Anda di halaman 1dari 32

ALINYEMEN HORISONTAL

A. UMUM
1. Maksud alinyemen horizontal
Alinyemen horizontal adalah proyeksi sumbu / as jalan pada bidang horizontal
(peta), yang terdiri dari bagian lurus (tangent) dan bagian lengkung (curve) disebut
juga jalan.
2. Sifat-sifat bagian lurus :
Bukan merupakan hambatan bagi kendaraan.
Untuk memperpendek jarak.
Terlalu panjangnya bagian lurus akan menimbulkan efek negative (mengantuk).
Dalam hal ini perlu diadakan tikungan kejut berupa perubahan arah 4 derajat; dan
tidak boleh diakhiri dengan tikungan tajam.
3. Sifat-sifat bagian tikungan :
Merupakan hambatan bagi kendaraan yaitu timbulnya gaya sentrifugal dan
keterbatasan pandangan, sehingga merupakan bagian kritis dari pada jalan.
Berguna untuk :
- Memperhalus lintas
- Menetralisir gaya sentrifugal
- Mengatur jarak pandangan
4. Syarat-syarat umum alinyemen horizontal
Sependek mungkin
Panjang tangent maksimum + 3 km, sebelum diadakan tikungan kejut 4.
Tangent yang panjang tidak boleh diakhiri dengan tikungan tajam
Jarak antara 2 tikungan harus cukup
- 0,4 2,0 V
- 0,6 3,0 V
Tikungan datar pada timbunan yang tinggi & panjang (tanpa cutslope, pohon) perlu
dihindari.
Radius minimum hanya digunakan pada keadaan terpaksa.
Dalam menggunakan lengkung majemuk, harus diusahakan R1 < 1,5 R2
Merupakan kombinasi yang baik dengan alinyemen vertical.
B. TIKUNGAN
1. Kendaraan melewati tikungan
Pada tikungan, kendaraan mengalami/menerima gaya sentrifugal.
Untuk mempertahankan posisinya, perlu gaya lawan yang akan menetralisir gaya
sentrifugal.
Gaya lawan ditimbulkan dengan mengadakan superelevasi (kemiringan tikungan)
Biasanya superelevasi tergantung dari V,R,f dengan rumus :
E+f= Biasanya f diambil 0,10
(0,10 0,15)
Karena e dan V mempunyai batas maksimum sedangkan f ditetapkan (0,10), maka
R mempunyai batas minimum.
Pada tikungan kendaraan akan tidak bebas jarak pandangannya, karena itu perlu
kebebasan samping untuk menyediakan jarak pandangan yang memadai.
2. Kemiringan tikungan (superelevasi)
Untuk menimbulkan gaya lawan sentrifugal
Karena alasan keamanan & kenyamanan, maka diberikan batas maksimum dari
superelevasi.
Untuk di Indonesia disarankan e maks jalan luar kota = 0,10 dan 0,8 untuk jalan
dalam kota.
3. Jari-jari minimum tikungan.
R mempunyai harga minimum karena e & v mempunyai harga maksimum
Besarnya R menunjukkan ketajaman tikungan.
Tabel jari-jari minimum :

V (km/jam) R-min (m) R min urban (m)


60 115 125
80 210 230
100 345 380
120 530 580
4. Batas jari-jari tikungan tanpa superelevasi.
Pada R besar (tikungan tumpul) perlu kemiringan kecil karena gaya sentrifugal
yang timbul kecil.
Kemiringan (superlevasi) minimum disamakan dengan kemiringan normal/cross fall
(0,02 0,03)
Bila dihitung jari-jari tersebut adalah :

V (km/jam) R-min (m)


60 1.000
80 1.600
100 2.300
120 3.000
5. Lengkung peralihan (transition curve)
Lengkung peralihan adalah suatu lengkung tambahan yang diletakkan antara
bagian lurus (tangent) dengan tikungan sebenarnya.
Alasan diperlakukannya lengkung peralihan
- Untuk membelokkan roda (kesudut tertentu) perlu waktu & jarak tertentu
- Pada titik pertemuan antara tangent & curve akan timbul gaya sentrifugal secara
mendadak yang merupakan kejutan.
- Gaya sentrifugal yang mendadak/kejutan ini tentu saja akan dihindari olh
pengemudi dengan membuat lintasannya sendiri yang sesuai yang mengakibatkan
memasuki jalur lainnya, kesemua ini harus dihindari dengan menyediakan lengkung
peralihan.
Keuntungan adanya lengkung peralihan :
- Kendaraan akan dapat melintasi lintasaannya sendiri.
- Kendaraan akan dapat berjalan lebih nyaman & aman karena gaya sentrifugal
yang timbul tidak mendadak.
- Memungkinkan untuk mengdakan perubahan dari kemiringan normal ke
kemiringan maksimum (superelevasi) secara berangsur.
- Pelebaran tikungan dapat disediakan secara berangsur.
- Bentuk tikungan jalur lebih estetis.
Bentuk lengkung peralihan
- Dasar penetapan bentuk lengkung peralihan :
Kecepatan kendaraan pada tikungan harus tetap
Kemudi mulai dibelokkan pada saat mencapai permulaan lengkung peralihan.
Gaya sentrifugal timbul secara berangsur.
Gerakan berputar pada tikungan adalah kombinasi antara gerakan maju &
berputar.
Persamaan garis lengkung yang dapat memenuhi dasar pemikiran tersebut diatas
adalah bentuk lengkung spiral euler atatu spiral cornu atau istilah populernya
adalah clothid atau spiral.
- Sifat clothid :
Jari-jari lengkung pada setiap titik adalah berbanding terbalik denga panjang
lengkung yang bersangkutan diukur dari permulaan lengkung.
Jari-jari pada titik awal berarti sama dengan tak terhingga & berangsur-angsur
berkurang sampai dengan jari-jari lingkaran tikungan (pada akhir lengkung
peralihan).
Ini berarti gaya sentrifugal yang akan timbul pada lengkung peralihan adalah
berangsur-angsur dari nol sampai akhirnya mencapai maksimum.
Batas jari-jari tikungan dimana tidak perlu lengkung peralihan.
- Dasar pemikiran :
Spiral berguna untuk menghilangkan akibat jelek dari perubahan mendadak dari
jari-jari/kemiringan pada tikungan.
Kebutuhan spiral makin bertambah nyata dengan naiknya kecepatan & ketajaman
tikungan.
Makin besar jari-jari tikungan berarti makin kecil akibat jelek yang ditimbulkan
karena perubahan kemiringan dari lurus ke lengkung.
Dengan demikian akan ditemukan batas jari-jari minimum dimaa akibat jelek tadi
dapat diabaikan dan dengan perkataan lain tidak diperlukan lengkung
peralihan. Batas jari-jari minimum yang dimaskud didat dengan member batasan
kemiringan normal = 0,03 dan selanjutnya akan didapat besarnya jai-jari maksimum
seperti table berikut ini.
- Batas jari-jari maksimum tanpa superlevasi

