Anda di halaman 1dari 11

1.

1 Pertumbuhan tulang dan struktur dan fungsi plat pertumbuhan


Tulang panjang pada anak anak mengandung daerah kartilaginosa yang dikenal dengan plat
pertumbuhan ( plat epifiseal ) pada kedua ujungnya, dimana masing masing plat
bertanggungjawab untuk pertumbuhan longitudinal tulang panjang tersebut dengan
memproduksi bahan kartilaginosa bermineral untuk pembentukan tulang ( proses yang
disebut osifikasi endokondral (1-3). Area yang mengandung kartilago ini akan menurun
secara signifikan seiring dengan bertambah tuanya orang tersebut dan pertumbuhan
maksimum tulang panjang telah tercapai. Selama osifikasi endokonral, kondrosit bergerak
secara progresif menuju tiga zona yang berbeda pada plat pertumbuhan ( gbr 1) : zona
istirahat, zona proliferasi dan zona hipertrofi ( 1,4,5) untuk membentuk tulang dalam daerah
metafiseal.

1.1.1 Zona Istirahat


Dahulu, zona istirahat diperkirakan tidak memainkan peran langsung pada pertumbuhan
longitudinal tulang tulang dikarenakan sel sel pada zona ini ( prekondrosit )
berproliferasi sangat lambat atau bahkan tidak berproliferasi sama sekali.(6) Secara
histology, zona istirahat ditandai dengan distribusi yang jarang dari sel sel bulat yang
tunggal atau berpasangan dan kaya akan lemak dan vakuola sitoplasmik dalam matriks,
mengindikasikan peran dari zona istirahat ini sebagai gudang nutrisi.( 1,6,7 ) Meskipun
zona istirahat memiliki kemampuan untuk memproduksi matriks kartilaginosa, zona ini
tetap relative inaktif dalam hal pergantian sel dan matriks,(1) dengan produksi
proteoglikan dan kolagen IIa dengan laju yang sangat lambat (8). Di sisi lain, penelitian
telah menyatakan bahwa sel sel dalam zona istirahat bertindak sebagai tempat
berkumpulnya sel sel yang mirip sel punca, memproduksi kondrosit berproliferasi
untuk zona proliferasi.(9,10) Sebagai tambahan, Abad et al ( 2002 ) melaporkan bahwa
dengan memproduksi plat pertumbuhan dengan oreintasi morfogen yang tidak diketahui,
zona istirahat bertanggung jawab mempengaruhi pertumbuhan kea rah kolumnar dari plat
pertumbuhan kondrosit dalam zona proliferative. (10)
1.1.2 Zona proliferative
Ada dua fungsi pada zona proliferasi, produksi matriks dan pembelahan selular, dimana
kedua peran ini memainkan kontribusi vital bagi pertumbuhan longitudinal dari tulang
tulng panjang. (1) Secara histology, zona proliferative ditandai dengan kolom
longitdunial dari kondrosit yang cenderung pipih. Kolom kolom ini dipisahkan satu
dengna lainnya melalui matriks kartilago di sekitarnya, yang kaya akan kolagen Iia (6).
Luasnya pertumbuhan longitudinal total dapat ditentkan dengan mengukur ketebalan
zona proliferative, dengan sebagian besar sel yang nampak mewakili potensi yang lebih
besar untuk pertumbuhan longitudinal (6). Pada akhir zona proliferative, kondrosit tidak
lagi berproliferasi dan malahan menjadi hipertrofi ketika mereka memasuki zona
hipertrofi.
1.1.3 Zona Hipertrofi
Secara histology, sel sel dalam zona hipertrofi berukuran 5 hingga 10 kali lipat lebih
besar daripada sel sel pada zona proliferasi. Memproduksi kolagen X dan alkali
fosfatase, zona hipertrofi terlibat dalam mineralisasi matriks. Lebih spesifik, bersama
dengan produksi faktor pertumbuhan endothelial vascular ( VEGFa), mineralisasi dan
angiogenesis terjadi, menyebabkan inkondrosit yang terletak pada zona hipertrofi paling
dasar terutama pada daerah chondro osseo junction mengalami kematian sel apoptosis,
yang mengakibatkan jaringan yang terkalsifikasi / sel yang meresorbsi tulang ( osteoklas
atau kondroklas ) memasuki zona dan menguraikan kartilago yang terkalsifikasi. (7)
Influks sel yang membangun tulang ( osteoblas) membuat matrik tulang terdeposit untuk
menggantikan jaringan yang sebelumnya teresorbsi untuk membentuk tulang trabekula
( 1,4,11,12 ). Sehingga, dengan vaskularisasi dan aksi yang terkoordinasi dari osteoklas /
kondroklas dan osteoblas, kartilago hipertrofi yang terkalsifikasi dibentuk dan dibentuk
ulang menjadi tulang trabekula metafiseal, dimana plat pertumbuhan kartilago
termineralisasi yang pertama kali digantikan oleh tulang rajut primer ( utamanya
spongiosa ) dan kemudian dibentuk ulang menjadi tulang laminar trabekula yang lebih
dewasa ( sekunder spongiosa ) (4). Pada tulang yang sudah dewasa, daerah metafisis
terletak di antara pertemuan epifisis dan diafisis. Karena kondrosit hipertrofi lebih besar
dalam hal ukuran dan memiliki zona kartilago terkalsifikasi yang secara realtif lebih tebal
yang bertindak sebagai dasar dari deposit tulang, ona hipertrofi adalah mesin utama dari
pertumbuhan longitudinal tulang, dan variasi laju peningkatan ketebalan zona hipertrofi
dianggap sebagai alasan utama dibalik perbedaan laju pertumbuhan di berbagai bagian
tubuh.
Gbr 1. Struktur plat pertumbuhan dan metafisis. Plat pertumbuhan adalah struktur
kartilaginosa yang terletak pada ujung tulang panjang dan terdiri dari tiga zona berbeda,
masing masing disebut,zona istirahat, proliferative dan hipertrofi. Selama proses
osifikasi endokondral, struktur kartilago hipertrofi berkalsifikasi dan bertindak sebagai
dasar pembentukan tulang trabekula dalam region metafiseal.

