Anda di halaman 1dari 30

TUGAS MAKALAH

Sanitasi Sumber Air

Oleh :
Andris Sawaki
NIM : H1E115901
Muhammad Ichsan Nugroho
NIM : 1610815210015

Pembimbing I Pembimbing II
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Muhammad Firmansyah, S.T., M.T
Amd.hyp. S.T., M.Kes

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
TUGAS MAKALAH
Sanitasi Sumber Air

Oleh :
Kelompok 12

Dosen Pengampu : 1. Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Amd.hyp. S.T., M.Kes


2. Muhammad Firmansyah, S.T., M.T

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
Prof. Dr. H Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc
19660331 199102 1 001
Rektor Universitas Lambung Mangkurat
Dr-Ing. Yulian Firmana Arifin,S.T., M.T
19750719 200003 1 001
Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat
Rony Riduan, S.T., M.T
19761017 199903 1 003
Ketua Program Studi Teknik Lingkungan di Universitas Lambung
Mangkurat
Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,Amd.hyp. S.T., M.Kes
19780420 200501 2 002
Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat
Muhammad Firmansyah,S.T., M.T

19890911 201504 1 002

Dosen Pengajar Kesehatan Lingkungan di Universitas Lambung Mangkurat


Andris Sawaki

H1E115901

Sanggei, 17 Januari 1996

Kabupaten Waropen, Papua

081248634327

Lets do it
Muhammad Ichsan Nugroho

1610815210015

Banjarmasin, 06 September 1998

Jl. Sutoyo S Gg Ramastoyo No.7N , Banjarmasin Tengah, Kalimantan Selatan

inuggg6@gmail.com

Think! Before do Something or Anything


PERNYATAAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa :


1. Karya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan
gelar akademik apapun.
2. Karya tulis ini merupakan gagasan, dan rumusan yang diberi arahan oleh
Dosen Pembimbing.
3. Dalam karya ini secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan
naskah dengan disebutkan nama penulis dan dicantumkan dalam daftar
pustaka.
4. Pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya, dan apabila dikemudian hari
terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka kami
bersedia menerima sangsi sesuai dengan norma yang berlaku di perguruan
tinggi.

Banjarbaru, April 2017


Yang membuat pernyataan, Yang membuat pernyataan,

Andris Sawaki M Ichsan Nugroho


H1E115901 1610815210015
HALAMAN PENGESAHAN
MAKALAH
PENCEMARAN TANAH

Oleh :
Andris Sawaki
NIM : H1E115901
Muhammad Ichsan Nugroho
NIM : 1610815210015

Dosen Pengampu I

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,Amd.hyp. S.T., M.Kes


NIP. 19780420 200501 2 002

Dosen Pengampu II

Muhammad Firmansyah, S.T., M.T


NIP. 19890911 201504 1 002
Banjarbaru, April 2017
Ketua Program Studi Fakultas Teknik Unlam
Teknik Lingkungan Wakil Dekan I

Dr. Rony Riduan, S.T., M.T Chairul Irawan, S.T., M.T.,


Ph.D
NIP. 19761017 199903 1 003 NIP. 19750404 200003 1 002
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. sehingga penulis
dapat menyusun makalah ini yang diberi judul Pencemran Tanah, yang
merupakan salah satu tugas mata kuliah Kesehatan Lingkungan di Universitas
Lambung Mangkurat.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang mendukung
penulisan makalah ini:
1. Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si.,
M.Sc.
2. Dekan Fakutas Teknik Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ing. Yulian
Firmana Arifin, S.T., M.T.
3. Ketua Program Studi Teknik Lingkungan, Dr. Rony Riduan, S.T, M.T.
4. Dosen Mata Kuliah Kesehatan Lingkungan, Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,
Amd, S.T., M. Kes. dan Muhammad Firmansyah, S.T, M.T.
Penulis menyadari, bahwa didalam penulisan makalah ini tidak terlepas
dari adanya kekurangan ataupun kekeliruan yang belum dapat dikatakan
sempurna sebagaimana yang diharapkan, hal ini disebabkan karena keterbatasan
kemampuan yang penulis miliki, namun demikian penulis berusaha semaksimal
mungkin dan berusaha untuk dapat memenuhi sasaran yang diinginkan sesuai
dengan judul diatas.
Akhir kata penulis hanya mampu berharap semoga penulisan makalah ini
bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukannya. Amin.

