Anda di halaman 1dari 15

APOTEKER MULIM

PERANAN APOTEKER MUSLIM DI MASYARAKAT

KELOMPOK 6 :

Anggraini Cahya L 41161097100098


Adia Alghazia 41161097100079
Hadi Qudsi 41161097100075
Pipit Fitriah 411610971000
Gemilang 41161097100060

PROGRAM STUDI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2017
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................


BAB III KESIMPULAN
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Farmasi didefinisikan sebagai profesi yang menyangkut seni dan ilmu penyediaan
bahan obat, dari sumber alam atau sintetik yang sesuai, untuk disalurkan dan digunakan pada
pengobatan dan pencegahan penyakit. Farmasi mencakup pengetahuan mengenai identifikasi,
pemilahan (selection), aksi farmakologis, pengawetan, penggabungan, analisis, dan
pembakuan bahan obat (drugs) dan sediaan obat (medicine). Pengetahuan kefarmasian
mencakup pula penyaluran dan penggunaan obat yang sesuai dan aman, baik melalui resep
(prsecription) dokter berizin, dokter gigi, dan dokter hewan, maupun melalui cara lain yang
sah, misalnya dengan cara menyalurkan atau menjual langsung kepada pemakai. Berdasarkan
Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker
merupakan sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah
jabatan apoteker Pendidikan apoteker dimulai dari pendidikan sarjana (S-1), yang umumnya
ditempuh selama empat tahun, ditambah satu tahun untuk pendidikan profesi apoteker.

Dalam PP No.51 tahun 2009 sudah dipaparkan dengan jelas tentang ruang lingkup
kefarmasian. Namun, untuk membuktikan dan menunjukkan jati diri Apoteker yang
sebenarnya pada masyarakat tidaklah semudah yang dibayangkan. Tidak hanya berlandaskan
teori namun perlu keaktifan dari para Apoteker untuk menunjukkan perannya yang
sebenarnya. Para Apoteker harus mampu dan berani menunjukkan diri. Hal ini tentu saja
tidak akan berlangsung tanpa adanya penguasaan terhadap keprofesian Apoteker.

