Anda di halaman 1dari 14

HUBUNGAN FOTOSINTESIS DAN

TRANSPIRASI

Anggota Kelompok :

1. Firda Tri Monisia (08061281621043)


2. Kms M Derry Rahmatullah (08061281621029)
3. Livina Tasia Giwani (08061181621013)
4. Luthfiah Pertiwi (08061381621077)

Dosen Pengampuh : Fitria, S.Farm., M.Si, Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2017
A. Pengukuran Transpirasi

Transpirasi adalah proses yang disebabkan oleh evaporasi air dari daun
tumbuhan dan berhubungan dengan pengambilan air oleh akar dalam tanah.
Aliran disebabkan oleh berkurangnya tekanan hiddrostatif pada bagian atas
tumbuhan akibat difusi air ke atmosfir melalui stomata. Faktor lingkungan sangat
mempengaruhi kecepatan transpirasi cahaya. transpirasi sangat penting bagi
tumbuhan karena berperan dalam hal meningkatkan laju angkut air dan garam
mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari
tubuh, serta mengatur turgor optimum dalam sel.

Pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah dilakukan. Kesulitan


utamanya adalah karena semua cara pengukuran traspirasi mengharuskan
penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju
transpirasi. Ada empat cara laboratorium untuk mengukur laju transpirasi, antara
lain:

1. Kertas korbal klorida

Pada dasarnya cara ini adalah pengukuran uap air yang hilang ke udara
yang diganti dengan pengukuran uap air yang hilang ke dalam kertas kobal
klorida kering. Kertas ini berwarna biru cerah dan tetapi menjadi biru pucat dan
kemudian berubah menjadi merah jambu bila menyerap air. Sehelai kecil kertas
biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan gelas preparat.
Demikian juga bagian bawah daun. Waktu yang diperlukan untuk mengubah
warna biru kertas menjadi merah jambu dijadikan ukuran laju kehilangan air dari
bagian daun yang ditutup kertas.

2. Potometer

Alat ini mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan
asumsi bahwa bila air tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang
diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi.
3. Pengumpulan uap air yang ditranspirasi

Cara ini mengharuskan tumbuhan atau bagian tumbuhan dikurung dalam


sebuah bejana tembus cahaya sehingga uap air yang ditranspirasikan dapat
dipisahkan.

4. Penimbangan langsung

Pengukuran transpirasi yang paling memuaskan diperoleh dari tumbuhan


yang tumbuh dalam pot yang telah diatur sedemikan rupa sehingga evaporasi dari
pot dan permukaan tanah dapat dicegah. Kehilangan air dari tumbuhan ini dapat
ditaksir untuk jangka waktu tertentu dengan penimbangan langsung.

Terdapat beberapa metode lain yang dapat digunakan untuk meakukan


pengukuran transpirasi, antara lain:

1. Metode lisimeter atau metode grafimeter

Dua abad yang lalu, Stephen Hales mempersiapkan tanaman dalam pot
dan tanamannya yang ditutup rapat agar air tidak hilang, kecuali dari tajuknya
yang bertranspirasi kemudian, tanaman dalam pot itu ditimbang pada selang
waktu tertentu, dan arena jumlah air yang digunakan untuk pertumbuhan tanaman
( misalnya, yang diubah menjadi karbohidrat ) kurang dari 1 % dari jumlah air
yang di transpirasikan, maka sebenarnya semua perubahan bobot dapat dianggap
berasal dari transpirasi. Ini dinamakan metode lisimeter.

