Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini status kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih jauh dari yang
diharapkan, ditandai dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI), dan
angka kematian bayi (AKB). Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2007 didapatkan data angka kematian ibu (AKI) sebesar 228
per 100.000 kelahiran hidup, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan
angka kematian ibu (AKI) tahun 2002 yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup.
Data AKI tersebut membuat Indonesia mulai optimis bahwa target MDGs untuk
AKI tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup dapat tercapai.
setelah melihat hasil SDKI 2012 bahwa AKI tercatat mengalami kenaikan yang
signifikan yaitu sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup, Sedangkan untuk data
Angka kematian bayi (AKB) di Indonesia walaupun masih jauh dari angka target
MDGs yaitu AKB tahun 2015 sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup tetapi tercatat
mengalami penurunan yaitu dari sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI
2002) menjadi sebesar 34 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2007), dan terakhir
menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2012). namun angka kematian bayi
(AKB) di Indonesia masih tetap tergolong tinggi. Target AKB dalam MDGs
adalah 23 per 1000 kh. Dari data di atas jelas terlihat bahwa AKI dan AKB di
Indonesia masih sangat tinggi, terutama untuk AKI yang berdasarkan trend data
SDKI beberapa tahun ini mengalami fluktuasi yang angkanya semakin jauh dari
target MGDs. (http://kebijakankesehatanindonesia.net)
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi 0-28 hari. Kehidupan pada
masa neonatus ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian
fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini
dapat dilihat dari angka kesakitan dan angka kematian neonatus.
Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada
masa neonatus.
Mengingat begitu besar perubahan yang terjadi maka tak dapat
diingkari begitu banyak juga permasalahan yang timbul karena hal
tersebut. Diantaranya adalah perubahan patologis yang memberikan
pengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan pekembangan bayi.

1
Diantaranya adalah hipotermi, hipoglikemia dan ikterus yang berkaitan
dengan hiperbilirubin.
Hipotermia adalah gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh,
sehingga mengakibatkan penurunan suhu karena tubuh tidak mampu
memproduksi panas untuk menggantikan panas tubuh yang hilang dengan
cepat. Komplikasi lanjut yang dapat terjadi dari hipotermi ini salah
satunya adalah hipoglikemia. (Lestari, 2010, p.2).
Istilah hipoglikemia digunakan apabila kadar gula darah bayi secara
bermakna di bawah kadar rata-rata bayi seusia dan berat badan yang sama,
kadar glukosa plasma darah lebih rendah dari 30 mg/dl dalam 72 jam
pertama dan 40 mg/dl pada hari berikutnya, sedangkan pada berat badan
lahir rendah di bawah 25 mg/dl. (A.H. Markum, 1996)
Hiperbilirubinemia adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam
darah yang kadar nilainya lebih rendah dari normal. Biasanya terjadi pada
bayi baru lahir. (Suriadi, 2001)

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian, penyebab, pencegahan, tanda dan gejala
dan penatalaksanaan pada bayi dengan hipotermi.
2. Untuk mengetahui pengertian, penyebab, tanda gejala, cara
pencegahan dan penatalaksanaan pada bayi dengan hipoglikemia.
3. Untuk mengetahui pengertian, metabolism, pengeluaran, etiologi,
patofisiologi, manifastasi klinis dan penatalaksanaan dari bayi dengan
hiperbilirubinemia.

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 HIPOTERMI
2.1.1 Pengertian
Hipotermia adalah gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh,
sehingga mengakibatkan penurunan suhu karena tubuh tidak mampu
memproduksi panas untuk menggantikan panas tubuh yang hilang
dengan cepat. Kehilangan panas karena pengaruh dari luar seperti air,
angin, dan pengaruh dari dalam seperti kondisi fisik (Lestari, 2010,
p.2).
Hipotermia merupakan keadaan dimana seorang individu gagal
mempertahankan suhu tubuh dalam batasan normal 36-37,5oC. (Warih,
1992).
Hipotermia merupakan keadaan dimana seorang individu
mengalami atau bersiko mengalami penurunan suhu tubuh terus-
menerus di bawah 35,5oC per rektal karena peningkatan kerentanan
terhadap faktor-faktor eksternal. (Anik dan Eka, 2013)
Suhu normal bayi baru lahir berkisar 36,5o C-37,5oC (suhu
ketiak). Gejala awal hipotermi apabila suhu <36oC atau kedua kaki dan
tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi
sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32oC-36oC). disebut
hipotermi berat bila suhu tubuh <32o C. untuk mengukur suhu hipotermi
diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang
dapat mengukur sampai 25oC. Di samping sebagai suatu gejala,
hipotermi dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan
kematian. Hipotermi menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh
darah, yang mengakibatkan terjadinya metabolic anerobik,
meningkatkan kebituhan oksigen, mengakibatkan hipoksemia dan
berlanjut dengan kematian.

