Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Mesin pemindahan Bahan merupakan suatu sistem peralatan yang
digunakan untuk mengangkat / memindahkan muatan dari suatu tempat ke
tempat lain, dimana jumlah, ukuran dan jarak pemindahannya terbatas.
Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan
kemajuan di bidang industri maka diperlukan mesin pemindah bahan yang
tepat yang akan meningkatkan efisiensi dari aktivitas tersebut.
Banyaknya jenis Mesin Pemindah Bahan yang tersedia membuatnya
sulit digolongkan secara tepat. Penggolongan ini masih diperumit lagi oleh
kenyataan bahwa penggolongan ini juga didasarkan pada berbagai
karakteristik, misalnya desain, tujuan, jenis gerak dan sebagainya.
Mesin pemindah bahan, dalam operasinya dapat diklasifikasikan atas :
1. Alat pengangkat
Contohnya : Elevator, Escalator dan Crane.
2. Alat pengangkut
Contohnya : Konveyor
Lift adalah alat pengangkat yang ditujukan khusus untuk mengangkat /
memindahkan barang atau orang secara vertikal di dalam sangkar yang
bergerak pada rel penuntun tetap.
Adapun cara kerja dan lift ini adalah dengan gerakan naik-turun (hoist)
dimana sangkar yang berisi barang atau orang dan beban pengimbang
digantungkan pada tali yang ditarik naik atau turun dengan menggunakan, puli,
dimana puli ini berputar sesuai dengan kebutuhan. Puli digerakkan oleh motor
listrik dan gerakan puli digerakkan oleh motor listrik dan gerakan puli
dihentikan oleh rem, sehingga barang atau orang tidak akan naik atau turun
setelah posisi angkat yang diinginkan tercapai.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

1
Tujuan dari perencanaan Transmisi Lift Penumpang untuk
Kapasitas 15 penumpang dengan ketinggian 5 lantai :

1. Merencanakan perhitungan Transmisi pada sebuah lift Penumpang


yang mempunyai kapasitas 15 orang dengan ketinggian 5 lantai,
asumsi berat perorang adalah 70 kg.
2. Memperhitungkan kekuatan dan umur dari beberapa komponen
utama pada Transmisi lift serta memperhitungkan keamanan dan
metode perawatan.
3. Untuk meningkatkan pengetahuan tentang transmisi roda gigi
cacing dan cara kerja roda gigi cacing.
4. Untuk menyajikan gagasan ilmiah dengan harapan agar dapat
dimanfaatkan untuk kemajuan teknologi di masa yang akan datang.

1.2.2 Tujuan Khusus


Tugas Elemen Mesin III disusun sebagai salah satu syarat untuk
mengambil Tugas Akhir mahasiswa jurusan Teknik Mesin S-1 di Sekolah
Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta.

1.3 Batasan Masalah


Pada perencanaan transmisi lift penumpang yang mempunyai kapasitas
15 orang dengan ketinggian 5 lantai, asumsi berat perorang adalah 70 kg dan
kecepatan 1 meter/detik ini hanya akan dibahas masalah : Roda gigi cacing,
Poros roda cacing, Poros gigi cacing, Bantalan, Pasak, serta Pelumasan
dan perawatannya, tali dan pulley.

BAB II
DASAR TEORI

2
2.1 Tinjauan Umum
2.1.1 Kontruksi Umum
Kontruksi umum elevator berupa sangkar yang digerakkan naik
turun di dalam lorong lift dengan bantuan kabel pengangkat dan gerak mula
diperoleh dari motor penggerak. Putaran dari motor yang tinggi akan
diteruskan oleh sebuah kopling untuk memutarkan poros gigi cacing.
Kemudian putaran poros tersebut direduksi oleh roda gigi cacing. Adapun
komponen rem berfungsi untuk menghentikan putaran poros sehingga
tercipta berhentinya gerakan naik turun pada sangkar. Agar gerakan lift
tidak goyang digunakan rel-rel penuntun yang diikat pada tembok lorong
lift. Bobot penyeimbang digunakan untuk mengimbangi berat dari sangkar
sehingga daya yang diperlukan untuk menggerakkan sangkar menjadi lebih
kecil (N. Rudenko, 1996 ).