Salah satu prinsip pekerjaan Farmasis adalah pharmaceutical care dimana farmasis
bertanggungjawab akan ketepatan dari terapi obat dengan tujuan untuk mencapai luaran yang
pasti dalam peningkatan kualitas hidup pasien. Empat luaran tersebut meliputi penyembuhan
penyakit, menghilangkan atau mengurangi simptom yang muncul, menahan atau
menghambat proses penyakit dan mencegah penyakit atau simptom tersebut. Ini adalah Tugas
seorang farmasis karena Pharmaceutical care membutuhkan pengetahuan yang mendalam
tentang farmakoterapi,pemahaman yang baik tentang etimologi penyakit, pengetahuan
tentang produk obat, kemampuan komunikasi yang kuat, monitoring obat, informasi obat dan
keahlian perencanaan terapi serta kemampuan untuk memperkirakan dan menginterpretasikan
data klinis yang ada. Hal ini semua hanya di pelajari oleh seorang farmasis .
Tenaga apoteker sangat dibutuhkan untuk mendukung program pelayanan kesehatan
di era JKN Indonesia. Sebagai seorang tenaga profesional di bidang kesehatan, sayangnya
profesi ini sering kalah pamor di masyarakat dibandingkan profesi tenaga kesehatan lainnya.
Padahal, apoteker memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat karena
yang paling kompeten dan mengetahui tentang obat-obatan adalah orang bidang farmasi. Dari
kenyataan yang ada pada pelayanan kesehatan, peran apoteker sering tidak hadir di
masyarakat. Dari pengalaman yang ada, sering kita jumpai apoteker hanya sebagai nama
pelengkap saja di apotek. Hal tersebut sangat disayangkan, mengingat pentingnya peran
apoteker dalam memberikan penyuluhan mengenai kefarmasian pada masyarakat dan
menurut PP No. 51 tahun 2009 pasal 24 tentang pekerjaan kefarmasian, dijelaskan pula
bahwa yang harus menyerahkan obat yang harus ditebus dengan resep kepada pasien adalah
apoteker sesuai dengan prinsip TATAP (Tanpa Apoteker, Tidak Ada Pelayanan).
Hal mengenai pelayanan kefarmasian dapat dilihat di UU No. 36 tahun 2009, Pasal 108
Ayat 1 tentang tenaga kesehatan yang menyatakan bahwa praktik kefarmasiaan meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi
obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Pernyataan yang sejenis juga
tertuang pada PP No. 51 tahun 2009, pasal 1 yang menegaskan bahwa pekerjaan kefarmasian
adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan,
penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat
atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional. Bidang farmasi klinik hanyalah salah satu dari beberapa bidang yang menjadi
tanggung jawab apoteker di Indonesia. Namun karena famasi klinik atau pelayanan sangat
berhubungan langsung dengan masyarakat maka bidang tersebutlah yang paling terekspos.
Hendaknya apoteker memiliki tanggung jawab seperti tenaga pelayanan kesehatan pada
umumnya yaitu memberikan pelayanan terhadap resep yang dibawa oleh pasien, KIE kepada
masyarakat serta Pelayanan Residensial (Home Care) seperti dikutip dari Surat Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 BAB III tentang
kefarmasian di apotek. Sebagai tambahan, WHO memberikan konsep fungsi dan tugas
Apoteker sesuai dengan kompetensi Apoteker di Apotek yang dikenal dengan Nine Stars
Pharmacist, yaitu:
1. Care giver, artinya apoteker dapat memberi pelayanan kepada pasien, memberi
informasi obat kepada masyarakat dan kepada tenaga kesehatan lainnya.
2. Decision maker, artinya apoteker mampu mengambil keputusan, tidak hanya mampu
mengambil keputusan dalam hal manajerial namun harus mampu mengambil
keputusan terbaik terkait dengan pelayanan kepada pasien, sebagai contoh ketika
pasien tidak mampu membeli obat yang ada dalam resep maka apoteker dapat
berkonsultasi dengan dokter atau pasien untuk pemilihan obat dengan zat aktif yang
sama namun harga lebih terjangkau..
3. Communicator, artinya apoteker mampu berkomunikasi dengan baik dengan pihak
eksternal (pasien atau konsumen) dan pihak internal (tenaga profesional kesehatan
lainnya).
4. Leader, artinya apoteker mampu menjadi seorang pemimpin di apotek. Sebagai
seorang pemimpin, Apoteker merupakan orang yang terdepan di apotek, bertanggung
jawab dalam pengelolaan apotek mulai dari manajemen pengadaan, pelayanan,
administrasi, manajemen SDM serta bertanggung jawab penuh dalam kelangsungan
hidup apotek.
5. Manager, artinya apoteker mampu mengelola apotek dengan baik dalam hal
pelayanan, pengelolaan manajemen apotek, pengelolaan tenaga kerja dan administrasi
keuangan. Untuk itu Apoteker harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik,
yaitu keahlian dalam menjalankan prinsip-prinsip ilmu manajemen.
6. Life long learner, artinya apoteker harus terus-menerus menggali ilmu pengetahuan,
senantiasa belajar, menambah pengetahuan dan keterampilannya serta mampu
mengembangkan kualitas diri.
7. Teacher, artinya apoteker harus mampu menjadi guru, pembimbing bagi stafnya,
harus mau meningkatkan kompetensinya, harus mau menekuni profesinya, tidak
hanya berperan sebagai orang yang tahu saja, tapi harus dapat melaksanakan
profesinya tersebut dengan baik.
8. Researcher, artinya apoteker berperan serta dalam berbagai penelitian guna
mengembangkan ilmu kefarmasiannya.
9. Enterpreneur, artinya apoteker diharapkan terjun menjadi wirausaha dalam
mengembangkan kemandirian serta membantu mensejahterakan masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa pekerjaan seorang apoteker adalah pekerjaan
yang mulia. Apoteker adalah profesi yang memberikan manfaat bagi masyarakat dalam
bidang kesehatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 35
tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek, pada Pasal 3 ayat (1)
dinyatakan bahwa Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek meliputi:

A. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai.

