Anda di halaman 1dari 31

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah
yang banyak dijumpai di pusat-pusat masalah kesehatan di seluruh
dunia. Salah satu masalah pada tulang yang mengakibatkan
keparahan diasabilitas adalah fraktur. Fraktur merupakan kondisi
terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan
trauma langsung maupun tidak langsung.
Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi
jumlah pemakai jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan b
ertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas
kemungkinan terjadinya fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas.
Sementara trauma-trauma lain yang dapat mengakibatkan fraktur adalah jatuh
dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan cedera olah raga.
Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih
dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta
orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang cukup
tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah, sekitar 46,2 % dari insiden
kecelakaan yang terjadi.
Femur merupakan tulang terpanjang dan terbesar yang merupakan
dari tinggi badan seseorang. Fraktur pada femur dapat terjadi pada colum,
shaft,intertrokanter, dll. Dimana pada fraktur femur hampir selalu memerlukan
penangana operatif. Meningat pentingnya femur sebagai fungsi alat gerak,
maka tindakan rehabilitasi medik perlu dilakukan untuk mencapai proses
menyembuhan dan pengembalian fungsi dan kestabilan dari femur seperti
semula agar tidak menimbulkan kelainan bentuk (Sjamsuhidajat, 2005).



2

B. Tujuan
Tujuan dari penulisan refrat ini adalah untuk mengetahui cara
penegakkan diagnosa dari fraktur shaft femur serta penatalaksanaan dari
fraktur shaft femur baik dari segi operasi terutama dari segi rehabilitasi medik,
demi tercapainya fungsi femur secara normal.


























3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Femur


















Gambar 1. Tulang Femur (Sobotta, 2010)

Femur atau tulang paha, adalah tulang (paling dekat dengan tubuh)
yang paling proksimal kaki dalam vertebrata yang mampu berjalan atau
melompat, Femur merupakan tulang terbesar dalam tubuh. Kepala femur
berartikulasi dengan acetabulum..
Anatomi manusia, femur adalah tulang terpanjang dan terbesar dalam
tubuh. Os femur laki-laki dewasa rata-rata adalah 48 cm (18,9 in) panjang dan
2,84cm (1,12 in) dengan diameter di pertengahan poros, dan memiliki
4

kemampuan untuk mendukung hingga 30 kali berat dewasa. Secara morfologi
femur (os longum) terdiri dari bagian-bagian :
1. Epiphysis proximal
Terdapat bulatan 2/3 bola yang disebut caput ossis femoris, yang
bersendi dengan acetabulum. Dimana kearah distal merupakan collum
femur, dan ke medial terdapat throcanter mayor dan minor.
2. Diaphysis
Antara facies medialis dan lateralis terdapat suau garis yang disebit
linea aspera yang dibentuk oleh labium laterale dan labium mediale.
Kedua labium ini menjauhi kearah distal. Dan bagian distal terdapat fassa
poplitea (planum popliteum).
3. Epiphysis distalis
Pada bagian ini terdapat condylus lateralis dan medialis, dimana
disebelah proximal ada tonjolan yang disebut fossa intercondylaris.
(Budianto, 2005)

B. Tahap-tahap Penyembuhan tulang
1. Tahap Hematoma dan Inflamasi.
Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah
kecil yang melewati kanalikuli dalam system haversian mengalami
robekan dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara
kedua sisi fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum.
Periosteum akan terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan
hematoma yang terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam
jaringan lunak.
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan
berkurangnya pembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan
yang cidera dan pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung
fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah.
Tempat cidera kemudian akan diinvasi oleh magrofag (sel darah putih
5

besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi,
pembengkakan dan nyeri.
2. Tahap Proliferasi Sel.
Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk
benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast. Fibroblast dan
osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan sel periosteum) akan
menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada
patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid).
Dari periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan
tersebut dirangsang oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang.
Tetapi gerakan yang berlebihan akan merusak sruktur kalus. Tulang yang
sedang aktif tumbuh menunjukkan potensial elektronegatif.
Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai
suatu reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel
sel osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk
kalus eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna
sebagi aktivitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan
yang hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari
diferansiasi sel sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan
lunak. Pada tahap awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan
jumlah dari sel sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat
pada jaringan osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas.
Jaringan seluler tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma
suatu daerah fraktur. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan
membentuk suatu massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada
pemeriksaan radiologist kalus belum mengandung tulang sehingga
merupakan suatu daerah radioluscen. Pada fase ini dimulai pada minggu ke
2 3 setelah terjadinya fraktur dan berakhir pada minggu ke 4 8.


6

3. Tahap Pembentukan Kalus.
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh
mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan
tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan, dan tulang serat
matur (Sylvia, 2006).
Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap
fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada
kondroblast membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh
matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam
garam kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur.
Bentuk kalus dan volume dibutuhkan untuk menghubungkan defek
secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran
tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar fragmen tulang
tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis fargmen
tulang tidak bisa lagi digerakkan.
Bentuk tulang ini disebut moven bone. Pada pemeriksaan radiolgis
kalus atau woven bone sudah terlihat dan merupakan indikasi radiologik
pertama terjadinya penyembuhan fraktur.
4. Tahap Penulangan Kalus (Osifikasi).
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan
lahan diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas
yang menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara
bertahap.
Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 8 dan berakhir pada
minggu ke 8 12 setelah terjadinya fraktur. Pembentukan kalus mulai
mengalami penulangan dalam dua sampai tiga minggu patah tulang,
melalui proses penulangan endokondral. Patah tulang panjang orang
dewasa normal, penulangan memerlukan waktu tiga sampai empat bulan.
Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu
dengan keras. Permukaan kalus tetap bersifat elektronegatif.

