Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Kepustakaan
Hart, Harold. 2003. Kimia Organik Edisi ke II. Jakarta: Erlangga,361.
Damtith, John, 1994. Kamus Lengkap Kimia. Erlangga : Jakarta,87.
Vishnoi N.K, 1979. Advanced Pratical Organic Chemistry, 1st ed Vikas
Publishing house, PVT Ltd, New Delhi, 330-331

B.S Furniss, et al.1989. Vogels Texbook of Pratical Organic Chemistry 5th ed,
New York: Longman Scientific & Technical, 916-918

1.2 Prosedur
Method 2 Chemicals required, (i) Aniline 10 ml (ii) Acetic anhydride 10 ml
(iii) Glacial acetic acid 10 ml (iv) Zinc dust 0,5 gm.
Procedure. Place 10 ml aniline, 10 ml glacial acetic acid, 10 ml acetic
anhydride and 0,5 gm zinc dust in a 250 ml round bottom flask fitted with a reflux
condenser. Heat the reaction mixture to boiling for about 40 minutes, detach the
condenser and pour the hot contents slowly so as to prevent any residual zinc dust
from escaping the flask, into a 500 ml beaker containing about 200 ml of cold water
whilst stirring vigorously the resultan solution. Cool the beaker in ice bath when crude
acetanilide separates. Filter it in a Buchner funnel using suction, wash with cold
water, drain well with the help of an inverted glass stopper and dry on the filter papers
in air. The yield of crude acetanilide, m.p. 113, is about 15 gm. Recrystallise it from
hot water containing 2% rectified spirit. The pure recrystallised product has the m.p
114.

1.3 Dasar Teori


Asetanilida merupakan senyawa turunan asetil amina aromatis yang
digolongkan sebagai amida.Amida turunan asam karboksilat yang paling tidak reaktif,
sehingga banyak di alam.Amida mengandung nitrogen trivalent yang terikat pada
gugus karbonil dimana nitrogennya mempunyai sepasang electron sunyi dalam suatu
orbital tensi.Amida mempunyai resonansi datar, sekalipun ikatan karbon nitrogen
biasanya ditulis sebagai ikatan tunggal, reaksi pada ikatan ini sangat terbatas,
dikarenakan adanya resonansi struktur.Resonansi inilah yang menunjukkan mengapa

1
nitrogen suatu amida tidak bersifat basa maupun nukleofilik. Amida merupakan basa
yang sangat lemah, dengan pkb: 15-16
Asetanilida merupakan amida primer, dimana satu atom hydrogen pada anilin
digantikan dengan suatu gugus asetil. Asetanilida berbentuk butiran berwarna putih
tidak larut dalam minyak paraffin dan larut dalam air dengan bantuan kloral anhidrat.
Asetanilida atau sering disebut phenilasetamida mempunyai rumuss molekul
C6H5NHCOCH3 dengan berat molekul 135,16. Asetanilida berbentuk butiran
berwarna putih yang tidak larut dalam minyak paraffin dan larut dalam air dengan
bantuan kloral anhidrat.

Sifat Asetanilida

Asetanilida berbentuk butiran berwarna putih yang tidak larut dalam minyak
paraffin dan larut dalam air dengan bantuan kloralhidrat.

Sifat sifat Fisis Asetanilida :

Rumus molekul : C6H5NHCOCH3

Berat molekul : 135,16 g/gmol

Titik didih normal : 305 oC

Titik leleh : 114,16 oC

Berat jenis : 1,21 gr/ml

Suhu kritis : 843,5 oC

Titik beku : 114 oC Kristal Asetanilida

Wujud : padat

Warna : putih

Bentuk : butiran / Kristal

2
Kemurnian : min 99,8%

Impuritas : - air maks. 0,1%

- anilin maks. 0,05%

- asam asetat maks. 0,05%

Sifat-sifat Kimia Asetanilida:


Asetanilida merupakan bahan ringan yang stabil dibawah kondisi biasa, hidrolisa
dengan alkali cair atau dengan larutan asam mineral cair dalam kedaan panas akan
kembali ke bentuk semula.
Bila dipanaskan dengan phospor pentasulfida menghasilkan thio Asetanilida
(C6H5NHC5CH3).
Bila di treatmen dengan HCl, Asetanilida dalam larutan asam asetat menghasilkan 2
garam (2 C6H5NHCOCH3).
Adisi sodium dalam larutan panas Asetanilida didalam xilena menghasilkan N-
Sodium derivative.
C6H5NHCOCH3 + HOH C6H5NH2 + CH3COOH
Pirolysis dari asetanilida menghasilkan N diphenil urea, anilin, benzena dan
hydrocyanic acid.
Nitrasi asetanilida dalam larutan asam asetaat menghasilkan p-nitro Asetanilida.
Dalam larutan yang mengandung pottasium bicarbonat menghasilkan N- bromo
asetanilida.

Pembuatan Asetanilida
Asetanilida pertama kali ditemukan oleh Friedel Craft pada tahun 1872. Asetanilida
dapat dibuat dari anilin dan anhidrida asetat. Mekanisme reaksinya menyangkut
serangan nukelofil oleh anilin pada atom karbon karbonil dari suatu turunan asam.

3
Anilin adalah benzena tersubstitusi yang bereaksi lebih mudah daripada benzenanya
sendiri. Jadi anilin bereaksi substitusi elektrofilik lebih cepat daripada benzena. Hal ini
disebabkan anilin mempunyai gugus NH2 yang merupakan gugus aktivasi. Adanya
gugus ini menyebabkan cincin lebih terbuka terhadap substitusi lebih lanjut. Sedang
reaksi dengna nukleofil terhadap anhidrida lebih reaktif dibanding ester. Kedua hal
inilah yang menyebabkan reaksi pembuatan asetanilida asetat dari anilin lebih cepat
dibandingkan ester dan ammonia.

1. Pembuatan asetanilida dari anhidrida asetat dan anilin


Larutan benzena dalam satu bagian anilin dan 1,4 bagian asam asetat anhidrad
direfluks dalam sebuah kolom yang dilengkapi dengan jaket sampai tidak ada anilin
yang tersisa.

Campuran reaksi disaring, kemudian kristal dipisahkan dari air panasnya dengan
pendinginan, sedangkan filtratnya didaur ulang kembali. Pemakaian anhidrida asetat
dapat diganti dengan asetil klorida.

2. Pembuatan asetanilida dari asam asetat dan anilin


O
NH2 NH C
CH3
O
+ CH3 C + H2 O
OH

Anilin Asam asetat Asetanilida

Metode ini merupakan metode awal yang masih digunakan karena lebih ekonomis.
Anilin dan asam asetat berlebih 100 % direaksikan dalam sebuah tangki yang
dilengkapi dengan pengaduk.

4
Reaksi berlangsung selama 6 jam pada suhu 150 oC 160oC. Produk dalam keadaan
panas dikristalisasi dengan menggunakan kristalizer.

3. Pembuatan asetanilida dari ketene dan anilin


O
NH2 NH C
O CH3
H

+ C C
H
Anilin Katene Asetanilida

Ketene
(gas) dicampur ke dalam anilin di bawah kondisi yang diperkenankan akan
menghasilkan asetanilida.

4. Pembuatan asetanilida dari asam thioasetat dan anilin


Ketene
Asam thioasetat direaksikan dengan anilin dalam keadaan dingin
akan menghasilkan asetanilida dengan membebaskan H2S.

Dala
m perancangan pabrik asetanilida ini digunakan proses antara asam asetat dengan
anilin. Pertimbangan dari pemilihan proses ini adalah:
Reaksinya sederhana
Tidak menggunakan katalis sehingga tidak memerlukan alat untuk regenerasi
katalis dan tidak perlu menambah biaya yang digunakan untuk membeli katalis
sehingga biaya produksi lebih murah.

Kegunaan Asetanilida

Kegunaan Produk Asetanilida banyak digunakan dalam industri kimia , antara lain;

5
Sebagai bahan baku pembuatan obat obatan.

Sebagai zat awal penbuatan penicilium.

Bahan pembantu dalam industri cat dan karet.

Bahan intermediet pada sulfon dan asetilklorida.