B. Pelayanan Farmasi Klinik. Pasal 3 ayat (2) sebagai mana dimaksud pada ayat 1,
dinyatakan bahwa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
meliputi:

A. Perencanaan Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat


kesehatan, dan bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola
konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.

B. Pengadaan Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan


sediaan farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

C. Penerimaan Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis


spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam surat
pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.

D. Penyimpanan Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik.
Dalam hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka
harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas pada
wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama obat, nomor batch dan
tanggal kadaluwarsa. Semua obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya. Sistem penyimpanan dilakukan dengan
memperhatikan bentuk sediaan dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.
Pengeluaran obat memakai sistem FEFO dan FIFO.
E. Pemusnahan Obat kadaluarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis
dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang mengandung
narkotika dan psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Pemusnahan obat selain narkotika dan psikotropika
dilakukan oleh Apoteker dan disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki
surat izin praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan berita acara
pemusnahan. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat
dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan oleh sekurang-
kurangnya petugas lain di apotek dengan cara dibakar atau cara pemusnahan lain yang
dibuktikan dengan berita acara pemusnahan resep, dan selanjutnya dilaporkan kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

F. Pengendalian Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah


persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau
pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk menghindari
terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan
serta pengembalian pesanan. Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu
stok baik dengan cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya
memuat nama obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan
sisa persediaan.

G. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan


sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengandaan
(surat pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk
penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pelaporan terdiri
dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan pelaporan yang
digunakan untuk kebutuhan manajemen apotek, meliputi keuangan, barang dan
laporan lainnya. Sedangkan pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat
untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.

Pada Pasal 3 ayat (3) disebutkan bahwa pelayanan farmasi klinik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi:
A. Pengkajian Resep Kegiatan pengkajian resep meliputi administrasi, kesesuain farmasetik
dan pertimbangan klinis.
1) kajian administratif meliputi: Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan.
Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik, alamat, nomor telepon dan paraf. Tanggal
penulisan resep.

2) kajian kesesuaian farmasetik meliputi: Bentuk dan kekuatan sediaan Stabilitas


Kompatibilitas (ketercampuran obat).

3) pertimbangan klinis meliputi: Ketepatan indikasi dan dosis obat Aturan, cara dan
lama penggunaan obat Duplikasi dan/atau polifarmasi Reaksi obat yang tidak
diinginkan (alergi, efek samping obat, manifestasi klinis lain) Kontra indikasi
Interaksi Apabila ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka
Apoteker harus menghubungi dokter penulis resep.

B. Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi obat. Setelah
melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai berikut: Menyiapkan obat sesuai dengan
permintaan resep Melakukan peracikan obat bila diperlukan Memberikan etiket Memasukkan
obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat yang berbeda untuk menjaga mutu
obat dan menghindari penggunaan obat yang salah. Setelah penyiapan obat dilakukan hal
sebagai berikut: Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan
kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan serta jenis dan jumlah
obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan resep). Memanggil nama dan nomor tunggu
pasien Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien Menyerahkan obat yang disertai
pemberian informasi obat Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang
terkait dengan obat Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang
baik Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau keluarganya Membuat
salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh Apoteker (apabila diperlukan)
Menyimpan resep pada tempatnya Apoteker membuat catatan pengobatan pasien.

C. Pelayanan Informasi Obat Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan
oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak, dievaluasi
dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan obat kepada profesi
kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat
bebas dan herbal.
D. Konseling Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan pasien/keluarga
untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan kepatuhan sehingga terjadi
perubahan perilaku dalam penggunaan obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi
pasien.

E. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home pharmacy care) Apoteker sebagai pemberi


layanan diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan
rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis
lainnya.

F. Pemantauan Terapi Obat Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien
mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan
meminimalkan efek samping.

G. Monitoring Efek Samping Obat Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap
obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan
pada manusia untuk tujuan diagnosis dan terapi atau memodifikasi fungsi fisiologis.

Peradaban Islam dikenal sebagai perintis dalam bidang farmasi. Para ilmuwan
Muslim di era kejayaan Islam sudah berhasil menguasai riset ilimiah mengenai komposisi,
dosis, penggunaan, dan efek dari obat-obatan sederhana dan campuran. Selain menguasai
bidang farmasi, masyarakat Muslim pun tercatat sebagai peradaban pertama yang memiliki
apotek atau toko obat. Sharif Kaf al-Ghazal dalam tulisannya bertajuk The valuable
contributions of Al-Razi (Rhazes) in the history of pharmacy during the Middle Ages,
mengungkapkan, apotek pertama di dunia berdiri di kota Baghdad pada tahun 754 M. Saat
itu, Baghdad sudah menjadi ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. ''Apotek pertama di Baghdad
didirikan oleh para apoteker Muslim,'' ungkap al-Ghazal.

Tidak cuma itu, Sabur ibnu Sahl (wafat 869 M), juga tercatat sebagai dokter pertama
yang mencetuskan pharmacopoedia. Ia telah menjelaskan beragam jenis obat-obatan untuk
mengobati penyakit. Saintis Muslim lainnya yang turut menopang tumbuhnya aoptek di era
Islam adalah al-Biruni (973-1050 M). Sang ilmuwan legendaris Islam itu telah menulis buku
farmakologi yang sangat berharga bertajuk Kitab al-Saydalah ( Buku tentang Obat-obatan).
Dalam kitabnya itu, al-Biruni menjelaskan secara detail pengetahuan mengenai peralatan
untuk pembuatan obat-obatan, peran farmasi, fungsi serta tugas apoteker. Ia juga menjelaskan
tentang apotek. Ilmuwan Muslim lainnya, Ibnu Sina alias Avicenna juga menulis tak kurang
dari 700 persiapan pembuatan obat, peralatannya, kegunaan dan khasiat obat -obatan
tersebut. Kontribusi Ibnu Sina dalam bidang farmasi itu dituliskannya dalam bukunya yang
sangat monumental Canon of Medicine. Ilmuwan Muslim lainnya yang turut menopang
berdiri serta berkembangnya apotek di dunia Islam adalah al-Maridini dan Ibnu al-Wafid
(1008-1074). Kedua karya ilmuwan Muslim itu telah dicetak dalam bahasa Latin lebih dari
50 kali. Kitab yang ditulis keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin berjudul De
Medicinis universalibus et particularibus dan Medicamentis simplicibus.

Sejak dulu, apotek yang dikelola apoteker merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari institusi rumah sakit. Hal itu sama halnya dengan farmasi dan farmakologi yang juga
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu kedokteran. Dunia farmasi profesional
secara resmi terpisah dari ilmu kedokteran di era kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah.

syif (kebaikan) danrahmah sangat bergantung pada manusia yang mengharapkannya.


Apakah yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan utama untuk memerolehnya?
Semakin terpenuhi persyaratan utamanya, maka semakin mungkin seseorang akan
memeroleh syif dan rahmah dari Allah, begitu juga sebaliknya. Yang perlu di garis bawai
jawaban tegasnya adalah IMAN Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surat Isr/17:
82

Dan Kami turunkan dari al Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang
zalim selain kerugian. (QS al-Isr/17: 82)

Dia yang menjadikan penyakit dan dia pula yang menyembuhkannya, sebagaimana
diingatkan Allah dalam surat Asy Syuaraa 80 :
80. dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (Asy Syuaraa 80).