V (km/jam) R-min (m)


300
60
700
80
1100
100
1500
120
2000
Bentuk lengkung horizontal
- Bentuk spiral circle spiral
Lb = panjang spiral (panjang lengkung TS SC; CS ST)LC = panjang
lingkaran(panjang lengkung SC CS)Panjang bagian tikungan = L = 2 Lb +
Lc - Bentuk Circle
L = panjang bagian tikungan Panjang lengkung peralihan :
- Panjang lengkung peralihan dihitung berdasarkan kecepatan kendaraan serta
waktu yang diperlukan untuk menimbulak gaya sentrifugal dari O sampai ke harga : K
= mV/R.Ls (sepanjang lengkung peralihan).
- Rumus untuk menghitung panjang lengkung peralihan sebagai berikut :

Ls min = 0,222
dimana : Ls = panjang lengkung spiral
(m) V = kecepatan rencana
(km/jam) R = jari-jari circle (m)
C = perubahan kecepatan (m/det) dianjurkan C =
0,4m/det k = superelevasi- Selanjutnya panjang lengkung
peralihan ini dapat diperoleh pada table yang telah dipersiapkan.
Pencapaian kemiringan melintang :
- Yang dimaskud dengan pencapaian kemiringan adalah perubahan kemiringan
melintang jalan (perkerasan) dari kemiringan normal (cross fall) ke kemiringan
maksimum (superelevasi) secara berangsur-angsur.
- Pencapaian kemiringan ini dilakukan secara berangsu-angsur selama lintasan pada
lengkung peralihan.
Hal ini dilakukan agar kesan menggeliat dari jala tidak ada.- Agar pencapaian
kemiringan bisa berlangsung secara halus (aman & nyaman bagi LL) dan bentuk jalan
yang bagus maka perlu panjang lengkung peralihan yang cukup.
Pelebaran perkerasan pada tikungan.
- Pada tikungan kendaraan akan membuat lintasan tidak pada lintasan yang normal
(yang disediakan) karena :
- Lintasan roda belakang akan lebih kedalam (off tracking)
- Supaya lintasan bisa seragam baik dijalur tangent maupun di lengkung (curve),
aka perlu pelebaran perkerasan (sebelah dalam) pada bagian tikungan.
- Besarnya pelebaran tergantung pada dimensi standar kendaraan rencana yang
dipakai, jari-jari tikungan dan kecepatan rencana.
- Pencapaian pelebaran sejalan dengan superelevasi
- Selanjutnya pelebaran ini dapat dicari dengan grafik yang telah tersedia.
- C. JARAK PANDANG PADA TIKUNGAN
Pada tikungan alinyemen horizontal, pandangan pengemudi tidak sebebas/sejauh
pandangan bila berada pada bagian lurus alinyemen horizontal.
Terbatasnya pandangan ditikungan disebabkan oleh sering adanya penghalang
dipinggir jalan (sisi dalam) seperti pohon, bangunan, tebing dan lain sebagainya.
Dikenal ada 2 jarak pandangan yaitu :
- Jarak pandangan henti yaitu jarak pandangan (minimum) yang dperlukan oleh
pengemudi untuk menghentikan kedaraannya secara aman bila penghalang
didepannya (pada lintasannya)
- Jarak Pandangan menyiap yaitu jarak pandangan (minimum) yang diperlukan
pengemudi untuk bisa menyiap kendaraan lain secara aman. Dlam hal ini
penghalangnya adalah kendaraan lain yang dating dari arah berlawanan.
Bila dihitung ternyata jarak pandangan menyiap jauh lebih panjang dari pada jarak
pandangan henti untuk kecepatan rencana yang sama (sekitar 2-5 kali).
Karena itu, pada perencanaan geometrik jalan, pada umumnya tikungan-tikungan
direncanakan berdasarkan jarak pandangan jarak pandangan henti, hanya beberapa
bagian saja yang direncanakan berdasarkan jarak pandangan menyiap.Pada tikungan-
tikungan yang tidak memenuhi persyaratan jarak pandangan menyiap, perlu
dilengkapi tanda lalu lintas dilarang menyiap atau kurangi
kecepatan. Pengetrapan dilapangan dalam rangka memnuhi jarak pandangan
adalah dengan cara menyediakan kebebasan samping (tepi dalam) secukupnya pada
tikungan bersangkutan
Tabel jarak pandangan :
V (km/jam) 40 60 80 100 120
JPH (m) 40 75 150 `65 225
JPM (m) 140 380 520 670 790
- JPH = Jarak pandangan henti
- JPM = Jarak pandangan menyiap
Pengetrapan jarak pandangan menyiap di lapanganLengkung Horisontal LKR
= LKN = Jarak pandangan menyiap minimum untuk besar jari-jari tikungan dan
kecepatan rencana serta sudut tangent yang bersangkutan. Biasanya Ac Bc
dimasukkan pula sebagai daerah dilarang menyiap. Gambar : Diagram superelevasi
dengan sumbu jalan sebagai sumbu putar Diagram Superelevasi : Gambar :
Bentuk Spiral Circle- Spiral R = Jari-jari lingkaran
Lc = Panjang busur lingkaran c = Sudut luar PI
= Sudut luar PI = 2 s + cTt = Panjang total tangentp = Pergeseran
lingkaran terhadap tangentk = absis p pada garis tangn spiralEt = Jarak luar
totals = Sudut Spiral Ls min = 0,222 c =
Perubahan kecepatan (dianjurkan c = 0,4 m/det)
e = Superelevasi V = Kecepatan rencana R = Jari-
jari circle Ls = Panjang lengkung Spiral ALINYEMEN
VERTIKALA. UMUM
1. Maksud alinyemen vertikal :
Garis potong yang dibentuk oleh bidang vertikal melalui sumbu jalan (undivided) atau
tepi dalam masing-masing perkerasan dan bidang muka perkerasan jalan : terdiri dari
bagian lurus dan bagian lengkung.2. Sifat bagian lurus :
Pada kelandaian merupaka hambatan bagi lalu lintas
Berguna untuk drainase dan ancang ancang sebelum menuju ketanjahan.
3. Sifat Bagian Lengkung :
Merupakan hambatan bagi lalu lintas
Berguna untuk memperhalus lintasan, mengatur jarak pandangan.
B. KELANDAIAN
1. Dikatakan bagus bilamana dapat ditempuh pada gear atau gigi tertinggi
2. Ada batasan derajat kelandaian dan panjang kelndain menurut kelas jalan.
3. Panjang kritis kelndain ditetapkan berdasarkan ketentuan Bila terjadi penurunan
kecepatan truck sebesar 25 km/jam sesampainya di puncak
Sebagai kecepatan awal adalah 70% - 90 & dari kecepatan rencana4. Kelandaian
maksimum standar :
Kelas I IIA IIB IIC III
Landai max (%) 2-4-5 4-5-7 5-7-8 6-8-10 6-812
5. Bila kelandaian kritis terlampaui :
Perlu disediakan climbing lane untuk truck.
Perlu disediakan tanda/ramub dilarang menyiap.
6. Panjang kritis kelandaian menurut standar Bina Marga :
Landai (%) 3 4 5 6 7 8 10 12
Panj. Max (m) 480 330 250 200 170 150 135 120
C. LENGKUNG VERTIKAL
1. Lengkung vertikal adalah lengkung yang dipakai untuk mengadakan peralihan
secara berangsur-angsur dari suatu landai ke landai berikutnya.
2. Panjang lengkung vertikl ditetapkan untuk memenuhi jarak pandangan (henti,
manyiap, lintasan bawah, pandangan malam).
3. Seperti halnya lengkung horizontal, jarak pandangan menyiap jauh lebih panjang
dari pada jarak pandangan henti.
Contoh : Perbedaan aljabar kelandaian (A) = 4 % V = 100 km/jam > Lv-ssd
= 265 m ; Lv-psc : 1000 m (lihat grafik)4. Untuk keperluan lengkung spiral, bentuk
lengkung yang dapat digunakan adalah : busur lingkaran, parabola sederhana,
parabola tingkat tiga dan spiral (clothid).
5. Bentuk lengkung vertical yang digunakan di Indonesia adalah parabola sederhana
karena mudah perhitungannya.
6. Macam-macam lengkung vertical :
Lengkung cekung > titik potong 2 tangen (PPV) ada dibawah permukaan jalan.
Lengkung cembung > titik potong 2 tangen (PPV) ada diatas permukaan jalan.
7. Panjang lengkung vertical ditetapkan berdasarkan syarat-syarat keamanan,
kenyamanan, keluwesan bentuk, drainase, kelandaian dan kecepatan rencana, yang
kesemuanya itu terkait dengan :
Jarak pandangan yang diperhitungkan
Perbedaan aljabar landai
Kecepatan rencana
D. SYARAT-SYARAT UMUM ALINYEMEN VERTIKAL
1. Kelandaian sedapat mungkin dibuat secara beransur-angsur, mengikuti keadaan
terrain.
Ini berarti landai yang berubah-ubah dengan mendadak pada jarak pendek harus
dihindari.2. Alinyemen vertical sejenis atau hidden-dip harus dihindari karena jarak
pandangan kurang memenuhi persyaratan, sedangkan alinyemen horizontal
memberikan kesan sangat baik.
Alinyemen vertical sejenis adalahalinyemen yang datar dan lurus tetapi mengandung
lengkung-lengkung kecil didalamnya. Pada lengkung-lengkung kecil tersebut sering
bersembunyi kendaraan yang berlawanan dengan kita.3. Kelandaian penurunan
yang besar (curam) dan panjang perlu diakhiri dengan pendakian untuk mengurangi
kecepatan pada saat mencapai akhir penurunan.
4. Lengkung-lengkung vertical searah yang berturut-turut atau broken back
gradeline khususnya lengkung-lengkung vertical cekung harus dihindari karena
memberikan pandangan yang kurang baik.

