Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL ADVOKASI

PROGRAM PEMBERDAAAN MASYARAKAT TENTANG PENYULUHAN ASI


EKSKLUSIF KEPADA TOKOH MASYARAKAT

Disusun Oleh:

Ezhati Dwi Riani (15034000 )

Oktoviani Rahmawati (15034000 )

Idcha Kusuma (15034000 )

Fadhilah Pamuji (1503400018)

Mariyatul Fitriyah (1503400015)

Ive Nowitasari (1503400023)

Ana Vitria (1503400029)

Lathifah Putri Anggraini (1503400031)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN GIZI
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV GIZI
MALANG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan
tidak hanya mengenai sebagian dari tata cara hidup saja yang dianggap lebih
tinggi dan diinginkan, sehingga kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek
kehidupan salah satunya adalah kesehatan masyarakat. Perlunya peran sosial
budaya masyarakat terhadap kesehatan masyarakat dalam membentuk,
mengatur serta mempengaruhi suatu tindakan atau kegiatan individu dalam
kelompok sosial untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. (Ludin, 2009)
Kebudayaan berperan terhadap perilaku individu maupun kelompok
masyarakat sehingga memiliki dua dampak yakni menopang perilaku kesehatan
serta juga dapat memperburuk kesehatan. Pada beberapa masyarakat
tradisional di Indonesia masih terdapat konsepsi budaya yang tak terwujud dalam
perilaku berkaitan dengan pola pemberian makan pada bayi yang berbeda
dengan konsepsi kesehatan modern.
Pada perilaku pemberian ASI eksklusif yang tidak terlepas dari
pandangan budaya yang telah diwariskan turun temurun dalam kebudayaan
yang diwariskan (Swasono dan Mutia, 1998 dalam Firanika, 2010). Menyusui
sejak dini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun bayinya. Bagi
bayi, menyusui mempunyai peran penting untuk menunjang pertumbuhan,
kesehatan, dan kelangsungan hidup bayi karena ASI kaya dengan zat gizi dan
antibodi. Sedangkan bagi ibu, menyusui dapat mengurangi morbiditas dan
mortalitas karena proses menyusui akan merangsang kontraksi uterus sehingga
mengurangi perdarahan pasca melahirkan (postpartum) (Riskesdas, 2013).
Kegiatan menyusui yang dilakukan oleh seorang ibu menyusui
merupakan suatu praktek budaya dimana terdapat norma-norma perilaku yang
berbeda dalam budaya (Firanika, 2010) Seperti contoh, pemberian ASI menurut
konsep kesehatan modern ataupun medis dianjurkan selama dua tahun dan
pemberian makanan tambahan berupa makanan padat sebaiknya dimulai
sesudah bayi berumur enam bulan (Firanika, 2010). Hal ini kenyataannya
berbanding dengan konsepsi masyarakat tradisional yang dikemukanan oleh
Maas (2004) dalam Firanika (2010), seperti pada suku Sasak di Lombok, ibu
yang baru bersalin memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh
ibunya terlebih dahulu dan didiamkan selama satu malam) kepada bayinya agar
tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut
ibunya merupakan makanan yang terbaik bagi bayi.
Menyusui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan ibu dan bayi. Bayi
yang diberi ASI eksklusif memiliki kemungkinan 14 kali lebih kecil untuk
mengalami kematian dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif
(Unicef, 2013) UNICEF dan WHO membuat rekomendasi pada ibu untuk
menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya. Sesudah umur 6 bulan, bayi
baru dapat diberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) dan ibu tetap
memberikan ASI sampai anak berumur minimal 2 tahun. Pemerintah Indonesia
melalui Kementerian Kesehatan juga merekomendasikan para ibu untuk
menyusui eksklusif selama 6 bulan kepada bayinya (Riskesdas,2013).
Tidak semua praktek atau perilaku masyarakat yang ada pada awalnya
bertujuan untuk menjaga kesehatan dirinya merupakan praktek yang sesuai
dengan ketentuan medis/kesehatan. Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri
dari berbagai suku seingga memiliki sosial budaya yang beraneka ragam, hal ini
dapat berpengaruh terhadap pola perilaku masyarakat. Sehingga perilaku
tersebut melatar belakangi adanya sosial budaya di masyarakat yang memiliki
dampak positif dan negatif dari sudut kesehatan, yang negatif dapat merugikan
program pembangunan kesehatan masyarakat. Program Tujuan Pembangunan
Milenium atau sering disebut MDGs (Milennium Development Goals) di Indonesia
salah satunya memiliki tujuan menurunkan angka kemiskinan dan kelaparan
yang ekstrem dalam program tersebut adanya perbaikan gizi masarakat yang
memiliki daya ungkit cukup berarti bagi generasi mendatang yang dimulai sejak
dini adalah pemberian ASI eksklusif terhadap bayi berusia 0-6 bulan, namun
sayangnya di Indonesia, setelah sekitar 4 bulan, jumlah bayi yang memperoleh
ASI eksklusif kurang dari seperempatnya (Steller, 2008).