Penyakit ada dua macam, yaitu penyakit hati dan penyakit jasmani. Metodologi
pengobatan Nabi terhadap penyakit ada tiga, yaitu:

1. Menggunakan obat alamiyah (makanan/minuman/terapi).


2. Menggunakan obat Ilahiyah (dengan ruqyah/do'a).
3. Kombinasi dari keduanya.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia turunkan pula obat untuk
penyakit tersebut." (HR. Bukhari).

Disebutkan pula dari hadits Usamah bin Syarik radiallohu anhu, berkata :
Telah datang seorang Baduwi kepada Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam, lalu
berkata: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia terbaik? Beliau menjawab: yang paling baik
akhlaknya. Lalu Ia bertanya lagi: Wahai Rasulullah, Apakah boleh kami berobat? Jawab
Rasulullah Shallallohu alaihi wasallam, :

Berobatlah wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu penyakit
melainkan Allah menurunkan obat untuknya, ada yang mengetahuinya dan ada pula yang
tidak mengetahuinya.

Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain merupakan perkara yang sangat
dianjurkan oleh agama. Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:

Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain
Hadist di atas menunjukan bahwa Rasullullah menganjurkan umat islam selalau
berbuat baik terhadap orang lain dan mahluk yang lain. Hal ini menjadi indikator bagaimana
menjadi mukmin yang sebenarnya. Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh
kemanfataannya pada yang lain. Adakah dia berguna bagi orang lain, atau malah sebaliknya
menjadi parasit buat yang lainnya.

Setiap perbuatan maka akan kembali kepada orang yang berbuat. Seperti kita
Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri
kita sendiri dan juga sebaliknya. Allah Jalla wa Alaa berfirman:

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS.
Al-Isra:7).
BAB III
PEMBAHASAN

Sebagai tenaga ahli profesi farmasis yaitu apoteker hendaknya menjalankan tugas-
tugas yang sudah diatur dalam undang-undang dan peraturan pemerintah yang sudah
ditetapkan. Menjalankan tugas sebaik-baiknya agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat
terutama dalam bidang kesehatan (obat-obatan). Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa
sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Apoteker memiliki
kesempatan besar untuk dapat mengaplikasikan firman Allah SWT dan hadist-hadits yang
menjelaskan tentang obat, pengobatan dan memberi manfaat bagi orang lain (masyarakat).

Dengan ilmu yang dimiliki oleh tenaga profesi apoteker dan sebagai muslim, ilmu
yang kita berikan dengan cara konseling kepada pasien adalah salah satu cara untuk
mendapat pahala dari Allah SWT, Jika seseorang meninggal maka terputuslah amalnya
kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu
yang manfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya (HR. Muslim). Sebagai
apoteker muslim kita dapat memberikan manfaat bagi orang sekitar (masyarakat) yang
seluas-luasnya sesuai dengan kapasitas yang kita miliki baik itu ilmu, tenaga, ataupun
manfaat lainnya. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT dan selalu diberikan
kesehatan yang kita ketahui bahwa sehat itu mahal.
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

binfar.kemkes.go.id

http://www.kompasiana.com/irmawidiastari/menguak-peranan-apoteker-di-
masyarakat_567c2bb362afbdf717109885

http://www.republika.co.id/berita/shortlink/48652

http://www.kompasiana.com/johanwanasir/al-quran-sebagai-obat-dari-segala-penyakit-hati-
dan-jasmani_5598ae56939373bb0b97b61b

http://www.fadhilza.com/2015/04/kesehatan/ayat-penyembuh-berbagai-penyakit-dalam-al-
quran.html

http://www.duniaislam.org/20/02/2016/sebaik-baik-manusia-adalah-yang-paling-bermanfaat-
bagi-orang-lain/

Permenkes No.35 tahun 2004

PP No.51 tahun 2009