Anda di halaman 1dari 10

Manajemen Wacana Publik

Komunikasi: Cermin diri

oleh: Yeremia Prawiro Mozart Runtu S.Ked

dalam LKMM ISMKI Wilayah 4 tahun 2012

Tiap harinya manusia pantang tidak berkomunikasi. Baik berkomunikasi secara


vertikal maupun secara horizontal. Secara vertikal, yang agama kita ajarkan melalui
ibadah dan kegiatan agama dalam bentuk lain kepada Tuhan Yang Maha Esa sedangkan
horizontal kita dituntut untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain. Dalam era modern
seperti saat ini, lebih dari 75 % hidup manusia dihabiskan untuk berkomunikasi dan
sebagian besar dilakukan secara lisan. Sehingga komunikasi menjadi barang penting
dalam kesuksesan hidup. Coba lihat bagian perekrutan karyawan perusahaan saat ini.
Mereka lebih memilih calon pekerja yang bisa bersosialisasi dengan atasan maupun
rekan kerja dengan baik daripada calon pekerja yang pintar secara kognitif namun
menutup diri dari rekanrekannya. Mereka lebih memilih calon pekerja yang bisa
menempatkan diri, bertutur kata yang sopan serta berkelakukan baik daripada calon
pekerja yang mempunyai segudang prestasi namun tak elok kelakukannya.
Begitu pula dengan tenaga kesehatan dalam hal ini Dokter. Pada tahun 1995-2004
The Joint Commission mencatat bukan masalah SDM ataupun kepepimpinan yang
menjadi masalah dalam kegiatan medis melainkan komunikasilah yang menjadi akar
masalah dari banyak kasus dalam kesalahan medis. Setiap hari dokter bertemu dengan
masyarakat dan komunikasi menjadi jembatan antara dokter dengan pasien agar
hubungan terapeutik dapat terbangun dengan baik yaitu hubungan dokter-pasien dalam
tingkat yang sejajar dan saling bekerjasama untuk menyelesaikan masalah kesehatan
pasien. Komunikasi efektif mampu menghidarkan kesalahpahaman yang bisa
menimbulkan dugaan malpraktek.
Kegiatan komunikasi memiliki banyak bentuk namun yang dibahas dalam materi ini
adalah mengenai berbicara di depan publik (public speaking), menulis opini publik dan
manajemen wacana publik serta propaganda.

I. Komunikasi efektif
Seorang pendidik suka membuat hal yang sederhana menjadi rumit. Seorang
komunikator membuat hal yang rumit menjadi sederhana. John C.Maxwell

Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari


seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut
mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran pikiran atau informasi.
Komunikasi disebut efektif bila pemberi pesan mengirimkan pesan melalui sarana
tertentu kepada penerima pesan sehingga penerima pesan memahami dan
menindaklanjuti apa yang diinginkan oleh pemberi pesan.
Komponen komunikasi efektif: pemberi pesan, penerima pesan, sarana (medium),
pesan yang disampaikan dan umpan balik (feedback)
prinsip komunikasi: REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity dan Humble)
Respect
Menghormati lawan bicara merupakan modal pertama dalam berkomunikasi efektif.
Hukum yang berlaku yaitu hormatilah orang lain jika kita ingin dihormati orang lain.
Empathy
Kemampuan seseorang dalam menempatkan dirinya sebaik mungkin sesuai dengan
keadaan dapat didefinisikan sebagai empati. Sifat ini tercermin dalam kemampuan
seorang individu dalam mendengarkan dan mengerti orang lain. Saat anda telah
berhasil menjadi pendengar yang baik bagi orang lain, anda akan dengan mudah
memenangkan hati lawan bicara anda.
Audible
Penting kiranya memastikan bahwa apa yang anda sampaikan dapat didengar dan
dimengerti oleh mereka yang mendengarkan anda. Saat komunikasi personal
berlangsung, hal ini tidak terlalu sulit untuk dicapai. Namun ketika anda harus
berbicara dengan banyak orang dalam sebuah forum publik, anda harus memberi
perhatian dalam hal ini. Kemampuan anda dalam memanfaatkan teknologi audio-
visual akan sangat menunjang jalannya komunikasi publik.
Clarity
Hal ini didefinisiakan sebagai kejelasan anda dalam menyampaikan informasi. Hal ini
sangat diperlukan untuk mereduksi adanya salah tafsir terhadap apa yang anda
sampaikan. Clarity juga sering diartikan sebagai keterbukaan dan transparansi,
dimana kedua hal ini sangat diperlukan dalam membangun kepercayaan dari
penerima informasi.
Humble
Dalam membangun komunikasi, sikap hati yang benar yaitu rendah hati. Karena dari
hatilah keluar semua perkataan maupun perbuatan (baca: gerak tubuh/gestur). Hati
yang baik akan mengeluarkan perkataan dan perbuatan yang baik pula begitu juga
sebaliknya.