Kenyataannya di Indonesia ibu belum memberikan ASI eksklusif pada usia 0-6
bulan, Menurut Laporan BPS (2010) dalam Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA
(2013) Pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan di Indonesia masih dibawah angka
yang diharapkan (80%) yaitu sebesar 61,5% (72,7% ASI eksklusif 0 bulan, 80,4%
ASI eksklusif 1 bulan, 70,7% ASI eksklusif 2 bulan, 62,4% ASI eksklusif 3 bulan,
48,6% ASI Eksklusif 4 bulan, 33,6% ASI eksklusif 5 bulan), serta menurut Data
Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa persentase pemberian ASI saja dalam 24
jam terakhir semakin menurun seiring meningkatnya umur bayi dengan
persentase terendah pada anak umur 6 bulan (30,2%) hal ini disebabkan bayi
sudah mendapat makanan lain sebelum ia berumur empat bulan. Alasan
pemberian makanan lain secara dini antara lain karena ASI tidak cukup, yang
ditandai dengan bayi menangis.

Menurut data dari Puskesmas Janti cakupan ASI eksklusif dipuskesmas


ini sebanyak 53,8%. Prosentase ini masih dibawah standart cakupan ASI
Eksklusif yakni 80%. Hal ini dapat menjadi prioritas masalah di Puskesmas
Janti. Maka perlunya dukungan dari masyarakat untuk menggerakan kegiatan
ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Janti.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melakukan advokasi kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Puskesmas
Janti Kota Malang untuk menetapkan SK (Surat Keputusan) untuk
mengadakan pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan ASI eksklusif
kepada para tokoh masyarakat.

2. Tujuan Khusus
Mendapatkan keputusan dari Kepala Puskesmas Janti serta Dinas
Kesehatan untuk dapat melaksanakan mengadakan pemberdayaan
masyarakat melalui penyuluhan ASI eksklusif kepada para tokoh
masyarakat.
Mendapatkan dana yang diharapkan untuk terlaksananya pemberdayaan
masyarakat melalui penyuluhan ASI eksklusif kepada para tokoh
masyarakat.
Mendapatkan persetujuan untuk mengedarkan surat keputusan untuk
pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan ASI eksklusif kepada para
tokoh masyarakat.
C. Sasaran
- Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang
- Kepala Puskesmas Kecamatan Janti Kota Malang
- Kelurahan Sukun, Bandungrejosari dan Tanjung Rejo

BAB II
TAHAPAN ADVOKASI

A. Analisis Situasi
- Menurut data Riskesdas tahun 2013 didapatkan hasil bahwa prevalensi
ASI eksklusif seebesar
- Menurut Laporan BPS (2010) dalam Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA
(2013) Pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan di Indonesia masih dibawah
angka yang diharapkan (80%) yaitu sebesar 61,5% (72,7% ASI eksklusif
0 bulan, 80,4% ASI eksklusif 1 bulan, 70,7% ASI eksklusif 2 bulan, 62,4%
ASI eksklusif 3 bulan, 48,6% ASI Eksklusif 4 bulan, 33,6% ASI eksklusif 5
bulan), serta menurut Data Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa
persentase pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir semakin menurun
seiring meningkatnya umur bayi dengan persentase terendah pada anak
umur 6 bulan (30,2%).
- Dari data Riskesdas tahun 2013, dalam pelaksanaan PHBS cakupan
pemberian ASI di indonesia sebanyak 38%
- Cakupan ASI eksklusif di Puskesmas Janti sebanyak 53.8%.

