Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat

serta hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini

saya susun sebagai tugas dari mata kuliah Taksonomi Hewan Vertebrata dengan judul

Divisi Teleostei .

Terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Dr. Wahyu Prihatini, M.Si selaku dosen

mata kuliah Taksonomi Hewan Vertebrata yang telah membimbing dan memberikan

kuliah demi kelancaran terselesaikannya tugas makalah ini.

Demikianlah tugas ini saya susun semoga bermanfaat dan dapat memenuhi tugas

mata kuliah Taksonomi Hewan Vertebrata dan penulis berharap semoga makalah ini

bermanfaat bagi diri kami dan khususnya untuk pembaca. Dengan segala kerendahan

hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif dan membangun sangat kami harapkan dari

para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada

waktu mendatang.

Terima kasih.

Wassalamualaikum, Wr., Wb.

Bogor, 14 April 2017

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...........................................................................................................1

Daftar Isi ...................................................................................................................2

BABI PENDAHULUAN ..........................................................................................3

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................3

1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................3

1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..............................................................................4

2.1 Klasifikasi.............................................................................................................4

2.2 Superordo Teleostei ..............................................................................................5

2.3 Karakteristik Taksonomi Teleostei .....................................................................10

BAB III PENUTUP................................................................................................11

3.1 Kesimpulan.........................................................................................................11

3.2 Saran ..................................................................................................................11

DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................12

2
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Secara umum, ikan dapat dibagi menjadi empat kelas yaitu ikan yang tidak
mempunyai rahang (Agnatha), ikan yang mempunyai rahang primitif (Placodermi), ikan
bertulang rawan (Chondrichthyes), dan ikan bertulang sejati (Osteichthyes). Kelas
Osteichthyes terbagi menjadi tiga super ordo, yaitu Chondrostei, Holostei dan Teleostei
(Sukiya, 2003) (Laily, 2006).
Teleostei merupakan kelompok ikan yang paling dominan pada zaman sekarang ini
dan tersebar luas di seluruh perairan bumi, sedangkan Chondrostei dan Holostei terdapat di
perairan bumi hanya dalam jumlah sedikit bahkan ada yang sudah punah. Ikan teleostei
terdiri dari banyak ordo antara lain Clupeiformes, Cypriniformes, Pleuronectiformes,
Anguilliformes, Perciformes dan masih banyak lagi (Kottelat et al, 1993) (Laily, 2006).

1.2 RUMUSAN MASALAH


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah, sebagai berikut :
A. Apa yang dimaksud dengan divisi Teleostei dari kelas Osteichthyes?
B. Bagaimana deskripsi dari divisi Teleostei?
C. Bagaimana klasifikasi dari divisi Teleostei?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Tujuan penulisan dalam makalah ditujukan untuk mencari tujuan dari dibahasnya
pembahasan atas rumusan masalah dalam makalah. Adapun tujuan penulisan makalah,
sebagai berikut :
1. Memahami pengertian dari kelas Osteichthyes.
2. Mengetahui pembagian divisi atau superordo dari Teleostei.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 KLASIFIKASI