5. Pada alinyemen dengan landai panjang yang menerus, lebih baik menempatkan
landai tercuram pada bagian permulaan landai, selanjutnya diikuti landai-landai kecil
atau menyisipkan landai yang lebih besar pada landai yang menerus tersebut.

E. JARAK PANDANGAN
1. Jarak pandangan pada lengkung cekung :
Jarak pandangan malam adalah jarak pandangan sehubungan dengan jarak
jangkau sorotan lampu. Yang diperhitungkan adalah jarak pandangan henti karena
lampu kendaraan dari arah berlawanan lebih mudah kelihatan.
Jarak ini diukur dari penyinaran lampu yang umumnya mempunyai ketinggian sebesar
0,75 m dan pemancaran berkas sinar keatas sebesar 1 derajat > sampai ketitik bidang
perkerasan jalan.

Jarak pandangan lintasan diatas adalah jarak pandangan sehubungan adanya


halangan yang berupa bangunan yang melintasi diatas jalan (jembatan, talang, dll)

Untuk kendaraan truk besar h1 = 180 cm,yaitu ketinggian mata pengemudi, dan
ketinggian h2 = 45 cm, yaitu untuk lampu belakang kendaraan.
Tinggi lintasan diatas jalan/kebebasan vertical minimum (C = n + m) = 450 cm.
2. Jarak pandangan pada lengkung cembung :
Jarak pandangan henti dengan penghalang puncak lengkung
Jarak pandangan menyiap dengan penghalang puncak lengkung

Panjang minimum lengkung vertikaal cembung berdasarkan jarak pandangan


henti :
Untuk tinggi pandangan minimum > h1 = 125 cm; dan h2 = 10 cm
S < L -> L = AS/412 ; dan S > L -> = 2S 412A
Panjang minimum lengkung vertical cembung berdasarkan jarak pandangan
menyiap :
Untuk tinggi pandangan minimum -> h1 = 225 cm; dan h2 = 125 cm
S < L -> L = AS/1000 ; dan S>L -> L = 2S 1000A