B. Analisa Masalah

- Masih tingginya angka kematian bayi dan ibu hamil.


- Jumlah Ibu Hamil KEK di wilayah Puskesmas Janti sebanyak 134 orang
- Masyarakat masih banyak yang belum mengerti tentang gizi ibu hamil
- Masyarakat masih mempercayai mitos dan anggapan dari para tokoh
masarakat daerah.

Hal-hal yang tersebut di atas memerlukan perhatian khusus dari Dinas


Kesehatan dan Puskesmas Janti dalam menyelesaikan masalah tersebut.

C. Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomer 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
b. Peraturan Pemerintah Nomer 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota
c. Perpres No. 42 Tahun 2013 Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
d. Kepmenkes Nomer 129 tahun 2008 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas
e. Permenkes No. 75 tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang
dianjurkan bagi bangsa Indonesia
f. Permenkes No. 374 tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Nasional
g. Permenkes No. 369 tahun 2007 tentang Upaya Perbaikan Gizi

D. Prioritas Masalah
a) Faktor Pendorong (kekuatan) :
- UU 36 th 2009 tentang; kesehatan Pasal 48 (peningkatan kesehatan dan
pencegahan penyakit) merupakan salah satu dari 18 upaya kesehatan
sehingga UU tersebut dapat menjadi dasar hukum untuk melakukan
kegiatan advokasi
- Adanya dasar hukum untuk pedoman pelaksanaan pelayanan gizi di
masyarakat.
- Jumlah Posyandu di daerah wilayah kerja Puskesmas Janti sebanyak 74
wilayah.
- Terdapat program Pemberdayaan Masyarakat dalam kemandirian hidup
sehat ini yang akan membantu mempercepat trcapainya target ASI
Eksklusif.
b) Faktor Penghambat (kelemahan) :
- Wilayah kerja yang luas mecakup kelurahan Bandungrejosari, kel.
Sukun dan Kel. Tanjungrejo sehingga membutuhkan mobilisasi yang
banyak.
- Belum optimalnya kineja program yang direncanakan pada UU no 36
tahun 2009
- Membutuhkan waktu untuk pendataan ibu hamil KEK
- Sebagian partisipasai masyarakat kurang tentang kesehatan.
c) Peluang
- Ada kegiatan paguyuban bagi ibu kader sehingga mempercepat
koordinasi kegiatan
- Pemberdayaan masyarakat tentang penanganan masalah ASI
Eksklusif
d) Ancaman
- Tokoh Masyarakat enggan untuk melakukan penyuluhan

- Gencarnya promosi susu formula produksi pabrikan.

E. Pesan Advokasi

A. ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan
minuman tambahan lain pada bayi berumur 0 6 bulan. Makanan dan
minuman lain yang dimaksud misalnya air putih, susu formula, jeruk,
madu, air teh, ataupun makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur
susu, biskuit, bubur nasi, dan tim (Nisman dkk., 2011)
ASI eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI secara eksklusif
adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti
susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa tambahan
makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi,
dan tim (Roesli, 2000).
ASI Eksklusif adalah makanan terbaik yang harus diberikan
kepada bayi karena didalamnya terkandung hampir semua zat gizi yang
dibutuhkan oleh bayi. Tidak ada yang dapat menggantikan ASI karena
ASI didesain khusus untuk bayi, sedangkan komposisi susu sapi (susu
sapi segar atau susu formula yang sudah diformulasikan khusus untuk
bayi) sangat berbeda sehingga tidak dapat menggantikan ASI (Yuliarti,
2010).

