Anda di halaman 1dari 21

REFLEKSI KASUS

MISSED ABORTION

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Mengikuti Ujian


Stase Obstetri dan Ginekologi
Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Magelang

Diajukan Kepada:
dr. Sapar Setyoko, Sp.OG (K)

Disusun Oleh:
Aldhimas Marthsyal Pratikna
(20110310070)

SMF BAGIAN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR MAGELANG
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan presentasi kasus dengan judul

ABORTUS IMMINENS

Tanggal: April 2017

Disusun oleh:

Aldhimas Marthsyal Pratikna


20110310070

Menyetujui
Dokter Pembimbing/Penguji

dr. Sapar Setyoko, SpOG (K)


REFLEKSI KASUS

A. PENGALAMAN

Pasien rujukan dari puskesmas, Seorang wanita dengan G2P1A0 usia 36 tahun hamil
8 minggu datang ke RS Budi Rahayu mengeluhkan keluar darah dari jalan lahir sejak pagi
hari pukul 5 jam sebelum masuk rumah sakit. Perdarahan berwarna merah coklat, tidak
berbau, sedikit-sedikit dan terus menerus. Pasien juga mengeluhkan perut terkadang terasa
nyeri dan kenceng-kenceng saat perdarahan seperti ingin BAB. Pasien mengaku
berhubungan suami istri 3 hari sebelum terjadinya perdarahan. Pasien tidak mengalami
demam, batuk pilek. Mual (-), Muntah (-). Pasien tidak mengalami keputihan sebelumnya.
Pasien semenjak mengetahui kehamilannya menjadi lebih banyak bekerja dirumah dan
tidak melakukan pekerjaan berat. Riwayat trauma sebelum perdarahan disangkal. Haid
terakhir tanggal 10 Januari 2017. Riwayat penyakit hipertensi, asma, diabetes melitus,
jantung, TBC dan kanker disangkal. Riwayat operasi sebelumnya kuretase pada tahun
2011. Riwayat penyakit keluarga seperti hipertensi, asma, diabetes mellitus, jantung, TBC
dan kanker disangkal. Riwayat perkawinan 1 kali,
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD: 90/60 mmHg, nadi 80x/menit, respirasi
24x/menit, suhu 36,20C. Berat badan : 47 kg, tinggi badan : 146 cm. Pada pemeriksaan
Obstetri VT: v/u/v tenang, porsio lunak, OUE menutup, nyeri goyang (-). Sarung tangan :
darah berwarna merah kecoklatan.

B. MASALAH YANG DIKAJI


1. Apa yang dimaksud missed abortion?
2. Bagaimana diagnosis dan penatalaksanaan pada missed abortion?
C. ANALISIS MASALAH

Definisi
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa

mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya

telah mencapai lebih daripada 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada 20 minggu.

Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus provokatus.

Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis dan disebabkan oleh

faktor-faktor alamiah. Abortus provokatus adalah abortus yang terjadi akibat tindakan atau

disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus spontan merujuk

kepada keguguran pada kehamilan kurang dari 20 minggu tanpa adanya tindakan medis atau

tindakan bedah untuk mengakhiri kehamilan.

Klasifikasi abortus adalah seperti berikut :

a. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.
b. Abortus buatan, Abortus provocatus (disengaja, digugurkan), yaitu:
Abortus buatan menurut kaidah ilmu (Abortus provocatus artificialis atau
abortus therapeuticus). Indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya : penyakit jantung,
hipertensi esential, dan karsinoma serviks. Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang terdiri
dari dokter ahli kebidanan, penyakit dalam dan psikiatri, atau psikolog.
Abortus buatan kriminal (Abortus provocatus criminalis) adalah pengguguran
kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan dilarang
oleh hukum.

I. Etiologi dan Patogenesis


Secara umum, terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan abortus spontan yaitu faktor
fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor paternal. Lebih dari 80 persen abortus
terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan, dan kira-kira setengah dari kasus abortus ini
diakibatkan oleh anomali kromosom. Setelah melewati trimester pertama, tingkat aborsi dan
peluang terjadinya anomali kromosom berkurang.
Faktor Fetus

Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh dunia, sekitar 50 hingga
60 persen dari abortus spontan yang terjadi pada trimester pertama mempunyai kelainan
kariotipe. Kelainan pada kromosom ini adalah seperti autosomal trisomy, monosomy X dan
polyploidy.

