Anda di halaman 1dari 6

Lampiran 4

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan : Bayi Baru Lahir


Sub pokok bahasan : Tanda tanda bahaya pada bayi baru lahir
Tanggal : 11 Oktober 2014
Waktu : 15 Menit
Sasaran : Ny.F
Tempat : Puskesmas Tanah Sareal

A. Tujuan Intruksional Umum


Setelah mendapat penyuluhan diharapkan ibu mengerti dan memahami
tanda- tanda bahaya pada bayi baru lahir.

B. Tujuan Intruksional Khusus


Setelah mengikuti penyuluhan diharapkan klien mampu:
1. Mengetahui tanda tanda bahaya pada bayi baru lahir
2. Mengetahui cara mengatasi tanda tanda bahaya pada bayi baru lahir

C. Materi
Terlampir

D. Metode
Diskusi

E. Media dan alat


Leaflet

F. Kegiatan penyuluhan
No Waktu Kegiatan penyuluhan Kegiatan peserta
1 Pembukaan Salam pembuka Menjawab salam
(2 Menit) Menjelaskan tujuan
2 Pembahasan Menjelaskan tanda tanda Menyimak
materi bahaya pada bayi dan cara Bertanya dan
(10 Menit) mengatasinya menjawab
Memberikan kesempatan pertanyaan
kepada ibu untuk bertanya
3 Penutup Menyimpulkan Menjawab salam
(3 Menit) Menutup dengan salam

G. Evaluasi
Mengajukan pertanyaan :
1. Sebutkan tanda tanda bahaya pada bayi?
2. Apa yang harus dilakukan apabila ditemui salah satu tanda tersebut?

H. Daftar pustaka
Kosim, M. Sholeh.2003.Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru
Lahir untuk Dokter, Perawat, Bidan di Rumah Sakit Rujukan Dasar.Jakarta
Vivian, Nanny Lia Dewi.2011.Asuhan Neonatus Bayi dan Anak
Balita.Jakarta:Salemba Medika

Lampiran
MATERI PENYULUHAN
TANDA BAHAYA PADA BAYI BARU LAHIR
Tanda tanda bahaya yang harus diwaspadai pada bayi baru lahir dan cara
mengatasinya:

1. Malas Minum
Tidak mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum. Kondisi
ini terjadi karena bayi mengalami gangguan yang tidak ringan atau infeksi
berat. Jika bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras dengan
menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

2. Gerak dan tangis lemah atau tidak ada


Keadaan umum bayi paling mudah dikenali dari gerakan dan
tangisnya. Bila gerakan melemah dan tangisan lemah atau tidak ada maka
harus diwaspadai kondisi bayi sedang dalam keadaan umum yang tidak
baik. Kondisi tubuh lemah, bayi bergerak saat hanya dipegang, hal ini
menandai bayi sakit berat. Cara mengatasinya dengan segera membawa ke
tempat pelayanan kesehatan.

3. Demam
Apabila suhu tubuh lebih dari 38oC, bayi dipastikan mengalami
demam. Kondisi ini dapat terjadi sebaliknya jika tubuhnya terasa dingin
dengan suhu tubuh kurang dari 36oC. Cara penanganan hipertermi yaitu,
letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal, lepaskan
sebagian pakaian bayi, periksa suhu aksiler setiap jam sampai tercapai
suhu dalam batas normal, bayi dapat dikompres selama 10 15 menit
dalam air yang suhunya 4oC lebih rendah dari suhu tubuh bayi.

4. Merintih dan Sesak


Sesak napas dan terus menerus merintih ini menandakan bayi
mengalami sakit serius. Sesak napas dikenali dengan gerakan napas bayi
yang cepat bila dihitung dalam semenit gerakan napas di dada lebih dari
60 kali permenit. Cara penanganannya yaitu lakukan segera rangsangan
bayi untuk bernafas dengan menggosok dada atau punggung dan segera
bawa ke bidan atau dokter.

5. Infeksi Tali Pusat


Tali pusat kemerahan hingga ke dinding perut dan berbau tajam.
Kebersihan tali pusat yang masih basah perlu dijaga. Tali pusat tidak perlu
diberi alkohol, obat merah atau antiseptik. Yang perlu dilakukan adalah
membersihkannya dengan air matang dan sabun, keringkan dengan kain
bersih dan dapat ditutup longgar dengan kain kasa steril atau dibiarkan
terbuka. Jangan berikan bedak, abu gosok, atau lainnya karena hanya bisa
membuatnya terinfeksi. Umumnya, tali pusat puput dalam 1-2 minggu.
Jika tali pusat tidak puput juga, berbau, berlendir, atau berdarah, segera
bawa ke dokter terdekat. Dalam keadaan seperti itu dapat diberi alkohol
atau betadine sebelum dibawa ke dokter.

