Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS BIAYA VOLUME LABA

MAKALAH
Akuntansi Manajemen

Dosen Pengampu:
Lilik A, M.Si.

Disusun oleh:

Kelompok 8
Muhamad Sariful Anam 15.0102.0188
Ferdan Rizki Dwi Jatmiko 15.0102.0189
Fauzan Rukmana 15.0102.0210

FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2017
PENDAHULUAN

Analisis biaya volume laba (cost volume profit analisis CVP analysis) adalah suatu
alat yang sangat berguna untuk perencanaan dan dalam pengambilan keputusan, karena
analisis ini menekankan pada keterkaitan antara biaya, kuantitas yang terjual, dan harga,
maka semua informasi keuangan terkandung di dalamnya (Hansen dan Mowen, 2009:4).
Analisis CVP ini dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat untuk mengindentifikasi
cakupan dan besaranya kesulitan ekonomi yang dialami atau dihadapi suatu perusahaan dan
membantu mencari pemecahannya.

Dalam perusahaan banyak isu-isu yang terjadi, seperti dampak pengurangan biaya
tetap terhadap titik impas, dampak kenaikan harga terhadap laba, serta jumlah unit yang harus
dijual untuk mencapai titik impas dan lain-lain, oleh karena itu analisis CVP digunakan untuk
mengatasi isu-isu ini. Selain itu, analisis CVP memungkinkan para manajer untuk melakukan
analisis sensitivitas dengan menguji dampak dari berbagai tingkat harga atau biaya terhadap
laba. Sehingga analisis CVP merupakan bagian integral dari perencanaan keungan dan
pengambilan keputusan. Untuk itulah di dalam makalah ini akan dibahas mengenai analisis
CVP.
PEMBAHASAN

Analisis biaya volume laba merupuakan sebuah analisis yang digunakan manajer di
perusahaan-perusahaan tujuannya untuk mengetahui kaitan-kaitan antara pendapatan yang
berasal dari penjualan (sales), pengeluaran (Cost), dan keuntungan bersih (laba netto). Unsur-
unsur tersebut berkaitan dan saling mempengaruhi sehingga dapat digambarkan pengaruh
yang terjadi antar ketiganya.

Profit

Cost Volume

1. Pengaruh cost terhadap volume (produksi), jika cost dihemat maka akan
dihasilkan volume yang besar, artinya semkain efisien biaya maka volume yang
diproduksi semakin besar.
2. Pengaruh cost terhadap profit, jika semakin kecil biaya maka profit akan semakin
tinggi dan sebaliknya.
3. Pengaruh volume terhadap profit, jika semakin banyak volume yang terjual maka
mendapatkan profit yang tinggi dan sebaliknya.

Dari gambar diatas, maka dikembangkanlah beberapa alat analisis sebagai berikut ini:

A. Analisis Titik Impas dalam unit.


Tujuannya menentukan jumlah unit yang harus dijual untuk mencapai impas
atau menghasilkan target. Titik impas (break even point) titik diamana total
pendapatan sama dengan total biaya, titik dimana laba sama dengan nol. Untuk
menetukan titik impas dalam unit berfokus pada laba operasi. Dapat dilakukan dengan
cara menentukan titik impas terlebih dahulu kemudian melakukan pendekatan-
pendekatan yang dapat dikembangkan untuk menetukan jumlah unit yang harus dijual
guna menghasilkan laba yang ditargetkan.
Dalam menetukan laba ada beberapa factor yang mempengaruhi yaitu biaya
tetap, biaya variable dan serta pendpatan yeng berkaitan dengan unit-unit. Biaya-
biaya yang mempengaruhi laba dan unit yang dijual merupakan biaya secara
keseluruahan. Biaya variable yang merupakan biaya yang meningkat akibat unit yang
terjual lebih banyak, termasuk bahan baku langsung, tenaga kerja langsung, overhead
variable, biaya penjualan dan administrasi variable. Biaya tetap juga mencakup
overhead tetap, beban penjualan, dan administrative tetap.
Metode yang digunakan untuk menghitung titik impas (Break even Point):
1. Penggunaan Laba Operasi dalam Analisis CVP
Laba operasi hanya mencakup pendapatan dan beban dan opersional
normal perusahaan. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Laba operasi
Contoh:= (harga x jumlah unit terjual) (Biaya Variabel (VC) per unit x
jumlah unit rumus
Untuk menerapkan terjual)perhitungan
total biayadiatas,
tetap berikut
(FC) disajikan laporan
Laba /Rugi Whittier Company yang memproduksi mesin pemotong rumput :
Penjualan (1.000 unit @$400) $ 400.000
Dikurangi : Beban Variabel 325.000
Margin kontribusi $ 75.000
Diurangi : Beban tetap 45.000
Laba Operasi $ 30.000
Dari lapoaran Laba/Rugi diatas, diketahui harga per unit mesin
pemotong rumput Whittier Company adalah $400 dan biaya variabel (VC) per
unit adalah $325 ($325.000/1000 unit). Biaya tetap adalah $45.000. Jadi
persamaan laba operasi pada titik impas adalah :
0 = ($400 x unit) ($325 x unit) $45.000
0 = ($75 x unit) $45.000
$75 x unit = $45.000
Unit = 600
Dengan perhitungan diatas, maka Perusahaan Whittier Company harus
menjual 600 unit mesin pemotong untuk menutupi semu beban tetap dan
variabel. Hal ini bisa dibuktikan dengan memformulasikan kembali laporan
Laba/Rugi berdasarkan 600 unit sepatu yang terjual.
Penjualan (600 unit @ $400) $ 240.000
Dikurangi : Beban Varibel 195.000
Margin kontribusi $ 45.000
Dikurangi : Beban Tetap 45.000
Laba operasi $ 0
Maka penjualan 600 unit, menghasilkan laba nol. Artinya pada waktu
perusahaan memproduksi 600 unit, maka dapat dikatakan perusahaan Whittier
Company tidak mendapat keuntungunan ataupun kerugian.
2. Jalan Pintas untuk menghitung Unit Impas
Margin Kontribusi (pendapatan marjinal), merupakan kelebihan harga
penjualan terhadap beban variabel dari unit yang bersangkutan (Horngren
1996:37) atau pendapatan penjualan dikurangi total beban variabel.
CM ( unit )=unit priceUnit VC
CM ( unit )
Jika menggunakan presentase CM ( )= x 100
Unit price
Harga untuk 1 unit mesin pemotong rumput milik Perusahaan Whittier
Company = $400Variabel Cost (VC) untuk 1 unit mesin pemotong rumput =
$325