7

5. Tahap Menjadi Tulang Dewasa (Remodeling).
Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan
mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya.
Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun tahun
tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan
pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres
fungsional pada tulang.
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan
membentuk bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi
tanpa kanalis medularis. Pada fase remodeling ini perlahan lahan terjadi
resorpsi secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan
kalus eksterna secara perlahan lahan menghilang. Kalus intermediet
berubah menjadi tulang yang kompak dan berisi system haversian dan
kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk
susmsum.
Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 812 dan berakhir
sampai beberapa tahun dari terjadinya fraktur. Tulang kanselus mengalami
penyembuhan dan remodeling lebih cepat daripada tulang kortikal
kompak, khususnya pada titik kontak langsung (Sylvia, 2006).

C. Fraktur Femur
1. Definisi Fraktur Femur (Shaft Femur)
Shaft femur adalah tulang femur yang dibagi menjadi tiga bagian
yang sama kemudian diambil bagian yang tengah (Dorland, 1995). Jadi
fraktur shaft femur adalah suatu diskontinuitas tulang yang mengenai
bagian sepertiga tengah dari tulang femur.
2. Etiologi
a. Trauma
Jika kekuatan langsung mengenai tulang maka dapat terjadi
patah pada tempat yang terkena, hal ini juga mengakibatkan
kerusakan pada jaringan lunak disekitarnya. jika kekuatan tidak
8

langsung mengenai tulang maka dapat terjadi fraktur pada tempat
yang jauh dari tempat yang terkena dan kerusakan jaringan lunak
ditempat fraktur mungkin tidak ada. Pada benturan keras (sering
berupa kombinasi kekuatan langsung dan tidak langsung) fraktur
mungkin bersifat kominutif atau tulang dapat patah pada lebih dari
satu tempat (fraktur segmental).
Fraktur karena trauma dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Trauma langsung: Benturan pada tulang mengakibatkan ditempat
tersebut.
2) Trauma tidak langsung. Titik tumpu benturan dengan terjadinya
fraktur berjauhan.
b. Fraktur Patologis
Adalah suatu fraktur yang secara primer terjadi karena adanya
proses pelemahan tulang akibat suatu proses penyakit atau kanker
yang bermetastase atau osteoporosis.
c. Fraktur akibat kecelakaan atau tekanan
Tulang juga bisa mengalami otot-otot yang berada disekitar
tulang tersebut tidak mampu mengabsorpsi energi atau kekuatan yang
menimpanya. Sebagai contoh fraktur melintang dan oblique biasanya
akibat angulasi atau benturan langsung karena itu sering ditemukan
dalam kecelakaan motor.
d. Spontan
Terjadi tarikan otot yang sangat kuat seperti olah raga. Fraktur
spiral biasanya disebabkan oleh jatuh dengan posisi kaki tertambat
sementara daya pemuntir ditransmisikan ke femur (Apley & Solomon,
2001).





9




Gambar 2. Tipe fraktur pada 1/3 medial femur
3. Mekanisme Fraktur
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 2001). Tapi apabila
tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang,
maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau
terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan
pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak
yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan
tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan
tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang
mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang
ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi
sel darah putih. ini merupakan dasar penyembuhan tulang (Apley, A.
Graham, 2001).
4. Klasifikasi Fraktur Femur
a. Berdasarkan dengan dunia luar
1) Fraktur tertutup
Fraktur tertutup adalah fraktur tanpa adanya komplikasi,
kulit masih utuh, tulang tidak menonjol melalui kulit dan relatif
lebih aman.
2) Fraktur terbuka
Fraktur terbuka adalah fraktur yang merusak jaringan kulit,
karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, sehingga fraktur
terbuka potensial terjadi infeksi osteomielitis.
Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade, yaitu:
Grade 1: terobeknya kulit dengan sedikit kerusakan jaringan
Grade 2: seperti grade 1 dengan memar pada kulit dan otot
10

Grade 3: luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh
darah, saraf, otot dan kulit.
b. Berdasarkan bentuk patah tulang
1) Fraktur complete yaitu pemisahan tulang menjadi 2 fragmen
2) Fraktur incomplete yaitu patah bagian dari tulang tanpa adanya
pemisahan.
3) Fraktur comminate yaitu fraktur lebih dari 1 garis fraktur, fragmen
tulang patah menjadi beberapa bagian.
4) Impacted fraktur yaitu salah satu ujung tulang menancap ke tulang
didekatnya.
c. Berdasarkan garis patahnya
1) Green stick yaitu pada anak-anak.
2) Transverse yaitu patah tulang pada posisi melintang.
3) Longitudinal yaitu patah tulang pada posisi memanjang
4) Oblique yaitu garis patah miring
5) Spiral yaitu garis patah melingkar tulang
5. Manifestasi Klinis
a. Look
Bengkak timbul oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri
disekitar fraktur
Eritema, adanya warna kemerahan pada kulit daerah yang terfiksasi,
disebabkan pembengkakan jumlah cairan darah secara berlebihan
akibat kerusakan pembuluh darah.
Deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi, rotasi,
pemendekan) mungkin terlihat jelas, jika kulit robek dan luka
memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka. Kakik pada
fraktur shaft femur biasanya berotasi keluar dan mungkin memendek
dan mengalami deformitas.
b. Feel
Nyeri timbul karena rangsangan respon sensorik tubuh oleh karena
kerusakan jaringan
11