Banjarbaru, April 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Pernyataan ..........................................................................................................

Halaman Pengesahan ...

Kata Pengantar....

Daftar Isi...

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...........

1.2 Perumusan Masalah .......

1.3 Tujuan ........

II. TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Pengertian Sanitasi............................................................................

2. 2 Persyaratan Air Bersih.......................................................................

2. 3 Sumber-sumber Air...........................................................................

2. 4 Upaya-upaya Sanitasi Air.

III. PEMBAHASAN

IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan ....................................................................................

4.2 Saran .............................................................................................

Latihan Soal .

Daftar Pustaka ...............................................................................................

Riwayat Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Akses terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu fondasi inti
dari masyarakat yang sehat, sejahtera dan damai. Hampir 50 persen rumah
tangga di wilayah perkotaan dan pedesaan di Indonesia kekurangan layanan-
layanan dasar seperti ini. Sistem air bersih dan sanitasi yang baik akan
menghasilkan manfaat ekonomi, melindungi lingkungan hidup, dan vital bagi
kesehatan manusia. Masyarakat tidak selalu menyadari pentingnya
kebersihan. Praktik-praktik kebersihan yang ada sering kali tidak kondusif
bagi kesehatan yang baik dan kakus tidak dipelihara atau digunakan dengan
baik. Tingginya angka kejadian diare, penyakit kulit, penyakit usus dan
penyakit-penyakit lain yang berasal dari air di kalangan masyarakat
berpenghasilan rendah tetap menjadi halangan yang seringkali terjadi dalam
upaya meningkatkan kesehatan anak secara umum. Selain akses yang buruk
terhadap air bersih, kegagalan untuk mendorong perubahan perilaku
khususnya di kalangan keluarga berpenghasilan rendah dan penduduk di
daerah kumuh telah memperburuk situasi air bersih dan sanitasi di Indonesia.
Sanitasi yang buruk juga menjadi penyumbang signifikan dari polusi air yang
menambah biaya air yang aman bagi rumah tangga, dan menurunkan
produksi perikanan di sungai dan danau tahun 2006, Indonesia kehilangan
2,3 persen produk domestik bruto yang disebabkan oleh sanitasi dan
kebersihan yang buruk.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah
1. Apa itu sanitasi dan apa hunbungan sanitasi dengan air?
2. Apa saja persyaratan air bersih?
3. Dari mana sumber-sumber air bersih?
4. Apa upaya - upaya sanitasi air?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan dari makalah ini adalah
untuk mengetahui:
1. Sanitasi dan hubungan sanitasi dengan air
2. Persyaratan air bersih
3. Sumber-sumber air bersih
4. Upayaupaya sanitasi air