II. Seni berbicara di depan publik (Public speaking)


Bagaimana menyampaikan gagasan kita di depan publik
Semua orang berbicara tetapi tidak semua mengesankan
Teknik: Persiapan, pelaksanaan dan evaluasi

1. Persiapan
Penampilan
Materi (membuat peta pembicaraan)
Ketahuilah tujuan anda
tema harus menarik dan menantang
jangan bicarakan dua hal: yang sudah mereka ketahui dan yang tidak
ingin mereka dengar.
Sistematika dari makro ke mikro
kronologis yang jelas
Penggunaan ungkapan dan bahasa yang jelas
Data/informasi yang akurat
Menggunakan contoh yang konkrit dan aktual.
Sarana dan prasarana
Latihan: The will to win means nothing until the will to prepare
2. Pelaksanaan
a. Awal
Strong opening (hallo efect)
Mengendalikan suasana dan audiens
Hindari kesalahan
b. Saat
Kendalikan emosi
Menerapkan etika berkomunikasi dan memakai humor
(kadang kadang)
Perhatikan bahasa tubuh
c. Akhir
Memorable Closing
3. Evaluasi
Minta umpan balik dari kerabat dekat
Tidak perlu terlalu memikirkan kurang dan lebihnya penampilan anda!

III. Manajemen wacana publik


3.1 Definisi
Masih hangat dalam pikiran kita sosok Lady Gaga yang gagal tampil di
Indonesia karena tidak mendapatkan ijin dari pemerintah negeri kita yang
mungkin awalnya salah satu ormas keagamaan yang menentang tampilnya sang
musisi. Banyak media massa yang menjadikan kasus lady gaga menjadi headline
dan tidak sedikit pakar dari berbagai disiplin ilmu berpendapat mengenai
persoalan ini melalui tulisan maupun lisan. Setiap orang berpendapat bahwa
kedatangan sang artis dari Amerika ini perlu ditentang karena dapat merusak
moral bangsa melalui aksi panggungnya dan lagu yang dimilikinya yang katanya
isinya adalah lirik-lirik pemujaan terhadap setan ataupun menentang kepercayaan
kepada Tuhan. Tak sedikit dari kalangan remaja maupun dewasa muda yang
berpendapat juga bahwa kedatangan Lady Gaga tidak akan merusak moral
bangsa karena mereka tidak akan mengikuti bagaimana ia hidup maupun bergaya
di atas panggung sehingga penontonnya juga tidak akan menjadi monster dan
berargumen korupsilah yang merusak moral bangsa. Keadaan yang bisa
tergambarkan jelas bahwa opini ormas keagaamaan punya pengaruh lebih
daripada opini rakyat biasa (tidak hanya pada kasus ini) paling tidak membuat
pemerintah berpikir dua kali dalam mengambil keputusan. Standard apa yang
diterapkan pemerintah maupun aparat keamanan dalam negeri kita, standard
moral saja kah atau Pancasila, sebagai salah satu pilar kebangsaan kita yang
menyaring budaya-budaya universal?
Akhirnya isu ini berakhir pada lady gaga tidak mendapatkan ijin tampil
karena surat ijin dari salah satu kementrian tidak menerbitkan surat ijin untuk sang
artis tampil. Mungkinkah kekuatan pendapat dari masyarakat yang menentang
Lady Gaga yang menggerakkan alat negara kita dalam menentukan sikap?
Apakah Ormas keagaamaan yang menjadi penentang di garis depan mempunyai
kepentingan lain di balik isu moral yang digulirkannya?
Di era derasnya arus informasi, masyarakat terpapar begitu banyak fakta
maupun pendapat dari berbagai sumber dan bertambah terus tiap jamnya.
Mungkin sekarang masyarakat sudah tidak bisa membedakan lagi antara yang
benar dan yang palsu. Kepalsuan yang jelas tidak senangi banyak orang
sekarang dibuat menjadi sebuah kebenaran sehingga diikuti banyak orang karena
kemasannya yang indah. Begitu vitalnya peran media massa dalam menjadi