Type of Vertical Curve

F. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALINYEMEN VERTIKAL


1. Design Speed
Ditetapkan menurut apa yang telah dipergunakan dalam perencanaan alinyemen
vertical.
2. Topografi
Topografi akan mempengaruhi besar kecilnya pekerjaan tanah.
Untuk mengurangi volume pekerjaan tanah maka batasan (max, min) geometric
terpaksa diterapkan.
3. Fungsi dan Kelas Jalan
Fungsi dan Kelas jalan berkaitan erat dengan geometric jalan yang bersangkutan.
Alinyemen vertical merupakan bagian dari geometric -> maka fungsi dan kelas jalan
akan mempengaruhi bentuk alinyemen vertical.
4. Kedudukan/Elevasi Lantai Jembatan
Lantai jembatan ditetapkan dengan mempertimbangkan tinggi air banjir ataupun
vertical clearance lainnya.
Lantai jembatan harus berimpit dengan alinyemen vertical dijembatan tersebut,
karena itu elevasi lantai jembatan akan berpengaruh pada alinyemen vertical.
Meskipun demikian lantai jembatan kadang-kadang perlu jauh lebih tinggi daripada
tinggi air banjir dalam rangka mengurangi volume pekerjaan tanah.
5. Tanah Dasar
Kedudukan alinyemen vertical harus dipilih sedemikian rupa sehingga tanah dasar
cukup tinggi elevasinya terhadap elevasi banjir, air tanah dan lain sebagainya.
http://riananddrey50.blogspot.co.id/2014/04/alinyemen-horisontal.html
Perencanaan Geometrik Jalan (2)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, yaitu mengenai teori Perencanaan Geometrik

Jalan , sedangkan pada tulisan saya ini akan diterangkan mengenai rumus2 dari teori tersebut tadi. Sebenarnya

rumus-rumus ini akan membingungkan jika tanpa adanya contoh soal perencanaan. Namun untuk melengkapi

tulisan yang sebelumnya makan akan saya tulisakan juga rumus-rumus tersebut.

FULL CIRCLE

Lengkung ini untuk R min < R rencana < Lengkung tanpa peralihan
SPIRAL CIRCLE SPIRAL
SPIRAL SPIRAL

Lengkung yang hanya terdiri dari bagian spiral saja. Hal ini terjadi jika R min < R rencana < R lengkung peralihan

dan Lc < 20m


Alinyemen Horizontal
Menurut buku Rekayasa Jalan Raya yang diterbitkan oleh Gunadarma, alinyemen
horizontal adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang horizontal. Alinyemen horizontal sering
disebut dengan situasi jalan atau trase jalan. Alinyemen horizontal terdiri atas garis lurus dan
garis lengkung yang berupa bagian dari lingkaran dan lengkung peralihan.

2.8.1 Konsep Dasar Perencanaan Tikungan


Tikungan jalan terdiri atas bagian dari lingkaran dan lengkung peralihan. Penentuan
ukuran bagian-bagian tikungan didasarkan pada keseimbangan gaya yang bekerja pada
kendaraan yang melintasi tikungan tersebut. Bila suatu kendaraan bergerak dengan kecepatan
tetap sebesar V pada bidang datar atau bidang miring dengan lintasan melengkung, maka
kendaraan tersebut akan mengalami gaya sentrifugal dan gaya sentripetal. Gaya sentrifugal
mendorong kendaraan secara radial ke arah luar lengkung. Gaya ini berarah tegak lurus
terhadap arah laju kendaraan yang mengakibatkan rasa tidak nyaman bagi pengemudi. Gaya
sentrifugal F dapat ditentukan dengan persamaan 2.1.

.................................................................................... 2.1

dimana, m = Massa (kg)


a = Percepatan (m/det2)

................................................................................... 2.2

dimana, G = Berat kendaraan (kg)


g = Gaya gravitasi (m/det2)

Jika a didefinisikan sebagai percepatan sentrifugal, maka a dapat dinyatakan dalam


persamaan 2.3.
................................................................................... 2.3
dimana, v = Kecepatan kendaraan (km/jam)
R = Jari-jari lengkung lintasan (m)

Dengan demikian gaya sentrifugal dapat dinyatakan sebagai perkalian antara massa
dengan percepatan sentrifugal seperti pada persamaan 2.4.

...................................................................... 2.4
Untuk mempertahankan agar kendaraan yang melaju pada tikungan tetap berada pada
lintasannya, maka diperlukan gaya yang dapat mengimbangi gaya sentrifugal tersebut. Gaya-
gaya yang mengimbangi gaya sentrifugal tersebut adalah:
a. gaya gesek melintang antara ban dengan pemukaan jalan.
b. kornponen gaya akibat berat kendaraan yang terjadi pada bidang miring di tikungan.
Fenomena keseimbangan gaya tersebut dapat diperlihatkan pada gambar 2.7.
Gambar 2.7 Keseimbangan gaya pada tikungan

2.8.2 Penentuan Titik Koordinat


Berdasarkan titik koordinat dan elevasi maka dapat dihitung jarak. Menurut Saodang
(2004),perhitungan jarak dari titik PI ke titik PI lainnya dapat menggunakan persamaan berikut
ini:

2.5

dimana, dA-PI = Jarak antara titik A ke PI (m)


XPI,YPI = Koordinat dari titik PI (m)
XA,YA = Koordinat dari titik A (m)

2.8.3 Penentuan Sudut Putar


Menurut Saodang (2004), bahwa sudut putar pada tikungan lengkung FC, S-C-S dan S-S
dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini:

dimana, PI = Sudut Putar ( o )


XPI,YPI = Koordinat dari titik PI (m)
XA,YA = Koordinat dari titik A (m)
XB,YB = Koordinat dari titik B (m)

Dari persamaan di atas dapat diketahui dA-PI antara titik A dan titik PI, dari sudut jurusan 1
garis menghubungkan titik A dan titik PI juga titik B.