Klasifikasi Hipotermia :

3
1. Hipotermia ringan, suhu <36,5oC
2. Hipotermia sedang, suhu antara 32oC-36oC
3. Hipotermia berat, suhu kurang dari 32oC

2.1.2 Etiologi
Hipotermi dapat disebabkan oleh :
1. Kehilangan panas yang berlebihan seperti lingkungan atau cuaca
dingin basah atau bayi telanjang.
2. Luas permukaan tubuh pada bayi baru lahir relatif besar sehingga
penguapannya bertambah.
3. Kurangnya metabolisme untuk menghasilkan panas tubuhnya masih
rendah.
4. Otot bayi masih lemah (Manuaba, 1998).
Hipotermi pada bayi baru lahir timbul karena adanya penurunan
suhu tubuh, dibawah ini beberapa mekanisme kehilangan panas pada
bayi :
1. Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban
yang melekat pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera
dikeringkan. Contoh : air ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak
cepat dikeringkan serta bayi segera dimandikan.
2. Konduksi
Adalah kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak
langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti :
meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah
dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui
mekanisme konduksi apabila bayi diletakan di atas benda tersebut.
3. Konveksi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar
udara sekitar yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika
konveksi aliran udara dan kipas angin, hembusan udara melalui
ventilasi atau pendingin ruangan.

4
4. Radiasi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan
di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu
tubuh bayi karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas
tubuh bayi (Saifuddin, 2002).
Banyak faktor resiko dari hipotermi, antara lain bayi baru lahir
tidak segera dikeringkan, terlalu cepat dimandikan, setelah
dikeringkan tidak segera diberi pakaian, tidak segera didekap pada
tubuh ibu, bayi baru lahir dipisahkan dari ibunya, tidak segera
disusui ibunya, berat badan bayi baru lahir rendah, bayi tidak segera
dibungkus dan bayi sakit (Departemen Kesehatan RI, 1998).

2.1.3 Tanda dan Gejala


Tanda-tanda hipotermi sedang (stress dingin)
1. Aktivitas berkurang, latergi
2. Tangisan lemah
3. Kulit berwana tidak rata (cutis marmorata)
4. Kemampuan menghisap lemah
5. Kaki teraba dingin

Tanda-tanda hipotermi berat (cedera dingin)

1. Sama dengan hipotermi sedang


2. Bibir dan kuku kebiruan
3. Pernafasan lambat
4. Pernafasan tidak teratur
5. Bunyi jantung lambat
6. Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic

Tanda-tanda stadium lanjut hipotermia

1. Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang


2. Bagian tubuh lainnya pucat

5
3. Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung,
kaki, dan tangan (skelerema).

2.1.4 Pencegahan
1. Keringkan bayi dengan seksama.
2. Pastikan tubuh bayi dikeringkan segera lahir untuk mencegah
kehilangan panas disebabkan oleh evaporasi cairan ketuban pada
tubuh bayi. Keringkan bayi dengan handuk atau kain yang telah
disiapkan di atas perut ibu.
3. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat, serta
segera mengganti handuk atau kain yang dibasahi oleh cairan
ketuban.
4. Selimuti bagian kepala
5. Pastikan bagian kepala bayi ditutupi atau diselimuti setiap saat.
Bagian kepala bayi memiliki luas permukaan yang relatif luas dan
bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika bagian tersebut tidak
tertutup.
6. Tempatkan bayi pada ruangan yang panas
7. Suhu ruangan atau kamar hendaknya dengan suhu 280 C 300 C
untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi.
8. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
9. Pelukan ibu pada tubuh bayi dapat menjaga kehangatan tubuh dan
mencegah kehilangan panas. Anjurkan ibu untuk menyusukan
bayinya segera setelah lahir. Pemberian ASI lebih baik ketimbang
glukosa karena ASI dapat mempertahankan kadar gula darah.
10. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
11. Karena bayi baru lahir cepat dan mudah kehilangan panas tubuhnya
(terutama jika tidak berpakaian) sebelum melakukan penimbangan
terlebih dahulu selimuti bayi dengan kain atau selimut bersih dan
kering (Affandi, 2007).