Klasifikasi ialah menetapkan definisi dari kelompok atau kategori menurut skala
hierarki. Tiap-tiap ketegori ini meliputi satu atau beberapa kelompok rendah yang
terdekat, yang merupakan kategori lebih rendah berikutnya (Saanin, 1984). Ikan Teleostei
merupakan salah satu superordo dari kelas Osteichthyes. Osteichthyes menjadi 2
subkelas, yaitu Sarcopterygii dan Actinopterygii (Kent, 1987) (Laily, 2006).
1. Subkelas Sarcopterygii
Ciri-cirinya antara lain mempunyai sepasang sirip dengan pangkal sirip yang
berdaging, sudah memiliki nares interna yang terbuka. Subkelas Sarcopterygii terbagi
menjadi 2 ordo, yaitu:
a. Ordo Crossopterygii
Ikan ini paling umum hidup di jaman Devon, sudah punah kecuali satu jenis ikan
yang masih hidup yaitu Latimeria. Ikan ini memiliki sirip berdaging yang disokong oleh
elemen-elemen tulang yang mirip dengan elemen tulang tungkai depan tetrapoda.
Struktur tubuhnya hampir mirip dengan moyang amfibi (Kent, 1987) (Laily, 2006).
b. Ordo Dipnoi
Dipnoi merupakan kelompok ikan paru-paru, dari segi anatomi menyerupai
amfibi, mempunyai nares interna. Ada 3 genus yang masih bertahan hidup, yaitu:
Protopterus dari Africa, Neoceratodus dari Australia dan Lepidosiren dari Brasil (Kent,
1987) (Laily, 2006).
2. Subkelas Actinopterygii
Ciri-ciri ikan ini antara lain: sirip berupa lembaran kulit yang disokong oleh jari-
jari sirip dari bahan tulang, pelindung dermal dan sisik tipe ganoid yang dilapisi
enamoloid yang disebut ganoin, sirip ekor heteroserkal (Kent, 1987). Subkelas
Actinopterygii dibagi menjadi 3 superordo, yaitu Chondrostei, Holostei dan Teleostei.
a. Superordo Chondrostei
Ikan ini memiliki kemiripan dengan jenis ikan di zaman palazoik, mempunyai
bentuk sisik ganoid, endoskeleton telah terosifikasi dengan baik. Superordo Chondrostei
yang masih hidup adalah Sturgeon dan Padlefishes.
b. Superordo Holostei
Kelompok ikan Holostei yang masih bertahan sampai sekarang ada 2 genus, yaitu
Lepisosteus dan Amia yang ditemukan di Amerika Utara.
c. Superordo Teleostei
Teleostei merupakan jenis ikan yang sudah modern dan dominan di jaman
sekarang. Ikan ini memiliki skeleton yang telah terosifikasi. Sisiknya tersusun dari ganoin
dan memiliki tipe sisik sikloid atau stenoid. Kurang lebih ada 20000 jenis ikan Teleostei
yang masih hidup sampai sekarang (Goin, 1965) (Laily, 2006).

4
2.2 Beberapa wakil Superordo Teleostei antara lain :
1. Ordo Osteoglossomorpha
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Classis : Osteichthyes
Subclass : Actinopterygii
Superordo : Teleostei
Ordo : Osteoglossomorpha

Osteoglossomorpha (superorder Osteoglossomorpha), setiap anggota yang secara


luas diyakini sebagai kelompok yang paling primitif dari ikan bertulang. Reputasi ini
berasal dari kerangka ekor dasar mereka dan kurangnya satu set tulang intermuskularis
seluruh daerah caudal perut dan anterior dari tubuh. Osteoglossomorpha unik di antara
ikan lainnya, bahwa mereka menggunakan lidah mereka sebagai permukaan lawan untuk
gigi ketika mereka menggigit makanan. Mereka dibagi menjadi dua, Osteoglossiformes
dan Hiodontiformes. Osteoglossiformes adalah kelompok yang morfologis dan
biologisnya memiliki beragam bentuk, terutama ditemukan di lingkungan air tawar di
Afrika, Asia, Amerika Selatan, Australia dan pulau-pulau di Samudera Pasifik tropis.
Namun, spesies osteoglossiformes beberapa masuk kedalam habitat air sedikit payau.
Sebaliknya, hiodontiformes hanya terdapat di Amerika Utara dan mungkin kelompok
yang paling primitif dari osteoglossomorphs yang hidup. Osteoglossomorpha termasuk
lima keluarga yang masih ada dan lebih dari 200 spesies. Meskipun kelompok ini begitu
penting bagi manusia, spesies osteoglossomorpha tertentu kadang-kadang dicari
komersial sebagai ikan makanan di beberapa bagian Afrika, Asia, dan Amerika Selatan
(Greenwood, 2009).

2. Ordo Elomorpha

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Classis : Osteichthyes
Subclass : Actinopterygii
Superordo : Teleostei
Ordo : Elomorpha

Ciri umum :
Aktif pada malam hari tetapi ketika siang hari bersembunyi di bawah tanah/
bebatuan.
Panjang tubuh bervariasi yaitu antara 50-125 cm.
Bentuk tubuh memanjang seperti ular memudahkan untuk berenang di antara
celah-celah sempitdan lubang di dasar perairan.
hidup bergerombol dan cenderung berada di dasar perairan (Anonim, 2013).