1.2 Cedera plat pertumbuhan, respon terhadap cedera dan mekanisme perbaikan
1.3 .1 Cedera plat pertumbuhan, klasifikasi dan efek pada pertumbuhan tulang
Akibat trauma pada saat berolahraga dan bermain, fraktur skeletal sangat umum ditemukan pada
anak anak. Karena plat pertumbuhan adalah daerah yang kurang rigid pada tulang panjang,
cedera pada daerah ini sering terjadi, dan diperkirakan sekitar 20 % dari tulang yang patah
melibatkan plat pertumbuhan ( 13). Sistem klasifikasi Salter Harris telah digunakan untuk
membedakan tipe tipe yang berbeda pada cedera plat pertumbuhan dan hubungan antara
karakteristik fraktur dan prognosisnya (gbr 2) ( 1,14-16). Literatur terbaru mengindikasikan
bahwa tipe fraktur yang paling umum ditemukan pada distal tibia anak anak kecil adalah tipe I
( sekitar 40%), dimana pada sebagian besar kasus memiliki prognosis baik karena sel sel yang
bertanggung jawab untuk pertumbuhan interstisial dari plat pertumbuhan dan juga suplai darah
epifiseal tidak terganggu ( 16 18). Mirip, prognosis untuk pertumbuhan ke depannya pada
fraktur tipe II juga termasuk baik. Tipe tipe lain dari fraktur, tipe III, IV dan V, pada akhirnya
akan menghasilkan pembentukan tulang pada tempat cedera ( 19). Diperkirakan hingga 30% dari
semua anak kecil dengan cedera terkait plat pertumbuhan, pembentukan jaringan tulang yang
tidak diinginkan dan jembatan tulang pada tempat cedera menghalangi pertumbuhan normal dari
tulang panjang yang sedang tumbuh pada anggota gerak yang terkena ( 20,21) menghasilkan
masala ortopedi yang signifikan seperti adanya perbedaan panjang anggota gerak dan deformitas
angulasi tulang ( 21,22)

Gambar 2. Sistem klasifikasi Salter Harris. Fraktur tipe I dan II tidak mempengaruhi suplai
darah epifiseal. Di sisi lain, tipe III, IV dan V merusak suplai darah dan lebih sering
menghasilkan perbaikan jaringan tulang yang tidak diinginkan menyebabkan masalah angulasi
dan hambatan pertumbuhan.