6
2.1.5 Penatalaksanaan
1. Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal.
Tindakan yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi
di dalam incubator atau melalui lampu penyinaran.
2. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan oleh setiap
orang adalah menghangatkan bayi melalui panas tubuh. Bayi
diletakkan telungkup didada ibu agar terjadi kontak kulit langsung
ibu dan bayi. Untuk menjaga agar bayi tetap hangat, tubuh ibu dan
bayi harus berada pada satu pakaian, disebut metode kangguru.
Sebaiknya ibu menggunakan bapaian longgar berkancing depan.
3. Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat
yang disetrika terlebih dahulu, yang digunakan untuk menutupi
tubuh bayi dan ibu. Lakukan berulang kali sampai tubuh bayi
hangat.
4. Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia, sehingga bayi
harus diberi ASI sedikit-sedikit sesering mungkin. Bila bayi tidak
menghisap, diberi infuse glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per
hari.

Bagan penanganan hipotermi neonatorum

Tanda-tanda Aktivitas berkurang (latergi), tangisan lemah,


kemampuan menghisap lemah, bibir dan kuku
kebiruan, kaki bayi teraba dingin.
Kategori Hipotermi sedang Hipotermi berat
Penilaian Suhu aksila 32oC-36oC suhu aksila <32oC
Penanganan Bidan / - Keringkan bayi dengan handuk hangat
Puskesmas - Memberikan lingkungan hangat dengan cara
kontak kulit ke kulit (metode kangguru) dan/
dibungkus dengan kain hangat
- Kepala bayi ditutup topi
- Kain yang basah harus secepatnya diganti dengan
yang kering dan hangat

7
- Sering disusui
- Hipotermi berat, rujuk ke rumah sakit
Penanganan Rumah - Sama dengan di atas
Sakit - Beri lampu 60 watt dengan jarak minimal 60 cm
dari bayi.
- Dalam incubator
- Penghangatan kembali dengan metode yang sesuai
(dalam incubator, pemanasan perlahan 0,5-
1oC/jam)
- Hipotermi berat infuse dekstrose 10%

2.2 HIPOGLIKEMIA
2.2.1 Definisi
Istilah hipoglikemia digunakan apabila kadar gula darah bayi
secara bermakna di bawah kadar rata-rata bayi seusia dan berat badan
yang sama. Sebagai batasannya pada bayi aterm dengan berat badan
2500 gram atau lebih, kadar glukosa plasma darah lebih rendah dari 30
mg/dl dalam 72 jam pertama dan 40 mg/dl pada hari berikutnya,
sedangkan pada berat badan lahir rendah di bawah 25 mg/dl.(A.H.
Markum, 1996)
Hipoglikema merupakan kadar glukosa darah kurang dari 30
mg/dl. (saifuddin, 2009).

2.2.2 Etiologi
Umumnya hipoglikemia terjadi pada neonatus berumur 1-2 jam.
Hal ini disebabkan oleh karena bayi tidak lagi mendapat glukosa dari
ibu, sedangkan insulin plasma masih tinggi dengan kadar glukosa darah
yang menurun. (A.H. Markum, 1996: 365)
Glukosa merupakan sumber utama energi selama masa janin,
meskipun asam amino dan laktat ikut berperan pada kehamilan lanjut.
Kecepatan glukosa yang diambil janin tergantung dari kadar gula darah
ibu; kadar gula darah janin sekitar 2/3 kadar gula darah ibu. Karena

8
terputusnya hubungan plasenta dan janin maka terhenti pula pemberian
glukosa, bayi aterm dapat mempertahankan kadar gula darah sekitar 50-
60 mg/dl selama 72 jam pertama, sedangkan bayi berat lahir rendah
dalam kadar 40 mg/dl.
Berdasarkan patofisiologi dapat dikelompokan dalam 4 golongan
anak dengan risiko terjadinya hipoglikemia, yaitu :
1. Bayi dari ibu diabetes atau diabetes waktu hamil, dan bayi dengan
eritroblastosis fetalis berat. Bayi demikian cenderung menderita
hiperinsulinisme.
2. Bayi berat badan lahir rendah, yang mungkin mengalami malnutrisi
intrauterin. Pada golongan ini dapat terjadi penurunan cadangan
glikogen hati dan lemak tubuh. BBLR yang termasuk rawan adalah
bayi kecil menurut kehamilan, salah satu bayi kembar yang lebih
kecil (berat badan berbeda 25% atau lebih, berat badan lahir kurang
dari 2000 gram), bayi yang menderita polisitemia, bayi dari ibu
toksemia, dan bayi dengan plasenta yang abnormal. Faktor lain
yang menyebabkan hipoglikemia pada golongan ini adalah respons
insulin yang abnormal, glikoneogenesis yang terganggu, asam
lemak bebas yang rendah, rasio berat hati yang meningkat,
kecepatan produksi kortisol yang rendah, mungkin kadar insulin
yang meningkat, serta respons keluaran epinefrin yang menurun.
3. Bayi sangat kecil atau sakit berat yang mengalami hipoglikemia
karena meningkatnya kebutuhan metabolisme yang melebihi
cadangan kalori, dan bayi berat badan lahir rendah dengan sindrom
gawat nafas, asfiksia perinatal, polisitemia, hipotermia dengan
infeksi sistemik, dan kelainan jantung bawaan sianotik yang
menderita gagal jantung. Penghentian mendadak infus glukosa
terutama yang hipertonik dapat menimbulkan hipoglikemia.
4. Bayi dengan kelainan genetik atau gangguan metabolik primer
(jarang terjadi) seperti galaktosemia, penyakit cadangan glikogen,
intoleransi fruktosa, asidemia propionik, asidemia metilmalonik,
tirosinemia, penyakit sirop mapel, sensitivitas terhadap leusin,