Peningkatan suhu lokal
c. Move
Keterbatasan Lingkup Gerak Senid (LGS) terjadi di sendi penggerak
tubuh disesbabkan oleh reaksi proteksi yaitu penderita berusaha
menghindarigerakan yang menyebabkan nyeri.
Penurunan kekuatan otot terjadi karena pembengkakan sehingga
timbul nyeri dan keterbatasan gerak serta aktivitas terganggu dan
tejadi penurunan kekuatan tungkai yang fraktur (Apley & Solomon,
2001).
6. Penatalaksanaan Fraktur Femur
a. Reduksi
Tidak boleh ada keterlambatan dalam menangani fraktur.
Pembengkakan bagian lunak selama 12 jam pertama akan
mempersulit reduksi. Tetapi terdapat beberapa situasi yang tidak
memerlukan reduksi yaitu jika pergeseran tidak banyak, jika
pergeseran tidak berarti (fraktur klavikula) dan jika reduksi
diperkirakan tidak berhasil (fraktur kompresi vertebrae).
1) Reduksi tertutup
Fraktur batang femur sulit direduksi dengan manipulasi
karena tarikan otot yang sangat kuat dan membutuhkan traksi yang
lama. Umumnya redusi tertutup digunakan untuk semua fraktur
dengan pergeseran minimal dan sebagian besarpada fraktur anak-
anak yang dilakukan untuk mengembalikan fragmen tulang ke
posisinya (ujung-ujung saling behubungan) dengan manipulasi dan
traksi manual.
2) Reduksi terbuka
Reduksi terbuka merupakan penanganan fraktur dengan
pendekatan pembedahan dimana fragmen tulang direduksi. Alat
fiksasi internal dalam bentuk pin, kawat, sekrup, plat, paku atau
batangan logam dapat digunakan untuk mempertahankan fragmen
12

tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid
terjadi.
Indikasi reduksi terbuka meliputi: (1) bila reduksi gagal,
baik karena kesukaran mengendalikan fragmen atau karena
terdapat jaringan lunak diantara fragmen-fragmen tersebut; (2) bila
terdapat fragmen artikular besar yang perlu ditempatkan secara
tepat; (3) bila terdapat fraktur traksi yang fragmennya terpisah.
Tetapi biasanya reduksi terbuka hanya merupakan langkah pertama
untuk fiksasi internal (Apley & Solomon, 2001).
b. Imobilisasi
Imobilisai fraktur, setelah fraktur di reduksi fragmen tulang
harus di imobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran
yang benar sampai terjadi penyatuan. Immobilisasi dapat dilakukan
dengan fiksasi eksternal atau internal. Fiksasi eksternal meliputi traksi
kontinui, pembebatan dengan gips, bidai. Fiksasi internal dapat
dilakukan implan logam yang berperan sebagai bidai inerna untuk
mengimobilisasi fraktur.
Pada fraktur femur imobilisasi di butuhkan sesuai lokasi fraktur
yaitu intrakapsuler 24 minggu, intratrohanterik 10-12 minggu, batang
18 minggu dan supra kondiler 12-15 minggu (Apley & Solomon,
2001).
1) Traksi
Pada femur terdapat otot yang sangat kuat sehingga reposisi
tidak dapat dilakukan seklaigus. Untuk itu diperlukan reposisi
sekaligus imobilisasi dengan traksi yaitu mempertahankan
sebagian besar fraktur dalam alignment (penjajaran) yang memadai
dan mobilitas sendi dapat terjamin dengan latihan aktif. Traksi
dapat berupa traksi kulit ataupun traksi skeletal. Setiap traksi harus
disertai kontraksi. Kontraksi biasanya sesuai dengan berat badan
pasien itu sendiri yaitu dengan cara meninggikan bagian
ekstremitas yang ditraksi. Lama traksi baik traksi kulit maupun
13