Abnormalitas kromosom adalah hal yang utama pada embrio dan janin yang mengalami
abortus spontan, serta merupakan sebagian besar dari kegagalan kehamilan dini. Kelainan
dalam jumlah kromosom lebih sering dijumpai daripada kelainan struktur kromosom.
Abnormalitas kromosom secara struktural dapat diturunkan oleh salah satu dari kedua orang
tuanya yang menjadi pembawa abnormalitas tersebut

Faktor-faktor Ibu Sebagai Penyebab Abortus


Berbagai penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin, kekurangan nutrisi,
alkohol, tembakau, deformitas uterus ataupun serviks, kesamaan dan ketidaksamaan
immunologik kedua orang tua dan trauma emosional maupun fisik dapat menyebabkan
abortus, meskipun bukti korelasi tersebut tidak selalu meyakinkan. Isolasi Mycoplasma
hominis dan Ureaplasma urelyticum dari traktus genitalis beberapa wanita yang mengalami
abortus, mengarahkan pada hipotesis bahwa infeksi mycoplasma yang mengenai traktus
genitalis, merupakan abortifasient. Pada kehamilan lanjut, persalinan prematur dapat
ditimbulkan oleh penyakit sistemik yang berat pada ibu. Hipertensi jarang menyebabkan
abortus, tetapi dapat mengakibatkan kematian janin dan persalinan prematur. Abortus sering
disebabkan, mungkin tanpa alasan yang adekuat, kekurangan sekresi progesteron yang
pertama oleh korpus luteum dan kemudian oleh trofoblast. Karena progesteron
mempertahankan desidua, defisiensi relatif secara teoritis mengganggu nutrisi konseptus dan
dengan demikian mengakibatkan kematian. Pada saat ini, tampak bahwa hanya malnutrisi
umum yang berat merupakan predisposisi meningkatnya kemungkinan abortus. Wanita yang
merokok diketahui lebih sering mengalami abortus spontan daripada wanita yang tidak
merokok. Alkohol dinyatakan meningkatkan resiko abortus spontan, meskipun hanya
digunakan dalam jumlah sedang (Cunningham et al., 2005).
Kira-kira 10 persen hingga 15 persen wanita hamil yang mengalami keguguran berulang
mempunyai kelainan pada rahim seperti septum parsial atau lengkap. Anomali ini dapat
menyebabkan keguguran melalui implantasi yang tidak sempurna karena vaskularisasi
abnormal, distensi uterus, perkembangan plasenta yang abnormal dan peningkatan
kontraktilitas uterus

Faktor Paternal
Translokasi kromosom dalam sperma dapat menyebabkan zigote mempunyai terlalu
sedikit atau terlalu banyak bahan kromosom, sehingga mengakibatkan abortus

II. Patogenesis
Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti
dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada
daerah implantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan per vaginam.
Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing
dalam rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu
terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa
pada abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama dua minggu sebelum
perdarahan. Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin tidak layak dilakukan
jika telah terjadi perdarahan banyak karena abortus tidak dapat dihindari. Sebelum minggu
ke-10, hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum
minggu ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur
mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10 hingga minggu ke-12 korion tumbuh
dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut
sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus. Pengeluaran hasil konsepsi
didasarkan 4 cara:

i. Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa
desidua.
ii. Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan
desidua.
iii. Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke
luar, tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan).
iv. Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. Kuretasi
diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau infeksi lebih lanjut
Gambaran Klinis Abortus

Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens (threatened abortion),
abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkompletus (incomplete abortion) atau
abortus kompletus (complete abortion), abortus tertunda (missed abortion), abortus habitualis
(recurrent abortion), dan abortus septik (septic abortion).

Abortus Iminens (Threatened abortion)

Vagina mengeluarkan bercak darah atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi
selama kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat
mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar setengah
dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus.

Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu
mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat
berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti
saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma serviks, kehamilan ektopik, dan
kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens karena dapat memberikan
perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip, ulserasi vagina
atau karsinoma serviks, sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi
Abortus Insipiens (Inevitable abortion)

Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak,
kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan
ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat
teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang
tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin
biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan
kontraindikasi.

Abortus Inkompletus atau Abortus Kompletus

Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau
teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). Perdarahan
biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka
karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing (corpus alienum).
Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi
sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada abortus insipiens. Jika hasil konsepsi
lahir dengan lengkap, maka disebut abortus komplet. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu
dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim
dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena
dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan
segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus
inkompletus atau endometritis pasca abortus harus dipikirkan
Abortus Tertunda (Missed abortion)

Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan
sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan di dalam
kandungan.

Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun kecuali merasakan
pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Bila kehamilan di atas 14 minggu
sampai 20 minggu penderita justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda-
tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang. Kadangkala missed abortion
juga diawali dengan abortus imminens yang kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan
janin terhenti. Pada pemeriksaaan tes urin kehamilan biasanya negatif setelah satu minggu
dari terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan USG akan didapatkan uterus
yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil dan bentuknya tidak beraturan yang disertai
gambaran feus yang tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bila missed abortion berlangsung lebih
dari 4 minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan penjendalan darah oleh
karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi sebelum tindakan evakuasi
dan kuretaseAbortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda akan
dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya, serta
selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada pemeriksaan
dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit.

Abortus Habitualis (Recurrent abortion)

Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan kelainan
struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis abortus habitualis
merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Etiologi abortus ini adalah
kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah
patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan kesalahan plasenta yaitu
tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga
merupakan etiologi dari abortus habitualis.

Abortus Septik (Septic abortion)

Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau
toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada abortus
inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan syarat-
syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat menyebabkan abortus septik adalah
seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes, Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci

III. Diagnosis
1. Menurut WHO (1994), setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua
daripada tiga gejala seperti di bawah dari hasil anamnesis harus dipikirkan kemungkinan
terjadinya abortus:
1. Perdarahan pada vagina.
2. Nyeri pada abdomen bawah.
3. Riwayat amenorea.

2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan panggul. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah leher rahim
sudah mulai membesar.
1. Pemeriksaan penunjang:
a) Pemeriksaan USG (Ultrasonografi). Hal ini membantu dokter untuk
memeriksa detak jantung janin dan menentukan apakah embrio berkembang normal.
b) Pemeriksaan darah. Jika mengalami keguguran, pengukuran hormon
kehamilan, HCG beta, kadang-kadang bisa berguna dalam menentukan apakah Anda telah
benar-benar melewati semua jaringan plasenta.
c) Pemeriksaan jaringan. Jika telah melewati jaringan, dapat dikirim ke
laboratorium untuk mengkonfirmasi bahwa keguguran telah terjadi - dan bahwa gejala tidak
berhubungan dengan penyebab lain dari perdarahan kehamilanUltrasonografi penting dalam
mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan bahwa suatu kehamilan adalah
intrauterin. Apabila ultrasonografi transvaginal menunjukkan sebuah rahim kosong dan
tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari 1.800 mIU per mL (1.800 IU per L), kehamilan
ektopik harus dipikirkan. Ketika ultrasonografi transabdominal dilakukan, sebuah rahim
kosong harus menimbulkan kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG kuantitatif lebih
besar dari 3.500 mIU per mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong pada
pemeriksaan USG dapat mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi diagnosis tidak
definitif sehingga kehamilan ektopik disingkirkan (Griebel et al., 2005; Puscheck, 2010).

Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), diagnosa abortus menurut gambaran


klinis adalah seperti berikut:

i. Abortus Iminens (Threatened abortion)


a. Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau
ringan.
b. Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar uterus
sesuai dengan umur kehamilan.
c. Pemeriksaan penunjang hasil USG.
ii. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim.
b. Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam rahim, dan
ketuban utuh (mungkin menonjol).

iii. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus


a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri / kontraksi
rahim ada, dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
b. Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah kehamilan.

iv. Abortus Tertunda (Missed abortion)


a. Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.
b. Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi
jantung janin tidak ada.
c. Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin).

d. Penatalaksanaan

Penilaian awal

Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari :

Keadaan umum pasien


Tanda-tanda syok seperti pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik < 90 mmHg,
nadi > 112 x/menit
Bila syok disertai dengan massa lunak di adneksa, nyeri perut bawah, adanya cairan bebas
dalam cavum pelvis, pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik yang terganggu.
Tanda-tanda infeksi atau sepsis seperti demam tinggi, sekret berbau pervaginam, nyeri perut
bawah, dinding perut tegang, nyeri goyang portio, dehidrasi, gelisah atau pingsan.
Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat ditatalaksana pada fasilitas kesehatan
setempat atau dirujuk (setelah dilakukan stabilisasi)
1. Penanganan spesifik

Missed abortion seharusnya ditangani di rumah sakit atas pertimbangan :

Plasenta dapat melekat sangat erat di dinding rahim, sehingga prosedur evakuasi (kuretase)
akan lebih sulit dan resiko perforasi lebih tinggi.
Pada umumnya kanalis servikalis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi
dengan batang laminaria selama 12 jam.
Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut dengan gangguan
pembekuan darah.