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN SANITASI


Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih
dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan
bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia.
1. Definisi sanitasi menurut beberapa ahli, yaitu:
a. Menurut Dr.Azrul Azwar. MPH, sanitasi adalah cara pengawasan
masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap
berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat.
b. Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap faktor-
faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
c. Menurut Ehler dan Steel (1958) sanitasi adalah usaha pencegahan
Penyakit, dengan pemindahan penyakit.
d. Sedangkan batasan WHO, yang dimaksud dengan sanitasi lingkungan
adalah usaha pengawasan terhadap lingkungan fisik manusia yang dapat
atau mungkin dapat memberikan akibat yang merugikan kesehatan
jasmani dan kelangsungan hidupya.
2. Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air,
dimana sanitasi berhubungan langsung dengan:
a. Kesehatan
Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan
dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar.
Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak
efektif.
b. Penggunaan Air
Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan
hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan
jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini
dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa
menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa
mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit
penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa
meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di
daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa
menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.
c. Penggunaan Ulang Air
Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber
penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak.
Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan
peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak dengan
memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang
ini tidak merusak kesehatan masyarakat.
2.2 PERSYARATAN AIR BERSIH
Air selain merupakan kebutuhan pokok bagi manusia, juga dapat
menjadi sarana penyebaran penyakit atau keracunan. Air bersih yang sehat
harus memenuhi persyaratan Peraturan Menteri Kesehatan No. :
416/MENKES/PER/IX/1990. Adapun persyaratan air bersih adalah:
1. Syarat Fisik :
- Jernih
- Tidak berwarna
- Tidak berasa
- Tidak berbau
- Temperatur tidak melebihi suhu udara.
2. Syarat Kimia :
- Tidak mengandung unsur kimia yang bersifat racun.
- Tidak mengandung zat yang menimbulkan gangguan kesehatan.
3. Syarat Bakteriologis :
- Tidak mengandung kuman parasit, kuman patogen, bakteri E. coli.
Ketentuan: Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari 4
bakteri E.Coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat
kesehatan.
4. Syarat Radio aktif
- Tidak mengandung sinar alfa dan sinar gamma.
2.3 SUMBER SUMBER AIR
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Seperti:
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan
ini tidak mengandung kalsium oleh karena itu, agar dapat dijadikan air
minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
2. Air sungai dan Danau (Air Permukaan)
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air
hujan yang mengalir melalui saluransaluran kedalam sungai atau danau
ini. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau
tercemar oleh berbagai macam kotoran, maka bila akan dijadikan air
minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata Air
Air yang keluar dari mata air biasanya keluar dari air tanah yang muncul
secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini, bila belum tercemar
oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita
belum yakin apakah betul belum tercemar, maka alangkah baiknya air
tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air sumur dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah, maka juga disebut air tanah. Air berasal
dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari
permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbedabeda.
Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan
tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena
kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu,
perlu direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah. Dalamnya dari
permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu, sebagian
besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum
yang langsung (tanpa melalui pengolahan).
2.4 PURIFIKASI AIR
Purifikasi air adalah salah satu cara penjernihan atau purifikasi sumber air
baku untuk mendapat air bersih dan dapat dilakukan dalam skala besar maupun
skala kecil dengan kebutuhan (Arifiani, 2009).
a. PURIFIKASI AIR DALAM SKALA BESAR
Purifikasi air dalam skala besar dilakukan didaerah perkotaan
seperti instalasi penjernihan air bersih (PAM), melalui tahap Penyimpanan
dan Penyaringan (Arifiani, 2009).
1. PENYIMPANAN
Air baku dialirkan dari sumber seperti sungai, kali dan lainnya ke dalam
bak penampung alamiah atau buatan yang terlindung dari
pencemaran. Proses purifikasi secara alamiah :
a. Fisik, kualitas air sudah dapat diperbaiki sekitar 90% dari benda
yang terlarut dalam air dan akan mengendap dalam waktu 24 jam,
air akan bertambah jernih dan proses filtrasi selanjutnya makin
mudah dilakukan.
b. Kimiawi, pada saat penampungan, terjadi proses kimiawi, yaitu
bakteri-bakteri aerobic akan mengoksidasi bahan-bahan organik
yang terdapat didalam air dengan bantuan oksigen bebas yang
menyebabkan berkurangnya amoniak bebas dan bertambahnya
nitrat.
c. Biologis, organisme pathogen berangsur-angsur akan mati.
Keadaan ini dapat dilihat bila air disimpan 5-7 hari, maka jumlah
bakterinya akan berkurang sampai 90% (Arifiani, 2009).
2. PENYARINGAN
Merupakan tahap kedua proses purifikasi air dan merupakan
proses yang sangat penting. Dalam proses filtrasi ini sekitar 98-99%
bakteri didalam air akan berkurang atau disaring (Arifiani, 2009).
b. PURIFIKASI AIR SKALA KECIL
Purifikasi air dalam skala besar dilakukan didaerah perkotaan seperti
instalasi penjernihan air bersih (PAM), melalui tahap Penyimpanan dan
Penyaringan (Arifiani, 2009).
a. Upaya-Upaya Sanitasi Air
1. Sadar akan kelangsungan ketersediaan air dengan tidak merusak
atau mengeksploitasi sumber mata air agar tidak tercemar.
2. Tidak membuang sampah ke sungai.
3. Mengurangi intensitas limbah rumah tangga.
4. Melakukan penyaringan limbah pabrik sehingga limbah yang
nantinya bersatu dengan air sungai bukanlah limbah jahat
perusak ekosistem.
5. Melakukan penanaman pohon.
6. Tidak melakukan kegiatan rumah tangga seperti MCK di sungai
atau di dekat sumber air lainnya.
7. Membuat sumur resapan, Sumur resapan adalah sarana untuk
penampungan air hujan dan meresap ke dalam tanah. Sumur
serapan berfungsi untuk membantu penyerapan air hujan ke
dalam tanah dan kembali ke siklus air yang semestinya sehingga
tidak menggenang di permukaan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PENYEDIAAN AIR BERSIH