sumber informasi di zaman ini sehingga muncul istilah barangsiapa ingin
mengusasi dunia, kuasailah media. Isu bisa diartikan sebagai opini/wacana
pubik. Banyak definisi mengenai manajemen wacana publik namun secara
sederhana artinya adalah seni ilmu komunikasi untuk mempengaruhi kerangka
berpikir masyarakat agar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Frazier Moore
berkata Opini publik bukan merupakan suatu wujud dengan bentuk dan sifat yang
nyata, tetapi merupakan sekumpulan keyakinan, ilusi, dan pandangan yang
rasional maupun tak rasional yang menggambarkan sikap individu individu yang
membentuk publik.
Salah satu kegiatan dalam manajemen wacana publik adalah propaganda.
Mengapa propaganda? Karena menurut Santosa Sastropoetro propaganda
adalah suatu penyebaran pesan yang terlebih dahulu telah direncanakan secara
seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat dan tingkah laku dari
penerima/komunikan sesuai dengan pola yang telah ditetapkan oleh komunikator
Setiap tindakan komunikasi pada hakekatnya mempunyai tujuan/kepentingan
dibaliknya. Jika kita mendengar kata-kata propaganda maka persepsi kita
mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif yang mungkin karena propaganda
menjadi alat untuk menyebarkan berita yang palsu serta memperbaiki citra diri
padahal sudah tercium bau busuk orang/institusi tersebut.
Propaganda merupakan alat yang besar kuasanya dan tergantung siapa
yang memakainya dan apa kepentingan yang dibawa oleh pembuat isu.
Propaganda bisa menjadi alat yang baik namun juga bisa menjadi alat kejam
dalam menghancurkan citra pribadi atau institusi. Ada paham yang menyatakan
bahwa iklan sama seperti propaganda. Iklan berbeda dengan publikasi (opini
publik) dalam hal ini. Iklan lebih ke arah komersial sedangkan opini publik
mempunyai kepentingan di baliknya namun seringkali iklan bisa digunakan untuk
propaganda. Akhirnya, komunikasi efektif menjadi kunci penting dalam
pembuatan opini/wacana publik serta seluruh kegiatan di dalamnya.

3.2 Urgensi manajemen wacana publik


Opini publik menjadi salah satu institusi penting dalam demokrasi sama
pentingnya seperti keberadaan eksekutif dan legislatif. Opini publik mempunyai
kuasa lebih dalam menentukan arah pemerintahan namun kuasa tertinggi tetap
di tangan pemerintah. Suara satu orang tidak berarti karena dalam demokrasi
suara mayoritas seringkali sebagai arus penentu sehingga siapa yang bisa
mempengaruhi kerangka berpikir publik disebut pemenang.
Pencitraan.
Sederhananya bagaimana memoles tiap individu/institusi dipandang publik
sebagai tokoh masyarakat yang mempunyai sifat-sifat positif (pejabat, artis,
organisasi pemerintah, perusahaan dll) bisa melalui evet organizer, konferensi
pers sehingga tampak menyakinkan di hadapan publik.
Sebagai solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi
Mengembalikan citra individu/institusi yang sedang diterpa badai masalah yang
menghancurkan reputasi individu/institusi tersebut. Disinilah peran komunikator
ulung yang khususnya berprofesi dalam bidang kehumasan/PR untuk
memberikan solusi komunikasi yang bisa digunakan untuk menyelesaikan
masalah.
Penguasaan Masssa
Massa yang dikuasai untuk tujuan tertentu dari pembuat opini menjadi poin
penting ketika kita butuh perbaikan citra ataupun menjatuhkan lawan karena
suara mayoritas diperhitungkan lebih oleh pengambil keputusan sesungguhnya
(contoh: pemerintah).