1. Manfaat ASI Eksklusif


Menurut Hayati (2009) manfaat ASI bagi ibu, antara lain :
a. Manfaat ASI Eksklusif bagi ibu bayi
Isapan awal, sering, dan terus menerus menstimulasi hormon
yang mengatur produksi dan pelepasan kolostrum,
selanjutnya ASI. Kontraksi otot rahim juga terbantu untuk
kembali pada ukuran prahamil. Pemberian ASI secara penuh
selama paling tidak enam bulan membantu ibu bayi kembali
pada bentuk tubuh semula tanpa menjalankan diet khusus.
Ibu bayi menyadari bahwa ia tetap memberikan makan
bayinya di luar rahim dengan sesuatu yang dihasilkan oleh
tubuhnya. Pemberian ASI merupakan bagian tak terpisahkan
dari peran ibu yang baik. Sekali kegiatan itu berlangsung, ibu
bayi dapat menikmatinya.
Semakin bayi mengisap, semakin banyak pula susu yang
dihasilkan. Pembuatan susu adalah proses berkelanjutan
sebagai tanggapan atas rangsangan isapan yang sering.
Susu tidak pernah terisap terisap habis dan kualitasnya tetap
terjaga.
Pemberian ASI tidak memerlukan biaya dan menyenangkan.
ASI merupakan gabungan dari makan dan minum dan tidak
memerlukan persiapan, selalu siap memenuhi tuntutan, siang
dan malam.
Pemberian ASI secara penuh mempunyai efek kontraseptif
tertentu, memperkecil kemungkinan kehamilan walaupun tidak
mungkin mencegah seratus persen.
Pengertian ASI Eksklusif (pemberian ASI secara penuh
selama enam bulan pertama tanpa pemberian makanan atau
minuman lain kepada bayi)
Manfaat ASI Eksklusif untuk bayi
Menurut Roesli (2000) banyak manfaat pemberian ASI
khususnya ASI eksklusif yang dapat dirasakan. Manfaat
terpenting yang diperoleh bayi, antara lain :
1. ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan
komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan
pertumbuhan bayi.
2. ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi
Bayi baru lahir secara alamiah mendapatkan imunoglobulin
(zat kekebalan tubuh) dari ibunya melalui ari-ari. Namun kadar
zat ini akan cepat menurun segera setelah lahir. Jika diberi
ASI yang didalamnya terdapat cairan hidup yang mengandung
zat kekebalan maka tubuh bayi akan terlindungi dari berbagai
penyakit infeksi bakteri, virus, parasit, dan jamur.
3. ASI Eksklusif meningkatkan kecerdasan
Kecerdasan anak berkaitan erat dengan otak maka jelas
bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan
kecerdasan adalah pertumbuhan otak dan nutrisi yang
diberikan. Pertumbuhan otak bayi yang diberi ASI secara
eksklusif selama 6 bulan akan optimal dengan kualitas yang
optimal pula.
4. ASI eksklusif meningkatkan jalinan kasih sayang
Bayi yang sering berada dalam dekapan ibu karena menyusu
akan merasakan kasih sayang ibunya. Perasaan terlindung
dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar perkembangan
emosi bayi dan membentuk kepribadian yang percaya diri dan
dasar spiritual yang baik.