Hanks dan peneliti lannya sudah banyak sekali mengembangkan metode


sederhana ini. Lisimeter miliknya di kebun Greenville merupakan beberapa bejana
yang besar ( beberapa meter kubik besarnya ) diisi penuh dengan tanah dan
dikuburkan, sehingga permukan atasnya sama tinggi dengan permukaan lapangan.
Bejana terebut diletakkan di dekat bantalan karet besar yang diletakkan
didasarnya dan diisi air dan zat anti beku yang dihubungkan dengan pipa yang
tegak keatas permukaan tanah. Tinggi cairan dalam pipa menunjukkan ukuran
bobot lisimeter, maka permukaannya berubah-ubah sejalan dengan perubahan
kandungan air dalam tanah dilisimeter dan dalam tanaman yang sedang tumbuh,
walaupun bobotnya kecil saja di bandingkan dengan bobot tanah. Jumlah air tanah
di tentukan oleh air irigasi dan jumlah hujan dikurangi evapotranspirasi, yaitu
gabungan antara penguapan dari tanah dan transpirasi dari tumbuhan. Penguapan
dari tanah dapat diduga dengan berbagai macam cara. Lisimeter merupakan
metode lapangan paling handal untuk mempelajari evapotransipirasi, tapi memang
mahal dan tidak mudah di pindah-pindahkan. Meskipun tidak diseluruh dunia,
lisimeter banyak digunakan. Teknik yang lebih umum, menggunakan persamaan
perimbangan air untuk menghitung evapotranspirasi dari selisih anars masukkan
dan pengeluaran Et = irigasi + hujan + pengurasan drainase aliran permukaan.
Dengan Et = evapo transpirasi, dan pengurasan adalah kehilangan dari cadangan
tanah. Pengukuran cadangan air tangah pada awal dan akhir suatu periode
menghasilkan nilai pengurasaan.

2. Metode pertukaran gas atau metode kurvet

Dalam metode ini, transpirasi dihitung dengan cara mengukur uap air di
atmosfer yang tertutup yang mengelilingi daun. Sehelai daun di kurung dengan
sebuah kuvet bening misalnya, dan kelembabapan suhu, dan volume gas yang
masuk dan keluar kuvet di ukur.

B. Anatomi Stomata

Stoma adalah lubang atau celah yang terdapat pada epidermis organ
tumbuhan yang berwarna hijau yang dibatasi oleh sel khusus yang disebut sel
penutup. Sel penutup dikelilingi oleh sel sel yang bentuknya sama atau berbeda
dengan sel sel epidermis lainnya dan disebut sebagai sel tetangga. Sel tetangga
adalah sel yang berperan penting dalam perubahan osmotik yang mengatur dalam
lebar celah dan gerakan sel penutup. Sel penutup pada stomata dapat terletak sama
tinggi dengan permukaan epidermis atau panerofor, atau stomata dapat lebih
rendah dari permukaan epidermis (kriptofor). Stomata dapat juga lebih tinggi dari
permukaan epidermis yang sering dikatakan sebagai sel penutup tipe
menonjol. Sel penutup biasanya berbentuk ginjal bila kita perhatikan dari atas,
akan tetapi pada suku rerumputan (Poaceae) sel menutup berbentuk berbeda
dengan dua sel tetangga diantara tiap sel penutup stomata. Pada tanaman, stomata
memiliki fungsi sebagai tempat pertukaran gas dari dalam tanaman ke
lingkungannya.

Pada umumnya, stomata berada di bawah permukaan daun. Namun, pada


sebagian tanaman, stomata ada yang berada di atas permukaan daun, ada yang di
kedua permukaannya, dan ada pula yang tidak memiliki stomata sama sekali.
Daun tanaman teratai hanya memiliki stomata pada bagian atas daunnya, daun
rerumputan memiliki jumlah stomata yang sama banyaknya di kedua permukaan
daunnya, dan daun tanaman air tidak memiliki stomata sama sekali.
Sel penjaga pada tanaman dikotil berbentuk seperti sepasang ginjal. Sel
penjaga pada tanaman monokotil (rerumputan) berbentuk memanjang. Serat halus
selulosa pada sel penjaga umumnya melingkari sel penjaga sehingga disebut
sebagai miselasi radial. Serat selulosa umumnya tidak elastis sehingga ketika
menyerap air tidak dapat menjadi lebih besar, malainkan menjadi semakin
panjang. Karena ujung satu dengan yang lainnya saling bertautan, keduanya akan
melengkung keluar dan stomata membuka.
Ketebalan dinding sel penjaga berbeda antara yang berada di dekat celah
stomata dengan yang berada di sisi jauh celah stomata. Perbedaan ketebalan
dinding sel penjaga ini berfungsi terhadap pelengkungan sel penjaga ketika
tekanan turgor meningkat. Sel penjaga mengandung sedikit kloroplas, sedangkan
sel epidermis di sampingnya tidak mengandung sama sekali (kecuali pada paku-
pakuan). Plasmodesmata yang menghubungkan protoplas sel penjaga dengan sel
pelengkap/pendukung hanya sedikit atau bahkan tidak memiliki sama sekali.
Stomata dapat dikelompokkan berdasarkan asal dari sel tetangga dan sel
penutupnya. Berikut tipe tipe stomata berdasarkan asal sel tetangga dan sel
penutupnya.

