL dengan nilai memasukkan nilai koordinat X dan Y serta nilai
ABL nya pada Software Oasisi Montaj, atur layout peta dan plot titik-titik
pengukuran serta buat skala warna nilai ABL pada peta tersebut.
3. Lakukan filtering pada peta ABL dengan menggunakan fitur Upward
Continuation pada Software Oasis Montaj. Tahap filtering sebaiknya
dilakukan berulang kali dengan kelipatan yang sama sehingga dapat dianalisa
perubahannya.
4. Buat peta Upward Continutaion Regional dari hasil filter, lalu atur layout peta
dan plot titik-titik pengukuran pada peta juga sertakan skala warna pada peta
tersebut.
5. Buat peta Upward Continuation Lokal dengan menggunakan fitur grid math
pada Oasis Montaj yakni dengan menghilangkan efek Upward Continuation
Lokal pada nilai ABL. Lalu atur layout, plot titik-titik pengukuran dan beri
skala warnanya.
6. Buat juga peta elevasi dengan menggunakan data koordinat (x, y, z) pada Oasis
Montaj dengan memperhatikan format peta seperti layout, titik pengukuran dan
skala.
7. Lakukan analisa dan pembahasan terhadap seluruh peta yang telah dibuat dan
buat kesimpulannya.

8
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Peta Elevasi

Gambar 4.1 Peta Elevasi

Gambar 4.1 menampilkan peta elevasi daerah penelitian, peta elevasi dapat
menggambarkan kenampakan morfologi daerah penelitian. Pada peta diatas warna
ungu sampai merah menunjukan daerah yang tinggi dengan nilai elevasi dari 260
mdpl hingga 160 mdpl, dari nilai 160 mdpl yang dicirikan dengan warna merah
hingga warna hijau dengan nilai 100 mdpl dianggap sebagai daerah dengan nilai
elevasi sedang dan daerah dengan warna hijau hingga biru yang bernilai 75 mdpl
dianggap sebagai daerah dengan elevasi rendah. Pada peta elevasi dapat terlihat
bahwa daerah utara penelitian terdapat 3 tinggian yang dicirikan dengan 3 klosur
besar berwarna merah, sedangkan di daerah tengah penelitian bernilai rendah yang
dicirikan dengan warna biru.
Peta elevasi dapat digunakan sebagai kontrol dalam penilaian data, daerah
dengan beda elevasi yang cukup besar atau menunjuka daerah curam sangat sulit
dilakukan pengukuran nilai gravitasi karena instrumen yang digunakan tidak dapat
digunakan pada daerah dengan sudut kemiringan yang terlalu besar akibat dari sifat

9
pegas yang tidak stabil. Selain itu peta elevasi juga dapat digunakan untuk menilai
resistensi mineral pada suatu daerah, apabila suatu daerah memiliki nilai elevasi
yang besar, dapat dianggap bahwa mineral pada daerah tersebut resisten terhadap
pelapukan jika dibandingkan daerah lainnya, selain itu dengan peta elevasi dapat
juga digunakan sebagai data pendukung dalam menginterpretasi peta Anomali
Bouguer Lengkap hasil pengukuran metode gravitasi serta sebagai bantuan dalam
memperkirakan adanya gejala-gejala geologi pada daerah penelitian

10
4.2. Peta Anomali Bouguer Lengkap

Gambar 4.2. Peta Anomali Bouguer Lengkap

Gambar 4.2 menampilkan peta anomali bouguer lengkap. Peta ini


merupakan nilai anomali gravitasi pada daerah pengukuran yang telah dilakukan
semua koreksi sehingga peta dapat diinterpretasi. Pada peta diatas nilai ABL pada
daerah penelitian memiliki nilai terendah 72,27125147 mGal pada koordinat
356007mE 9167698mN atau berada pada bagian tenggara daerah penelitian.
Berdasarkan skala warna dari peta anomali bouguer lengkap diatas, warna ungu
hingga merah menunjukkan nilai ABL tinggi berada pada bagian baratdaya daerah
penelitian. Namun, pada bagian timur dan selatan daerah penelitian didominasi
dengan nilai ABL relatif rendah yang digambarkan dengan warna biru.
Penelitian yang berada di daerah Karangsambung menyebabkan interpretasi
peta ABL sangat membutuhkan informasi geologi yang kuat karena daerah
Karangsambung berupa daerah Melange yakni daerah yang memiliki beragam jenis
batuan dari batuan sedimen, batuan beku dan batuan metamorf pada suatu daerah
lokal. Apabila dilihat dari peta ABL diatas terlihat bahwa daerah baratdaya peta
memiliki nilai ABL tertinggi, hal ini sesuai dengan peta geologi (terlampir) yang
menunjukan adanya batuan beku diabas pada daerah tersebut, batuan beku yang