Bahan Pembuatan

1. Anilin

Sifat-sifat fisis

Rumus molekul: C6H5NH2


Berat molekul: 93,12 g/gmol
Titik didih normal: 184,40C
Suhu kritis: 4260C
Wujud: cair
Warna: jernih tidak berwarna
Bau: khas
Densitas: 1,022 g/ml pada 200C
Kemurnian: min 95,0%

Sifat-sifat kimia

1. Halogenasi senyawa anilin dengan brom dalam larutan sangat encer menghasilkan
endapan 2, 4, 6 tribomo anilin
2. Pemanasan anilin hipoklorit dengan senyawa anilin sedikit berlebih pada tekanan 6
atm menghasilkan senyawa diphenylamine
3. Hidrogenasi katalitik fase cair pada suhu 135- 1700C Dalam tekanan 50- 500 atm
menghasilkan 80% cyclohexamine. Sedangkan hidrogenasi anilin pada fase uap
dengan menggunakan katalis nikel menghasilkan 95% cyclohexamine
4. Nitrasi anilin dengan asam nitrat pada suhu -200C menghasilkan mononitroanilin, dan
nitrasi anilin dengan nitrogen oksida cair pada suhu 0 0C menghasilkan 2, 4
dinitrophenol

2. Anhidrida Asetat

6
Anhidrida asam Asetat, dan disingkat sebagai Ac2O, adalah salah satu anhidrida
asam paling sederhana. Rumus kimianya adalah (CH3CO)2O. senyawa ini merupakan
reagen penting dalam sintesis organik. Senyawa ini tidak berwarna, dan berbau cuka
karena reaksinya dengan kelembapan di udara membentuk asam asetat

Reaksi

Anhidrida asetat mengalami hidrolisis dengan pelan pada suhu kamar,


membentuk asam asetat.Ini adalah kebalikan dari reaksi kondensasi pembentukan
anhidrida asetat.

(CH3CO)20 + CH3CH2OH 2 CH3COOH

Selain itu, senyawa ini juga bereaksi dengan alkohol membentuk sebuah ester
dan asam asetat.Contohnya reaksi dengan etanol membentuk etil asetat.

(CH3CO)2O + CH3CH2OH CH3COOCH2CH3 + CH3COOH

Anhidrida asetat merupakan senyawa korosif, iritan dan mudah terbakar.


Untuk memadamkan api yang disebabkan anhidrida asetat jangan menggunakan air,
karena sifatnya yang reaktif terhadap air. Karbondioksida adalah pemadaman yang
disarankan.

3. Asam asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organic
yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan.Asam cuka
memiliki rumus empiris C2H40H.asam asetat murni adalah cairan higroskopis tidak
berwarna, dan memiliki titik beku 16.70C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah
asam format.Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya
hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan
pereaksi kimia dan bahan baku industry yang paling penting. Asam asetat digunakan
dalam produksi polimer.Maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industry
makanan asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman.1,5 juta ton per tahun
diperoleh dari hasil adur ulang, sisanya diperoleh dari industry petrokimia maupun
dari sumber hayati.

Sifat-sifat kimia

7
- Keasaman
Atom hidrogen pada gugus karboksil dalam asam karboksilat seperti asam asetat
dapat dilepaskan sebagai ion H-, sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat
adalah asam lemah monoprotik dengan nilai pka+ 4,8. Basa konjugasinya adalah
asetat. Sebuah larutan 1.0 M asma asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada
cuka rumah) memiliki ph sekitar 2.4
- Dimer siklis
Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hydrogen.
Struktur Kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul asam asetat
berpasangan membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hydrogen.Dimer
juga dapat dideteksi pada uap bersuhu 1200C.Dimer juga terjadi pada larutan
encer di dalam pelarut tak berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan
asam asetat murni.dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hydrogen.
Entropi disosiasi diperkirakan 65.0-66.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154-157
J mol-1K-1

Proses Refluks

Refluks salah satu metode dalam ilmu kimia untuk men-sintesis suatu senyawa,
baik organik maupun anorganik. Umumnya digunakan untuk mensistesis senyawa-
senyawa yang mudah menguapa atau volatile. Pada kondisi ini jika dilakukan
pemanasan biasa maka pelarut akan menguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai.
Prinsip dari metode refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan menguap pada
suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang tadinya
dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turun lagi ke dalam wadah
reaksi sehingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan aliran gas
N2 diberikan agar tidak ada uap air atau gas oksigen yang masuk terutama pada
senyawa organologam untuk sintesis senyawa anorganik karena sifatnya reaktif.
Kondensor yang digunakan adalah pendingin bola tujuannya untuk menghalangi uap
pelarut tetap ada.