CM ( unit )=$ 400$ 325=$ 75

$ 75
CM ( )= x 100=18,75
$ 400

Pada saat berada di titik impas, margin kontribusi sama dengan beban
tetap. Jika margin kontribusi per unit diganti untuk harga dikurangi beban
variabel per unit pada persamaan laba operasi dan memperoleh jumlah unit,
maka akan didapat persamaan dasar impas berikut :
FC
Jumlah unit impas=
CM (unit)

Untuk menerapkannya, maka dilakukan dengan perhitungan sebagai berikut :

$ 45.000 $ 45.000
Jumla h unit impas= = =600 unit
( $ 400 $ 325 ) $ 75
3. Penjualan dalam Unit yang Diperlukan untuk Mencapai Target Laba
Analisis CVP ini menyediakan suatu cara menentukan jumlah unit
yang harus dijual untuk menghasilkan target laba tertentu
a. Target Laba dalam Jumlah Dolar
Perusahaan Whittier Company ingin memperoleh laba operasi sebesar
$60.000. Maka digunakan laporan Laba/Rugi untuk mencari hasilnya.
$60.000 =($400 x unit) - ($325 x unit) - $45.000
$105.000 =($75 x unit)
Unit =1.400
Untuk itu perusahaan Whittier Company harus menjual 1.400 unit mesin
pemotong rumput untuk menghasilkan laba operasi sebesar $60.000.
Laporan Laba/Rugi menunjukkan Laba $60.000 dengan target penjualan
1400 unit.
Penjualan (1.400 unit @ $400) $ 560.000
Dikurangi : Beban Varibel 455.000
Margin kontribusi $ 105.000
Dikurangi : Beban Tetap 45.000
Laba operasi $ 60.000
Dari perhitungan diatas, maka perusahaan Whittier Company harus
menjual 1.400 unit mesin pemotong rumput atau 800 unit lebih banyak
dari volume impas 600 unit untuk menghasilkan laba sebesar $60.000.
Margin kontribusi per mesin adalah $75, perkalian antara $75 dengan 800
unit mesin diatas impas juga menghasilkan laba sebesar $60.000.
b. Target laba dalam Presentase dari Pendapatan Penjualan.
Perusahaan Whittier Company ingin mengetahui jumlah mesin pemotong
rumput yang harus dijual untuk menghasilkan laba yang sama dengan 15%
dri pendapatan penjualan. Sehingga dapat dihitung sebagai berikut:
0,15 ($400) Unit = ($400xUnit)-($325xunit)-$45.000
$60 x Unit = ($400xUnit)-($325xUnit)-$45.000
$60 x Unit = ($75xUnit)-$45.000
$15xUnit = $45.000
Unit = 3.000
Bukti bahwa perusahaan memperoleh laba 15% adalah Total pendapatan
$1,2 juta ($400x3000). Volume impas adalah 600 unit, jika 3.000 unit
mesin terjual maka ada 2.400 (3.000-600) mesin titik impas yang telah
terjual jadi laba sebelum pajak adalah $180.000 ($75x2400), yaitu 15%
dari penjuualan ($180.000/$1.200.000)
c. Target Laba setelah Pajak
Saat menghitung titik impas, pajak penghasilan tidak berperan, karena
pajak yang dibayarkan atas laba nol adalah nol, oleh karena itu perlu
petimbangan. Laba bersih adalah laba operasi setelah pajak penghasilan
dan angka target laba dinyatakan dalam kerangka sebelum pajak. Dengan
demikian, harus ditambahkan kembali pajak penghasilan untuk
memperoleh laba operasi ketika target laba dinyatakan sebagai laba bersih.
Laba bersih = Laba operasi Pajak penghasilan
= Laba operasi (Tarif pajak x Laba operasi)
= Laba operasi (1 Tarif pajak)
Misalnya, perusahaan Whittier Company ingin memperoleh laba bersih
sebesar $48.750 dan tarif pajaknya dalah 35%. Untuk mengkonversi target
laba setelah pajak menjadi target laba sebelum pajak, maka langkah-
langkahnya sebagai berikut :
$48.750 = Laba operasi (0.35 x laba operasi)
$48.750 = 0.65 (laba operasi)
$75.000 = laba operasi
Jadi, jika tarif pajak adalah 35%, maka perusahaan Whittier Company
harus menghasilkan $75.000 sebelum pajak penghasilan untuk
memperoleh $48.750. Dengan pengkonversian ini, dapat dihitung jumlah
unit yang harus dijual :
Unit = ($45.000 + $75.000) / $75
Unit = $120.000 / $75
Unit = 1600
Untuk membuktikan hal tersebut, maka disusun laporan laba rugi
berdasarkan penjualan sebanyak 1.600 unit sepatu :
Penjualan (1.600 unit @ $400) $ 640.000
Dikurangi : Beban Varibel 520.000
Margin kontribusi $ 120.000
Dikurangi : Beban Tetap 45.000
Laba operasi $ 60.000
Dikurangi : Pajak Penghasilan (35%) 26.250
Laba bersih $ 48.750
B. Titik Impas dalam Dolar Penjualan.
Pada beberapa kasus yang menggunakan analisis CVP, manajer mungkin lebih
suka menggunakan pendapatan penjualan sebagai ukuran aktivitas penjualan daripada
unit yang terjual. Suatu ukuran unit yang terjual dapat dikonversikan menjadi suatu
ukuran pendapatan penjualan hanya dengan mengalikan harga jual per unit dengan
unit yang terjual. Sebagai contoh, titik impas Whittier Company dihitung pada 600
mesin pemotong rumput. Karena harga jual per unit mesin pemotong rumput adalah
$400, maka volume impas dalam pendapatan penjualan adalah $240.000 ($400 x
600).
Untuk menghitung titik impas dalam dolar penjualan, biaya variabel
didefenisikan sebagi suatu persentase dari penjualan bukan sebagai sebuah jumlah per
unit yang terjual. Dapat diilustrasikan mengenai pembagian pendapatan penjualan
menjadi biaya variabel dan margin kontribusi sebagai berikut:
Harga adalah $10 dan biaya variabel adalah $6. Tentu saja, sisanya adalah margin
kontribusi sebesar $4 ($10 - $6). Jika yang dijual adalah 10 unit, maka total biaya
variabel adalah $60 ($6 x 10 unit). Atau, karena setiap unit yang dijual menghasilkan
pendapatan sebesar $10 dan membutuhkan biaya variabel $6, maka kita dapat
mengatakan bahwa 60 persen dari setiap dolar pendapatan yang dihasilkan
diakibatkan oleh biaya variabel ($6/$10). Jadi, dengan memfokuskan pada pendapatan
penjualan, kita dapat memperkirakan total biaya variabel sebesar $60 untuk
pendapatan $100 (0,60 x $100).
Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini
merupakan bagian dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup
biaya variable. Rasio biaya variable dapat dihitung dengan menggunakan data total
maupun data per unit. Tentu saja, persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah
biaya variable tertutupi merupakan rasio margin kontribusi. Rasio margin kontribusi
(contribution margin ratio) adalah bagian dari setiap dolar penjualan yang tersedia
untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
Berikut ini merupakan laporan Laba Rugi dari Whittier Dalam Dolar dan
Persentase Penjualan:
Dolar Persentase Penjualan
Penjualan $400.000 100,00%
Dikurangi: Biaya Variabel 325.000 81,25%
Margin Kontribusi 75.000 18,75%
Dikurangi: Biaya tetap 45.000
Laba Operasi 30.000
Rasio Biaya Variabel adalah 81,25% ($325.000/$400.000). Rasio margin
kontribusi adalah 18,75% ($75.000/$400.000 atau berasal dari 100%-81,25%). Biaya
tetap adalah $45.000. Berdasar informasi tersebut, berapakah pendapatan penjualan
yang harus dihasilkan Whittier ntuk mencapai titik impas?
Laba Operasi = Penjualan Biaya Variabel Biaya Tetap
0 = (Penjualan (Rasio Biaya Variabel x Penjualan)) Biaya tetap
0 = Penjualan (1 Rasio Biaya Variabel) Biaya Tetap
0 = Penjualan (1 0,8125) 45.000
(0,1875)Penjualan = 45.000
Penjualan = $240.000
Jadi Whittier harus menghasilan penjualan sejumlah 240.000 untuk mencapai
impas. Dengan pendekatan rumus unit impas yang dikembangkan, dapat diperoleh
nilai penjualan impas dengan rumus:
Unit Impas = Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit)
Jika sisi kiri dan sisi kanan kita kalikan dengan harga, maka sisi kiri Unit
Impas x Harga adalah merupakan pendapatan penjualan pada saat impas
Unit Impas x Harga = Harga x (Biaya tetap/(Harga-Biaya Variabel per Unit))
Penjualan Impas = Biaya Tetap x (Harga/ Harga-Biaya Variabel per Unit))
Penjualan Impas = Biaya tetap x (Harga/Margin Kontribusi)
Penjualan Impas = Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi
Dalam Kasus Whittier, besarnya penjualan yang harus dihasilkan pada titik
impas dapat dihitung sebagai berikut:
Penjualan Impas = Biaya Tetap/Rasio Margin Kontribusi
Penjualan Impas = $45.000/0,1875
Penjualan Impas = $240.000
1. Target Laba dan Pendapatan Penjualan
Pertimbangkan pertanyaan berikut: Berapakah pendapatan penjualan yang
harus dihasilkan Whittier untuk memperoleh laba sebelum pajak sebesar $60.000?
(pertanyaan ini mirip dengan yang ditanyakan sebelumnya dalam hal unit, tetapi
pertanyaannya sekarang adalah langsung dalam hal pendapatan penjualan). Untuk
menjawab pertanyaan tersebut, tambahkanlah target laba operasi sebesar $60.000
kepada biaya tetap $45.000 dan membagi dengan rasio margin kontribusi:
Penjualan = $45.000 + $60.000)/0,1875
= $105.000/0,1875
= $560.000
Whittier harus menghasilkan pendapatan $560.000 untuk mencapai target laba
sebesar $60.000. Karena impas adalah $240.000 diatas impas harus dihasilkan.
Perhatikan bahwa perkalian antara rasio margin kontribusi dengan pendapatan di
atas impas menghasilkan laba sebesar $60.000 (0,1875 x $320.000). Diatas impas,
rasio margin kontribusi merupakan rasio laba; karena itu, rasio tersebut
menggambarkan bagian dari setiap dolar penjualan yang dapat diperuntukkan bagi
laba. Dalam contoh ini, setiap dolar penjualan yang diterima di atas impas akan
meningkatkan laba sebesar $0,1875.
Secara umum dengan asumsi biaya tetap tidak berubah, rasio margin
kontribusi dapat digunakan untuk mengetahui dampak terhadap laba atas
perubahan pendapatan penjualan. Untuk memperoleh total perubahan dalam laba
yang diakibatkan oleh perubahan pendapatan, kalikan rasio margin kontribusi
dengan perubahan dalam penjualan. Sebagai contoh, jika pendapatan penjualan
adalah $540.000, bukan $560.000, bagaimana pengaruhnya terhadap laba yang
diharapkan? Penurunan pendapatan penjualan sebesar $20.000 akan
mengakibatkan penurunan laba sebesar $3750 (0,1875 x $20.000).
2. Membandingkan Kedua Pendekatan
Untuk pengaturan produk tunggal, pengubahan titik impas dalam unit menjadi
impas dalam pendapatan penjualan hanya merupakan masalah pengalian harga
jual per unit dengan unit yang terjual. Namun ada dua alasan yang membuat
manajemen menggunakan kedua rumus tersebut, yaitu:
a. Rumus pendapatan penjualan memungkinkan kita untuk mencari
pendapatan secara angsung jika hal tersebut dikehendaki
b. Pendekatan pendapatan penjualan jauh lebih mudah untuk digunakan
dalam pengaturan multiproduk yang memiliki harga yang bervariasi.
C. Analisis Multiproduk
Analisis biaya volume laba cukup mudah diterapkan dalam pengaturan produk
tunggal. Namun, kebanyakan perusahaan memproduksi dan menjual sejumlah produk
atau jasa. Meskipun kompleksitas konseptual dari analisis CVP lebih tinggi dalam
situasi multiproduk, pengoperasiannya tidak berbeda jauh.
Beban tetap langsung (direct fixed expenses) adalah biaya tetap yang dapat
ditelusuri ke setiap produk dan akan hilang jika produk tersebut tidak ada.
Beban tetap umum adalah biaya tetap yang tidak dapat ditelusuri ke produk
dan akan tetap muncul meskipun salah satu produk ditelusuri.
Contoh Whittier Company telah memutuskan untuk menawarkan dua model
mesin pemotong rumput, yaitu mesin manual dengan harga $400/unit dan mesin
otomatis dengan harga $800/unit. Departemen pemasaran yakin bahwa 1.200 mesin
pemotong rumput manual dan 800 mesin pemotong rumput otomatis dapat terjual
tahun depan. Proyeksi Laporan Laba Rugi terlihat sebagai berikut:

Mesin
Mesin Manual Otomatis Total
Penjualan 480.000 640.000 1.120.000
Dikurangi: beban Variabel 390.000 480.000 870.000
Margin Kontribusi 90.000 160.000 250.000
Dikurangi: Beban tetap
Langsung 30.000 40.000 70.000
Margin Produk 60.000 120.000 180.000
Dikurangi: Beban tetap Umum 26.250
Laba Operasi 153.750

1. Titik Impas Dalam Unit


Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung
titik impas dapat mengatasi kesulitan ini. Permasalahan dalam pendekatan ini
adalah alokasi biaya tetap umum bersifat acak. Jadi, tidak ada volume impas yang
tampak secara langsung.
Dalam contoh Whittier di atas, jika dihiting unit impas individu dari mesin
maual dan mesin otomatis, diperoleh hasil:
Unit impas mesin manual = Biaya Tetap/(Harga-Biaya Variabel per unit)
= $30.000/$75
= 400 unit
Unit Impas mesin otomatis = $40.000/$200
= 200 unit
Jadi 400 unit mesin manual dan 200 unit mesin otomatis harus dijual untuk
mencapai margin produk impas, namun margin produk impas hanya menutup
biaya tetap langsung, biaya tetap umum masih belum tertutup. Padahal biaya tetap
umum harus diperhatikan untuk mencari titik impas bagi penjualan secara
keseluruhan.
Pengalokasian biaya tetap umum ke setiap lini produk sebelum menghitung
titik impas dapat mengatasi kesulitan ini, namun permasalahan dalam pendekatan
ini adalah alokasi biaya tetap umum yang bersifat acak, jadi tidak ada volume
impas yang tampak secara langsung.
Kemungkinan pemecahan lainnya adalah dengan mengkonversikan masalah
multiproduk menjadi masalah produk tunggal. Jika hal ini dapat dilakukan, maka
seluruh metodologi CVP produk tunggal dapat diterapkan secara langsung. Kunci
dari konversi ini adalah dengan mengidentifikasi bauran penjualan yang
diharapkan dalam unit dari produk-produk yang dipasarkan. Bauran penjualan
(sales mix) adalah kombinasi relative dari berbagai produk yang dijual
perusahaan.
a. Penentuan bauran penjualan,
Bauran penjualan dapat diukur dalam unit yang terjual atau bagian dari
pendapatan.
Contohnya; Jika Whittier berencana menjual 1.200 mesin pemotong rumput
manual dan 800 pemotong rumput otomatis, maka bauran penjualan dalam
unit adalah 1.200 : 800, atau 3 : 2. Bauran penjualan juga dapat dinyatakan
dalam persentase dari total pendapatan yang dikontribusikan oleh setiap
produk. Pada kasus Whittier, pendapatan mesin pemotong rumput manual
adalah $480.000 ($400 x 1.200). dan pendapatan mesin pemotong rumput
otomatis adalah $640.000 ($800 x 800).
Pendapatan Mesin pemotong rumput manual = 480.000/(480.000+640.000)
= 42,86% dari penjualan
Pendapatan mesin pemotong rumut otomatis = 640.000/(480.000+640.000)
= 57,14% dari penjualan.
Jadi bauran penjualan dalam unit adalah sebesar 3 : 2 atau 60% : 40%
yang berarti bahwa Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong
rumput manual atas setiap penjualan 2 mesin pemotong rumput otomatis.
Sedangkan bauran penjualan dalam pendapatan adalah sebesar 42,86% :
57,14% untuk mesin manual dan mesin otomatis. Perbedaan perbandingan iini
diakibatkan karena bauran penjualan dalam pendapatan menggunakan bauran
penjualan dalam unit dan memberikan bobot menurut harganya masing-
masing. Untuk analisis CVP, kita harus menggunakan bauran penjualan yang
dinyatakan dalam unit.
b. Bauran penjualan dan analisis CVP
Penentuan bauran penjualan terutama memungkinkan kita untuk
mengonversi masalah multiproduk kedalam format CVP produk tunggal.
Karena Whittier berharap dapat menjual 3 mesin pemotong rumput manual
atas setiap penjualan 2 mesin pemotong rumput otomatis, Whittier bisa
mengidentifikasikan produk tunggal yang dijualnya sebagai suatu paket yang
berisi tiga mesin pemotong rumput manual dan dua mesin pemotong rumput
otomatis.
Dengan menetapkan produk tersebut dalam suatu paket, maslah
multiproduk dikonversi menjadi masalah produk tunggal. Untuk lebih jelasnya
lihat perhitungan berikut:
Harga Biaya Bauran
Variabel Kontribusi Margin Kontribusi Margin
Per Unit Per Unit Penjualan per unit (f) =d x
Produk (a) (b) (c) (d) paket (e) e
Manual 400 325 75 3 225
Otomatis 800 600 200 2 400
Total Paket

Berdasar margin kontribusi per paket di atas, persamaan dasar impas


dapat digunakan untuk menentukan jumlah paket yang harus dijual Whittier
pada titik impas.
Paket Impas = Total Biaya Tetap/Margin Kontribusi Per Paket
= (70.000+26.250)/625
= 154 paket
Jadi Whittier harus menjual
Unit mesin manual = 154 x 3
= 462 unit
Unit mesin otomatis = 154 x 2
= 308 unit
Kelemahan metode ini yaitu sulit digunakan untuk perusahaan dengan
banyak jenis produk. Cara mengatasinya antara lain dengan:
1. Melakukan penyederhanaan yaitu dengan menganalisis kelompok
produk, bukan individu produk, atau
2. Menggunakan pendekatan pendapatan penjualan.
2. Pendekatan Dolar Penjualan
Titik impas dalam dolar penjualan secara implisit menggunakan asumsi bauran
penjualan, tetapi mengabaikan persyaratan penghitungan margin kontribusi per
paket. Tidak ada pengetahuan terhadap data produk individual yang diperlukan.
Upaya perhitungannya mirip dengan yang digunakan dalam pengaturan produk
tunggal. Selain itu, jawabannya masih dinyatakan dalam pendapatan penjualan.
Tidak seperti titik impas dalam unit, jawaban atas pertanyaan CVP yang
menggunakan dolar penjualan tetap dinyatakan dalam ukuran ikhtisar tunggal.
Namun pendekatan pendapatan penjualan mengorbankan informasi yang
berkaitan dengan kinerja tiap tiap produk. Contoh kasus pada Whittier.