5
Ciri khusus :
Terdapat sisik sangat kecil yang terletak di bawah kulit pada sisi latera.
larva menghuni dasar perairan dan bersembunyi di dalam lubang, terowongan,
potongan- potongan tanaman atau substrat lainmerupakan jenis ikan yang tidak
menyukai cahaya.
Bentuk memanjang seperti ular, tidak mempunyai sirip perut dan punggung tidak
berduri.
Sebuah kelompok yang beragam termasuk ikan yang sangat primitif dan ikan
khusus seperti belut dan karena itu sulit untuk menentukan. Beberapa anggota
primitif dengan sepiring gular (absen dalam belut), ethmoid komisura hadir dalam
beberapa bentuk dalam dermal tulang rostral (absen di banyak belut), sebuah
Leptocephalus larva, tidak ada sel-sel tulang dalam skala anggota primitif, sirip
perut abdominal. Lebih dari 740 spesies hidup (Anonim, 2013).
3. Ordo Clupeomorpha

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Classis : Osteichthyes
Subclass : Actinopterygii
Superordo : Teleostei
Ordo : Clupeomorpha (Latrobe, 1802)

Clupeomorpha adalah fusiform kecil (meruncing menuju akhir masing-masing)


ikan dengan tubuh ramping yang memfasilitasi berenang cepat di perairan terbuka.
Mereka memiliki shading gelap di punggung mereka dan sisi perak cerah. Kecuali untuk
kepala, tubuh mereka benar-benar tertutup dalam skala besar. Kebanyakan clupeomorpha
kekurangan garis lateral, dan hanya di herring deticipitoid tidak baris ini memperpanjang
sepanjang tubuh. Sirip dari clupeomorpha kurang duri. Sebuah sirip punggung tunggal
terletak di dekat tengah tubuh, dan ekor bercabang. Banyak clupeoids memiliki deretan
sisik, dimodifikasi sisik yang biasanya memiliki titik yang tajam ke arah belakang,
sepanjang garis medial perut. Clupeomorpha terkecil adalah Sanaga pygmy herring
(Thrattidion noctivagus), hanya 0,83 di (2,1 cm) panjangnya standar berukuran; ikan
haring serigala laki-laki (Chirocentrus spp.) adalah herring terbesar, mencapai panjang
standar 39 di (100 cm) (Anonim, 2004).
Hampir semua Clupeomorpha terbuka air, spesies pelagis. Empat-perlima dari
semua spesies yang laut, dengan habitat mulai dari zona littoral dekat pantai hampir 100
mil (160 km) lepas pantai. Banyak ditemukan di dekat permukaan di kali tetapi sering
pindah ke perairan yang lebih dalam pada siang hari. Beberapa Clupeiformes hidup di
perairan pedalaman atau anadromous, bergerak ke pedalaman untuk bertelur. Spesies ini
memanfaatkan teluk, muara, rawa-rawa, sungai, dan sungai air tawar sebagai
habitat. populasi daratan telah terbentuk sebagai shads, Alewives, dan ikan haring pindah
ke danau atau sungai dan menjadi terjebak antara bendungan (Anonim, 2004).

6
4. Ordo Protacanthopterygii

Klasifikasi Ordo : Protacanthopterygii


Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Classis : Osteichthyes
Subclass : Actinopterygii
Superordo : Teleostei

Setiap anggota kelompok beragam dan kompleks dari ikan bertulang yang terdiri
dari Salmoniformes, Osmeriformes dan Esociformes. Superorder Protacanthopterygii,
dianggap paling primitif dari teleostei, mengandung sekitar 366 spesies di perairan segar
dan di lautan dunia. Kelompok ini termasuk akrab trouts, salmon, tombak, mudminnows,
smelts, dan lain-lain. Protacanthopterygians ditemukan di air tawar di semua benua dan di
semua samudra di dunia. Berbagai perwakilan dari trout, pike, dan keluarga mencium
adalah adat ke air tawar dingin lingkungan dari belahan bumi utara. Spesies dari keluarga
Salmonidae menghuni perairan yang lebih dingin dari Amerika Utara.
Sedikit yang diketahui tentang ekologi dari protacanthopterygians sepenuhnya
laut. Mereka mungkin ekologis dikelompokkan berdasarkan kedalaman yang mereka huni
dan oleh preferensi makan mereka. Yang ditemukan di zona senja laut (200-1,000 meter
[650-3,300 kaki]) terdiri dari pengumpan plankton dan predator. Pengumpan plankton
biasanya lebih aktif dan memiliki lebih berkembang dan fungsional berenang kandung
kemih daripada khas dari bentuk predator (Behnke dan Parenti, 2009).