Rekristalisasi

Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat secara mengkristalkan kembali dari


cairan pelarut atau campuran pelarut, melarutkan kristal dalam pelarut panas (atau
8
campuran pelarut) kemudian mendinginkan larutan secara perlahan sampai terbentuk
kristal yang murni.

Metode rekristalisasi dibagi menjadi 4, yaitu :

1. Rekristalisasi langsung dari pelarut (tunggal atau campuran).

2. Rekristalisasi dengan cara penguapan pelarut.

3. Rekristalisasi dengan cara presipitasi.

4. Rekristalisasi atas dasar asam basa.

Senyawa organik berbentuk Kristal yang diperoleh dari suatu reaksi biasanya
tidak murni. Mereka masih terkontaminasi sejumlah kecil senyawa yang terjadi selama
rekristalisasi menggunakan pelarut yang sesuai.

Pemurnian senyawa dengan cara rekristalisasi didasarkan pada perbedaan


kelarutan senyawa dalam suatu pelarut tunggal atau capuran. Ada duakemungkinan
keadaan dalam rekristalisai yaitu pengotor lebih larut daripada senyawa yang
dimurnikan atau sebaliknya.

Pada dasarnya proses rekristalisasi adalah

a. Melarutkan senyawa yang akan dimurnikan ke dalam pelarut yang sesuai pada atau
dekat titik didihnya.

b. Menyaring larutan panas menjadi dingin hingga terbentuk Kristal

c. Memisahkan Kristal dari larutan berair. Kristal yang terjadi dikeringkan dan
ditentukan kemurniannya dengan penentuan titik lebur, kromatografi dan metode
spektrokopi.

Proses rekristalisasi terdiri dari :

1. Melarutkan zat yang belum murni ke dalam pelarut yang cocok pada atau
dekat titik didihnya.

9
2. Menyaring larutan panas dari partikel-partikel atau kotoran atau bahan yang
tidak larut.

3. Pendiaman larutan panas menjadi dingin sehingga terbentuk kristal.

4. Pemisahan kristal dari larutan induk.

5. Pengeringan.

Langkah penentuan pelarut dalam rekristalisasi merupakan langkah penentu


keberhasilan pemisahan. Jika senyawa larut dalam keadaan panas. Senyawa organik
sering mengandung pengotor yang berwarna. Senyawa tersebut dapat dimurnikan
dengan penambahan karbon aktif penghilang warna seperti norit.

1.4 Tujuan
1. Mahasiswa mampu menjelaskan reaksi pembentukan anilida.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan arti refluks.
3. Terampil dalam menggunakan karbon aktif dalam proses pemurnian melalui
rekristalisasi.
4. Mampu menghasilkan bentuk kristal yang homogen.

BAB II
METODE KERJA

2.1 Alat dan Bahan


Macam dan jumlah bahan kimia yang dipakai :
1. Serbuk Zn 0,25 gram
2. Anilin 5 ml
3. Asam asetat glacial 5 ml
4. Anhidrida asetat 5 ml
5. Air es 125 ml
6. Air hangat 125 ml
7. Etanol 2% 5 ml
8. Norit 75 mg

10
9. Es batu

Alat-alat yang digunakan :

1. Labu alas bulat 11. Labu hisap


2. Gelas ukur 12. Pompa hisap
3. Gelas piala 13. Kertas saring
4. Pendingin balik 14. Ice bath
5. Gelas arloji 15. Corong panas
6. Penangas air 16. Corong gelas
7. Kaki tiga 17. Oven
8. Pengaduk 18. Klem dan Holder
9. Pipet tetes 1)
10. Corong Buchner