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1405/menkes/sk/xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Perkantoran dan industri terdapat pengertian mengenai Air Bersih yaitu air yang
dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi
persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak. Berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, didapat beberapa pengertian
mengenai :
1. Air baku merupakan air yang dapat berasal dari beberapa sumber air
seperti air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan yang
memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum yang
dapat digunakan untuk air minum dan aktivitas kebutuhan rumah tangga
lainnya.
2. Air minum yaitu air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung
diminum.
3. Air limbah merupakan air buangan yang biasanya berasal dari rumah
tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman.
4. Penyediaan air minum merupakan suatu kegiatan menyediakan air
minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan
kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.
5. SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) adalah satu kesatuan sistem fisik
(teknik) dan non fisik dari prasarana dan sarana air minum.
6. Tujuan dari pengembangan SPAM ialah untuk membangun, memperluas
dan/atau meningkatkan sistemfisik (teknik) dan non fisik (kelembagaan,
manajemen, keuangan, peran masyarakat, dan hukum) dalam kesatuan
yang utuh untuk melaksanakan penyediaan air minum kepada
masyaraskat menuju keadaan yang lebih baik.
7. Penyelenggaraan pengembangan SPAM adalah kegiatan merencanakan,
melaksanakan konstruksi, mengelola, memelihara, merehabilitasi,
memantau, dan/atau mengevaluasi sistem fisik (teknik) dan non fisik
penyediaan air minum.
8. Penyelenggara pengembangan SPAM yang selanjutnya disebut
Penyelenggara adalah badan usaha milik negara/badan usaha milik
daerah, koperasi, badan usaha swasta, dan kelompok masyarakat yang
melakukan penyelenggaraan pengembangan sistem penyediaan air
minum.