traksi skeletal tergantung pada tujuan traksi. Traksi sementara
untuk imobilisasi biasanya hanya beberapa hari sedangkan traksi
untuk reposisi beserta imobilisasi lamanya sesuai dengan lamanya
kalus fibrosa. Setelah terjadi kalus fibrosa, ekstremitas
diimobilisasi dengan gips (Sjamsuhidajat, 2005).
Ada dua macam traksi yaitu:
a) Traksi kulit
Biasanya menggunak plester yang direkatkan
sepanjang ekstremitas yang kemudian dibalut, ujung plester
dihubungkan dengan tali untuk ditarik. Penarikan biasanya
dilaksanakan dengan katrol dan beban. Traksi kulit terbatas
untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Bila lebih dari 5 kg maka
kulit akan mengalami nekrosis akibat tarikan karena iskemik
kulit. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk
dipakai sebagai traksi definitf, jika tidak diteruskan dengan
pemasangan gips. Setelah 3 minggu pada anak-anak dan 5-6
minggu pada orang dewasa, traksi mungkin dihentikan dan
tungkai dipertahankan dengan spika (untuk anak-anak) atau
brace fungsional (untuk dewasa)
b) Traksi skeletal
Orang dewasa membutuhkan traksi skeletal dengan pen
atau kawat Kirschner yang diikat kuat-kuat dibelakang tuberkel
tibia (Apley & Solomon, 2001).
Traksi yang digunakan pada fraktur batang femur
adalah traksi jenis Russells. Traksi ini dibuat dengan bagian
depan dan atas untuk menekan kaki dengan pemasangan
vertikal pada lutut secara horisontal pada tibia dan fibula.
2) External Fixation
Fiksasi eksternal kadang digunakan untuk fraktur terbuka
yang tidak cocok untuk fiksasi internal dan sulit dipertahankan
dengan traksi dan pembebatan. Indikasi fiksasi eksternal yaitu :
14

a) Fraktur yang disertai dengan kerusakan jaringan lunak yang
hebat dimana luka dapat dibiarkan terbuka untuk pemeriksaan,
pembalutan atau pencangkokan kulit.
b) Fraktur yang disertai dengan kerusakan saraf atau pembuluh
darah.
c) Fraktur yang sangat kominutif dan tidak stabil.
d) Fraktur yang tidak menyatu, yang dapat dieksisi dan
dikompresi.
e) Fraktur yang terinfeksi, dimana fiksasi internal mungkin tidak
cocok.
f) Cidera multipel yang berat, bila stabilisasi lebih awal
mengurangi risiko komplikasi yang berbahaya. (Philips, 1990
cit Apley & Solomon, 2001).



G
a
m
b
a
r

3. Fiksasi Eksternal

3) Intramedullary Nail Fixation
Intramedullary nail dapat digunakan untuk hampir semua
fraktur pada batang femur. Fraktur dapat dipertahankan lurus dan
terhadap panjangnya dengan nail, tetapi fiksasi mungkin tidak
cukup kuat untuk mengontrol rotasi. Intramedullary nail
merupakan penanganan yang terbaik dan lebih banyak dipilih
15

karena merupakan tindakan perkutaneus sehingga hanya
membutuhkan sedikit insisi pada kulit.
Pasca operasi tungkai dibiarkan bebas dan latihan dimulai
secepat mungkin. Gerakan lutut lebih cepat diperoleh kembali
dengan gerakan pasif yang kontinyu (continues pasive motion).
Settelah seminggu atau 10 hari pasien diperbolehkan bangun,
dengan pembebanan sebagian pada crutch penopang. Pembebanan
penuh biasanya dicapai 4-6 minggu kemudian, tetapi fraktur
kominutif harus dilindungi lebih lama lagi. Kalau penguncian statik
digunakan untuk fraktur kominutif, satu rangkaian sekrup dapat
dilepas begitu terdapat tanda-tanda penyembuhan fraktur (biasanya
setelah 8 minggu) sehingga mekanismenya berubah menjadi
system dinamis (Apley & Solomon, 2001).










Gambar 4. Imobilisasi dengan Intramedulary Nail Fixation

4) Open Reduction Internal Fixation (ORIF)
Fragmen tulang dapat diikat dengan sekrup, pen atau paku
pengikat, plat logam yang diikat dengan sekrup, paku intramedular
nail yang panjang dengan atau tanpa sekrup pengunci circum
ferential bands, atau kombinasi dari metode ini (Philips, 1990 cit
Maryani, 2008).
16

Indikasi ORIF yang biasanya dengan plate and screw sering
menjadi bentuk terapi yang paling diperlukan. Indikasi utamanya :
1) Fraktur yang tidak dapat direduksi kecuali dengan operasi
2) Fraktur yang tidak stabil secara bawaan dan cenderung
mengalami pergeseran kembali setelah reduksi, (misalnya
fraktur pertengahan batang pada lengan bawah dan fraktur
pergelangan kaki yang bergeser). Selain itu juga fraktur yang
cenderung tertarik atau terpisah oleh kerja otot (misalnya
fraktur melintang pada patella atau olekranon).
3) Fraktur yang penyatuannya kurang baik dan perlahan-lahan
terutama pada fraktur leher femur.
4) Fraktur patologik dimana penyakit tulang dapat mencegah
penyembuhan.
5) Fraktur multiple bila fiksasi dini (dengan fiksasi internal atau
luar) mengurangi risiko komplikasi umum dan kegagalan
organ pada berbagai sistem.
6) Faktur pada pasien yang sulit perawatannya (penderita
paraplegia, pasien dengan cedera multiple dan sangat lanjut
usia). (Phillips, 1990 cit Maryani, 2008).