2.1.2 Prinsip Kerja


Prinsip kerja lift adalah pada saat motor listrik dijalankan, putaran
poros dari motor listrik akan diteruskan ke poros roda gigi cacing oleh
sebuah kopling. Putaran dari poros motor listrik akan direduksi
menggunakan sebuah transmisi yaitu transmisi roda gigi cacing. Poros roda
gigi cacing akan memutar roda gigi pasangannya. Puli dihubungkan satu
sumbu dengan roda gigi cacing sehingga putaran dari roda gigi cacing akan
diteruskan ke puli.

Mekanisme kerja dari elevator ditunjukkan pada Gambar 2.1 di


bawah ini.

5
6

3
2
1

4
3

8 10

Keterangan :
Motor Listrik

Kopling

Rem

Poros Gigi Cacing

Roda Gigi Cacing

Puli Penggerak

Puli Penerus

Bobot penyeimbang

Sangkar Gambar 2.1. Mekanisme kerja elevator


Lantai bangunan

2.2 Bagian-bagian Lift


a. Kotak transmisi

4
Kotak transmisi adalah tempat atau wadah untuk menempatkan
komponen - komponen transmisi, diantaranya roda gigi, poros, bantalan, pasak
dan oli.
b. Mesin penggerak
Mesin penggerak alat ini menggunakan motor listrik tiga phase yang
putaranya diteruskan pada kotak transmisi yang terdiri dari transmisi roda gigi
cacing. Dari transmisi roda gigi cacing digunakan untuk memutar puli dan dari
putaran puli ini akan dipakai untuk mengangkat atau menurunkan sangkar dan
counter weight (penyeimbang).
c. Sistem puli
Sistem puli menggunakan sistem majemuk, dengan pertimbangan
bahwa beban yang akan dinaikan dalam arah vertikal dan dapat membawa dua
kali lebih besar dari puli biasa. Maka hal ini bisa dimanfaatkan dengan
menggunakan diameter tali baja yang lebih kecil.
d. Tali baja
Tali baja berfungsi untuk meneruskan gerakan dari putaran puli ke
gerakan naik turun sangkar dan penyeimbangnya. Jumlah dan diameter tali
baja ditentukan dari besarnya beban yang akan diangkat.
e. Penyeimbang / Counter weight
Penyeimbang atau Counter weight ini dimaksudkan untuk
mengimbangi dari berat sangkar sehingga mesin tidak menahan beban yang
tinggi. Pada umumnya berat penyeimbang sama dengan sangkar ditambah
40%-50% dari kapasitas maksimum elevator. Dengan demikian mesin akan
mengangkat atau menaikan dari beban maksimum yang diijinkan.
Sebaliknya jika sangkar kosong maka mesin hanya mengangkat dari beban
maksimum yang terpasang pada penyeimbang.
f. Rel-rel penuntun counter weight.
Rel ini terpasang pada lorong-lorong elevator dan berfungsi supaya
counter weight / penyeimbang dapat berjalan pada tempatnya masing-
masing.

g. Sangkar

5
Sangkar adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengangkut
penumpang atau barang. Sangkar dilengkapi dengan pintu yang digunakan
untuk keluar masuknya penumpang atau barang .
h. Rel-rel penuntun sangkar
Rel ini hampir sama fungsinya dengan rel penuntun counter weight
yang membedakan adalah bahan dan bentuk relnya. Rel ini juga terpasang pada
lorong-lorong elevator dan disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada
tabrakan antara gerakan sangkar dan cuonter weight.

i. Lorong Elevator
Lorong elevator merupakan tempat sangkar lift. Selain sangkar, di
dalam lorong elevator terdapat rel penuntun, bobot penyeimbang dan tali baja.
Desain lorong ini dirancang sedemikian rupa sehingga menjamin gerak sangkar
secara bebas dan aman. Tinggi lorong lift adalah tinggi setiap lantai ditambah
tinggi ruang mesin yang ada di lantai atas dan ruang komponen pendukung
yang ada di bawah.
j. Peralatan Penggantung
Peralatan penggantung adalah suatu kawat pintalan sejajar yang
merupakan perabot pengangkat yang mengantung sangkar. Tali tersebut
menghubungkan sangkar dengan bobot penyeimbang. Roda puli penerus
digunakan untuk menopang tali yang terdapat pada penggantungan sangkar dan
pengimbang.
k. Alat pengaman
Sangkar semua elevator harus dilengkapi dengan alat pengaman khusus
yaitu penahan yang akan menghentikan sangkar secara otomatis bila tali putus
atau kendur. Penahan akan menghentikan sangkar bila satu buah tali atau
semuanya putus secara bersamaan, bila satu tali dibebani lebih dari tali lainnya,
bila semua tali kendur pada saat yang bersamaan, dan bila kecepatan
penurunan menjadi terlalu besar.
l. Alat Kontrol