3.2 SUMBER AIR BERSIH


Menurut petunjuk dari Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu
perihal Pedoman Perencanaan dan Desain Teknis Sektor Air Bersih, menyebutkan
bahwa sumber air baku yang perlu diolah terlebih dahulu ialah :
1. Mata air merupakan sumber air yang berada di atas permukaan tanah.
Debitnya sulit untuk diduga, kecuali jika dilakukan penelitian dalam
jangka beberapa lama.
2. Sumur dangkal (shallow wells) ialah sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya kurang dari 40 meter.
3. Sumur dalam (deep wells) ialah sumber air hasil penggalian ataupun
pengeboran yang kedalamannya lebih dari 40 meter.
4. Saluran pengaliran air yang terbentuk mulai dari hulu di daerah
pegunungan/tinggi sampai bermuara di laut/danau disebut dengan
sungai. Secara umum air baku yang ada terdapat dari sungai harus diolah
terlebih dahulu, karena kemungkinan untuk tercemar polutan sangat
besar.
5. Danau dan Penampung air (lake and reservoir), merupakan suatu unit
penampung air dalam jumlah tertentu yang airnya berasal dari aliran
sungai maupun tampungan dari air hujan.
Sumber-sumber air yang ada dapat dimanfaatkan untuk keperluan air
minum adalah (Budi D. Sinulingga, Pembangunan Kota Tinjauan Regional dan
Lokal, 1999):
1. Biasanya sebelum jatuh ke permukaan bumi air hujan akan mengalami
pencemaran sehingga tidak memenuhi syarat apabila langsung diminum.
2. Air permukaan tanah (surface water) ialah rawa, sungai, danau yang tidak
dapat diminum sebelum melalui pengolahan karena mudah tercemar.
3. Air dalam tanah (ground water) merupakan air dari sumur dangkal dan air
sumur dalam. Air sumur dangkal dianggap belum memenuhi syarat untuk
diminum karena mudah tercemar. Sumber air tanah ini biasa dapat
dengan mudah ditemui seperti yang terdapat pada sumur gali penduduk,
sebagai hasil budidaya manusia.
4. Mata air (spring water). Sumber air untuk penyediaan air minum
berdasarkan kualitasnya dapat dibedakan atas:
a. Sumber yang bebas dari pengotoran (pollution).
b. Sumber yang mengalami pemurniaan alamiah (natural
purification).
c. Sumber yang mendapatkan proteksi dengan pengolahan buatan
(artificial treatment).
3.3 STANDAR KUALITAS AIR BAKU
Air mampu melarutkan zat-zat yang alamiah dan buatan manusia dan
umumnya air bersifat universal. Untuk menggarap air alam, meningkatkan
mutunya sesuai tujuan, pertama kali harus diketahui dahulu kotoran dan
kontaminan yang terlarut di dalamnya.
Dengan berlakunya baku mutu air untuk badan air, air limbah dan air
bersih, maka dapat dilakukan penilaian kualitas air untuk berbagai kebutuhan. Di
Indonesia ketentuan mengenai standar kualitas air bersih mengacu pada
Peraturan Menteri Kesehatan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 416 tahun
1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Bersih. Berdasarkan SK
Menteri Kesehatan 1990 Kriteria penentuan standar baku mutu air dibagi dalam
tiga bagian yaitu:
1. Persyaratan kualitas air untuk air minum.
2. Persyaratan kualitas air untuk air bersih.
3. Persyaratan kualitas air untuk limbah cair bagi kegiatan yang telah
beroperasi.
Mengingat betapa pentingnya air bersih untuk kebutuhan manusia, maka
kualitas air tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu:
1. Syarat Fisik, antara lain:
- Air harus bersih dan tidak keruh.
- Tidak berwarna
- Tidak berasa
- Tidak berbau
- Suhu antara 10o-25o C (sejuk)
2. Syarat kimiawi, antara lain:
- Tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun.
- Tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan.
- Cukup yodium.
- pH air antara 6,5 9,2.
- Syarat bakteriologi, antara lain.
Selain itu syarat kualitas air adalah tidak mengandung kuman-kuman
penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit.
Pada umumnya kualitas air baku akan menentukan besar kecilnya investasi
instalasi penjernihan air dan biaya operasi serta pemeliharaannya. Sehingga
semakin jelek kualitas air semakin berat beban masyarakat untuk membayar
harga jual air bersih.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
173/Men.Kes/Per/VII/1977, penyediaan air harus memenuhi kuantitas dan
kualitas, yaitu:
1. Aman dan higienis.
2. Baik dan layak minum.
3. Tersedia dalam jumlah yang cukup.
4. Harganya relatif murah atau terjangkau oleh sebagian besar masyarakat.
Mengenai parameter kualitas air baku, Depkes RI telah menerbitkan standar
kualitas air bersih tahun 1977 (Ryadi Slamet, 1984:122). Dalam peraturan
tersebut standar air bersih dapat dibedakan menjadi tiga kategori (Menkes No.
173/per/VII tanggal 3 Agustus 1977):
1. Kelas A. Air yang dipergunakan sebagai air baku untuk keperluan air minum.
2. Kelas B. Air yang dipergunakan untuk mandi umum, pertanian dan air yang
terlebih dahulu dimasak.
3. Kelas C. Air yang dipergunakan untuk perikanan darat.