9
insulinoma, nesidioblastosis sel beta, hiperplasia sel beta
fungsional, panhipopituitarisme, sindrom Beckwith, dan bayi
raksasa.

2.2.3 Tanda dan Gejala


Timbulnya gejala hipoglikemia bervariasi, dari beberapa jam,
hari, sampai satu minggu setelah lahir. Berikut ini merupakan gejala
klinis yang disusun mulai dengan frekuensi tersering, yaitu gemetar
atau tremor, serangan sianosis, apatis, kejang, serangan apneu
intermiten atau takipneu, tangis yang lemah atau melengking, letargi,
kesulitan minum, dan terdapat gerakan mata yang memutar. Dapat pula
timbul keringat dingin, pucat, hipotermia, gagal jantung, dan henti
jantung. (A.H. Markum, 1996)

2.2.4 Pencegahan
Pencegahan penting dilakukan pada bayi dengan hipoglikemia
dan oleh karena itu bayi harus mendapatkan :
1. Pengendalian suhu yang adekuat (tetap hangat)
2. Menyusu sejak awal (dalam 1 jam kelahiran) dan 100 ml/kg/hari jika
diberikan susu formula.
3. Pemberian susu secara sering (setiap 3 jam atau kurang)
4. Pemeriksaan glukosa darah segera sebelum pemberian susu kedua
kalinya dan kemudian setiap 4-6 jam. (Diane M.Fraser, 2009)

2.2.5 Penatalaksanaan
Bila tanpa kejang, bolus intravena 200 mg/kg BB (2 ml/kg BB)
glukosa 10% cukup efektif untuk meninggikan kadar gula darah. Bila
terdapat kejang digunakan larutan glukosa 10-25% dengan dosis total 1-
2 g/kg BB. Kemudian dilanjutkan dengan infus glukosa 4-8 mg/kg
BB/menit. Bila hipoglikemia berulang, digunakan infus glukosa 15-
20% dan bila tidak mencukupi diberikan hidrokortison 2,5 mg/kg
BB/12 jam atau prednison 1mg/kg BB/24 jam. Pemeriksaan kadar gula

10
darah dilakukan setiap 2 jam sampai beberapa hasil menunjukkan kadar
di atas 40 mg/dl. Kemudian pemeriksaan dilanjutkan setiap 4-6 jam,
pengobatan dikurangi dan dihentikan bila kadar glukosa darah sudah
normal dan bayi tidak menunjukkan gejala selama 24-48 jam. Biasanya
diperlukan pengobatan selama beberapa hari sampai satu minggu,
jarang sampai beberapa minggu.
Bayi dengan risiko hipoglikemia memerlukan pemeriksaan kadar
gula darah sejak 1 jam kehidupan dan diulangi setiap 1-2 jam selama 6-
8 jam pertama, kemudian setiap 4-6 jam selama 24 jam kehidupan. Bayi
demikian, walaupun normoglikemik, memerlukan susu formula secara
oral sejak 2-3 jam pertama dengan interval 2 jam selama 24-48 jam.
Bila hal ini tidak dapat ditoleransi atau terjadi hipoglikemia neonatal
asimtomatik sementara, perlu diberikan glukosa 4mg/kg BB/menit
secara intravena. (A.H. Markum, 1996)

