Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui beberapa hewan bertubuh
lunak, seperti halnya pada siput, bekicot dan lain sebagainya. Hewan ini digolongkan
kedalam filum Mollusca, karena sesuai namanya mollusca yang berarti lunak.
Tubuhnya lunak dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak
bercangkang. Ukuran dan bentuk mollusca sangat bervariasi. Misalnya siput yang
panjangnya hanya beberapa milimeter dengan bentuk bulat telur. Namun ada yang
dengan bentuk torpedo bersayap yang panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi
raksasa.
Mollusca adalah salah satu hewan invertebrata yang mempunyai arti penting
bagi sumber daya manusia. Reproduksi umumnya mollusca menguntungkan bagi
manusia, namun ada pula yang merugikan. Peran mollusca yang menguntungkan
adalah sebagai sumber makanan berprotein tinggi, misalnya tiram batu Aemaeba sp.,
kerang Anadara sp., kerang hijau Mytilus viridis, Tridacna sp., sotong Sepia sp. cumi-
cumi (Loligo sp), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatina fulica).
Perhiasan, misalnya tiram mutiara (Pinctada margaritifera).
Mollusca merupakan filum terbesar kedua dalam kerajaan binatang, setelah
filum Arthropoda. Anggota dari filum mollusca mempunyai bentuk tubuh yang sangat
beranekaragam dari bentuk silindris seperti cacing dan tidak mempunyai kaki
maupun cangkang, sampai bentuk bulat tanpa kepala dan tertutup dua keping
cangkang besar. Saat ini diperkirakan ada 75 ribu jenis, serta 35 ribu jenis dalam
bentuk fosil.
Adapun yang melatarbelakangi dilakukannya praktikum ini adalah untuk
mengamati struktur morfologi dan anatomi dari spesies-spesies yang mewakili
Mollusca, yaitu siput sawah, bekicot, dan cumi-cumi.
B. Tujuan
Adapun tujuan pada percobaan ini yaitu untuk mengamati struktur morfologi
dan anatomi dari spesies-spesies yang tergolong Mollusca serta mendeskripsikan dan
menyusun klasifikasinya.
C. Manfaat
Adapun manfaat pada percobaan ini yaitu untuk mengetahui struktur
morfologi dan anatomi dari spesies-spesies yang tergolong Mollusca serta
mendeskripsikan dan menyusun klasifikasinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Mollusca berasal dari bahasa latin molluscus berarti lunak. Tubuh lunaknya
itu dilindungi oleh cangkang, meskipun ada juga yang tidak bercangkang serta
mempunyai matel yang berfungsi menutupi organ-organ viseral dan membuat rongga
mantel. Hewan ini tergolong triploblastik selomata. Ukuran dan bentuk Mollusca
sangat bervariasi. Misalnya siput yang panjangnya hanya beberapa milimeter dengan
bentuk bulat telur. Namun ada yang dengan bentuk torpedo bersayap yang
panjangnya lebih dari 18 m seperti cumi-cumi raksasa. Mollusca hidup secara
heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan ataupun sisa-sisa organisme.
Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup sebagai
parasite, (Suwignyo, 2005).
Filum Mollusca merupakan salah satu anggota hewan invetebrata. Anggota
filum ini antara lain remis, tiram, cumi-cumi, octopus, dan siput. Berdasarkan
kelimpahan spesiesnya Mollusca memiliki kelimpahan spesies terbesar di samping
Arthropoda. Ciri umum yang dimiliki Mollusca adalah tubuhnya bersimetris
bilateral, tidak bersegmen, kecuali Monoplacopora, memiliki kepala yang jelas
dengan organ reseptor kepala yang bersifat khusus. Pada permukaan ventral dinding
tubuh terdapat kaki berotot yang secara umum digunakan untuk begerak, dinding
tubuh sebelah dorsal meluas menjadi satu pasang atau sepasang lipatan yaitu mantel
atau pallium. Fungsi mantel adalah mensekresikan cangkang dan melingkupi rongga
mantel yang di dalamnya berisi insang, (Hala, 2007).
Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Mollusca
dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang, yaitu Gastropoda,
Pelecypoda, dan Cephalopoda. Yang pertama yaitu, Gastropoda (dalam bahasa latin,
gaster =perut, podos=kaki) adalah kelompok hewan yang menggunakan perut
sebagai alat gerak atau kakinya. Misalnya, siput air (Lymnaea sp.), remis (Corbicula
javanica), dan bekicot (Achatina fulica). Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar
dan pipih pada bagian ventral tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan
kakinya. Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang
tentakel pendek. Pada ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk
mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat
peraba dan pembau. Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan
Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel, (Adhi, 2011).
Lubang anus dan ekskretori umumnya membuka ke dalam rongga mantel.
Saluran pencernaan berkembang baik. Sebuah rongga bukal yang umumnya
mengandung radula berbentuk seperti proboscis. Esophagus merupakan
perkembangan dari stomodeum yang umumnya merupakan daerah khusus untuk
menyimpan makanan dan fragmentasi. Pada daerah pertengahan saluran pencernaan
terdapat ventrikulus (lambung) dan sepasang kelenjar pencernaan yaitu hati.
Sedangkan daerah posterior saluran pencernaan terdiri atas usus panjang yang
terakhir dengan anus. Memiliki sistem peredaran darah dan jantung. Jantung
dibedakan atas aurikel dan ventrikel. Meskipun memiliki pembuluh darah namun
darah biasanya mengalami srkulasi ruang terbuka. Darah mengandung homosianin,
merupakan pigmen respirasi, (Suwignyo, 2005).
Tidak semua hewan Mollusca memiliki cangkok. Anggota jelas Aplacophora
tidak memiliki cangkok, sedangkan kelas Chepalopoda juga tidak memiliki cangkok
atau jika ada mereduksi. Pada Mollusca lainnya cangkok terlihat nyata dan berfungsi
penting yaitu penyokong tubuh Mollusca yang lunak dan menjaga dari serangan
predator, (Jutje, 2006).
Cephalopoda memiliki arti bahwa kaki bergabung dengan kepala dalam
bentuk tangan, tentakel dan atau sifon. Untuk melakukan lokomosi dilakukan dengan
cara menyemprotkan air melalui sifon, sedangkan tentakel dan tangan digunakan
untuk mencari makan. Cephalopoda memiliki ukuran tubuh terbesar di bandingkan
hewan avertebrata lainnya pada umumnya memilki panjang 6 sampai 70 cm termasuk
tangan dan tentakel, namun pada beberapa spesies memilki ukuran tubuh besar
(Hegner, 1968). Pada Cephalopoda kepala nampak jelas mata besar di kelilingi
dengan tentakel-tentakel, yaitu sebagai kaki yang bermodifikasi. Sebagian kaki juga
menjadi corong yang terbuka pada ruang mantel, menjadi sistem organ yang
kompleks. Ada kelenjar tinta. Kelamin terpisah, tidak ada stadium larva. Hewan-
hewan muda menetas seperti miniature hewan dewasa dan langsung berenang,
(Jordan, 1983).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan tempat


Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya percobaan ini yaitu :
Hari/tanggal : Sabtu, 29 April 2017
Pukul : 13.00-15.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi, Universitas Muhammadiyah Makassar.
B. Alat dan bahan
1. Alat
a. Bak bedah
b. Pisau bedah
c. Pinset
2. Bahan
a. Siput sawah (Pila ampullacea)
b. Bekicot (Achatina fulica)
c. Cumi-cumi (Loligo sp)
C. Prosedur kerja
1. Siput sawah
a. Letakkan siput sawah di bak bedah, gambar morfologinya, beri keterangan
dan klasifikasinya.
b. Bukalah cangkang siput tersebut dan amati bagian anatominya
2. Bekicot
a. Achatina fulica diletakkan di bak bedah untuk diamati morfologinya.
b. Untuk pengamatan tubuh bagian dalam Achantina fulica dilakukan dengan
dikeluarkan bagian dalam tubuh dari cangkangnya.
c. Bagian dalam tubuh Achantina fulica yang telah dipisahkan dari
cangkangnya lalu diamati bagian-bagian tubuhnya.
3. Cumi-cumi
a. Loligo sp. yang akan dibedah diletakkan di papan bedah.
b. Loligo sp. sebelum dibedah diamati terlebih dahulu morfologinya.
c. Baringkan cumi-cumi dengan bagian ventral mengarah ke atas.
d. Bukalah rongga mantelnya (cavum palii) dengan pinset kemudian
guntinglah melalui mantelnya kearah posterior tubuh.
e. Rentangkan mantel yang telah dibuka kearah kiri dan kanan.
f. Loligo sp. yang sudah dibedah lalu diamati bagian anatominya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
Dari prakitkum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut :
1. Siput sawah (Pila ampullacea)
Gambar morfologi Keterangan
1. Cangkang
2. Garis pertumbuhan
3. Kepala
4. Mata
5. Tangkai mata
6. Alat peraba
7. Mulut
8. Kaki
9. Ujung puncak