5. Ordo Ostariophysis 15.


6. Klasifikasi
7. Kerajaan : Animalia
8. Filum : Chordata
9. Kelas : Actinopterygii
10. Superordo : Teleostei
11. Ordo : Ostariophysis
12. Famili : Clariidae
13. Genus : Clarias
14. Spesies : Clarias
batrachus

7
16. Morfologi
17. Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak
bersisik, dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang kadang-kadang
menyatu dengan sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya
keras menulang di bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di
ujung moncong, dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat
berguna untuk bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernapasan tambahan
berupa modifikasi dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang
tajam, pada sirip-sirip dadanya. Ada yang mengatakan,bahwa patil ini tidak hanya tajam
tapi juga beracun dan mengakibatkan panas tinggi jika orang tak sengaja terkena patil
tersebut.
18.
19. Habitat
20. Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang
tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan
arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele
bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan. Ikan lele
bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari,
ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah
pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,
namun ada beberapa jenis lele yang bisa mencapai panjang 1-1,5 m dan beratnya bisa
mencapai lebih dari 2 kg, contohnya lele Wels dari Amerika.

21. Superordo Stomatiformes


22. Klasifikasi
23. Kingdom : Animalia
24. Filum : Chordata
25. Classis : Osteichthyes
26. Subclass : Actinopterygii
27. Superordo : Teleostei
28. Ordo : Stomatiiformes

29. Sirip adiposa ada atau tidak, beberapa spesies dengan baik dorsal dan
adiposa ventral fin, berenang kandung kemih tanpa saluran atau tidak ada sama sekali;
rahang atas tulang dominan dari rahang atas, beberapa spesies dengan sangat diperbesar,
gigi depressable, vertebra anterior kadang-kadang unossified, organ cahaya hadir dalam
kebanyakan keluarga, anggota beberapa keluarga dengan dagu barbel, yang mungkin
menjadi struktur yang sangat rumit, dukungan ekor centrum vertebral tunggal. Agar berisi
4 keluarga: Stomiidae, dragonfishes barbeled, Gonostomatidae, bristlemouths;
Sternoptychidae, hatchetfishes laut dan Phosichthyidae, Lightfishes. Tentang 391 spesies,
2,5-45 cm (1-18 inci) panjang. Habitat di laut, di seluruh dunia (Editor, 2008).
30. Superordo Scopelomorpha
31. Klasifikasi
32. Kingdom : Animalia
33. Filum : Chordata
34. Classis : Osteichthyes
35. Subclass : Actinopterygii
36. Superordo : Teleostei
37. Ordo : Scopelomorpha

38. Kepala dan tubuh dikompresi, hadir sirip adiposa, mulut biasanya besar
dan terminal. Sebagin besar ikan kecil 10-15 cm (kira-kira 4-6 inci). 2 keluarga dari
pelagis laut dalam dan ikan bathypelagic, yang Myctophidae, atau ikan lentera (sekitar 32
genera dan 235 spesies) dengan organ bercahaya yaitu Neoscopelidae (3 genera dengan 6
spesies). Habitat di laut, di seluruh dunia. Beberapa lentera ikan hidup di kedalaman 300
meter (sekitar 1.000 kaki) di siang hari, tetapi pada malam hari mereka mungkin
mendekati permukaan. ikan dengan mulut besar dan mata dan berbagai organ cahaya
pada kepala, bawah, dan basis ekor. Susunan lampu ini dapat membantu spesies atau
pengakuan seks. Pola ini juga menyediakan sarana penting mengidentifikasi 240 atau
lebih spesies. Dewasa kisaran ikan lentera dari sekitar 2,5 sampai 15 cm (1 sampai 6 inci)
panjang (Rafferty, 2008).
39. Ordo Paracanthopterygii

40.Klasifikasi
41.Kingdom : Animalia
42.Filum : Chordata
43.Classis : Osteichthyes
44.Subclass : Actinopterygii
45.Superordo : Teleostei
46.Ordo : Paracanthopterygii

47. Setiap anggota dari kelompok besar dari predator, ikan bertulang. Sekitar
1.340 spesies hidup ikan paracanthopterygian dijelaskan. Rentang panjang dari hanya
beberapa sentimeter untuk kira-kira 2 meter (sekitar 7 kaki). Bentuk yang terkenal
termasuk anglerfish (order Lophiiformes) dan cod (order Gadiformes). Paracanthopterygii
digolongkan sebagai kelompok diskrit sebagian besar pada dasar dari otot khas dari
rahang (Nelson, 2012).