6
Alat ini untuk mengatur opersi lift dengan menggunakan suatu kontrol
otomatisyang dapat dioperasikan dari luar pintu dan dari dalam pintu serta
adanya panel lift yang terdapat diruang mesin.

2.3 Sistem Transmisi


a. Roda Gigi Cacing
Roda gigi cacing adalah suatu pasangan roda cacing dengan sebuah gigi
cacing yang mempunyai ulir luar . Roda gigi cacing digunakan untuk poros
yang saling berpotongan 90 o.
Roda gigi cacing mampu untuk meneruskan putaran dengan
perbandingan reduksi yang besar. Perbandingan angka reduksi bisa mencapai 1
: 100, tetapi arah putarannya tidak bisa dibalik untuk menaikkan putaran. Hal
ini disebabkan karena putaran berasal dari roda cacing akan ditahan oleh poros
cacing, inilah yang disebut mengunci sendiri. Pada roda gigi cacing selalu
ada dua sampai empat gigi yang berkontak dengan serentak. Transmisi roda
gigi cacing mampu menahan beban yang besar dengan menggunakan daya
yang kecil.
Keterangan :
Diameter luar cacing

Diameter jarak bagi cacing

Diameter inti cacing

Sudut kisar :
Keterangan
Diameter luar
Jarak bagi
cacing
Kisar
Diameter jarak
Tinggi kaki
bagi cacing
Tinggi kepala
Diameter inti cacing
Tinggi kaki
Sudut kisar
Jarak sumbu
Jarak bagi
Diameter lingkaran kaki roda
cacing Kisar

Diameter jarakkaki
Tinggi bagi dari
roda cacing
Tinggi kepala
Diameter tengkorak roda
cacing Tinggi kaki

Diameter luar sumbu


Jarak roda cacing
7 Lebar roda cacinglingkaran kaki roda
Diameter
cacing

Diameter jarak bagi dari roda


cacing
Diameter luar roda cacing

Lebar roda cacing

Gambar 2.2. Roda gigi cacing

8
1
b. Poros

Poros merupakan salah satu bagian terpenting dari sebuah mesin.


Poros berfungsi untuk mendukung atau menetapkan elemen mesin lainnya,
seperti roda gigi, fly wheel, kopling dan lain-lain yang semuanya itu
didukung atau ditempatkan di atas sebuah poros.
c. Bantalan
Bantalan adalah elemen mesin yang menumpu poros berbeban,
sehingga putaran atau gerakan bolak-baliknya berlangsung dengan halus,
aman dan berumur panjang. Bantalan yang dipakai pada transmisi mesin
elevator adalah bantalan rol gelinding, karena untuk menahan poros saat
berputar serta gaya pada saat roda gigi yang berkaitan berputar. Maka
bantalan rol gelinding harus dibuat kuat dan kokoh untuk memungkinkan
poros serta elemen mesin lainnya dapat bekerja dengan baik, apabila
bantalan tidak bekerja dengan baik, maka prestasi seluruh sistem akan
menurun.

d. Pasak
Pasak adalah suatu elemen mesin yang dipakai untuk menetapkan
roda gigi pada roda transmisi mesin. Pada mesin elevator dipasang pasak
benam.
Dalam penggunaan pasak umumnya kekuatan pasak dibuat lebih
rendah dibanding dengan poros, sehingga jika terjadi tegangan yang
berlebih maka pasak akan rusak terlebih dulu mengingat harga pasak cukup
murah dan mudah menggantinya dibandingkan dengan porosnya.