2.2 HIPERBILIRUBINEMIA
2.3.1 Pengertian
Hiperbilirubinemia ialah suatu keadaan dimana kadar
bilirubinemia mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi
menimbulkan kern-ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik.
Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah.
Ikterus ini akan pada sebgaian penderita dapat berbentuk fisiologik dan
sebagian lagi mungkin bersifat patologik yang dapat menyebabkan
kematian. (Sarwono, 2006)
Hiperbilirubinemia adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam
darah yang kadar nilainya lebih rendah dari normal. Biasanya terjadi
pada bayi baru lahir. (Suriadi, 2001)
Hiperbilirubinemia adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin
serum yang menjurus ke arah terjadinya kern ikterus atau ensefalopati
bilirubin bila kadar bilirubin tidak dikendalikan. (Mansjoer,2008)

11
2.3.2 Metabolisme Bilirubin
Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus
dikeluarkan oleh tubuh. Pembentukan bilirubin di mulai dari proses
oksidasi yang menghasilkan biliverdin, kemudian mengalami reduksi
dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX alfa. Zat ini sulit larut
dalam air tetapi larut dalam lemak, karena mempunyai sifat lipofilik
yang sulit disekresi dan mudah melalui membaran biologik seperti
plasenta dan sawar darah otak. Bilirubin bebas tersebut kemudian
bersenyawa dengan albumin dan di bawa ke hepar. Dalam hepar terjadi
terjadi mekanisme ambilan sehingga bilirubin terikat oleh reseptor
membran sel hati dan masuk kedalam hati dan langsung terjadi
persenyawaan dengan ligandin (protein-y), protein Z dan glutation hati
lain membawanya keretikulum endoplasma hati, tempat terjadinya
konjugasi. Proses ini ditimbul berkat adanya enzim glukuronil
transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk. Jenis
bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat
disekresikan melalui duktus hepatikus kedalam saluran pencernaan dan
selanjutnya menjadi urobilinogen dan keluar dengan tinja sebagai
strekobilin
Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin
indirek pada hari hari pertama kehidupan. Hal ini terjadi karena
terdapatnya proses fisiologik tertentu pada neonatus. Proses tersebut
antara lain karena tingginya kadar eritrosit nenonatus, masa hidup
eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari), dan sebelum matangnya fungsi
hepar. Peninggian kadar bilirubin terjadi pada hari ke 2-3 dan
menacapai puncaknya pada hari ke 5-7, kemudian akan menurun
kembali pada hari ke 10-14. Kadar bilirubin pun biasanya tidak
melebihi 10 mg/dl pada bayi cukup bulan dan kurang bulan dari 12/mg
pada bayi kurang bulan, keadaan ini masih dianggap normal oleh
karena itu disebut ikterus fisiologik.
Masalah akan timbul jika produksi bilirubin ini terlalu berlebihan
atau konjugasi hati menurun sehingga tejadi kumulasi didalam darah.

12
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan
kerusakan sel tubuh tertentu, misalnya kerusakan sel otak yang akan
mengakibatkan gejala sisa di hari kemudian. Kadar bilirubin yang dapat
menimbulkan efek patologik disebut hiperbilirubinemia. Tingginya
kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologik tersebut tidak
selalu sama pada setiap bayi. Di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangun
Kusumo Jakarta, bayi yang dinyatakan menderita hiperbilirubinemia
apabila kadar bilirubin total mencapai 12mg/dl atau lebih pada bayi
cukup bulan, sedangkan pada bayi kurang bulan bila kadarnya lebih
dari 10 mg/dl. .(A.H. Markum, 1996)

13
2.3.3 Pengeluaran bilrubin
Bilirubin bebas atau tidak terkonjugasi mudah dipindahkan
melewati plasenta dari sirkulasi janin ke sirkulasi ibu dan sebaliknya,
apabila kadar bilirubin tidak terkonjugasi dalam plasma ibu tinggi.
Bilirubin glukuronid bersifat larut air dan normalnya di eksresikan ke
dalam empedu oleh hati ke dalam urin oleh ginjal apabila kadar
plasmanya meningkat. Sebaliknya, bilirubin tidak terkonjugasi tidak
dieksresikan ke urin atau empedu.