11
merupakan hasil pendinginan langsung dari magma tentunya memiliki nilai
densitas yang tinggi sehingga nilai percepatan gravitasinya pun besar. Dibagian
selatan peta terlihat daerah dengan warna biru yang menunjukan nilai percepatan
gravitasi rendah, hal ini sesuai dengan keadaan dilapangan yakni terdapatnya
batuan sedimen dari Formasi Totogan berdasarkan informasi peta geologi.
Keselarasan antara peta geologi dan peta ABL juga terlihat pada bagian utara daerah
penelitian yang memiliki nilai ABL tinggi, pada peta geologi dijelaskan bahwa
daerah tersebut berupa batuan metamorf yang juga telah mengalami tekanan tinggi
sehingga nilai densitas batuan tersebut akan semakin besar dan berpengaruh
terhadap nilai gravitasi yang terdapat pada daerah tersebut.
Namun, terdapat ketidakselarasan antara peta geologi dan peta ABL, hal ini
dapat terlihat pada daerah timurlaut daerah penlitian. Daerah tersebut memilik nilai
ABL yang rendah, sedangkan pada peta geologi dijelaskan bahwa daerah tersebut
merupakan persebaran batuan metamorf dan batuan beku dari kompleks Luk Ulo
yang berupa basalt, sekis dan filit. Hal ini dapat diperkirakan bahwa batuan pada
daerah tersebut telah mengalami pelapukan, sehingga nilai densitas batuan yang
sebelumnya besar karena terlapukan dan volume batuannya bertambah maka nilai
densitasnya menjadi kecil.

12
4.3. Peta Upward Continuation Regional

Gambar 4.3. Peta Upward Continuation Regional

Gambar 4.3 menampilkan peta Anomali Bouguer Lengkap dan juga peta
Upward Continuation kelipatan 27. Peta Upward Continuation merupakan salah
satu hasil filter dari peta ABL yang dilakukan untuk melihat efek anomali secara
regional. Pada peta Upward Continuation 27 terlihat jelas perubahan nilai ABL
pada sebuah klosur bernilai tinggi (berwarna merah) yang mulai menghilang. Hal
ini menunjukan bahwa nilai pada peta ABL terpengaruh terdapat filter yang
dilakukan. Hal yang sama juga terjadi pada peta Upward Continuation dengan
kelipatan selanjutanya (54, 81,108 dan 138). Dapat dilihat pada peta diatas semakin
besar nilai filter, maka semakin regional nilai yang ditampilkan.

13
Kenampakan yang paling kontras dapat terlihat pada peta Upward
Continuation 27 jika dibandingkan dengan peta Upward Continuation 135. Apabila
dicermati lebih lanjut, semakin besar nilai filter Upward Continuation yang
dilakukan maka semakin besar pula range skala warna pada peta. Hal ini
menunjukkan bahwa filter Upward Continuation regional ini menyajikan nilai
tinggi yang lebih besar dan nilai rendah yang lebih kecil. Apabila dianalisa dari
perubahan tiap-tiap nilai filter, pada nilai filter 108 dan 135 hampir tidak
menunjukan adanya perubahan. Hal ini berarti nilai filter 108 merupakan nilai filter
yang telah stabil dan cocok untuk diinterpretasi pada analisa ABL secara regional.
Pada peta Upward continuation filter 27, sama seperti peta ABL nilai tinggi
berada pada bagian baratdaya peta dan nilai rendah digambarkan dengan warna biru
berada pada bagian timur, kondisi seperti ini akan menerus hingga nilai filter 135
yang berarti nilai anomali pada peta ini bersifat regional dan menerus. Dari
pembahasan diatas, kemudian peta Upward continuation diatas dapat dikaitkan
dengan data-data pendukung seperti peta geologi, pada peta geologi daerah
penelitian, di bagian tenggara daerah penelitian berupa batuan sedimen sebagai
Formasi Totogan dan pada peta hasil filter juga bernilai rendah sehingga cocok
antara kondisi lapangan yang menunjukan persebaran batuan sedimen bernilai
densitas rendah. Pada bagian barat peta hasil filter terdapat nilai tinggi sedangkan
pada daerah barat peta geologi sebagai batuan sedimen yang seharusnya memiliki
nilai anomali rendah, hal ini dapat terjadi salah satunya sebagai akibat dari adanya
batuan diabas yakni batuan beku berdensitas tinggi yang mempengaruhi daerah
sekitarnya dan keberadaannya yang menerus sehingga terekam nilai anomali
gravitasi besar yang tetap pada daerah tersebut.
Namun, terdapat ketidakselarasan pada bagian timurlaut daerah penelitian
yakni nilai anomali bouguer lengkap yang rendah sedangkan pada peta geologi
dijelaskan sebagai batuan metamorf yang cenderung seharusnya berdensitas tinggi.
Apabila terliha pata peta geologi, terdapat adanya dua sesar yang membatasi
pesebaran batuan metamorf, dan juga terdapat sungai pada sekitar daerah sesar-
sesar tersebut. Hal ini dapat saja menyebabkan air mengalir pada sesar sehingga
melapukkan batuan metamorf secara cepat dan menyeluruh, faktor lainnya yakni
mengingat daerah penelitian berupa komplek Melange sebagai gabungan dari