BAB III
PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN
3.1 Perencanaan

23
Pada perencanaan transmisi lift ini akan dibahas masalah : Kapasitas
Beban Angkut, Motor Penggerak, Tali baja, Puli, Roda gigi cacing, Poros,
Pasak, Bantalan serta Pelumasan dan Perawatannya.
3.1.1 Kapasitas Beban
Kapasitas beban yang direncanakan adalah 15 orang dengan
asumsi berat badan tiap orangnya sebesar 70 kg. Berdasarkan hal
tersebut maka dapat diketahui pula berat yang lain seperti :
a. Kapasitas ( Q )
Dimana kapasitas angkat untuk 15 Orang dengan berat
perorangnya 70 kg adalah
Q = Jumlah orang x berat tiap orang
b. Berat sangkar (Gsangkar)
Untuk ketentuan Q 1.500 kg, digunakan persamaan berikut :
Gsangkar = 300 + 150 F
dimana F merupakan luas lantai yang dapat dicari dengan cara
mengalikan asumsi dimensi tiap orang dengan jumlah orangnya.
c. Berat total (Qtotal)
Qtotal = Gsangkar + Q
d. Berat pengimbang (Gcw)
Gcw = Gsangkar + 0,5 Q

3.1.2 Motor penggerak


Pemilihan dan perhitungan motor penggerak didasarkan pada
spesifikasi lift yang akan dioperasikan, yaitu kapasitas angkut 15 orang
dengan kecepatan 1m/detik. Dari data tersebut, maka pemilihan jenis
motor listrik yang banyak beredar di pasaran, dapat dicari dengan
persamaan berikut,
Persamaan tersebut menghasilkan daya ideal yang diperlukan
lift pada kondisi normal. Untuk mengantisipasi adanya gangguan
seperti tegangan listrik yang tidak stabil ataupun kondisi elemen yang
menurun karena faktor usia, maka perlu di antisipasi dengan
penambahan 10% dari daya tersebut

8
3.1.3 Tali baja
Dalam perencanaan transmisi lift, tali yang digunakan
merupakan tali baja (steel wire rope), dimana tali baja adalah tali yang
dikonstruksikan dari kumpulan jalinan serat-serat baja (steel wire).
Keuntungan menggunakan tali baja dibandingkan dengan rantai adalah
lebih ringan, lebih tahan terhadap sentakan, operasi yang tenang
walaupun dalam kecepatan tinggi, lebih fleksibel. Tali yang digunakan
adalah tali baja dengan type 6 37 = 222 + 1c.
Perhitungan yang perlu diperhatikan dalam merencana tali adalah
sebagai berikut :
a. Perbandingan Diameter Puli dan Diameter Tali
D min
d
b. Gaya Tarik Maksimum
Qtotal
Sw =
n. . 1

c. Luas Penampang Tali Baja


S
F(222) = b d
36.000
K D min
d. Diameter Kawat
4.F
=
.i

e. Diameter Tali Baja


d = 1,5 . . i

f.Kekuatan Putus Tali Baja

S .b
P(222) = b d 36.000
K D min
=F.
b

9
g. Tegangan Tarik Maksimum Yang Diijinkan
P
Sb =
K
h. Umur Tali
Z
N
a.Z 2. .

3.1.4 Puli
Besarnya diameter puli dapat dihitung dengan persamaan :
D e1 .e2 .d

3.1.5 Roda Gigi Cacing


Rumus mencari dimensi roga gigi cacing adalah
a. Diameter kaki gigi cacing
D f 1 0,6.a 0.85

b. Diameter lingkaran jarak bagi gigi cacing


Dm1 D f 1 2,4.m

c. Diameter luar gigi cacing


Dk 1 Dm1 2m

d. Diameter lingkaran jarak bagi


Dm 2 2.a Dm1

e. Diameter tenggorok roda cacing


Dk 2 Dm 2 2.m

f. Diameter luar roda cacing


Da 2 Dm 2 3.m

g. Diameter kaki roda cacing


D f 2 Dm 2 2,4.m

3.1.6 Poros
Poros adalah suatu elemen mesin yang sangat memegang
peranan yang sangat penting dalam mentransmisikan daya. Poros yang
digunakan dalam perencanaan ini adalah poros transmisi yang didesain
agar kuat menahan beban puntir dan beban lentur akibat daya yang
diteruskan melalui roda gigi cacing.