Mesogen, yaitu kedua sel berasal sama

Perigen, apabila sel tetangga tidak mempunyai asal yang sama dengan sel
penutup

Mesoperigen, yaitu apabila sel tetangga sedikitnya satu saja memiliki asal
yang sama dengan sel penutup.

Stomata juga dapat dikelompokkan berdasarkan susunan sel-sel tetangga.


Stomata pada tumbuhan dicotyledoneae dapat dikempokkan menjadi 4 tipe yaitu:

1. Tipe anomositik / Ranuculaceae, adalah tipe sel tetangga yang memiliki


kesamaan bentuk dan ukuran dengan sel epidermis disekitarnya. Tipe ini
umumnya dijumpai pada stomata tumbuhan keluarga Cucurbetaceae,
Malvaceae, Caparidaceae, dan Ranuculaceae.

2. Tipe anisositik/ Cruiferae, yaitu sel penutup dikelilingi oleh tiga buah sel
tetangga yang tidak berukuran sama. Tipe ini dapat anda temukan pada
stomata tumbuhan anggota keluarga Solanaceae dan Cruciferae.

3. Tipe parasitik/Rubiceae, tipe sel penutup yang didampingi oleh satu se l


tetangga atau lebih dengan sumbu panjang sel tetangga sejajar dengan sumbul
sel penutup serta celah. Tipe ini dapat anda perhatikan pada stomata
tumbuhan anggota keluarga Mimosaceae, Magnoliaceae, dan Rubiceae.

4. Tipe Diasitik, yaitu tipe stomata yang dikelilingi oleh 2 sel tetangga. Dinding
bersama dari kedua sel tetangga tegak lurus terhadap sumbu panjang sel
penutup serta celah. Anda dapat menemukan stomata tipe ini pada tumbuhan
anggota keluarga Acanthaceae dan Caryophyllaceae.
C. Pengaruh Lingkungan Terhadap Stomata
Lingkungan dapat memberikan pengaruh terhadap stomata seperti
membuka dan menutupnya stomata, diantaranya:
1. Cahaya
Kekurangan cahaya dapat menyebabkan kemampuan terbukanya celah
stomata berkurang pada kebanyakan tumbuhan. Hal ini tidak tergatung pada
tanggapan stomata terhadap kenaikan CO2 di ruang antar sel akibat penurunan
laju fotosinetesis.
2. Suhu
Stomata akan membuka lebih besar jika suhu lingkungan disekitarnya
meningkat.
3. Kelembapan
Pada beberapa jenis tumbuhan akan menunjukkan tanggapan stomata secara
langsung terhadap adanya kelembapan dilingkungan sekitar, sehingga kenaikan
kelembapan relatif menyebabkan stomata menutup.
4. Angin
Pada kebanyakan tanaman, kenaikkan dari kecepatan angin yang besar dapat
menyebabkan stomata menutup.
Stomata akan membuka jika tekanan turgor kedua sel penjaga meningkat.
Peningkatan tekanan turgor sel penjaga disebabkan oleh masuknya air ke dalam
sel penjaga. Proses masuknya air tersebut berasal dari tekanan tinggi ke daerah
bertekanan rendah. Tinggi rendahnya potensial air ini bergantung pada jumlah
bahan yang terlarut (solute) di dalam cairan sel. Semakin banyak jumlah bahan
yang terlarut maka potensial osmotik sel akan semakin rendah. Semakin rendah
potensial osmotik sel maka semakin rendah pula turgiditas sel. Jika sel bersifat
flacid (kendor), stomata akan menutup.