1.3.2 Respon cedera setelah fraktur plat pertumbuhan


Mekanisme molecular dan selular dari perbaikan tulang setelah plat pertumbuhan yang cedera
masih menjadi misteri besar. Penelitian awal mengidentifikasi empat fase berbeda dari respon
cedera pada model tikus dengan cedera plat pertumbuhan ( 23) peradangan, fibrogenik,
osteogenik dan respon remodel maturasi jembatan tulang yang terjadi selama hari ke 1-3,3-7,7-
14,10-25, masing masing. Pola ini mirip dengan pola perbaikan cedera plat pertumbuhan yang
ditunjukkan pad amodel murine dengan cedera plat pertumbuhan. Sebagai tambahan, respon
cedera yang sama juga diamati pada berbagai model cedera plat pertumbuhan termasuk tikus,
kelinci, babi dan biri biri ( 24 27). Setelah penelitian ini, terdapat beberapa tambahan
penelitian mekanistik in vivo yang menggunakan model cedera plat pertumbuhan pada tibia tikus
( 28 31)

1.3.2.1 Fase peradangan


Umumnya pada fraktur tulang dan cedera jaringan lunak, respon pertama setelah cedera plat
pertumbuhanan adalah fase peradangan ( 23,31,32). Selama fase inisial terdapat influx sel
peradangan yang didominasi oleh neutrofil bersama dengan makrofag / monosit dan limfosit
masuk menuju tempat cedera plat pertumbuhan. Influks cepat dari sel sel epradangan telah
diteliti terjadi dalam 8 jam setelah cedera pada model tikus dengan cedera plat pertumbuhan,
waktu puncaknya adalah hari eprtama dan secara gradual menurun pada hari ke 3. Konsisten
dengan jumlah neutrofil yang besar yang terlihat pada infiltrate, ekspresi gen pada kemokin
neutrofil CINC 1 tikus ( mirip dengan interleukin 8 pada manusia ) menunjukkan peningkatan
yang signifikan selama masa puncak fase peradangan ( hari 1 ) (29). Pada akhir fase peradnagan
( hari ke 4) kadar CINC 1 menurun hingga hampir kembali pada nilai dasar. Bersama dengan
influx sel peradangan yang masuk pada tempat cedera, infiltra juga mensekresi berbagai macam
faktor pertumbuhan dan sitokin sitokin yang berperan dalam meregulasi respon downstream
lebih lanjut pada perbaikan cedera plat pertumbuhan. Sitokin pro inflamasi tumor necrosis factor
alpha ( TNF- alpha) dan iterleukin 1 ( IL 1 beta), yang dikenal sebagai regulator peradangan
setelah cedera jaringan dan fraktur tulang, tampak pada kadar ekspresi mRNA mereka selama
fase peradnagan mencapaimasa puncak antara 8 jam hingga 1 hari setelah cedera ( 33) ( Gbr 3).
Penelitian lebih lanjut juga menunjukkan peningkatan signifikan pada sitokin sitokin ini pada
hari pertama setelahc edera pada model tikus dengan cedera plat pertumbuhan ( 28,29). Faktor
pertumbuhan insulin like growth factor ( IGF I ) dan transforming growth factor ( TGF
beta) juga ditemukan meningkat kadarnya selama fase awal dari perbaikan cedera ( 33).
Penelitian sebelumnya telah meneliti peranpotensial dari fase peradangan dalam memediasi
kaskade kejadian downstream yang mengakibatkan pembentukan jembatan tulang setelah cedera
plat pertumbuhan. Sebagai salah satu kunci regulator dalam respon peradangan, p38 mitogen
activated protein kinase ( MAPK )meningkat setelah aktivasi pada plat pertumbuhan yang cedera
( 31) ( gbr 3). Lebih lanjut, Zhou et al ( 2006) menemukan bahwa TNF alfa diperlukan untuk
aktivasi p38 pada cedera plat pertumbuhan karena aktivasi p38 dihambat pada tikus yang diterapi
dengan agen antaganosi TNF alfa (31). Menghambat TNF alfa juga mengakibatkan
berkurangnya infiltrasi mesenkimal, proliferasi dan juga berkurangnya ekspresi FGF 2,
mengindikasikan peran potensial dari TNF alfa pada infiltrasi mesenkimal dan proliferasi
dalam tempat terjadinya cedera plat pertumbuhan. Hal yang serupa, Gerstenfeld et al ( 2001)
menemukan bahwa pada patah tulang, menghambat sinyal TNF alfa mengakibatkan
tertundanya pembentukan kalus tulang secara signifikan ( 34). Peran TNF alfa juga telah
diteliti pada berbagai tipe perbaikan jaringan. Konsisten dengan temuan peran TNF alfa pada
infiltrasi sel emsenkimal pada tempat cedera plat pertumbuhan ( 31), Fu et al ( 2009 )
melaporkan bahwa TNF alfa memiliki peran kemotaksis kuat untuk migrasi sel punca
mesenkimal selama perbaikan luka ( 35), dan sehingga penghambatan TNF alfa akan