2.8.4 Jari-Jari Minimum


Jari-jari lengkung minimum untuk kecepatan rencana yang berlainan, seperti
diperlihatkan pada Tabel di bawah ini, didasarkan pada superelevasi maksimum dan gesekan
sisi dengan rumus:

dimana, R = Jari-jari minimum (m)


V = Kecepatan (km/jam) = kecepatan rencana
f = koefisien gesekan sisi (koefisien gesekan diantara ban
dan permukaan jalan melawan gesekan)
i = Superelevasi
Hasil penelaahan luar negeri menunjukkan bahwa nilai maksimum faktor gesekan sisi
"f" adalah 0,4 sampai 0,8 untuk perkerasan aspal. Secara teoritis, kecepatan laju di tikungan
dapat ditingkatkan sampai "f" mencapai batas maksimumnya. Tetapi kecepatan laju yang
tinggi di tikungan menimbulkan gaya sentrifugal yang besar pada pengemudi. Merupakan
kecenderungan yang umum bagi pengemudi untuk mengurangi gaya sentrifugal yang bekerja
pada mereka dan untuk mempertahankan kenyamanan dan keamanan dalam mengemudi.
Jari-jari minimium untuk kecepatan rencana yang bersangkutan yang ditunjukkan pada
Tabel di bawah ditentukan oleh nilai "f" yang direkomendasikan, yang berkisar antara 0,14
sampai 0,17 demi kenyamanan dalam mengemudi. Nilai superelevasi yang
diperkirakan untuk jari-jari minimum adalah 10% untuk kecepatan rencana 40 sampai 80
km/jam, dan 8% untuk kecepatan rencana 30 sampai 20 km/jam.

Tabel 2.12 Jari-jari minimum


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

2.8.5 Panjang Jari-Jari Minimum


Untuk menjamin kelancaran mengemudi, tikungan harus cukup panjang sehingga
diperlukan waktu 6 detik atau lebih untuk melintasinya. Panjang jari-jari minimum seperti
yang diperlihatkan pada Tabel di bawah didasarkan atas rumus berikut:

...................................................................................................... 2.8

dimana, L = panjang jari-jari (m)


t = waktu tempuh (detik) = 6
v = kecepatan (m/detik) = kecepatan rencana

Tabel 2.13 Panjang jari-jari minimum


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

2.8.6 Jarak Pandangan Henti


Jarak pandangan henti adalah jumlah dua jarak, jarak yang dilintasi kendaraan sejak saat
mengemudi melihat suatu objek yang menyebabkan ia harus berhenti sampai saat rem diinjak
dan jarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan sejak saat penggunaan rem dimulai.
Untuk jalan raya kelas 5 dengan lajur tunggal, jarak pandangan henti harus dua kali lipat
kecuali diambil beberapa tindakan penjagaan seperti pemasangan cermin pada tikungan.
dimana, D = Jarak pandangan henti minimum (m)
V = Kecepatan (km/jam) = kecepatan rencana
t = Waktu tanggap (detik) = 2,5
g = Kecepatan gravitasi = 9,8 m/d2
f = Koefisien gesekan membujur = 0,3 sampai 0,4
e = Ruas bebas samping

Tabel 2.14 Jarak pandangan henti minimum


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

Gambar 2.8 Jarak pandangan henti


2.8.7 Jarak Pandangan Menyiap
Disini ditentukan 2 macam jarak pandangan menyiap yaitu jarak pandangan menyiap
total dan jarak pandangan menyiap minimum. Jarak pandangan menyiap total
memungkinkan gerakan menyiap mulai saat bergerak ke arah jalur yang berlawanan. Dilain
pihak, jarak pandangan menyiap minimum yang diperlukan memungkinkan kendaraan
memulainya dari titik. tempat kendaraan yang menyiap tersebut menyusul bagian belakang
kendaraan yang disiap. Dalam hal yang terakhir, kendaraan yang menyiap kembali ke jalur
semula jika menjumpai kendaraan yang sedang mendekat. Meskipun sudah jelas bahwa jarak
pandangan yang terdahulu lebih dikehendaki, yang terakhir dapat diterapkan jika biaya
konstruksi jalan raya tersebut terbatas. Panjang jarak pandangan menyiap diperlihatkan pada
tabel di bawah.
Frekuensi dan panjang bagian penyiapan untuk jalan raya terutama tergantung
kepada topografi, kecepatan rencana jalan raya dan biaya. Meskipun sulit untuk
langsung menunjukkan frekuensi yang diberikan bagi jalan raya 2 jalur, sekurang-kurangnya
10% panjang seluruh jalan raya yang diproyeksikan tersebut harus mempunyai jarak
pandangan menyiap.

Tabel 2.15 Jarak pandangan menyiap


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

Gambar 2.9 Jarak pandangan menyiap

2.8.8 Kemiringan Melintang


Untuk drainase permukaan, jalan dengan alinyemen lurus membutuhkan kemiringan
melintang yang normal 2% untuk aspal beton atau perkerasan beton dan 3,0 - 5,0% untuk
perkerasan macadam atau jenis perkerasan lainnya dan jalan batu kerikil.

2.8.9 Pencapaian Kemiringan


Pencapaian kemiringan harus dipasang didalam lengkung peralihan. Bilamana tidak
dipasang lengkung peralihan, pencapaian harus dipasang sebelum dan sesudah lengkung
tersebut.

Gambar 2.10 Pencapaian kemiringan

Tabel 2.18 Kemiringan maksimum untuk pencapaian kemiringan


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

2.8.10 Perancangan Tikungan


Menurut buku Rekayasa Jalan Raya yang diterbitkan oleh Gunadarma, dalam
perancangan tikungan dikenal 2 bentuk lengkung dasar yang sering digunakan yaitu:
lengkung lingkaran (circle) dan lengkung spiral. Lengkung spiral sering digunakan sebagai
lengkung peralihan. Penggunaan kedua lengkung dasar tersebut disesuikan dengan kebutuhun
dan persyaratan teknis. Untuk itu dikenal beberapa bentuk tikungan yang digunakan dalam
perancangan yaitu: lingkaran penuh (full circle), spiral-spiral (S-S) dan spiral lingkaran spiral
(S-C-S).

a. Lingkaran Penuh (Full Circle)