48. Superordo Acanthopterygii


49.Klasifikasi
50.Kingdom : Animalia
51.Filum : Chordata
52.Classis : Osteichthyes
53.Subclass : Actinopterygii
54.Superordo : Teleostei
55.Ordo : Acanthopterygii
56. Setiap anggota superorder Acanthopterygii, termasuk empat ordo dari laut
dan air tawar ikan memiliki sirip dengan beberapa berduri (sebagai lawan lembut) rays-
Atheriniformes, Beryciformes, Zeiformes dan Lampridiformes. Atheriniform adalah yang
terbaik dikenal dari kelompok berduri-bersirip, termasuk ikan terbang, guppy, mollies,
swordtails, dan California grunion. Beryciforms dan zeiforms sebagian besar ikan deep-
bertubuh kaki atau kurang. Kebanyakan lampridiforms yang memanjang, ikan seperti
pita, yang oarfish raksasa bisa mencapai 8 m (25 kaki). Beryciforms, zeiforms, dan
lampridiforms adalah kelompok yang paling primitif dari ikan berduri-bersirip. Sebagian
besar tinggal di laut terbuka, dan relatif sedikit yang diketahui dari sejarah alam mereka
(Tikkanen, 2007).
57. Acanthopterygians (berduri sirip) adalah kelompok terbesar dan paling
beragam, mereka membuat 60% dari semua spesies ikan dan diklasifikasikan ke dalam
lebih dari 250 keluarga di 14 ordo. Nama menyinggung kehadiran duri baik di depan sirip
punggung lunak atau ke bagian anterior dari sirip dorsal atau sirip punggung. Duri
melindungi mereka dari predator, dengan meningkatkan ukuran mereka dan dalam
beberapa kasus yang berhubungan dengan kelenjar berbisa. Acanthopterygians
merupakan tipe ctenoid dengan proyeksi comblike kecil di bagian belakang. Kumpulan
besar spesies mungkin merupakan dua kelompok evolusi utama, sekarang
diklasifikasikan sebagai seri Atherinomorpha (285 spesies) dan seri Percomorpha
(13.300+ spesies). Spesies kecil beberapa menggambarkan keragaman bentuk dan
perilaku dalam satu urutan atherinomorpha, tiga ordo dari percomorpha dan dua ordo
seperti ikan yang dimodifikasi bahwa sulit untuk mengetahui di mana untuk
menempatkan mereka, meskipun diasumsikan bahwa mereka awalnya berkembang dari
asal nenek moyang perciform (Tikkanen, 2007).