D. Mekanika Stomata

Proses membuka dan menutupnya stomata banyak dipengaruhi oleh


intensitas cahaya di sekitarnya. Jika intensitas cahaya kuat, maka stomata
membuka, sebaliknya juga intensitas cahaya rendah (lemah) atau dalam keadaan
gelap, stomata akan menutup.

Oleh karena itu, pada siang hari stomata lebih banyak terbuka, sehingga
proses transpirasi sangat besar. Gerakan membuka dan menutupnya stomata ini
juga disebabkan oleh mengembang dan mengkerutnya sel pengawal (sel penutup).
Pada saat cahaya kuat, sel pengawal (penutup) menyerap air dari sel
tetangga, yang mengakibatkan sel pengawal mengembang dan tegang. Kondisi ini
mengakibatkan bagian dinding sel yang lentur tertarik di belakang ke arah sel
tetangga dan bagian dinding sel yang berbatasan dengan lubang stomata ikut
tertarik. Hal ini yang menjadikan stomata terbuka sehingga uap air dari dalam
rongga antarsel keluar. Faktor yang mempengaruhi membuka dan menutupnya
stoma yaitu:
1) faktor internal antara lain cahaya matahari, konsentrasi CO2, dan asam absisat
(ABA)
2) faktor internal (jam biologis). Cahaya matahari merangsang sel penjaga
menyerap ion K+ dan air, sehingga stoma membuka pada pagi hari.
Konsentrasi CO2 yang rendah di dalam daun juga menyebabkan stoma
membuka. Stomata akan menutup apabila terjadi cekaman air. Pada saat cekaman
air, zat pengatur tumbuh ABA diproduksi di dalam daun yang menyebabkan
membran menjadi bocor sehingga terjadi kehilangan ion K+ dari sel penjaga dan
menyebabkan sel penjaga mengkerut sehingga stomata menutup. Faktor internal
yaitu jam biologis memicu serapan ion pada pagi hari sehingga stoma membuka,
sedangkanpada malam hari terjadi pembebasan ion yang menyebabkan stoma
menutup. Stomata pada sebagian besar tanaman umumnya membuka pada siang
hari dan menutup pada malam hari.
Pada beberapa tumbuhan misalnya kelompok tumbuhan CAM stoma
membuka pada malam hari sedangkan pada siang hari stoma menutup.
Menutupnya stoma pada siang hari Membran plasma Pompa proton merupakan
adaptasi untuk mengurangi proses penguapan tumbuhan yang hidup di daerah
kering. Pada malam hari CO2 masuk ke dalam tanaman dan disimpan dalam
bentuk senyawa C4. Selanjutnya senyawa C4 akan membebaskan CO2 pada siang
hari sehingga dapat digunakan untuk fotosintesis.
Adaptasi lainnya yang terdapat pada tumbuhan xerofit untuk mengurangi
proses transpirasi yaitu memiliki daun dengan stoma tersembunyi (masuk ke
bagian dalam) yang ditutupi oleh trikoma (rambut-rambut yang merupakan
penjuluran epidermis. Pada saat matahari terik, jumlah air yang hilang melalui
proses transpirasi lebih tinggi daripada jumlah air yang diserap oleh akar. Untuk
mengurangi laju transpirasi tersebut stoma akan menutup.
E. Peranan Transpirasi dan Pertukaran Energi

Transpirasi memberikan beberapa manfaat sebagai penunjang


pengangkutan mineral, mempertahankan turgiditas optimum dan menghilangkan
sejumlah besar panas dari daun. Mineral yang diserap ke dalam akar bergerak ke
atas tumbuhan dengan cara tertentu dalam arus transpirasi, yaitu aliran air melalui
xylem akibat transpirasi. Selain itu peranan transpirasi dalam tumbuhan untuk
menurunkan suhu atau mendinginkan daun. Daun yang tidak melakukan
transpirasi akan lebih panas beberapa derajat. Perubahan suhu dari daun
menunjukkan adanya pertukaran energi dari daun dan lingkungan.