10
Diameter poros (Ds)
1
5,1
3

Ds1 ( Km M ) 2 ( K t T ) 2
a
3.1.7 Pasak
Perencanaan ini menggunakan pasak. Pasak benam mempunyai
bentuk penampang segi empat dengan ujung yang agak membulat dan
dipilih bahan yang lebih lemah dari bahan poros, sehingga pasak akan
lebih dahulu rusak dari pada poros atau nafnya. Ini disebabkan harga
pasak yang murah serta mudah menggantinya.
a. Gaya tangensial
T
F
Ds / 2
b. Tegangan geser yang terjadi
F
k
b.L
c. Tegangan geser yang diizinkan
b
ka
Sf k 1 . Sf k 2

3.1.8 Bantalan
Pemilihan jenis bantalan disesuaikan dengan tabel standar
ukuran yang telah ada yaitu bantalan gelinding. Poros roda gigi cacing
dipilih bantalan bola mapan sendiri baris ganda yang fungsinya sangat
baik untuk menahan beban serta umurnya yang cukup lama.

11
3.1.9 Pelumasan
Pelumasan menggunakan sistim pelumasan celup yaitu dengan
memasukkan 1/2 atau 1/3 bagian dari penampang gigi cacing ke dalam
pelumas. Sehingga saat gigi cacing berputar minyak tersebut dapat
terangkat oleh gigi cacing dan akan membasahi dan melumasi tiap
bagian roda gigi cacing.

3.1 Perhitungan
Berikut data hasil perhitungan yang telah dilakukan pada
perancangan transmisi lift ini :

Tabel Hasil Perhitungan


Nama Hitungan Bahan
Kapasitas beban angkut
Kapasitas (Q) 1050 kg
Berat sangkar (Gsangkar) 862,5 kg
Berat total (Gtotal) 1912,5 kg
Berat penyeimbang (Gcw) 1387,5 kg
Motor penggerak
Daya motor (N) 9,32 HP = 6,8 kW
Putaran input (n1) 1460 rpm
Putaran output (n2) 38,60 rpm
Jenis motor AC 3 fase
Efisiensi beban penuh 86%
Tipe Tali 6 x 37 = 222 + 1c Kawat Baja
Dmin/d 25
Gaya tarik maksimal tali (s) 1026,04 kg
Luas penampang tali (F) 2,85 cm2
Diameter kawat 1,27 mm
Diameter tali (d) 28,38 = 29 mm
Jumlah siklus kerja rata-rata/bulan (a) 1000
Umur tali (n) 130 bulan

12
Nama Perhitungan Bahan

13
Pasak roda cacing
Bahan pasak Baja carbon (S 30 C)
Panjang pasakk (L) 90 mm
Lebar pasak (b) 22 mm
Tinggi pasak (h) 14 mm
Kedalaman alur pasak pada
poros (t1) 9 mm
Kedalaman alur pasak pada
lubang (t2) 5,4 mm
Pasak gigi cacing
Bahan pasak Baja carbon (S 30 C)
Panjang pasakk (L) 40 mm
Lebar pasak (b) 12 mm
Tinggi pasak (h) 8 mm
Kedalaman alur pasak pada
poros (t1) 5 mm
Kedalaman alur pasak pada
lubang (t2) 3,3 mm
Bantalan poros gigi cacing
Jenis bantalan Bantalan rol
Nomor bantalan QB40
Diamter lubang (d) 40 mm
Diameter luar (D) 90 mm
Lebar bantalan (T) 23 mm
Umur bantalan 1527,5 jam
Bantalan poros roda cacing
Jenis bantalan Bantalan rol
Nomor bantalan 1315k
Diamter lubang (d) 75 mm
Diameter luar (D) 160 mm
Lebar bantalan (T) 37 mm
Umur bantalan 1596,48 jam
Poros
Bahan poros gigi cacing Baja finis dingin (S 35C-D)
Diameter poros gigi cacing (ds) 40 mm
Defleksi puntiran () 0,01 0/m
Baja khrom nikel molibden
Bahan poros roda cacing (SNCM 1)
Diameter poros roda cacing (ds) 75 mm
Defleksi puntiran () 1,3 x 10-6 o/m