Gambar anatomi Keterangan


1. Usus
2. Perikardium
3. Jantung
4. Organ ekskresi
5. Lubang pernapasan
6. Kelenjar lendir
7. Perasa
8. Sistem saraf
9. Perut
10. Hati

2. Bekicot (Achatina fulica)


Gambar morfologi Keterangan
1. Apex
2. Body whorl
3. Sutura
4. Anterior
5. Tentakel
6. Stigma
7. Kemoreseptor
8. Rima oris
9. Porus genitalis
10. Podium (kaki)

Gambar anatomi Keterangan


1. Mata
2. Insang
3. Anus
4. Usus
5. Gonad
6. Kelenjar pencernaan
7. Lambung
8. Nefridium
9. Jantung
10. Kaki perut
11. Saraf tali
12. Faring
13. Mulut

3. Cumi-cumi (Loligo sp)


Gambar morfologi Keterangan
1. Tentacle
2. Funnel
3. Mantle
4. Fin
5. Eye
6. Arms

Gambar anatomi Keterangan


1. Lambung
2. Kantung tinta
3. Esofagus
4. Corong
5. Mata
6. Lengan
7. Penghisap
8. Mulut
9. Jantung sistemik
10. Jantung insang
11. Ovarium

B. Pembahasan
1. Siput sawah (Pila ampullacea)
a. Morfologi
Dari pengamatan morfologi siput, terlihat tubuh yang lunak, simetris
bilateral, tidak bersegmen dan bergerak merayap, meliang atau berenang
dengan kaki perut. Sebagian besar siput mempunyai cangkang tunggal yang
keras dari zat kapur dengan bentuk yang amat beragam untuk melindungi
tubuhnya. Bagian tubuh yang tampak dari luar adalah kepala dengan sepasang
antenna atau lebih yang dilengkapi dengan sebuah mata pada bagian ujungnya
dan kaki perut yang menjulur dari bagian bawah cangkang. Arah putaran
cangkang umumnya ke kanan (dekstral) dan umumnya memiliki operculum.
b. Anatomi
Tubuh siput terdiri atas kepala, organ internal yang dilindungi
cangkang dan kaki perut. Mulut siput dilengkapi dengan gigi radula yang
berfungsi sebagai parut untuk menghancurkan makanannya. Organ internal
siput simetris dan terpilin. Cangkang siput dibentuk oleh membrane tipis yang
berasal dari bagian mantel. Bersifat hermaphrodite, monoecious atau
dioecious. Fertilisasi Siput internal atau eksternal. Siput bernafas dengan
insang atau paru-paru (siput darat). Jantung siput beruang satu atau dua.
c. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Classis : Gastropoda
Ordo : Archetinaeniglossa
Familia : Ampullariidae
Genus : Pila
Species : Pila ampullacea, (Kastawi,2005).