Bentuk tikungan ini digunakan pada tikungan yang mempunyai jari-jari tikungan besar
dan sudut tangen kecil. Pada tikungan yang tajam, dimana jari-jari tikungan kecil dan
superelevasi yang diperlukan besar, tikungan berbentuk lingkaran akan menyebabkan
perubahan kemiringan melintang yang besar, sehingga akan menimbulkan kesan patah pada
tepi perkerasan sebelah luar.
Gambar 2.11 Tikungan berbentuk lingkaran
Gambar 2.11 menunjukkan tikungan berbentuk lingkaran penuh. Bagian lurus dari jalan (di
sebelah kiri TC dan di sebelah kanan CT) dinamakan bagian tangen. Titik peralihan dari bagian
lurus ke bagian lengkung (lingkaran) dinamakan titik TC, sedangkan titik peralihan dari bagian
lengkung ke bagian lurus dinamakan titik TC. Titik potong dari perpanjangan kedua bagian jalan
yang lurus dinamakan PI, sedangkan sudut yang terbentuk antara keduanya dinamakan sudut
tangen (= B). Jarak lurus antara titik TC (atau CT) terhadap titik PI disebut Tc.

................................................................... 2.10

................................................................... 2.11

............................................................... 2.12

Karena tikungan hanya berbentuk lingkalan saja, maka pencapaian superelevasi dilakukan
sebagian pada bagian jalan yang lurus dan sebagian lagi dilakukan pada bagian lingkaran
(lengkung). Karena sesungguhnya bagian tikungan peralihan itu sendiri tidak ada, maka panjang
daerah pencapaian superelevasi disebut sebagai panjang peralihan fiktif (Ls').
Menurut Bina Marga, panjang peralihan fiktif ini ditempatkan pada bagian jalan yang lurus
sebesar 3/4 Ls' (yaitu disebelah kiri TC atau sebelah kanan CT) dan pada bagian lingkaran
(lengkungan) sebesar 1/4 Ls'.

b. Lengkung Spiral Spiral (S-S)


Sebaiknya lengkung peralihan dipasang pada bagian awal, di ujung dan dititik balik
pada lengkungan untuk menjamin perubahan yang tidak mendadak jari-jari lengkung,
superelevasi dan pelebaran. Lengkung peralihan juga membantu penampilan alinyemen.
Lengkung clothoide umumnya dipakai untuk lengkung peralihan. Guna menjamin
kelancaran mengemudi, panjang minimum lengkung peralihan yang ditunjukkan pada tabel
2.19 adalah setara dengan waktu tempuh 3 detik. Panjangnya dihitung lewat rumus di bawah
ini:

............................................................ 2.13

Tabel 2.19 Panjang minimum lengkung peralihan


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

Tikungan dengan jari-jari besar (seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.20) tidak
memerlukan lengkung peralihan. Jika lengkung peralihan dipasang, alinyemen horisontal
bergeser dari garis singgung kesuatu lingkungan. Besarnya nilai pergeseran ini tergantung dari
panjang lengkung peralihan dan jari-jari lengkung. Jika jari jari lengkung sedemikian besarnya
sehingga pergeseran kecil, maka pergeseran dapat diadakan di dalam lebar jalur, sehingga
lengkung peralihan tidak dibutuhkan. Besarnya pergeseran ini dapat dihitung sebagai berikut:
............................................................... 2.14
dimana, S = Nilai pergeseran (m)
L = Panjang lengkung peralihan (m)
R = jari-jari lengkung (m)

Sedangkan besarnya jari-jari lengkungan minimum yang tidak memerlukan lengkung


peralihan (dengan pergeseran sebesar 0,2 m) ditunjukkan pada Tabel 2.20.

Tabel 2.20 Jari-jari minimum yang tidak memerlukan lengkung


peralihan
Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

c. Spiral Lingkaan Spiral (S-C-S)

Gambar 2.12 Lengkung S-C-S


Lengkung TS-SC adalah lengkung peralihan berbentuk spiral (clothoid) yang
menghubungkan bagian lurus dengan radius tak berhingga di awal spiral (kiri TS) dan bagian
berbentuk lingkaran dengan radius = Rc diakhir spiral (kanan SC). Titik TS adalah titik peralihan
bagian lurus ke bagian berbentuk spiral dan titik SC adalah titik peralihan bagian spiral ke bagian
lingkaran.
Guna membuat ruangan untuk spiral sehingga lengkung lingkaran dapat ditempatkan di
ujung lengkung spiral, maka lengkung lingkaran tersebut digeser ke dalam pada posisi FF',
dimana HF = H'F' = p terletak sejauh k dari awal lengkung peralihan sembarang titik P pada
spiral yaitu:

Jika panjang lengkung peralihan dari TS ke SC adalah Ls dan R pada SC adalah Rc,
maka:

Besarnya sudut spiral pada titik SC adalah:

Dan nilai p menjadi:

Untuk Ls = 1 m, p = p* dan k = k*
Dan untuk Ls = Ls, p = p*.Ls dan k = k*.Ls
Sudut pusat busur lingkaran = s, dan sudut spiral s. Jika besarnya sudut perpotongan kedua
tangen adalah , maka:

.............................................................................. 2.19

.................................................. 2.20

...................................................... 2.21

...................................................................... 2.22

Lc untuk lengkung S-C-S ini sebaiknya 20m, maka radius yang dipergunakan haruslah
memenuhi syarat tersebut. Hal ini sangat dipengaruhi oleh besarnya sudut . Jadi terdapat
radius minimum yang dapat dipergunakan untuk perencanaan lengkung berbentuk spiral -
lingkaran - spiral sehubungan dengan besarnya sudut , kecepatan rencana dan batasan
superelevasi maksimum yang dipilih.
d. Tikungan Gabungan dan Tikungan Balik
Tikungan gabungan adalah gabungan tikungan dengan putaran yang sama dan jari-jari
yang berlainan yang bersambungan langsung. Tikungan balik adalah gabungan tikungan
dengan putaran yang berbeda dan bersambungan langsung.