Total
Penjualan 1.120.000
Dikurangi: beban Variabel 870.000
Margin Kontribusi 250.000
Dikurangi: Total Beban tetap 96.250
Laba Operasi 153.750

Dari data di atas diperoleh rasio margin kontribusi adalah sebesar


250.000/1.120.000 = 0,2232. Maka besar penjualan impas yaitu:

Penjualan impas = Biaya tetap/rasio margin kontribusi


= $96.250/0,2232
= $431.228
Hasil perhitungan ini akan sama dengan hasil perhitungan titik impas dalam
unit. Jumlah paket yang harus dijual pada saat impas adalah 154 sedangkan harga
jual per paket adalah 2.800 (3 x 400 + 2 x 800), sehingga total penjualannya yaitu
sebesar 154 x 2800 = 431.200, terdapat sedikit perbedaan karena pembulatan
dalam menghitung rasio margin kontribusi.
D. Representasi Grafik dari Hubungan CVP
Perseroan wajib menjelaskan antara lain kebijakan akuntansi
untuk:
Untuk memahami hubungan CVP lebih mendalam, dapat
dilakukan melalui penggambaran secara visual. Penyajian secara
grafis dapat membantu para manajer melihat perbedaan antara
biaya variable dan pendapatan. Hal itu juga dapat membantu
mereka memahami dampak kenaikan atau penurunan penjualan
terhadap titik impas dengan cepat. Dua grafik dasar yang
penting, grafik laba volume dan grafik biaya volume laba, yang akan
dijelaskan sebagai berikut :
1. Grafik Laba Volume
Grafik laba volume (profit volume grafh) menggambarkan hubungan antara
laba dan volume penjualan secara visual. Grafik laba volume merupakan grafik
dari persamaan laba operasi [laba operasi = (harga x unit) (biaya variable per
unit x unit) biaya tetap]. Dalam grafik ini, laba operasi merupakan variable
terikat dan unit merupakan variable bebas. Nilai variable bebas biasanya diukur
pada sumbu horizontal dan nilai variable terikat pada sumbu vertical.
2. Grafik Biaya Volume Laba
Grafik biaya volume laba (cost volume profit graph) menggambarkan
hubungan antara biaya, volume dan laba. Untuk mendapatkan gambaran yang
lebih terperinci, perlu dibuat grafik dengan dua garis terpisah : garis total
pendapatan dan garis total biaya. Tiap tiap garis ini mempunyai dua persamaan
berikut :

Pendapatan = harga x unit


Total biaya = (biaya variable per unit x unit) + Biaya tetap
Hubungan CVP dapat juga dianalisis dengan grafik dua sumbu. Sumbu
horisontal menunjukkan unit yang terjual dan sumbu vertikal menunjukkan
pendapatan penjualan. Garis total pendapatan dimulai pada titik nol dan meningka
dengan kemiringan yang sama dengan harga jual per unit. Garis total biaya
memotong sumbu vertikal pada sebuah titik yang sama dengan total biaya tetap
dan meningkatdengan kemiringan yang sama dengan biaya variabel per unit. Jika
total pendapatan berada di bawah garis total biaya, maka akan muncul daerah rugi.
Sebaliknya, daerah laba akan muncul jika garis total pendapatan berada di atas
garis total biaya. Titik impas berada titik perpotongan antara garis penjualan total
dan garis biaya total. Titik impas pada gambar di bawah ini terletak pada
penjualan 600 unit produk dan tingkat pendapatan penjualan Rp1.800.000,00.