3.3 Komponen manajemen wacana publik


Pembuat: individu ,kelompok, profesi humas/PR (public relations) dalam suatu
institusi
Sasaran: Masyarakat
Sarana: Media komunikasi. bentuknya bisa bermacam macam mulai dari iklan,
tulisan, berbicara di depan publik, slogan, nyanyian, drama, puisi
Isi pesan: opini, data dan fakta dan lain lain

3.4 Karakter wacana publik


Mementingkan tujuan daripada cara
Sering ditentukan oleh kepentingan pribadi, golongan atau negara
Opini yang diciptakan tanpa fakta
Tidak transparan (sulit untuk menggali informasi dari sumber langsung secara
nyata dalam waktu yang tepat)
Didukung oleh banyak pihak

3.5 Cara manajemen wacana publik


3.5.1 Tulisan
a. Berbagi opini
Tulisan dalam bentuk opini sering kita jumpai dalam kolom kolom media
cetak seperti koran, majalah maupun media elektronik seperti website ataupun
blog. Aspirasi atau pikiran pikiran yang berputar dalam otak kita, pun yang kita
rasakan dalam hati mungkin dapat dituang ke dalam suatu tulisan untuk kemudian
kita salurkan ke dalam media yang relevan pada saat yang tepat. Tentunya
pendapat yang proporsional, menyangkut perbahan yang signifikan dan positif,
atau menyangkut perubahan yang signifikan dan positif, atau menyangkut banyak
orang adalah hal yang layak untuk dipaparkan dalam media massabukan
masalah masalah yang sifatnya terlalu pribadi atau personal yang lebih baik
dikonsumsi oleh diri sendiri. Terminologi bidang kajian strategis (kastrat) opini ini
disebut kajian. Untuk kajian sendiri biasanya dibahas lebih dalam pada materi
manajemen isu.
Umumnya opini dimulai dari ketidaksesuaian antara harapan dengan
kenyataan. Apa yang nurani kita rasakan bertentangan dengan keadaan yang jauh
dari keadaan ideal sehingga kita merasa memiliki solusi atas masalah tersebut.
Solusi tersebut kita tuangkan dalam bentuk tulisan dan berharap bisa
mempengaruhi pola pikir orang banyak maupun merubah dunia dalam waktu
singkat namun setidaknya ada efek umum yang seringkali terjadi adalah kita
membuka arena untuk berdiskusi massal, bernegosiasi dengan pihak-pihak
terkait atau membuat orang berkesimpulan bahwa apa yang dirasakannya juga
dirasakan oleh orang lain.
b. Tulisan yang seperti apa
Mathilda AMW Bhirowo, dalam bukunya Bercermin melalui tulisan,
menguraikan menulis opini secara sederhana dan jelas. Beberapa strategi
dalam penyusunan sebuah tulisan opini adalah sebagai berikut:
Pilihlah tema yang membumi, artinya suatu kejadian atau peristiwa yang
terjadi di sekitar kita dan menjadi perhatian banyak orang.
Buat kerangka dari aspek-aspek relevan yang akan kita kembangkan.
Dalam istilah PBL (Problem Based Learning), dalam dunia pendidikan
kedokteran, fase ini disebut Cue and clues yang selanjutnya diproses
menjadi problem list sehingga kita melahirkan hipotesis (jawaban
sementara terhadap masalah yang ada) sehingga untuk memastikan
hipotesis, kita perlu learning objectives yang memaksa kita mencari
berbagai macam data primer maupun sekunder. Ini dapat menjadi
daftar pertanyaan kita kepada narasumber sekiranya diperlukan suatu
wawancara atau bahan kita mencari referensi dan data-data penunjang.
Bagi tulisan dalam tiga tahap secara proporsional. Bagian pendahuluan
merupakan pembuka dari pokok persoalan yang akan kita sampaikan.
Jelaskan secara singkat tentang isu dan latar belakang dengan
presentase antara 20-25% dari keseluruhan panjang tulisan ini.
Bagian inti permasalahan memaparkan pokok persoalan secara
mendetail dengan memasukkan pula unsur-unsur gagasan penulis
secara sistematis dan logis dengan didukung data-data pendukung
yang sudah kita cari. Ada baiknya pendapat dari beberapa tokoh atau
nara sumber yang relevan kita muat sebagai penguat opini yang kita
sampaikan. Persentase panjang uraian bagian ini adalah 60-70%
Pada bagian penutup, kita masukkan saran, pendapat, atau kesimpulan
kita pribadi terhadap persoalan yang kita angkat. Kesimpulan juga dapat
berupa rangkuman dari penjabaran di atas atau inti sari dari pendapat-
pendapat orang lain yang relevan. Bagian penutup dapat juga dibuat
terbuka, artinya membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri.
Presentase bagian penutup tidak banyak, berkisar 10% dari
keseluruhan bagan karangan.
Hal yang mudah untuk mencari gaya penulisan itu adalah mempelajari
langsung dari media yang kita harapkan bisa memuat tulisan kita. Cari
tulisan opini atau feature yang temanya mendekati persoalan yang
menjadi perhatian kita. Dari situ kita akan mendapat gambaran tentang
bentuk penulisannya.
Tentang bahasa jurnalistik yang lazim digunakan, kita pun bisa
mengacu pada media yang kita anggap kredibel. Sering-seringlah
membaca harian yang memiliki reputasi baik agar terbiasa
menggunakan bahasa jurnalistik yang tepat.