E. Post Operasi
1. Problem post operasi
Pada kondisi post operasi fraktur femur 1/3 medial dengan
pemasangan plate and screw maka akan timbul problem setelah operasi
sebagai berikut :
a. Nyeri, adanya luka bekas operasi serta adanya oedem di dekat daerah
fraktur, menyebabkan peningkatan tekanan pada jaringan interstitial
sehingga akan menekan nocireceptor, lalu menyebabkan nyeri.
b. Bengkak, timbul oleh karena pecahnya pembuluh darah arteri yang
menyertai pelaksanaan operasi sehingg aliran darah menuju jantung
tidak lancar, maka timbul bengkak disekitar luka incisi.
17

c. Eritema, adanya warna kemerahan pada kulit pada daerah yang fiksasi
hal ini disebabkan pembengkakkan, jumlah cairan darah dibawa secara
berlebihan akibat rusaknya pembuluh darah. Pada pemasangan internal
fiksasi dengan plate and screw saat operasi akan terjadi kerusakan
tulang, otot, pembuluh darah dan jaringan lunak. Kerusakan ini
menimbulkan reaksi inflamasi (radang).
d. Peningkatan suhu lokal, dalam keadaan normal suhu kira-kira 36
0
C
kaki pada daerah yang ada fiksasi atau bekas operasi suhu sama
dengan kaki kanan (sehat).
e. Keterbatasan LGS, ini terjadi di sendi penggerak tubuh (tungkai kiri)
disebabkan oleh reaksi proteksi yaitu penderita berusaha menghindari
gerakan yang menyebabkan nyeri.
f. Penuruanan kekuatan otot, terjadi karena adanya pembengkakkan
sehingga timbul nyeri dan keterbatasan gerak serta aktifitas terganggu
dan terjadi penurunan kekuatan tungkai kiri sehingga dalam waktu
yang lama akan menyebabkan disuse atrophy.
g. Fuctional Limitation, adanya oedem dan nyeri menyebabkan pasien
mengalami penurunan kemampuan fungsionalnya, seperti transfer,
ambulasi, jongkok berdiri, naik turun tangga, keterbatasan melakukan
Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK). Hal ini
disebabkan adanya nyeri, oedem, dan karena penyambungan tulang
oleh callus yang belum sempurna, sehingga pasien belum mampu
menumpu berat badan dan melakukan aktifitas sehari-hari secara
optimal.
h. Permasalahan pada saluran pernapasan. Anastesi yang digunakan saat
operasi bersifat sebagai zat iritan, reflek batuk tertekan dan karenanya
pengeluaran sekresi menjadi sulit, sering juga terjadi sekresi yang sulit
dikeluarkan, karena lemahnya reflek batuk dan sistem sekresi akibat
tindakan pembiusan menyebabkan pasien mengantuk dan lemah
sehingga proses pembuangan sekresi terganggu (Apley & Solomon,
2001).
18


2. Komplikasi
Komplikasi yang bisa terjadi pada kondisi post operasi fraktur
femur 1/3 medial antaralain (Apley& Solomon, 2001) :
a. Komplikasi dini
1) Syok
Satu sampai dua liter darah dapat hilang sekalipun pada fraktur
tertutup sehingga syok dapat terjadi.
2) Deep vein thrombosis
Trombosis vena merupakan sumbatan pada vena oleh
karena pembentukan trombus pada lumen yang disebabkan oleh
aliran darah yang statis, kerusakan endotel dan hiperkoagulabilitas
darah. Insiden diperberat oleh immobilisasi yang terlalu lama post
operasi. Trombosis ini akan berkembang menjadi penyebab
kematian pada operasi ini apabiala trombus lepas dan terbawa oleh
aliran darah kemudian menyumbat pada daerah-daerah yang vital,
seperti paru dan jantung .
3) Emboli lemak
Ini sering terjadi pada orang muda dengan fraktur femur
tertutup yang harus dianggap ada pada setiap kasus. Analisis gas
darah harus diukur segera dengan setiap tanda mencurigakan
seperti napas pendek, gelisah, kenaikan suhu, atau kecepatan
denyut nadi.
4) Infeksi
Pada cedera terbuka, setelah fiksasi internal selalu terdapat
resiko infeksi. Resiko kejadian osteomielitis dapat terjadi pada
kasus ini.
b. Komplikasi Lanjut
1) Stiff joint (kaku sendi)
Kekakuan sendi terjadi akibat oedem dan fibrasi pada
kapsul, ligamen dan otot sekitar sendi, atau perlengketan dengan
19

jaringan lunak satu sama lain. Keadaan ini bertanbah lunak satu
sama lain. Keadaan ini bertambah parah jika immobilisasi
berlangsung lama dan sendi dipertahankan dalam posisi ligament
terpendek, tidak ada latihan yang akan berhasil sepenuhnya
merentangkan jaringan ini dan memulihkan gerakan yang hilang.
2) Penyatuan lambat dan non union
Fraktur femur akan menyatu dalam 100 harim plus atau
minus 20 hari. Kalau sinar X menunjukan bahwa ujung tulang
mengalami sklerosis, tentu saja diperlukan fiksasi internal yang
kaku dan ditambah cangkokan kanselosa.
3) Malunion
Pada oranng dewasa, angulasi tidak boleh lebih dari 15
derajat. Kalau malunion tempak jelas, efek mekanik pada pinggul
atau lutut dapat menyebabkan predisposisi terhadap osteoartritis
sekunder (Apley& Solomon, 2001).
4) Infeksi
Pada cidera terbuka, setelah fiksasi internal selalu terdapat
risiko infeksi. Risiko kejadian osteomyelitis dapat terjadi pada
kasus ini.
3. Prognosis
Penderitafraktur femur 1/3 medial setelah pemasangan internal
fiksasi plate and screw tanpa komplikasi bila mendapat tindakan fisioterapi
sejak dini dan tepat maka kapasitas fisik dan kemampuan fungsional akan
kembali normal (baik). Tetapi bias menimbulkan keadaan yang jelek dari
penyembuhan apabila terjadi komplikasi yang menyertai dan
umumnyausia lanjut (Apley, 2001).