Nama Perhitungan Bahan


Puli

14
n 2
0,951
D 522 mm
d 18 mm
a 55 mm
b 40 mm
c 10 mm
e 1,5 mm
h 30,0 mm
l 15 mm
r 12,0 mm
r1 5,0 mm
r2 5,0 mm
r3 17 mm
r4 10 mm
Transmisi
Efisiensi roda gigi cacing (n) 82,05 %
Perbandingan transmisi (i) 1:40
Diameter luar gigi cacing (dk1) 38,23 mm
Diameter jarak bagi gigi cacing (dm1) 32,23 mm
Diameter kaki gigi cacing (df1) 25,03 mm
Sudut kisar cacing ( ) 9,80
Panjang ulir gigi cacing (b1) 18,37 mm
Diameter luar roda cacing (da2) 137,9
Diameter tengkorak roda cacing (dk2) 134,9
Diamater jarak bagi roda cacing (dm2) 128,9 mm
Diameter kaki roda cacing (df2) 121,7 mm
Jarak sumbu poros (a) 117 mm
Lebar roda cacing (b2) 22,60 mm
Tinggi kepala gigi 3 mm
Tinggi kaki gigi 3,47 mm
Kelonggaran puncak (c) 0,471 mm
Baja finis dingin
Bahan gigi cacing (S-45C-D)
Perunggu tembaga timah
Bahan roda cacing (Cu-Sn-Bz)

BAB IV
PERAWATAN

15
4.1 Pengertian Perawatan
Perawatan perlu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga atau
memelihara fasilitas peralatan dan kondisi kerja mesin - mesin yang
dilakukan secara berkelanjutan sesuai dengan petunjuk - petunjuk yang ada.
Hal ini dimaksudkan agar mesin - mesin dalam kondisi siap pakai dan dapat
digunakan sesuai umur pakainya dari mesin tersebut, sehingga proses
produksi dapat berjalan dengan lancar dan memuaskan serta sesuai dengan
yang direncanakan.
Dalam perawatan transmisi lift ini diperlukan penjadwalan
perawatan yang terencana dengan baik sehingga operator dapat bekerja
dengan lebih baik dan diharapkan transmisi lift dapat berdaya guna
semaksimal mungkin.
Ada dua istilah atau pengertian dalam perawatan yaitu:

1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk menghindari terjadinya kerusakan dan menjaga
kondisi mesin agar tetap dalam kondisi baik. Perawatan ini dilakukan
secara berekelanjutan, baik dalam mingguan, bulanan ataupun dalam
tahunan. Dengan demikian kerusakan yang akan terjadi dapat
diantisipasi sejak dini.

2. Break Down Maintenance


Break Down Maintenance yaitu perawatan yang dilakukan setelah
terjadi kerusakan pada peralatan atau mesin. Kegiatan ini sebagai
konsekuensi dari kegiatan preventive yang kurang berhasil dan juga
karena faktor umur mesin atau komponen mesin yang bersangkutan.

16
Beberapa hal yang menjadi tujuan dari perawatan antara lain:
1. Mengkondisikan lift dalam keadaan aman dan nyaman.
2. Memperpanjang umur.
3. Memelihara kelanjutan operasi dari tranmisi.
4. Menghemat biaya perbaikan.
5. Mengurangi terjadinya kerusakan.

4.2 Perawatan Transmisi Lift

Salah satu dari kegiatan perawatan transmisi ini adalah dengan


dibuatnya ruang mesin yang baik dan disertai dengan adanya pendingin
ruangan sehingga dapat mengurangi adanya aliran debu pada ruang mesin
dan menciptakan temperatur ruang kerja mesin yang nyaman.
Perawatan selanjutnya pada transmisi lift meliputi :

1. Cleaning
Yaitu membersihkan bagian-bagian luar transmisi, dan mengeluarkan
kotoran-kotoran yang ada. Pekerjaan ini dilaksanakan bersama dengan
oiling.

2. Oiling
Oiling merupakan jenis perawatan yang bersifat pelumasan,
sedangkan bahan pelumasnya dapat berupa gemuk (grease) maupun oli
untuk pelumas bantalan, roda gigi dan tali baja. Bahan pelumas yang
memiliki bentuk setengah padat atau pelumas padat yang terbuat dari oli
pelumas cair yang mempunyai bahan tambah pengental (Thickening
agent) Pelumasan disini dapat berupa penambahan pelumas atau
mengganti sesuai dengan ketentuan pelumasnya. Penggunaan jenis
pelumas harus sesuai dengan jenis pelumas yang telah ditentukan karena
hal ini sangat berpengaruh terhadap umur operasional dari peralatan.