14
berbagai macam batuan, sehingga tentu terdapat banyak kekar atau rekah-rekah
pada batuan tersebut, terlebih karena kondisi pembentukan dan keberadaan batuan
metamorf pada tekananan dan suhu tinggi, apabila saat tersingkap dipermukaan
maka akan terjadi ketidakseimbangan antara kondisi alami batuan metamorf dengan
keadaan di permukaan bumi sehingga mineral-mineralnya akan mencari
kesetimbangan dan menjadi lebih cepat lapuk.d

15
4.4. Peta Upward Continuation Lokal

Gambar 4.3. Peta Upward Continuation Lokal

Gambar 4.3 menampilkan peta hasil filter Upward Continuation secara


lokal atau juga disebut filter residual. Filter residual merupakan hasil penghilangan
efek regional dari peta Upward Continuation regional terhadap peta Anomali
Bouguer Lengkap sehingga didapatkan nilai-nilai lokalnya saja. Pada pola peta
residual secara umum hampir sama dengan peta ABL hanya saja pada peta residual
memiliki klosur atau zona-zona dengan daerah yang lebih sempit. Peta Upward
Continuation Lokal atau peta residual dapat digunakan untuk penelitian yang
bersifat dekat permukaan seperti pencarian sesar minor yang memiliki kemenerusan
dangkal.

16
Pada peta-peta diatas dapat dianalisa persebaran secara lokal atau bernilai
rendah, dapat terlihat pada skala warna yangh hanya menunjukkan nilai tidak lebih
dari 1 mGal hanya dalam desimal yang berarti nilainya merupakan pengaruh lokal
dari daerah penelitian. Sama seperti peta Upward Continuation Regional, pada
filter residual 108 ke 135 tidak terlihat perubahan yang berarti sehingga
menunjukkan nilai filter 108 telah stabil dan baik untuk dilakukan interpretasi.
Dengan melihat peta diatas, dapat dijelaskan bahwa terdapat banyak zona
dengan anomali residual yang terbilang tinggi yang berbentuk klosur-klosur,
klosur-klosur tersebut merupakan nilai anomali yang bersifat lokal, sama seperti
nilai anomali residual rendah pada bagian selatan peta yang digambarkan dengan
warna biru. Perbedaan paling mencolok antara peta residual dengan peta ABL
adalah nilai anomali yang tinggi pada daerah timur laut peta menjadi berkurang
pada peta residual. Hal ini menunjukkan bahwa nilai anomali besar pada baratdaya
daerah penelitian merupakan nilai anomali regional.

17
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Dari data ABL kemudian proses filtering hingga didapatkan peta Upward
Continuation Regional dan Upward Continuation lokal serta dikorelasikan dengan
data-data pendukung lainnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Peta elevasi menampilkan di daerah utara penelitian terdapat 3 tinggian yang
dicirikan dengan 3 klosur besar berwarna merah, sedangkan di daerah tengah
penelitian bernilai rendah yang dicirikan dengan warna biru.
Dari peta ABL terlihat bahwa daerah baratdaya peta memiliki nilai ABL
tertinggi, dibagian selatan peta terlihat daerah dengan warna biru yang
menunjukan nilai percepatan gravitasi rendah, terlihat pada daerah timurlaut
daerah penlitian, daerah tersebut memilik nilai ABL yang rendah.
Pada peta Upward Continuation Regional nilai filter 27 jika dibandingkan
dengan peta Upward Continuation 135 merupakan nilai filter yang paling
kontras dan terlihat perubahannya. Semakin besar nilai filter Upward
Continuation yang dilakukan maka semakin besar pula range skala warna pada
peta. Nilai filter 108 merupakan nilai filter yang telah stabil dan cocok untuk
diinterpretasi pada analisa ABL secara regional.
Pada peta Upward Continuation Lokal diatas dapat dianalisa persebaran secara
lokal atau bernilai rendah, dapat terlihat pada skala warna yang hanya
menunjukkan nilai tidak lebih dari 1 mGal pada filter residual 108 ke 135 tidak
terlihat perubahan yang berarti sehingga menunjukkan nilai filter 108 telah
stabil dan baik untuk dilakukan interpretasi.

5.2. Saran
Diperlukan tingkat estetika yang baik dalam mengatur format layout peta
serta perlu juga kejelian dalam mengamati perubahan pada peta hasil filter serta
interpretasi nya yang mempertimbangkan data-data geologi, sifat fisika batuan serta
nilai anomali gravitasinya untuk menghasilkan interpretasi yang sesuai dengan
kondisi sebenarnya di bawah permukaan.

18
19
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Wahyu dan Staf Asisten Praktikum Gravity. 2017. Buku Panduan
Praktikum Laboratorium Geofisika Eksplorasi Gravity. Yogyakarta: Teknik
Geofisika UPN Veteran Yogyakarta.
Telford, Geldart dan Sherif, 1990, Applied Geophysics, Cambridge University
Press, New York, Melbourne.

20
LAMPIRAN C
PETA GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

21