20

F. Program RehabilitasiMedik


























Gambar.Protokol Rehabilitasi Medik pada Fraktur Shaft Femur



21













Gambar.Protokol Rehabilitasi Medik pada Fraktur Shaft
Femur

1. Terapi Latihan (exercise therapy) aktif dan pasif
Terapi latihan adalah petunjuk gerakan tubuh untuk memperbaiki
penurunan fungsi, meningkatkan fungsi musculoskleletal dalam keadaan
yang baik (Kotte, 1991). Terapi latihan merupakan tindakan fisioterapi dan
dalam pelaksanaannya menggunakan latihan gerak tubuh yang baik secara
aktif maupun pasif untuk mengatasi permasalahan kapasitas-kapasitas fisik
dan kemampuan fungsional yang ada.
Jenis dan terapi latihan di sini ada beberapa macam antara lain :
a. Latihan passive movement
Adalah suatu latihan yang digunakan dengang erakan. Yang
dihasilkan oleh tenaga/ kekuatan dari luar tanpa adanya kontraksi otot
atau aktifitas otot. Semua gerakan dilakukan sampai batas nyeri atau
toleransi pasien. Efek pada latihan ini adalah mempelancar sirkulasi
darah, relaksasi otot, memelihara dan meningkatkan LGS, mencegah
pemendekan otot, mencegah perlengketan jaringan. Tiap gerakan
dilakukan sampai batas nyeri pasien.
22

Gerakan passive movement ini dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Relaxed passive movement.
Adalah gerakan yang terjadi oleh kekuatan dari luar tanpa diikuti
kerja otot dari bagian tubuh itu sendiri. Dosis latihan 2x8 hitungan
tiap gerakan (Kisner, 1996).




2) F
o
3)
P
a
1) P
a
ssive movement
Adalah gerakan yang terjadi oleh karena kekuatan dari luar
tanpadi ikuti kerja otot tubuh itu sendiri tetapi pada akhirnya
gerakan diberikan penekanan.
Gerakan ini bertujuan :
a) Mencegahpembentukanperlengketanjaringanlunak
b) Menjagaelastisitasjaringan
23

c) Mencegahkontraktur
d) Menguranginyeri (Kisner, 1996).
Latihan passive pada sendi panggul ini posisi pasien tidur
terlentang dan posisi terapis disamping pada sisi yang sakit.
Tangan kanan terapis pada daerah hamstring dan tangan kiri pada
gastrocnemius sebagai support, kemudian digerakkan kearah flexi-
extensi, abduksi, adduksi pada sendi panggul. Kemudian untuk
gerakan ankle terapis fiksasi pada pergelangan kaki. Telapak kaki
digerakkan plantar-dorsal flexi, inversi-eversi dan rotasi serta
gerakan jari-jari kaki. Dosis terapi2x8 hitungan tiap gerakan.
b. Latihan Active Movement
Merupakan gerakan yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh
itu sendiri (Kisner, 1996). Gerak yang dalam mekanisme pengurangan
nyeri dapat terjadi secara reflek dan disadari. Gerak yang dilakukan
secara sadar dengan perlahan dan berusaha hingga mencapai lingkup
gerak penuh dan diikuti relaksasi otot akan menghasilkan penurunan
nyeri. Salah satu modalitas fisioterapi yang dapat diaplikasikan untuk
mengurangi ketegangan jaringan lunak termasuk otot dengan rileksasi
jaringan tersebut. Rileksasi dapat dilaksanakan sendiri oleh pasien
dengan teknik ressisted active exercise.
1) Assisted Active Movement.
Gerakan ini terjadi oleh karena adanya kerja otot melawan
gravitasi dan dibantu gerakan dari luar kecual gaya gravitasi.
Setiap gerakan dilakukan sampai batas nyeri pasien. Efek dari
gerakan ini dapat mengurangi nyeri karena merangsang rileksasi
propioseptif, mengembangkan koordinasi dan keterampilan untuk
aktifitas fungsional. Latihan ini dilakukan bisa berupa bantuan alat
atau terapis dengan posisi telentang, tangan terapis memfiksasi
pada pergelangan kaki dan tangan satunya memegang tumit. Dosis
latihan 2x8 hitungan tiap gerakan.
24





















2) Free Active Movement
Gerakan ini terjadi akibat adanya kontraksi otot melawan
pengaruh gravitasi tanpa adanya bantuan dari luar. Gerakan ini
dilakukan oleh pasien sendiri dengan bantuan terapis. Tiap gerakan
dilakukan 8x1 hitungan, efek dari gerakan ini untuk memelihara
dan meningkatkan LGS, meningkatkan kekuatan otot, koordinasi
gerakan. Dosis latihan 2x8 hitungan tiap gerakan.
3) Resisted Active Movement
Latihan ini merupakan latihan aktif dimana otot bekerja
melawan tahanan. Tahanan ini dapat berupa dorongan yang
berlawanan dengan terapis. Tiap gerakan dilakukan 8x1 hitungan.
25

Efek dari latihan ini dapat meningkatkan tekanan otot, dimana
latihan ini akan meningkatkan rekrutment motor unit-motor unit
sehingga akan semakin banyak melibatkan komponen otot-otot
yang tahanan yang diberikan dengan penurunan frekuensi
pengulangan (Kisner, 1996). Dosis latihan 2x8 hitungan tiap
gerakan.