Perhatikan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan dalam menulis tulisan


berbentuk opini. Karena opini seringkali berhadapan dengan kelompok atau
kebijakan yang berlawanan, apalagi disampaikan secara terbuka di media massa
maka kita pun harus pertimbangkan akurasi dan penggunaan bahasa yang etis
agar tidak menimbulkan polemik yang berlebihan atau bahkan menjadi bumerang
buat kita. jauhkan hal-hal yang bersifat SARA, fisik atau menyudutkan seseorang
atau institusi secara langsung. Untuk itu kita perlu didukung oleh data-data atau
informasi akurat yang menunjang dari sumber yang kredibel. Tanpa hal-hal
tersebut, kita seperti sedang menggoreng isu atau membual. Namun jangan
takut menulis untuk menyatakan opini kita karena keterbukaan berpendapat
berlaku di negara kita sejak zaman reformasi.

Segala sesuatu tidaklah sesulit yang kita lihat: segala sesuatu lebih menguntungkan
daripada yang anda duga; dan jika ada kemungkinan berhasil, maka hal itu akan
benar-benar terjadi dan pada saat yang terbaik Maxwell

3.6 Alur manajemen wacana publik


Identifikasi Penyikapan Evaluasi
1. Identifikasi dan Pengumpulan data
Ada / tidak opini publik yang sedang bergulir di masyarakat.
Perlu / tidak disikapi Cari data/fakta untuk mengambil sikap
Jika isu bersifat konstruktif makan inventaris isu / opini publik tersebut agar di
kemudian hari kita bisa memakainya kembali untuk mendukung opini kita yang baru.
Nilai isu/opini yang sudah ada: Bermutu / tidak bermutu ; Dangkal / Dalam ; Laten /
Aktual
Jika isu bersifat destruktif: cegah agar tidak menyebar atau dihancurkan
Pelajari cara berpikir masyarakat saat itu sehingga penolakan dari pubik tidak terlalu
besar.

2. Penyikapan
Tentukan tujuan penyikapan, contoh: pengurus ISMKI memulai sebuah opini publik,
melalui artikel pencerdasan dan kuesioner yang menuntut partisipasi mahasiswa
kedokteran seluruh Indonesia, yang tujuannya menyakinkan mahasiswa kedokteran
bahwa RUU Pendidikan Kedokteran tidak langsung disetujui namun perlu dikaji ulang
oleh Pemerintah agar sesuai dengan kebutuhan dan tantangan.
Buatlah penyikapan pada saat yang tepat.
Melalui berbicara di depan publik ataupun tulisan yang dimuat dalam media massa
yang bisa mempengaruhi pikiran masyarakat secara bersamaan dalam satu waktu.
Seringkali opini publik dimulai karena ada opini publik lainnya, terjadi saling hantam
opini dalam kurun waktu tertentu.
Salah satu penyikapan yang efektif adalah demonstrasi. Melalui demonstrasi pesan
yang dibawa jelas (orasi, spanduk, poste dan lain-lain), lokasi yang diambil pasti
strategis sehingga masyarakat mau tidak mau dipaksa melihat aksi tersebut, entah
langsung ataupun melalui media, yang ujungnya mempengaruhi persepsi masyarakat
terhadap suatu isu/opini publik.