58. 2.3. Karakteristik Taksonomis Teleostei

59. Karakteristik taksonomi adalah sifat dari suatu anggota takson di mana
takson itu berbeda atau sedikit berbeda dari suatu anggota takson yang berbeda pula (Mayr,
1971). Adapun karakter yang dapat dikaji meliputi morfologi, jenis kalamin, ekologi,
habitat dan sebaran, genetik dan makanan (Laily, 2006).
60. Teleostei merupakan salah satu superordo dari kelas Osteichthyes.
Menurut Brotowidjoyo (1994) kelompok ikan ini memiliki mulut berahang, skeleton
bertulang sejati. Kondrokranium (kranium tulang rawan) dilengkapi oleh tulang dermal
untuk membentuk tengkorak majemuk. Sisik tipe ganoid, sikloid atau stenoid yang
semuanya berasal dari mesodermal, atau tidak bersisik. Romimohtarto (2001)
menambahkan bahwa kelompok ikan ini memiliki satu celah insang di kedua sisi
kepala, mulutnya biasanya di bagian depan tubuh, sirip ekor yang panjangnya hampir sama
atas dan bawah. Selain itu mempunyai sirip yang berpasangan serta mempunyai satu
pasang lubang hidung (Soemadji, 1995).
61. Pada spesies tertentu ada yang mempunyai berbel, bentuk rahang bawah
memanjang dan ada juga yang memiliki sifat-sifat tertentu misalnya pada famili
Anguillidae (ikan sidat) di mana pada waktu dewasa lebih banyak hidup di air tawar tetapi
akan kembali lagi ke laut untuk memijah, sebaliknya untuk famili Chanidae (ikan bandeng)
hidup sepanjang tahun di laut tetapi akan memasuki pantai dan muara sungai untuk
memijah (Laily, 2006).
62. Ikan Teleostei ada juga yang menampakkan ciri-ciri tertentu, misalnya
hanya memiliki mata yang terletak di samping kiri badan seperti pada ikan lidah, ada juga
yang letak matanya hanya di samping kiri atau kanan badan saja seperti pada ikan sebelah
dan ada ikan yang dagingnya beracun dan kulitnya berduri-duri misalnya pada jenis ikan
buntal.
63. Kehidupan ikan Teleostei bervariasi, ada yang hidup secara berkelompok
di laut dangkal dan hangat, di permukaan, bahkan ada yang hidup di sungai-sungai yang
bermuara ke laut serta ada yang hidup soliter (menyendiri). Adapun jenis makanannya
yaitu ada yang makan tumbuh-tumbuhan air seperti alga, ganggang dan lainnya, memakan
binatang-binatang kecil seperti ikan-ikan kecil dan plankton, jenis-jenis kerang dan hewan
invertebrata lainnya (Kottelat et al, 1993) (Laily, 2006).
64.

65.

66. BAB III

67. PENUTUP
68.

69. 3.1 KESIMPULAN

70. Ikan Teleostei merupakan divisi dari kelas Osteichthyes. Osteichthyes


terbagi menjadi 2 subkelas, yaitu Sarcopterygii dan Actinopterygii.
71. Kelompok ikan dari Teleostei ini memiliki beberapa superordo, yaitu;
Osteoglossomorpha, Elomorpha, Clupeomorpha, Protocanthopterygii, Ostariophysi,
Stomatiiformes, Scopelomorpha, Paracanthopterygii, Acanthopterygii. Memiliki
katakteristi umum seperti; mulut berahang, skeleton bertulang sejati. Kondrokranium
(kranium tulang rawan) dilengkapi oleh tulang dermal untuk membentuk tengkorak
majemuk. Sisik tipe ganoid, sikloid atau stenoid yang semuanya berasal dari mesodermal,
atau tidak bersisik.
72. Kehidupan ikan Teleostei bervariasi, ada yang hidup secara berkelompok
di laut dangkal dan hangat, di permukaan, bahkan ada yang hidup di sungai-sungai yang
bermuara ke laut serta ada yang hidup soliter (menyendiri).

73. 3.2 SARAN

74. Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan yang perlu ditambah dan diperbaiki. Untuk itu penulis mengharapkan
inspirasi dan kritik dari para pembaca dalam hal membantu menyempurkan makalah ini.
Untuk terakhir kalinya penulis berharap agar dengan hadirnya makalah ini akan
memberikan sebuah perubahan khususnya dunia pendidikan, dalam mengetahui tentang
struktur dan fungsi protein bagi kehidupan.

75.

76.

77.

78.

79.

80.

81. DAFTAR PUSTAKA


82.

83.

84. Laily, Nur. 2006. Identifikasi Jenis-Jenis Ikan Teleostei Yang Tertangkap
Nelayan Di Wilayah Perairan Pesisir Kota Semarang. Semarang: Universitas
Negeri Semarang.

85. Greenwood, H. P. 2009. Osteoglossomorpha. London: Encyclopaedia Britannica.

86. Grizmek Satwa Hidup Ensiklopedia. 2004. Clupeiformes (Herrings). Gale Group
Inc.

87. Behnke, R.J. dan Parenti, L.R. 2009. Protacanthopterygii. London:


Encyclopaedia Britannica.

88. Nelson, G. J. 2012. Paracanthopterygii. London: Encyclopaedia Britannica.

89. Tikkanen, Amy. 2007. Acanthopterygii. London: Encyclopaedia Britannica.

90. Soemadji. 1995. Zoologi. Jakarta: Depdikbud.

91. Editor. 2008. Stomiiformes. London: Encyclopaedia Britannica.

92. Rafferty, P. John. 2008. Lantern Fish. London: Encyclopaedia Britannica.

93.

94.

95.

96.