4) Stretching Tendon Achiles
Latihan ini diberikan untuk mencegah terjadinya kontraktur
otot yang melengket/ menghambat pergerakan persendian, posisi
pasien tidur telentang, posisi terapis berdiri disamping pasien.
Fiksasi pada ankle dan kalkaneus, kemudian pasien diminta untuk
mendorong lengan bawah fisioterapis pada saat mendorong lengan
bawah tersebut pasien sambil tarik nafas dalam-dalam dan saat
hembuskan nafas bersamaan itu fisio terapi memberikan stretching
(penguluran). Dosisl atihan 8-10 kali gerakan.





26




Gambar 11. Streatching tendo achilles

5) Hold Rileks
Hold rileks adalah suatu teknik di mana otot atau grup
antagonis yang memendek dikontraksikan secara isometris dengan
kuat (optimal) yang kemudian disusul dengan relaksasi otot atau
grup otot tersebut. Posisi pasien, terapis, pegangan dan fiksasi
dengan gerakan harus tepat. Gerakannya: pasien disuruh
mendorong tahanan yang diberikan, terapis melawan gerakan
pasien, kemudian rileks, saat rileks terapis menggerakkan sendi kea
rah gerakan yang diinginkan sampai full ROM. Efek dari gerakan
ini untuk rileksasi otot-otot yang mengalami spasme sehingga
dapat dilakukan penguluran yang maksimal yang dapat
menurunkan nyeri-spasme. Dosis latihan 2x8 hitungan tiap
gerakan.
6) Statik kontraksi
Statik kontraksi merupakan kontraksi otot tanpa disertai
perubahan panjang pendek otot dan LGS. Latihan ini dilakukan
pada malam hari pertama post operasi. Statik kontraksi ini dapat
meningkatkan pumping action yaitu suatu rangsangan yang
menyebabkan dinding kapiler yang terletak pada otot melebar
sehingga sirkulasi darah lancar sehingga nyeri akan ikut berkurang.
Latihan gerak fungsional ini bertujuan untuk mempersiapkan
aktivitas kesehariannya seperti duduk, berdiri, jalan sehingga
penderita mampu secara mandiri dapat melakukan perawatan diri
sendiri. Pelaksanaannya yaitu pasien tidur terlentang posisi terapis
berdiri di samping pasien. Kemudian pasien diminta untuk
27

menekan m. quadriceps dan m. gastrocnemius ke bed. Dosis
latihan 8-10 kali gerakan.










2. Latihan Gerak Fungsional
a. Latihan duduk
Selama kurang lebih 3 hari post operasi pasien mulai pertama
beri latihan duduk tetapi pasien diposisikan half lying 30
0
atau
setengah duduk. Apabila pasien dalam posisi half lying mengalami
gangguan yaitu masih terasa pusing maka posisi half lying
dikembalikan seperti semula (diturunkan lagi). Latihan dilanjutkan lagi
dan dilakukan setiap hari. Tahap berikutnya melihat pasien agar duduk
ongkang-ongkang di tepi bed yang akan diuraikan pelaksanaannya.
Posisi pertama pasien tidur terlentang (half 30
0
) kemudian lutut yang
sehat ditekuk 45
0
juga, kemudian tangan pasien menarik tubuhnya
dibantu terapis sampai tepi bed dalam posisi duduk (half lying 30
0
)
ongkang-ongkang. Fiksasi fisioterapi pada tungkai yang sakit yaitu
pada ankle dengan posisi selalu ekstensi.





28





Latihan strengthening m. quadriceps dimulai hari ke-4 dengan
posisi pasien duduk half lying 45
0
. Fiksasi fisioterapi pada knee dan
ankle. Penderita diminta untuk menggerakkan ke arah ekstensi
kemudian terapis member tahanan. Dosis latihan 8-10 kali gerakan.










b. Latihan berdiri
Setelah pasien berada dalam posisi ongkang-ongkang
kemudian dilanjutkan dengan turun dari bed. Adapun pelaksanaannya
pasien turun dari bed dengan hati-hati, sedangkan terapis memfiksasi
tungkai yang sakit agar dalam posisi abduksi eksternal rotasi dan
ekstensi. Setelah mendirikan pasien perlu sekali dilakukan koreksi
postur atau koreksi sikap badan. Sikap berdiri yang dikoreksi adalah:
1) berat nadan bertumpu pada salah satu tumit, 2) tulang punggung
sedikit condong ke depan dengan kedua tangan berpegangan pada
hand crutch, 3) kedua crutch berada disisi anterolateral, 4) kepala lurus
tegak ke depan, 5) tungkai yang sakit harus berada dalam posisi
abduksi eksternal rotasi dan saat latihan berdiri tidak ditapakkan. Lama
berdiri pasien tergantung pada berat tidaknya kondisi yang dialaminya.
29