2.3.4 Etiologi
1. Ikterik yang dikaitkan dengan menyusui
- Breast Feeding Jaundice
Hal ini menyatakan bahwa ada hubungan antara jumlah
pemberian ASI selama tiga hari pertama dengan kadar bilirubin.
Semakin banyak memberikan ASI maka akan semakin rendah
kadar bilirubin bayi.
- Breast Milk Jaundice
Dikatakan sebagai suatu peningkatan hiperbilirubinemia indirek
setelah minggu pertama kehidupan bayi. Hal ini dikaitkan bahwa
terdapat suatu enzim yang terdapat pada ASI yang menghambat
kerja enzim glukoronil transferase yang diperlukan untuk
mengkonjugasi bilirubin. Terjadi pada 0,5%-2% bayi baru lahir
cukup bulan saja hal ini dapat terjadi.
2. Produksi yang berlebihan
Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya
pada hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh,
ABO, golongan darah lain, defisiensi enzim G-6-PD, pirufat kinase,
perdarahan tertutup dan sepsis.
3. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya
substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguang fungsi hepar, akibat
asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzin glukoronil
transferse (sindrom Criggler-Najjar). Penyebab lain ialah defisiensi
protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam uptake
bilirubin ke sel hepar.
4. Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat oleh albumin kemudian diangkut oleh
hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh
obat misalnya salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin

14
menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas
dalam darah yang mudah melekat ke sel otak
5. Gangguan dalam eksresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau diluar
hepar. Kelainan diluar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan
bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau
kerusakan hepar oleh penyebab lain.

2.3.5 Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat
penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal
ini dapat ditemukan bila terjadi peningkatan penghancuran eritrosit
janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya
peningkatan sirkulasi entero hepatik.
Gangguan ambilan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar bilirubin dalam tubuh. Hal ini terjadi karena kadar
proteinY berkurang atau pada keadaan protein-Y dan protein-Z terikat
oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan
anoksia/hipoksia. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan
kadar bilirubin apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi
enzim glukoronil transfarase) atau bayi yang menderita gangguan
ekskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan empedu
intra/ekstrahepatik.
Kelainan yang terjadi pada otak disebut kernikterus atau
ensefalopati biliaris. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada
susunan saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar
bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Bilirubin akan mudah masuk
melalui sawar darah otak apabila pada bayi terdapat keadaan imaturitas,
berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia, hipoglikemia, dan kelainan
susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma saraf pusat yang terjadi
karena trauma atau infeksi. (A.H. Markum, 1996)

15
2.3.6 Tanda dan Gejala
Ikterus biasanya mulai pada muka dan ketika kadar serum
bertambah, turun ke abdomen dan kemudian kaki. Tekanan kulit dapat
menampakan kemajuan anatomi ikterus (muka 5 mg/dL,tengah
abdomen, 15 mg/dL, telapak kaki 20 mg/dL) tetapi tidak dapat
dijadikan tumpuan untuk memperkirakan kadarnya di dalam darah.
Ikterus pada bagian tengah abdomen, tanda yang memberikan ikterus
nonfisiologis atau hemolisis yang harus dievaluasi lebih lanjut. Iktero
meter atau ikterus transkuder bilirubin serum diindikasikan pada
penderita-penderita yang ikterusnya progresif, bergejala, atau beresiko
untuk mengalami hemolisis atau sepsis. Ikterus akibat pengendapan
bilirubin indirek pada kulit cenderung tampak kuning terang atau
orange, ikterus pada tipe obstruktif (bilirubin direk) kulit tampak
berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini biasanya hanya
terlihat pada ikterus yang berat. Bayi dapat menjadi lesu dan nafsu
makan jelek, perdarahan kulit, dan kejang-kejang karena gangguan
sistem saraf pusat. Tanda-tanda kern ikterus jarang muncul pada hari
pertama ikterus. (Nelson, 1999)

Daeah Luas Ikterus Kadar Bilirubin


(mg%)
1 Kepala dan Leher 5
2 Daerah 1 (+) badan bagian atas 9
3 Daerah 1, 2 (+) badan bagian bawah dan 11
tungkai
4 Daerah 1, 2, 3 (+) lengan dan kaki di bawah 12

16
dengkul
5 Daerah 1, 2, 3, 4 (+) tangan dan kaki 16

Suatu ikterus pada neonatus dikatakan fisiologis jika ditemukan


keadaan berikut, yaitu:
a. Pertama kali muncul pada usia 24-72 jam setelah lahir.
b. Terjadi selama 4-5 hari pada bayi normal dan 7 hari pada bayi
prematur.
c. Kadar bilirubin tidak melebihi 15 mg/dl
d. Tidak terdeteksi secara klinis setelah 14 hari. Atau dengan kata lain
tidak ditemukan dasar patologis.
Peningkatan level bilirubin indirek yang lebih tinggi lagi dapat
digolongkan sebagai keadaan patologis yang dapat disebabkan oleh
berbagai keadaan. Beberapa keadaan berikut tergolong dalam ikterus
patologis, antara lain:

1. Timbul dalam 24 jam pertama kehidupan.


2. Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan > 13 mg/dL atau bayi
kurang bulan >10 mg/dL.
3. Peningkatan bilirubin > 5 mg/dL/24 jam.
4. Kadar bilirubin direk > 2 mg/dL.
5. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatabilitas darah,
defisiensi G6PD, atau sepsis)
6. Ikterus yang disertai oleh: Berat lahir <2000 gram="gram"
span="span">, Masa gestasi 36 minggu, Asfiksia, hipoksia, sindrom
gawat napas pada neonatus, Infeksi, Trauma lahir pada kepala,
Hipoglikemia
7. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia >8 hari (pada aterm)
atau >14 hari (pada prematur)

17
2.3.7 Penatalaksanaan
A. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan serum bilirubin(direk dan indirek) harus dilakukan pada
neonatus yang mengalami ikterus. Terutama pada bayi yang tampak
sakit atau bayi-bayi yang tergolong resiko tingggi terserang
hiperbilirubinemia berat.
Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan untuk evaluasi
menentukan penyebab ikterus antara lain adalah golongan darah dan
Coombs test, darah lengkap dan hapusan darah, hitung retikulosit,
skrining G6PD dan bilirubin direk. Pemeriksaan serum bilirubin total
harus diulang setiap 4-24 jam tergantung usia bayi dan tingginya kadar
bilirubin. Kadar serum albumin juga harus diukur untuk menentukan
pilihan terapi sinar atau transfusi tukar(Etika et al, 2006).

Penegakan diagnosis ikterus Diagnosis banding Anjuran Pemeriksaan


neonatarum berdasarkan waktu
kejadiannya: Waktu
Hari ke-1 *Penyakit hemolitik Kadar bilirubin serum berkala
Inkompatibilitas Hb, Ht, retikulosit,sediaan
darah(Rh,ABO) hapus darah golongan darah
Sferositosis. Anemia hemolitik ibu/bayi, uji Coomb
nonsferositosis(defisiensi
G6PD)
Hari ke-2 s.d ke-5 Kuning pada bayi prematur Hitung jenis darah lengkap
Kuning fisiologik, Sepsis Urin mikroskopik dan biakan
Darah ekstravaskular, urin, Pemeriksaan terhadap
Polisitemia infeksi bakteri, golongan darah
Sferositosis kongenital ibu/bayi, uji Coomb
Hari ke-5 s.d ke-10 Sepsis, Kuning karena ASI Uji fingsi tiroid, Uji tapis
Def G6PD, Hipotiroidisme enzim G6PD, Gula dalam urin
Galaktosemia, Obat-obatan Pemeriksaan terhadap sepsis
Hari ke-10 atau lebih Atresia biliaris, Hepatitis Urin mikroskopik dan biakan
neonatal Uji serologi TORCH, Alfa
Kista koledokusm, fetoprotein, alfa1antitripsin,
Sepsis(terutama Kolesistografi, Uji Rose-
infeksi saluran kemih), Bengal
Stenosis pilorik

18
B. Foto Terapi
Sekarang digunakan secara luas untuk mengobati
hiperbilirubinemia. Melalui mekanisme yang belum diketahui,
cahaya tampaknya meningkatkan eksresi bilirubin tidak terkonjugasi
oleh hati. Pada sebagian besar kasus, pemakaian fototerpi
menyebabkan oksidasi bilirubin sehingga kadar bilirubun menurun.
cahaya yang menembus kulit juga meningkatkan aliran darah perifer,
yang semakin meningkatkan fotooksidasi. Diupayakan seluas
mungkin kulit yang terkena cahaya, dan bayi harus di balik setiap
dua jam disertai pemantauan suhu secara cermat untuk menghindari
dehidrasi. Bola lampu fluoresen yang digunakan seyogyanya
memiliki panjang gelombang yang sesuai dan kelopak mata janin
harus ditutup dan dilindungi total dari cahaya. Bilirubin serum harus
dipantau selama paling tidak 24 jam setelah fototerapi dihentikan.
Walaupun jarang, kadang-kadang diperlukan transfusi tukar.
(Cunningham, 2005)
C. Transfusi Tukar
Tujuan transfusi tukar selain menurunkan kadar bilirubin
indirek, juga bermanfaat dalam mengganti eritrosit yang telah
terhemolisis dan membuang pula anti bodi yang menimbulkan
hemolisis. Tindakan transfusi tukar hanya dilakukan apabila pada
suatu saat dijumpai kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl.
Beberapa keadaan lain yang memerlukan ttanfusi tukar dini adalah
kadar bilirubin tali pusat lebih dari 4 mg/dl dan kadar hemoglobin
kurang dari 10 gr/dl atau apabila terdapat peninggian bilirubin yang
terlalu cepat (1 mg/dl tiap jam). (A.H Markum, 1991)