3. Monitoring dan Evaluasi


Apakah tujuan tercapai? Bagaimana respon publik?
Apa respon publik sesuai dengan rencana pembuat opini publik?
Susun ulang rencana untuk menguatkan opini publik yang kita gulirkan pertama atau
buat opini yang bisa membawa masyarakat mengerti jalur pikiran kita.

IV. Propaganda
4.1 Apa dan mengapa

Asal-usul kata propaganda sulit ditentukan secara pasti, tetapi ada suatu
sumber yang menyatakan bahwa kata itu mulai digunakan pada tahun 1622,
ketika Paus Gregory XV mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama
Congregatio de Propaganda Fide. Organisasi itu bertugas untuk menyebarkan
agama Kristen Katholik di kalangan masyarakat non-Kristen. Dalam konteks
pengertian ini, propaganda diartikan sebagai organisasi yang mengirimkan
pesan-pesan. Setelah tahun 1622 propaganda tidak hanya diartikan sebagai
organisasi, tetapi juga sebagai pesan yang disebarkan oleh organisasi. Dalam
perkembangan, pengertian propaganda juga berkaitan dengan teknik yang
digunakan untuk menyampaikan pesan, sebagai contoh: iklan, film dan televisi.
Berdasarkan tujuannya, propaganda juga diartikan sebagai komunikasi yang
ditujukan untuk menyebarluaskan tujuan yang diinginkan (sering bersifat
subversif dan jahat) terhadap para pemirsa, dan dilakukan dengan cara-cara
yang berpengaruh. Pada umumnya propaganda yang memberikan isu-isu
kontroversial lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Di Indonesia, kata propaganda dipakai sistem pemerintahan Jepang untuk
menjajah ibu pertiwi. Buktinya, sistem pemerintahan jepang membentuk
departemen propaganda (sendenbu) di bawah pemerintah militer Jepang
dengan berpegang dua prinsip utama yaitu bagaiamana menarik hati rakyat dan
bagaimana mengindoktrinasasi dan menjinakkan mereka. Tujuannya
memobilisasi seluruh rakyat guna mendukung kepentingan perang dan untuk
merubah mentalitas mereka secara keseluruhan. Bagi Jepang, Indonesia
memiliki posisi geografis, ekonomis dan politis yang strategis untuk mendukung
kepentingan perangnya melawan kolonialisme Barat yang ketika itu masih
meluas di Asia. Rakyat Indonesia, yang ketika itu masih dalam belenggu
penjajahan Belanda, menjadi salah satu faktor akselerasi terbentuknya
kekuasaan militer Jepang. Dengan memanfaatkan kondisi rakyat yang ingin
segera terbebas dari penindasan kekuasaan Belanda itu, Jepang
mempersiapkan propaganda secaara sistematis, intensif dan kontrol yang ketat
dengan pemberlakuan undang-undang yang sangat mengikat kebebasan arus
komunikasi di negeri ini.
Sistem propaganda dipersiapkan secara solid dan hasilnya banyak materi
propaganda dikemas dalam bentuk kesenian, seperti puisi, prosa, nyanyian, film
dan sandiwara. Pengemasan propaganda dalam bentuk kesenian sangat
diutamakan oleh Jepang, karena kesenian dengan nilai entertaining-nya dapat
mengurangi kesadaran khalayak bahwa mereka telah diindoktrinasi.
Kita melihat dan paham bahwa propaganda menjadi satu alat yang bisa
menaklukkan negara. Itu bisa dilakukan jika kita memahami teori dan
menerapkannya. Propaganda merupakan alat yang ampuh dalam kegiatan
berkomunikasi dan seringkali kita mempersepsikan propaganda sebagai alat
cuci otak. Menurut Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler,
mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan
yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang
kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling
besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja. Begitu ampuhnya peran
propaganda sehingga kita harus berhati-hati dalam menerima dan mengartikan
segala informasi menjadi sebuah pemikiran maupun sikap bersama.