17
3. Scouring
Yaitu cleaning seperti pada point 1, tetapi lebih menyeluruh dan teliti.
Dalam scouring elemen-elemen mesin dapat dibuka dan dikeluarkan
untuk dapat dibersihkan. Penelitian ringan juga dilakukan dalam scouring
ini seperti keadaan poros, bantalan dan komponen-komponen yang lain.
Dalam hal ini jika ada komponen yang rusak dan perlu diganti maka
harus diganti.
4. Overhaul
Merupakan pembongkaran secara menyeluruh dari suatu mesin yang
dikarenakan sudah mencapai batas maksimal operasi.
Dengan perawatan yang dilakukan secara teratur seperti tersebut
diatas maka akan tercapai suatu umur pemakaian sesuai dengan umur
yang telah direncanakan, sehingga secara teknis maupun ekonomis
perawatan yang teratur akan sangat menguntungkan.

4.3 Pelumasan Bantalan

Pelumasan bantalan terutama dimaksudkan untuk mengurangi


gesekan dan keausan antara elemen gelinding dengan sangkar, membawa
keluar panas yang terjadi, mencegah korosi dan menghindari masuknya
debu dengan cara membuat lapisan film diantara kedua permukaan benda
yang bergesekan. Cara pelumasan ada dua macam yaitu pelumasan gemuk
(grease) dan pelumasan minyak (oli).
Pencegahan kebocoran pelumas serta masuknya benda asing
kedalam bantalan dapat dilakukan dengan menggunakan bermacam -
macam alat penyekat. Dalam perencanaan bantalan ini sekat pelumas yang
digunakan adalah jenis seal minyak. Seal minyak merupakan suatu kesatuan
yang terdiri atas karet sintetis dengan bentuk penampang tertentu, cincin
logam dan cincin pegas (Sularso, 2004). Keuntungan penggunaan seal
minyak ini adalah dapat digunakan untuk bantalan dengan kecepatan
keliling tinggi, tekanan dari dalam tinggi serta tahan di lingkungan berdebu.

18
Bentuk dari sekat pelumas jenis seal minyak dapat dilihat dalam gambar
4.1.

Gambar 4.1. Seal /sekat minyak (Sularso 2004)

4.4 Pelumasan Roda Gigi

Sistem pelumasan pada transmisi roda gigi cacing yang digunakan


adalah sistem pelumasan celup yaitu dengan memasukkan 1/2 atau 1/3
bagian dari penampang gigi cacing ke dalam pelumas. Pada saat gigi cacing
berputar minyak tersebut dapat terangkat oleh gigi cacing dan akan
membasahi dan melumasi tiap bagian roda gigi cacing dan elemen
pendukungnya. Panas yang terjadi karena adanya gesekan, lambat laun akan
bepengaruh pada minyak pelumas. Jumlah minyak pelumas yang ada dalam
penampung akan berkurang atau kotor, oleh karena itu pada jangka waktu
tertentu minyak pelumas harus ditambah atau diganti.
Besarnya beban permukaan gigi, permukaan yang kasar dan
kecepatan meluncur menghasilkan gesekan yang besar dan bertambahnya
panas yang ditimbulkan, untuk alasan tersebut maka oli roda gigi harus
memenuhi syarat - syarat berikut ini :

1. Kekentalannya sesuai
Dalam pemilihan oli roda gigi harus diperhatikan tingkat
kekentalannya yaitu dengan melihat kondisi kerja yang dialami

19
roda gigi serta temperaturnya. Jenis minyak pelumas yang
digunakan pada transmisi roda gigi cacing ini menggunakan SAE 90
(Anton L. Wartawan, 1983).

2. Meredam getaran
Saat gigi berhubungan antara satu dengan lainnya, tekanan dan
beban yang terjadi besar sehingga akan menimbulkan getaran.
Untuk itu minyak pelumas roda gigi harus mampu meredam getaran
yang dialami roda gigi tersebut.