Pengelolaan missed abortion harus diutarakan pada pasien dan keluarganya secara baik
karena resiko tindakan operasi dan kuretase ini dapat menimbulkan komplikasi perdarahan
atau tidak bersihnya evakuasi/kuretase dalam sekali tindakan. Faktor mental penderita perlu
diperhatikan, karena umumnya penderita merasa gelisah setelah tahu kehamilannya tidak
tumbuh atau mati. Pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu, tindakan evakuasi dapat
dilakukan secara langsung dengan melakukan dilatasi dan kuretase serviks uterus
memungkinkan. Bila umur kehamilan diatas 12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan
keadaan serviks uterus yang masih kaku dianjurkan untuk melakukan induksi terlebih dahulu
untuk mengeluarkan janin atau mematangkan kanalis servikalis. Beberapa cara dapat
dilakukan antara lain dengan pemberian infus intravena cairan oksitosin dimulai dari dosis 10
unit dalam 500 cc dekstrose 5 % tetesan 20 tetes permenit dan dapat diulangi sampai total
oksitosin 50 unit dengan tetesan dipertahankan untuk mencegah terjadinya retensi cairan
tubuh. Jika tidak berhasil, penderita diistirahatkan satu hati dan kemudian induksi diulangi
biasanya maksimal 3 kali. Setelah janin ataupun jaringan konsepsi berhasil keluar dengan
induksi ini dilanjutkan dengan tindakan kuretase sebersih mungkin.

Pada dekade belakangan ini banyak tulisan yang telah menggunakan prostaglandin atau
sintetisnya untuk melakukan induksi pada missed abortion. Salah satu cara yang banyak
disebutkan adalah dengan pemberian mesoprostol secara sublingual sebanyak 400 mg yang
dapat diulangi 2 kali dengan jarak 6 jam. Dengan obat ini kan terjadi pengeluaran hasil
konsepsi atau terjadi pembukaan ostium serviks sehingga tindakan evakuasi ataupun kuretase
dapat dikerjakan untuk mengosongkan kavum uteri. Kemungkinan penyulit pada tindakan
missed abortion ini lebih besar mengingat jaringan plasenta yang menempel pada dinding
kavum uterus biasanya sudah lebih kuat. Apabila terdapat hipofibrinogenemia perlu disiapkan
transfuse darah segar atau fibrinogen. Pascatindakan jika perlu dilakukan pemberian infus
intravena cairan oksitosin dan pemberian antibiotika.
e. Komplikasi

A. Komplikasi Abortus

Komplikasi yang berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi, dan syok.

Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika
perlu diberikan transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan
tidak diberikan pada waktunya.

Perforasi

Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda
bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi,
penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi.

Infeksi
Syok

Syok pada abortus dapat terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dank arena infeksi
berat (syok endoseptik).
DOKUMENTASI

1. Identitas Pasien
a. Nama : Ny. D H
b. Umur : 41 tahun
c. Pendidikan : SMP
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. Agama : Islam
f. Suami : Tn. A
g. Umur : 45 tahun
h. Pendidikan : SMA
i. Pekerjaan : Pegawai Swasta
j. Alamat : Jl. Beringin, Malangan, Tidar Utara, Magelang Selatan
k. Tanggal masuk : 22 Maret 2017

1. Anamnesis tanggal 11 Oktober 2016 pukul 13.00


a. Keluhan Utama
Pasien mengeluarkan darah dari jalan lahir sedikit demi sedikit,.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang wanita berusia 41 tahun dengan status G2P1A0 datang dengan keluhan
mengeluarkan darah dari jalan lahir sedikit demi sedikit, keluhan ini sudah
dirasakan pasien sejak 2 minggu yang lalu. Pada awalnya pasien mengeluh
perutnya terasa agak nyeri dan kemudian diikuti dengan keluar bercak darah.
Pasien mengatakan bahwa saat ini dalam kondisi mengandung anak kedua dan
HPHT pasien tanggal 16-12-2016, pasien mengatakan bahwa pernah mengalami
flek pada usia kehamilan dua bulan dan kemudian berhenti sendiri sampai saat ini
pasien mengaku tidak pernah mengalami perdarahan yang banyak dan
mengeluarkan benda atau jaringan dari vagina. Pasien mengatakan bahwa darah
yang keluar tidak banyak, cukup dengan ganti 1 buah pembalut setiap hari,
warnanya merah agak kecoklatan dan tidak berbau. Pasien juga mengatakan bahwa
tidak pernah terjatuh atau terbentur selama kehamilan ini, pekerjaan pasien juga
tidak banyak dan berat hanya mengurus anak dan rumah tetapi selalu istirahat
dalam waktu yang cukup. Pasien selama kehamilan tidak pernah mengkonsumsi
alkohol, rokok, jamu dan obat obatan yang tidak diresepkan dokter.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat asma : disangkal
Riwayat jantung : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat TBC : disangkal
Riwayat Mondok : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat hamil kembar : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat DM : disangkal
Riwayat TBC : disangkal

e. Riwayat menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 4 hari
Kuantitas : 3x ganti pembalut pada hari pertama dan kedua.
Dismenorea : disangkal
HPHT : 16 Desember 2016

f. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali. Lama menikah 16 tahun.