2. Sepuluh Langkan Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM)


1. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui.
2. Melatih semua staff pelayanan kesehatan dengan keterampilan.
3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tntang manfaat menyusui dan
penatalaksanaannya melalui unit rawat jalan kebidanan dengan
memberikan penyuluhan.
4. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayinya dalam waktu 30 menit
setelah melahirkan, yang dilakukan diruang bersalin. Apabila ibu
mendapatkan narkose umum, bayi disusui setelah ibu sadar
5. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan cara
mempertahankannnya, melalui penyuluhan yang dilakukan di ruang
perawatan
6. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI
kepada bayi baru lahir
7. Melaksanakan rawat gabung yang merupakan tanggung jawab
bersama antara dokter, bidan, perawat dan ibu
8. Memberikan ASI kepada bayi tanpa di jadwal
9. Tidak memberikan dot (kempeng)
10. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok pendukung
ibu menyusui, seperti adanya pojok laktasi yang memantau
kesehatan ibu nifas dan bayi, melanjutkan penyuluhan agar ibu
tetap menyusui sampai anak berusia 2 tahun dan demonstrasi
perawatan bayi dan payudara (Pedoman Pekan ASI, 2010)

4. Non ASI Eksklusif


ASI non eksklusif adalah pemberian ASI yang ditambahkan
dengan jenis makanan atau minuman lainnya mulai bayi lahir sampai
usia 6 bulan. Jadi tidak hanya diberi ASI saja, tetapi diberikan tambahan
cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh dan lain-lain
(Haryani, 2014)

Menyusui pada kelompok ASI non eksklusif terbagi menjadi 2 yakni


menyusui predominan dan menyusui parsial. Menyusui predominan menurut
Kementerian Kesehatan adalah menyusui bayi tetapi pernah memberikan
sedikit air atau minuman berbasis air, misalnya teh, sebagai
makanan/minuman prelakteal sebelum ASI keluar. Menyusui parsial adalah
menyusui bayi serta diberikan makanan buatan selain ASI, baik susu formula,
bubur atau makanan lainnya sebelum bayi berumur 6 bulan, baik diberikan
secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelakteal. Pada
Riskesdas 2010, menyusui parsial adalah komposit dai pertanyaan : bayi
masih disusui, pernah diberi makanan prelakteal selain makanan atau
minuman yang berbasis air seperti susu formula, biskuit, bubur, nasi lembek,
pisang atau makanan lainnya.

b. Tujuan
Tujuan Penyuluhan pada tokoh masyarakat tentang masalah ASI
eksklusif adalah memberikan edukasi seputar masalah pada bayi dan ibu
mensui agar dapat disampaikan secara langsung oleh ibu menyusui agar
diberikan ASI secara eksklusif. Manfaat utama khususnya untuk kesehatan
janin mengingat pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan anak dalam
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

3. Parameter
1. Hardware

Penggalaan kegiatan penyuluhan telah diatur pemerintah melalui UU


No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Penyuluhan kepada tokoh masyarakat
tentang ASI eksklusif yang diselenggarakan dibiayai dari dana Bantuan
Operasional Kesehatan (BOK). Selain itu penyuluhan dapat dibiayai dari
bantuan lainnya seperti partisipasi masyarakat, dunia usaha dan pemerintah
daerah.
. Kebutuhan sarana dan prasarana disiapkan oleh pelaksana program
dibantu dengan pemerintah setempat seperti kepala kelurahan, RW, RT
maupun kader. Kegiatan dapat dilaksanakan di fasilitas-fasilitas kesehatan
terdekat atau tempat dimana memudahkan masyarakatnya untuk berkumpul,
seperti: puskesmas, puskesmas pembantu, posyandu, balaidesa, balai RW.

2. Software

Berdasarkan UU No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 141 ayat 1


yang berbunyi: Upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk
peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat. Cara-cara
peningkatan mutu gizi perseorangan atau masyarakat dapat dilakukan
dengan cara:

a. Perbaikan pola konsumsi makanan yang sesuai dengan gizi seimbang;

b. Perbaikan perilaku sadar gizi, aktivitas fisik, dan kesehatan;

c. Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan


kemajuan ilmu dan teknologi; dan

d. Peningkatan system kewaspadaan pangan dan gizi.

Peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi yang sesuai dengan


kemajuan ilmu dan teknologi dapat dilakukan dengan penyuluhan secara
terorganisir atau berkelompok. Hal ini sesuai dengan UU No 36 tahun 2009
tentang Kesehatan Pasal 62 ayat 1 yang berbunyi: Peningkatan kesehatan
merupakan segala bentuk upaya yang dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau masyarakat untuk mengoptimalkan kesehatan
melalui kegiatan penyuluhan, penyebar luasan informasi, atau kegiatan lain
untuk menunjang tercapainya hidup sehat.