mengakibatkan tertundanya migrasi MSC dan penyembuhan luka. Kesimpulannya, semua
penelitian penelitian tersebut menekankan pentingnya TNF alfa selama penyembuhan
jaringan.
Sebagian besar sel sel peradangan terlibat pada fase peradangan adalah neutrofil ( 23),
penelitian lanjutan meneliti peran dari respon peradangan yang dimediasi neutrofil pada proses
penyembuhan cedera plat pertumbuhan dengan menggunakan anti serum untuk mengurangi
mayoritas neutrofil ( 29). Sebagai akibat dari deplesi neutrofil, peningkatan ekspresi dari gen
gen osteogenesis seperti osteocalcin dan Runt related transcription factor 2 ( Runx2 juga
secara umum dikenal sebagai core binding factor alpha 1 atau cbf alpha 1) sangat nampak.
Sebagai tambahan, deplesi neutrofil juga menurunkan ekspresi gen gen terkait kondrogenesis
seperti Sox 9 dan kolagen Iia ( 29). Penelitian ini mengindikasikan bahwa neutrofil
memainkan peran menginisiasi respon terhadap cedera plat pertumbuhan dan secara
berkelanjutan meningkatkan diferensiasi kondrogenik. Selama proses penyembuhan perbaikan
tulang dan jaringan lunak, rekrutmen neutrofil juga menjadi sangat vital, karena neutrofil
memainkan peran aktif dalam pembersihan bakteri dan mikrodebris yang tidak diinginkan dalam
zona daerah luka. ( 36,37)
Lebih lanjut, salah satu penelitian sebelumnya mengamati ekpresi gen enzim cyclo oxygenase
2 ( COX 2 ) dan inducible nitric oxide synthase ( iNOS) yang meningkat sebagai mediator
peradangan utama yang diinduksi oleh cedera pada plat pertumbuhan ( gbr 3) dan ditemukan
bahwa penghambatan terhadapa COX 2 atau iNOS dengan inhibitor spesifik dapat
menyebabkan peningkatan proporsi jaringan mesenkimal tidak terdiferensiasi namun penurunan
diferensiasi kondrogenic pada tempat cedera (28). Penelitian ini mengonfirmasi bahwa respon
peradangan yang diinduksi adanya cedera secara umum pada plat pertumbuhan sangat
diperlukan untuk meningkatkan diferensisasi kondrogenik pada sel sel mesenkimal.
Kesimpulan, penelitian penelitian ini menyatakan bahwa respon peradangan yang diinduksi
cedera memili peranan penting sejak dini dalam meregulasi perbaikan cedera plat pertumbuhan
karenan respon inflamasi menginisiasi dan meregulasi kaskade downstream yang menyebabkan
perbaikan tulang pada tempat cedera plat pertumbuhan. Mirip dengan proses penyembuhan
tulang yang patah, kedua mediator peradangan ( COX 2 dan iNOS ) telah ditemukan memiliki
peranan penting dalam memicu kaskade yang menyebabkan perbaikan jaringan. Lbih spesifik,
sejumlah penelitian mengenai patah tulang telah menunjukkan bahwa menghambat COX 2
akan menunda pembntukan tulang dan penyembuhan fraktur ( 38 41), menekankan pentingnya
respons peradangan yang diinduksi cedera dan enzim COX 2 selama penyembuhan jaringan.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa selama fase peradangan terdapat peningkatan kadar dari
beberapa anggota keluarga bone morphogenic protein ( BMP ). BMP telah dikenal memiliki
peran dalam diferensiasi kondrogenik dan osteoblastogenik dan juga mendorong proliferasi dan
migrasi sel mesenkimal ( 42,43). Ngo et al ( 2006 ) mengamati kehadiran dan upregulasi dari
BMP 3 dan BMP 4 pada tikus muda dengan cedera plat pertumbuhan ( 44) ( Gbr 3). BMP 4
juga nampaknya dipreoduksi oleh sel sel peradangan yang mengindikasikan peranan mereka
dalam memediasi kejadian peradangan awal dalam regulasi migrasi dan diferensisasi sel
mesenkimal ( 44). BMP 4 memiliki peranan regulasi migrasi sel mesenkimal dan diferensiasi
selama penyembuhan skeletal juga ditemukan pada penelitian lain yang meneliti peranan
potensial dan kadar ekspresi BMP 4 dalam regenerasi jaringan untuk memperpanjang tulang
paha pada model kelinci. (45 )
Gbr 3. Respon penyembuhan dan ekspresi gen pada cedera plat pertumbuhan. Pada cedera plat
pertumbuhan dengan model tikus diamati adanya empat fase penyembuhan jaringan yakni fase
peradanganm fibrogenik dan osteogenik dan fase maturasi pada hari 1-3, 3-7 dan 8 dan hari
hari seterusnya, masing masing, yang ditemani dengan peningkatan kadar ekspresi mRNA
sitokin spesifik, mediator peradangan dan faktor pertumbuhan pada setiap fase.