3. Asumsi asumsi pada Analisis Biaya Volume Laba


Grafik laba volume dan biaya volume laba yang baru diilustrasikan
mengandalkan beberapa asumsi penting. Berikut beberapa dari asumsi tersebut :
a. Analisis mengasumsikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya berbentuk linear
b. Analisis mengasumsikan harga, total biaya tetap, dan biaya variable per unit
dapat diidentifikasikan secara akurat dan tetap konstan sepanjang tentang yang
relevan
c. Analisis mengasumsikan apa yang diproduksi dapat dijual
d. Untuk analisis multiproduk, diasumsikan bauran penjualan diketahui
e. Diasumsikan harga jual dan biaya diketahui secara pasti.
E. Perubahan Dalam Variabel CVP
Karena perusahaan beroperasi dalam dunia yang dinamis, mereka harus
memperhatikan perubahan perubahan yang terjadi dalam harga, biaya variable, dan
biaya tetap. Perusahaan juga harus memperhitungkan pengaruh resiko dan
ketidakpastian. Kita akan membahas pengaruh dari perubahan harga, margin
kontribusi per unit, dan biaya tetap terhadap titik impas. Kita juga akan membahas
cara cara yang dapat ditempuh para manajer untuk menangani risiko dan
ketidakpastian dalam kerangka CVP
Memperkenalkan Risiko dan Ketidakpastian
Asumsi penting dari analisis CVP adalah harga dan biaya diketahui dengan
pasti. Namun, hal tersebut jarang terjadi. Risiko dan ketidakpastian adalah bagian
dari pengambilan keputusan bisnis dan bagaimananpun hal itu harus ditangani.
Secara formal, risiko berbeda dengan ketidak pastian. Distribusi probabilitas
variable pada risiko dapat diketahui, sedangkan distribusi probabilitas variable
pada ketidakpastian tidak diketahui. Namun, pada tujuan pembahasan kita, kedua
istilah tersebut akan digunakan secara bergantian.
a. Margin pengaman ( margin of safety )
Adalah unit yang terjual atau diharapkan terjual atau pendapatan yang
dihasilkan atau diharapkan untuk dihasilkan yang melebihi volume impas.
Sebagai contoh jika volume impas perusahaan adalah 200 unit dan perusahaan
saat ini menjual 500 unit, maka margin pengamannya adalah 300 unit (500-
200). Margin pengaman juga dapat dinyatakan dalam pendapatan penjualan.
Jika penjualan impas adalah $200.000 dan pendapatan saat ini adalah
$350.000, maka margin pengamannya adalah $150.000.
Rasio margin pengaman dapat dinyatakan dalam (pendapatan
penjualan yang dianggarkan-pendapatan penjualan impas)/pendapatan
penjualan x 100%. Dalam contoh di atas, rasio margin pengamannya yaitu
sebesar (350.000-200.000)/200.000= 75%.
Margin pengamandapat dipandang sebagai ukuran kasar dari risiko.
Pada kenyataannya peristiwa yang tidak diketahui selalu muncul ketika
rencana disusun. Hal itu dapat menurunkan penjualan di bawah jumlah yang
diharapkan. Apabila margin pengaman perusahaan adalah besar atas penjualan
tertentu yang diharapkan tahun depan, maka risikomenderita kerugian jika
penjualan menurun lebih kecil daripada margin pengamannya kecil. Manager
yang menghadapi margin pengaman yang rendah mungkin ingin
mempertimbangkan berbagai tindakan untuk meningkatkan penjualan atau
mengurangi biaya. Langkah-langkah
b. Pengungkit Operasi
Dalam ilmu fisika, alat pengungkit adalah mesin sederhana yang
digunakan untuk melipatgandakan kekuatan. Pada dasarnya, pengungkit
tersebut melipatgandakan kekuatan tenaga yang dikeluarkan untuk
menghasilkan lebih banyak pekerjaan. Semakin besar beban yang digerakkan
oleh sejumlah tertentu tenaga, semakin besar keunggulan mekanis dari alat
tersebut. Dalam bidang keuangan pengungkit operasi berkaitan dengan bauran
relative dari biaya tetap dan biaya variable dalam suatu organisasi. Pertukaran
antara biaya tetap dengan biaya variable adalah suatu hal yang mungkin
dilakukan.
Tingkat pengungkit operasi (degree of operating leverage DOL)
untuk tingkat penjualan tertentu dapat diukur dengan menggunakan rasio
margin kontribusi terhadap laba.
Tingkat pengungkit operasi = Margin kontribusi/laba
c. Analisis Sensitivitas dan CVP
Meluasnya penggunaan computer dan spreadsheet telah memudahkan
para manajer melakukan analisis sensitivitas. Sebagai sebuah alat penting,
analisis sensitivitas (sensitivity analysis) adalah teknik bagaimana-jika yang
menguji dampak dari perubahan asumsi asumsi yang mendasarinya terhadap
suatu jawaban.
Beberapa perubahan variabel yang biasa dibahas antara lain:
1. Perubahan harga jual. Menaikkan harga memungkinkan turunnya
permintaan produk tetapi juga menurunkan titik impas produk.
Menurunkan harga biasanya diharapkan dapat menaikkan volume
penjualan namun juga menaikkan titik impas produk.
2. Perubahan biaya variable. Penurunan biaya variable per unit akan
menurunkan titik impas. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan
efisiensi penggunaan bahan baku maupun tenaga kerja langsung.
3. Perubahan biaya tetap. Manajemen dapat mempertimbangkan kenaikan
biaya tetap dengan mengharapkan kenaikan volume penjualan,