3.4 SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH


Sistem penyediaan air bersih meliputi besarnya komponen pokok antara lain:
unit sumber air baku, unit pengolahan, unit produksi, unit transmisi, unit
distribusi dan unit konsumsi.
1. Unit sumber air baku merupakan awal dari sistem penyediaan air bersih yang
mana pada unit ini sebagai penyediaan air baku yang bisa diambil dari air
tanah, air permukaan, air hujan yang jumlahnya sesuai dengan yang
diperlukan.
2. Unit pengolahan air memegang peranan penting dalam upaya memenuhi
kualitas air bersih atau minum, dengan pengolahan fisika, kimia, dan
bakteriologi, kualitas air baku yang semula belum memenuhi syarat kesehatan
akan berubah menjadi air bersih atau minum yang aman bagi manusia.
3. Salah satu dari sistem penyediaan air bersih yang menentukan jumlah
produksi air bersih atau minum yang layak didistribusikan ke beberapa tandon
atau reservoir dengan sistem pengaliran gravitasi atau pompanisasi ialah unit
produksi. Unit transmisi berfungsi sebagai pengantar air yang diproduksi
menuju ke beberapa tandon atau reservoir melalui jaringan pipa.
4. Unit distribusi merupakan jaringan pipa yang mengantarkan air bersih atau
minum dari tandon atau reservoir menuju ke rumah-rumah konsumen dengan
tekanan air yang cukup sesuai dengan yang diperlukan konsumen.
5. Unit konsumsi ialah instalasi pipa konsumen yang telah disediakan alat
pengukur jumlah air yang dikonsumsi pada setiap bulannya.
3.5 TAHAPAN PERENCANAAN AIR BERSIH
Dalam pemenuhan kebutuhan prasarana air bersih, maka dilakukan tahapan-
tahapan perencanaan berdasarkan 5 (lima) komponen utama yang terdiri dari :
1. Perhitungan Kebutuhan Air
Kebutuhan air dihitung berdasarkan kebutuhan untuk rumah tangga
(domestik), non domestik dan juga termasuk perhitungan atas kebocoran air.
Analisis kebutuhan air ini disesuaikan dengan hasil perhitungan proyeksi
penduduk, prosentase penduduk yang dilayani dan besarnya pemakaian air.
2. Identifikasi Sumber Air Baku
Identifikasi air baku terutama dimaksudkan untuk mendapatkan informasi
mengenai:
a. Jarak dan beda tinggi sumber air terhadap daerah pelayanan
b. Debit andalan sumber air
c. Kualitas air baku dan jenis alokasi sumber air baku pada saat ini
3. Pemeriksaan dan Penilaian Kualitas Air
Sistem pengolahan air yang dibangun harus dapat memproduksi air yang
memenuhi standar kualitas air bersih yang ditetapkan oleh Departemen
Kesehatan RI.
4. Pemilihan Alternatif Sistem
Sistem penyediaan air bersih yang dirancang merupakan sistem terpilih
yang diperoleh berdasarkan hasil pemilihan terhadap beberapa alternatif
pilihan sistem. Penentuan pilihan didasarkan pada penilaian berdasarkan
aspek:
a. Teknis
b. Ekonomis
c. Lingkungan
5. Perhitungan Kebocoran/Kehilangan Air
Kehilangan air yang disebabkan kebocoran teknis dan non teknis
diperkirakan sebesar 20% dari kebutuhan total.
6. Perencanaan Sistem Penyediaan Air Bersih
Sistem Penyediaan Air Bersih terdiri dari:
a. Sistem Produksi meliputi Intake dan Instalasi Pengolahan Air
b. Sistem Distribusi meliputi Reservoir dan Pipa Induk
c. Sistem Pemanfaatan melalui Sambungan Rumah dan Hydrant Umum
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi sistem distribusi adalah:
a. Pola tata guna lahan
b. Kepadatan penduduk
c. Kondisi topografi kota
d. Rancangan induk kota.
BAB IV
PENUTUP