11
2)
3)
4)
5)
6)

7)

2.2 Skema kerja


8)
9)
250 mg + anilin 5 ml
10)+ asam asetat glasial 5 ml + anhidrida asetat 5 ml, dimasukkan ke dalam labu alas bulat leher pa
11)
12)
13)
Batu didih dimasukkan ke dalam labu alas bulat leher panjang yang berisi campuran larutan diatas
14)
15)
16)
17) Direfluks dalam tangas air selama 40 menit dan digoyang
18)
19)
Dituang ke dalam 125 ml air dingin, aduk selama 10 menit
20)
21)
22)
Setelah kristal terbentuk sempurna, disaring dengan corong Buchner dan labu hisap
23)
24)
25)
26) Dilakukan rekristalisasi, kristal yang terbentuk dimasukkan ke dalam
27) beaker glass
28)
29)
Ditambahkan air panas 125 ml + etanol 2% 2,5 ml lalu panaskan dan aduk ad larut
30)
31)
32)
33)
udian didinginkan hingga
34) suhu 50C. Bila berwarna ditambahkan norit 75 mg dan larutan dipanaskan kembali selama 10
35)
36)
37) Segera disaring dengan corong panas (ujung corong diberi kertas saring)
38)
39)
40) Hasil penyaringan didinginkan ke dalam ice bath ad terbentuk kristal
41)
42)
43) Disaring dengan corong buchner dan labu hisap
44)
45)
46) Akan diperoleh kristal asetanilida
47)
48)
Dikeringkan dalam oven

Ditimbang berat kristal asetanilida yang diperoleh


49)
50)
2.3 Gambar Penggunaan dan Pemasangan Alat

51)

52)
53)
54) Pendingin bola
55)

56)

57)

58)

59)

60)

61)

62)
Disaring
63) Dengan Corong Buchner

64)

65)

66)

67)
Kertas saring 2 lapis
68)

69)

70)

71)

72)

73)

74)

75)

76)
77)

2.4 Ketetapan alam


78)
79) Hasil teoritis : 7,5 gram
Titik leleh : 114C
80)
81)
82)
83)
84)
85)
86)
87)
88)
89)
90)
91)
92)
93)
94)
95)
96)
97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
104)
105)
106)
107)
108)
109)
110)
111)
112)
113)
114)
115)
116)
117)

118) BAB III


PEMBAHASAN
119)

3.1 Reaksi umum dan Mekanisme Reaksi


120)

O
NH2 O NH C
CH3
CH3 C O
+ O + CH3 C
CH3 C OH
O
Anilin Anhidrida asetat Asetanilida Asam asetat

Rea
ksi umum:
121)
122)
123)
124)
O
O OH
+
O .. . ..
.. OH
CH3 C .
O CH3 C O C CH3 C O C CH3
CH3 C
O
Anhidrida asetat
..
..

NH2
O OH O OH

CH3 C O C CH3 + CH3 C O C CH3

NH
Anilin

mengalami hidrolisis:

O OH O OH
.. H
CH3 C O C CH3 CH3 C C
.. O CH3

NH NH

..
.. OH OH -H+
CH3 COOH NH C NH C
CH3 CH3

O
NH C
CH3
Asetanilida

125)
126)
127) Mekanisme reaksi:
128)
129)
130)
131)
132)
133)
134)
135)
136)
137)
138)
139)
140)
141)
142)
143)
144)
145)
146)
147)
148)
149)
150)
151)
152)

153)

3.2 Hasil percobaan


Jumlah dalam gram : 2,25 gram
Rendemen / presentase hasil : (2,25 gram/7,5 gram) x 100% = 30%

154)

155)

156)

157)
3.3 Pembahasan

158) Dalam reaksi pembentukan asetanilida digunakan bahan-bahan seperti


asam asetat glasial, serbuk Zn, asam asetat dan etanol yang memiliki fungsi:

Asam asetat glasial, untuk mempercepat terjadinya pergeseran reaksi


pembentukan asetanilida.
Serbuk Zn, untuk mencegah terjadinya oksidasi anilin menjadi nitro benzene
yang kemudian direduksi kembali menjadi aniline lagi.
Anhidrida asetat, sebagai pengering yang memiliki sifat reversible sehingga dapat
mengikat air.
Etanol, penambahan etanol 2% ini bertujuan untuk meningkatkan kelarutan dari
asetanilida.
159) Hal yang harus diperhatikan pertama kali yaitu serbuk Zn yang
dimasukkan terlebih dahulu dalam labu sebelum basah sehingga tidak ada serbuk Zn
yang menempel di dinding labu. Lalu dimasukkan larutan selanjutnya, asam asetat
glasial, anhidrida asetat, dan anilin. Reaksi antara anilin dengan asam asetat glasial
merupakan reaksi eksotermis karena reaksi ini menghasilkan panas sehingga panas
dilepas ke lingkungan. Hal inilah yang menyebabkan labu alas bulat menjadi panas
ketika anilin dicampur dengan asam asetat.
160) Tahap selanjutnya yaitu dilakukan proses refluks selama 40-60 menit sambil
labu digoyang-goyangkan. Proses refluks dilakukan selama 40-60 menit ini berguna
untuk membantu agar tidak terjadinya penguapan pada saat pemanasan karena asam
asetat dan anhidrida asetat mudah menguap. Sebelum melakukan proses refluks hal
yang tidak boleh dilupakan yaitu penambahan batu didih. Batu didih di sini berguna
menghindari terjadinya bumping karena batu didih dapat membuat sirkulasi udara
menjadi teratur yaitu dengan mengatur suhu didih. Batu didih juga berguna untuk
meratakan panas sehingga panas homogen di seluruh bagian larutan. Batu didih tidak
boleh dimasukkan pada saat larutan akan mencapai titik didihnya. Jika batu didih
dimasukkan pada larutan yang sudah hampir mendidih, maka akan terbentuk uap panas
dalam jumlah yang besar secara tiba-tiba. Hal ini bisa menyebabkan ledakan ataupun
kebakaran. Jadi, batu didih harus dimasukkan ke dalam cairan sebelum cairan itu mulai
dipanaskan.
161)Setelah proses refluks selesai, larutan dituang ke dalam air dingin dan diaduk
hingga terbentuk asetanilida yang berbentuk padatan kristal. Penggunaan air disini
dimaksudkan sebagai pelarut yang akan menghidrolisis asam asetat yang masih tersisa
dalam larutan sedangkan tujuan pendinginan dengan air adalah agar diperoleh kristal
asetanilida. Setelah terbentuk kristal, kristal tersebut disaring dengan corong Buchner,
labu hisap, dan pompa hisap.
162)Setelah itu dilakukan rekristalisasi dengan jumlah air panas yang ditambahkan
sebanyak 125ml (kelarutan asetanilida dalam air 1:20). Penambahan air yang berlebih
dapat menyebabkan kristal sulit terbentuk, sedangkan jika kurang akan membuat kristal
asetanilida sukar larut sempurna. Selain penambahan air panas perlu ditambahkan
etanol 2% sebanyak 2,5-3 ml (2% dari jumlah air panas) untuk meningkatkan kelarutan,
karena jika tidak ditambahkan etanol 2% maka asetanilida akan membentuk lapisan di
bagian atas, sebab kristal asetanilida merupakan kristal yang sangat mudah terbentuk di
atas larutan.