1.3.2.2. Fase fibrogenik


Setelah fase awal peradangan pada model tikus dengan cedera plat pertumbuhan, berikutnya
adalah fase fibrogenik yang terjadi selama hari ke 3 7 setelah cedera ( 23 ). Respon fibrogenik
melibatkan sel mesenkimal fibrosa vimentin immunopositif masuk ke dalam tempat cedera
( 23). Respon ini juga diamati pada tikus, dengan rerata 7 hari setelah cedera, dimana nampak sel
berbentuk spindle tidak terdiferensiasi di dekat area superior dan inferior pada tempat cedera plat
pertumbuhan ( 24 ). Meskipun belum dikonfirmasi, temuan temuan sebelumnya dari
osteogenesis dan juga kondrogenesis dari sel sel infiltrasi ini ( 23, 28 30 ) menyatakan bahwa
sel sel filtrasi ini dapat mengandung sel kondropreginotr dan osteoprogenitor awal dan juga sel
punca mesenkimal multipoten. Infiltrasi seperti sel progenitor stromal ( berasal dari periosteum,
sirkulasi juga berasal dari sumsum tulang ) mengikuti respon peradangan telah dipastikan pada
patah tulang, yang sangat penting untk pembentukan jembatan kallus lunak pada tahap
proses penyembuhan fraktur berikutnya ( 25, 32,46).
Selama proses influx sel fibrogenik baik pada plat pertumbuhan maupun tulang yang cedera,
kadar mRNA dari faktor pertumbuhan FGF 2 dan PDGF BB telah ditemukan secara
signifikan meningkat regulasinya, menginkasikan kemungkinan keterlibatan kedua faktor
pertumbuhan yang meregulasi fase reaksi mesenkimal baik pada tulang maupu proses
penyembuhan cedera plat pertumbuhan ( gbr 3 ) ( 33,47 ). FGF -2 memiliki fungsi pada berbagai
respon biologis seperti proliferasi sel, diferensisasi dan migrasi ( 48 ) . Selama penyembuhan
patah tulang, berbagai sel seperti monosit, makrofag, sel mesenkimal, osteoblas dan kondrosit
memproduksi FGF 2 ( 49). Bersama dengan peran yang sudah diketahui pada migrasi dan
proliferasi sel mesenkimal ( 50 51 ), FGF 2 telah ditemukan menghambat diferensiasi
kondrosit ( 55), aktivitas alkali fosfatase ( 52,53) dan juga merangsang resorpsi tulang in vitro
( 54,55), menegaskan peranan FGF 2 dalam menekan diferensiasi sel skeletal selama proses
penyembuhan tulang. Menariknya, penelitian in vitro terkini menunjukkan bahwa FGF 2 dapat
meningkatkan potensiasi diferensiasi osteogenik dan kondrogenik pada sel sel mesenkimal
melalui penekanan sinyal knci dari TGF beta ( 51,56). Namun, meskipun FGF 2 memiliki
kemungkinan peranan pada proliferasi, migrasi dan diferensiasi sel mesenkimal dan
osteoprogenitor, penelitian lanjut dibutuhkan untuk meneliti fungsi dari peningkatan regulasi
FGF 2 pada cedera plat pertumbuhan selama fase fibrogenik ( 31,33).
PDGF telah didokumentasikan memiliki banyak peranan berbeda termasuk migrasi selm