4.2 KESIMPULAN
Air memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, hewan,
tumbuhan dan jasad- jasad lain. Khususnya manusia, manusia akan lebih cepat
meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Air yang kita
perlukan adalah air yang memenuhi persyaratan kesehatan baik persyaratan
fisik, kimia, bakteriologis dan radioaktif. Untuk mendapatkan air yang memenuhi
persyaratan tersebut diperlukan adanya sanitasi.
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih
dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan
bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan
meningkatkan kesehatan manusia. Namun pada kenyataannya masih banyak
penduduk Indonesia yang belum sepenuhnya melakukan upaya sanitasi ini.
4.2 SARAN
1. Agar air bersih dapat diperoleh secara merata oleh seluruh masyarakat,
maka pengadaan sarana sanitasi sangat di perlukan, seperti pengadaan WC
umum, pembiasaan hidup bersih (cuci tangan sebelum makan, dan mandi setiap
2x sehari).
2. Agar pencemaran air tidak terjadi lagi, masyarakat harus mampu
mengolah limbah dengan baik dan membuang sampah pada tempatnya karena
salah satu bentuk pencemaran air adalah membuang sampah di sungai.
3. Pemerintah dalam hal ini harus lebih intensif dalam memberikan
penyuluhan mengenai air bersih serta sanitasinya.
SOAL LATIHAN
1. Apa yang dimaksud dengan sanitasi ?
2. Air apa saja yang bisa dibuat menjadi air minum ?
JAWABAN
1. Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih
dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan
kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini
akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
2. Air Hujan, Air sungai dan danau, Air sumur dangkal, dan Air sumur dalam
DAFTAR PUSTAKA
Arifiani, NF. 2009 Evaluasi Desain Instalasi Pengolahan Air PDAM Ibu Kota
Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten, Jurnal Presipitasi, Vol 3, No.2,
Tahun 2009, 1907-187X
Budiman,C. 2007.Pengantar Teknik Lingkungan. EGC:Jakarta ISBN:979-448-796-1
Budiman,C. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan & Komunitas. EGC: Jakarta
Notoatmodjo, S,. 2003. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Nugraheni, D. 2012. Hubungan Kondisi Fasilitas Sanitasi Dasar dan Personal
Hygiene dengan Kejadian Diare di Kecamatan Semarang Utara Kota
Semarang, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 1, No. 2, Tahun 2012, 922-
923
Riyadi, A. 2012. Pengelolaan Sumber Daya Air Yang Terpadu Dan Berkelanjutan,
Jurnal Lingkungan Hidup
Tjokrokusumo, KRT. 1995. Pengantar Teknologi Bersih, Khusus Pengelolaan dan
Pengolahan Air. Yogyakarta: STTL-YLH
RIWAYAT PENULIS

Andris Sawaki dilahirkan di Sanggei, 17 Januari 1996,


Kabupaten Waropen, Papua merupakan seorang perantau
dari Papua ke Kalimantan Selatan. Penulis setelah lulus dari
SMA di Papua tahun 2015 penulis mengikuti tes perguruan
tinggi nasional dan diterima di Program Studi Teknik
Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Lambung
Mangkurat pada tahun 2015 dan terdaftar dengan NIM. H1E115901

M Ichsan Nugroho dilahirkan di Banjarmasin, 06


September 1998, merupakan anak kedua dari dua
bersaudara. Penulis telah menempuh pendidikan
formal yaitu di TK Pembina Banjarmasin, SDN Teluk
Dalam 3 Banjarmasin, SMPN 1 Banjarmasin, dan SMAN
1 Banjarmasin. Setelah lulus dari SMAN 1 Banjarmasin
tahun 2016 penulis mengikuti jalur SBMPTN dan
diterima di Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas
Lambung Mangkurat pada tahun 2016 dan terdaftar dengan NIM.
1610815210015