4.2 Elemen
Santosa Sastropoetro menyatakan elemen-elemen atau ciri-ciri propaganda
sebagai berikut:
1. Komunikator, atau orang yang dilembagakan/lembaga yang menyampaikan
pesan dengan isi dan tujuan tertentu.
2. Komunikan atau penerima pesan yang diharapkan menerima pesan dan
kemudian melakukan sesuatu sesuai pola yang ditentukan oleh komunikator.
3. Kebijaksanaan atau politik propaganda yang menentukan isi dan tujuan yang
hendak dicapai.
4. Pesan tertentu yang telah di-encode atau dirumuskan sedemikian rupa agar
mencapai tujuannya yang efektif.
5. Sarana atau medium yang tepat dan sesuai atau serasi dengan situasi dari
komunikan.
6. Teknik yang seefektif mungkin, yang dapat memberikan pengaruh yang
setepatnya dan mampu mendorong komunikan melakukan sesuatu yang sesuai
dengan keinginan atau pola yang ditentukan oleh komunikator.
7. Kondisi dan situasi yang memungkinkan dilakukannya kegiatan propaganda
yang bersangkutan.

4.3 Cara
Dalam buku The Fine Art of Prapaganda, yang ditulis Alfred McClung Lee &
Alizabeth Briant Lee pada tahun 1939, menguraikan tujuh poin propaganda yaitu:
1. Name Calling, teknik memberikan label buruk pada sesuatu
gagasan/orang/lembaga supaya sasaran tidak menyukai atau menolaknya.
2. The glittering generalation device (Penggunaan kata-kata muluk), adalah
strategi percakapan dengan memaparkan hal-hal umum sehingga soal-soal detail
yang sebenarnya penting tidak sempat diperhatikan oleh khalayak (tanpa
memeriksa bukti-bukti).
3. The transfe device (Pengalihan), merupakan visualisasi konsep untuk
mengalihkan karakter tertentu ke suatu pihak. Sebagai contoh : para politikus
memajang fotonya ketika sedang bersalaman dengan presiden di ruang
kantornya. Hal inidimaksudkan untuk memindahkan wibawa yang dimiliki presiden
ke dalam dirinya
4. Testimoni (kesaksian/pengutipan), teknik memberi kesempatan pada orang-
orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah
gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk untuk
mengesahkan dan memperkuat tindakannya sendiri.
5. Plain Folks, teknik propaganda yang dipakai pembicara propaganda dalam
upaya meyakinkan sasaran bahwa dia dan gagasan-gagasannya adalah bagus
karena mereka adalah bagian dari rakyat.
6. The card stacking device (Pemalsuan), berisikan fakta yang mendukung
pendapat seseorang dan mengesampingkan semua fakta yang berlawanan.
Kemudian fakta tersebut disajikan guna menarik khalayak agar menerimanya,
walaupun fakta tersebut berlawanan dengan kebenaran.
7. Bandwagon (Hura-hura), teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan
kepada sasaran bahwa semua anggota suatu kelompok (di mana sasaran
menjadi anggotanya) menerima programnya, dan oleh karena itu sasaran harus
mengikuti kelompok dan segera menggabungkan diri pada kelompok. Dalam hal
ini propagandis harus turun ke lapangan untuk mencapai keberhasilan tersebut.

V. Kesimpulan
Komunikasi menjadi alat penting dalam menentukan kesuskesan hidup.
Komunikasi efektif merupakan tujuan setiap kegiatan komunikasi.
Kegiatan komunikasi punya berbagai macam bentuk seperti berbicara di depan publik
(public speaking), tulisan berbentuk opini publik maupun propaganda.
Komunikasi yang efektif disertai kebenaran dan manfaat yang jelas, tanpa keduanya
komunikasi hanya menjadi alat yang membual ataupun menyebarkan kebohongan.

Communicating well is the heart of the leadership. Every great leader has had not only a
great vision but an ability to communicate is properly

VI. Daftar Pustaka

Artikel propaganda Jepang

Birowo, Mathilda MW. Bercermin lewat tulisan. Jakarta: Kompas Gramedia, 2012.

Lee, Alfred McClung dan Alizabeth Brian Lee. The Fine Art of Prapaganda, 1939.

Santosa Sastropoetro. Propaganda salah satu bentuk komunikasi massa, 1988

Dan dirangkum dari berbagai sumber

Anda mungkin juga menyukai