Gambar 2.13 Tikungan gabungan

Gambar 2.14 Tikungan balik

Dalam hal perbedaan jari-jari pada lengkung yang berdampingan tidak melampaui 1 : 1,5
lengkung dapat dihubungkan langsung hingga membentuk lengkung gabungan seperti pada
gambar 2.10. suatu garis lurus yang dipasang pada titik balik untuk pencapaian kemiringan dapat
membantu lengkung gabungan tersebut (gambar 2.14).
Gambar 2.15 Lengkung chothoide yang dipasang pada lengkung gabungan

Gambar 2.16 Lengkung clothoide yang dipasang pada lengkung balik

Gambar 2.17 Garis lurus yang dipasang pada lengkung balik


2.8.11 Superelevasi
Nilai superelevasi yang tinggi mengurangi gaya geser kesamping dan menjadikan
mengemudi pada tikungan lebih nyaman tetapi batas praktis berlaku untuk itu. Ketika
bergerak perlahan mengitari suatu tikungan dengan superelevasi tinggi, maka bekerja
gaya negatif ke samping dan kendaraan dipertahankan pada lintasan yang tepat hanya jika
pengemudi mengemudikannya ke sebelah atas lereng atau berlawanan dengan arah lengkung
mendatar. Nilai pendekatan untuk tingkat superelevasi maksimum adalah 10%.
Jari-jari minimum yang tidak membutuhkan superelevasi ditunjukkan pada tabel 2.16.
Jari-jari ini juga berdasarkan pada rumus (i) dengan kemiringan melintang i = -0,02 dan
faktor gesekan kesamping f = 0,035. Untuk menjamin kenyamanan mengemudi walaupun
pada sisi luar tikungan dengan kemiringan melintang yang berlawanan maka memerlukan
faktor f yang kecil sebagaimana di atas.
Superelevasi diberikan berdasarkan kecepatan rencana dan jari-jari lengkungan, seperti
pada tabel 2.17.

Tabel 2.16 Jari-jari minimum untuk kemiringan melintang normal


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.
Untuk menjamin kenyamanan pengemudi walaupun pada sisi luar tikungan dengan
kemiringan melintang yang berlawanan, maka memerlukan faktor f yang kecil sebagaimana di
atas. Superelevasi diberikan berdasarkan kecepatan rencana dan jari-jari tikungan seperti pada
Tabel 2.17.

Tabel 2.17 Superelevasi


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

Gambar 2.18 Perspektif perubahan superelevasi


2.8.12 Pelebaran pada Tikungan
Jalan kendaraan pada tikungan perlu diperlebar untuk menyesuaikan dengan lintasan
lengkung yang ditempuh kendaraan. Nilai pelebaran yang ditunjukkan pada tabel 2.21
didasarkan atas pengelompokan jalan raya. Disini kendaraan rencana adalah semitrailer untuk
kelas 1 dan truk unit tunggal untuk kelas 2, kelas 3 dan kelas 4.

Tabel 2.21 Pelebaran jari-jari


Sumber:Spesifikasi Standar untuk Perencanaan Geometrik Jalan Luar Kota (Rancangan Akhir) Bina Marga,
1990.

2.8.13 Ruang Bebas Samping


Pada tikungan yang mempunyai panjang jarak pandangan tertentu maka tikungan itu
perlu mempunyai lebar pandangan bebas (ruang bebas samping, lihat Gambar 2.7) yang
sesuai. Jika ruang bebas samping tidak tersedi dilokasi jalan, maka jalan perlu diperlebar.
Grafik 2.1 memberikan ruang bebas untuk kasus dengan pandangan yang dimulai dan
berakhir pada suatu tikungan seperti pada Gambar 2.7. Untuk kasus dengan pandangan yang
dimulai dari suatu bagian jalan lurus ke suatu tikungan atau untuk kasus lainnya, ruang bebas
samping diukur langsung dari gambar rencana.

dimana, D = Jarak pandangan (m)


R = Jari-jari tikungan pada sumbu lajur sebelah dalam (m)
t = Waktu tanggap (detik) = 2,5
http://adnyana4all.blogspot.co.id/2012_11_01_archive.html
ALINEMEN HORIZONTAL

Alinemen horizontal (trase jalan) adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang horisontal. Alinemen
horisontal tersusun atas garis lurus dan garis lengkung (busur) atau lebih dikenal dengan istilah
tikungan. Busur terdiri atas busur lingkaran saja (full-circle), busur peralihan saja (spiral-spiral),
atau gabungan busur lingkaran dan busur peralihan (spiral-circlespiral).

Gaya Apa Saja yang Terjadi di Tikungan ?

F=ma
F = (G.V^2)/(g.R)

Dimana :
F = gaya sentrifugal
m = massa kendaraan
a = percepatan sentrifugal
G = berat kendaraan
g = gaya gravitasi
V = kecepatan kendaraan
R = jari-jari tikungan

Gaya yang mengimbangi gaya sentrifugal adalah berasal dari :


Gaya gesekan melintang roda (ban) kendaraan yang sangat
dipengaruhi oleh koefisien gesek (= f)
Superelevasi atau kemiringan melintang permukaan jalan (= e)
Ketajaman lengkung horisontal (tikungan) dinyatakan dengan besarnya radius lengkung (R) atau
dengan besarnya derajat lengkung (D). Derajat lengkung (D) adalah besarnya sudut lengkung yang
menghasilkan panjang busur 25 meter.

D = (25/.R) . 360
D = 1432.39 / R

Radius lengkung (R) sangat dipengaruhi oleh besarnya superelevasi (e) dan koefisien gesek (f) serta
kecepatan
rencana (V) yang ditentukan. Untuk nilai superelevasi dan koefisien gesek melintang maksimum
pada suatu kecepatan yang telah ditentukan akan meghasilkan lengkung tertajam dengan radius
minimum (Rmin).

Pada jalan lurus dimana radius lengkung tidak berhingga perlu direncanakan super elevasi (en)
sebesar 2 4 persen
untuk keperluan drainase permukaan jalan.