2. Bekicot (Achatina fulica)


a. Morfologi
Tubuh bekicot terdiri atas kepala, leher, kaki dan masa jerohan. Pada
kepalanya memiliki dua tentakel dan berpasangan dengan ukuran yang
pendek dan berada di anterior yang memiliki saraf pembau serta sepasang
kedua yang berukuran lebih panjang memiliki mata. Letak mulut berada di
bagian anterior kepala, di ventral terdapat tentakel. Tepat dibawah mulut
terdapat lubang yang berhubungan dengan kelenjar mukosa kaki (pedal). Kaki
lebar, pipih dan terdiri atas otot. Kaki merupakan organ yang berfungsi untuk
bergerak dan mengandung selaput mukosa yang menghasilkan lendir untuk
membantu selama bergerak. Kaki dan kepala dapat ditarik kedalam cangkang.
b. Anatomi
Alat pencernaan makanan terdiri dari mulut, masa bukal, esofagus,
kelenjar ludah, tembolok, lambung, kelenjar pencernaan, usus, rektum, dan
anus. Pada bagian mulut terdapat radula untuk memarut tumbuhan.
Selanjutnya terdapat esofagus, kemudian lambung (ventrikulus), usus
(intestinum), yang berbelok ke depan lagi dan berakhir sebagai anus yang
terletak di mantel berdekatan dengan kepalanya. Selain itu di dekat lambung
terdapat hati yang berwarna kecoklatan. Hati melingkar-lingkar mengikuti
belitan cangkok.
Jantung terletak di dalam ruang perikardium dan terdiri atas atrium
dan ventrikel berotot yang akan memompa darah ke seluruh tubuh dengan
pulsasi yang berirama. Alat eksresi terdiri atas ginjal, terletak dekat jantung.
Ureter yang merupakan saluran dari ginjal yang terletak di sisi sepanjang
rektum dan bermuara dekat anus.
c. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Classis : Gastropoda
Ordo : Stylomatophora
Familia : Achatinidae
Genus : Achatina
Species : Achatina fulica, (Suwignyo.2005)
3. Cumi-cumi (Loligo sp)
a. Morfologi
Pada pengamatan morfologi tubuh cumi memiliki kepala yang
bersambungan dengan kaki. Bentuk tubuh panjang, langsing dan bagian
belakang meruncing (rhomboidal). Pada bagian anterior terdapat kepala yang
memiliki dua mata yang besar dan tidak berkelopak. Mulut yang dikelilingi
oleh empat pasang tangan dan sepasang tentakel (8 tangan dan 2 tentakel
panjang). Pada permukaan dalam tangan dan tentakel terdapat batil isap yang
berbentuk mangkok terletak pada ujung tentakel. Sistem skeletal terdiri atas
endoskeleton yang berbentuk pen atau bulu dan beberapa tulang rawan.
Beberapa tulang rawan tersebut membentuk artikulasi untuk sifon dan mantel.
Endoskeleton yang berbentuk pen tersebut homolog dengan cangkang pada
Mollusca lain. Pada Loligo endoskeleton tersebut (cangkang) terletak di
dalam rongga mantel berwarna putih transparan, tipis dan terbuat dari bahan
kitin. Mantel berwarna putih dengan bintik-bintik merah ungu sampai
kehitaman dan diselubungi selaput tipis berlendir.
b. Anatomi
Secara anatomi, didalam tubuh cumi pada bagian perut, tepatnya
sebelah sifon akan ditemukan kantung cairan tinta berwarna hitam yang
mengandung pigmen melanin yang bermuara pada lubang sifon. Organ
respirasi cumi terdiri atas sepasang insang atau ctenedium yang terletak
disebelah lateral, memiliki bentuk seperti sisir berbentuk bulu yang terdapat di
rongga mantel. Sistem pembuluh darah berkembang baik dan sistem
peredaran darahnya terdiri dari jantung sistematik, aorta, dan arteri bersifat
ganda dan tertutup. Terdapat Alat ekskresi berupa dua ginjal atau nefridia