g. Riwayat Obstetri : G2P1A0


Keadaan Kehamilan, Umur Keadaan Tempat
No.
Persalinan, Keguguran sekarang Anak Perawatan
Kehamilan cukup bulan
1. Sehat Bidan
(39/40mg) persalinan secara 14 tahun
partus spontan, berat lahir
3000gr, nifas baik
2. Hamil ini

h. Riwayat operasi dan penyakit yang pernah dijalani


Disangkal pasien

i. Riwayat kehamilan Sekarang


ANC (+) di Bidan , sebanyak 3 kali
HPL : 23 September 2017
j. Riwayat Keluarga Berencana
Disangkal, pasien pernah pakai pil KB setelah melahirkan anak pertama tapi
tidak rutin dan tidak dilanjutkan lagi.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Suhu : 36,8 oC
Nadi : 84 x/ menit
RR : 22 x/ menit
BB : 42 Kg
TB : 150 cm
Kulit : Turgor baik
Kelenjar limfe : Tidak teraba
Kepala : Mesosephal, konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Thorax
Pulmo Inspeksi : Jejas (-), simetris +/+, ketinggalan gerak (-)
Palpasi : vokal fremitus +/+, ketinggalan gerak (-)
Perkusi : Sonor +/+
Auskultasi : SDV +/+, Ronkhi -/-, wheezing -/-
Jantung Inpeksi : Ictus cordis tak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC IV
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : S1 dan S2 tunggal, regular, bising (-).
Abdomen
Inpeksi : Striae gravidarum (-), jejas (-)
Palpasi : Hepar dan lien tak teraba, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik (+)
Ektremitas : edema tungkai-/-. CRT <2 detik, akral hangat
b. Pemeriksaan Ginekologik :
a. Abdomen :
Inspeksi : tampak sedikit membuncit, linea mediana
hiperpigmentasi, striae (-)
Palpasi : FUT tak teraba
Perkusi : Tympani
Auskultasi : bising usus (+) normal.
b. Genitalia
i. Inspeksi : Vulva / Urethrae / Vagina tenang
ii. Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan
TFU : tepat diatas simfisis
iii. Vaginal Toucher / VT :
Fluxus (+), Fluor ( - )
Portio posterior, teraba lunak sebesar jempol tangan
Ostium Uteri Eksterna tertutup
Corpus Uteri sebesar telur bebek,
Adnexa Parametrium tenang
Cavum Douglas tenang
3. Diagnosis
G2P1A0, usia ibu 41 tahun, usia kehamilan 13 minggu dengan missed abortion

4. Sikap
a. Informed consent
b. Pengawasan keadaan umum, perdarahan pervaginam dan tanda vital
c. Usul cek darah rutin
d. Usul pemeriksaan USG

5. Pemeriksaan Penunjang
USG

Hasil :Gestational Sac(+), Fetal Pole (+). Fetal Heart Movement (-), Fetal
Movement (-)
Kesan : Missed abortion

6. Diagnosis
G2P1A0 , Usia Ibu 41 tahun, Usia Kehamilan 13 minggu dengan Missed abortion

7. Sikap
Informed consent
Menyarankan pasien rawat inap untuk persiapan dilatasi dan kuretase
Melakukan pemasangan akses intravena untuk persiapan dilatasi dan kuretase
Pengambilan darah untuk pemeriksaan darah rutin, HbsAg dan Anti HIV
Pemberian misoprostol 800mcg dan dievaluasi dalam 3 jam dengan maksimal
pemberian 2 kali
Melakukan pemeriksaan USG setelah janin keluar dan dipersiapkan untuk
kuretase
1. Winkjosastro, H : Ilmu Kebidanan edisi ketiga cetakan keempat. Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. 1999; 302-312.
2. Mochtar R. Abortus dan kelainan dalam kehamilan. Dalam : Sinopsis Obstetri. Edisi kedua.
Editor : Lutan D. EGC, Jakarta, 1998; 209-217
3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ. In: Williams Obstetrics. Ed 23. The Mc Graw-Hill
Companies. New York, 2001