misalnya melalui kenaikan biaya iklan, kenaikan biaya pelatihan
pramuniaga dan salesman, dll. Kenaikan biaya tetap akan mengubah
titik impas dan volume penjualan untuk mencapai target laba tertentu.
4. Perubahan lebih dari satu variabel secara serentak. Dalam dunia nyata,
seringkali beberapa variabel berubah dalam waktu bersamaan,
misalnya menurunkan harga sekaligus meningkatkan biaya iklan atau
menaikkan harga jual sekaligus meningkatkan biaya variabel untuk
kualitas yang lebih baik.
F. Analisis CVP Dan Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
Analisis CVP konvensional mengasumsikan semua biaya perusahaan dapat
dikelompokkan dalam dua kategori : biaya variabel dan biaya tetap. Pada sistem
perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, biaya dibagi dalam kategori berdasarkan unit
dan non-unit.
Perbandingan antara titik impas ABC dengan titik impas konvensional
mengungkapkan dua perbedaan yang signifikan. Pertama, biaya tetapnya berbeda.
Beberapa biaya yang sebelumnya diidentifikasi sebagai biaya tetap dapat berbeda
dengan penggerak. Kedua, pembilang pada persamaan impas ABC memiliki dua
istilah biaya variabel non-unit : satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan batch dan
satu untuk aktivitas yang berkaitan dengan keberlanjutan produk. Jika suatu
perusahaan menganut JIT, maka biaya variabel per unit yang dijual berkurang dan
biaya tetap bertambah.
Pada sistem perhitungan biaya berdasarkan aktivitas, biaya dibagi dalam
kategori berdasarkan unit dan nonunit. Sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas mengakui bahwa beberapa biaya berubah tergantung pada jumlah unit
yang diproduksi sedangkan beberapa yang lainnya tidak. Dengan perhitungan
berdasarkan aktivitas, analisis biaya volume laba menjadi lebih bermanfaat karena
memberikan wawasan yang akurat mengenai perilaku biaya. Persamaan biaya
berbasis aktivitas adalah sebagai berikut:
Total biaya = Biaya tetap +(Biaya variabel per unit x jumlah unit) + (Biaya
pengaturan x Jumlah pengaturan) + (Biaya rekayasa x Jumlah jam
rekayasa)
Jika digunakan pendekatan laba operasi dapat dinyatakan sebagai berikut:
Laba operasi = total pendapatan (Biaya tetap + (Biaya variabel per unit x
jumlah unit) + (Biaya pengaturan x Jumlah pengaturan) + (Biaya
rekayasa x Jumlah jam rekayasa))
Pada impas, laba operasi sama dengan nol dan jumlah unit yang harus dijual untuk
mencapai impas adalah:
Unit Impas = [(Biaya tetap + (biaya pengaturan x jumlah pengaturan) + (Biaya
rekayasa x jam rekayasa)] / (harga Biaya Variabel per unit)
1. Contoh Pembandingan Analisis konvensional dan ABC
Perusahaan X ingin menghitung yang harus terjual untuk menghasilkan laba
sebelum pajak $ 20.000,-. Analisis didasarkan pada data berikut:
Penggerak Aktivitas Biaya Variabel per Tingkat penggerak
Unit Aktivitas
Unit yang terjual $10 -
1000 20
Pengaturan
30 1000
Jam Rekayasa
$100.000
Data lainnya:
50.000
Total Biaya tetap (KOnvsionl) 20
Total biaya tetap (ABC)
Harga jual perunit
Dengan menggunakan analisis biaya volume laba, jumlah unit yang terjual
untuk menghasilkan laba sebesar $ 20.000,- adalah:
Jumlah unit = (Rp 20.000,- + Rp 100.000,-)/ (Rp 20 Rp 10)
= Rp 120.000,-/ Rp 10
= 12.000 unit
Dengan menggunakan persamaan berbasis aktivitas, jumlah unit yang harus
terjual untuk menghasilkan laba sebesar Rp 20.000,- adalah sebagai berikut:
Jumlah unit = (Rp 20.000,+ Rp 50.000 + (Rp 1000 x 20) + (Rp 30 x
1000)/ (Rp 20 Rp 10) = 12.000 unit
Jumlah unit yang harus dijual sama menurut kedua pendekatan. Hal ini
dikarenakan kelompok total biaya tetap menurut perhitungan biaya konvensional
terdiri dari biaya variabel berdasarkan non unit ditambah biaya yang tetap tanpa
memperhatikan penggerak aktivitas. Sistem perhitungan biaya berdasarkan
aktivitas memilah-milah berbagai biaya variabel berdasarkan non unit. Biaya-
biaya ini berhubungan dengan tingkat tertentu dari setiap penggerak aktivitas.
Selama tingkat aktivitas penggerak biaya berdasarkan non unit tetap sama, maka
hasil perhitungan konvensional dan berbasis aktivitas akan sama.
Keunggulan analisis biaya volume laba berbasis aktivitas dibandingkan
konvensional yaitu dalam metode konvensional sebenarnya tidak semua biaya
yang semula digolongkan ke dalam biaya tetap berperilaku tetap. Biaya aktivitas
produk dan biaya pengaturan yang tidak berubah secara proporsional dengan
perubahan aktivitas unit digolongkan dalam pendekatan konvensional sebagai
biaya tetap. Namun, dalam pendekatan berbasis aktivitas, biaya aktivitas
produk dan biaya pengaturan merupakan biaya variabel yang berubah sebanding
dengan perubahan aktivitas yang bersangkutan dengan biaya tersebut. Oleh karena
itu, jika suatu kebijakan menyebabkan perubahan dalam dalam biaya aktivitas
produk dan biaya pengaturan, pendekatan berbasis aktivitas mampu
mencerminkan akibat perubahan biaya tersebut terhadap impas.
KESIMPULAN