Secara teori pada tikungan akan terjadi perubahan dari radius lengkung tidak berhingga (R~) pada
bagian lurus menjadi radius lengkung tertentu (Rc)pada bagian lengkung dan sebaliknya. Untuk
mengimbangi perubahan gaya sentrifugal secara bertahap diperlukan lengkung yang merupakan
peralihan dari R~ menuju Rc dan kembali R~
Lengkung peralihan ini sangat dipengaruhi oleh sifat pengemudi, kecepatan kendaraan, radius
lengkung dan superelevasi jalan. Pencapaian superelevasi dari en menjadi emaks dan kembali
menjadi en dilakukan pada awal sampai akhir lengkung secara bertahap. Panjang lengkung
peralihan (Ls) diperhitungkan dari superelevasi sebesar en sampai superelevasi mencapai emaks.
Panjang lengkung peralihan (Ls) yang digunakan dalam perencanaan adalah yang terpanjang dari
pemenuhan persyaratan untuk:
Kelandaian relatif maksimum

Modifikasi rumus SHORT

Berdasarkan panjang perjalanan selama waktu tempuh 3 detik (Bina Marga) atau 2 detik
(AASHTO)Ls = (V/3.6) . T

Kelandaian relatif maksimum (1/m) berdasarkan kecepatan rencana berikut :

No Kecepatan Rencana (Vr)

20 30 40 50 60 80 100

Bina
Marga 1/50 1/75 1/100 1/115 1/125 1/150 1/100
No Kecepatan Rencana (Vr)

32 48 64 80 88 96 104

AASHT
O 1/33 1/150 1/175 1/200 1/213 1/222 1/244

Diagram Superelevasi

Merupakan penggambaran pencapaian superelevasi dari lereng normal (en) sampai lereng maksimal
(e maks), sehingga dapat ditentukan diagram penampang melintang setiap titik (stationing) pada
suatu tikungan yang direncanakan.

Jenis-Jenis Tikungan

Full Circle,

Spiral Circle Spiral,

Spiral Spiral,

Full Circle
Karena hanya terdiri dari lengkung sederhana saja, maka perlu adanya lengkung peralihan fiktif
(Ls`) untuk mengakomodir perubahan superelevasi secara bertahap. Bina marga menempatkan
Ls` pada bagian lurus dan Ls` pada bagian lengkung AASHTO menmpatkan 2/3 Ls` pada bagian
lurus dan 1/3 Ls` pada bagian lengkung.
Spiral Circle Spiral
Lc untuk lengkung type S C S sebaiknya 20 meter

Spiral Spiral

Rc yang dipilih harus sedemikian rupa sehingga Ls yang diperlukan dari Ls berdasarkan landai relatif
lebih besar dari
pada Ls berdasarkan modifikasi SHORT serta Ls berdasarkan panjang perjalanan selama 3 detik
(Bina Marga) atau selama 2 detik (AASHTO).

Pelebaran Pada Lengkung


b = lebar kendaraan rencana
B = lebar perkerasan yang ditempati satu kendaraan di tikungan pada lajur sebelah dalam
U = B-b
C = lebar kebebasan samping di kiri dan kanan kendaraan
Z = lebar tambahan akibat kesukaran mengemudi di tikungan
Bn = lebar total perkerasan pada bagian lurus
Bt = lebar total perkerasan di tikungan
n = jumlah lajur
Bt = n(Bt + C) + Z
Db= tambahan lebar perkerasan di tikungan = Bt - Bn

Rw = radius lengkung terluar dari lintasan kendaraan pada lengkung horisontal untul lajur sebelah
dalam, besarnya dipengaruhi oleh tonjolan
depan (A) kendaraan dan sudut belokan roda depan (a). Ri = radius lengkung terdalam dari lintasan
kendaraan pada lengkung horisontal untuk lajur sebelah dalam, besarnya dipengaruhi oleh jarak
gandar kendaraan (p).
http://civildoqument.blogspot.com/2014/09/contoh-perhitungan-geometrik-jalan-
raya.html

ALINYEMEN HORISONTAL

Adalah garis proyeks

i sumbu jalan yang tegak lurus bidang gambar, dikenal juga dengan sebutan Trase Jalan .

Alinemen horisontal Terdiri dari :

Garis Lurus ( Tangent ), merupakan bagian jalan lurus

Garis lurus Horisontal yang disebut tikungan

Bentuk bentuk tikungan :

Full Circle

Spiral Circle Spiral

Spiral Spiral

Syarat syarat pemakaian :

Full Circle

Untuk menggunakan bentuk ini adalah tergantung dari kecepatan rencana, jika sudah memenuhi
yaitu dengan melihat tabel sebagai berikut :

Kecepatan Rencana 120 100 80 60 40 30

( Km / Jam )

Jari-jari lengkung 2000 1500 1100 700 300 180


Minimum ( m )

Gambar lengkung Circle

Tc = R tan b

Ec = Tc tan b

Lc = ( b / 360 ) 2R = 0.017453 R

Walaupun bentuk ini tidak mempunyai lengkung peralihan ( Ls ) akan tetapi diperlukan adanya
lengkung peralihan fiktif ( Ls )

Ls = B ( em + E ) -

Dimana : B = Lebar perkerasan ( m )

cm = Kemiringan melintang maksimum relatif ( super elevasi max pada tikungan tersebut )

E = Kemiringan perkerasan pada jalan lurus

Spiral Circle Spiral

Syarat pemakaian : Bila bentuk Circle tidak dapat dipakai

Dc < 0 Dc = D 2q s

Lc > 20 meter

Yang dihitung jika memenuhi Syarat diatas :

qs = 90 Ls / p R

p = Ls / 6R R ( 1-cos qs )

k = Ls Ls / 40R R sin qs

Dc = D 2qs

Lc = 0.017453 Dc . R
Tt = ( R + p ) tan 0.5 qs + k

Et = {( R + p ) sec 0.5 qs } R

Ls min = 0.022 V 2.727 V. k

R.c c

Dimana : Ls = Panjang lengkung spiral ( m )

V = Kecepatan rencana ( Km / jam )

R = Jari jari circle ( m )

C = Perubahan kecepatan ( m/det )

Harga c dianjurkan = 0.4 m/det

K = Super elevasi

Spiral spiral

Syarat pemakaian : Bila bentuk S P S tidak bisa dipakai

s = 0.5

yang dihitung jika memenuhi syarat diatas adalah :

Ls = ( qs . R ) / 28.648

Tt = {( R + p ) tan 0.5 qs } + k

Et = {( R + p ) sec 0.5 qs } R

P = p* . Ls

K = k* . Ls

Gambar Lengkung Spiral-spiral

https://jidinmsirajuddin.wordpress.com/2014/01/23/geometrik-jalan-raya/