4. Anggaran Dana
a. Sumber Dana
ESTIMASI DANA
No. SUMBER
(Rp)
1. Mandiri -
2. BOK 5.300.000
TOTAL 5.300.000

b. Biaya kegiatan Penyuluhan


No ITEM VOLUME HARGA JUMLAH
(Rp)
. SATUAN (Rp)
1. Leaflet 1000 300 300.000
2. Konsumsi 74 x 5 10.000 3.750.000
penyuluhan
3 Undangan 74 x 5 300 100.000
penyuluhan
4. ATK (Noted 400 2000 800.000
+bulpen) peserta
TOTAL 4.950.000

F. Cara Komunikasi dalam Advokasi

- Presentasi
- Loby
- Diskusi
G. Materi Advokasi
Tabel 1. Materi Advokasi

Sasaran Bentuk Kegiatan Topik

1. Dinas - Presentasi - Data tentang Prevalensi


Kesehatan - Loby cakupan ASI eksklusif
kota Malang - Diskusi - Data kematian bayi dan ibu
2. Kepala hamil
Puskesmas - Program kegiatan yang akan
Janti diberikan
- Anggaran dana dan sarana
yang dibutuhkan

H. Media yang Digunakan

- Slide PowerPoint
- Proposal
- Leaflet
I. Indikator Keberhasilan
- Adanya kebijakan tertulis tentang pemberdayaan masyarakat dalam
penyuluhan ASI eksklusif
- Tersedianya dana yang dialokasikan untuk kegiatan penyuluhan
- Tersedianya saranan untuk kegiatan penyuluhan
J. Rencana Kegiatan Advokasi

Hari,Tanggal : Senin, 18 April 2016


Pukul : 08.00-selesai
Tempat : Puskesmas Janti
Tema :Pemberdayaan masyarakat untuk melakukan
penyuluhan pada tokoh masyarakat tentang ASI eksklusif
Acara : Presentasi dan Diskusi
K. Rencana Biaya Advokasi

No ITEM VOLUME HARGA JUMLAH


(Rp)
. SATUAN (Rp)
1. Pembuatan 4 25.000 100.000
Proposal
2. Konsumsi seminar 10 20.000 200.000
3 Undangan advokasi 10 2.000 20.000
4. ATK 30.000
TOTAL 350.000

L. Rencana Monitoring dan Evaluasi Advokasi

a. Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas serta Koordinator Wilayah


Sponsor menyetujui rencana Pemberdayaan masyarakat untuk melakukan
penyuluhan pada tokoh masyarakat tentang ASI eksklusif

b. Anggaran dapat terealisasikan


DAFTAR PUSTAKA

Riskesdas] Riset Kesehatan Dasar. 2010. Keputusan Kepala Badan Penelitian


dan Pengembangan Kesehatan No. HK.0204/2/2870/2009 tentang Tim
Penyelenggaraan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (Lampiran C).

Adriani, Merryna., Wirjadmadi, Bambang. 2012. Peranan Gizi Dalam Siklus


Kehidupan. Kencana. Jakarta

Almatsier, Sunita. 2009. Perinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta

Almatsier, Sunita., Soetardjo, Susirah., & Soekatri, Moesijanti., 2011. Gizi


Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Aprilia, Yessie. 2010. Hipnostetri Rileks, Nyaman dan Aman Saat Hamil dan
Mlahirkan. Gagas Media, Jakarta.

Arifin, Andryansyah,. Adriani, Merryana,. Kartika, Vita,. Wardhani, Desi L,.