Pasien bisa berdiri di atas kakinya selama 2 menit atau mungkin 10
menit pada hari pertama. Lama waktu berdiri bisa ditingkatkan secara
bertahap, karena hal ini sangat penting agar memungkinkan peredaran
darahnya mampu beradaptasi dengan efek rasa sakit yang diderita oleh
pasien tersebut.
c. Latihan berjalan
Setelah memulai beberapa latihan barulah pasien diajarkan pola
untuk jalan tindakan yang dilakukan pertama kali melangkah ke depan
dengan dua crutch dan diikuti dengan kaki yang sakit dengan metode
NWB (Non Weight Bearing) yaitu tanpa penumpuan berat badan
selanjutnya kaki yang sehat melangkah ke depan dan seterusnya.
Fiksasi terapis pada panggul pasien dan terapis sedekat mungkin
dengan pasien untuk mencegah pasien terjatuh atau gerakan ini
memerlukan keseimbangan yang baik.
Pasien diperbolehkan berjalan Non-Weight Bearing mulai dari
ke-7 sampai 10 selama 4-6 minggu, kemudian Partial Weight Bearing
6 minggu berikutnya. Full weight bearing diperbolehkan setelah 12
minggu. Operasi pengangkatan fiksasi interna dilakukan paling cepat
setelah 12 bulan bila konsolidasi telah sempurna dan bila diperlukan
dapat ditunggu sampai 2 tahun (Rae, 2002 cit Hanafiah, 2007).
3. Edukasi
Dalam hal ini pasien diberi pengertian tentang kondisinya dan
harus berusaha mencegah cidera ulang atau komplikasi lebih lanjut dengan
cara aktifitas sesuai kondisi yang telah diajarkan oleh terapis. Di samping
itu juga peran keluarga sangatlah penting untuk membantu dan mengawasi
segala aktifitas pasien di lingkungan masyarakatnya. Pasien diberi
pengertian juga tentang kontraindikasi dari kondisi pasien itu sendiri agar
tidak menapakkan kakinya terlebih dahulu sebelum 2-3 minggu, serta
dosis latihan ditingkatkan.


30

BAB III
KESIMPULAN

Dari penulisan refrat di atas dapat diambil kesimpulan:
1. Fraktur 1/3 tengah femur hampir selalu memerlukan tindakan operasi yaitu
dapat berupa ORIF, OREF, maupun dengan intramedullary nail fixation.
2. Permasalahan pasca operasi fraktur 1/3 tengah femur yang dapat terjadi yaitu
nyeri, bengkak, eritem, penurunan lingkup gerak sendi panggul dan lutut,
penurunan kekuatan otot, fungsional limitation, dan permasalahan saluran
nafas.
3. Penanganan rehabilitasi medik seperti fisioterapi harus segera dilakukan
sehingga komplikasi yang sifatnya menetap dapat dicegah. Penanganan
fisioterapi berupa meningkatkan kekuatan otot, menambah lingkup gerak
sendi dengan modalitas terapi berupa latihan. Dimulai deri gerakan isometric,
dilanjutkan gerakan isotonic secara bertahap berupa ROM exercise dan latihan
gerak fungsional berupa latihan duduk, latihan berdiri, dan latihan berjalan
dengan teknik non weight bearing, kemudian Partial Weight Bearing dan Full
Weight Bearing diperbolehkan setelah 12 minggu.













31

DAFTAR PUSTAKA

Apley, A, Graham & Solomon. 2001 . Buku Ajar ortopedi dan Fraktur Sistem
Apley. Alih Bahasa Edi Nugroho. Edisi delapan. Jakarta : Widya Medika,.
Budianto,A.2005. Guidance to Anatomy I.Surakarta: Keluarga Besar
Asisten Anatomi FKUNS
Dorland. 1995. Dorlands Pocket Dictionary. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Hanafiah, Hafas., 2007. Pengamatan Terbuka Pada Rekonstruksi Malunion
Fraktur Batang Femur. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40 (2).
Kisner, et al., 1996. Therapeutic Exercise Foundations and Technique. Edisi
Ketiga. Philadelphia: F.A. Davis Company. pp. 339-412
Kottle dalam Krusen, Frank W, et al., 1991. Handbook at Physical Medicine and
Rehabilitation.
Lavy CBD, Barrett DS.2001. Ortopedi dan fraktur sistem apley. 7 th ed. Alih
bahasa Edi. Nugroho. Jakarta : Widya Medika.
Maryani. 2008. Penatalaksanaan Terapi Latihan pada Kondisi Post Operasi
Fraktur Femur 1/3 Medial Dekstra Dengan Pemasangan Plate and Screw di
RSOP.PROF.DR.Soeharso Surakarta. Skripsi UMS.
R. Putz, R. Pabst.2010. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Edisi 21 Jilid 2. Jakarta:
EGC.
Sjamsuhidajat R, Jong WD. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC
Sylvia A. Price, Latraine M. Wison. 2006. Patofisiologi edisi 6. Jakarta: EGC.