19
BAB III

PENUTUP

20
3.1 Simpulan

Hipotermia adalah gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh,


sehingga mengakibatkan penurunan suhu karena tubuh tidak mampu
memproduksi panas untuk menggantikan panas tubuh yang hilang dengan
cepat. Penyebab hipotermia adalah kehilangan panas, luas permukaan,
kurangnya metabolisme, dan otot bayi lemah. Tanda dan gejala dibagi
menjadi sedang dan berat. Cara yang sangat sederhana dan mudah
dikerjakan oleh setiap orang adalah menghangatkan bayi melalui panas
tubuh. Bayi diletakkan telungkup didada ibu agar terjadi kontak kulit
langsung ibu dan bayi.

Istilah hipoglikemia digunakan apabila kadar gula darah bayi


secara bermakna di bawah kadar rata-rata bayi seusia dan berat badan yang
sama. Umumnya hipoglikemia terjadi pada neonatus berumur 1-2 jam. Hal
ini disebabkan oleh karena bayi tidak lagi mendapat glukosa dari ibu,
sedangkan insulin plasma masih tinggi dengan kadar glukosa darah yang
menurun. Gejala klinis yang disusun mulai dengan frekuensi tersering,
yaitu gemetar atau tremor, serangan sianosis, apatis, kejang, serangan
apneu intermiten atau takipneu, tangis yang lemah atau melengking,
letargi, kesulitan minum, dan terdapat gerakan mata yang memutar. Dapat
pula timbul keringat dingin, pucat, hipotermia, gagal jantung, dan henti
jantung Pencegahan penting dilakukan pada bayi dengan hipoglikemia
dan oleh karena itu bayi harus mendapatkan :

1. Pengendalian suhu yang adekuat (tetap hangat)


2. Menyusu sejak awal (dalam 1 jam kelahiran) dan 100
ml/kg/hari jika diberikan susu formula.
3. Pemberian susu secara sering (setiap 3 jam atau kurang)
4. Pemeriksaan glukosa darah segera sebelum pemberian susu
kedua kalinya dan kemudian setiap 4-6 jam. Bila tanpa kejang,
bolus intravena 200 mg/kg BB (2 ml/kg BB) glukosa 10% cukup
efektif untuk meninggikan kadar gula darah. Bila terdapat kejang
digunakan larutan glukosa 10-25% dengan dosis total 1-2 g/kg BB.

21
Kemudian dilanjutkan dengan infus glukosa 4-8 mg/kg BB/menit.
Bila hipoglikemia berulang, digunakan infus glukosa 15-20% dan
bila tidak mencukupi diberikan hidrokortison 2,5 mg/kg BB/12 jam
atau prednison 1mg/kg BB/24 jam.
Penyebab tersering adalah hemolisis yang timbul akibat
inkompatibilitas golongan darah ABO atau defisiensi enzim G6PD.
Infeksi juga memegang perana penting dalam terjadi
hiperbilirubinemia, keadaan ini terutama terjadi pada penderita
sepsis dan gantroentritis. Beberapa faktor lain yang merupakan
penyebab hiperbilirubinemia adalah hipoksia/anoksia, dehidrasi,
hipoglikemia, dan polisitemia.
Ikterus biasanya mulai pada muka dan ketika kadar serum
bertambah, turun ke abdomen dan kemudian kaki. Ikterus pada bagian
tengah abdomen, tanda yang memberikan ikterus nonfisiologis atau
hemolisis yang harus dievaluasi lebih lanjut. Iktero meter atau ikterus
transkuder bilirubin serum diindikasikan pada penderita-penderita yang
ikterusnya progreif, bergejala, atau beresiko untuk mengalami hemolisis
atau sepsis. Ikterus akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit
cenderung tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe
obstruktif (bilirubin direk) kulit tampak berarna kuning kehijauan taau
keruh. Perbedaan ini biasanya hanya terlihat pada ikterus yang berat.
Bayi dapat menjadi lesu dan nafsu makan jelek. Tanda-tanda
krenikterus jarang muncul pada hari pertam ikterus. Penatalaksanaan
dilakukan Foto Terapi dan Transfusi Tukar

3.2 Saran

Melakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir secara menyuluruh dapat


mendeteksi gejala awal dari kasus kegawatdaruratan yang terjadi pada bayi

22
baru lahir. Sebagai bidan kita harus mampu menangani kasus
kegawatdaruratan neonatal yang terjadi.

23