163)Lalu larutan dipanaskan lagi dan diamati apakah larutan yang dihasilkan
berwarna atau tidak. Jika berwarna, berarti dalam larutan tersebut masih terdapat
kotoran, maka perlu ditambahkan norit/karbon aktif sebanyak 0,5-1% (75 mg). Fungsi
dari norit adalah untuk menyerap zat warna dan pengotor-pengotor yang berukuran
besar karena karbon aktif memiliki pori-pori yang besar. Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam penggunaan norit/karbon aktif :
Penambahan norit dilakukan pada suhu 500C sebab pada suhu 500C adalah
suhu yang optimum dimana zat warna tersebut dapat ditarik oleh karbon
aktif. Jika penambahan dilakukan pada waktu mendidih, maka norit akan
terurai
Norit tidak boleh diletakkan di udara bebas dalam waktu yang lama, karena
norit dapat menyerap udara sehingga dapat menjadi karbon yang inaktif
Penambahan norit yang berlebihan mengakibatkan norit dapat menyerap
asetanilida-nya juga.
164)Setelah ditambahkan norit, larutan dipanaskan lagi hingga mendidih agar
semua kristal melarut. Setelah larutan mendidih, larutan disaring dengan corong panas
dalam keadaan panas. Penyaringan ini dilakukan sewaktu panas karena bila larutan
dingin maka larutan sudah mengkristal (asetanilida) dan akan tertinggal di kertas
saring dengan karbon aktif dan penggotor lainnya sehingga hasil akhir asetanilida
yang diperoleh akan semakin sedikit. Filtrat hasil penyaringan ditampung dalam
beaker glass yang kemudian didinginkan dengan ice bath untuk mempercepat
terjadinya rekristalisasi. Kristal yang telah terbentuk kemudian disaring lagi dengan
corong Buchner. Hasil kristal yang telah disaring lalu dikeringkan dalam oven. Waktu
pengeringan diperlukan kurang lebih 24 jam (1 hari). Setelah proses pengeringan
selesai, kristal asetanilida ditimbang.
165)

166) 3.4 Diskusi

1) Apa fungsi dari asam asetat glacial, serbuk Zn, anhidrida asetat dan etanol?
- Asam asetat glacial berfungsi untuk mempercepat terjadinya pergeseran reaksi
membentuk asetanilida
- Serbuk Zn berfungsi untuk mencegah oksidasi aniline menjadi nitrobenzene
(mereduksi nitrobenzena yang terbentuk)
- Anhidrida asetat berfungsi sebagai pengering yang bersifat reversible (dapat
menyerap air)
- Etanol berfungsi untuk meningkatkan kelarutan asetanilida.
2) Apa gunanya refluks selama 40 menit?
167) Refluks selama 40 menit tersebut berfungsi untuk mengurangi penguapan
yang terjadi selama pemanasan.
3) Mengapa penambahan karbon aktif ke dalam cairan tidak boleh waktu mendidih?
168) Penambahan karbon aktif tidak boleh pada saat mendidih karena norit akan
terurai pada suhu tinggi. Maka dari itu penambahan norit harus dilakukan pada 50 0C,
karena pada suhu ini norit bekerja secara optimal daam menarik pengotor.
4) Apa akibat penambahan norit yang berlebih?
169) Bila penambahan norit berlebih, maka akan mengurangi kristal asetanilida
yang terbentuk. Norit yang berlebih ini akan menarik asetanilida yang terbentuk.
5) Apa akibat kelebihan penambahan pelarut untuk rekristalisasi?
170) Apabila pelarut yang digunakan berlebihan, maka kristal asetanilida akan sulit
terbentuk sehingga akan mengurangi hasil akhir.
171)
172)
173)
174)
175)

176)

177)

178) BAB IV
KESIMPULAN
179)
180)
181)
1. Bahan yang digunakan dalam pembuatan asetanilida yaitu serbuk Zn, anilin, asam
asetat glasial, dan anhidrida asetat
2. Pembuatan asetanilida melalui proses refluks dan dimasukkan batu didih terlebih
dahulu sebelum di-refluks
3. Penambahan jumlah pelarut pada proses rekristalisasi harus diperhatikan dengan
kelarutan asetanilida dalam pelarut
4. Penambahan norit diperlukan jika larutan yang dihasilkan masih berwarna
5. Suhu larutan dan jumlah norit yang akan dimasukkan harus diperhatikan dengan
seksama
6. Penyaringan dengan corong panas harus saat larutan masih dalam keadaan panas agar
hasil saring tidak berkurang
7. Rendemen hasil : 30%
182)
183)
184)
185)
186)
187)
188)
189)
190)
191)
192)
193)
194)
195)
196)
197)
198)
199)
200)
201)
202)
203)
204)
205)
206)

207)

208) TANDA TANGAN PESERTA PRAKTIKUM


209)

210)

211)

212)

213)

214)

215)

216)

217)

218)

219) Norma Yunita (110115355)


Oscar (110115379)