3. Tahan terhadap panas


Kemampuan pelumasan dari oli akan menurun akibat panas yang
ditimbulkan dari gesekan antar permukaan roda gigi. Bahkan akibat
panas yang berlebihan dapat menimbulkan zat asam dalam oli yang
dapat meyebabkan karat yang berbahaya terhadap keawetan
komponen. Untuk mengatasi hal itu maka diperlukan oli roda gigi
yang baik, stabil terhadap panas.

4.5 Pelumasan Tali Baja

Minyak pelumas pada tali baja harus dapat melindungi serat - serat
tali baja yang bergesekan antara satu dengan yang lainnya, selain itu juga
melindungi dari terjadinya karat atau korosi. Tali baja pada umumnya
bekerja pada dua kondisi utama yaitu kondisi suhu ekstrim dan kondisi
tekanan ekstrim, sehingga untuk menghadapi kondisi tersebut minyak
pelumas harus benar - benar dipersiapkan. Secara garis besar, fungsi minyak
pelumas pada tali baja antara lain sebagai berikut :
1. Memberikan ketahanan terhadap pengedripan pada kondisi suhu
tinggi.
2. Memberikan ketahanan terhadap terjadinya rengkahan (cracking)
pada kondisi suhu rendah.
3. Mempunyai tingkat kepekatan yang cukup sehingga dapat melekat
dengan baik pada bagian yang dilumasi.

20
4. Anti air dan mempunyai daya tahan terhadap berkumpulnya debu
dan kotoran lainnya.
Terjadinya kerusakan pada tali baja dapat disebabkan oleh beberapa hal :

1. Gesekan
Terjadinya gesekan diantara serat-serat tali baja adalah karena akibat
tugas kerja yang dilakukan oleh tali baja itu sendiri.

2. Korosi
Terjadinya korosi adalah sebagai akibat adanya reaksi kimia yang
terjadi antara bahan - bahan dari tali baja itu dengan bahan dari luar
yang bersifat korosif ataupun dengan bahan dari pelumas itu sendiri
yang sudah menjadi korosif akibat bereaksi dengan bahan-bahan dari
luar. Bahan - bahan yang dipakai sebagai pelumas tali baja
kebanyakan adalah fraksi aspal atau bahan bitumen (Anton L.
Wartawan, 1983). Pada bahan ini perlu ditambahkan zat aditif anti
karat dan penolak air, sehingga minyak pelumas mendapat
kemampuan tambahan di dalam melindungi kabel pengangkat dari
kondisi kerja mekanis maupun kondisi lingkungan yang ekstrim.

21
BAB V
KESIMPULAN

Dari uraian dan hasil perhitungan transmisi roda gigi cacing mesin
elevator tersebut diatas, dimana perencanaan harus memenuhi persyaratan
yang berlaku, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Transmisi yang direncanakan menggunakan roda gigi cacing dengan
sudut tekanan pahat o = 20.
2. Dalam aplikasinya diameter poros tidak dibuat sesuai dengan
diameter hasil perhitungan (diameter minimal) karena di atas poros
akan ditempatkan elemen mesin lain seperti pasak bantalan dan lain-
lain, sehingga diameter poros harus dibuat dengan dimensi yang
bertahap.
3. Pasak yang digunakan adalah pasak benam prismatis karena mampu
meneruskan momen yang besar.

22
DAFTAR PUSTAKA

Neiman, Gustav, Machine Elements Design and Calculation in Mechanical


Engineering, vol. I, New York: Heidelberg.
Erik., Jones, Franklin D., Horton,Holbrook H., Ryffel, Henry H,
Machinerys Handbook, Edisi 26, New York : Industrial Press, 2000
Rudenko, N, Mesin Pemindah Bahan. Edisi 2, Jakarta: Erlangga, 1992.
Shigley, Joseph E., Larry D. Mitchell Perencanaan Teknik Mesin, Edisi 4,
Jakarta: Erlangga.
Stolk, Jac, C.Kros, Elemen mesin Element Kontuksi Bangunan Mesin, edisi
2, Jakarta: Erlangga, 1994.
Sularso, Kyokatsu Suga, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Eleman Mesin,
cetakan 9, Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1997.
Sato, G. Takeshi, Menggambar Mesin Menurut Standar ISO. Cetakan 7,
Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1996.

23