Transpirasi juga mempunyai peran yang penting bagi tumbuhan sebagai


berikut:
1. Membentuknya daya hisap daun,
2. Membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar,
3. Mengurangi air yang terserap berlebihan,
4. Berperan pada fotosintesis dan respirasi karena membuka dan menutupnya
stomata

Dari banyak peran pentingnya transpirasi, yang terpenting adalah untuk


melepaskan energi digunakan untuk fotosintesis hanya sekitar 2% atau kurang.
Kelebihan energi radiasi harus dibuang/dilepaskan ke lingkungan melalui
pancaran (pantulan kembali oleh sel epidermis yang bersifat optis). Antaran secara
fisik dan sebagian besar untuk menguapkan air (untuk 1 gram air membutuhkan
586 kalori).

F. Pertukaran Energi Tumbuhan Dalam Ekosistem

Transpirasi mendinginkan daun, pengembunan uap air atau es pada daun


(berupa embun atau titik- titik es) melepaskan panas (kalor) laten pengembunan
air ke daun dan lingkungannya. Radiasi yang datang akan memanaskan daun,
tetapi daun memancarkan energi ke lingkungannya. Jika suhu daun berbeda dari
suhu udara, akan terjadi pertukaran panas (kalor), mula- mula secara rambatan
(yakni: energi molekul di permukaan daun bertukar dengan energi molekul udara
yang bersinggungan) dan kemudian secara konveksi (yaitu: sejumlah udara yang
dipanaskan akan memuai menjadi lebih ringan, kemudian naik dan turun lagi bila
mendingin). Dalam pembahasan selanjutnya, gabungan antara rambatan dan
konveksi disebut sebagai konveksi saja.

Jika suhu daun berubah, keadaan yang memang lazim terjadi, daun akan
menyimpan atau melepaskan panas (kalor). Jika sehelai daun tipis menyimpan
panas (kalor) dalam jumlah tertentu, suhunya akan naik dengan cepat; jumlah
panas (kalor) yang sama yang disimpan dalam kaktus hanya sedikit saja yang
menaikkan suhunya, namun kaktus tetap panas lebih lama. Untuk mudahnya,
hanya akan diambil contoh daun yang berada dalam kesetimbangan dengan
lingkungannya; artinya, pada suhu konstan. Sekitar 1 sampai 2% cahaya diubah
menjadi energi kimia melalui fotosintesis, dan jumlah yang kecil itu dapat
diabaikan. Energi yang dihasilkan dari respirasi dan proses metabolik lainnya juga
dapat diabaikan karena terlalu kecil. Pada keadaan tetap, ada tiga mekanisme
pertukaran energiyang mempengaruhi terjadinya suhu daun, yaitu radiasi,
konveksi, dan transpirasi.

A) RADIASI

Secara umum,radiasi adalah proses di mana panas mengalir dari benda yang
bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu rendah bila benda-benda itu terpisah di
dalam ruang, bahkan bila terdapat ruang hampa di antara benda-benda tersebut.
Istilah radiasi pada umumnya dipergunakan untuk segala jenis hal ikhwal
gelombang elektromagnetik. Tetapi dalam ilmu perpindahan panas kita hanya
perlu memperhatikan hal ikhwal yang diakibatkan oleh suhu dan yang dapat
mengangkut energi melalui medium yang tembus cahaya atau melalui ruang.
Energi yang berpindah dengan cara ini diistilahkan panas radiasi.