berbentuk segitiga berwarna putih.
Organ pencernaan terdiri atas mulut yang mengandung radula dan dua
rahang yang terbuat dari kitin. Selanjutnya makanan di bawa ke esofagus,
lambung, usus, rektum dan anus yang bermuara dalam rongga mantel.
Pencernaan dilengkapi dengan dua kelenjar ludah dan di dekat ujung anterior
hati, digunakan untuk mensekresikan racun di daerah rahang. Selain itu juga
memiliki kelenjar pencernaan yaitu kelenjar hati pada anterior dan pankreas di
posterior.
c. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Classis : Cephalopoda
Ordo : Teuthida
Familia : Loliginidae
Genus : Loligo
Species : Loligo sp, (Jasin,1992).
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa hewan-hewan Mollusca
dari kelas Gastropoda dari segi morfologi memiliki cangkok yang beraneka ragam
bentuk dan warnanya. Umumnya bercangkang tunggal yang keras dari zat kapur.
Bagian tubuh yang tampak dari luar adalah kepala dengan sepasang antenna yang
dilengkapi dengan sebuah mata pada bagian ujungnya dan kaki perut yang menjulur
dari bagian bawah cangkang. Dari segi antominya, memiliki alat pencernaan
makanan yang terdiri dari mulut, masa bukal, esofagus, kelenjar ludah, tembolok,
lambung, kelenjar pencernaan, usus, rektum, dan anus. Selain itu di dekat lambung
terdapat hati yang berwarna kecoklatan. Hati melingkar-lingkar mengikuti belitan
cangkok.
Kemudian pada Cephalopoda umumnya tidak bercangkok kecuali Nautilus.
Dari segi morfologi tubuh cumi-cumi pada bagian anterior terdapat kepala yang
memiliki dua mata yang besar dan tidak berkelopak. Leher pendek, kemudian
terdapat mulut yang dikelilingi oleh empat pasang tangan dan sepasang tentakel.
Sedangkan secara anatomi, didalam tubuh cumi pada bagian perut, terdapat kantung
cairan tinta berwarna hitam yang mengandung pigmen melanin yang bermuara pada
lubang sifon. Organ respirasi cumi terdiri atas sepasang insang atau ctenidium, sistem
pembuluh darah berkembang baik dan sistem peredaran darahnya terdiri dari jantung
sistematik, aorta, dan arteri. Organ pencernaan terdiri atas mulut yang mengandung
radula dan dua rahang yang terbuat dari kitin, selanjutnya makanan di bawa ke
esofagus, lambung, usus, rektum dan anus yang bermuara dalam rongga mantel.
B. Saran
Adapun saran saya yaitu praktikan harus lebih teliti dalam mengamati bagian
morfologi serta anatomi filum Mollusca agar tujuan dari praktikum dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Adhi, D. 2011 . http://gurungeblog.wordpress.com. Diakses pada tanggal 4 Mei 2017

Hala,Y. 2007 . Daras Biologi Umum II. Makassar: Alauddin Press.

Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya: sinar Wijaya.

Jordan, E. L. dan Verma, P. S. 1983. Invertebrate Zoology. New Delhis : Chand


and Company, Ltd.

Jutje, S. 2006 . Zoologi Invetebrata. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Kastawi, Y. 2005 . Zoologi Invertebrata. Malang: UM Press.

Silulu, Pieter F.dkk. Biodiversitas Kerang Oyster (Mollusca, Bivalvia) di Daerah


Intertidal Halmahera Barat, Maluku Utara. Jurnal Ilmiah Platax. Vol.1-2.
ISSN.2302-3589

Suwignyo, S. 2005 . Avetebrata Air Jilid I1. Jakarta: Penebar Swadaya.

Wicaktini, Anggun. 2013. https://wicaktini.wordpress.com/2013/05/19/217/. Diakses


pada tanggal 4 Mei 2017