Kusumawati, Susi,. Suroso, Edi,. Taufikurahman. 2011. Analisis Kebijakan
Terkait Budaya Kesehatan terhadap Status Gizi Balita. Laporan Akhir
Penelitian. Balitbangkes Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehata dan
Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan. Surabaya

Basuki, Diana Nurtjahjati. 2009. Mengapa Menyusui perlu dilindungi.


www.gizi.net diakses pada tanggal 20 Dsember 2015

Depkes, 2015, www.depkes.go.id/index.php?txtKeyword=infeksi&act=search-by-


map&pgnumber=0&charindex=&strucid=1280&fullcontent=1&C-ALL=1, 16
Desember 2015 pukul 23.14 WIB

Direktorat Bina Gizi. 2012. Materi Peserta : Pedoman Pelatihan Konseling


Pemberian Makanan Bayi dan Anak. Direktorat Jendral Bina Gizi dan KIA.
Jakarta

Ellya, Eva Sibagariang. 2010. Kesehata dalam Reproduksi. Trans Info Media,
Jakarta.

Fajar, Ibnu., Isnaeni, DTN,. Pudjirahaju, Astutik., Amin, Isman., Sunindya,


B.Rudi., Aswin, AAG. Anom., Iwan S, Sugeng. 2009. Statistika untuk
Praktisi Kesehatan. Graha Ilmu. Yogyakarta

Gybney, MJ., Margets, BM., Keany, J.M dan Arab, L. 2008. Gizi Kesehatan
Masyarakat. EGC. Jakarta.

Hayati, Aslis Wirdha. 2009. Buku Saku Gizi Bayi, EGC. Jakarta

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
Anak. 2011. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor:
1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standart Antropometri Penilaian Status
Gizi Anak. Direktorat Bina Gizi. Jakarta.
Lintang Arzia Nur Rachim, Norma Sosial, 2011, repo.isi-
dps.ac.id/1169/1/Norma_Sosial.pdf, 16 Desember 2015 pukul 23.05 WIB

Ludin, Hasan Basri. 2009. Pengaruh Sosial Budaya Masyarakat Terhadap


Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Rumbai
Pesisir Kota Pekanbaru. Tesis : Program Pasca Sarjana, USU, Medan.

Nisman, W.A., Mera, M., Sandi A dan Lesmana S. 2011. Panduan Pintar Ibu
Menyusui. ANDI, yogyakarta

Notoadmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rhineka


Cipta. Jakarta

Roesli, Utami. 2008. Mengenal ASI Eksklusif. Niaga Sawadaya, Indonesia

Rosita, Syarifah. 2008. ASI untuk Kecerdasan Bayi. Ayyana. Yogyakarta

Sadjaja, Atmaria. 2010. Kamus Gizi. Kompas. Jakarta

Sastroasmoro, Sudigdo. 1995. Dasar-dasar Metodelogi Penelitian Klinis.


Binapura Aksara, Jakarta

Santi, Mina Yumei. 2014. Implementasi Kebijakan Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif Melalui Konseling oleh Bidan Konselor, 8 (8) : 347

Siswosuharjo, suwignyo dan Chakrawati, Fitria. 2010. Panduan Super Lengkap


Hamil Sehat. Niaga Swadaya

Suhardjo. 1992. Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Karisius. Yogyakarta.

Soehardjo. 1992. Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Karisius. Yogyakarta

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. IG.N Gde Ranuh (ed). Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta

Soetjiningsih. 1997. Seri Gizi Klinik: ASI, Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan.
EGC, Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Tim Penanggulangan Gaki Pusat. 2014. Panduan Penegakan Norma Sosial


(Social Enforcement) : Peningkatan Konsumsi Garam Beryodium. Dinkes
Jatim. Jakarta

Trihendradi, C. Dan Indarto. 2010. Wonderpa. Indahnya Pendampingan. ANDI,


Yogyakarta

Unicef Indonesia. 2012. Gizi Ibu dan Anak (Ringkasan Kajian). Indonesia

Prabintini, Dwi. 2010. A to Z Makanan Pendamping ASI. ANDI, Yogyakarta

Yuliarti, Nurhaeni. 2010. Keajaiban ASI. Andi. Yogyakata