proliferasi sel dan angiogenesis dalam penyembuhan luka ( 57 60 ). Secara khusus, PDGF juga
berperan sebagai kemotaktan poten untuk fibroblast dan sel otot polos 9 61). Selama
penyembuhan patah tulang, PDGF telah ditemukan sangat penting untuk memicu kejadian awal
yang menyebabkan migrasi dan proliferasi fibroblast dan osteoblas ( 49 ). Serupa, Zhou et al
( 2004 ) menemukan bahwa kadar ekspresi gen PDGF BB secara signifikan meningkat selama
fase peradangan pada model tikus dengan cedera plat pertumbuhan ( 33), menyatakan adanya
peranan penting potensial PDGF pada fase fibrogenik dari penyembuhan plat pertumbuhan ( 30 )
.
1.3.2.3. Fase maturasi dan osteogenik
Setelah fase fibrogenik, respon osteogenik selanjutnya melibatkan diferensiasi sel tulang di
antara beberapa sel infiltrate mesenkimal, yang diindikasikan dengan adanya pewarnaan
imunohistokimia yang positif pada Runx 2 dan alkali fosfatase ( penanda diferensiasi dan
maturasi osteoblastik, masing maisng ) ( 23,28-30). Lebih lanjut, adaya deposisi tulang aktif
yang mengandung protein matrik tulang osteocalcin pada permukan tulang trabekula yang baru
dalam tempat cedera plat pertumbuhan sebagai indikasi pembentukan jaringan tulang ( 23,28).
Selama proses remodel dan maturasi jembatan tulang, trabekula tulang ditemkan terpisah dari sel
sel sumsum yang kaya nutrisi dan dikelilingi leh osteoblas inaktif berbebntuk seperti spindle
pipil pada fase istirahat yang memproduksi sedikit atau bahkan sama sekali tidak memproduksi
osteocalcin yang menjadi karakteristik pembentukan tulang inaktif ( 23). Sebagai tambahan, sel
sel resorpsi osteoklas yang kadang - kadang terlihat pada beberapa area yang baru terbentuk
trabekula pada tempat cedera ( 30 ), menyatakan bahwa resorpsi tulang osteoklastik terlibat
dalam fase maturasi jembatan tulang pada plat pertumbuhan yang cedera. Sementara mekanisme
molecular yang meregulasi fase maturasi ini masih belum jelas, peningkatan regulasi TNF alfa,
IGF I dan BMP 7 pada plat pertumubuhan yang cedera ( Gbr 3) menyatakan keterlibatan
mereka pada remodel jembatan tulang ( 33,44). Secara konsisten, peningkatan regulasi TNF
alfa telah diamati selama fase remodel pada proses penyembuhan patah tulang ( 62 ) dan TNF
alfa memainkan peran penting dalam regulasi remodel tulang dengan meningkatkan diferensiasi
respsi tulang osteoklas ( 63 ) . Hal yang sama, peningkatan regulasi BMP 7 juga dikenal sangat
penting untuk pembentukan tulang dan remodel pada tempat patah tulang ( 64 ). Penelitian lebih
lanjut dibutuhkan untuk mengetahui karakteristik mekanisme molecular dan selular yang
mengatur maturasi / remodel jembatan tulang pada tempat plat pertumbuhan yang cedera.