6. Infeksi mata
Mata bayi bernanah banyak apabila tidak segera diobati, bayi terancam
kebutaan. Cara mengatasinya yaitu, bersihkan kelopak mata bayi 4 kali
sehari, mulai dari tepi dalam mata sampai tepi luar. Gunakan air bersih
(dimasak dan didinginkan) dan gunakan kasa bersih yang berbeda untuk
setiap mata.

7. Diare dan dehidrasi


Bayi dikatakan mengalami diare jika terjadi pengeluaran feses yang
tidak normal, baik dalam jumlah maupun bentuk. Neonatus dikatakan
diare bila sudah lebih dari 4 kali buang air besar. Jika kulit perut bayi
dicubit kembali dengan lambat, hal ini menandakan dia mengalami
kekurangan cairan dalam tahap kronis. Kadangkala menilai tanda
kekurangan cairan pada bayi baru lahir tidak mudah. Salah satu yang dapat
dinilai adalah penurunan berat badan dalam 1-7 hari menurun drastis
kurang dari 10%. Jika bayi mengalami dehidrasi, ASI diberikan lebih
sering dan lebih lama.

8. Kuning Tinggi
Warna kuning ini terjadi akibat penumpukan zat kimia yang disebut
bilirubin. Kuning pada bayi akan berbahaya bila muncul kurang dari 24
jam setelah lahir, pada umur lebih dari 14 hari, dan kuning sampai ke
telapak tangan atau kaki. Pada bayi terutama yang lahir kurang bulan,
kadang terlihat agak kuning pada beberapa hari setelah kelahiran. Hal ini
disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari kurangnya asupan susu, golongan
darah anak dan ibu berbeda yang menyebabkan hemolisis, hingga infeksi.
Jika bayi menderita kuning dalam 24 jam pertama kelahiran, harus
segera dibawa ke rumah sakit. Jika kuning muncul pada hari ke-2 atau
lebih, sebaiknya diperiksakan dahulu ke dokter. Beberapa keadaan kuning
pada bayi dapat dilakukan terapi sinar dan yang lainnya dapat dilakukan
rawat jalan. Namun, semuanya setelah melewati pemeriksaan dokter.
Terapi sinar dilakukan bervariasi lamanya, setiap harinya bayi akan
dilakukan pemeriksaan bilirubin untuk mengetahui apakah kadar
bilirubinnya sudah turun atau belum. Rata-rata bayi diberikan terapi sinar
antara 2-5 hari.

9. Hipotermia (suhu rendah)


Bayi baru lahir terutama bayi dengan berat lahir rendah (< 2.500 gram)
beresiko mengalami kedinginan karena luas permukaan bayi relatif lebih
luas sehingga mengalami paparan yang lebih banyak. Hipotermia adalah
keadaan suhu tubuh bayi dibawah 36C. Untuk menghindari dan
mengatasi masalah hipotermia dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti lakukan skin-to-skin-contact atau kontak kulit bayi ke kulit ibu.
Tubuh ibu akan bertindak sebagai termoregulator dan menstabilkan suhu
bayi. Perhatikan suhu ruangan, jaga agar tetap hangat. Berikan pakaian
yang cukup hangat untuk bayi. Jika perlu, berikan selimut ekstra saat
malam hari untuk mencegah kedinginan. Pada bayi berat lahir rendah
dapat dilakukan perawatan metode kangguru. Jika suhu tubuh bayi tetap
dingin, segera bawa ke dokter.

10. Kejang
Kejang kadang kadang sulit dibedakan dengan gerakan normal. Jika
melihat gejala atau gerakan yang tidak biasa terjadi berulang-ulang dan
tidak berhenti saat bayi disentuh, kemungkinan besar bayi mengalami
kejang. Gejalanya berulang-ulang dalam rupa menguap, mengunyah,
mengisap, bola mata berputar-putar, kaki seperti mengayuh sepeda, mata
mendelik, dan berkedip. Cara mengatasinya segera membawa ke tempat
pelayanan kesehatan.