Titik impas (break-even point) adalah titik dimana total pendapatan sama dengan
total biaya, titik dimana laba sama dengan nol. Untuk pendapatan sama dengan total biaya,
kita focus pada laba operasi. Pertama, kita akan membahas cara menentukan titik impas,
kemudian melihat bagaimana pendekatan kita dapat dikembangkan untuk menentukan jumlah
unit yang harus dijual guna menghasilkan laba yang ditargetkan.
Laba operasi (operating income) hanya mencakup pendapatan dan beban dari
operasional normal perusahaan. Laba bersih (net income) adalah laba operasi dikurangi pajak
penghasilan.
Margin kontribusi (contribution margin) adalah pendapatan penjualan dikurangi total
biaya variable. pada impas, margin kontribusi sama dengan beban tetap.
Rasio biaya variable (variable cost ratio) sebesar 60 % pada contoh ini merupakan
bagian dari setiap dolar penjualan yang harus digunakan untuk menutup biaya variable. Rasio
biaya variable dapat dihitung dengan menggunakan data total maupun data per unit. Tentu
saja, persentase dari dolar penjualan yang tersisa setelah biaya variable tertutupi merupakan
rasio margin kontribusi. Rasio margin kontribusi (contribution margin ratio) adalah bagian
dari setiap dolar penjualan yang tersedia untuk menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.
DAFTAR PUSTAKA

Hansen & Maryane Mowen, Akuntansi Manajemen, Jakarta. PT Salemba Empat 2011
http://yogisunpriakuntansi.blogspot.co.id/2014/01/analisis-cvp.html

http://kepinginlagi.blogspot.co.id/2014/09/modul-akuntansi-manajemen-bab-6-analisa.html

http://dinapramudianti.blogspot.co.id/2015/02/makalah-cost-volume-profit-cvp.html