1.3.2.4. Efek cedera pada jaringan sekitar plat pertumbuhan yang tidak mengalami cedera
Sementara sebagian besar penelitian mengenai cedera plat pertumbuhan berfokus pada kejadian
yang berpusat pada tempat cedera, sangat sedikit yang meneliti mengenai efek potensial dari
cedera pada kondrosit di sekitar plat pertumbuhan. Penelitian dini mengamati efek traum plat
pertumbuhan menemukan masuknya jaringan kartilago plat pertumbuhan ke dalam region
metafiseal dan menemukan bahwa kartilago yang terperangkap ini menggangu kelanjutan
pertumbuhan tulang di sekitar jaringan ( 65). Konsekuensinya, terdapat pelebaran dan
iregularitas abnormal pada plat pertumbuhan yang lain, secara potensial mengakibatkan
deformitas dan diskrepansi yang terlihat pada banyak pasien sebagai hasil dari cedera terkait plat
pertumbuhan ( 65), Terkini, Coleman et al ( 2010) menggunakan pencitraan micro CT untuk
menandai perubahan yang terjadi pada plat pertumbuhan yang cedera pada model tikus dan juga
efek pada keseluruhan tulang tibia itu sendiri (66). Menariknya, Coleman et al ( 2010 )
mengamati bahwa volume tulang yang muncul pada tempat cedera tidak berkorelasi secara
langsung dengan keseluruhan berkurangnya pertumbuhan tulang pada 35 hari setelah cedera.
Lebih lanjut, menggunakan pencitraan micro CT, pada saat jembatan tulang terbentuk, kerusakan
signifikan telah terdeteksi pada plat pertumbuhan yang tidak mengalami cedera, termasuk
disorganisasi selular dan juga penurunan signifikan pada keseluruhan ketebalan dan volume plat
pertumbuhan. Coleman et al ( 2010 ) juga mengamati bahwa tether, yang biasanya terbentuk
seiring dengan usia hingga plat pertumbuhan menutup ( 67), muncul sejak dini pada plat
pertumbuhan sekitar setelah cedera ( 66). Penelitian ini menekankan keterlibatan potensial dari
plate pertumbuhan sekitar selama proses penyembuhan dan perbaikan plat pertumbuhanyang
cedera dan berkontribusi pada diskrepansi panjang anggota gerak dan deformitas angulasi tulang
yang terbentuk setelah cedera plat pertumbuhan ( 65,66). Penelitian mekanistik lebih lanjut
dibutuhkan untuk mendapatkan pemahaman lebih baik mengenai bagaimana pembentukan
jembatan tulang pada tempat cedera dan perubahan pada jaringan plat pertumbuhan sekitarnya
yang tidak mengalami cedera dapat berkontribusi pada perbaikan tulang yang tidak diharapkan
pada akhirnya dan defek pertumbuhan tulang setelah cedera plat pertumbuhan.