Daun menyerap radiasi tampak (cahaya) dan radiasi tak tampak (infra- merah)
dari lingkungan sekitar dan memancarkan energi infra- merah. Jika daun
menyerap energi radiasi lebih banyak daripada yang dipancarkannya, maka
kelebihannya harus dibuang dengan cara konveksi atau melalui transpirasi, atau
melalui kedua cara tersebut (bila tidak, suhu akan naik). Pada malam hari, daun
sering memancarkan energi lebih banyak daripada yang diserapnya. Apabila suhu
daun di bawah suhu udara, daun akan menyerap panas (kalor) dari udara dan
mungkin dari air embun atau titik es di permukaannya.

B) KONVEKSI

Secara umum,konveksi adalah proses tansport energi dengan kerja


gabungan dari konduksi panas, penyimpanan energi dan gerakan mencampur.atau
dengan kata lain, konveksi adalah proses di mana kalor ditransfer dengan
pergerakan molekul dari satu tempat ke tempat yang lain. Konveksi sangat
penting sebagai mekanisme perpindahan energi antara permukaan benda padat
dan cairan atau gas. Perpindahan energi dengan cara konveksi dari suatu
permukaan yang suhunya di atas suhu fluida sekitarnya berlangsung dalam
beberapa tahap.

Pertama, panas akan mengalir dengan carakonduksi dari permukaan ke


partikel- partikel fluida yang berbatasan. Energi yang berpindah dengan cara
demikian akan menaikkan suhu dan energi dalam partikel-partikel fluida ini.
Kemudian partikel-partikel fluida tersebut akan bergerak ke daerah yang bersuhu
lebih rendah di dalam fluida di mana mereka akan bercampur dengan , dan
memindahkan sebagian energinya kepada, partikel-partikel fluida lainnya. Dalam
hal ini alirannya adalah aliran fluida maupun energi. Energi sebenarnya disimpan
di dalam partikel-partikel fluida dan diangkut sebagai akibat gerakan massa
partikel-partikel tersebut. Mekanisme ini untuk operasinya tidak tergantung hanya
pada beda suhu dan oleh karena itu tidak secara tepat memenuhi definisi
perpindahan panas. Tetapi hasil bersihynya adalah angkutan energi, dan karena
terjadinya dalam arah gradien suhu, maka juga digolongkan sebagai suatu cara
perpindahan panas dan ditunjuki dengan sebutan aliran panas dengan cara
konveksi.

C) TRANSPIRASI

Dalam beberapa hal, transpirasi mirip sekali dengan perpindahan panas


(kalor) secara konveksi. Daya penggerak bagi transpirasi adalah gradien kerapatan
uap air dari dalam daun ke atmosfer di luar lapisan batas. Hambatannya sebagian
adalah hambatan lapisan batas. Sampai di sini, konveksi dan transpirasi sama, tapi
terdapat hambatan tambahan yang lebih besar untuk transpirasi, yaitu stomata.
JJka stomata tertutup atau hamper tertutup, hambatan sagat tinggi; jika terbuka,
hambatan cukup rendah. Ada lagi hambatan lain selain pada daun selain hambatan
stomata, tapi biasanya hamper konstan. Hambatan kutikula terhadap lalu
lalangnya air bergantung pada kelembapan atmosfer, suhu, dan barangkali cahaya
atu beberapa factor lain. Karena hambatan ini selalu cukup tinggi, maka jarang
diperhitungkan. Hal yang penting untuk diingat ialah bahwa hambatan daun selalu
ada artinya daun bukan semata- mata seperti sehelai kertas basah. Dan hambatan
daun terhadap transpirasi dapat sangat beragam karena berbagi faktor lingkungan
yang mempengaruhi bukan stomata.
DAFTAR PUSTAKA

Frank,Kreith.1991, Prinsip-Prinsip Perpindahan Panas Edisi Ketiga, Erlangga,


Jakarta.

Salisbury,Frank B. dan Ross Cleon W.1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 1, ITB,


Bandung.

Lakaitan, Benyamin. 2001, Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan, RajaGrafindo


Persada, Jakarta.

Victoria, VR. 2001, Ozone and Plant Cell, Erlangga, Jakarta.

Nugroho, H. 2005, Struktur dan Perkembangan tumbuhan, Penebar Swadaya,


Depok.